Claim Missing Document
Check
Articles

KETERLIBATAN AYAH DAN KAITANNYA DENGAN EMOTIONAL WELL-BEING PADA REMAJA AKHIR SILVIANA, SILVIANA; HASTUTI, RAHMAH
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.3805

Abstract

This study aims to determine the relationship between father involvement and emotional well-being in late adolescents. Emotional well-being is a psychological condition that plays an important role for individuals, especially in late adolescents. Individuals with positive emotional well-being will be more capable of experiencing life satisfaction, conversely, if emotional well-being is low, their lives will be dominated by feelings of dissatisfaction. The participants in this study are late adolescents aged 18-24 years. The sampling technique used in this research the non-probability purposive sampling technique, with a total of 305 participants in this study. The measurement tool used for the father involvement variable is the Perception of Father’s Involvement (PFI), while the measurement tool for the Emotional well-being variable is the Positive and Negative Affect Schedule. (PANAS-SF). The correlation analysis in this study used Spearman's non-parametric correlation, and the results showed a significant positive relationship between father involvement and emotional well-being among late adolescents. (r = 0.429, p 0.000<0.05). This indicates that the higher the father involvement, the higher the emotional well-being. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara keterlibatan ayah dengan kesejahteraan emosional pada remaja akhir. Emotional well-being merupakan kondisi psikologis yang berperan penting bagi individu khususnya pada remaja akhir. Individu dengan Emotional well-being yang positif akan lebih mampu merasakan kepuasan hidupnya, begitupun sebaliknya jika Emotional well-being rendah maka hidupnya akan didominasi oleh rasa ketidakpuasan. Partisipan penelitian ini adalah remaja akhir berusia 18-24 tahun. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yakni teknik non-probability purposive sampling, total partisipan pada penelitian ini berjumlah 305. Alat ukur yang digunakan untuk variabel Father Involvement adalah Perception of Father’s Involvement (PFI), sedangkan pada variabel Emotional well-being adalah Positive and Negative Affect Schedule (PANAS-SF). Analisis korelasi pada penelitian ini menggunakan korelasi non-parametic Spearman hasil menunjukkan bahwa adanya hubungan positif yang signifikan antara keterlibatan ayah dengan kesejahteraan emosional pada remaja akhir. (r = 0.429, p 0.000<0.05) Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi keterlibatan ayah maka Emotional well-being juga akan tinggi.
GAMBARAN COLLEGE ADJUSTMENT PADA MAHASISWA: STUDI DESKRIPTIF DI PERGURUAN TINGGI YANG MENERAPKAN HYBRID LEARNING SASONGKO, SHABRINA NUR AULIA; HASTUTI, RAHMAH
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4174

Abstract

This study aims to describe the college student adjustment in the context of hybrid learning in higher education. Hybrid learning combines face-to-face and online learning, adaptation challenges for students, particularly after the COVID-19 pandemic. The study employs a qualitative descriptive method with purposive sampling, involving 125 students from various cohorts at a university in West Jakarta. Data analysis was conducted using MAXQDA 2020 software to explore four aspects of adjustment: academic adjustment, social adjustment, personal-emotional adjustment, and goal commitment-institutional attachment. The findings reveal that hybrid learning positively impacts students' learning motivation and social interactions but also presents challenges such as boredom, stress, and time management difficulties. This research provides valuable insights into factors influencing student adjustment in a hybrid learning system. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran college student adjustment (penyesuaian diri mahasiswa) dalam proses pembelajaran hybrid learning di perguruan tinggi. Hybrid learning menggabungkan pembelajaran tatap muka dan daring, memberikan tantangan adaptasi bagi mahasiswa, terutama setelah pandemi coronavirus disease (covid-19). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan purposive sampling, melibatkan 125 mahasiswa dari berbagai angkatan di salah satu Universitas di Jakarta Barat. Analisis data dilakukan menggunakan software MAXQDA 2020 dan mengidentifikasi empat aspek penyesuaian diri sebagai temuan penelitian yaitu: penyesuaian akademik, penyesuaian sosial, penyesuaian personal emosional, dan kelekatan terhadap universitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hybrid learning memiliki dampak positif terhadap motivasi belajar dan interaksi sosial mahasiswa, namun juga memunculkan tantangan berupa kebosanan, stres, dan kesulitan dalam mengatur waktu dalam penerapan sistem hybrid learning.
GAMBARAN PENGGUNAAN ABUSIVE LANGUAGE DAN HATE SPEECH PADA SISWA SEKOLAH DASAR YANG DITIRUKAN DARI MEDIA SOSIAL JAMIL, AZIZAH NURUL; HASTUTI, RAHMAH
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4176

Abstract

The use of abusive language and hate speech among elementary school students is influenced by the widespread presence of social media. Social media, as a source of information and entertainment, has become an inseparable part of children’s lives, but also brings negative impacts, including the imitation of abusive language and hate speech. This research aims to describe the use of abusive language and hate speech by elementary school students who are influenced by the rise of social media. Social media as a source of information and entertainment has become an inseparable part of children's lives, but it also has negative impacts, including imitation of harsh language and hate speech. This research uses a qualitative approach with a case study method. Data was collected through in-depth interviews, observations, and content analysis of student interactions, both directly in the school environment and on social media platforms. The research results show that elementary school students tend to imitate abusive language and hate speech they encounter on social media without fully understanding its meaning and impact. The main factors that influence this behavior include the duration of social media use, lack of supervision from parents, and minimal understanding of digital communication ethics. The impact of using this language can be seen in disrupting social relationships between students, increasing verbal conflicts, and decreasing politeness values ??in daily interactions. This research recommends increasing supervision of elementary school children in their use of social media. The role of parents and educators is the most important thing in providing their students with an understanding of how to wisely use social media to prevent behavior that imitates negative language from social media. Apart from that, strengthening regulations regarding social media access for children needs to be done. ABSTRAKPenggunaan abusive language dan hate speech oleh siswa sekolah dasar dipengaruhi oleh maraknya media sosial. Media sosial sebagai salah satu sumber informasi dan hiburan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak, tetapi juga membawa dampak negatif, termasuk peniruan bahasa kasar dan ujaran kebencian. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran penggunaan abusive language dan hate speech oleh siswa sekolah dasar yang dipengaruhi oleh maraknya media sosial. Media sosial sebagai salah satu sumber informasi dan hiburan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak, tetapi juga membawa dampak negatif, termasuk peniruan bahasa kasar dan ujaran kebencian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan analisis konten dari interaksi siswa, baik secara langsung di lingkungan sekolah maupun di platform media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa sekolah dasar cenderung menirukan abusive language dan hate speech yang mereka temui di media sosial tanpa memahami sepenuhnya makna dan dampaknya. Faktor utama yang memengaruhi perilaku ini meliputi durasi penggunaan media sosial, kurangnya pengawasan dari orang tua, dan minimnya pemahaman tentang etika komunikasi digital. Dampak penggunaan bahasa tersebut terlihat pada terganggunya hubungan sosial antar siswa, meningkatnya konflik verbal, serta penurunan nilai-nilai kesopanan dalam interaksi sehari-hari. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan pengawasan terhadap anak-anak sekolah dasar dalam penggunaan media sosial. Peran orang tua dan para pendidik menjadi hal yang paling penting dalam memberikan pemahaman terhadap anak didiknya tentang cara bijak menggunakan media sosial guna mencegah perilaku meniru bahasa negatif dari media sosial. Selain itu penguatan regulasi terkait akses media sosial untuk anak-anak perlu dilakukan.
PENGARUH KETERLIBATAN AYAH DENGAN REGULASI EMOSI GEN Z Banun, Jihan Soraya; Aurora, Amelia; Larasati, Ajeng Meilyana; Manurung, Irene Hilary; Hastuti, Rahmah
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.5321

Abstract

This study aims to examine the influence of father involvement on emotion regulation abilities in Generation Z individuals who live in Jakarta. Generation Z, which is developing in the digital era with complex social and emotional challenges, requires an active role of the family, especially the father figure in the formation of adaptive emotion regulation strategies. This study used a non-experimental quantitative approach with correlational methods. The sample consisted of 140 individuals aged 17 to 25 years, selected using a combination of criterion sampling, convenience sampling, and snowball sampling techniques. The instruments used included the Father Involvement Scale (FIS) and the Indonesian version of the Emotion Regulation Questionnaire (ERQ), which have been tested for validity and reliability. Simple regression analysis showed that father involvement has a significant effect on emotion regulation in Generation Z, with a contribution of 63.9%. This result confirms that the higher the father's involvement, the better the child's emotion regulation ability. This finding reinforces previous literature on the importance of fathers' role in parenting and children's psychological development in the modern era. This study recommends the need for educational programmes and interventions that involve fathers in parenting, as well as policies that support the balance of fathers' roles in the family to improve the psychological well-being of young people. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh keterlibatan ayah terhadap kemampuan regulasi emosi pada individu Generasi Z yang berdomisili di Jakarta. Generasi Z, yang berkembang dalam era digital dengan tantangan sosial dan emosional yang kompleks, memerlukan peran aktif keluarga terutama figur ayah dalam pembentukan strategi regulasi emosi yang adaptif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif non-eksperimental dengan metode korelasional. Sampel terdiri dari 140 individu berusia 17 hingga 25 tahun, dipilih menggunakan kombinasi teknik criterion sampling, convenience sampling, dan snowball sampling. Instrumen yang digunakan mencakup Father Involvement Scale (FIS) dan Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) versi Bahasa Indonesia yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Analisis regresi sederhana menunjukkan bahwasanya keterlibatan ayah berpengaruh signifikan terhadap regulasi emosi pada Generasi Z, dengan kontribusi sebesar 63,9%. Hasil ini menegaskan bahwa semakin tinggi keterlibatan ayah, semakin baik kemampuan regulasi emosi anak. Temuan ini memperkuat literatur sebelumnya mengenai pentingnya peran ayah dalam pengasuhan dan perkembangan psikologis anak di era modern. Penelitian ini merekomendasikan perlunya program edukasi dan intervensi yang melibatkan ayah dalam pengasuhan, serta kebijakan yang mendukung keseimbangan peran ayah dalam keluarga untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis generasi muda.
The Relationship between Work Motivation and Psychological Well-Being for Internship Students Utama, Nabila Putri; Silviana, Silviana; Morin, Stefania; Hastuti, Rahmah
Journal of Social Science Vol. 5 No. 4 (2024): Journal of Social Science
Publisher : Syntax Corporation Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/jss.v5i4.888

Abstract

This study examines the relationship between work motivation and psychological well-being (PWB) in internship students in Jabodetabek. The Kampus Merdeka policy program provides opportunities for students to develop their skills and work experience. This study aims to identify how work motivation, both intrinsic and extrinsic, affects the psychological well-being of student interns. Using a predictive correlational approach, data were collected through questionnaires measuring the dimensions of work motivation and PWB. The results showed that intrinsic motivation has a significant positive impact on psychological well-being, while excessive extrinsic motivation can have a negative impact. The research emphasizes the importance of creating a supportive work environment to motivate student interns, improve their performance, and prepare them for the transition from academia to the world of work. The researcher obtained 103 respondents from various students in Jabodetabek. universities with 25.2% male and 74.8% female gender. This research data was processed using convenience sampling techniques, using the Multidimensional Work Motivation Scale (MWMS) questionnaire and Psychological Well Being (PWB) distribution of this questionnaire through social media by using google form. The analysis of the data is known through the Kolmogorov Smirnov test obtained a figure of 0.200> 0.05 for both variables, it is concluded that the residual data is normally distributed.
Hubungan antara Dukungan Orang Tua dengan Motivasi Belajar Piano pada Siswa Kelas 5 SD di Alunan Melodi Indonesia Shijistaniah; Rahmah Hastuti
Comit: Communication, Information and Technology Journal Vol. 3 No. 2 (2025): Comit: Communication and Information Journal
Publisher : IAI Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/comit.v3i2.9157

Abstract

This study aims to determine the relationship between parental support and motivation to learn piano in fifth-grade elementary school students at Alunan Melodi Indonesia (AMI). The background of this study is based on the phenomenon of declining motivation in children in participating in music lessons, particularly piano lessons, and the important role of support from their immediate environment, especially parents, in supporting children's learning process. The method used in this study was a quantitative correlational survey approach. Participants consisted of 110 fifth-grade elementary school students who had been taking piano lessons for six months. The instruments used were the Motivation for Learning Music Questionnaire (MLMQ) and the Parental Support Scale adapted from Sarafino (2002). The results of the data analysis showed no relationship between parental support and children's motivation to learn piano, particularly in piano lessons at AMI. This study suggests that developing children's motivation to learn music requires a more comprehensive approach, involving various factors in addition to parental support.
The Mediating Role of Self-Esteem in the Relationship Between Grit and Life Satisfaction Among Students in the MBKM Program Alyshia, Deandra Nur; Hastuti, Rahmah
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan jumlah mahasiswa yang mengikuti program MBKM mencerminkan minat besar terhadap pengembangan diri dan pengalaman baru. Menurut Singh dan Jha (2008), grit merupakan salah satu prediktor signifikan dalam life satisfaction. Penelitian ini mengeksplorasi pengaruh grit terhadap life satisfaction, dengan self-esteem sebagai mediator, pada 312 mahasiswa berusia 19–25 tahun yang telah mengikuti program MBKM. Data dikumpulkan pada September–Oktober 2024 menggunakan Short Grit Scale (Duckworth & Quinn, 2009), Rosenberg Self-Esteem Scale (Rosenberg, 1965), dan Satisfaction With Life Scale (Diener et al., 1985). Analisis data menunjukkan grit memiliki pengaruh terhadap life satisfaction (R = 0,652; R² = 0,425) dan self-esteem (R = 0,822; R² = 0,676). Selain itu, self-esteem berperan sebagai mediator penuh dalam hubungan grit dan life satisfaction, dengan hasil Sobel test sebesar 9,80 (> 1,96), memperkuat pentingnya self-esteem dalam meningkatkan life satisfaction.
Social Comparison dan Kaitannya dengan Quality of Life pada Dewasa Awal Pengguna Media Sosial Ghaisani, Kayla Rossita; Hastuti, Rahmah
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Meskipun media sosial menyediakan platform yang digunakan untuk mengekspresikan diri, dan interaksi sosial, akan tetapi adapun ketakutan yang menjadi dampak terhadap penggunaan media sosial, yaitu fenomena social comparison yang dipengaruhi dengan adanya konten yang diunggah melalui media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara social comparison dengan quality of life pada dewasa awal pengguna media sosial. Partisipan sebanyak 462, dengan rentang usia 18 sampai 36 tahun, pengambilan data dilaksanakan pada September-Oktober 2024. Penelitian ini menggunakan alat ukur Iowa-Netherlands Comparison Orientation Measure (INCOM) oleh Gibbons dan Buunk (1999), dan World Health Organization Quality of Life (WHOQOL-BREF) oleh (World Health Organization, 1996). Hasil analisis data utama menggunakan korelasi Spearman Rho, memperoleh nilai -0.157 dan p value 0.001. Hasil menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara social comparison dengan quality of life pada dewasa awal pengguna media sosial. Artinya apabila semakin tinggi social comparison maka semakin rendah quality of life, begitupun sebaliknya.
Keterkaitan Keterlibatan Ayah dengan Kesulitan Pengambilan Keputusan Karier Pada Mahasiswa Salma, Meysun; Hastuti, Rahmah
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mahasiswa biasanya akan mengalami kesulitan sebelum menentukan karier yang dipilih setelah lulus. Keterlibatan ayah mungkin dapat memiliki hubungan dengan kepribadian anak dalam kesulitan menentukan pilihan karier. Kesulitan utama adalah kurangnya kesiapan dalam membuat keputusan karier, yang diakibatkan oleh kepercayaan irasional yang timbul sebelum tahapan pengambilan keputusan dimulai, dengan demikian dapat menghambat mahasiswa dalam membuat keputusan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan antara keterlibatan ayah dengan kesulitan pengambilan keputusan karier pada mahasiswa. Dalam penelitian ini partisipan sebanyak 326 individu mahasiswa, dengan rentang usia 18-25 tahun. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional, adapun alat ukur yang digunakan untuk mengukur kedua variabel tersebut adalah Father Involvement Scale (FIS) dan Career Decision-Making Difficulties Questionaire (CDDQ). Hasil dari penelitian ini menggunakan korelasi Spearman Rho, menunjukkan hasil bahwa tidak ada hubungan linear antara tingkat keterlibatan ayah dengan tingkat kesulitan pengambilan keputusan karier.
Kaitan antara Impostor Phenomenon dan Self-Esteem di Kalangan Mahasiswa Ginta, Maria Charisse Audrey; Hastuti, Rahmah
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mahasiswa seringkali menghadapi tekanan dalam mencapai prestasi akademik yang baik, hal ini seharusnya membuat mereka merasa lebih baik tentang diri mereka sendiri dan berdampak positif. Namun, bagi sebagian mahasiswa, prestasi tersebut menimbulkan perasaan tidak layak dan keraguan atas kemampuan mereka. Fenomena ini dikenal sebagai impostor phenomenon, yaitu suatu kondisi psikologis di mana individu meyakini bahwa keberhasilan yang mereka capai disebabkan oleh keberuntungan semata, bukan karena kompetensi atau kemampuan yang dimiliki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara impostor phenomenon dengan self-esteem pada mahasiswa. Penelitian ini menerapkan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional untuk menganalisis hubungan antara kedua variabel tersebut. Sebanyak 275 mahasiswa berusia 18-25 tahun berpartisipasi dalam penelitian ini, dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui Clance Impostor Phenomenon Scale (CIPS) yang dikembangkan oleh Clance (1985) yang terdiri dari 20 item, dan Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) oleh Rosenberg (1979) yang terdiri dari 10 item. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan negatif antara impostor phenomenon dengan self-esteem. Uji korelasi Spearman menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0.001 (p < 0.05) dengan koefisien korelasi (r) sebesar -.485, yang menunjukkan ketika impostor phenomenon meningkat, maka self-esteem akan mengalami penurunan, sebaliknya ketika impostor phenomenon menurun, maka self-esteem akan meningkat. Studi ini menunjukkan pentingnya mahasiswa dalam memahami dan mengenali impostor phenomenon dalam diri mereka.
Co-Authors Adrianne Taskia, Frizka Aldi Erawan Alyshia, Deandra Nur Andri Setia Dharma Ardaffa Azra Kalandoro Audrey Felicia Lie Aulia Kirana Aurora, Amelia Banun, Jihan Soraya Carla Eureka Caroline, Gabriella Dinna Chairunissa, Jesenia Christabella, Wynona Cindy Angelia Clarisa Virginia Clearesta Averillia Dede Kristin Dinanti, Rizka Elena Susanto, Jessica Elvin Ersa Sanfriska Felicia Lie, Audrey Fernando Romero Surjo Ghaisani, Kayla Rossita Ginta, Maria Charisse Audrey Indriani, Chelsea Intan Dina Sari Irene Hilary Manurung JAMIL, AZIZAH NURUL Jeniffer Davina Jessica Elena Susanto Jessica Jessica Jihan Soraya Banun Johan, Hani Rahmawati Joselyn Tiofanny Justin Imannuel Kayla Rossita Ghaisani Larasati, Ajeng Meilyana Latifa Rahmanita Manurung, Irene Hilary Marsyanda Matthews, Abraham Melia Afriani Meysun Salma Mia Anggraeni Michelle Tirtabudi Morin, Stefania Muliani, Agnes N, Billy Nabila Putri Utama Naomi Soetikno Naomi Soetikno, Naomi Nguru, Marcia Vinly Calysta Nico Saputra P, Ilham Ramadhan Pamela Hendra Heng Priscillia Angelica Gunawan Puspita Zahra Arimurti Reynathal Beatrix Riana Sahrani Riana Sahrani Salma, Meysun SARI, INTAN DINA SASONGKO, SHABRINA NUR AULIA Sherly Agustina, Sherly Shijistaniah Shinta Vionita Sholihah, Dinda Nabila Silviana Silviana Silviana Silviana Sri Tiatri Stefania Morin Sudrajat, Ellena Kristy Sufarita Sufarita Surjo, Fernando Romero Suzanna Juwita Suzanna Juwita, Suzanna Tiatri, Sri Tiofanny, Joselyn TIRTABUDI, MICHELLE Utama, Nabila Putri Vallerina Suwandy Vinny Angelina Vira Diar Rahmasar Wahyono, Dhamodhara Wijayanto, Muhammad Rafi Winy Nila Wisudawati Yogaswara, Almas Mushad Yohanes Budiarto YUDHA, IDHZHA WIRA Zahra, Shalika Fatimah