Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

FLOUTING MAXIM OF QUANTITY IN THE CHARACTERS’ DIALOGUES IN “DETECTIVE PIKACHU” MOVIE Desri Lestari; Dadan Firdaus
CALL Vol 3, No 1 (2021): CALL
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/call.v3i1.12838

Abstract

Detective Pikachu movie, a family genre movie, has universal cultural identity across countries even continents which is representative of internationally accepted movies through all ages and culture. Communication between speakers and listeners should fulfill maxims in order to have an effective communication and to avoid misunderstanding. The research uses Grice's theory of the Cooperative Principle in order to describe the communication that happens among the characters in the movie. The purpose of this research is: to find out maxim of quantity flouted in the characters’ dialogue in Detective Pikachu movie and to find out the other characters involved in the dialogue respond to this flouting maxim of quantity. The obtained data were analyzed with descriptive qualitative method. As the findings, there are 30 data flouting maxims of quantity has flouted in the characters dialogue in Detective Pikachu movie. Almost all of the characters in the movie flouted the maxim of quantity. The characters are said to be flouting the maxim of quantity because they are in the dialogue that occurs. They are too much or too little in providing information. When viewed from the comparison of the dialogue in the movie, giving too much information is more often done by the characters than giving too little information. the other hearer responds to the speaker who flouted the maxim of quantity is not to be bothered by this because it is helped by the implicature, insights and experiences of the characters so that the dialogue can still work well. Keywords: Pragmatics; Cooperative Principle; Flouting Maxim 
Existence of Religious Programmes in Analog Platform: A Case Study in Broadcast Media in West Java, Indonesia Mahi M Hkikmat; Dadan Firdaus
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 18, No 2 (2021): Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v18i2.14509

Abstract

Religious programmes are important contents which should be inserted in all programmes in broadcast media. Although broadcasting platform can transform, but the religious programmes still exist. How are existences of the religious programmes in analog platform by the broadcast media? This query is described in a study by using interpretive-subjective approach with qualitative method to examine quantitative data via a case study discovered in broadcast media in West Java, Indonesia. Strategic considerations on urgency of religious programmes in broadcast media are normative mandate of laws which turn into basic characteristics of the citizens, and commitment idealism in carrying out the function of education, but the financial benefits are still lower.
Code Mixing in Cooking Terms on Jesselyn MCI 8’S Tiktok Account in Gourmet with Jess Segment Yulianti, Fitri; Dadan Firdaus; Toneng Listiani
IDEAS: Journal on English Language Teaching and Learning, Linguistics and Literature Vol. 13 No. 1 (2025): IDEAS: Journal on English Language Teaching and Learning, Linguistics and Lite
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24256/ideas.v13i1.6957

Abstract

This study investigates the phenomena of English–Indonesian code mixing in Jesselyn Lauwreen's short-form video material, specifically in her Gourmet With Jess TikTok series. Lauwreen is the winner of MasterChef Indonesia Season 8. The research distinguishes and classifies three linguistic forms—intra-sentential code mixing, intra-lexical code mixing, and code mixing involving pronunciation change—based on Charlotte Hoffman's (1991) typology of code mixing. In order to investigate how English cooking terminology is incorporated into Indonesian narratives, 10 TikTok videos were examined using a qualitative descriptive technique. The results show that the most common technique is intra-sentential code mixing, in which English phrases like "Now aku bakal steam" or "Chinese stir fry beef dengan sayur-sayuran" are included into Indonesian sentence structures to promote conceptual clarity and linguistic flexibility. Additionally common is intra-lexical code mixing, which is demonstrated by hybrid constructions such as "di-marinate," "garnish-nya," and "shred gitu," which show Jesselyn's adaptive linguistic innovation by fusing local grammar conventions with international culinary language. The least common type of code mixing was a change in pronunciation, but it was noticeable in cases like "chicken stock," which is pronounced using Indonesian phonology. This indicates localized accessibility without compromising professional authority. The study emphasizes that code mixing on TikTok is a purposeful decision influenced by audience expectations, platform affordances, and the creation of culinary identities rather than just being a linguistic need. In addition to providing insights into how multilingual influencers use language to negotiate cultural capital, relatability, and expertise in Indonesia's developing digital culinary realm, these findings validate the usefulness of Hoffman's methodology in evaluating multimodal digital discourse.
ILMU TAUHID DALAM TEOLOGI PEMBEBASAN: KAJIAN PEMIKIRAN HASAN HANAFI DAN RELEVANSINYA DI INDONESIA Apsari Eka Putri; Bella Rodhiatammardiyah; Dadan Firdaus
An Najah (Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan) Vol. 4 No. 4 (2025): Juli 2025
Publisher : Najah Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagai pemikir Islam kontemporer, Hasan Hanafi mengembangkan Tawhid tidak hanya sebagai aspek teologis, tetapi juga sebagai dasar untuk keadilan sosial dan pembebasan orang dari penindasan. Ia menegaskan pemahaman Tauhid harus diimplementasikan dalam tindakan konkret yang mendorong individu untuk berkontribusi dalam penciptaan masyarakat yang adil. Di Indonesia, pemikiran Hanafi cukup penting, terutama dalam menangani masalah keadilan sosial, hak asasi manusia, dan ketidakadilan khusus gender. Terlepas dari tantangan kelompok yang mempertahankan pemikiran tradisional, ada kesempatan besar untuk menerapkan ide-ide ini melalui pendidikan dan gerakan sosial. Dengan mengedukasi masyarakat tentang teologi pembebasan, diharapkan generasi muda lebih kritis dan peka terhadap isu-isu sosial dan dapat berkontribusi pada perubahan yang lebih baik. Pemikiran Hanafi dapat menjadi sumber inspirasi bagi gerakan sosial yang berfokus pada keadilan dan kesetaraan di Indonesia
Membedah Metode Edukatif Video ‘Siapa Allah?’ dari Kanal YouTube Yufid Kids: Penyederhanaan Konsep Tauhid Anak Alika Marsya Salsabila; Anisa Triani; Eriska Yani Safitri; Wita Meilina Laura; Dadan Firdaus
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 1 No. 4 (2025): JULI (Edisi Spesial)
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/0a8fvh30

Abstract

Artikel ini mengkaji pendekatan edukatif dalam video “Siapa Allah?” produksi kanal YouTube Yufid Kids sebagai sarana penyederhanaan konsep tauhid untuk anak-anak. Fokus utama penelitian ini adalah menelaah bagaimana narasi, visual, dan interaksi tokoh dalam video tersebut membentuk pemahaman dasar anak tentang ketuhanan. Menggunakan metode deskriptif kualitatif dan analisis isi, penelitian ini menyoroti percakapan antara tokoh anak (Ubay) dan orang tuanya sebagai media penanaman nilai tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah secara halus dan bertahap. Hasil kajian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa sederhana, ilustrasi konkret, dan pendekatan yang hangat dalam dialog memberikan pengaruh signifikan terhadap cara anak memahami Allah sebagai satu-satunya pencipta dan Tuhan yang layak dicintai. Video ini membuktikan bahwa pendidikan tauhid tidak harus disampaikan dengan pendekatan berat dan teoretis, tetapi dapat dikemas secara ringan, menyenangkan, dan tetap bermakna melalui media digital. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pengembangan model pembelajaran tauhid yang lebih kontekstual dan sesuai dengan tahap perkembangan psikologis anak di era digital.
Gerakan Bela Palestina Sebagai Bentuk Kesadaran Global terhadap Penindasan dan Ketidakadilan Muhammad Ihwan Safrudin; Hannifa Rojwa Thalib; Nisa Nuraeni; Kartika Tri Puspita Sari; Sri Nita; Dadan Firdaus
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 1 No. 3 (2025): JUNI-SEPTEMBER 2025
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/2bxme580

Abstract

Gerakan bela Palestina telah berkembang menjadi fenomena lintas negara yang merefleksikan meningkatnya kesadaran global terhadap isu penindasan dan pelanggaran hak asasi manusia. Studi ini bertujuan untuk mengkaji dinamika sosial, politik, dan peran media dalam membentuk solidaritas internasional terhadap Palestina. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan metode studi literatur dan analisis media sosial. Hasil kajian menunjukkan bahwa teknologi digital, khususnya media sosial, berperan penting dalam menyebarkan informasi, membingkai narasi, dan menghubungkan individu serta komunitas dari berbagai wilayah dunia. Isu Palestina tidak lagi dipandang sebatas konflik regional, tetapi telah berubah menjadi simbol perjuangan melawan ketidakadilan global. Kendati demikian, gerakan ini menghadapi tantangan seperti distorsi informasi, tuduhan politisasi, dan fragmentasi wacana yang dapat menghambat efektivitas solidaritas yang dibangun.
Pancasila dan Islam: Sintesis Teologi politik dalam Konteks Keindonesiaan Rizkya Halimatus Sya'diah; Reihan Irsyad Maulana; Dadan Firdaus; Farhan Maulana Trisnadi; Alya Rahmawati; Silvia Syifa Nur Padilah
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 1 No. 3 (2025): JUNI-SEPTEMBER 2025
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/sz9h9535

Abstract

Artikel ini mengkaji sintesis antara Pancasila dan Islam dalam konteks teologi politik di Indonesia. Fokus kajian diarahkan pada pemahaman bahwa hubungan antara Islam dan negara tidak harus diwujudkan melalui bentuk negara Islam secara formalistik, tetapi melalui pendekatan substansialistik yang menekankan nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan keadaban publik yang sejalan dengan ajaran Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka terhadap sumber-sumber historis, karya akademik, dan pemikiran tokoh-tokoh Islam Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah memainkan peran penting dalam memperkuat nilai-nilai Pancasila melalui pendekatan Islam moderat dan inklusif. Selain itu, konsep Islam Nusantara muncul sebagai model teologi politik alternatif yang menekankan pentingnya lokalitas, kebangsaan, dan pluralisme. Sintesis antara Islam dan Pancasila dalam bentuk teologi politik substansialistik terbukti mampu merespons tantangan radikalisme dan mendukung pembangunan politik yang berlandaskan nilai-nilai spiritual dan kebangsaan. Kajian ini menyimpulkan bahwa penguatan diskursus teologi politik substansialistik di ruang publik dan institusi pendidikan sangat penting untuk menjaga keutuhan bangsa dan menjawab tantangan zaman.
Tradisi Ziarah Kubur dalam Masyarakat Indonesia: Antara Kearifan Lokal dan Ancaman Kemurnian Tauhid Sarah Novian Chand; Fadia Raihan Aqrandista; Lintang Asmaradana; Rafi Almas Izzatullah; Dadan Firdaus; Muhammad Rafif Athallah
Jurnal Teologi Islam Vol. 1 No. 2 (2025): NOVEMBER (in progress)
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/s1wsyc14

Abstract

The tradition of grave visitation (ziarah kubur) has long been an integral part of the religious culture of Indonesian Muslims. Islam views this practice as a recommended (sunnah) act to remind believers of death; however, in practice, deviations often occur that potentially undermine the principle of tawhid. These deviations include acts such as seeking blessings, believing in the mystical power of saints’ or scholars’ graves, and performing khurafat rituals. This research aims to describe the practice of ziarah kubur in Indonesia, identify elements that deviate from the principle of tawhid, and offer theological solutions based on Islamic monotheism. Using a qualitative approach and literary. Review method, the research analyzes classical and contemporary Islamic literature. The findings show that deviant practices, such as making requests to the deceased and offering ritual sacrifices, fall under the categories of shirk jali (overt polytheism) and shirk khafi (hidden polytheism), both of which contradict the core tenets of tawhid. These deviations not only affect individual faith but also contribute to the formation of a misguided religious culture in society. Therefore, an educational approach through dakwah (Islamic preaching) is needed, involving both religious and cultural leaders, to ensure that ziarah is carried out wisely—retaining its spiritual value without violating Islamic creed. The limitation of this study lies in its theoretical nature, as it does not include empirical fieldwork. The implication of this research suggests the need for collaboration between religious education and cultural preservation to maintain the practice of ziarah in line with Islamic teachings and guidance
Konsep Tauhid Sosial menurut Amin Rais: Sebuah Tinjauan Teologis Abdul Latief; Radja Fatni Al Fazri; Yanwar Faturrahman; Dadan Firdaus
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 3 No. 1 (2025): Agustus
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v3i1.5357

Abstract

Artikel ini membahas konsep tauhid sosial sebagaimana dikembangkan oleh Amin Rais dalam bukunya Tauhid Sosial: Formula Menggempur Kesenjangan. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis secara teologis pemikiran tersebut dalam kerangka ilmu kalam kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka. Data diperoleh dari teks utama buku Amin Rais serta didukung oleh literatur teologis dari tokoh-tokoh seperti Harun Nasution dan Nurcholish Madjid. Hasil kajian menunjukkan bahwa konsep tauhid sosial menekankan keterkaitan antara keimanan kepada Tuhan dan tanggung jawab sosial umat. Tauhid diposisikan sebagai dasar etika publik yang mendorong partisipasi aktif dalam menegakkan keadilan dan menolak ketimpangan sosial. Dalam perspektif ilmu kalam, gagasan ini merupakan pengembangan rasional terhadap doktrin tauhid, yang tidak hanya membahas aspek metafisik, tetapi juga mengakar dalam realitas sosial. Artikel ini menyimpulkan bahwa tauhid sosial memiliki relevansi kuat dalam konteks Indonesia kontemporer, baik sebagai paradigma teologis maupun sebagai panduan aksi sosial umat Islam.  
Relasi Agama dan Negara: Kajian Teologi Politik Indonesia Alfina Nur Lutfiah; Dadan Firdaus; Farid Nur Fauzan Naufal; Nisfah Nurfatihah; Sabda Maulana
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 1 No. 4 (2025): JULI (Edisi Spesial)
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/gkbtrx51

Abstract

Political theology is an academic approach that explores the relationship between theological thought religious views on God, humanity, and life and the political, social, and economic order. This field of study goes beyond the direct involvement of religion in politics, examining how divine values shape understandings of power, justice, and community life. This article specifically discusses the definition and scope of political theology in the Indonesian context—a nation that integrates religious principles with the national ideology of Pancasila. In Indonesia’s religiously and culturally plural society, political theology has emerged as a dynamic field of dialogue between religious teachings, democratic governance, and contemporary social realities. The article outlines how political theology can serve as both a reflective and critical tool for analyzing public policy, power distribution, and political morality. By elaborating on the core concepts of political theology and linking them to Indonesia’s sociopolitical landscape, this article aims to broaden the academic understanding of religion’s role in public life in a pluralistic nation.