Claim Missing Document
Check
Articles

PELATIHAN SELF-REGULATED LEARNING PADA SANTRI DI PESANTREN X TANGERANG Wijayanto, Muhammad Rafi; Hastuti, Rahmah
Jurnal Serina Abdimas Vol 1 No 2 (2023): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v1i2.26109

Abstract

Pesantren is educational institutions that focus on islamic religious knowledge. Compared to most educational institutions, pesantren implement dormitory systems that requires santri to stay until the end of all learning activities. Pesantren X is a boarding school that adapts its learning system to the current technological advances so that formal education is implemented side by side with islamic religious education. The merger between the two curricula has an impact on the tight schedule of santri learning activities. This Islamic boarding school emphasizes the learning process on memorizing Al-Qur’an, where everyday santri are required to memorize according to predetermined targets. In addition, santri are also required to have good grades in the lessons listed in the curriculum used by this pesantren. One of the main problems with santri is that they use their free time to play and not use it for working on assignments. Often, santri work on assignments while learning in class is in progress. This causes the assignments given by the teacher are often late to be collected. Therefore, self-regulated learning training is needed so that santri able to plan and carry out self-monitoring of the tasks that must be completed. Self-regulated learning training is carried out attractively in a period of 1 day. This activity consists of presentation of material, discussion, and practice of making task planning sheets. This training activity involved 37 male santri who were at the 1st grade level of junior high school. Overall, santri benefit from the activities carried out. Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang berfokus pada ilmu agama islam. Berbeda dengan sistem pendidikan pada umumnya, pesantren menerapkan sistem asrama yang mewajibkan santri untuk menetap sampai berakhirnya seluruh kegiatan pembelajaran. Pesantren X merupakan pesantren yang menyesuaikan sistem pembelajarannya dengan perkembangan zaman dan teknologi, sehingga pendidikan formal diterapkan secara berdampingan dengan pendidikan agama islam. Adanya penggabungan antara kedua kurikulum tersebut, berdampak pada padatnya jadwal kegiatan belajar santri. Pesantren ini menekankan proses pembelajarannya pada hafalan Al-Qur’an, di mana setiap harinya santri diharuskan untuk menghafal sesuai dengan sasaran yang telah ditentukan. Selain itu, santri juga dituntut untuk memiliki nilai yang baik dalam pelajaran yang tercantum pada kurikulum yang digunakan oleh pesantren ini. Salah satu masalah utama yang seringkali terjadi pada santri adalah mereka menggunakan waktu luang untuk bermain dan tidak menggunakannya untuk mengerjakan tugas. Seringkali, santri mengerjakan tugas-tugas pada saat pembelajaran di kelas sedang berlangsung. Hal ini mengakibatkan tugas-tugas yang diberikan guru seringkali telat untuk dikumpulkan. Oleh karena itu, dibutuhkanlah pelatihan self-regulated learning agar santri mampu merencanakan dan melakukan pemantauan diri terhadap tugas-tugas yang wajib untuk diselesaikan. Pelatihan self-regulated learning dilaksanakan secara tatap muka dalam kurun waktu selama 1 hari. Kegiatan ini terdiri dari presentasi materi, diskusi tanya jawab, dan latihan membuat lembar perencanaan tugas. Kegiatan pelatihan ini melibatkan 37 santri laki-laki yang berada pada tingkatan kelas 1 SMP. Secara keseluruhan, santri mendapatkan manfaat dari kegiatan yang dilakukan.
PSIKOEDUKASI MENGEMBANGKAN KETERLIBATAN SISWA DALAM PROSES PEMBELAJARAN DI SEKOLAH Rahmah Hastuti; Puspita Zahra Arimurti; Ardaffa Azra Kalandoro
Jurnal Serina Abdimas Vol 1 No 3 (2023): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v1i3.26178

Abstract

Student engagement (keterlibatan siswa) merupakan upaya yang didapatkan oleh siswa dari proses kegiatan belajar berdasarkan capaian yang diharapkan oleh sekolah untuk mendukung siswa dapat berperan serta dalam kegiatan di sekolah. Kondisi siswa yang telah melalui tahap penyesuaian dari masa pandemi yang menerapkan sistem pembelajaran dari rumah, kemudian dapat kembali melakukan kegiatan dan pembelajaran dari sekolah. Penyesuaian dari kondisi tersebut menciptakan suasana baru dalam kehidupan siswa di sekolah. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (Abdimas) bertujuan agar para siswa dapat berbagi informasi dan pengetahuan mengenai topik yang lekat dengan kehidupannya, yaitu terkait student engagement. Pada kegiatan Abdimas ini digunakan pengukuran mengenai student engagement dalam bentuk skala psikologi. Abdimas ini menjaring 95 partisipan, yaitu siswa dengan rentang usia 14 sampai dengan 16 tahun. Pengambilan data dilakukan di SMP Swasta X Kota Bekasi pada bulan Maret 2023 melalui kuesioner tercetak. Alat ukur yang digunakan, yaitu Student Engagement in School-Four-Dimensional Scale (SES-4DS) yang dikembangkan oleh Lam et al. (2014). Berdasarkan perolehan data yang telah dilakukan terdapat persepsi mengenai keterlibatan siswa dengan menggunakan metode deskriptif. Sehingga, diperoleh hasil bahwa persepsi siswa mengenai keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran di sekolah cenderung sedang. Hasil perolehan yang didapatkan menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan berdasarkan data demografis seperti jenis kelamin, usia, urutan kelahiran, dan status orangtua. Hasil Abdimas ini dapat disimpulkan bahwa mean empirik memiliki hasil mean yang lebih tinggi daripada mean hipotetik. Seluruh peserta dalam kegiatan Abdimas merasakan manfaat dari kegiatan dan memberikan feedback positif.
PSIKOEDUKASI UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN Heng, Pamela Hendra; Hastuti, Rahmah; Dinanti, Rizka; P, Ilham Ramadhan; N, Billy
Jurnal Serina Abdimas Vol 1 No 4 (2023): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v1i4.28334

Abstract

Adolescence is a transitional period from child to adult, this period will experience physical changes, cognitive development, and psychosocial development. The development of becoming an adult during the school period, what is often problematic is learning motivation because it is still unclear from the interests of each student's talent. Community service activities (PKM) are carried out with psychoeducation conducted to educate students about learning motivation and talent interests. PKM was conducted at one of the X private vocational schools in the West Jakarta area. The activity was carried out on grade 10 students with a total of 51 participants but who provided a written response of 50 people, namely 30 boys and 20 girls, with 2 majors namely Business Service Office Management (MPLB) and Visual Communication Design (DKV). Participants ranged in age from less than 16 years old to 18 years old. Students generally come from families whose parents have a high school education and earn around the Regional Minimum Wage (UMR). From the school community service activities, participants felt enthusiastic when drawing a bridge of dreams and playing games sessions and listening to the success stories of a doctor and a pedicab driver's son who managed to study abroad. Masa remaja adalah masa peralihan dari anak anak menjadi dewasa, periode ini akan mengalami perubahan fisik, perkembangan kognitif, dan perkembangan psikososial. Perkembangan menjadi dewasa saat masa sekolah hal yang sering bermasalah adalah motivasi belajar karena masih kurang jelas dari minat bakat masing masing siswa. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) dilaksanakan dengan psikoedukasi yang dilakukan untuk mendidik siswa mengenai motivasi belajar dan bakat minat. PKM dilakukan di salah satu SMK swasta X di wilayah Jakarta Barat. Kegiatan dilakukan pada siswa kelas 10 dengan jumlah peserta 51 orang tetapi yang memberikan respons tertulis sebanyak 50 orang, yakni 30 laki-laki dan 20 perempuan, dengan 2 jurusan yaitu Manajemen Perkantoran Layanan Bisnis (MPLB) dan Desain Komunikasi Visual (DKV). Partisipan berusia mulai dari kurang dari 16 tahun hingga 18 tahun. Siswa umumnya berasal dari keluarga yang orang tuanya memiliki pendidikan SMA dan berpenghasilan sekitar Upah Minimum Regional (UMR). Dari kegiatan PKM, peserta merasakan antusias pada saat menggambar jembatan cita cita dan sesi bermain games dan mendengarkan cerita sukses seorang dokter dan seorang anak tukang becak yang sampai berhasil kuliah sampai ke luar negeri.
PSIKOEDUKASI DENGAN MIND MAP UNTUK MENUNJANG PERKEMBANGAN KREATIVITAS SISWA SEKOLAH DASAR Hastuti, Rahmah; Tiofanny, Joselyn; Indriani, Chelsea
Jurnal Serina Abdimas Vol 2 No 3 (2024): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v2i3.32047

Abstract

The need for human resources in Indonesia that can compete and adapt in times of technological development and global growth can be accommodated with the development of an adequate education system. Potentials such as logic, abstract concepts, and creativity possessed by students in grades 5 and 6 can be developed by using learning methods that encourage students to play an active role in teaching and learning activities. One of them is by using the mind mapping method. In the experience of internship assistance conducted by students in a school, it was found that the behavior of elementary school students would become more dynamic, easier to understand learning materials, and more creative in solving problems after using the mind mapping method in their learning process. Seeing the importance of using mind mapping and the condition that SD X has not implemented the mind mapping method in the implementation of learning, psychoeducation is needed to direct and explain to students and teachers. PKM with psychoeducation conducted at SD X in the form of knowledge sharing to teachers with 5th and 6th grade elementary school students on Friday, March 8, 2024. Knowledge sharing is carried out in the form of lectures and mind mapping practices guided by the chief executive as a resource person in mind mapping psychoeducation activities. After the implementation of psychoeducation about mind mapping has been carried out, a question form paper and pencil is distributed to all students participating in activities on that day. Evaluation results from 88 students showed that 23.9% of participants felt very happy and 26.1% of participants felt very satisfied with the activities. ABSTRAK Kebutuhan sumber daya manusia di Indonesia yang bisa bersaing dan beradaptasi di masa perkembangan teknologi dan pertumbuhan global dapat diakomodasikan dengan adanya perkembangan sistem pendidikan yang memadai. Potensi-potensi seperti konsep logika, abstrak, dan kreativitas yang dimiliki siswa-siswi di kelas 5 dapat dikembangkan dengan menggunakan metode belajar yang lebih mendorong siswa berperan aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Salah satunya adalah dengan menggunakan metode mind mapping. Dalam pengalaman magang asistensi yang dilakukan oleh mahasiswa di sebuah sekolah, ditemukan bahwa perilaku siswa sekolah dasar akan menjadi lebih dinamis, lebih mudah memahami materi pembelajaran, dan lebih kreatif dalam menyelesaikan masalah setelah menggunakan metode mind mapping dalam proses belajar-belajar yang mereka lakukan. Melihat pentingnya penggunaan mind mapping dan kondisi SD X belum menerapkan metode mind mapping dalam pelaksanaan pembelajaran, maka diperlukan psikoedukasi untuk mengarahkan dan menjelaskan siswa dan guru. PKM dengan psikoedukasi yang dilakukan di SD X berupa knowledge sharing kepada guru dengan siswa-siswi Sekolah Dasar kelas 5 pada hari Jumat, 8 Maret 2024. Knowledge sharing dilakukan berupa ceramah dan praktek pembuatan mind mapping yang dipandu oleh ketua pelaksana sebagai narasumber dalam kegiatan PKM psikoedukasi mind mapping. Setelah pelaksanaan psikoedukasi mengenai mind mapping telah dilakukan, disebarkan pertanyaan evaluasi melalui kuesiober tercetak kepada seluruh siswa-siswi peserta kegiatan di hari tersebut. Hasil evaluasi dari 88 siswa menunjukkan bahwa 23.9% peserta merasa sangat senang dan 26.1% peserta merasa sangat puas dengan kegiatan yang dilakukan
DARI KEBOSANAN JADI KETERGANTUNGAN? STUDI PADA REMAJA PENGGUNA MEDIA SOSIAL Christabella, Wynona; Hastuti, Rahmah
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7731

Abstract

This study aims to examine the relationship between phubbing behavior and boredom proneness among adolescents. Phubbing refers to ignoring social interactions due to excessive focus on smartphone use, while boredom proneness indicates a tendency to feel bored easily. The participants in this study were 419 adolescents aged 14-17 years who actively used social media for at least two hours per day. The sampling technique used was purposive sampling. Data were collected using the Generic Scale of Phubbing (GSP) and the Boredom Proneness Scale-Short Form (BPS-SF). Data analysis was conducted using Spearman’s rho non-parametric correlation due to the non-normal distribution of one variable. The results revealed a significant positive correlation between phubbing behavior and boredom proneness (r = 0.444, p < 0.05), meaning that the higher the level of boredom proneness, the more likely adolescents are to engage in phubbing behavior. These findings highlight the importance of preventive measures, such as digital literacy education and boredom management training, to help adolescents use technology in a more balanced and adaptive way. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara perilaku phubbing dan kecenderungan kebosanan pada remaja. Phubbing adalah perilaku mengabaikan interaksi sosial secara langsung karena terlalu fokus pada penggunaan smartphone, sementara kebosanan (boredom proneness) merujuk pada kecenderungan individu untuk merasa bosan dengan cepat. Partisipan penelitian ini adalah 419 remaja berusia 14-17 tahun yang aktif menggunakan media sosial minimal dua jam per hari. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan Generic Scale of Phubbing (GSP) dan Boredom Proneness Scale-Short Form (BPS-SF). Analisis data dilakukan dengan uji korelasi non-parametrik Spearman’s rho, karena salah satu variabel tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara perilaku phubbing dan kebosanan (r = 0.444, p < 0.05), yang berarti semakin tinggi kecenderungan kebosanan, semakin tinggi pula kecenderungan perilaku phubbing pada remaja. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya upaya pencegahan, seperti edukasi literasi digital dan pelatihan manajemen kebosanan, untuk membantu remaja menggunakan teknologi secara lebih seimbang dan adaptif.
KAITAN PERSEPSI GANGGUAN MENTAL DENGAN STRES AKADEMIK PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA Hastuti, Rahmah; Wahyono, Dhamodhara; Caroline, Gabriella Dinna
Jurnal Psimawa : Diskursus Ilmu Psikologi dan Pendidikan Vol 8 No 2 (2025): EDISI 14
Publisher : Prodi Psikologi- Fakultas Psikologi & Humaniora - Universitas Teknologi Sumbawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36761/jp.v8i2.6861

Abstract

This study investigated the link between the perception of mental disorders and academic stress in 206 Jakarta junior high school students, aged 11–15. Employing a quantitative correlational method, the research found a significant positive relationship between the two variables (rs = 0.543, p < 0.05). Perceptions related to depression, anxiety, and academic pressures like workload and time constraints were all positively correlated with academic stress. Interestingly, female students demonstrated a higher perception of mental disorders than males, though academic stress levels did not differ significantly by gender. However, no significant difference was found in academic stress levels between males and females. These findings underscore the need for targeted interventions. They provide a valuable foundation for mental health practitioners, educators, and parents to develop strategies that mitigate the negative impact of these perceptions on student well-being, thereby supporting adolescent mental health and overall quality of life.
The Relationship between Work Motivation and Psychological Well-Being for Internship Students Nabila Putri Utama; Silviana Silviana; Stefania Morin; Rahmah Hastuti
Journal of Social Science Vol. 5 No. 4 (2024): Journal of Social Science
Publisher : Syntax Corporation Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/jss.v5i4.888

Abstract

This study examines the relationship between work motivation and psychological well-being (PWB) in internship students in Jabodetabek. The Kampus Merdeka policy program provides opportunities for students to develop their skills and work experience. This study aims to identify how work motivation, both intrinsic and extrinsic, affects the psychological well-being of student interns. Using a predictive correlational approach, data were collected through questionnaires measuring the dimensions of work motivation and PWB. The results showed that intrinsic motivation has a significant positive impact on psychological well-being, while excessive extrinsic motivation can have a negative impact. The research emphasizes the importance of creating a supportive work environment to motivate student interns, improve their performance, and prepare them for the transition from academia to the world of work. The researcher obtained 103 respondents from various students in Jabodetabek. universities with 25.2% male and 74.8% female gender. This research data was processed using convenience sampling techniques, using the Multidimensional Work Motivation Scale (MWMS) questionnaire and Psychological Well Being (PWB) distribution of this questionnaire through social media by using google form. The analysis of the data is known through the Kolmogorov Smirnov test obtained a figure of 0.200> 0.05 for both variables, it is concluded that the residual data is normally distributed.
PENGARUH INTERPERSONAL TRUST TERHADAP SELF-DISCLOSURE PADA DEWASA AWAL PENGGUNA SECOND ACCOUNT INSTAGRAM Banun, Jihan Soraya; Hastuti, Rahmah
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.5930

Abstract

The phenomenon of using a second Instagram account among young adults offers a more private and authentic space for expression than a primary account, which often triggers self-disclosure behavior. This study focuses on analyzing the influence of interpersonal trust on the intensity of self-disclosure among users of these second accounts. Through a quantitative approach with a simple linear regression method, data was collected online from 415 young adult participants using the Interpersonal Trust Scale and the Revised Self-Disclosure Scale (RSDS). The research findings indicate that interpersonal trust has a significant positive influence on self-disclosure, with a contribution of 4% (R2 = 0.040). This indicates that the higher an individual's level of trust in others, the greater their motivation to disclose themselves on the second account. It is concluded that although interpersonal trust is not the sole main determinant because the majority of the variance is influenced by other external factors, this variable still plays a crucial role in facilitating individuals' courage to share personal and emotional information in a more controlled digital environment. ABSTRAK Fenomena penggunaan second account Instagram di kalangan dewasa awal menawarkan ruang ekspresi yang lebih privat dan otentik dibandingkan akun utama, yang sering kali memicu perilaku pengungkapan diri (self-disclosure). Penelitian ini berfokus untuk menganalisis pengaruh interpersonal trust terhadap intensitas self-disclosure pada pengguna akun kedua tersebut. Melalui pendekatan kuantitatif dengan metode regresi linear sederhana, data dikumpulkan secara daring dari 415 partisipan dewasa awal menggunakan Skala Interpersonal Trust dan Revised Self-Disclosure Scale (RSDS). Temuan penelitian menunjukkan bahwa interpersonal trust memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap self-disclosure, dengan kontribusi pengaruh sebesar 4% (R2 = 0,040$). Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat kepercayaan individu terhadap orang lain, semakin besar pula dorongan mereka untuk membuka diri di akun kedua. Disimpulkan bahwa meskipun interpersonal trust bukan satu-satunya determinan utama karena mayoritas variansi dipengaruhi faktor eksternal lain, variabel ini tetap memegang peran krusial dalam memfasilitasi keberanian individu untuk berbagi informasi pribadi dan emosional di lingkungan digital yang lebih terkontrol.    
KEKUATAN KEPEDULIAN: DARI TINDAKAN ALTRUISTIK MENUJU PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA RELAWAN DEWASA AWAL Felicia Lie, Audrey; Hastuti, Rahmah
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.8320

Abstract

This study aimed to examine the relationship between altruism and psychological well-being (PWB) among early adult volunteers. Altruism refers to the tendency to help others voluntarily, while PWB includes six core dimensions: self-acceptance, positive relations, autonomy, environmental mastery, purpose in life, and personal growth. A total of 138 volunteers aged 20–40 years from Community X were selected using purposive sampling. Data were collected using the Self-Report Altruism Scale and the Indonesian-adapted version of the Ryff Psychological Well-Being Scale. Spearman's rho correlation was used due to non-normal data distribution. The results showed that most participants had moderate to high levels of altruism and PWB. However, altruism was not significantly associated with overall PWB (r = 0.041; p = 0.635), except for the autonomy dimension, which showed a significant positive correlation (r = 0.192; p = 0.024). These findings suggest that altruistic behavior does not necessarily enhance general psychological well-being but does contribute to a sense of independence in decision-making. This study expands the understanding of the dynamics between volunteering and well-being within a collectivist cultural context. Future research is recommended to explore potential mediators such as empathy and prosocial motivation, as well as to broaden the scope and sectors of volunteer activities. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara altruisme dan psychological well-being (PWB) pada volunteer dewasa awal. Altruisme adalah kecenderungan membantu secara sukarela, sedangkan PWB mencakup enam aspek utama: penerimaan diri, relasi positif, autonomy, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi. Sebanyak 138 volunteer berusia 20–40 tahun dari Komunitas X dipilih menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui Self-Report Altruism Scale dan Ryff Psychological Well-Being Scale versi Indonesia. Analisis Spearman's rho digunakan karena data tidak berdistribusi normal. Hasil menunjukkan sebagian besar partisipan memiliki tingkat altruisme dan PWB sedang hingga tinggi. Namun, altruisme tidak berhubungan signifikan dengan PWB secara keseluruhan (r = 0,041; p = 0,635), kecuali pada dimensi autonomy yang menunjukkan hubungan positif signifikan (r = 0,192; p = 0,024). Temuan ini mengindikasikan bahwa perilaku altruistik tidak serta merta meningkatkan kesejahteraan psikologis secara umum, tetapi berkontribusi pada aspek kemandirian dalam pengambilan keputusan. Studi ini memperluas pemahaman mengenai dinamika volunteering dan kesejahteraan dalam konteks budaya kolektivis. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengeksplorasi peran mediator seperti empati, motivasi prososial, serta memperluas konteks dan sektor kegiatan kerelawanan.
GAMBARAN KESEPIAN PADA DEWASA AWAL PENGGUNA MEDIA SOSIAL Muliani, Agnes; Hastuti, Rahmah
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8337

Abstract

Loneliness is a subjective emotional experience commonly encountered during early adulthood, particularly amid the increasing use of social media as a means of social interaction. This study aims to describe the level of loneliness among early adult social media users. A quantitative approach with a descriptive cross-sectional design was employed. The participants consisted of 391 early adults aged 18–23 years who actively used social media for more than three hours per day, selected through purposive sampling. Data were collected online using the UCLA Loneliness Scale version 3, which has demonstrated good validity and reliability, and were analyzed descriptively. The results showed that the majority of participants experienced moderate loneliness (76.0%), followed by high loneliness (13.9%) and low loneliness (12.1%). Furthermore, no significant differences in loneliness levels were found based on gender, age, participant status, duration of social media use, or the type of social media platform used. These findings indicate that loneliness in early adulthood is a subjective psychological experience that is relatively evenly distributed among social media users, highlighting the importance of fulfilling emotional needs and the quality of social relationships during this developmental stage. ABSTRAK Kesepian merupakan pengalaman emosional subjektif yang umum dialami individu pada fase dewasa awal, khususnya di tengah meningkatnya penggunaan media sosial sebagai sarana interaksi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat kesepian pada individu dewasa awal pengguna media sosial. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif cross-sectional. Partisipan berjumlah 391 individu dewasa awal berusia 18–23 tahun yang aktif menggunakan media sosial lebih dari tiga jam per hari, dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan secara daring dengan menggunakan UCLA Loneliness Scale versi 3 yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas partisipan berada pada kategori kesepian sedang (76,0%), diikuti kategori kesepian tinggi (13,9%) dan kesepian rendah (12,1%). Selain itu, tidak ditemukan perbedaan tingkat kesepian yang signifikan berdasarkan jenis kelamin, usia, status partisipan, durasi penggunaan, maupun platform media sosial yang digunakan. Temuan ini menunjukkan bahwa kesepian pada dewasa awal merupakan pengalaman psikologis yang bersifat subjektif dan relatif merata di kalangan pengguna media sosial, sehingga pemenuhan kualitas hubungan sosial tetap menjadi aspek penting dalam fase perkembangan ini.
Co-Authors Adrianne Taskia, Frizka Aldi Erawan Alyshia, Deandra Nur Andri Setia Dharma Ardaffa Azra Kalandoro Audrey Felicia Lie Aulia Kirana Aurora, Amelia Banun, Jihan Soraya Carla Eureka Caroline, Gabriella Dinna Cayla Aulia Chairunissa, Jesenia Christabella, Wynona Cindy Angelia Clearesta Averillia Dede Kristin Dinanti, Rizka Elena Susanto, Jessica Elvin Ersa Sanfriska Felicia Lie, Audrey Fernando Romero Surjo Ghaisani, Kayla Rossita Ginta, Maria Charisse Audrey Hani Rahmawati Johan Heiskel Patuan Abram Pane Henjelita Reynadi Indriani, Chelsea Intan Dina Sari Irene Hilary Manurung JAMIL, AZIZAH NURUL Jeniffer Davina Jessica Elena Susanto Jessica Jessica Jihan Soraya Banun Joselyn Tiofanny Justin Imannuel Kayla Rossita Ghaisani Larasati, Ajeng Meilyana Latifa Rahmanita Manurung, Irene Hilary Marcia Vinly Calysta Nguru Marsyanda Matthews, Abraham Melia Afriani Meysun Salma Mia Anggraeni Michelle Tirtabudi Morin, Stefania Muliani, Agnes N, Billy Nabila Putri Utama Naomi Soetikno Naomi Soetikno, Naomi Nico Saputra P, Ilham Ramadhan Pamela Hendra Heng Priscillia Angelica Gunawan Puspita Zahra Arimurti Reynathal Beatrix Riana Sahrani Riana Sahrani Salma, Meysun SARI, INTAN DINA SASONGKO, SHABRINA NUR AULIA Sherly Agustina, Sherly Shijistaniah Shinta Vionita Sholihah, Dinda Nabila Silviana Silviana Silviana Silviana Skolastika Osei Sri Tiatri Stefania Morin Sudrajat, Ellena Kristy Sufarita Sufarita Surjo, Fernando Romero Suzanna Juwita Suzanna Juwita, Suzanna Tiatri, Sri Tiofanny, Joselyn TIRTABUDI, MICHELLE Tyara Putri Sentosa Utama, Nabila Putri Vallerina Suwandy Vinny Angelina Vira Diar Rahmasar Wahyono, Dhamodhara Wijayanto, Muhammad Rafi Wimphy David Parsaulian Siregar Winy Nila Wisudawati Yogaswara, Almas Mushad Yohanes Budiarto YUDHA, IDHZHA WIRA Zahra, Shalika Fatimah