Claim Missing Document
Check
Articles

Sikap Media, Citra Personal dan Penghapusan APBD Untuk Wartawan (Analisis Isi Berita Gubernur Jawa Tengah di Suara Merdeka, Tribun Jateng, dan Radar Semarang) Aisyah Monicaningsih; Hapsari Dwiningtyas; Djoko Setyabudi; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.024 KB)

Abstract

Adanya pemberitaan di berbagai media cetak mengenai penghapusan APBD untuk wartawan di Provinsi Jawa Tengah menjadi dasar kajian penelitian yang mempersoalkan bagaimana perbedaan sikap Surat Kabar Suara Merdeka, Tribun Jateng, dan Jawa Pos Radar Semarang terhadap citra (personal image) dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sebelum dan sesudah adanya kebijakan penghapusan APBD untuk wartawan ?Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan sikap ketiga surat kabar dan citra (personal image) dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sebelum dan sesudah adanya kebijakan penghapusan APBD untuk wartawan. Penelitian ini menggunakan teori Agenda Setting dan konsep Citra Personal (Personal Image). Tipe penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan mengacu pada metoda analisis isi media. Subjek penelitian yang diambil dalam penelitian ini adalah Suara Merdeka, Tribun Jateng, dan Radar Semarang dengan unit observasinya adalah 82 berita terkait Gubernur. Sementara itu teknik analisis statistik Independent T-test dan Anova One Way digunakan untuk mencapai tujuan penelitian. Hasil uji T yang digunakan untuk mengetahui perbedaan sebelum dan sesudah penghapusan APBD untuk wartawan menunjukan rata-rata signifikansi sikap media 0,466 > 0,05. Kemudian rata-rata signifikansi citra personal adalah 0,137 > 0,05. Ini memperlihatkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kondisi sebelum dengan sesudah adanya kebijakan penghapusan pembiayaan untuk wartawan dari APBD Jawa Tengah. Sedangkan hasil uji F untuk mengetahui perbedaan dari ketiga media sebelum dan sesudah penghapusan APBD untuk wartawan menunjukan rata-rata signifikansi 0,000 < 0,05 yang menunjukan ada perbedaan signifikan antara ketiga surat kabar tersebut.Penelitian ini disimpulkan tidak terdapat perbedaan sikap media dan citra personal Gubernur Jawa Tengah, antara kondisi sebelum dengan sesudah adanya kebijakan penghapusan pembiayaan untuk wartawan dari APBD Jawa Tengah. Lalu terdapat perbedaan sikap media dan citra personal Gubernur Jawa Tengah sebelum dan sesudah penghapusan APBD untuk wartawan di ketiga surat kabar harian (Suara Merdeka, Radar Semarang, dan Tribun Jateng). Kata Kunci: sikap media, citra personal
PENGELOLAAN HUBUNGAN ANTAR PRIBADI DARI PASANGAN YANG BERKENALAN MELALUI TINDER Nastiti Laksmita Adi; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 7, No 3: Agustus 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.898 KB)

Abstract

This research based on a phenomenon about many of online dating applications that used by many youths to get a couple, one of them is Tinder. The aim of this research is to understanding the benefits of Tinder application as a communication media to compose interpersonal relationships, also to know the management of interpersonal relationships that tied from Tinder application. This research using the interpretif paradigm with phenomenology approach. This research adopted Social Penetration Theory, Expectancy Violations Theory, and also Affection Exchane Theory. To support these theories, it needs addition of the phases of relationships development and self-disclosure concept. This research found that all of the informants used Tinder application unintentionally. The communication that composed from using Tinder application was running well so all of the informants found their each couple as their wish from the application. For the first face to face communication after the formed communication from Tinder application, it found that the 1st and the 4th informants felt little bit awkward when did face to face with their couples. Meanwhile the 2nd and the 3rd informants were fine with first time face to face communication. When the conflicts happened all of the informants agreed to finish the conflict directly.
PENGGUNAAN BAHASA JAWA DALAM KERAGAMAN BAHASA KOMUNIKASI MASA KINI DONNA RADITA MERITSEBA; Turnomo Rahardjo; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENGGUNAAN BAHASA JAWA DALAM KERAGAMANBAHASA KOMUNIKASI MASA KINIAbstrakBerkurangnya masyarakat keturunan Jawa sebagai penutur bahasa Jawa terutama padaanak menjadi latar belakang dalam penelitian ini. Apalagi dengan beragam bahasakomunikasi masa kini yang dinilai lebih penting untuk dikuasai. Masalah yang timbuladalah mengenai bagaimana penggunaan bahasa Jawa pada anak di keluarga Jawa dalamkeragaman bahasa komunikasi masa kini serta mengapa hal itu dapat terjadi.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan bahasa yangditerapkan oleh orang tua kepada anak di keluarga Jawa. Kapan dan kepada siapa anakmenggunakan pilihan bahasa mereka tersebut. Selain itu, bertujuan pula untukmengetahui alasan orang tua keturunan Jawa dalam menentukan pilihan bahasa yangdiajarkan kepada anak dari beragam bahasa komunikasi masa kini.Upaya menjawab permasalahan dan tujuan penelitian dilakukan dengan kajiansosiolinguistik dalam tradisi sosiokultural yang membantu menjelaskan mengenaipenggunaan bahasa. Penelitian etnografi komunikasi ini menggunakan paradigmainterpretif dengan menggunakan metode analisis fenomenologi. Subjek penelitian adalahkeluarga Jawa status sosial atas hingga bawah agar mendapatkan variasi hasil penelitian.Hasil penelitian menunjukkan adanya penggunaan bahasa Jawa yang tidak lagisempurna pada anak karena adanya upaya alih kode dari ragam bahasa yangdikuasainya. Keluarga sebagai tempat anak dalam menerapkan bahasa Jawa sudah tidaklagi mengutamakan bahasa Jawa sebagai bahasa keluarga. Orang tua justru merasa lebihpenting mengajarkan anak mengenai bahasa asing. Keluarga Jawa lebih mementingkanagar anak dapat menerapkan bahasa komunikasi yang banyak digunakan di masyarakatluas. Hal itu terjadi di seluruh lapisan keluarga, baik yang terjadi di keluarga sosialekonomi atas, menengah, maupun bawah.Kata kunci : sosiolinguistik, keluarga Jawa, komunikasi budayaJAVANESE LANGUAGE USE IN DIVERSITY OFCOMMUNICATION LANGUAGES AT PRESENTAbstractJavanese language speakers is reduced, especially children. This is the background ofthis research. Communication languages of the present more important to use. Theproblem is how to use the Javanese language to children in Javanese families in diversityof communication languages at present and why it can happen.The purpose of this study is to investigate the use of language that applied byparents to children in their family. When and to whom their children use choice of thelanguage. In addition, the aim is also to find out why parents of Javanese determiningthe choice of language to be taught for children from diverse of communicationlanguages today.Efforts to answer the problems and goals of research done in the tradition ofsociocultural, sociolinguistic study can helps to explain the use of language. Thiscommunication ethnographic research using interpretive paradigm withphenomenological analysis in the method. Subjects were Javanese family in social statustop to bottom in order to get a variety of results.The results showed the use of the Java language is no longer perfect in childrendue to the efforts of code switching from diversity of languages mastered. Family as aarea where children can applying the Java language, is no longer prioritizing the Javalanguage as a family language. Parents feel more important to teach children aboutforeign languages. Using communication languages which also used in many peoplemore important. So, that is happen in all of Javanese families.Key words : sociolinguistic, Javanese families, cultural communicationPENDAHULUANKebudayaan Jawa merupakan kebudayaan yang dianut oleh masyarakat Jawa. BahasaJawa sebagai salah satu wujud budaya dari suku bangsa Jawa. Suku bangsa Jawamenggunakan bahasa Jawa dalam bertutur sehari-hari. Namun pada masa kini,penggunaan bahasa Jawa sebagai bahasa komunikasi sehari-hari dinilai sudah mulaiberkurang, terutama komunikasi pada anak.Seperti pada pengalaman yang ditulis oleh Sutardi MS Dihardjo dalam artikel diMajalah Nusa Indah, ia menuliskan, sekitar tahun ’70-an, ’80-an, ketika ia masih anakanakatau remaja, para orang tua yang mempunyai kedudukan, meskipun tidak begitutinggi, misalnya PNS tidak harus golongan tiga atau empat, perangkat desa, atau guru,yang sering disebut sebagai priyayi (dalam pengertian orang awam), dapat dipastikanmereka akan mengajari putra-putrinya berbicara dengan bahasa krama yang halusdisertai sikap yang hormat dan sopan santun kepada orang tua. Tetapi yang terjadisekarang di tahun dua ribuan, mengajari anak berbahasa Jawa, menggunakan bahasakrama halus dianggap kuno, tidak demokratis, menghambat keberanian dan kreatifitas.Para priyayi kelahiran di atas tahun ’60-an, lebih bangga anak-anaknya tidak bisaberbahasa Jawa, tapi selalu berbahasa Indonesia kalau ditanya. Apalagi kalau anak-anakmereka dapat menghafal hitungan one, two, three, four (satu, dua, tiga, empat dalambahasa Inggris), mereka akan lebih bangga lagi. Meskipun mereka masih bertuturdengan bahasa Jawa kalau berbicara antara suami istri atau dengan orang-orang yangsebaya dan lebih tua. Ironisnya kakek dan neneknya pun ikut-ikutan berbicara denganbahasa Indonesia kepada cucu-cucunya yang baru belajar bicara. Akibatnya anak-anakmengalami gagap bahasa. Anak-anak tahu apa maksudnya kalau orang tua berbicaradengan sesamanya menggunakan bahasa Jawa, tetapi mereka tidak dapat menjawabdengan bahasa Jawa kalau ditanya. Apalagi kalau harus berbicara, bercerita, ataumenjelaskan dengan bahasa Jawa.Keberadaan sebuah bahasa lokal atau bahasa daerah sangat erat denganeksistensi suku bangsa yang melahirkan dan menggunakan bahasa tersebut. Bahasamenjadi unsur pendukung utama tradisi dan adat istiadat. Bahasa juga menjadi unsurpembentuk sastra, seni, kebudayaan, hingga peradaban sebuah suku bangsa. Bahasadaerah dipergunakan dalam berbagai upacara adat, bahkan dalam percakapan seharihari.Kelestarian, perkembangan, dan pertumbuhan bahasa daerah sangat tergantungdari komitmen para penutur atau pengguna bahasa tersebut untuk senantiasa secarasukarela mempergunakan bahasanya dalam pergaulan kehidupan sehari-hari. Jikapenutur suatu bahasa daerah masih berjumlah banyak, dan merekapun menurunkanbahasa daerah yang dikuasainya kepada anak-anak dan generasi remaja, makakelestarian bahasa yang bersangkutan akan lebih terjamin dalam jangka panjang.Sebaliknya, jikalau penutur suatu bahasa daerah semakin berkurang dan tidak ada upayaregenerasi kepada generai muda, maka sangat besar kemungkinan secara perlahan-lahanakan terjadi gejala degradasi bahasa yang mengarah kepada musnahnya suatu bahasa.Orang tua pasti akan memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anaknyatermasuk agar anaknya dapat berkomunikasi dengan beragam bahasa komunikasi masakini apalagi untuk menguasai bahasa asing. Meskipun demikian, sebuah keluargadimana anak-anak tinggal bersama orang tua keturunan Jawa, dalam interaksi yangterjadi antara mereka masih ada kemungkinan penggunaan bahasa Jawa sebagai bahasadaerah maupun bahasa nasional dan bahasa asing dalam komunikasi sehari-hari mereka.Sehingga akan mengakibatkan penggunaan bahasa komunikasi yang variatif pula padabahasa komunikasi sehari-hari anak di keluarga Jawa.Penelitian ini bermaksud merumuskan masalah, yaitu bagaimana penggunaanbahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari pada anak di keluarga Jawa dalam keragamanbahasa komunikasi masa kini serta mengapa hal itu terjadi. Sesuai dengan permasalahantersebut, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan bahasa yangdiajarkan oleh orang tua kepada anak di keluarga Jawa sebagai bahasa komunikasisehari-hari, untuk mengetahui kapan dan kepada siapa anak dari keluarga Jawamenggunakan pilihan bahasa komunikasi sehari-hari, serta untuk mengetahui alasanorang tua keturunan Jawa dalam menentukan pilihan bahasa sehari-hari yang diajarkankepada anak dari beragam bahasa komunikasi masa kini.ISIPenelitian mengenai penggunaan bahasa Jawa dalam keragaman bahasa komunikasimasa kini ini menggunakan paradigma interpretif. Penelitian interpretif tidakmenempatkan objektivitas sebagai hal terpenting, melainkan mengakui bahwa demimemperoleh pemahaman mendalam, maka subjektivitas para pelaku harus digalisedalam mungkin hal ini memungkinkan terjadinya trade‐off antara objektivitas dankedalaman temuan penelitian (Efferin,2004 dalam Chariri, 2009:5). Teori yangdigunakan berfokus pada masalah-masalah budaya, sehingga ada pertalian tradisi-tradisiyang dihadirkan. Meskipun ada bantahan bahwa teori yang digunakan merupakan tradisisemiotik, hanya dapat dikatakan bahwa teori-teori ini adalah tradisi sosiokultural.Manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat tidak harus menggunakan bahasauntuk berkomunikasi agar dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan dalam kehidupansosial dan kultural. Bahasa menghubungkan semua manusia dalam hubungan sosial(identitas sosial dan kultural, interaksi, pergaulan, sosialisasi, pertukaran kepentingansosial, stereotip, dan jarak sosial), kultural (proses belajar dan mengajar nilai-nilaikehidupan), ekonomi (pertukaran barang dan jasa), psikologi (sosial) seperti persepsi(sosial), perubahan sikap, stimulus dan respons, dan atribusi. Bahasa memainkanperanan dalam interaksi antara stimulus dan respons. Inilah kegunaaan bahasa sebagaialat komunikasi (Liliweri, 2011 :339).Perbedaan-perbedaan suku bangsa, bahasa, agama, dan adat istiadat sering kalidisebut sebagai ciri masyarakat multikultural atau masyarakat majemuk (Tim Sosiologi,2006: 119). Secara sosiolinguistik, masyarakat Indonesia mempergunakan tidak hanyasebuah bahasa, tetapi paling sedikit dua bahasa, yaitu bahasa ibu dan bahasa nasional.Pada umumnya pemakai bahasa di Indonesia menguasai bahasa ibu sebelum mereka itumenguasai bahasa Indonesia (Samsuri, 1978:54).Salah satu warisan budaya Jawa adalah bahasa, dimana bahasa Jawa sebagaibahasa daerah menjadi media dalam menjalin hubungan sosial diantara mereka. Dalammasyarakat mana pun keluarga adalah jembatan antara individu dan budayanya.Kelompok keluarga terdekat dan jaring-jaring kekeluargaan yang lebih luas bagi tiaptiappribadi tersebut memberikan corak dasar bagi hubungan sosial dengan seisi dunia(Geertz, 1985:150).Etika adalah bagian dari falsafah aksiologi. Oleh karena hidup itu harusberhubungan dengan orang lain, agar hidup memenuhi fungsinya, maka dibingkaidengan etika. Etika tersebut meliputi segala hal, mulai dari manusia Jawa sebagaianggota keluarga, masyarakat, dan negara. Etika sosial setiap strata sosial memiliki etikayang berbeda. Perbedaan ini didasarkan pada “unen-unen” negara mawa tata, desamawa cara, artinya masing-masing tempat memiliki etika yang berbeda-beda. Etika inimenyangkut sikap, tingkah laku, etika bahasa, dan etika pertemuan. Etika sosialbiasanya berbentuk anjuran-anjuran dan larangan-larangan untuk bersikap dan berbuatsesuatu (Endraswara, 2010:138).Sosiolinguistik atau kajian bahasa dan budaya temasuk dalam tradisisosiokultural. Hal yang penting dalam tradisi ini adalah bahwa manusia menggunakanbahasa secara berbeda dalam kelompok budaya dan kelompok sosial yang berbeda.Bahasa, seperti yang digunakan sehari-hari, merupakan permainan bahasa karenamanusia mengikuti aturan-aturan dalam mengerjakan sesuatu melalui bahasa (Littlejohn& Foss, 2009:67). Sosiolinguistik interaksional terutama menyangkut bagaimana latarbelakang pengetahuan dan pengalaman dari para pelaku sosial berfungsi sebagai sumberdaya dalam interaksi tertentu (Littlejohn & Foss, 2009: 903).Penggunaan bahasa merupakan fenomena sosial yang melekat pada kehidupanmanusia. Dengan kata lain, ketika seseorang berkomunikasi secara lisan maupun tertulismaka dari situlah dapat diketahui siapakah dia sebenarnya, darimana dilahirkan dandibesarkan, termasuk asal-usul ras dan etnis, apakah seorang perempuan atau laki-laki,tingkat pendidikan, profesi, dan fungsi. Bahasa menunjukkan identitas seseorang(Liliweri, 2011:363). Konsep-konsep dasar sosiolinguistik diantaranya mengenai bahasaucapan komunitas, bahasa dan prestise, jaringan sosial, bahasa internal versus bahasaeksternal, bahasa dan perbedaan kelas, kode bahasa sosial, deviasi bahasa, bahasa dankelompok umur, bahasa dan perbedaan geografi, serta bahasa dan gender (2011:364).Menurut Hipotesis Sapir-Whorf, sebenarnya setiap bahasa menunjukkan suatudunia simbolik yang khas, yang melukiskan realitas pikiran, pengalaman batin, dankebutuhan pemakainya. Jadi bahasa yang berbeda sebenarnya mempengaruhipemakainya untuk berpikir, melihat lingkungan, dan alam semesta di sekitarnya dengancara yang berbeda pula (Littlejohn, 2009:449). Salah satu cara menggambarkan dimanaperbedaan bahasa melukiskan perbedaan budaya, Basil Bernstein, dalam serangkaiankajian sastra tentang sosiologi bahasa, menemukan perbedaan penting dalampenggunaan bahasa di antara kelas sosial. Teori Basil Bernstein tentang kode-kode rumitdan terbatas menunjukkan bagaimana susunan bahasa yang digunakan dalampembicaraan sehari-hari mencerminkan dan membentuk asumsi-asumsi dari sebuahkelompok sosial. Asumsi dasar dari teori ini adalah bahwa hubungan yang dijalin dalamsebuah kelompok sosial memengaruhi tindak tutur yang digunakan oleh kelompoktersebut. Terkadang, susunan tindak tutur yang digunakan oleh sebuah kelompokmembuat banyak hal yang berbeda menjadi relevan atau signifikan (Littlejohn, 2009:450).Kelas sosial dan pekerjaan adalah tanda-tanda linguistik yang paling pentingyang ditemukan dalam hampir setiap masyarakat. Kelas sosial menentukan pula kelasbahasa yang mereka gunakan (Liliweri, 2011:366). Dalam Teori Aturan dijelaskanmengenai peraturan-peraturan yang dimiliki suatu keluarga dapat membentuk polakomunikasi keluarga tersebut. Peran membimbing perilaku, hal ini sebagai bentukaturan komunikasi tentang bagaimana kita berkomunikasi dengan berbagai anggotakeluarga (Le Poire, 2006:79). Aturan-aturan ini dapat berupa eksplisit atau implisit.Aturan eksplisit dalam sebuah keluarga bersifat terbuka, tegas, jelas dan mudahdipahami. Aturan-aturan eksplisit dinyatakan dengan jelas dan dipahami secara baik.Sedangkan aturan implisit lebih halus dan dipahami dengan cara-cara tertentu. Peraturanjelas dan dapat dipahami dengan sendirinya (Le Poire, 2006:80).PENUTUPBahasa Jawa sebagai bahasa identitas keluarga Jawa tidak lagi digunakan secara intensif,terutama yang terjadi dalam komunikasi pada anak. Dengan adanya beragam bahasakomunikasi masa kini, orang tua lebih mementingkan untuk membiasakan kepada anakmengenai bahasa tersebut. Diantaranya, bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yangbanyak digunakan oleh masyarakat luas dalam satu negara. Selain itu, orang tuaberusaha untuk mengajarkan bahasa asing yang dinilai lebih penting untuk dikuasai olehanak. Dalam keluarga Jawa ini, bahasa Arab dan bahasa Inggris dipilih orang tua untukdiajarkan kepada anak dan kemudian dibiasakan untuk diterapkan sebagai bahasakomunikasi sehari-hari.Orang tua dalam keluarga Jawa ini membebaskan terhadap bahasa komunikasiyang digunakan oleh anak-anak mereka. Orang tua tidak lagi mengharuskan anak untukmenguasai bahasa komunikasi tertentu, apalagi menggunakan bahasa Jawa secarasempuna. Bahasa yang digunakan oleh anak merupakan bahasa yang juga digunakanoleh masyarakat luas, sehingga anak tidak merasa kesulitan untuk berkomunikasi dengansiapapun dan dalam situasi apapun. Anak tidak perlu memikirkan kepatutan bahasakomunikasi karena dapat digunakan kepada siapapun lawan bicara dan dalam situasiformal maupun non formal. Akibatnya, bahasa Jawa sebagai bahasa identitas budayaJawa tidak lagi diprioritaskan dalam penggunaannya oleh para generasi muda.Keluarga Jawa tidak lagi menerapkan bahasa Jawa secara sempurna. BahasaJawa terlalu sulit untuk dipelajari dengan berbagai tingkatan bahasanya. Orang tuamenganggap bahasa Indonesia lebih tepat digunakan dalam komunikasi sehari-hari.Selain itu, orang tua lebih mengutamakan mengajari anak dengan bahasa asing.Penggunaan bahasa Arab bertujuan agar anak lebih memahami agamanya serta bahasaInggris untuk lebih membuka wawasan dan memperluas ilmu pengetahuan. Denganbahasa Arab yang diterapkan oleh keluarga Jawa, maka keluarga lebih menjunjungtinggi nilai agama dibandingkan nilai budaya, sedangkan penerapan bahasa Inggris lebihmencerminkan keluarga modern yang mengikuti perkembangan zaman.Penelitian ini bukan hanya menggunakan pendekatan etnografi, melainkan jugamembutuhkan pendekatan fenomenologi dalam hal menjelaskan hasil penelitian. Hal inidilakukan untuk memperoleh data yang lebih utuh dalam pandangan peneliti terhadapobjek penelitian melalui pendekatan etnografi. Serta menganalisis hasil penelitian secaralebih sistematis melalui pendekatan fenomenologi. Etnografi adalah pendekatan dimanapeneliti berinteraksi langsung dengan masyarakat sosial penelitian, yang dapat dilakukanmelalui interaksi dan observasi langsung seperti wawancara formal (Moustakas,1994:27).Etnografi komunikasi adalah metode aplikasi etnografi sederhana dalam polakomunikasi sebuah kelompok. Etnografi komunikasi melihat pada pola komunikasi yangdigunakan oleh sebuah kelompok; mengartikan semua kegiatan komunikasi ini adauntuk kelompok; kapan dan di mana anggota kelompok menggunakan semua kegiatanini; bagaimana praktik komunikasi menciptakan sebuah komunitas; dan keragaman kodeyang digunakan oleh sebuah kelompok. Semua isu ini membutuhkan sebuah pendekatanfenomenologis, tetapi hasilnya sangat berorientasi sosial budaya, sehingga etnografikomunikasi mencampurkan kedua tradisi tersebut (Littlejohn & Foss, 2009: 460).Keluarga Jawa dapat menanamkan identitas budaya Jawa, salah satunyamengenai bahasa. Keluarga sebagai tempat penerapan awal pada anak untuk melakukankomunikasi secara verbal. Komunikasi verbal berkaitan erat dengan penggunaan bahasasebagai media komunikasi. Dengan adanya perkembangan zaman, penggunaan bahasadaerah yaitu bahasa Jawa sudah mengalami pergeseran dengan beralihnya keluargauntuk membiasakan berbahasa nasional dalam komunikasi sehari-hari. Bahasa Indonesiadigunakan sebagai bahasa komunikasi karena digunakan oleh masyarakat dalam wilayahsecara luas, dalam satu negara. Keluarga Jawa merasa lebih setara ketika menggunakanbahasa Indonesia dengan siapapun lawan bicara mereka. Pada akhirnya, perkembanganzaman membawa keragaman bahasa pada keluarga Jawa. Bukan hanya bahasa Jawasebagai bahasa daerah dan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, melainkan adapula penambahan bahasa asing sebagai bahasa komunikasi yang penting untuk dikuasai.DAFTAR PUSTAKAChariri, Anis . 2009 . Landasan Filsafat dan Metode Penelitian Kualitatif . WorkshopPenelitian Kuantitatif dan Kualitatif Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro .31 Juli-1 Agustus 2009Endraswara, Suwardi . 2010 . Falsafah Hidup Jawa . Yogyakarta : Penerbit CakrawalaGeertz, Hildred . 1983 . Keluarga Jawa . Jakarta : Grafiti PersLe Poire, Beth A . 2006 . Family Communication: Nurturing and Control in a ChangingWorld . California : Sage PublicationLiliweri, Alo . 2011 . Komunikasi Serba Ada Serba Makna . Jakarta : Kencana PrenadaMedia GroupLittlejohn, Stephen W dan Karen A. Foss . 2009 . Teori Komunikasi . Jakarta : SalembaHumanikaMoustakas, Clark . 1994 . Phenomenological Research Method . California : SagePublicationsNusa Indah . 2012 . Semarang : Tim Penggerak PKK Prov Jawa Tengah Bank BPDJatengSamsuri . 1978 . Analisa Bahasa Memahami Bahasa Secara Ilmiah . Jakarta : ErlanggaTim Sosiologi . 2006 . Sosiologi 2: Suatu Kajian Kehidupan Masyarakat . Jakarta :Yudhistirahttp://bahasa.kompasiana.com/2012/09/25/bahasa-indonesia-dan-bahasa-daerah-496 640.html, diakses 7 April 2013 pukul 10.40 WIB
Pembingkaian Kasus Pembekuan PSSI Oleh Menpora (Analisis Framing Pemberitaan Dalam Harian Kompas) Tri Yoga Adibtya Tama; Turnomo Rahardjo; Adi Nugroho; Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.659 KB)

Abstract

Pembekuan PSSI oleh Menpora merupakan salah satu isu yang menjadi perhatian seluruh lapisan masyarakat, khususnya bagi para pecinta olahraga sepak bola. Tentu saja hal tersebut menarik para media untuk memberitakan kasus tersebut sebagai bahan pemberitaannya. Pemberitaan yang ditampilkan lebih bisa dilihat dari berbagai sudut pandang.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana konstruksi harian Kompas dalam menanggapi kasus pembekuan PSSI yang dianalisis melalui pemberitaan-pemberitaannya. Analisis yang digunakan adalah model analisis framing dari Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki, yang terdiri dari struktur Sintaksis, Skrip, Tematik, dan Retoris. Sementara teori yang dipakai adalah teori konstruksi realitas sosial dari Peter L. Berger dan Thomas Luckmann yang kemudian disempurnakan oleh Burhan Bungin dengan menambahkan unsur media massa, sehingga tercipta teori konstruksi realitas media massa.Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar pemberitaan dari harian Kompas berusaha bersikap netral, tidak memihak sisi manapun. Bahkan harian Kompas cenderung memberi arahan agar semua pihak menghilangkan kepentingan pribadi masing-masing. Hal ini dapat dilihat dari beberapa berita yang membenarkan apa yang menjadi keputusan pemerintah lewat Kemenpora. Di lain sisi terdapat juga berita yang berusaha menyoroti kinerja pemerintah lewat terbentuknya tim transisi. Konstruksi realitas dari harian Kompas juga dipengaruhi oleh pemilihan narasumber dan kutipan pernyataan yang ada di pemberitaan. Tujuan dari harian Kompas ini cenderung untuk mengawal kasus Pembekuan PSSI oleh Menpora sehingga masyarakat bisa tahu dan ikut mengawasi tentang perkembangan kasus tersebut. Serta tujuan untuk meningkatkan prestasi sepak bola dan juga kinerja dari PSSI setelah adanya surat keputusan pembekuan tersebut.
Resolusi Konflik Pada Kelompok Tumbuh Bersama (KTB) Di Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) FISIP Undip Annie Renata Siagian; Hedi Pudjo Santosa; Turnomo Rahardjo; Taufik Suprihatini
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.332 KB)

Abstract

Tujuan penelitian mengetahui pengalaman individu kelompok dalamresolusi konflik pada Kelompok Tumbuh Bersama (KTB) di PersekutuanMahasiswa Kristen (PMK) Universitas Diponegoro.Penulis menggunakan Teori yang digunakan ialah Interaction AnalysisTheory dan Roles Theory untuk melihat bagaimana kegiatan komunikasikelompok yang melibatkan peran masing-masing anggota dalam kelompok.Penelitian ini menggunakan metoda penelitian perspektif interpretative kualitatifdan menggunakan pendekatan fenomenologi untuk melihat pengalaman individudalam resolusi konflik KTB. Informan yang digunakan dalam penelitian inisejumlah 6 (enam) orang dengan karakteristik merupakan tergabung dalamkelompok KTB minimal 1 tahun, memiliki status sebagai kakak pembimbing dantidak rutin melakukan komunikasi langsung dengan kelompok dan dapatdiwawancarai.Hasil penelitian berdasarkan lama mengikuti KTB dan status kakakpembimbing menunjukkan konflik kelompok yang bergabung 1 – 2, 5 tahunbersumber dari jarangnya kelompok berkumpul yang berakibat pada tingkatkenyamanan, keterbukan dan kepercayaan diri kepada kelompok rendah baikantar adik KTB maupun adik dengan kakak KTB. Hambatan datang pada masaawal-awal terbentuknya kelompok karena perbedaan latar belakang pendidikan,pandangan, etnis dan kebiasaan-kebiasaan yang berbeda. Para informanmelakukan adaptasi untuk mempertahankan interaksi dan pemeliharaan interaksidan pemeliharaan hubungan kelompok. Konflik yang terjadi seperti pembatalanjadwal KTB, tidak pernah KTB dan salahpaham. kesibukan masing-masingmenjadi konflik utama dalam kelompok KTB. Penyelesaian konflik yangdilakukan informan ini menggunakan strategi manajemen konflik win-winsolution dan kemauan untuk berkomunikasi. Pada penyelesaian konflikmenggunakan strategi “win-win solution” sebagian informan menyatakankeinginannya untuk menyelesaikan konflik.
PENGALAMAN KOMUNIKASI WANITA PENJAJA SEKS (WPS) SEBAGAI PEER EDUCATOR DALAM UPAYA PENCEGAHAN HIV Maharani Easter; Tandiyo Pradekso; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.634 KB)

Abstract

PENGALAMAN KOMUNIKASI WANITA PENJAJA SEKS (WPS) SEBAGAI PEEREDUCATOR DALAM UPAYA PENCEGAHAN HIVAbstrakSosialisasi menjadi komunikasi persuasif yang paling sering dipilih oleh LSM maupunpemerintah dalam mempersuasif masyarakat atas isu-isu tertentu seperti pencegahan HIVmelalui penggunaan kondom, sayangnya mensosialisasi penggunaan kondom bagi para WanitaPenjaja Seks (WPS) tidak semudah mensosialisasikannya pada kelompok masyarakat lainnya.Sikap skeptis ditunjukkan WPS akibat tanggapan masyarakat atas pekerjaan mereka sertabanyaknya salah kaprah mengenai penyakit HIV yang membuat WPS menutup diri dariinformasi luar. Hadirnya Peer Educator (PE) yang merupakan WPS juga dalam program peereducation diharapkan dapat membantu mempersuasi WPS menggunakan kondom. masalahyang muncul: Bagaimana cara PE tersebut mempersuasif WPS lainnya hingga tujuan merubahperilaku dapat tercapai?Tujuan penelitian ini menggambarkan pengalaman komunikasi WPS sebagai PE dalammempersuasif WPS lainnya untuk menggunakan kondom 100% dalam upaya pencegahan HIVserta bagaimana seorang PE menjadi persuader yang baik. Upaya untuk menjawabpermasalahan dan tujuan penelitian dilakukan dengan menggunakan teori dialog dan retortikaajakan serta teori kompetensi komunikasi. Penelitian ini bertipe deskriptif kualitatif denganmetode fenomenologi untuk mengungkap pengalaman komunikasi PE kepada peer-nya.Hasil dari penelitian menunjukkan bagaimana komunikan bertipe skeptis seperti WPSdapat menerima informasi dari pihak luar dengan cara persuasif menggunakan ajakan sertadialog dimana dalam interaksi tersebut WPS dapat mengemukakan pendapat, alasan, sertapandangannya terhadap isu yang diangkat seperti penggunaan kondom untuk mencegah HIV.Selain itu kompetensi komunikasi PE sangat mempengaruhi keberhasilan komunikasi persuasifdimana ketiga faktor: pengetahuan, motivasi, serta keterampilan menjadi satu kesatuan yangharus dimiliki PE secara maksimal. Perlu adanya pemahaman mengenai peran PE oleh setiapWPS sehingga peran WPS tidak hanya penyedia kondom melainkan sesuai dengan tujuanadanya PE yaitu mengedukasi dan mempersuasif sesamanya untuk merubah perilaku.Kata kunci : Peer Educator; WPS; kompetensi komunikasiTHE EXPERIENCE OF WPS COMMUNICATION AS PEER EDUCATORIN PREVENTION OF HIVAbstractThis research aims to describe the communication between WPS (Wanita Pekerja Seks) as PeerEducator (PE) and her peer, the another WPS about using condom to prevention of HIV and toexplain how to be a good persuader in this situation. This research based on the experiencecommunication of female sex worker in Resosialisasi Argorejo, Semarang. Using the TheoryRhetoric of Persuasion, Theory Dialog and Theory Communication Competence for answer thequestion of this research. The type of this research is qualitative descriptive by usingphenomenology method. Phenomenological approach is used to reveal experiencecommunication of PE to her peer.The result of this research is how to persuade the communicant of skeptic type like WPS toaccept the information from the others is with persuasion and dialog in interaction so WPS cantell what her opinion, reason, and perspective, about using condom for prevention of HIV.Moreover, communication competence of PE is affective for the success of persuasivecommunication, which three factors of communication competence : knowledge, motivation,and skill is union and PE must have them maximum. There needs to be an understanding of therule that PE by any WPS, that PE isn’t only just a condom providers but according to purposeof PE is to educate and persuasion the other.Keywords: Peer Educator; WPS; communication competenceI. PENDAHULUANSosialisasi merupakan bentuk komunikasi persuasif yang sering dipilih pemerintah maupunLembaga Swadaya Masyarakat (LSM) kepada masyarakat dalam berbagai isu penting. Meskibegitu, tidak sedikit dari sosialisasi tersebut yang menciptakan polemik dimasyarakat karenamenimbulkan pro dan kontra. Salah satunya adalah sosialisasi penggunaan kondomdimasyarakat. Ada yang mendukung tindakan tersebut, namun tidak sedikit yang mengecamtindakan tersebut.Human Immunedefficiency Virus atau yang disingkat HIV adalah penyakit mematikanyang menjadi masalah kesehatan di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. BerdasarkanDitjen PP dan PL Kemenkes RI pada laporan statistik HIV/AIDS di Indonesia, jumlah kasusbaru HIV/AIDS pada 1 Januari sampai dengan 31 Desember 2012 adalah 21.511 kasus HIVdan 5.686 kasus AIDS. Provinsi Jawa Tengah pun tidak luput dari penyakit mematikan ini.Dalam artikel berita di lensaindonesia.com, Jawa Tengah malahan menjadi peringkat ke-6nasional dari segi jumlah kasus HIV/AIDS setelah Bali, dengan jumlah penderita hingga Juni2012 yang baru terungkap mencapai 5.301 orang dari estimasi sebanyak 10.815 kasus.Pengelola Program Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPA) Jateng, Ridha Citra Turyanimengatakan, jumlah penderita tersebut masih separuh ditemukan karena penyakit yangmematikan ini masih sangat sulit terdeteksi bagaikan gunung es. (Gawat! 436 Ibu RumahTangga di Jateng Terjangkit HIV/AIDS. (2012). Dalamhttp://www.lensaindonesia.com/2012/10/17/gawat-436-ibu-rumah-tangga-di-jateng-terjangkithivaids.html diunduh 3 September 2013 pukul 20.30 WIB)Terdapat banyak penyebab penularan HIV, antara lain : ibu hamil dan pemberian ASI dari ibuyang menjadi penderita HIV kepada bayi, penggunaan jarum suntik, transfusi darah, dan yangmenduduki persentase terbesar (70%-80%) adalah hubungan seksual. Menteri KesehataNafsiah Mboi menanggapi bahwa salah satu penyebab mengapa angka penderita HIB masihtinggi adalah karena masih rendahnya kesadara masyarakat terhadap seks berisiko. Tingginyapenulara HIV dan AIDS disebabkan oleh banyaknya pria dewasa yang memelihara kebiasaan“belanja seks” dan kurangnya penggunaan kondom. Menurutnya perilaku negatif inimenyebabkan 1,6 juta penduduk menikah dengan pria berisiko menderita HIV dan AIDS.(HIV/AIDS Tinggi karena Pria Doyan Jajan Seks. (2012) dalamhttp://www.tempo.co/read/news/2012/06/25/173412771/HIVAIDS-Tinggi-karena-Pria-Doyan-Jajan-Seks diunduh 3 September 2013 pukul 20.35 WIB).Sosialisasi penggunaan kondom yang dilakukan oleh pemerintah maupun LSMkhususnya bidang kesehatan guna mencegah dan menanggulangi penyebaran penyakit HIVakibat “kebiasaan jajan pria” ini sayangnya tidak berjalan mulus, timbulnya pro dan kontramembuat sosialisasi ini kurang berdampak untuk menekan angka penderita HIV. Kini tindakansosialisasi penggunaan kondom sebagai pencegahan penyakit HIV dilakukan di beberapatempat lokalisasi (atau saat ini disebut resosialisasi), dengan kegiatan peer education.PE sebagai komunikator dalam kegiatan komunikasi berupa peer education yangdipaparkan diatas, menunjukkan betapa penting peranannya dalam mencapai keberhasilandalam mempengaruhi perilaku seseorang/kelompok, dalam hal ini yaitu WPS maupun PSK.LSM Griya Asa PKBI Kota Semarang yang merupakan salah satu LSM yang bergerakdi bidang Keluarga Berencana (KB), pencegahan Infeksi Menular Seksual (IMS) danHIV/AIDS di Kota Semarang. PKBI Semarang telah mendampingi wanita yang dikategorikankelompok Risiko Tinggi (RisTi) di wilayah Kota Semarang. Salah satu bentuk kegiatanpencegahan HIV yang dilakukan oleh LSM Griya Asa PKBI bekerjasama dengan FHI (FamilyHealth International) pada tahun 2003 adalah mengunakan peer education sebagai salah satustrategi komunikasi dalam pencegahan HIV di Lokalisasi Sunan Kuning. Alasan awal mengapadibentuk PE karena PE yang berasal dari sesama WPS, karena WPS sendiri memilikikecendurungan menutup diri, namun lebih terbuka dengan lingkungan dalamnya, khususnyasesama WPS. Hal tersebut tentu akan memudahkan LSM dalam mempengaruhi WPS untukmerubah tingkah lakunya sesuai dengan program pencegahan HIV. Selain itu, pemikiranlainnya bahwa tidak selamanya LSM Griya Asa ada di daerah lokalisasi tersebut. Harapannya,dengan adanya PE, edukasi mengenai program pencegahan HIV akan terus berlangsung meskiLSM tidak lagi ada disana.Sayangnya terdapat lack of communicator di Lokalisasi Sunan Kuning. Sejakdibentuknya kegiatan peer education pada tahun 2003 hingga saat ini 2013, tercatat sebanyak60 WPS sebagai PE. Namun kenyataannya dari 60 WPS tersebut, kurang lebih hanya 15 orangyang aktif sebagai PE.Peer Educator yang terdapat di Lokalisasi Sunan Kuning mempunyai fungsi untukmengajak dan mengedukasi sesama WPS, untuk menjaga kesehatan reproduksi denganmenggunakan kondom dan menjalani scanning secara rutin. Sayangnya fungsi tersebut kiniberalih. “PE di Lokalisasi Sunan Kuning kini hanyalah penyetok kondom saja,” pengakuan Ari,salah satu relawan LSM Griya Asa yang mengikuti program ini sejak awal. Menurutnyadibutuhkan peran aktif dan dukungan penuh dari para pengurus resos dalam menjalankanprogram PE tersebut.Masalah yang timbul kemudian adalah bagaimana interaksi yang dilakukan WPSsebagai PE dalam mempersuasif sesama WPS serta bagaimana kompetensi komunikasi yangseharusnya dimiliki WPS tersebut sebagai persuader yang baik. Dalam menjawab pertanyaantersebut peneliti melakukan penelitian kepada 6 (enam) WPS sebagai informan dimana merekaterdiri dari 2 (dua) orang yang berperan sebagai peer, 2 (dua) orang yang berperan sebagai PEnon aktif, dan 2 (dua) orang yang berperan sebagai PE aktif. Penelitian ini sendiri dilakukan diLokalisasi Sunan Kuning, dimana peer education pertama kali diterapkan dilingkunganlokalisasi di Semarang. Tipe penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang menggunakanmetode fenomenologi dengan paradigma interpretif. Paradigma interpretif dapat dimengertimerupakan proses aktif dalam pemberian makna dari suatu pengalaman. Peneliti menggunakanparadigma ini dan berusaha mengungkapkan dan memahami pengalaman WPS sebagai peer PEdalam upaya pencegahan HIV.Data yang dikumpulkan dalam penelitian kualitatif berupa catatan di lapangan dan hasilwawancara (Denscombe, 2007:289). Studi ini berusaha mendeskripsikan pemahaman wanitaWPS sebagai PE dan menyimpulkan pentingnya peran peer educator sebagai komunikatorkhususnya dalam upaya merubah tingkah laku sebagai tujuan pencegahan HIV. Sehingga dapatdirumuskan pengalaman WPS sebagai PE dalam upaya pencegahan HIV.II. ISISetelah melakukan depth interview, peneliti kemudian melakukan deskripsi tekstural danstruktural dari hasil wawancara tersebut. Setelah individual textural-structural descriptiontersusun, maka dibuat suatu composite description dari makna dan esensi pengalaman sehinggamenampilkan gambaran pengalaman kelompok sebagai satu kesatuan. Sehingga tahap akhirdari studi fenomenologi adalah mempersatukan pandangan dari deskripsi tekstural danstruktural guna membangun sintesis makna dan intisari dari sebuah fenomena dan pengalaman(Moustakas, 1994:181).Dalam penelitian didapatkan pemahaman WPS mengenai peran PE sangatmempengaruhi keputusannya untuk mengikuti arahan dari PE atau tidak. Ketika seorang WPSmenganggap PE hanyalah seorang “penyetok” kondom maka dirinya merasa tidak perluterbuka kepada PE mengenai kesehatan reproduksinya. Baginya keputusan menggunakankondom merupakan keputusan pribadi dimana tidak seorang pun berhak mendiktenya.Selain pemahaman peran PE di lingkungan resos, penelitian ini juga mendapatibagaimana interaksi yang dilakukan antara PE dan WPS. Dalam mempersuasif WPS, PE perlumemulai interaksi dengan menyatakan pandangannya mengenai kegunaan kondom, bagaimanamanfaat dari penggunaan kondom 100%, dan bagaimana dampak yang dirasakan PE secarapribadi selama menggunakan kondom 100%. Penjelasan tersebut dilakukan PE sebagai bentukpersuasif menggunakan kalimat mengajak dimana PE tidak serta merta memaksa WPSmenggunakan kondom, tapi sebaliknya membiarkan WPS memutuskan menggunakan kondom100% secara pribadi meski harapan dari PE mereka mengikuti program pencegahan tersebut.Ketika timbul konflik diantara PE dan WPS, PE dan PE, bahkan PE dengan pihak LSMmaupun resos, dialog menjadi pilihan utama sebagai problem solving, dimana setiap pihak yangberselisih paham dapat bebas mengutarakan pendapat dan alasannya sesuai dengan konteksyang menjadi masalah. Seperti halnya ketika ada WPS yang menolak menggunakan kondom,PE akan menanyakan alasan mengapa ia tidak mau menggunakan kondom. Terjepitnya WPSakan kebutuhan yang semakin meningkat serta kondisi sepi tamu membuat WPS seringkaliberkompromi dalam menggunakan kondom atau tidak. Setelah mendengarkan penjelasan WPStersebut, PE kemudian memilih mengutarakan alasan-alasan yang rasional mengapa WPS tetapharus menggunakan kondom, seperti bagaimana penyakit HIV saat ini belum ada obat yangdapat menyembuhkannya, sehingga berapa pun uang yang dimiliki WPS tidak akan bisamenyembuhkannya ketika terjangkit HIV. Dengan penjelasan-penjelasan yang rasional sertamenyertakan contoh dan trik-trik (merayu tamu menggunakan kondom atau menggunakankondom wanita) akan membuat WPS mau terbuka atas pendapat orang lain (PE) dan mengikutiapa yang PE sampaikan karena merasa itu juga untuk kesehatan reproduksi WPS itu sendiri.Kompetensi komunikasi yang harus dimiliki oleh seorang PE dapat dipenuhi ketikafaktor-faktor dari kompetensi komunikasi tersebut dimiliki secara keseluruhan. pengetahuan,motivasi, serta keahlian komunikasi harus dimiliki PE untuk dapat menjadikannya seorangpersuader yang berhasil. ketika seorang PE kurang memiliki kompetensi komunikasi makadirinya pun masuk kedalam kategori PE non aktif. Adanya trauma yang dimiliki ketikamenghadapi respon negatif WPS ketika sedang dipersuasif menjadi salah satu alasan mengapaseorang PE menjadi non aktif.III. PENUTUPKomunikasi merupakan cara terbaik dalam mempersuasif seseorang agar mau merubahperilakunya sesuai dengan harapan yang diinginkan. Meski demikian tidak semua komunikasidapat berhasil. Banyaknya elemen dalam komunikasi memiliki peran tersendiri dalam mecapaikeberhasilan, namun dalam komunikasi persuasif, peran seorang komunikator mengambil andilpaling besar dibandingkan elemen komunikasi yang lainnya.Keberhasilan seorang WPS sebagai PE didalam mempersuasif WPS untuk mengikutiprogram pencegahan HIV dengan cara menggunakan kondom 100% perlu didukung olehsegala pihak, tidak hanya bagaimana seorang PE menjalankan tugas dan tanggungjawabnya,melainkan juga respon positif dari WPS lain sebagai peer-nya serta bagaimana LSM sertapengurus resos yang konsen dalam memberdayakan PE dimana terus meng-upgrade PEkhususnya agar memiliki kompetensi komunikasi adalah faktor penentu keberhasilan programpeer education di lingkungan resosialisasi.DAFTAR PUSTAKAAw., Suranto. (2011). Komunikasi Interpersonal. Yogyakarta : Graha IlmuJans, Molly. (1999). Comm 3210: Human Commucation Theory, Martin Buber’s DialogicCommunication. Research Report. University of Colorado at BoulderKuswarno.Engkus. (2009). Metodologi Penelitian Komunikasi Fenomenologi: Konsepsi,Pedoman, dan Contoh Penelitiannya. Bandung:Widya PadjadjaranLittlejohn, Stephen W. & Foss, Karen A. (2009). Theories of Human Communication (9thedition) Teori Komunikasi (diterjemahkan oleh : Mohammad Yusuf Hamdan) . Jakarta:Salemba HumanikaMiller, Robert and Williams, Gary. (2004). The 5 Paths To Persuasion: The Art of Selling YourMessage. Summaries.comMoleong, Lexy J. (2004). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja RosdakaryaMoustakas, Clark. (1994). Phenomenological Research Methods. London: SAGE Publications,Inc.Pawito. (2007). Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta : Lembaga Kajian Islam danSosial (LKIS)Rahmat, Jalaluddin. (1999). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya OffsetTubbs, Stewart L. & Moss, Sylvia. (1994). Human Communication:Prinsip-Prinsip Dasar.(diterjemahkan oleh: Dr. Deddy Mulyana). Bandung: PT Remaja Rosdakarya OffsetWest, Richard & Turner, Lynn H. (2007). Introducing Theory: Analysis and Application (3rdedition). (diterjemahkan oleh: Maria Natalia Damayanti Maer). Jakarta : SalembaHumanikaJurnalAgustina, Rakhmawati. (2011). Pelaksanaan Kegiatan Peer Educator Dalam Upaya Pencegahan HIVdan AIDS di SMK Ibu Kartini Kota Semarang. Skripsi. Semarang : Universitas DiponegoroIka Setya Purwanti dan Rika Suarniati, The Indonesian Journal of Public Health vol. 2 no. 3, Mar.2006 : 98Jubaedah, Edah. (2009). Jurnal Ilmu Administrasi (pdf), Analisis Hubungan Gaya Kepemimpinan danKompetensi Komunikasi Dalam Organisasi. 370-375Murti, Elly Swandewi,dkk. (2006). Efektivitas Promosi Kesehatan Dengan Peer Education PadaKelompok Dasawisma Dalam Upaya Penemuan Tersangka Penderita TB Paru. BeritaKedokteran Mayarakat, Vol. 22 No. 3 September 2006, hal 128-134Zuhriyyah, L.Z. Penggunaan Kondom pada Wanita Pekerja Seks (WPS) Di Kawasan ResosialisasiGambilangu Kabupaten Kendal Tahun 2010. Skripsi. Semarang : Universitas NegeriSemarangInternetIndah,dkk. (2009). Peran Komunitas AIDS Peduli HIV/AIDS. Dalamhttp://theonlinejournalism.blogspot.com/2009/01/hivaids-siapkah-solomelawan_13.html 21/05/2013. Diunduh pada 20 Mei 2013 pukul 20.45 WIBFarihah. (2010). Dampak Psikologis PSK. Dalamhttp://ulfahfarihah51.blogspot.com/2011/07/dampak-psikologis-yang-dialami-psk.html.Diunduh pada 23 Mei 2013 pukul 18.30 WIBPeer Education (2000). Dalam http://www.unicef.org/lifeskills/index_12078.html. Diunduh 2Juni 2013 pukul 17.20 WIBIriyanto,Yuwana. (2011). Ibu Rumah Tangga di Jateng Terjangkit HIV/AIDS. Dalamhttp://www.lensaindonesia.com/2012/10/17/gawat-436-ibu-rumah-tangga-di-jatengterjangkit-hivaids.html. Diunduh 3 September 2013 pukul 23.00 WIB
ADAPTASI KOMUNIKASI ANTARA STRANGER DAN HOST CULTURE DI KOTA SEMARANG Elvina Ghozali; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 7, No 3: Agustus 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.655 KB)

Abstract

This study aims to describe the communication strategy carried out by ethnic Papuans to be able to interact with the host culture in Semarang. The method used in this research is a qualitative type with a phenomenology approach. This research is supported by co-cultural theory and minority group theory. The informants in this study consisted of five ethnic Papuan individuals who were conducting studies in the city of Semarang. The adaptation process that occurs between ethnic Papuan individuals and the host culture shows that there are conflicts in the form of differences in cultural values, prejudices, and superior vs. inferior positions among them. In this research, we can found several strategies used by each individual to be able to communicate with host culture, as a way for them to adapt in a new cultural environment. These informants applied several strategies such as opening themselves up, and socializing well. In addition, they also have learned the local language, changed their intonation, speaking style, and paid attention to non-verbal communication to be able to interact with the host culture. Communication that runs in depth and sustainably is also achieved by searching for host culture favorite topics, as well as mixing regional languages into the conversation. Differences in understanding culture also make ethnic Papuan individuals clarify, share stories and experiences about life in Papua, and ask for help from third party. These strategies are carried out by informants who aim to achieve accommodation, namely trying to get the host culture to accept their existence in the new environment. As a conclusion, it can be concluded that the application of a good strategy will create good communication, and can create a successful intercultural adaptation process.
Pengalaman Akomodasi Komunikasi (Kasus: Interaksi Etnis Jawa dengan Etnis Batak) Osa Patra Rikastana; Turnomo Rahardjo; Lintang Ratri Rahmiaji; Adi Nugroho
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (39.245 KB)

Abstract

Geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau, berada diantara dua benua dan dua samudra, dan pernah menjadi jalur utama perdagangan kuno menjadikan kultur yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia menjadi beragam. Keberagaman budaya, selain menjadi anugerah negeri juga menjadi potensi masalah. Potensi masalah yang bisa muncul yaitu kesalahpahaman ketika proses komunikasi antarbudaya, bahkan dalam taraf yang drastis dapat memicu konflik. Kasus yang diangkat merupakan interaksi antara etnis Jawa dengan Batak. Nilai dan norma yang dipegang oleh anggota dari etnis ini dinilai saling bertolak belakang.Penelitian ini bertujuan untuk memahami bentuk akomodasi komunikasi serta kendala yang muncul ketika individu dari etnis Jawa dengan Batak berinteraksi pada tahap perkenalan. Penelitian ini menggunakan paradigma Interpretif dan pendekatan fenomenologi yang digunakan untuk memahami suatu fenomena menurut perspektif informan, dalam hal ini yaitu individu dari etnis Jawa dengan Batak ketika melakukan proses akomodasi komunikasi pada tahap perkenalan. Teori Akomodasi Komunikasi digunakan sebagai alat untuk membaca bentuk akomodasi yang digunakan oleh masing-masing informan. Peneliti menggunakan teknik wawancara mendalam kepada empat informan yang masing-masing berasal dari etnis Jawa dan Batak.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk akomodasi komunikasi yang digunakan oleh individu dari etnis Jawa dan Batak adalah Konvergensi, dimana individu berusaha untuk menyamakan perilaku komunikasi dengan lawan bicaranya. Selama proses komunikasi mereka mengesampingkan atribut-atribut kultural yang mereka miliki dengan tujuan mengakomodasi, hal ini menunjukkan adanya kesadaran untuk melakukan akomodasi pada komunikasi antarbudaya. Kedua etnis ini memiliki perbedaan faktor yang mendorong mereka untuk melakukan akomodasi, individu dari etnis Jawa mengakomodasi karena dorongan kultural, sedangkan individu dari etnis Batak mengakomodasi agar diterima kedalam kelompok. Kendala yang muncul selama proses komunikasi adalah stereotip, penggunaan bahasa, dan kurangnya informasi kultural.
Understanding The Process of Intercultural Communication in Working Group: Research on Indonesian AIESEC Members Who Have Duty on Abroad. Yuliana Harianja; Dr. Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 4, No 3: Agustus 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.738 KB)

Abstract

The numbers of Indonesian people who work and living abroad are increasing. There are a lot of opportunities for young people to be able to have challenging working experience in international organization with people from different cultural background. Unfortunately, to be able to adapt to the group consist of people from diverse cultural background, it is required to have a good competence in intercultural communication. Conflict becomes a common things for people that work in a group with high levels of cultural diversity. This research aims to know and to describe the intercultural communication process in working group of Indonesian AIESEC members who have duty on abroad. This research is qualitative research and use phenomenology approach. The theories used in this research are Effective Intercultural Workgroup Theory, Intercultural Adaptation Theory, and Anxiety/ Uncertainty Management Theory. The results of this study indicate that the creation of an effective intercultural communication is influenced by internal and external factors. Internal factors include the knowledge and experience of intercultural communication, expectations and self-disclosure. While external factors include the level of cultural differences and values within the organization. Effective communication will result in job satisfaction were seen from the positive relationships and the development of the individual personally and professionally. Recommendations can be given for future research is to conduct research on intercultural communication in work groups with more attention to the background of the organization and age range of research subjects. Background of different organizations and a wider age range allows for the communication process is more complex in the working group.
Pengembangan dan Pengelolaan Situs Berita Pandu Hidayat; Turnomo Rahardjo; Adi Nugroho; Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.211 KB)

Abstract

Menyadari tidak adanya media resmi yang fokus membahas isu terkait dengan alam, sejarah, dan budaya di Dieng, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dieng Pandawa berinisiatif untuk membuat situs berita yang bernama www.diengsavanaindonesia.com. Hal ini bertujuan untuk memberikan informasi kepada khalayak luas berkaitan dengan tema-tema tersebut.Konten yang ditampilkan di situs ini, ditulis dalam ragam tulisan jurnalistik. Karena itu, pembagian tugas dalam pengelolaan situs ini pun terdiri dari; reporter, fotografer, editor dan desainer grafis. Reporter bertugas mencari dan menulis berita. Fotografer mencari gambar terkait dengan berita yang ingin dimuat. Editor menyunting tulisan yang akan dimuat. Sementara itu, desainer grafis merancang tampilan pada laman yang tersedia di situs tersebut, serta mengunggah berita yang sudah siap muat.Selama satu bulan pengelolaan, situs ini berhasil memuat 31 berita di rubrik atau kanal-kanal yang tersedia. Kanal-kanal itu terdiri dari kanal alam yang berisi tentang potensi dan keadaan alam di Dieng. Kanal sejarah yang menyajikan informasi berkaitan dengan peristiwa sejarah yang pernah terjadi di sana. Kanal budaya, berisi tentang keragaman budaya, adat istiadat dan kesenian yang ada di Dieng dan sekitarnya, dan terakhir, kanal galeri, yang berisi foto essai dan foto-foto yang diambil di Kawasan Dieng.Dalam pelaksanaannya, karya bidang ini tidak lepas dari kendala yang terjadi selama proses pengelolaan. Kendala berupa pelaksanaan yang tertunda akibat terjadinya kesalahan komunikasi, tema berita yang tidak bisa diliput sesuai dengan jadwal yang sudah dibuat serta sulitnya mencari sumber untuk berita yang akan ditulis. Meskipun begitu, kendala-kendala tersebut dapat diatasi melalui diskusi dari anggota tim yang ada di „Dieng Savana Indonesia‟. Selain pengelolaan dalam bidang jurnalistik, karya bidang ini juga melaksanaan pengeloaan dalam penyebaran informasi. Media yang digunakan adalah jejaring sosial seperti instagram, twitter, dan facebook.Selanjutnya, untuk mengetahui jumlah pengunjung situs selama satu bulan pengelolaan, digunakan aplikasi webalizer. Hasil penghitungan sebanyak 31 berita yang telah diunggah, meraih total 5538 pengunjung. Hasil tersebut didapat dari empat kanal yang ada pada situs “Dieng Savana Indonesia”, yaitu kanal alam, sejarah, budaya dan galeri. Meskipun begitu masih terdapat beberapa kekurangan dalam situs berita ini, seperti kualitas tulisan berita yang tidak terjaga, tampilan situs yang kerap mengalami gangguan teknis serta kurangnya publikasi untuk berita yang dimuat. Hal tersebut perlu diperbaiki agar situs “Dieng Savana Indonesia‟ menjadi lebih baik.
Co-Authors ., Muchibuddin Abdul Malik, Aminullah Adhi Wiryawan, Yudho Adi Nugroho Adi Nugroho Adi Nugroho Adi Saputro, Topo Adinda, Sarah ADITYA FAHMI NURWAHID Adiyatma, Irfandhika Afri Setya, Rega Agus Naryoso Aisyah Monicaningsih Aisyah Nadhilah Arsyi Malik Aisyah Nur Iswahyudi, Farah Ajeng Gendari Sayang Aji Kurniawan Ade Purwanto Alif Hibatullah Alifati Hanifah Almanda Prinarenti, Aurelia Amelia Monica Amida Yusriana Andrio, Bimo Anindhita Puspasari Anjar Mukti Yuni Pamungkas, Anjar Mukti Annie Renata Siagian Annisa Widya Paramitha Annisa Zetta Afiatni Aprilla Agung Yunarto Arif Andhika, Wisnu Arlinda Nurul Nugraharini Asri Rachmah Mentari Asteria Agustin Asyhab Arno Wijaya Aurisa Hangesti Putri Avianto Aryo Wicaksono Ayu Lestari, Mega Ayu Permata Sari Ayudia Putri, Rakhma Azif, Zahra Bayu Hastinoto Prawirodigdo Bayu Widagdo, Muhammad Bening Shabilla Utami Bonaventura Paskaris Kusuma Aji Brillian Barro Vither Conny Brilliant Dwikananda, Kartika Dalil, Firas Dea Dwidinda Lutfi Desastri Ahda Ramadhan, Pimpi Destika Fajarsylva Anggraini Devi Pranasningtias Indriani DEWI IRAWATI Dhyah Shanti Nur Kartika Dimas Obwid Robertus Belarmino Malau Dinaharilala Olivia, Randrianarison Dini Tiara I Dipa Wirayatama Diva Sinar Rembulan Dizafia Zafira Mayyasya Djoko Setyabudi DONNA RADITA MERITSEBA DR Sunarto Dr. Sunarto Dra Taufik Spurihartini Dwi Amanda, Visca Dyah Woro Anggraeni Elbert Adinugraha Christianto, Anthony Elvina Ghozali Erva Maulita Eva Ratna Hari Putri Fariz Dewanto Fatia Maharani Fauzi, Aldi Febrian Aditya Putra Fitria Mahdiyyani, Anisah Fitria Purnama Sari Fransiska Indria Widiasari Gatikasari Mujiastuti Geta Ariesta Herdini Gilang Maher Pradana Gusti Purbo Darpitojati Handono Priambodo, Handono Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Sulistyani Hasibuan, Anra Muliasih Sah Bakti Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Himawan, Hilmi Ika Adelia Iswari Ilham Prasetyo Indra Bagus Kurniawan Irfan Zuldi Isabela Laras Anindyo Isti Murfia Jenny Putri Avianti Jonathan Dio Sadewo Joyo NS Gono Joyo Nur Suryanto Gono Kania Azzahra Wibowo Kania Salsabila Putri Rachmadi Karina Puspadiati Kevin Purba Khurrosidah, Sela Kusuma, Ivana Lintang Ratri Rahmiaji Lintang Ratri Rahmiaji Lucia Eka Pravitasari M Bayu Widagdo Maharani Easter Makarim, Nabil Marlia Rahma Diani Marshya Camillia Ariej Martha Caesarin Putri Yulinta Martina Aurelia Carissa Maulana Khalidin . Maulana Ocky Adhicondro Meidiza Firda Mapikawanti Miftakhul Noor Alfiana Mirtsa Zahara Hadi Monica Hayunindya Patria Paramesthi Much Yulianto Much. Yulianto MUCHAMAD MACHBUB LUTFI Muh. Medriansyah Putra Kartika Muhammad Bayu Widagdo Muhammad Reza Mardiansyah Muhammad Syamsul Hidayat Mujahidah Amirotun Nisa Nadhila Prisca Anjani M Nadif Rizqulloh, Muhammad Nadila Opi Prathita Sari Naga Mulia, Wim Naomi Uli Quanti Siahaan Narayani Aberdeen, Avi Nastiti Laksmita Adi Nikolas Prima Ginting NIKOLAUS AGENG PRATHAMA NOVI ADI PUSPITANINGRUM Nur Rahmi, Faurina Nur Suryanto Gono, Joyo Nurist Surayya Ulfa Nuriyatul Lailiyah Nurrist Surayya Ulfa Nurul Athira Yahya Nurul Hasfi Nurul Hikmah Octaviani, Averina Olina Hartani Muliani Gultom Osa Patra Rikastana Pandu Hidayat Paskah M Pakpahan Pratiwi, Silvi Primada Qurrota Ayun Puspita Dea Chantika Qonita Andini, Annisa Qury Aini R. Milwanda Nadika S. Restu Ayu Mumpuni, Restu Ayu Rezeki Amalia, Annisa Ricki Apriliono Rifki Nur Pratiwi Rindiana Kiswari Rizki Fajar Bagaskoro, Sektianto Rizki Kurnia Yuniasti ROBBIANTO ROBBIANTO Rosa Humaira, Almira Rossa Oktaviyani S Rouli Manalu Sabda Nugraha, Detrina Sahfitri, Dwina Salsabila Putri Wasesa, Meidyana Salshabila Putri Persada Sarah Indah Putri Sasaningtawang, Bening Saviera Maharani Doniyar Sefti Diona Sari Sessy Refi Sanina Shafa Amanda, Karina Shafira Inas Nurina Silas Hamenyimana Sony Kusuma Anugerah Sri Budi Lestari Sri Budi Lestari Sri Devi Valentina Simamora Devi Valentina Simamora Sri Nofidiyahwati Sri Widowati Herieningsih Sri Widowati Herieningsih Sunarto Sunarto Suryanto Gono, Joyo Nur Tandiyo Pradekso Tansha Nastiti, Talitha Taufik Suprihartini Taufik Suprihartini . Taufik Suprihatini Taufik Suprihatini Theresia Karo Karo Tiara Astra Parahita Tiara Ayu Raharjo Tri Yoga Adibtya Tama Trinata Anggarwati, Bunga Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro . Viviana Ardine Mutiara K F Wahyu Satria Utama, Wahyu Satria Widya Nur Hidayati Wiwid Noor Rakhmad Wuriani, Wuriani Yanuar Luqman Yenny Puspasari Yenny Puspitasari Yobelta Kristi Ayuningtyas Yoga Yuniadi Yolanda Audrey Yuanita Putri Melati Yuliana Harianja Yusriana, Amida