Claim Missing Document
Check
Articles

Representasi Komunikasi Asertif Ayah dan Anak dalam Film Ngeri-Ngeri Sedap (Analisis Semiotika Pierce) Leonardo Leonardo; Suzy Azeharie
Kiwari Vol. 2 No. 4 (2023): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v2i4.27278

Abstract

Film is part of a form of mass communication. The author conducted research on the film Missing Home on Netflix to find out the representation of assertive communication between fathers and children. This film tells the story of a husband and wife, Mr. Domu and his wife who live in a city in North Sumatra which is thick with Bataknese values and their four children who have chosen a way of life that goes against their father's wishes. The signs and gestures of the father figure named Pak Domu will be analyzed based on the semiotics of Charles Sanders Pierce. In this study the authors use conflict theory, face negotiation, assertive communication and Charles Sanders Pierce's semiotics. This research approach is qualitative with descriptive method. The data in this study were obtained through observation of the film, interviews with informants who know Bataknese culture and literature. Seven scenes were selected from the film, which consist of scenes of conflict, negotiation and assertive forms of communication that appear in each scene. The results of the study show that in the film Ngeri- Ngeri Sedap there is a family conflict beginning with Mr. Domu's attitude who forces his will on his four children so that his children and his wife protest and leave the house, then Mr. Domu negotiates by trying to adjust to his children's choices and being open on the differences and assertive communication patterns used by Mr. Domu in resolving his family conflicts. Film merupakan bagian dari bentuk komunikasi massa. Penulis melakukan penelitian pada film Ngeri-Ngeri Sedap di Netflix untuk mengetahui representasi komunikasi asertif antara ayah dan anak. Film ini menceritakan sepasang suami istri, Pak Domu dan istrinya yang tinggal di satu kota di Sumatera Utara yang kental dengan nilai dan adat istiadat Batak dan empat anaknya yang memiliki pilihan jalan hidup yang bertentangan dengan keinginan ayahnya. Tanda dan gestur tokoh ayah yang bernama pak Domu akan dianalisis berdasarkan semiotika Charles Sanders Pierce. Dalam penelitian ini penulis menggunakan teori konflik, negosiasi wajah, komunikasi asertif serta semiotika Charles Sanders Pierce. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif dengan metode deskriptif. Data dalam penelitian ini didapat melalui observasi pada film tersebut, wawancara dengan narasumber yang mengetahui adat istiadat Batak dan studi pustaka. Dari film Ngeri-Ngeri Sedap dipilih tujuh adegan yang terdiri dari adegan konflik, negosiasi dan bentuk komunikasi asertif yang muncul dalam setiap scenenya. Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam film Ngeri-Ngeri Sedap terdapat konflik keluarga diawali dengan sikap pak Domu yang memaksakan kehendak kepada keempat anaknya sehingga anak anaknya juga istrinya protes dan meninggalkan rumah, lalu pak Domu melakukan negosiasi dengan mencoba menyesuaikan diri dengan pilihan anak anaknya serta bersikap terbuka pada perbedaan dan pola komunikasi asertif yang dilakukan pak Domu dalam menyelesaikan konflik keluarganya.
Analisis Semiotika Roland Barthes pada Budaya Jawa dalam Film Inang Marcella, Shellie; Azeharie, Suzy
Kiwari Vol. 3 No. 3 (2024): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v3i3.32028

Abstract

Javanese culture which has been rooted for centuries, is a valuable heritage that continues to be passed on from one generation to the next. To avoid extinction, the Javanese people are committed to preserving and reviving this culture through various means, such as preserving the use of traditional language, maintaining the uniqueness of traditional clothing, and with distinctive ornaments that reflect Javanese identity which is rich in values and traditions. Based on the discussion above regarding Javanese culture, the researcher is interested in discussing aspects of Javanese culture presented in the film Inang. The aim of this research is to understand more deeply how this film represents and penetrates almost forgotten cultural values. In this research, the author uses qualitative research. This method focuses on searching for denotations, connotations and myths related to this phenomenon. The results of the research refer to the four scenes used, that Javanese carvings with Diamond and Floral patterns have the meaning of a religious relationship between God and humans. The Panji Mask was originally used to welcome the birth of a baby at work, but as time progressed, mask dances were almost never performed. Currently, Panji masks are only used as ornaments for Javanese homes with the aim of preserving ancestral heritage. Apart from being used as a sharp weapon, the keris is also a sacred object used in reciting prayers. The Rebo Wekasan ritual has shifted due to changes in lifestyle in Javanese culture. Javanese culture really respects ancestors and cultural heritage. Budaya Jawa yang telah mengakar selama berabad-abad, merupakan warisan berharga yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam upaya untuk menghindari kepunahan, masyarakat Jawa berkomitmen untuk menjaga dan menghidupkan budaya ini melalui berbagai cara, seperti melestarikan penggunaan bahasa tradisional, mempertahankan keunikan pakaian adat, dan ornamen khas yang mencerminkan identitas Jawa yang kaya akan nilai dan tradisi. Berdasarkan pembahasan di atas mengenai budaya Jawa peneliti tertarik untuk membahas aspek budaya Jawa yang dihadirkan dalam film Inang Tujuan penelitian ini adalah untuk lebih mendalam memahami cara film ini merepresentasikan dan meresapi nilai-nilai budaya yang hampir terlupakan, Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian kualitatif. Metode ini berfokus pada denotasi, konotasi, serta mitos terkait fenomena tersebut. Hasil penelitian merujuk pada empat adegan yang digunakan, bahwa ukiran Jawa yang bercorak Wajik dan Floral memiliki makna adanya hubungan religius antara Tuhan dan manusia.Topeng Panji awal mulanya digunakan sebagai penyambutan kelahiran bayi di kerjaan namun seiringnya perkembangan zaman tarian topeng hampir tidak pernah dilakukan. Saat ini topeng Panji hanya sebagai ornamen rumah orang Jawa dengan tujuan tetap melestarikan peninggalan leluhur. Keris selain dijadikan senjata tajam, namun sebagai objek yang sakral digunakan dalam pembacaan doa. Ritual Rebo Wekasan mengalami pergeseran karena perubahan gaya hidup dalam budaya Jawa. budaya jawa sangat menghargai leluhur dan warisan budaya.
Studi Komparasi Konten Tiktok Dokter Tentang Kesehatan (Analisis Konten Tiktok Dokter @tirtacipeng dan @farhanzubedi) Indrawan, Sanrio; Azeharie, Suzy
Prologia Vol. 6 No. 2 (2022): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v6i2.15578

Abstract

With the growing use of technology and social media today. Health professionals also take this opportunity to use the TikTok application as a forum for delivering information about health. Of the various doctors who use TikTok as a channel for disseminating information, there are characteristics or differences of each in the way the information is delivered in the form of content. Therefore, this study wants to examine how the differences in the delivery of messages made between @tirtacipeng and @farhanzubedi in the form of content related to health content. The purpose of the study was to find out the difference in content delivered by doctor Tirta and doctor Farhan Zubedi through a TikTok account. This research was conducted with a qualitative descriptive approach using AIDA theory, through content observation, literature study, and documentation as well as interviews with a doctor's justifier to clarify the truth. The results found that doctor Farhan's content attracts more attention and also gets more responses, compared to Tirta's doctor's content. The main difference can be seen from the delivery of information used by Doctor Farhan dominantly using audiovisual or the use of images with the concept of storytelling to illustrate the situation in accordance with the information being conveyed, while Doctor Tirta is more dominant using verbal in explaining the information and presenting journals, articles, or doctor's references as a reference. proof of the validity of the information. Dengan berkembangnya penggunaan teknologi dan media sosial saat ini. Tenaga ahli kesehatan pun menggunakan kesempatan ini untuk menggunakan aplikasi TikTok sebagai wadah penyampaian informasi tentang kesehatan. Dari berbagai dokter yang menggunakan TikTok sebagai saluran penyebaran informasi, terdapat karakteristik atau perbedaan masing-masing pada cara penyampaian informasinya yang dikemas dalam bentuk konten. Oleh karena itu, penelitian ini ingin mengkaji bagaimana perbedaan penyampaian pesan yang dibuat antara @tirtacipeng dan @farhanzubedi dalam bentuk konten terkait konten kesehatan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui perbedaan konten yang disampaikan oleh dokter Tirta dan dokter Farhan Zubedi melalui akun TikTok. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan deskriptif kualitatif dengan menggunakan teori AIDA, melalui observasi konten, studi pustaka, dan dokumentasi serta wawancara dengan justifikator seorang dokter untuk mengklarifikasi kebenarannya. Hasil yang ditemukan adalah konten dokter Farhan lebih menarik perhatian dan juga lebih mendapatkan banyak respon, dibandingkan dengan konten dokter Tirta. Perbedaan utamanya terlihat dari penyampaian informasi yang digunakan oleh dokter Farhan dominan menggunakan audiovisual atau penggunaan gambar dengan konsep storytelling untuk mengilustrasikan keadaan sesuai dengan informasi yang sedang disampaikan, sedangkan dokter Tirta lebih dominan menggunakan verbal dalam menjelaskan informasinya serta menyajikan jurnal, artikel, atau referensi dokter sebagai bukti kevalidan informasinya.
Pengaplikasian Strategi dan Teknik Komunikasi Persuasif pada Live Shopping TikTok Vimala Yanthi, Valencia; Azeharie, Suzy
Prologia Vol. 8 No. 1 (2024): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v8i1.27656

Abstract

The Covid-19 pandemic has demanded society to adapt to online activities, including economic ones. Electronic commerce (e-commerce) has become a crucial aspect in sustaining economic activities, allowing them to continue even in an online setting.. The utilization of e-commerce has become so popular that it prompted TikTok to introduce features such as TikTok Shop and TikTok Live. These features are used for real-time online buying and selling activities, commonly known as live shopping. The account @louissescarlettfamily engages in live shopping and has successfully set a record for the highest product sales in Southeast Asia. This research aims to understand the persuasive communication strategies and techniques employed by the @louissescarlettfamily account during TikTok live shopping. The study utilizes a qualitative approach and a case study method, drawing on DeFleur and Ball-Rokeach's theory of persuasive communication strategies and Howell's theory of persuasive communication techniques. The findings indicate that the @louissescarlettfamily account employs psychodynamic and meaning construction strategies. The account uses five techniques during TikTok live shopping: transfer, putting it up to you, bandwagon, say it with flowers, and reassurance. Additionally, the research reveals the application of coercive communication by emphasizing time constraints to create urgency and expedite purchase decisions. Pandemi Covid-19 menuntut masyarakat untuk beradaptasi dengan kegiatan secara daring, salah satunya kegiatan ekonomi. Perdagangan elektronik (e-commerce) menjadi aspek penting dalam menjaga kelangsungan aktivitas ekonomi sehingga memungkinkannya tetap berjalan bahkan secara daring. Pemanfaatan e-commerce sangat populer di masyarakat Indonesia sehingga mendorong platform TikTok untuk menghadirkan fitur-fitur seperti Tiktok Shop dan TikTok Live. Kedua fitur ini digunakan untuk kegiatan jual beli online secara real time, yang biasa dikenal dengan live shopping. Akun @louissescarlettfamily aktif melakukan live shopping dan berhasil mencatat rekor penjualan produk terbanyak se-Asia Tenggara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi dan teknik komunikasi persuasif yang dilakukan akun @louissescarlettfamily pada live shopping di TikTok. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus, dengan merujuk pada teori strategi komunikasi persuasif oleh DeFleur dan Ball-Rokeach dan teori teknik komunikasi persuasif oleh Howell. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa akun @louissescarlettfamily menerapkan strategi psikodinamika dan the meaning construction. Akun tersebut menggunakan lima teknik yaitu teknik transfer, putting it up to you, bandwagon, say it with flowers, dan reassurance pada live shopping di TikTok. Selain itu, peneliti juga menemukan adanya penerapan komunikasi koersif dengan menekankan pada keterbatasan waktu untuk menciptakan urgensi dan mempercepat keputusan pembelian.
Komunikasi Persuasif Pesulap Merah dalam Membongkar Trik Sulap dan Dukun (Studi Kasus Siniar Denny Sumargo) Fernando, Luis; Azeharie, Suzy S.
Koneksi Vol. 7 No. 1 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i1.21289

Abstract

Indonesian people have a high interest in mystical culture. The many shamanistic false practices that occur and are spread through the media are very detrimental to the Indonesian people. Marcel Radhival or the Red Magician is famous for his action of exposing shaman and magic tricks in Denny Sumargo's YouTube podcast content. In his action of dismantling the tricks of shamans and magic, he received a lot of criticism from people who claimed to be shamans and had knowledge. The purpose of this study was to find out the persuasive communication of the Red Magician on Denny Sumargo's YouTube podcast content in exposing shaman and magic tricks. The author uses persuasive communication theory which includes persuasive techniques and aspects of persuasive communicator credibility. This research approach is qualitative with a descriptive method to explain the red magician's persuasive communication. The results of this research show that persuasive communication by the Red Magician contains persuasive communication techniques in its delivery, namely, association techniques, integration techniques, reward techniques, fear-inducing techniques, and red-herring techniques. The Red Magician also has a credibility aspect, namely expertise and can be trusted. Masyarakat Indonesia memiliki ketertarikan cukup tinggi pada hal-hal mistis. Banyaknya praktik palsu perdukunan yang terjadi dan disebarkan melalui media sangat merugikan masyarakat Indonesia. Marcel Radhival atau Pesulap Merah terkenal karena aksinya membongkar trik dukun dan sulap di dalam konten podcast YouTube Denny Sumargo. Tindakannya membongkar trikdukun dan sulap mendapat kritik dari orang-orang yang mengaku dirinya dukun dan memiliki ilmu tertentu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui komunikasi persuasif Pesulap Merah pada konten podcast YouTube Denny Sumargo dalam membongkar trik dukun dan sulap. Penulis menggunakan teori komunikasi persuasif yang meliputi teknik persuasif dan aspek kredibilitas komunikator persuasif. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif dengan metode deskriptif untuk menjelaskan komunikasi persuasif Pesulap Merah. Hasil dan penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat komunikasi persuasif yang dilakukan Pesulap Merah di dalam penyampaiannya, yaitu, teknik asosiasi, teknik integrasi, teknik ganjaran, teknik pembangkit rasa takut dan teknik red herring. Pesulap Merah juga memiliki aspek kredibilitas yaitu keahlian dan dapat dipercaya.
Pengungkapan Diri Transgender dalam Drama Korea (Analisis Naratif Itaewon Class) Christa, Vanessa; Azeharie, Suzy S.
Koneksi Vol. 7 No. 1 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i1.21317

Abstract

Transgender is a subculture that exists in society. The presence of transgender people in society is something that cannot be denied and is still a controversial issue because of the notion that transgender is behavior that violates the rules of sex classification. This makes transgender people vulnerable to discrimination and violence, making it difficult for transgender groups to express themselves. Currently, transgender issues are often used in the storyline of a television show. One of the television shows that raises the issue of LGBT, especially transgender in its storyline, is a Korean drama entitled Itaewon Class which carries transgender issues. This Korean drama was released in early 2020 and aired through a streaming media service, namely Netflix. This study aims to determine the self-disclosure process of the character Ma Hyeon Yi in the Korean drama Itaewon Class. The theory used in this study is the self-disclosure theory and the silent group theory. The author collects data by making observations, conducting in-depth interviews with sources, documentation and literature studies. The author conducted research using a qualitative approach method and a narrative analysis method according to Tzvetan Torodov which divides the narrative into three parts, beginning, middle and end plot. In the Korean drama Itaewon Class, Ma Hyeon Yi experiences four levels that measure the depth of self-disclosure, namely clichés, facts, opinions, and feelings. In the process of self-disclosure, Ma Hyeon Yi experienced two obstacles and transgender as a silent group was found in one scene.   Transgender merupakan salah satu subkultur yang ada di tengah masyarakat. Kehadiran transgender dalam masyarakat merupakan hal yang tidak dapat ditolak dan masih menjadi isu kontroversial karena anggapan bahwa transgender merupakan perilaku yang melanggar aturan klasifikasi jenis kelamin. Hal tersebut menyebabkan transgender rentan menghadapi diskriminasi dan kekerasan, sehingga kelompok transgender sulit melakukan pengungkapan diri. Saat ini, isu transgender sering digunakan dalam alur cerita sebuah tayangan televisi. Salah satu tayangan televisi yang mengangkat isu LGBT khususnya transgender dalam alur ceritanya adalah drama Korea berjudul Itaewon Class yang membawa isu transgender. Drama Korea ini rilis pada awal tahun 2020 dan ditayangkan melalui layanan media streaming yaitu Netflix. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pengungkapan diri tokoh Ma Hyeon Yi dalam drama Korea Itaewon Class. Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori pengungkapan diri dan teori kelompok bungkam. Penulis mengumpulkan data dengan melakukan observasi, melakukan wawancara mendalam dengan narasumber, dokumentasi dan studi kepustakaan. Penulis melakukan penelitian dengan metode pendekatan kualitatif dan metode analisis naratif menurut Tzvetan Torodov yang membagi narasi ke dalam tiga bagian alur awal, tengah dan akhir. Dalam drama Korea Itaewon Class, Ma Hyeon Yi mengalami empat tingkatan yang mengukut kedalaman pengungkapan diri yaitu klise, fakta, opini, dan perasaan. Dalam proses pengungkapan diri, Ma Hyeon Yi mengalami dua kendala dan transgendersebagai kelompok bungkam ditemukan pada satu adegan.
Framing Pada Media Daring Kompas.com dan Tempo.co Terhadap Pemberitaan Isu Konsorsium 303 Kasus Ferdy Sambo Adinda, Sheren; Azeharie, Suzy S.
Koneksi Vol. 7 No. 1 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i1.21344

Abstract

Online media is a part of online journalistic products in the form of reporting facts or events that are spread via the internet. This research is to find out the framing carried out by Kompas.com and Tempo.co to see the implementation of the journalistic code of ethics in making news and also to find solutions to restore the public's trust to the police. Reporting on the issue of the 303 consortium in the Ferdy Sambo case. Qualitative research methodology was conducted to collect data obtained through interviews, observations and other information obtained using literature. The analytical method used is the framing analysis method from Robert N. Entman. Several matters related to the two online media support the Indonesian National Police in thoroughly investigating the 303 consortium issue and presenting experts and the police as sources to balance the news. A journalist can serve the right of reply and the right of correction proportionally in accordance with the journalistic code of ethics and high police officer must be brave, committed and firm in taking risks against police officers that broken the rules. Media daring merupakan bagian dari produk jurnalistik daring yang berbentuk pelaporan  fakta atau peristiwa yang disebarkan melalui internet. Penelitian ini untuk mengetahui framing yang dilakukan oleh Kompas.com dan Tempo.co untuk melihat implementasi kode etik jurnalistik dalam membuat berita dan juga mencari tahu solusi dalam mengembalikan kepercayaan publik kepada pihak kepolisian. Pemberitaan mengenai isu konsorsium 303 dalam kasus Ferdy Sambo. Metodologi penelitian kualitatif dilakukan untuk mengumpulkan data-data yang didapat melalui wawancara, observasi serta informasi lain yang didapat dengan menggunakan studi pustaka. Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis framing dari model Robert N. Entman. Beberapa hal terkait kedua media daring mendukung Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam mengusut tuntas isu konsorsium 303 dan menampilkan pakar maupun pihak kepolisian sebagai narasumber untuk membuat berita menjadi seimbang. Seorang wartawan dapat melayani hak jawab dan hak koreksi secara proporsional sesuai dengan kode etik jurnalistik dan para pejabat tinggi kepolisian harus berani, berkomitmen dan tegas dalam mengambil resiko terhadap oknum polisi.
Representasi Stigmatisasi Korea Utara oleh Masyarakat Korea Selatan Melalui Drama Seri Extraordinary Attorney Woo Femisyah, Jazzy Tiara; Azeharie, Suzy
Koneksi Vol. 7 No. 2 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i2.21383

Abstract

The prolonged war between South Korea and North Korea has stigmatised the North Korean community or defectors. It is not uncommon for North Korean defectors who are in South Korea to receive different treatment from local residents. This is also depicted in several Korean drama series, one of which is the sixth episode of Extraordinary Attorney Woo. This research examines the signs contained in several scenes that represent the stigmatisation of North Korean society. This research uses a qualitative approach with discourse analysis as the data collection method. The subject of this research is the sixth episode of Extraordinary Attorney Woo. The representation of stigmatisation of South Korean society towards North Korea as the object is studied with Charles Sander Pierce's semiotics. The results show that the drama series Extraordinary Attorney Woo has signs that can be interpreted into a message associated with mass communication theory with the function of entertainment and cultural transformation. The interpretant in this drama is the stigmatisation of North Korean defectors depicted in several scenes. In addition to interpreting stigmatisation, there is also a deconstruction of meaning illustrated by the defence given by the main character. Perang berkepanjangan yang terjadi antara Korea Selatan dan Korea Utara menimbulkan stigma terhadap masyarakat atau pembelot Korea Utara. Tidak jarang pula pembelot Korea Utara yang berada di Korea Selatan mendapat perlakuan berbeda dari warga setempat. Hal ini juga digambarkan dalam beberapa drama seri Korea, salah satunya drama seri Extraordinary Attorney Woo episode keenam. Penelitian ini mengkaji tanda-tanda yang terdapat dalam beberapa adegan yang merepresentasikan stigmatisasi terhadap masyarakat Korea Utara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis wacana sebagai metode pengumpulan data. Subjek dari penelitian ini adalah drama Extraordinary Attorney Woo episode keenam. Representasi stigmatisasi masyarakat Korea Selatan terhadap Korea Utara sebagai objeknya dikaji dengan semiotika Charles Sander Pierce. Hasil menunjukkan bahwa drama seri Extraordinary Attorney Woo memiliki tanda-tanda yang dapat diinterpretasikan menjadi sebuah pesan yang dikaitkan dengan teori komunikasi massa dengan fungsi hiburan dan transformasi budaya. Interpretant dalam drama ini adalah adanya stigmatisasi terhadap pembelot Korea Utara yang digambarkan dalam beberapa adegan. Selain menginterpretasikan stigmatisasi, juga terdapat dekonstruksi makna yang digambarkan dengan pembelaan yang diberikan pemeran utama.
Representasi Kelas Sosial dalam Film ‘Cinta Laki-Laki Biasa’ Muljono, Andreas Putra; Azeharie, Suzy
Koneksi Vol. 7 No. 2 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i2.21387

Abstract

The grouping of people into social classes is evident in society. Grouping based on material possessions, power, education, and other aspects gives the upper-class privileges in life. Meanwhile, the lower classes have difficulties in obtaining their rights. This issue is also raised in the film 'Cinta Laki-Laki Biasa,’ which represents two different social classes. Films consist of signs that are built in such a way as to represent something. These signs can be analyzed using the semiotic method. The theories used in this research are social class theory, representation, and semiotics. The researcher used a descriptive qualitative approach and used John Fiske's semiotic methodology. The research data was obtained through observation, documentation, and literature study. The results showed that the film 'Cinta Laki-Laki Biasa' accentuates Western and traditional elements to differentiate social classes, the existence of siding with the lower class so that it illustrates criticisms of Indonesia's social conditions related to health facilities and career development that are still difficult for the lower class, and people who often need affirmation of their social class identity. Pengelompokan manusia ke dalam kelas-kelas sosial nampak pada kehidupan bermasyarakat. Pengelompokan berdasarkan kepemilikan materi, kuasa, pendidikan, dan aspek-aspek lainnya membuat kalangan atas memiliki hak-hak istimewa dalam kehidupan. Sementara kalangan bawah justru kesulitan dalam mendapatkan hak-haknya. Isu ini juga diangkat ke dalam karya seni film berjudul ‘Cinta Laki-Laki Biasa’ yang merepresentasikan dua kelas sosial yang berbeda. Film terdiri dari tanda-tanda yang dibangun sedemikian rupa untuk merepresentasikan sesuatu. Tanda-tanda tersebut dapat di analisis dengan menggunakan metode semiotika. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori kelas sosial, representasi, dan semiotika. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan menggunakan metodologi semiotika John Fiske. Data hasil penelitian diperoleh melalui observasi, dokumentasi, dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film ‘Cinta Laki-Laki Biasa’ menonjolkan unsur barat (western) dan tradisional untuk membedakan kelas sosial, adanya keberpihakan pada masyarakat kalangan bawah sehingga menggambarkan kritik-kritik terhadap keadaan sosial Indonesia terkait fasilitas kesehatan dan perkembangan karier yang masih sulit dimiliki masyarakat kalangan bawah, serta masyarakat yang sering kali membutuhkan penegasan pada identitas kelas sosialnya.
Representasi Kritik Sosial dalam Film ‘The White Tiger’ (Analisis Semiotika Roland Barthes) Thorina, Jenifer; Azeharie, Suzy
Koneksi Vol. 7 No. 2 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i2.21393

Abstract

The film is an effective form of mass media to convey messages to a wide audience. Not only are films entertaining, but they also often include hidden messages such as social criticism. 'The White Tiger' is a Netflix film released in 2021. The film, which is set in the country of India, inserts many scenes and narratives that contain criticism of social problems that occur in India. This research uses a qualitative approach with a descriptive method with Roland Barthes semiotic analysis technique. The theories used are mass communication, film as mass media, Roland Barthes semiotics, and representation of social criticism. The purpose of this research is to find out the representation of social criticism in the film 'The White Tiger’. Data collection methods were observation, interview, literature study, and documentation. As a result, film becomes a means of conveying social criticism. In the film 'The White Tiger', the criticisms include the low level of education, the high dropout rate and underage labor, the lack of adequate health facilities, the high social gap, racism, caste, and discrimination against women. Film merupakan salah satu bentuk media massa yang efektif untuk menyampaikan pesan ke khalayak luas. Tidak hanya menghibur, film juga sering kali menyisipkan pesan-pesan tersembunyi seperti kritik sosial. ‘The White Tiger’ merupakan film Netflix yang dirilis pada tahun 2021. Film yang berlatar belakang di negara India ini menyisipkan banyak adegan dan narasi yang berisi kritik tentang masalah sosial yang terjadi di India. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dengan teknik analisis semiotika Roland Barthes. Teori yang digunakan adalah komunikasi massa, film sebagai media massa, semiotika Roland Barthes, dan representasi kritik sosial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui representasi kritik sosial dalam film ‘The White Tiger’. Metode pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, studi kepustakaan, dan dokumentasi. Hasilnya, film menjadi sarana penyampaian kritik sosial. Dalam film ‘The White Tiger’, kritik tersebut antara lain rendahnya tingkat pendidikan, tingginya tingkat putus sekolah dan pekerja di bawah umur, kurang memadainya fasilitas kesehatan, tingginya kesenjangan sosial, rasisme, kasta, dan diskriminasi terhadap perempuan. 
Co-Authors Adinda, Sheren Aldo Aldo Alma Syafiera Anastasia Cahyadi Anastasia Putri Yuniarti Anastasya, Nikita Andilia, Marcella Andy Andy Antony Antony Audrey Andrea Hastan Aulia, Shabila Aureliya Ramadhanti Bernica Irnadianis Ifada Calvin Calvin Chang, Keith Prasethio Chaterine Setiawan Chintia Oktavia Christa, Vanessa Christina Derio, Calvin Dhea Marianti Elvina Marcella Wijaya Enjelly, Enjelly Eric Eric Erlina Sebastian Fatinah Ghiyats Femisyah, Jazzy Tiara Fenika Fenika Fernando, Luis Fitria Ferliana Suryadi Garry Rykiel Helena Helena, Helena Hutama, Victor Huwae, Marchantia Putri Nesya Ian Handani Indrawan, Sanrio Intan Puspitasari Irena, Lydia Irvan Andress Anthony Jeceline Jeceline Jessica Gunawan Jessica Halim Juandi Rusdianto Kambey, Alannys Zefanya Karn Bell Kezia Natalia Sjofjan Leonardo Leonardo Mailinda Mailinda Marcella, Shellie Margareth, Hanna Marlene Sandra Mckanzie, Yoel Mela Cristanty Melina Melina Michael Stefanus Micheal Micheal Mikael Rainer Anggiprana Monica Veronica Muhammad Adi Pribadi Muljono, Andreas Putra Nathania, Metta Nelly Nelly Nigar Pandrianto Nissi, Keizah Noho, Nabir I.B. Novalia Novalia Nurkholis Majid Nurul Khotimah Olivia Junifer Cendana Paramita, Sinta Prameswari, Darlyss Charolina Eva Ratna Sari Puspa Rendy Reynaldo Rezasyah, Teuku Rini Oktaviani Rizki Tanto Wijaya Rizkiana, Talenta Rocki Prasetya Suharso Sandinatha, Alvina Oeyta Shani Dwi Putri Sheren Millennia Wijaya Solagracia, Andreas Stella Sonia Stella Stella Sthevani, Kezia Sukendro, Gregorius Genep Susanto, Veren Tania Tania Theonaldy, Kriston Thommy Thorina, Jenifer Vanessa Junaidi Vanny Novella Vicktor Fadi Vimala Yanthi, Valencia Viona viona, Viona Wensi Wensi Wicaksono, Raihan Zahran Willen Tifvany Wilson Wilson Winardi Aldrian Winoto, Jessica Vallery Wiryana, Febiola Wulan Purnama Sari Yoedtadi, Muhammad Gafar Yola Nahria Mufida Yuliana Yuliana Zeny Zeny