Octavianus Hendrik Alexander Rogi
Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Published : 68 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN DI KECAMATAN MANTIKULORE KOTA PALU Rumayar, Gerika; Rogi, Octavianus H.A; Rengkung, Michael M
SPASIAL Vol 5, No 3 (2018)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kondisi bentang alam di Kecamatan Mantikulore memiliki beragam aspek biofisik antara lain kelerengan, jenis tanah, dan ketersediaan air. Keragaman aspek tersebutlah yang menjadi alasan perlunya analisis kesesuaian lahan, untuk segmen lahan yang diperuntukkan sebagai area permukiman menurut RTRW Kota Palu 2010-2030, guna mewujudkan ruang ekologis yang berkelanjutan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis kesesuaian arahan RTRW Kota Palu 2010-2030 terhadap peruntukkan perumahan/pemukiman di Kecamatan Mantikulore, berdasarkan kriteria-kriteria kesesuaian lahan. Adapun metode analisis yang digunakan ialah metode Superimpose dan Skoring, serta menggunakan penentuan klasifikasi kesesuaian lahan menurut FAO 1976 kategori Sub-Kelas.Diperoleh bahwa kesesuaian lahan arahan peruntukkan pemukiman berdasarkan rencana pola ruang di Kecamatan Mantikulore, berkategori Sesuai sebesar 83.41%. Walau demikian ada beberapa lokasi yang berkategori Sesuai Bersyarat, untuk dilakukan treatment khusus sesuai dengan permasalahan lokasinya dan untuk lokasi yang berkategori Tidak Sesuai dapat dialih fungsikan sebagai ruang terbuka, hutan maupun kebun.Kata Kunci : Kesesuaian Lahan, Kawasan Permukiman, Kota Palu
ANALISIS PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN RURUKAN DI TOMOHON Pantouw, Christy E; Poluan, R. J.; Rogi, Octavianus H
SPASIAL Vol 5, No 3 (2018)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Tomohon memiliki sumber daya alam yang kaya terutama pada sektor pertanian. Kawasan Agropolitan Rurukan merupakan salah satu kawasan agropolitan di Provinsi Sulawesi utara yang berada di Kecamatan Tomohon Timur. Berdasarkan Rencana Tata Ruang (RTRW) Kota Tomohon Tahun 2013-2033 dari segi penataan struktur ruang Kota Tomohon, Rurukan merupakan Sub Pusat Pelayanan Kota. Rurukan juga termasuk dalam pengembangan kawasan perdagangan dan jasa yang menunjang aktivitas agroindustri, serta pengembangan kawasan hortikultura untuk tanaman sayur-sayuran. Selain itu juga termasuk dalam kawasan strategis dari sudut kepentingan lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengindentifikasi karakteristik kawasan dan menganalisis arah dan strategi pengembangan dari Kawasan Agropolitan Rurukan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dan kuantitatif dengan tenik analisis deskriptif, Location Quotient (LQ), dan Strength, Weakness, Oppurtunity, Theart (SWOT). Bila dilihat dari hasil penelitian maka dapat disimpulkan karakteristik Kawasan Agropolitan Rurukan memiliki kondisi agroklimat yang cocok untuk pertanian, memiliki prasarana dan sarana umu, dan sosial yang memadai. Memiliki prasarana dan sarana penunjang agribisnis, memiliki sumberdaya manusia yaitu penduduk tani dan kelompok tani, dan memiliki 9 komoditas unggulan prioritas pertanian. Pengembangan komoditas unggulan untuk meningkatkan kualitas hasil produksi. Menyediakan prasarana dan sarana penunjang agribisnis hulu, usaha tani, dan hilir serta membenahi prasarana dan sarana yang sudah tersedia. Juga dengan membuat lembaga penelitian dan pengembangan yang dapat terus memantau proses produksi agar produk hasil pertanian bias menjangkau pasar domestik lebih luas lagi. Kawasan sentra produksi dipusatkan pada 3 kelurahan yakni kelurahan Rurukan, Rurukan 1, dan Kumelembuai. Sedangkan untuk penyediaan sarana produksi dan pasar terletak di kelurahan Paslaten dan Paslaten 1. Kata Kunci: Agropolitan, Pengembangan Wilayah
KORELASI ANTARA HARGA LAHAN DENGAN KEPADATAN TERBANGUN DI KECAMATAN MALALAYANG, KOTA MANADO Tambajong, Gifly Jeremy; Tilaar, Sonny; Rogi, Octavianus H
SPASIAL Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Malalayang adalah salah satu dari 11 kecamatan yang ada di Kota Manado. Kecamatan Malalayang berlokasi di pinggiran Kota Manado dan memiliki potensi untuk terus berkembang sebagai wilayah permukiman, hal ini akan menyebabkan dinamika perubahan harga lahan yang signifikan dari waktu ke waktu. Peningkatan jaringan utilitas, kebutuhan ruang terbuka, prasarana sosial dan ekonomi, ketersediaan perumahan, jaringan air bersih merupakan implikasi dari berkembangnya suatu wilayah, yang selanjutnya timbullah permasalahan kota yang sangat kompleks. Harga lahan yang tinggi cenderung ditempati oleh fungsi lahan komersial, kecenderungan ini semakin meningkat pada akhirnya dimanfaatkan oleh para spekulan tanah dengan maksud untuk mencari keuntungan.. Analisis data menggunakan analisis korelasi pearson dengan bantuan software SPSS .Sebagai panduan yang lebih baku, interpretasi derajat keeratan hubungan kedua variabel ini dilakukan dengan mengacu pada klasifikasi hubungan statistikal dua peubah / variabel yang dikemukakan oleh Guilford, yang secara garis besar diuraikan. Hasil analisis korelasi yang ada menunjukkan bahwa dari kedua variabel Harga Lahan (X) dan Kepadatan Terbangun (Y) memiliki korelasi nilai yang beragam. Untuk kedua variabel Harga lahan (X) memiliki korelasi yang kecil terhadap variabel okupansi bangunan yaitu berjumlah 0,363 dan 0,139, memiliki korelasi yang cukup terhadap kepadatan penduduk yaitu berjumlah 0,660 dan 0,304 , memiliki korelasi yang erat terhadap kepadatan bangunan 0,869 dan 0,624 .  Kata Kunci : Korelasi Pearson, Harga Lahan, Kepadatan Terbangun, Okupansi  Bangunan
PLANETARIUM DI MANADO (MIMESIS DALAM ARSITEKTUR) Ogelang, Ardi C.; Rogi, Octavianus H. A.; Siswanto, Wahyudi
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 3, No 1 (2014): Volume 3 No.1 Mei 2014
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Minimnya pengetahuan serta minat masyarakat terhadap ilmu astronomi yang sedang berkembang danmeningkatnya kualitas penelitian dibidang astronomi. Selain itu juga tuntutan perancangan Arsitektural untuk menunjang visi kota Manado sebagai  kota pariwisata dunia maka dibutuhkan suatu objek yang bisa menarik perhatian masyarakat sehingga lewat kehadiran objek tersebut sektor pariwisata di kota Manado  bisa meningkat. Planetarium merupakan objek yang tepat untuk menjawab persoalan yang ada dimana lewat Planetarium beserta fasilitas-fasilitas pendukungnya  diharapkan dapat memfasilitasi berbagai persoalan yang ada. Proses perancangan objek ini menggunakan proses desain generasi 2 sesuai dengan kategorisasi dari Horst Rittel yang terbagi dalam 2 fase, fase yang pertama merupakan pengembangan wawasan komprehensif yang terdiri dari 3 aspek yaitu pemahaman terhadap objek rancangan, pemahaman terhadap tema rancangan, dan pemahaman terhadap lokasi dan tapak. Fase yang kedua merupakan fase konseptualisasi dengan menggunakan mekanisme Image-Present-Test menurut John Zeisel.Pada fase ini perancang melakukan transformasi konsep berdasarkan data yang didapat dari pengembangan wawasan komprehensif (fase 1). Transformasi ini diawali dengan tahap Imaging (pemikiran konsep), dilanjutkan dengan tahap Presenting (penyajian konsep ke dalam bentuk gambar atau model) dan diakhiri dengan Testing (pengujian konsep berdasarkan kriteria pengujian tertentu/proses asistensi). Dikatakan ‘Siklus’ karena ketika mencapai tahap Testing, proses transformasi tidak langsung selesai melainkan diperbaiki kembali. Tema perancangan yang dipilih yaitu Mimesis dalam Arsitektur, konsep dari mimesis itu sendiri lebih mengutamakan Pengimitasian bentuk dan borrowing (peminjaman). Pengimitasian bentukkan serta borrowing (peminjaman) lebih mengacu pada item-item jagad raya, item-item tersebut nantinya akan disatukan dengan medium gubahan dalam tabel rekomendasi agar supaya output dari konsep tersebut bisa memiliki nilai keindahan yang dapat menarik perhatian pengunjung. Penerapan Mimesis dalam Arsitektur menghasilkan suatu rancangan planetarium dengan konsep Edutainment atau Educative and Entertainment yang menjadikan objek ini sebagai objek yang mempunyai nilai tersendiri dalam menghadirkan unsur-unsur keindahan. Perancangan ruang dalam maupun ruang luar pada objek ini menghadirkan item-item jagad raya sebagai sumber imitasi diharapkan dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung yang akan berkunjung ke Planetarium.   Kata kunci :Planetarium, Mimesis, Edutainment
REDESAIN RUMAH SAKIT UMUM BETHESDA DI TOMOHON “ARSITEKTUR KONTEKSTUAL” Sembiring, Agita R.; Poluan, Roosje J.; Rogi, Oktavianus H.A.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 6, No 1 (2017): Volume 6 No.1 Mei 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumah Sakit Umum Bethesda di Tomohon merupakan salah satu institusi pelayanan kesehatan secara paripurna yang sudah berdiri sejak tahun 1958 dibawah Yayasan GMIM & Medika dengan keadaan fisik gedung bangunan-nya yang kini terlihat sudah cukup tua dan usang sehingga perlu untuk di redesain agar memiliki bangunan yang lebih baik dan fasilitas yang lebih memadai dari sebelumnya. Rumah Sakit ini terletak di Provinsi Sulawesi Utara, pusat Kota Tomohon dimana GMIM berencana akan merancang suatu kawasan yang disebut Superblock GMIM yang akan memberikan beberapa pelayanan antaralain; pelayanan dalam bidang kesehatan, pendidikan dan perekonomian yang akan menjadi aset GMIM yang bersifat gerejawi. Selain itu, rumah sakit ini juga berada dalam suatu kawasan bersejarah yaitu bersebelahan dengan sebuah gedung peribadatan ‘Gereja Sion’ (Gereja Tua) yang sudah berdiri sejak tahun 1878 dan berdekatan dengan rumah peninggalan Ds.A.Z.R.Wenas yang merupakan salah satu pendiri GMIM dan pernah menjabat sebagai Ketua Sinode GMIM. Rumah Sakit Umum Bethesda ini memiliki ciri khas tersendiri karena berada pada kawasan yang historic. Redesain Rumah Sakit Umum Bethesda di Tomohon dalam suatu kawasan Superblock GMIM ini menggunakan pendekatan tema ‘Arsitektur Kontekstual’ yang menghadirkan suatu bangunan/ gedung baru dengan konsep yang selaras/harmonisasi terhadap lingkungan sekitar, namun tetap memiliki konsep kontras yang akan menciptakan lingkungan urban yang lebih hidup dan lebih menarik. Rumah sakit ini diharapkan dapat mewadahi serta memfasilitasi berbagai macam aktivitas para pengguna didalamnya khususnya bagi masyarakat yang ada di Kota Tomohon.   Kata kunci       : Rumah Sakit, Tomohon, Arsitektur Kontekstual, Superblock GMIM
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BETHESDA DI TOMOHON “ARSITEKTUR KONTEKSTUAL” Kolibu, Eunike T.; Rondonuwu, Dwight M.; Rogi, Oktavianus H.A.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 6, No 1 (2017): Volume 6 No.1 Mei 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Bethesda terletak di Provinsi Sulawesi Utara, tepatnya di pusat Kota Tomohon. STIKes Bethesda merupakan perguruan tinggi swasta milik Yayasan GMIM Ds. A.Z.R. Wenas yang merupakan konversi dari Akademi Keperawatan Bethesda. STIKes Bethesda berada pada kawasan GMIM yang disebut Superblok GMIM, dimana latar belakang utama dari Superblok GMIM ini yaitu sebagai aset GMIM yang bersifat gerejawi yang kontekstual dimana melayani dalam bidang kesehatan, pendidikan dan perekonomian yang ada di Kota Tomohon. Selain itu, STIKes Bethesda barada dalam suatu kawasan bersejarah, dimana berada dekat dengan sebuah bangunan gereja yaitu ‘Gereja Tua Sion’ yang sudah berdiri sejak tahun 1878 dan bangunan rumah peninggalan Ds. A.Z.R.Wenas. Sehingga dalam perancangan ini menggunakan pendekatan tema ‘Arsitektur Kontekstual’ dimana memperhatikan permasalahan kontinuitas visual antar bangunan baru dengan nuansa lingkungan yang ada disekitarnya dengan konsep harmoni/selaras dan konsep kontras antara bangunan dengan perbedaan zaman dan gaya. Tujuan perancangan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bethesda yaitu sebagai wadah fisik pelayanan fasilitas pendidikan yang representatif yang beradaptasi dengan lingkungan dan bangunan sekitar dalam kawasan Superblock GMIM. STIKes Bethesda diharapkan dapat mewadahi serta memfasilitasi berbagai aktivitas pengguna didalamnya khususnya bagi masyarakat Kota Tomohon. Dalam perancangan ini menggunakan metode pendekatan tipologi bentuk, tipologi fungsi dan tipologi kultural historik. Adapun hasil perancangan yang diterapkan teraplikasi dalam konsep aplikasi tematik, konsep gubahan bentuk dan ruang, konsep zoning, konsep entrance, parkir dan sirkulasi pada tapak, konsep struktur dan konstruksi serta utilitas bangunan, konsep selubung bangunan dan konsep ruang luar. Dimana tervisualisasi melalui gambar hasil perancangan. Kata kunci       : Arsitektur Kontekstual, STIKes, Superblock GMIM
TAMAN WISATA RELIGIUS ‘INTIMACY DESIGN’ Kandoli, Conny; Rogi, Octavianus H. A.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 2, No 2 (2013): Edisi Khusus TA. Volume 2 No.2 Juli 2013
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kota manado merupakan salah satu  kota dengan eksistensi mayoritas pemeluk agama Kristen. Pada tahun 2010 tempat peribadatan umat Kristen tercatat sebanyak 544 gereja. mencermati perkembangan tersebut maka dihadirkan suatu sarana ekskursi yaitu Taman Wisata Religi Gunung Tumpa di Manado. Objek ini bersifat pelengkap bagi objek wisata lainnya, Objek yang pernah direncanakan oleh pemerintah dan belum sempat terealisasi ini berlokasi di kawasan Gunung Tumpa sesuai dengan Rencana Detail Tata Ruang Kawasan (RDTRK) Bukit Doa dan Hutan Kota Gunung Tumpa tahun 2008. Dalam  realitas proses berpikir khususnya dalam menganalisa dan mengambil keputusan, tidak saja secara kaku terikat, namun terstruktur dan terurut rapi secara kronologis. Pada desain ini perancang menggunakan dua fase penggembangan. Fase penggembangan pertama yaitu perancang melakukan pendekatan lewat kajian tematik, kajian tipologi, dan kajian lokasi. Selanjutnya menghasilkan konsep-konsep arsitektural yang akan diterapkan pada fase ke dua. Fase ke dua adalah fase kreatifitas dan produksi desain. Dalam produksi desain perancang menggunakan metode desain Horst Rittle lewat aktivitas “Variety Generation - Variety Reduction”. dalam aktifitas ini perancang akan menghasilkan beragam problem statement serta melakukan sebuah prediksi tentang solusi yang dikembangkannya, mengevaluasinya dan memilih alternatif yang dipandang paling optimal dan nantinya mampu menghasilkan suatu produk desain konseptual. Objek perancangan dengan massa majemuk ini memiliki pola sirkulasi linier dan pola penataan di desain menyesuaikan dengan topografi dari kawasan gunung tumpa. Adapun tiga unsur Intimacy Design yang hadir dalam desain yaitu Intim dengan Tuhan lewat menghadirkan sacred zone sebagai pusat kegiatan , Intim dengan sesama manusia dimana ibadah sebagai ruang untuk interaksi (sharing and caring)  dan Intim dengan lingkungan yang nantinya elemen-elemen alam sebagai pembentuk pola perilaku interaksi. Kata kunci : Taman Wisata Religi, Intimacy Design, Varietas Generation
ECO-HORTICULTURAL CONSERVATORY DI MINAHASA. Biomimichry in Architecture. Tumbelaka, Isabella S.; Rogi, Octavianus H. A.; Kapugu, Herry
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 6, No 1 (2017): Volume 6 No.1 Mei 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sulawesi Utara terkenal dengan tanahnya yang subur dan hasil pertaniannya yang beragam. Tanah Minahasa adalah rumah bagi berbagai industri tanaman yang salah satunya merupakan tanaman hortikultura yang perannya sangat penting bagi masyarakat. Kehadiran sarana konservasi tanaman hortikultura yang memadai di daerah Minahasa sangatlah dibutuhkan untuk kemudahan masyarakat menjangkau dan memperoleh edukasi tentang pentingnya keberadaan tanaman-tanaman ini. Dan dengan ditunjang fasilitas rekreasi bagi semua kalangan agar tercipta suasana yang tidak membosankan dan masyarakat dapat menikmati alam terbuka dengan cara yang lain dari biasanya. Perancangan Eco-Horticultural Conservatory di Minahasa bertujuan untuk memberikan sarana konservasi dalam skala kecil bagi tanaman hortikultura dengan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya budidaya tanaman yang eksistensinya dibutuhkan manusia dalam kehidupan sehari-hari ini. Penerapan tema pada rancangan adalah berupa salah satu filosofi kontemporer dalam arsitektur yang mencari solusi sustainable dalam alam, yang disebut Biomimicry. Biomimicry dalam penerapannya bukan hanya sekedar meniru bentuk alam tetapi dengan memahami peraturan yang mengatur bentuk-bentuknya maupun sistem yang berlangsung dalam alam. Dari tema ini diharapkan dapat membawa manusia ke dalam komunikasi yang lebih intens dengan alam sekitar atau dengan isi dari objek rancangan.Kata Kunci : Biomimicry, Conservatory, Ekologi, Hortikultura
DESAIN PUSAT SENI DAN BUDAYA DI JAYAPURA “ARSITEKTUR ORIGAMI” Siregar, Frits O. P.; Rogi, Octavianus H. A.; Masarrang, Fennyrian
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 4, No 1 (2015): Volume 4 No.1 Mei 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hasil karya seni bagian dari budaya Papua yang ada di kota Jayapura secara lebih khusus merupakan warisan kebudayaan yang sepatutnya dijaga untuk keberlangsungannya kedepan. Provinsi Papua  dan Papua Barat memiliki keanekaragaman seni dan budaya,Papua terdiri dari kurang lebih 250 sub suku bangsa, dengan memiliki keragaman seni budaya mutlak harus kita lestarikan sehingga tidak cepat punah akibat masuknya nilai-nilai baru di atas tanah Papua. Kebudayaan sangat penting karena sebagai alat untuk mempertahankan dan memperlihatkan karakter dan jati diri suatu bangsa termasuk kita di Papua. Untuk itu kita semua bertanggung  jawab untuk bagaimana mempertahankan, melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Papua yang baik ke depan. Dari berbagai latar belakang permasalahan yang ada maka perlu dihadirkan sebuah sarana yang dapat menjadi wadah arsitektural sebagai Pusat Seni dan Budaya yang perlu untuk dilestarikan, dan juga sebagai sarana informasi untuk masyarakat umum. Kata Kunci: Pusat, Seni Himpunan Bagian dari Budaya.
SITUASI OTORITATIF ARSITEK (Bagian Pertama dari Essay : Arsitektur Futurovernakularis - Suatu Konsekuensi Probabilistik Degradasi Otoritas Arsitek) Rogi, Octavianus Hendrik Alexander
MEDIA MATRASAIN Vol 11, No 1 (2014)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakTulisan ini merupakan penggalan pertama dari essay penulis yang berjudul “Arsitektur Futurovernakularis – Sebuah Konsekuensi Probabilistik Degradasi Otoritas Arsitek”. Pemikiran utama dalam essay ini adalah tentang probabilitas tergerusnya otoritas profesional arsitek seiring waktu yang ditandai dengan kehadiran karya arsitektur yang dilabel penulis dengan istilah futurovernakularis. Sebutan ini berasosiasi dengan karya arsitektural masa nanti (futuro) yang tercirikan sebagai karya yang hadir tanpa campur tangan arsitek profesional (vernakularis), sebagaimana salah satu premis dasar definisi politetis arsitektur vernakular. Dalam essay yang lengkap, argumentasi hipotesis di atas dielaborasi melalui sejumlah pendekatan. Dalam tulisan ini secara khusus akan dipaparkan argumentasi yang dielaborasi berdasarkan pendekatan melalui pemahaman terhadap ragam otoritas peran arsitek serta fakta kembang susutnya seiring waktu. Secara garis besar akan dikemukakan pemahaman umum tentang situasi otoritatif arsitek yang sifatnya delegatif dalam konteks koneksitas antara arsitek dengan pihak klien. Dikemukakan pula tentang tendensi degradasi peran arsitek sejak masa lalu hingga saat ini serta posibilitasnya di masa depan.Melalui pemaparan dalam tulisan ini untuk sementara dapat disimpulkan bahwa tendensi degradasi peran dan otoritas arsitek dalam aktivitas rancang bangun merupakan suatu hal yang realistis. Argumentasi utama yang mengemuka adalah fakta bahwa otoritas arsitek secara mendasar merupakan otoritas yang delegatif sifatnya dalam konteks simbiosis arsitek-klien. Argumentasi ini juga diperkuat dengan indikasi posibilitas perkembangan kapasitas dan perilaku klien yang merupakan sumber otoritas delegatif sang arsitek. Seiring berkembangnya kapasitas kalangan klien terkait aspek rancang bangun, maka perilakunya akan semakin terdorong untuk menafikan eksistensi kalangan arsitek. Argumentasi ini perlu dikembangkan lagi dengan melihat faktor pendorong yang lain bagi perubahan kapasitas dan perilaku kalangan klien ini. Dukungan terhadap argumentasi ini akan dielaborasi pada dua tulisan lain yang berbeda, yang masing-masing akan mengungkap tentang deduksi dukungan teori proses desain tentang potensi degradasi otoritas arsitek serta dampak aplikasi teknologi komputer dalam kegiatan rancang bangun yang berpotensi “menggantikan” posisi arsitek dalam simbiosis klasik arsitek-klien.Kata kunci : otoritas arsitek, arsitektur futurovernakularis, simbiosis arsitek-klien
Co-Authors -, Suryono Adriana Renwarin, Adriana Alfonsa Londar, Alfonsa Alvin J. Tinangon Amanda S. Sembel Amanda Sembel Anastasya E. Rambi, Anastasya E. Andi A. M. Malik Anggreny Purukan Ardi C. Ogelang Arviro Eman Bongi, Anastasia Conny Kandoli Cynthia E.V Wuisang, Cynthia E.V Datunsolang, Rifqi Akbar Deddy Erdiono Durand, Deo Victor Dwars Soukotta Dwight M Rondonuwu, Dwight M Dwight M. Rondonuwu Elda Siska Sinuraya Esli D. Takumansang Fennyrian Masarrang Frits O. P. Siregar Frits O.P. Siregar Hendriek H. Karongkong Hengkelare, Sularso H. S. Hengkelare, Sularso H.S Herry Kapugu Horhoruw, Hanni Alfio Ingerid Moniaga Irjadi, Arif Jefrey I. Kindangen Johannes Van Rate Joseph Rengkung Judy O. Waani Julianus A. R. Sondakh Kevin Usman Kokalinso, Febrianti Margaretha Kolibu, Eunike T. Kowal, Rolando Rischi Kristian Pabeta Kristin N. Johannis Lakat, Ricky S. M. Laming, Magdalena Lasabuda, Muh. Herbian S.P. Leidy M. Rompas Linda Tondobala Lolokada, Theresia Wangi Longaris, Sendy Makagiansar, Trifosa Mario D. M. Maahury, Mario D. M. Marshel Pua, Marshel Michael M Rengkung, Michael M Novalin Y. Titiheru P, Norlyvia Jaya Toding Palindang, Winda Pangkey, Claudia Pantouw, Christy E Pello, Pingkan S. Pierre H Gosal, Pierre H Pierre H. Gosal Poli Hanny, Poli R. J. Poluan, R. J. Rachmatullah, Michael Raymond Ch Tarore, Raymond Ch Rieneke L. E. Sela Rieneke Sela Rondonuwu, Dwight Roosje J Poluan Roosje J. Poluan Rukait, Sherina B. Rumayar, Gerika Salatun, Sri Ratni Sangkertadi Sangkertadi Sarapang, Herni Tandi Sawo, Milano Khemal Sela, Rieneke L.E Sembiring, Agita R. Sgerlen M. Tunas Siregar, Frits O Sondakh, Sharon Costansye Sonny Tilaar Steven Lintong Steven R. Kamurahan Surjadi Supardjo Suryadi Supardjo, Suryadi Suryono . Tambajong, Gifly Jeremy Tangkudung, Fitri Meylinda Tendean, Susi Cinthya Tinaiy, Arflandi Michael Tjoa, Savy C.N. Tomigolung, Billy Adiputra Tompodung, Injilly Tulangow, Pingkan K Tumbelaka, Isabella S. Veronica Kumurur Verry Lahamendu, Verry Vicky H Makarau, Vicky H Vicky H. Makarau Vinny Wasty Nanariain, Vinny Wasty Wahyudi Siswanto Wakari, Viona V. Walintukan, Casey C Wenur, Fabian Bill Zanuddin, Rian