p-Index From 2021 - 2026
4.548
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN PENGUKURAN TEKANAN DARAH PADA PASIEN HIPERTENSI BAGI KADER KESEHATAN DI PUSKESMAS SAWANGAN DEPOK Citra Ayu Aprilia; Mila Citrawati Asiyanto; Yanti Harjono Hadiwiardjo
INTEGRITAS : Jurnal Pengabdian Vol 4 No 2 (2020): DESEMBER
Publisher : Relawan Jurnal Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36841/integritas.v4i2.610

Abstract

Rata-rata prevalensi penderita hipertensi di seluruh Indonesia adalah 31,7%. Diperkirakan bahwa pada tahun 2025 persentase orang dengan hipertensi akan meningkat 24% di negara maju dan 80% di negara berkembang. Pencegahan dan pemantauan hipertensi dapat dilakukan melalui program Puskesmas atau Posyandu. Karakteristik responden untuk melakukan pengabdian masyarakat adalah kader yang mengawasi masyarakat yang memiliki penyakit terbanyak yaitu hipertensi. Pengabdian ini dilakukan dengan kuliah aktif dan diskusi dengan responden. Dari kegiatan ini diketahui bahwa kader sudah mengetahui hipertensi dan cara pencegahan dari komplikasi dan pengukuran tekanan darah mandiri dan periodik oleh kader. Jadi, di masa depan harus ada upaya promosi kesehatan kreatif dan menargetkan orang / kelompok yang tepat sehingga dapat membawa perubahan ke arah yang lebih baik.
ANALISA PERBANDINGAN METODE PEMBELAJARAN DENGAN HASIL CAPAIAN PEMBELAJARAN PRAKTIKUM ANATOMI DERMATOMUSKULOSKELETAL MAHASISWA FK UPN VETERAN JAKARTA Diana Agustini; Yanti Harjono Hadiwiardjo; Ayodya Heristyorini
PROSIDING SERINA Vol. 1 No. 1 (2021): PROSIDING SERINA III 2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.432 KB) | DOI: 10.24912/pserina.v1i1.17510

Abstract

During the Covid-19 pandemic, first year medical students in class of 2020, who have experienced online distance learning since their senior year of high school, needed to adapt to learning basic medical science, including human anatomy. This study aims to compare academic results between medical students who did offline anatomy learning and those who did online by looking at their OSPE (Objective Structure Practical Examination) grades. Population for this study includes class of 2020 students at Faculty of Medicine, UPN Veteran Jakarta who learned DMS module online and class of 2018 students who learned offline. Sample size of this study is 300 students, selected through total sampling method. Results show that median grades were 80 for online anatomy learning and 60 for offline learning. Wilcoxon test showed P=0.0000 which means there is a significant difference between OSPE results from online and offline anatomy learning.
PENINGKATAN KETERAMPILAN DAN PENGETAHUAN MANFAAT STRETCHING DAN STRENGTHENING PENCEGAHAN OSTEOARTHRITIS DINI PADA KARATEKA USIA MUDA DAN DEWASA Diana Agustini; Yanti Harjono Hadiwiardjo; Ayodya Heristyorini
PROSIDING SERINA Vol. 1 No. 1 (2021): PROSIDING SERINA III 2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (647.206 KB) | DOI: 10.24912/pserina.v1i1.17812

Abstract

Karate is a martial arts sport which can cause injuries, particularly to the knee. Overuse movement of limbs in karate, untreated chronic knee injuries, and lack of warming up with stretching and strengthening may contribute into the development of early osteoarthritis in karateka. This community service activity aims to increase skills and knowledge in the use of stretching and strengthening to prevent early osteoarthritis in young and adult karateka. Twenty-two members of the Indonesian national karate team were given a pretest containing 10 multiple choice questions about osteoarthritis and preventive measures. Participants were then given a 30-minute presentation about the use of stretching and strengthening to prevent early osteoarthritis with specific movements in karate, followed by a short question and answer session. Participants were asked to complete a posttest at the end. From the statistical analysis comparing between the pretest and posttest results, there is an increase of test scores in most participants, with a Wilcoxon test showing p=0.000. This shows that the community service activity has significantly achieved its aims of increasing skills and knowledge in the use of stretching and strengthening to prevent early osteoarthritis in karateka. Further research and community service in preventing early osteoarthritis in karateka and the community at large is highly advised.  Karate merupakan olahraga beladiri kompetitif dengan gerakan-gerakan dinamis yang rentan mengalami cedera terutama pada sendi lutut. Gerakan beban berlebihan pada tungkai dalam karate, cedera lutut kronis yang tidak tertangani, dan kurangnya gerakan pemanasan yang fokus pada stretching dan strengthening berpotensi menjadi faktor resiko osteoarthritis dini pada karateka. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan manfaat stretching dan strengthening pencegahan osteoarthritis dini pada karateka usia muda dan dewasa. Duapuluh dua anggota tim nasional karate Indonesia diberikan pretest berisi 10 pertanyaan pilihan ganda mengenai osteoarthritis dan pencegahannya. Peserta kemudian diberikan presentasi selama 30 menit mengenai manfaat stretching dan strengthening untuk mencegah osteoarthritis dini dengan merujuk pada gerakan-gerakan khusus dalam karate. Berikutnya kegiatann dilanjutkan dengan sesi tanya jawab singkat. Peserta diminta mengisi posttest yang berisi pertanyaan yang sama dengan pretest pada akhir kegiatan. Dari analisa statistik perbandingan hasil pretest dan posttest, terdapat peningkatan nilai posttest pada mayoritas peserta, dengan uji Wilcoxon menunjukkan p=0.000. Hal ini menunjukkan keberhasilan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini secara signifikan dalam meningkatkan keterampilan dan pengetahuan manfaat stretching dan strengthening pencegahan osteoarthritis dini pada karateka. Penelitian dan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang lebih lanjut dalam upaya pencegahan osteoarthritis dini pada karateka dan juga masyarakat luas sangat disarankan.
Hubungan Usia, Derajat Ketulian, dan Onset Tuli Mendadak dengan Perbaikan Pendengaran setelah Hyperbaric Oxygen Therapy Savira Chrisna; Pritha Maya Savitri; Yanti Harjono
eJournal Kedokteran Indonesia Vol 9, No. 1 - April 2021
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.268 KB) | DOI: 10.23886/ejki.9.28.13

Abstract

Tuli mendadak adalah penurunan pendengaran sensorineural 30 dB pada tiga frekuensi berturut-turut dalam waktu 72 jam. Penatalaksanaannya dengan terapi steroid dan adjuvan hyperbaric oxygen therapy. HBOT  yaitu seseorang bernapas dengan oksigen 100% di dalam ruang udara bertekanan lebih dari 1 ATA. Tujuan terapi adalah meningkatkan tekanan parsial oksigen dan memaksimalkan oksigenasi di dalam koklea sehingga tercapai perbaikan pendengaran yang ditentukan oleh faktor prognostik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan usia, derajat, ketulian, dan onset tuli mendadak dengan perbaikan pendengaran setelah HBOT di Rumah Sakit Angkatan Laut Dr. Mintohardjo tahun 2016-2019. Desain studi potong lintang 36 pasien tuli mendadak. Faktor usia tidak dapat dinilai karena datanya konstan. Hasil uji Fisher menunjukkan tidak ada hubungan derajat ketulian dengan perbaikan pendengaran (p = 0,307). Onset tuli mendadak sebagai faktor prognostik tidak hubungan dengan perbaikan pendengaran (p = 0,559). Derajat ketulian dan onset tuli mendadak disebut  faktor prognostik baik terhadap perbaikan pendengaran pasien tuli mendadak yang diterapi HBOT,  tidak menunjukkan hubungan. Kata kunci: Usia, derajat ketulian, onset, tuli mendadak, HBOT.   Relationship between Age, Degree of Hearing Loss, and Onset of Sudden Deafness with Hearing Improvement after Hyperbaric Oxygen Therapy Abstract Sudden deafness is sensorineural hearing deterioration of at least 30 dB in 3 sequential frequencies occuring within 72 hours. Management of sudden deafness is steroid and hyperbaric oxygen therapy HBOT as adjuvan therapy. HBOT is a therapy in which a person breathes with 100% oxygen in a compressed air space of more than 1 ATA. The therapy is intended to increase the parsial oxygen pressure and improve oxygenation in the cochlea so the hearing improvement is achieved, which determined by prognostic factors. This aim of this study is to determine the relationship between age, degree of hearing loss, and onset of sudden deafness with hearing improvement using HBOT at Dr. Mintohardjo Naval Hospital in 2016-2019. The cross-sectional study design was used in this research of 36 sudden deafness patients. Age cannot be assessed because the data is constant. Fisher's test results showed no relationship with the degree of hearing loss on hearing improvement with p = 0.307. Onset of sudden deafness as a prognostic factor showed no relationship with hearing improvement with p = 0.559. The degree of hearing loss and onset of sudden deafness which is referred to as a good prognostic factor for hearing improvement in sudden deafness treated with HBOT did not show any relationship. Keywords: age, degree of hearing loss, onset, sudden deafness, HBOT.
Hubungan kerja shift dengan tekanan darah: Systematic review Gani Mubarak Susanto; Zainal Musthafa; Sri Wahyuningsih; Yanti Harjono; Citra Ayu Aprilia
Tarumanagara Medical Journal Vol. 3 No. 1 (2021): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v3i2.11746

Abstract

Hipertensi berada di peringkat pertama sebagai penyebab kematian di seluruh dunia. Terdapat peningkatan prevalensi hipertensi di Indonesia dari 25.8% di tahun 2013 meningkat menjadi 34.1% di tahun 2018. Hipertensi adalah salah satu penyakit yang sering muncul pada pekerja shift. Jadwal yang tidak tetap seperti perubahan shift dapat mempengaruhi irama sirkadian sesorang dan dapat menyebabkan tekanan darah terganggu. Studi ini adalah systematic review dilakukan pada pusat data PUBMED dan BMC. Kata kunci yang digunakan "shift work" AND "blood pressure". Hasil studi didapatkan 7 artikel yang dimasukan dalam penelitian. Lima dari tujuh artikel menunjukan terdapat hubungan yang signifikan antara shift kerja dan tekanan darah. Pekerja shift lebih rentan untuk mengalami penyakit kardiovaskular seperti hipertensi karena adanya gangguan pada irama sirkadian yang disebabkan oleh jadwal kerja yang tidak teratur. Semakin perlahan rotasi shift dilakukan semakin kecil efek merugikan pada durasi tidur. Kerja shift juga secara tidak langsung meningkatkan konsumsi makanan kaya karbohidrat dan perubahan profil lipid utamanya kadar trigliserida, menyebabkan obesitas dan peningkatan gula darah. Pada studi ini dapat disimpulkan terdapat hubungan antara shift kerja dengan tekanan darah, yaitu shift kerja cenderung untuk menaikan tekanan darah. Mekanisme yang mendasari hal ini beragam tapi seluruhnya memiliki akar yang sama yaitu terganggunya irama sirkadian karena jadwal kerja yang berubah-ubah pada kerja shift.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KETAJAMAN PENGLIHATAN PADA PELAJAR SEKOLAH DASAR NEGERI 07 PONDOK LABU JAKARTA SELATAN Asiyanto, Mila Citrawati; Aprilia, Citra Ayu; Hadiwiardjo, Yanti Harjono
JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan" Vol. 8 No. 2 (2020): JAMBI MEDICAL JOURNAL Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JAMBI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.104 KB) | DOI: 10.22437/jmj.v8i2.4124

Abstract

Pada proses pendidikan, penglihatan merupakan salah satu faktor yang sangat penting. Pada proses belajar dalam kelas konvensional, tajam penglihatan menjadi faktor penting mengingat perbandingan luas kelas dengan jumlah siswa seringkali tak memadai. Proses belajar sangat bergantung pada tajam penglihatan, dan turunnya tajam penglihatan dapat mengganggu beberapa aspek perkembangan anak yang berkaitan dengan ketrampilan yang mengandalkan penglihatan. Penurunan tajam penglihatan yang tidak diterapi berakibat gangguan prestasi dan bahkan perilaku anak. Saat ini prevalensi myopia pada anak usia sekolah cenderung meningkat di Asia. Penelitian ini bertujuan mencari faktor yang paling menentukan kejadian miopia. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan metode pendekatan cross sectional, yang dilakukan pada bulan Agustus – Oktober 2017. Penelitian dilakukan pada seluruh murid kelas V dan VI di Sekolah Dasar Negeri 07 Pondok Labu Jakarta Selatan yang memenuhi kriteria, yang berjumlah 144 orang. Data karaktestik sampel didapatkan distribusi frekuensi terbanyak pada usia adalah 11 tahun (48,6%), laki-laki (58,3%). Untuk data univariat yang merupakan faktor risiko didapatkan riwayat miopia pada keluarga sebanyak 63,3%, tingkat pengetahuan cukup (53,5%), sikap yang kurang (64,6%), perilaku yang cukup baik (39,6%), screen time > 2 jam (54,2%), posisi membaca dengan duduk tegak (75%), jarak membaca 30 cm (88,2%), emetrop (56,3%). Data kemudian dianalisis untuk hubungan antara faktor risiko dengan tajam penglihatan dengan hasil terdapat hubungan yang signifikan antara riwayat keluarga miopia dengan tajam penglihatan (p=0.048), sedangkan faktor risiko lain tidak memiliki hubungan yang bermakna.
FAKTOR RISIKO YANG MEMENGARUHI KEJADIAN DISMENORE PADA MAHASISWI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAKARTA Qori Aini Afiati; Mila Citrawati; Agneta Irmarahayu; Yanti Harjono
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 6 No 2 (2023): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nyeri menstruasi atau yang dikenal dengan dismenore, merupakan kelainan paling umum pada bidang ginekologi yang ditandai dengan nyeri kolik daerah suprapubik. Keparahannya bervariasi dimulai dari 34% hingga 94% yang dapat membuat penderitanya tidak masuk sekolah atau berkegiatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang memengaruhi kejadian dismenore pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta. Faktor risiko yang diteliti pada penelitian ini adalah usia menarche, riwayat keluarga, lama menstruasi, stres, dan kualitas tidur. Desain penelitian ini ialah potong lintang menggunakan teknik pengambilan sampel memakai stratified random sampling pada 77 responden. Data diperoleh melalui kuesioner Depression Anxiety Stress Scale 42 (DASS 42) untuk menilai stres, Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk menilai kualitas tidur, dan Working Ability, Location, Intensity, Days of Pain, Dysmenorrhea (WaLIDD) untuk menilai dismenore. Mayoritas responden mengalami dismenore, usia menarche normal, ada riwayat keluarga dismenore, lama menstruasi normal, mengalami stres, dan memiliki kualitas tidur yang buruk. Hasil uji Chi Square pada analisis bivariat didapatkan riwayat keluarga (p=0,022), stres (p=0,002), dan kualitas tidur (p=0,001) memiliki korelasi terhadap kejadian dismenore. Variabel usia menarche (p=0,288) dan lama menstruasi (p=1,000) tidak memiliki korelasi terhadap kejadian dismenore. Hasil uji multivariat memberikan hasil yaitu faktor yang berpengaruh paling kuat terhadap kejadian dismenore adalah kualitas tidur (OR=14,444). Kualitas tidur seseorang berhubungan dengan mekanisme peningkatan mediator inflamasi yaitu IL-6 dan TNF α yang berperan dalam nyeri saat menstruasi. Kata Kunci: dismenore, kualitas tidur, lama menstruasi, riwayat keluarga, stres, usia menarche DOI : 10.35990/mk.v6n2.p194-204
Implementasi Program Jaminan Kesehatan Nasional terhadap Pelaksanaan Pelayanan Promotif dan Preventif Nadia Nadia; Yanti Harjono Hadiwiardjo; Nunuk Nugrohowati
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol 12 No 05 (2023): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : UIMA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33221/jikm.v12i05.2267

Abstract

Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) adalah program jaminan kesehatan berbasis asuransi sosial yang diwajibkan bagi seluruh rakyat Indonesia dan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar kesehatan masyarakat. BPJS Kesehatan mendorong FKTP, khususnya Puskesmas, untuk lebih berinovasi dalam program khususnya di bidang promotif dan preventif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji bagaimana Puskesmas Kecamatan Kramat Jati Kota Jakarta Timur mengimplementasikan program JKN yang dibuat oleh BPJS Kesehatan untuk memberikan pelayanan preventif dan promotif. Jenis penelitian ini bersifat deskriptif yang menggunakan desain kualitatif dan melakukan wawancara dengan informan untuk pengumpulan data. Penelitian ini menggunakan 10 informan penelitian, yang terdiri dari Kepala Bidang Upaya Kesehatan Masyarakat sebagai informan kunci, enam orang informan utama, yaitu pegawai di bidang UKM esensial yang terdiri dari staf Promosi Kesehatan, Kasie Kesehatan Lingkungan, Kasie KIA/KB, Kasie Gizi, Kasie Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit Menular, dan Kasie Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit tidak Menular, serta tiga orang informan pendukung, yaitu seorang dokter umum dan 2 (dua) orang pasien. Hasil temuan menunjukkan bahwa pelayanan promotif dan preventif Puskesmas Kecamatan Kramat Jati tidak mengalami perubahan yang signifikan sebelum atau sesudah program JKN dilaksanakan. perubahan yang terjadi, khususnya terkait kebijakan dan pendanaan JKN. Terdapat beberapa kendala antara lain kurangnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan Puskesmas, perluasan cakupan SPM (Standar Pelayanan Minimal), dan kurangnya koordinasi antar tenaga kesehatan. Temuan penelitian tersebut mengarahkan peneliti pada kesimpulan bahwa indikator pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif tidak dapat diturunkan hanya dari satu faktor saja. Selain itu pelaksanaan program JKN tidak berdampak langsung terhadap pelaksanaan pelayanan promotif dan preventif karena arahan pelaksanaan kegiatan tersebut masih dibiayai dari dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK).
Edukasi Pencegahan Penularan Scabies Dalam Rangka Peningkatan Ketahanan Kesehatan dan Pendidikan di SMP IT Insan Mandiri Boarding School Isniani Ramadhani; Yanti Harjono Hadiwiardjo; aulia Chairani; Diana Agustini; Nur Agung Dwicahyo Andhanputra; Pradipta Ayu Dyah Pitaloka
Segara : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 1 No 1 (2023): Volume.1 No.1 Agustus (2023) - SEGARA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Fakultas Kedokteran UPN "Veteran" Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33533/segara.v1i1.6282

Abstract

Kesehatan adalah keadaan sehat jasmani, rohani, rohani, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Sedangkan ketahanan nasional adalah kondisi kehidupan bangsa yang harus diwujudkan dan dibina sejak dini, berkesinambungan, dan sinergis mulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan, wilayah, dan bangsa yang mengandung kemampuan untuk mengembangkan kekuatan nasional. Proses penanaman nilai ketahanan perlu dilakukan dengan komunikasi dua arah antara pendidik dan peserta didik. Scabies merupakan infeksi kulit yang paling banyak terjadi di pesantren. Meski dianggap sebagai penyakit tropis yang terlupakan karena tidak menyebabkan kematian, namun jika tidak ditangani secara serius dapat menyebabkan penurunan ketahanan kesehatan dan ketahanan pendidikan pada daerah tertular dan penderitanya. Gatal parah di malam hari menyebabkan kualitas tidur dan konsentrasi di pagi hari terganggu. Oleh karena itu, santri Pesantren SMPIT Insan Mandiri perlu dibekali pengetahuan untuk mencegah penyebaran infeksi Scabies. Menggunakan metode konseling dengan evaluasi pre-test dan post-test. Penyuluhan terbukti berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan sebagian besar peserta terkait skabies dan ketahanan kesehatan dengan bukti 57 peserta (95%) mengalami peningkatan skor post test.
Effectiveness of Counseling Using Motion Graphics Against Changes in Attitudes to Consuming Fast Food in Adolescents 2022 Melly Kristanti; Nunuk Nugrohowati; Yanti Harjono; Vernanda Em Afdhal; Raden Roro Maya Dennisa; Nabila Fairuz
International Journal of Theory and Application in Elementary and Secondary School Education Vol. 5 No. 1 (2023): April
Publisher : Faculty of Teacher Training and Education, Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31098/ijtaese.v5i1.1412

Abstract

Media is very useful in increasing knowledge, especially in adolescents. Animated media is one of the ways in which education and information can be conveyed properly to adolescents. Therefore, the researchers wanted to see the effectiveness of motion graphics on the knowledge and attitudes of adolescents regarding fast food. This study used a cross sectional study design with a sample size of 120 samples. The instrument for this study used questionnaire pre-test and post-test. The analysis used in this study is the Wilcoxon test. There is a change in the attitude of adolescents after being given counseling using motion graphics, namely a p-value of 0.000 and knowledge did not experience a significant change p-value 0.165. Based on these results, it is certain that there is a need for changes in healthy living behavior to avoid obesity which has an impact on degenerative diseases. In addition, there is a need for new ways to provide counseling to adolescents, namely using motion graphics which are quite effective in providing information.
Co-Authors Agneta Irmarahayu Agustini Purwaningastuti, Diana Ahmad Fauzan Alhafiz, Abisha Rakadynan Alhaque, Nitya Fithra Salsabila Alifio, Anugrah Ananda, Regita Siska Anisah Anisya Zakiyyahaya Arvant Annisa Farida Muti Aprilia, Citra Ayu Arman Yurisaldi Saleh Arvant, Anisya Zakiyyahaya Astrilia, Farah Elena Aulia Chairani Aulia Chairani, Aulia Ayodya Heristyorini Ayodya Heristyorini Ayu, Aletha Ayudia, Tsabita Basuki Supartono Boenga Nurcita Citra Ayu Aprilia Citra Ayu Aprilia Citra Ayu Aprilia Citra Ayu Aprilia Dandi Tri Dirgantara Dewi, Indah Rahma Diana Agustini Diana Agustini Diana Agustini Dirgantara, Dandi Tri Dwi Arwandi Yogi Saputra Erna Harfiani Fachri Razi Arslan Fadhila Nurmaulida Fairuz, Nabila Fajriati Zulfa Farah Elena Astrilia Gani Mubarak Susanto Gatot Soeryo Hany Yusmaini Irsyad, Nasihin Saud Kusumawardani, Kunthi Ayu Lisencia, Elissa Dewi Maria, Ima Masroekin, Mashoedojo Pratonodihardjo Meiskha Bahar Melly Kristanti Mila Citrawati Muhammad Gifta Utomo Muharany, Raden Roro Ariesna Nabila Fairuz Nadia Nadia Ningtiyas, Tabita Sri Wahyu Nunuk Nugrohowati Nunuk Nugrohowati Nur Agung Dwicahyo Andhanputra Nurfitri Bustamam Nurmaulida, Fadhila Pasiak, Taufiq Fredrik Perdini, Fitriana Titis Pradipta Ayu Dyah Pitaloka Pritha Maya Savitri Purwaningastuti, Diana Agustini Qori Aini Afiati Raden Roro Maya Dennisa Raja Soaloon Purba Reiza, Muhammad Reva Audria Khairani Ria Maria Theresa Rizki Putri Andini Rahmah Savira Chrisna Setyaningsih, Yuni Shabrina Amalia Suci Sianturi, Hiliando Hasiholan Soeryo, Gatot Sri Wahyuningsih Suci, Shabrina Amalia Tri Faranita Utomo, Muhammad Gifta Vernanda Em Afdhal Widyawardani, Nugrahayu Yuli Suciati Zainal Musthafa