Claim Missing Document
Check
Articles

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PROGRAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PNPM MANDIRI Dhio Adenansi; Moch. Zainuddin; Binahayati Rusyidi
Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol 2, No 3 (2015): Prosiding Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jppm.v2i3.13582

Abstract

Kemiskinan merupakan masalah yang sudah terlalu kompleks di Indonesia. Fenomena ini terjadi salah satunya karena masyarakat Indonesia terlalu berpangku tangan untuk bisa mendapatkan bantuan. Masyarakat terlalu pasif dalam kondisi ini, partisipasi dan inisiatif masyarakat dalam kondisi memperbaiki kualitas kehidupannya ini masih sangat kurang. Pada kondisi ini pemerintah perlu melakukan suatu bentuk kegiatan yang dapat membantu masyarakat untuk mencapai kesejahteraannya. Namun yang perlu menjadi perhatian adalah bahwa dalam mensejahterakan masyarakat, pemerintah perlu melakukan metode pemberdayaan terhadap masyarakat. Pemberdayaan masyarakat menjadi hal yang sangat penting agar nantinya masyarakat bisa mandiri tanpa perlu lagi diarahkan atau dituntun oleh pemerintah atau para agen perubahan. Disini pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, perlunya peran – peran pihak lain agar bisa mencapai target yang diharapkan. Pihak lain disini maksudnya seperti LSM, masyarakat itu sendiri, dan pihak lainnya.Program pemerintah akan bisa terealisasikan dengan baik apabila dalam prosesnya pihak yang terkait mampu bekerja sama atau dengan kata lain mampu untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang dilaksanakan pemerintah. Partisipasi menjadi hal yang sangat penting dalam hal ini. Seperti misalnya program yang dicanangkan oleh pemerintah yakni PNPM Mandiri. Pada PNPM mandiri adalah program yang dikeluarkan pemerintah dalam rangka mengentaskan masalah kemiskinan yang sudah begitu kompleksnya di Indonesia. Di program PNPM mandiri ini masyarakat terkait dituntut untuk berpartisipasi dalam proses kegiatannya. Partisipasi disini dituntut agar masyarakat terbiasa untuk bertanggung jawab atas kondisi di lingkungannya. Maka dari itu agar tumbuhnya kesadaran di masyarakat akan tanggung jawab terhadap kondisi sosialnya maka itu menjadi tanggung jawab pemerintah dan instansi terkait untuk merubah pola pikir masyarakat untuk peduli.
KEBIJAKAN PERLINDUNGAN SOSIAL DAN PENCEGAHAN RETRAFFICKING BAGI ANAK DI PROVINSI JAWA BARAT Binahayati Rusyidi; Eva Nuriyah; Lenny Meilani
Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol 4, No 1 (2017): Prosiding Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jppm.v4i1.14223

Abstract

Jawa Barat merupakan salah satu provinsi asal terbesar dari mana anak menjadi korban perdagangan orang. Kebijakan perlindungan anak yang bertujuan mencegah, menangani korban serta mencegah terjadinya pengulangan (retrafficking) menjadi suatu keniscayaan. Penelitian kualitatif ini menganalisa kebijakan pemerintah provinsi Jawa Barat dalam perlindungan sosial trafficking anak. Informan adalah perwakilan dari kelembagaan pemerintah yang memiliki tugas untuk merancang dan melaksanakan program perlindungan anak yaitu Dinas Sosial, BPPAKB, UPPA Polda Jabar, dan Dinas Pendidikan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan studi dokumentasi. Data analisis dilakukan secra kualitatif berdasarkan kerangka analisa kebijakan sosial dari Gilbert & Terrel yang memfokuskan pada: basis of allocation, nature of provision, delivery system, and finance methods.Penelitian menemukan bahwa Jawa Barat telah memiliki peraturan daerah yang memayungi perlindungan sosial anak. Program-program pencegahan bersifat universal sedangkan program bersifat selektif ditemukan mendominasi arah perlindungan sosial berupa penanganan, rehabilitasi korban anak, serta pemberdayaan keluarga umumnya yang didistribusikan meliputi protective regulations, layanan profesional dan in-kind. Pelaksanaan kebijakan dilakukan secara mandiri maupun koordinatif lintas lembaga namun belum memberikan perhatian memadai pada aspek monitoring dan evaluasi. Sumber pendanaan umumnya berasal dari APBN dan APBD masih dianggap kurang memadai. Sementara itu pendanaan yang melibatkan keikutsertaan lembaga non-pemerintah, khususnya duania usaha masih terbatas.Pengembangan kebijakan yang berorientasi pencegahan, penguatan kapasitas dan ketahanan keluarga, diversifikasi pendanaan serta penerapan monitoring dan evaluasi yang optimal agar dapat dilaksanakan untuk efektivitas perlindungan sosial terkait perdagangan anak.
PEKERJA SOSIAL DAN PENDIDIKAN INKLUSI Nurul Fadhilah Rezeki; Binahayati Rusyidi
Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol 2, No 2 (2015): Prosiding Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jppm.v2i2.13531

Abstract

Pendidikan merupakan hak bagi setiap orang, termasuk bagi anak dengan disabilitas. Indonesia dengan beribu pulau yang dimilikinya sampai saat ini belum merata pembangunannya, termasuk di dalamnya akses terhadap pendidikan. Data yang diperoleh dari buku Profil Anak Indonesia 2013 menyebutkan bahwa sebanyak 35,25% anak dengan disabilitas belum/tidak pernah sekolah, 43,13% tidak/belum tamat SD. Menurut Rustanto (2013), pekerja sosial sekolah merespon perwujudan hak semua anak untuk mendapatkan pendidikan termasuk bagi anak yang memiliki kebutuhan khusus serta keluarganya. Dalam pelaksanaan pendidikan inklusi, pekerja sosial sekolah memiliki peranan menjadi jembatan bagi anak dengan disabilitas, masyarakat, keluarga, dan pemerintah. Profesi pekerja sosial professional yang masih berkembang di Indonesia menjadi salah satu hambatannya. Tidak banyak orang yang mengetahui apa itu pekerja sosial professional membuat urgensi pekerja sosial di berbagai setting tidak begitu tampak. Hal yang sama terjadi bagi para pekerja sosial sekolah. Pentingnya peran pekerja sosial di sekolah tidak tampak karena hingga saat ini hanya sedikit sekolah yang memiliki pekerja sosial dan banyak sekolah yang tetap melaksanakan “inklusi”-nya tanpa keberadaan pekerja sosial. Sebenarnya dengan melihat begitu pentingnya peran pekerja sosial di sekolah, pelaksanaan pendidikan inklusi akan lebih maksimal dan mengakomodir kebutuhan dan hak para siswa.
DUKUNGAN SOSIAL ORANGTUA TEHADAP ATLET PARALIMPIK PELAJAR TUNA NETRA BERPRESTASI DI KOTA BANDUNG Aditya Rahmat Gunawan; Binahayati Rusyidi; Lenny Meilany
Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol 3, No 3 (2016): Prosiding Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jppm.v3i3.13785

Abstract

Atlet paralimpik pelajar tuna netra adalah seorang penyandang tuna netra yang memiliki potensi dalam bidang olahraga dan memilih menjadi seorang atlet yang tergabung ke dalam naungan National Paralympic Committee Indonesia (NPCI). Di Kota Bandung sendiri, terdapat 11 orang anak penyandang tuna netra yang tergabung menjadi atlet binaan NPCI Kota Bandung. Beragam prestasi pernah mereka dapatkan. Dari lima kali gelaran Pekan Paralimpik Pelajar Daerah (Peparpelda) Jawa Barat, kontingen Kota Bandung berhasil tiga kali merebut predikat sebagai juara umum, dan dua kali menjadi runner-up. Prestasi yang didapatkan tentunya tidak hanya ditentukan oleh faktor fisik seorang atlet saja, akan tetapi terdapat beberapa faktor lain yang mendukung dan menunjang pencapaian prestasi seorang atlet paralimpik pelajar tuna netra. Salah satu faktor yang paling penting dan harus didapatkan oleh para atlet adalah dukungan sosial dari kedua orangtuanya. Karena, orangtua selaku lingkungan sosial pertama yang dimiliki oleh seseorang, memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan dasar seorang anak, baik dari segi kebutuhan dasar psikis, fisik, dan sosialnya. Dengan terpenuhinya dukungan yang diberikan oleh orangtua terhadap anak, maka akan memunculkan perasaan aman, nayaman, dihargai, dan mendapatkan kasih sayang. Hal ini terkait dengan bentuk-bentuk dukungan sosial yang diberikan oleh orang tua terhadap para atlet paralimpik pelajar tuna netra berprestasi di Kota Bandung. Bentuk-bentuk dukungan sosial yang dimaksud adalah dukungan instrumental, dukungan emosional, dukungan informasional, dan dukungan penghargaan. Di tengah stigma negatif yang diterima oleh para penyandang tuna netra, maka dukungan sosial dari orangtua diharapkan memberikan sebuah manfaat secara moril bagi mereka untuk menjalani hidup, dan bahkan bisa berprestasi di bidang-bidang sesuai dengan minat dan bakatnya.
UPAYA PENINGKATKAN KESEJAHTERAAN SOSIAL ANAK JALANAN Tundzirawati Tundzirawati; Binahayati Rusyidi
Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol 2, No 1 (2015): Prosiding Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jppm.v2i1.13231

Abstract

Masalah anak jalanan merupakan hal yang sangat komplek penyebabnya. Setiap tahunnya jumlah anak jalanan selalu meningkat. Anak jalanan adalah anak yang berada dijalanan baik secara terpaksa maupu suka rela berada di jalan baik bekerja maupun tidak bekerja. Penyebab adanya anak jalanan dapat karena kondisi ekonomi, kondisi internal keluarga, lingkungan sosial, bencana, dan lain sebagainya. Semua anak berhak mendapatkan kesejahteraan demi tercapainya masa depan yang gemilang, begitu pula dengan anak jalanan memiliki hak yang sama dengan anak yang lain. kesejahteraan sosial anak adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial anak agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya. Upaya pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan sosial anak di Indonesia adalah dengan adanya Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA)Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA) merupakan pelayanan sosial untuk memenuhi kebutuhan anak meliputi subsidi kebutuhan dasar, aksesibilitas pelayanan sosial, penguatan orang tua/keluarga dan lembaga kesejahteraan sosial. Lembaga kesejahteraan sosial anak yang menyelenggarakan pelayanan kesejahteraan sosial bagi anak jalanan, seperti rumah singgah atau LKSA (Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak).Upaya yang dilakukan pemerinah untuk menanggulangi serta mengurangi jumlah anak jalan yang ada di Indonesia. Dari PKSA (Program Kesejahteraan Sosial Anak) yang didirikan oleh pemerintah adalah upaya pemenuhan/subsidi kebutuhan dasar (akte lahir), pemberian makanan tambahan, memberikan pendidikan, serta memberikan jalan untuk kembali kepada orangtua.
PENDIDIKAN BAGI ANAK TUNA GRAHITA (STUDI KASUS TUNAGRAHITA SEDANG DI SLB N PURWAKARTA) SITI FATIMAH MUTIA SARI; BINAHAYATI BINAHAYATI; BUDI MUHAMMAD TAFTAZANI
Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol 4, No 2 (2017): Prosiding Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jppm.v4i2.14273

Abstract

Anak berkebutuhan khusus merupakan anak yang dilahirkan dengan kebutuhan-kebutuhan khusus yang berbeda dari manusia pada umumnya sehingga membutuhkan pelayanan khusus. Seseorang dengan memiliki hambatan kecerdasan sudah dipastikan bahwa ia adalah penyandang tunagrahita. Anak dengan tunagrahita memiliki kecenderungan kurang peduli terhadap lingkungannya, baik dalam keluarga ataupun lingkungan sekitarnya. Masyarakat pada umumnya mengenal tunagrahita sebagai retardasi mental atau terbelakang mental atau idiot. Menurut Kustawan, D. (2016) merupakan anak yang memiliki inteligensi yang signifkan berada dibawah rata-rata dan disertai dengan ketidakmampuan dalam adaptasi perilaku yang muncul dalam masa perkembangan. Ia juga mengatakan bahwa anak dengan tunagrahita mempunyai hambatan akademik yang sedemikian rupa sehingga dalam layanan pembelajarannya memerlukan modifikasi kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan khususnya. Selaras dengan pendapat Kustawan bahwa anak dengan tunagrahita mempunyai hambatan dalam memproses pembelajaran bagi anak pada umumnya. Meskipun anak tunagrahita memiliki hambatan tersebut, tidak menutup kesempatan untuk menerima pendidikan yang layak dan tepat baik di rumah dan khususnya di sekolah. Agar anak dengan tunagrahita memiliki masa depan yang cerah, sama seperti anak pada umumnya.
PERCEPTIONS OF BENEFICIARY FAMILIES OF INTEGRATED SOCIAL PROTECTION SERVICES IN POVERTY ALLEVIATION THROUGH CENTER OF SOCIAL WELFARE (PUSKESOS) (CASE STUDY OF SABILULUNGAN INTEGRATED SERVICE AND REFERRAL SYSTEM (SLRT) PROGRAM IN BANDUNG REGENCY) Denti Kardeti; Budhi Gunawan; Binahayati Rusyidi; Mira Azzasyofia
Indonesian Journal of Social Work Vol 4 No 1 (2020): August 2020
Publisher : Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31595/ijsw.v4i1.293

Abstract

This study shows the factors that influence integrated social protection services from the perspective of the beneficiaries at integrated and referral system (SLRT) in Bandung Regency. Respondents of this study were 284 beneficiaries of integrated social protection services. This research uses quantitative research methods. The results of this study indicate that center of social welfare (Puskesos) in Bandung Regency have implemented integrated social protection. Beneficiary families also considered that officers were able to provide new information as an effort to solve problems. The existence of Puskesos provides convenience and time effectiveness for beneficiary families due to the one-stop service. This one-stop service proves that there is coordination and communication between related agencies. This collaboration is supported by the commitment of various parties, such as stakeholders in Bandung Regency from local stakeholders at the village level to Puskesos officials themselves. However, in infrastructure aspect, some beneficiary families felt they were not satisfied with infrastructure, such as the comfort when they were about to submit a complaint.
Social Assistance System in Poverty Reduction in Indonesia and the Philippines Liya Yulia; Binahayati Rusyidi; Sri Sulastri
Budapest International Research and Critics Institute-Journal (BIRCI-Journal) Vol 5, No 2 (2022): Budapest International Research and Critics Institute May
Publisher : Budapest International Research and Critics University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/birci.v5i2.4784

Abstract

Poverty is increasing in the midst of the Covid-19 pandemic situation. Southeast Asian countries seek to reduce poverty through various social protection programs. Social protection in Indonesia and the Philippines applies a social assistance approach as a basic aspect of service delivery. This article aims to analyze the social assistance system in Indonesia and the Philippines in tackling poverty. The research method uses a literature study approach obtained from various reliable sources such as reputable journals, books, program reports, electronic media. The results showed that both programs were implemented by means of Conditional Cash Transfer (CCT). The target of the program in Indonesia is more inclusive because the elderly and disabled can be the beneficiaries. Then in the termination of membership, In Indonesia, there is an independent graduation mechanism where the assessment benchmark is based on the economic independence of the beneficiary. Meanwhile in the Philippines, the mechanism for termination of participation is only carried out if the beneficiary does not meet the requirements of the age of the child only.
MEMAHAMI PENGUNGKAPAN KEKERASAN SEKSUAL TERHADAP ANAK (UNDERSTANDING DISCLOSURE OF SEXUAL VIOLENCE AGAINST CHILDREN) Binahayati Rusyidi; Hetty Krisnani
Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial Vol 2, No 2 (2019): Focus: Jurnal Pekerjaan Sosial Desember 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/focus.v2i2.26253

Abstract

Abstrak
PENGEMBANGAN PARIWISATA BERBASIS MASYARAKAT Binahayati Rusyidi; Muhammad Fedryansah
Focus : Jurnal Pekerjaan Sosial Vol 1, No 3 (2018): Fokus: Jurnal Pekerjaan Sosial
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/focus.v1i3.20490

Abstract

Pengembangan pariwisata saat ini mulai menjadi salah satu program unggulan dalam pembangunan daerah. Pembangunan pariwisata tersebut diharapkan mampu memberikan kontribusi terhadap penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan menciptakan lapangan kerja di daerah. Salah satu kabupaten yang memiliki potensi wisata adalah Kabupaten Bangka. Kabupaten Bangka memiliki sumber daya alam yang potensial dan menarik untuk dikembangkan sebagai tujuan wisata seperti kawasan pantai, sumber air panas, peninggalan sejarah, serta kawasan gunung dan perbukitan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan model pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di Kabupaten Bangka terutama di kawasan Pantai Rambak dan Pantai Rebo. Adapun metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan melibatkan 20 orang informan, dengan teknik wawancara mendalam dan focus group discussion. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya model pengembangan pariwisata yang diusulkan dengan menggunakan pendekatan pengembangan masyarakat. Pengembangan pariwisata di kawasan Pantai Rambak dan Pantai Rebo pada dasarnya merupakan potret upaya pengembangan sektor pariwisata di Kabupaten Bangka secara keseluruhan. Kajian ini dilakukan untuk menghasilkan sebuah model alternatif yang dapat diterapkan dalam pengembangan pariwisata di wilayah Kabupaten Bangka. Adapun model pengembangan pariwisata tersebut dapat dilihat dalam beberapa tahapan, antara lain: tahap awal (beginning), tahap pertengahan (middle), dan tahap lanjutan (advanced). Dari ketiga tahapan tersebut, terdapat pergeseran strategi, dari strategi direktif menuju ke strategi non-direktif. Pendekatan direktif merupakan pembentukan budaya pariwisata di masyarakat. Sedangkan pendekatan non-direktif merujuk pada budaya pariwisata yang telah tertanam dalam aktifitas kehidupan masyarakat, serta kesadaran dari masyarakat untuk menjaga keberlangsungan sumber daya alam di sekitarnya. Kedua pendekatan tersebut (direktif dan non-direktif) menekankan pada pelibatan penuh kepada masyarakat dalam proses pengembangan pariwisata.
Co-Authors Adi Fahrudin Aditya Rahmat Gunawan Aditya Rahmat Gunawan, Aditya Rahmat Agus Pratiwi Agus Wahyudi Riana Ahmad Zulfa Styabudi Anis Soraya Anis Soraya, Anis Anjani, Firda Dwi Antik Bintari Astri Yuni Lestari Budhi Gunawan BUDHI WIBHAWA Budhi Wibhawa, Budhi BUDI M TAFTAZANI Budi Muhammad Taftazani Budi Muhammad Taftazani BUDI MUHAMMAD TAFTAZANI Budi Muhammad Taftazani, Budi Muhammad Deni Kurniadi Sunjaya Denny Maulana Pratama Denti Kardeti Dhio Adenansi Dhio Adenansi, Dhio Dodi Nuriana Dwi Rahayu Nurmiati Dwi Rahayu Nurmiati Ermiati Eva Nuriyah Eva Nuriyah Hidayat Eva Nuriyah Hidayat Eva Nuriyah, Eva Firda Dwi Anjani Hery Wibowo HERY WIBOWO Hery Wibowo Hery Wibowo, Hery Hetty Krisnani Ida Widianingsih Indah Permata Darma Indah Permata Darma, Indah Permata Ishartono Ishartono Ishartono Ishartono, Ishartono Jayawarsa, A.A. Ketut Kanya Eka Santi Kharisma, Dinar Kharisma, Dinar Dana Laili Rahayuwati Lenny Meilani Lenny Meilany Lenny Meilany, Lenny Liya Yulia Loho, Albertina N. Mardani Maulana Irfan MAULANA IRFAN Maulana Irfan Maulana Irfan, Maulana Meilani, Lenny Meilanny Budiarti S. Meilanny Budiarti S., Meilanny Budiarti Mira Azzasyofia Misrina Misrina Moch. Zainuddin Moch. Zainuddin, Moch. Muhammad Fedryansah Muhammad Fedryansyah Muhammad Fedryansyah, Muhammad Nandang Mulyana, Nandang Nina Djustiana Nunung Nurwati Nunung Nurwati Nunung Nurwati Nunung Nurwati Nunung Nurwati NURMIATI, Dwi Rahayu Nurul Fadhilah Rezeki Nurul Fadhilah Rezeki, Nurul Fadhilah Permana, Oktia Dwi Pratama, Muhammad Aldy Pristhalia Vernanda Gunawan R. Nunung Nurwati Rahakbaw, Nancy Rahmat Syarif Hidayat Renny Sekarningsih Restuning Widiasih Rusdi Ruslan Halifu Sahadi Humaedi Sahadi Humaedi Sahadi Humaedi Sahadi Humaedi SAHADI HUMAEDI Santoso Tri Rahardjo Santoso Tri Raharjo Santoso Tri Raharjo Santoso Tri Raharjo, Santoso Tri Sari, Citra Windani Mambang SARI, SITI FATIMAH MUTIA Shakilla Dyah Ayu Nadira Shella Adelina Shella Adelina, Shella SITI FATIMAH MUTIA SARI Sri Sulastri TAFTAZANI, BUDI M Tundzirawati Tundzirawati Tundzirawati Tundzirawati, Tundzirawati Tung, Serene En Hui YANA SAFITRI Yana Sundayani Yundari, Yundari Yuningsih, Yuyun Zein, Bhre Kirana Zulhaeni, Zulhaeni