Claim Missing Document
Check
Articles

Kaitan antara Impostor Phenomenon dan Self-Esteem di Kalangan Mahasiswa Ginta, Maria Charisse Audrey; Hastuti, Rahmah
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mahasiswa seringkali menghadapi tekanan dalam mencapai prestasi akademik yang baik, hal ini seharusnya membuat mereka merasa lebih baik tentang diri mereka sendiri dan berdampak positif. Namun, bagi sebagian mahasiswa, prestasi tersebut menimbulkan perasaan tidak layak dan keraguan atas kemampuan mereka. Fenomena ini dikenal sebagai impostor phenomenon, yaitu suatu kondisi psikologis di mana individu meyakini bahwa keberhasilan yang mereka capai disebabkan oleh keberuntungan semata, bukan karena kompetensi atau kemampuan yang dimiliki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara impostor phenomenon dengan self-esteem pada mahasiswa. Penelitian ini menerapkan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional untuk menganalisis hubungan antara kedua variabel tersebut. Sebanyak 275 mahasiswa berusia 18-25 tahun berpartisipasi dalam penelitian ini, dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui Clance Impostor Phenomenon Scale (CIPS) yang dikembangkan oleh Clance (1985) yang terdiri dari 20 item, dan Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) oleh Rosenberg (1979) yang terdiri dari 10 item. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan negatif antara impostor phenomenon dengan self-esteem. Uji korelasi Spearman menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0.001 (p < 0.05) dengan koefisien korelasi (r) sebesar -.485, yang menunjukkan ketika impostor phenomenon meningkat, maka self-esteem akan mengalami penurunan, sebaliknya ketika impostor phenomenon menurun, maka self-esteem akan meningkat. Studi ini menunjukkan pentingnya mahasiswa dalam memahami dan mengenali impostor phenomenon dalam diri mereka.
Hubungan Kecerdasan Emosional Dengan Perilaku Altruistic Pada Gen Z Yang Donor Darah Matthews, Abraham; Hastuti, Rahmah
Action Research Literate Vol. 9 No. 2 (2025): Action Research Literate
Publisher : Ridwan Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/arl.v9i2.2808

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara kecerdasan emosional dan perilaku altruistik pada Generasi Z yang telah mendonorkan darah di Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Kecerdasan emosional, yang mencakup kemampuan untuk mengenali, memahami, dan mengelola emosi diri sendiri dan orang lain, dianggap sebagai faktor penting dalam memotivasi perilaku altruistik. Perilaku altruistik didefinisikan sebagai tindakan prososial tanpa mengharapkan imbalan, seperti donor darah, yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan orang lain. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Sampel penelitian terdiri dari 176 responden berusia 22–27 tahun yang telah mendonorkan darah. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner berbasis Wong and Law Emotional Intelligence Scale (WLEIS) untuk mengukur kecerdasan emosional, dan Self-Report Altruism Scale (SRA) untuk mengukur perilaku altruistik. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi untuk mengidentifikasi hubungan antara kedua variabel. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara kecerdasan emosional dan perilaku altruistik. Dimensi kecerdasan emosional, seperti kemampuan mengatur emosi dan penilaian emosional diri, memberikan kontribusi signifikan terhadap tindakan altruistik pada responden. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dalam bidang psikologi sosial serta kontribusi praktis sebagai panduan untuk pengembangan program kesadaran sosial di kalangan Generasi Z.
HUBUNGAN GRIT DAN EMPATI PADA SISWA SMA Aldi Erawan; Rahmah Hastuti
Journal of Social and Economics Research Vol 5 No 2 (2023): JSER, December 2023
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v5i2.214

Abstract

Pendidikan mempunyai peran penting dalam perkembangan siswa, khususnya pendidikan pada tingkat sekolah menengah atas (SMA). Untuk mencapai prestasi akademik dan juga pengembangan sosial dan emosional, khususnya pada siswa SMA peneliti tertarik untuk memasukan dua konsep penting yakni grit dan empati. Grit merupakan kombinasi antara ketekunan, semangat, dan tekad untuk mencapai tujuan jangka panjang. Siswa yang memiliki grit tinggi diyakini lebih mampu mengatasi tantangan akademis, menjaga motivasi, dan bertahan dalam menghadapi hambatan. Di sisi lain kemampuan untuk mengalami dan memahami sudut pandang emosional orang lain dikenal sebagai empati. Dalam konteks pendidikan, tingkat empati siswa dapat mempengaruhi dinamika kelas, hubungan antar-siswa, dan kesejahteraan psikososial secara keseluruhan. Namun, belum jelas sejauh mana grit dapat memengaruhi aspek-aspek emosional, seperti tingkat empati, pada siswa SMA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara grit dan empati pada siswa SMA. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan analisis korelasi Spearman. Hasil analisis menghasilkan nilai r (286) = 0.137 dan p = 0.022 < 0.05. Hasil penelitian ini dapt disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara grit dan empati pada siswa SMA disekolah x. Hubungan yang positif ini menandakan semakin tinggi grit pada siswa SMA, maka semakin tinggi juga rasa empati yang dimiliki SMA. Demikian sebaliknya semakin rendah grit pada siswa SMA, maka semakin rendah juga rasa empati yang dimiliki siswa SMA. Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pendekatan pembelajaran, pengembangan karakter siswa, dan merancang program khusus. Selain itu, hasil penelitian ini mendukung penyusunan kebijakan pendidikan holistik dan pembinaan kepemimpinan siswa untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.
HUBUNGAN SENSE OF SCHOOL BELONGING DAN KEBAHAGIAAN PADA SISWA SMA Marsyanda; Rahmah Hastuti
Journal of Social and Economics Research Vol 5 No 2 (2023): JSER, December 2023
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v5i2.230

Abstract

Rasa memiliki di sekolah dapat diartikan sebagai perasaan diterima, dihargai, dan didukung oleh teman sebaya dan guru. Salah satu hal yang berkaitan dengan rasa memiliki di sekolah, yaitu kebahagiaan. Siswa dengan sense of school belonging dan kebahagiaan yang tinggi, akan menunjukkan prestasi akademik yang baik dan banyak terlibat dalam kegiatan-kegiatan di sekolah. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara sense of school belonging dan kebahagiaan pada siswa SMA. Alat ukur penelitian ini menggunakan Psychological Sense of School Membership (PSSM) yang dikembangkan oleh Goodenow (1993) dan juga Oxford Happiness Scale yang dikembangkan oleh Peter dan Michael (2002). Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri X yang berlokasi di Kota Tangerang Selatan dengan jumlah partisipan sebanyak 228. Penelitian ini menunjukkan bahwa adanya hubungan positif signifikan antara sense of school belonging dan kebahagiaan.
HUBUNGAN WORK LIFE BALANCE TERHADAP PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA MAHASISWA YANG MELAKUKAN MBKM Intan Dina Sari; Michelle Tirtabudi; Fernando Romero Surjo; Rahmah Hastuti
Journal of Social and Economics Research Vol 6 No 1 (2024): JSER, June 2024
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v6i1.447

Abstract

Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia bertujuan untuk memberikan kebebasan belajar kepada mahasiswa, memungkinkan mereka untuk memperoleh pengalaman belajar yang lebih fleksibel dan beragam. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara Work Life Balance (WLB) dan kesejahteraan psikologis (psychological well-being) pada mahasiswa yang mengikuti program MBKM. Penelitian ini melibatkan 152 mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia yang telah mengikuti program MBKM. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang terdiri dari skala WLB dan skala psychological well-being, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan positif yang signifikan antara WLB dan kesejahteraan psikologis dengan nilai korelasi Pearson sebesar 0.788 (p < 0.01). Temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa yang mampu mencapai keseimbangan antara kehidupan akademik, pribadi, dan profesional cenderung memiliki kesejahteraan psikologis yang lebih baik. Penelitian ini menyoroti pentingnya dukungan dari institusi pendidikan dalam membantu mahasiswa mengelola WLB mereka, serta pentingnya memberikan pemahaman dan pelatihan kepada mahasiswa tentang pentingnya WLB.
PELATIHAN SELF-REGULATED LEARNING PADA SANTRI DI PESANTREN X TANGERANG Wijayanto, Muhammad Rafi; Hastuti, Rahmah
Jurnal Serina Abdimas Vol 1 No 2 (2023): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v1i2.26109

Abstract

Pesantren is educational institutions that focus on islamic religious knowledge. Compared to most educational institutions, pesantren implement dormitory systems that requires santri to stay until the end of all learning activities. Pesantren X is a boarding school that adapts its learning system to the current technological advances so that formal education is implemented side by side with islamic religious education. The merger between the two curricula has an impact on the tight schedule of santri learning activities. This Islamic boarding school emphasizes the learning process on memorizing Al-Qur’an, where everyday santri are required to memorize according to predetermined targets. In addition, santri are also required to have good grades in the lessons listed in the curriculum used by this pesantren. One of the main problems with santri is that they use their free time to play and not use it for working on assignments. Often, santri work on assignments while learning in class is in progress. This causes the assignments given by the teacher are often late to be collected. Therefore, self-regulated learning training is needed so that santri able to plan and carry out self-monitoring of the tasks that must be completed. Self-regulated learning training is carried out attractively in a period of 1 day. This activity consists of presentation of material, discussion, and practice of making task planning sheets. This training activity involved 37 male santri who were at the 1st grade level of junior high school. Overall, santri benefit from the activities carried out. Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang berfokus pada ilmu agama islam. Berbeda dengan sistem pendidikan pada umumnya, pesantren menerapkan sistem asrama yang mewajibkan santri untuk menetap sampai berakhirnya seluruh kegiatan pembelajaran. Pesantren X merupakan pesantren yang menyesuaikan sistem pembelajarannya dengan perkembangan zaman dan teknologi, sehingga pendidikan formal diterapkan secara berdampingan dengan pendidikan agama islam. Adanya penggabungan antara kedua kurikulum tersebut, berdampak pada padatnya jadwal kegiatan belajar santri. Pesantren ini menekankan proses pembelajarannya pada hafalan Al-Qur’an, di mana setiap harinya santri diharuskan untuk menghafal sesuai dengan sasaran yang telah ditentukan. Selain itu, santri juga dituntut untuk memiliki nilai yang baik dalam pelajaran yang tercantum pada kurikulum yang digunakan oleh pesantren ini. Salah satu masalah utama yang seringkali terjadi pada santri adalah mereka menggunakan waktu luang untuk bermain dan tidak menggunakannya untuk mengerjakan tugas. Seringkali, santri mengerjakan tugas-tugas pada saat pembelajaran di kelas sedang berlangsung. Hal ini mengakibatkan tugas-tugas yang diberikan guru seringkali telat untuk dikumpulkan. Oleh karena itu, dibutuhkanlah pelatihan self-regulated learning agar santri mampu merencanakan dan melakukan pemantauan diri terhadap tugas-tugas yang wajib untuk diselesaikan. Pelatihan self-regulated learning dilaksanakan secara tatap muka dalam kurun waktu selama 1 hari. Kegiatan ini terdiri dari presentasi materi, diskusi tanya jawab, dan latihan membuat lembar perencanaan tugas. Kegiatan pelatihan ini melibatkan 37 santri laki-laki yang berada pada tingkatan kelas 1 SMP. Secara keseluruhan, santri mendapatkan manfaat dari kegiatan yang dilakukan.
PSIKOEDUKASI MENGEMBANGKAN KETERLIBATAN SISWA DALAM PROSES PEMBELAJARAN DI SEKOLAH Rahmah Hastuti; Puspita Zahra Arimurti; Ardaffa Azra Kalandoro
Jurnal Serina Abdimas Vol 1 No 3 (2023): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v1i3.26178

Abstract

Student engagement (keterlibatan siswa) merupakan upaya yang didapatkan oleh siswa dari proses kegiatan belajar berdasarkan capaian yang diharapkan oleh sekolah untuk mendukung siswa dapat berperan serta dalam kegiatan di sekolah. Kondisi siswa yang telah melalui tahap penyesuaian dari masa pandemi yang menerapkan sistem pembelajaran dari rumah, kemudian dapat kembali melakukan kegiatan dan pembelajaran dari sekolah. Penyesuaian dari kondisi tersebut menciptakan suasana baru dalam kehidupan siswa di sekolah. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (Abdimas) bertujuan agar para siswa dapat berbagi informasi dan pengetahuan mengenai topik yang lekat dengan kehidupannya, yaitu terkait student engagement. Pada kegiatan Abdimas ini digunakan pengukuran mengenai student engagement dalam bentuk skala psikologi. Abdimas ini menjaring 95 partisipan, yaitu siswa dengan rentang usia 14 sampai dengan 16 tahun. Pengambilan data dilakukan di SMP Swasta X Kota Bekasi pada bulan Maret 2023 melalui kuesioner tercetak. Alat ukur yang digunakan, yaitu Student Engagement in School-Four-Dimensional Scale (SES-4DS) yang dikembangkan oleh Lam et al. (2014). Berdasarkan perolehan data yang telah dilakukan terdapat persepsi mengenai keterlibatan siswa dengan menggunakan metode deskriptif. Sehingga, diperoleh hasil bahwa persepsi siswa mengenai keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran di sekolah cenderung sedang. Hasil perolehan yang didapatkan menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan berdasarkan data demografis seperti jenis kelamin, usia, urutan kelahiran, dan status orangtua. Hasil Abdimas ini dapat disimpulkan bahwa mean empirik memiliki hasil mean yang lebih tinggi daripada mean hipotetik. Seluruh peserta dalam kegiatan Abdimas merasakan manfaat dari kegiatan dan memberikan feedback positif.
PSIKOEDUKASI UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN Heng, Pamela Hendra; Hastuti, Rahmah; Dinanti, Rizka; P, Ilham Ramadhan; N, Billy
Jurnal Serina Abdimas Vol 1 No 4 (2023): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v1i4.28334

Abstract

Adolescence is a transitional period from child to adult, this period will experience physical changes, cognitive development, and psychosocial development. The development of becoming an adult during the school period, what is often problematic is learning motivation because it is still unclear from the interests of each student's talent. Community service activities (PKM) are carried out with psychoeducation conducted to educate students about learning motivation and talent interests. PKM was conducted at one of the X private vocational schools in the West Jakarta area. The activity was carried out on grade 10 students with a total of 51 participants but who provided a written response of 50 people, namely 30 boys and 20 girls, with 2 majors namely Business Service Office Management (MPLB) and Visual Communication Design (DKV). Participants ranged in age from less than 16 years old to 18 years old. Students generally come from families whose parents have a high school education and earn around the Regional Minimum Wage (UMR). From the school community service activities, participants felt enthusiastic when drawing a bridge of dreams and playing games sessions and listening to the success stories of a doctor and a pedicab driver's son who managed to study abroad. Masa remaja adalah masa peralihan dari anak anak menjadi dewasa, periode ini akan mengalami perubahan fisik, perkembangan kognitif, dan perkembangan psikososial. Perkembangan menjadi dewasa saat masa sekolah hal yang sering bermasalah adalah motivasi belajar karena masih kurang jelas dari minat bakat masing masing siswa. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) dilaksanakan dengan psikoedukasi yang dilakukan untuk mendidik siswa mengenai motivasi belajar dan bakat minat. PKM dilakukan di salah satu SMK swasta X di wilayah Jakarta Barat. Kegiatan dilakukan pada siswa kelas 10 dengan jumlah peserta 51 orang tetapi yang memberikan respons tertulis sebanyak 50 orang, yakni 30 laki-laki dan 20 perempuan, dengan 2 jurusan yaitu Manajemen Perkantoran Layanan Bisnis (MPLB) dan Desain Komunikasi Visual (DKV). Partisipan berusia mulai dari kurang dari 16 tahun hingga 18 tahun. Siswa umumnya berasal dari keluarga yang orang tuanya memiliki pendidikan SMA dan berpenghasilan sekitar Upah Minimum Regional (UMR). Dari kegiatan PKM, peserta merasakan antusias pada saat menggambar jembatan cita cita dan sesi bermain games dan mendengarkan cerita sukses seorang dokter dan seorang anak tukang becak yang sampai berhasil kuliah sampai ke luar negeri.
PSIKOEDUKASI DENGAN MIND MAP UNTUK MENUNJANG PERKEMBANGAN KREATIVITAS SISWA SEKOLAH DASAR Hastuti, Rahmah; Tiofanny, Joselyn; Indriani, Chelsea
Jurnal Serina Abdimas Vol 2 No 3 (2024): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v2i3.32047

Abstract

The need for human resources in Indonesia that can compete and adapt in times of technological development and global growth can be accommodated with the development of an adequate education system. Potentials such as logic, abstract concepts, and creativity possessed by students in grades 5 and 6 can be developed by using learning methods that encourage students to play an active role in teaching and learning activities. One of them is by using the mind mapping method. In the experience of internship assistance conducted by students in a school, it was found that the behavior of elementary school students would become more dynamic, easier to understand learning materials, and more creative in solving problems after using the mind mapping method in their learning process. Seeing the importance of using mind mapping and the condition that SD X has not implemented the mind mapping method in the implementation of learning, psychoeducation is needed to direct and explain to students and teachers. PKM with psychoeducation conducted at SD X in the form of knowledge sharing to teachers with 5th and 6th grade elementary school students on Friday, March 8, 2024. Knowledge sharing is carried out in the form of lectures and mind mapping practices guided by the chief executive as a resource person in mind mapping psychoeducation activities. After the implementation of psychoeducation about mind mapping has been carried out, a question form paper and pencil is distributed to all students participating in activities on that day. Evaluation results from 88 students showed that 23.9% of participants felt very happy and 26.1% of participants felt very satisfied with the activities. ABSTRAK Kebutuhan sumber daya manusia di Indonesia yang bisa bersaing dan beradaptasi di masa perkembangan teknologi dan pertumbuhan global dapat diakomodasikan dengan adanya perkembangan sistem pendidikan yang memadai. Potensi-potensi seperti konsep logika, abstrak, dan kreativitas yang dimiliki siswa-siswi di kelas 5 dapat dikembangkan dengan menggunakan metode belajar yang lebih mendorong siswa berperan aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Salah satunya adalah dengan menggunakan metode mind mapping. Dalam pengalaman magang asistensi yang dilakukan oleh mahasiswa di sebuah sekolah, ditemukan bahwa perilaku siswa sekolah dasar akan menjadi lebih dinamis, lebih mudah memahami materi pembelajaran, dan lebih kreatif dalam menyelesaikan masalah setelah menggunakan metode mind mapping dalam proses belajar-belajar yang mereka lakukan. Melihat pentingnya penggunaan mind mapping dan kondisi SD X belum menerapkan metode mind mapping dalam pelaksanaan pembelajaran, maka diperlukan psikoedukasi untuk mengarahkan dan menjelaskan siswa dan guru. PKM dengan psikoedukasi yang dilakukan di SD X berupa knowledge sharing kepada guru dengan siswa-siswi Sekolah Dasar kelas 5 pada hari Jumat, 8 Maret 2024. Knowledge sharing dilakukan berupa ceramah dan praktek pembuatan mind mapping yang dipandu oleh ketua pelaksana sebagai narasumber dalam kegiatan PKM psikoedukasi mind mapping. Setelah pelaksanaan psikoedukasi mengenai mind mapping telah dilakukan, disebarkan pertanyaan evaluasi melalui kuesiober tercetak kepada seluruh siswa-siswi peserta kegiatan di hari tersebut. Hasil evaluasi dari 88 siswa menunjukkan bahwa 23.9% peserta merasa sangat senang dan 26.1% peserta merasa sangat puas dengan kegiatan yang dilakukan
DARI KEBOSANAN JADI KETERGANTUNGAN? STUDI PADA REMAJA PENGGUNA MEDIA SOSIAL Christabella, Wynona; Hastuti, Rahmah
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7731

Abstract

This study aims to examine the relationship between phubbing behavior and boredom proneness among adolescents. Phubbing refers to ignoring social interactions due to excessive focus on smartphone use, while boredom proneness indicates a tendency to feel bored easily. The participants in this study were 419 adolescents aged 14-17 years who actively used social media for at least two hours per day. The sampling technique used was purposive sampling. Data were collected using the Generic Scale of Phubbing (GSP) and the Boredom Proneness Scale-Short Form (BPS-SF). Data analysis was conducted using Spearman’s rho non-parametric correlation due to the non-normal distribution of one variable. The results revealed a significant positive correlation between phubbing behavior and boredom proneness (r = 0.444, p < 0.05), meaning that the higher the level of boredom proneness, the more likely adolescents are to engage in phubbing behavior. These findings highlight the importance of preventive measures, such as digital literacy education and boredom management training, to help adolescents use technology in a more balanced and adaptive way. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara perilaku phubbing dan kecenderungan kebosanan pada remaja. Phubbing adalah perilaku mengabaikan interaksi sosial secara langsung karena terlalu fokus pada penggunaan smartphone, sementara kebosanan (boredom proneness) merujuk pada kecenderungan individu untuk merasa bosan dengan cepat. Partisipan penelitian ini adalah 419 remaja berusia 14-17 tahun yang aktif menggunakan media sosial minimal dua jam per hari. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan Generic Scale of Phubbing (GSP) dan Boredom Proneness Scale-Short Form (BPS-SF). Analisis data dilakukan dengan uji korelasi non-parametrik Spearman’s rho, karena salah satu variabel tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara perilaku phubbing dan kebosanan (r = 0.444, p < 0.05), yang berarti semakin tinggi kecenderungan kebosanan, semakin tinggi pula kecenderungan perilaku phubbing pada remaja. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya upaya pencegahan, seperti edukasi literasi digital dan pelatihan manajemen kebosanan, untuk membantu remaja menggunakan teknologi secara lebih seimbang dan adaptif.
Co-Authors Adithya, Alfian Ricko Adrianne Taskia, Frizka Afsyari, Belva Aldi Erawan Alyshia, Deandra Nur Andri Setia Dharma Ardaffa Azra Kalandoro Aulia Kirana Aurora, Amelia Banun, Jihan Soraya Carla Eureka Caroline, Gabriella Dinna Chairunissa, Jesenia Christabella, Wynona Clarisa Virginia Dinanti, Rizka Elena Susanto, Jessica Ersa Sanfriska Felicia Lie, Audrey Fernando Romero Surjo Ghaisani, Kayla Rossita Ginta, Maria Charisse Audrey Indriani, Chelsea Intan Dina Sari Irene Hilary Manurung JAMIL, AZIZAH NURUL Jessica Jessica Jesusia, Graciela Joselyn Tiofanny Kayla Rossita Ghaisani Kristin, Dede Larasati, Ajeng Meilyana Latifa Rahmanita Manurung, Irene Hilary Marsyanda Matthews, Abraham Melia Afriani Meysun Salma Mia Anggraeni Michelle Tirtabudi Morin, Stefania Muliani, Agnes N, Billy Nabila Putri Utama Naomi Soetikno Naomi Soetikno, Naomi Ni'mah, Najwa Ully Nico Saputra P, Ilham Ramadhan Pamela Hendra Heng Parsama, Cokorda Istri Agung Mesha Saraswati Priscillia Angelica Gunawan Puspita Zahra Arimurti Reynathal Beatrix Riana Sahrani Riana Sahrani Salma, Meysun SARI, INTAN DINA SASONGKO, SHABRINA NUR AULIA Sherly Agustina, Sherly Shijistaniah Shinta Vionita Sholihah, Dinda Nabila Silviana Silviana Silviana Silviana Sri Tiatri Sri Tiatri Stefania Morin Sudrajat, Ellena Kristy Sufarita Sufarita Surjo, Fernando Romero Suzanna Juwita Suzanna Juwita, Suzanna Tiofanny, Joselyn TIRTABUDI, MICHELLE Utama, Nabila Putri Vinny Angelina Vira Diar Rahmasar Wahyono, Dhamodhara Wijayanto, Muhammad Rafi Winy Nila Wisudawati Yogaswara, Almas Mushad Yohanes Budiarto YUDHA, IDHZHA WIRA Zahra, Shalika Fatimah