Claim Missing Document
Check
Articles

Restriksi Perempuan untuk Berpolitik Melalui Drama (Studi Kasus Drama Korea Rookie Historian Goo Hae Ryung) Theonaldy, Kriston; Azeharie, Suzy
Koneksi Vol. 7 No. 2 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i2.21433

Abstract

New media is one part of mass media. Netflix is ​​a streaming viewing application and is part of new media. Hallyu wave is Korean culture which is currently popular in many countries. Korean dramas are part of the hallyu wave. On July 17, 2019, Netflix released a Korean drama entitled Rookie Historian Goo Hae Ryung. This drama tells about the struggles of female historians in the Joseon era who experienced restrictions on politics. Historians are part of the Chunchugwan Office in charge of recording activities within the kingdom. This study discusses the forms of restrictions on women's participation in politics during the Joseon dynasty. In this research, the writer uses the silent group theory from Cheris Kramarae. This study uses a qualitative approach with Sara Mills critical discourse analysis Method. The data in this study were obtained through interviews, observations, literature studies, and documentation. The results showed that there were five forms of restrictions on women's participation in politics during the Joseon dynasty era in the Korean drama Rookie Historian Goo Hae Ryung, namely the prohibition of the right to freedom, recognition, exclusion, violence, and verbal abuse. Media baru adalah salah satu bagian media massa. Netflix merupakan aplikasi menonton streaming dan merupakan bagian dari media baru. Hallyu wave adalah budaya Korea yang sedang populer di banyak negara. Drama Korea merupakan bagian dari hallyu wave. Pada 17 Juli 2019, Netflix merilis drama Korea berjudul Rookie Historian Goo Hae Ryung. Drama ini menceritakan tentang perjuangan perempuan sejarawan pada era Joseon yang mengalami pembatasan berpolitik. Sejarawan merupakan bagian dari Kantor Chunchugwan yang bertugas untuk mencatat kegiatan dalam kerajaan. Penelitian ini membahas tentang bentuk pembatasan perempuan untuk berpolitik pada era dinasti Joseon. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teori kelompok terbungkam dari Cheris Kramarae. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis wacana kritis Sara Mills. Data dalam penelitian ini didapatkan melalui hasil wawancara, observasi, studi pustaka, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan ada lima bentuk pembatasan perempuan untuk berpolitik pada era dinasti Joseon dalam drama Korea Rookie Historian Goo Hae Ryung, yaitu pelarangan hak kebebasan, pengakuan, pengecualian, kekerasan, dan pelecehan verbal.
Komunikasi Ritual Sembahyang Rebut bagi Etnis Cina di Kecamatan Parittiga Bangka Barat Enjelly, Enjelly; Azeharie, Suzy
Koneksi Vol. 8 No. 1 (2024): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v8i1.27573

Abstract

Prayer is a religious activity carried out consciously to establish a relationship with the creator of the form of prayer. In religious traditions, prayer is associated with a ritualistic nature as a form of human communication with the Creator. One of the Chinese ethnic prayer celebrations in West Bangka, especially Parittiga subdistrict, is the Rebut Prayer Celebration. Sembahyang Rebut is a celebratory ritual to honor ancestral spirits which is held every 15th of the seventh month in the lunar calendar. During the Sembahyang Sebut celebration, many ethnic Chinese call this ritual the ghost moon festival or Chit Ngiat Pan, where it is believed that the spirits of ancestors return to the human world. The aim of this research is to find out how the ritual process of the Sembahyang Rebut celebration is and what symbolic meaning is contained in the Sembahyang Rebut celebration. The theory used in this research is the theory of ritual communication and symbolic meaning. The research method used is a descriptive qualitative phenomenology approach. The data that will be described was obtained from interviews with three sources. The conclusion of this research is that the Rebut Prayer Celebration is a tradition passed down from generation to generation which has the form of a symbol of balance with the intention of giving and receiving, which means that if we freely pay respects to the spirits of ancestors and others, we will receive blessings and good fortune. Sembahyang adalah kegiatan keagamaan yang dilakukan secara sadar guna menjalin hubungan dengan sang pencipta berbentuk doa. Dalam tradisi keagamaan, sembahyang dikaitkan dengan sifat ritualistik sebagai bentuk komunikasi manusia kepada sang pencipta. Salah satu perayaan sembahyang bagi etnis Tionghoa di Bangka Barat khususnya kecamatan Parittiga adalah perayaan Sembahyang Rebut. Sembahyang Rebut adalah ritual perayaan untuk menghormati arwah leluhur yang diadakan setiap tanggal 15 bulan tujuh dalam penanggalan kalender lunar. Dalam perayaan Sembahyang Rebut banyak etnis Tionghoa yang menyebut ritual ini sebagai festival bulan hantu atau Chit Ngiat Pan yang dipercayai bahwa arwah leluhur akan kembali ke alam manusia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana proses ritual perayaan Sembahyang Rebut dan apa makna simbolik yang terkandung dalam perayaan Sembahyang Rebut. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi ritual dan makna simbolik. Metode penelitian yang digunakan adalah fenomenologi pendekatan kualitatif deskriptif. Data diperoleh dari hasil wawancara dengan tiga narasumber. Penelitian menemukan bahwa Perayaan Sembahyang Rebut merupakan tradisi turun temurun yang memiliki bentuk simbol keseimbangan dengan maksud memberi dan menerima yang artinya adalah apabila kita dengan lapang hati memberi penghormatan kepada arwah leluhur dan lainnya maka kita akan menerima berkah dan rezeki yang lancar.
Mask Girl: Wacana Kritis Sara Mills terhadap Kecantikan Perempuan yang Terstandarisasi Helena, Helena; Azeharie, Suzy
Koneksi Vol. 8 No. 2 (2024): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v8i2.27610

Abstract

Korean drama is one of the Korean wave outputs that is increasingly popular around the world. One of the Korean dramas that has recently become a topic of discussion among the public is Mask Girl. This drama tells the story of a talented woman who, since childhood, has been treated badly by her environment because of her physical appearance, which is considered not in accordance with South Korean beauty standards. This research aims to find out how female beauty is standardized and constructed by Korean society. With a qualitative approach to phenomenological methods, this study is analyzed using Sara Mills' critical discourse analysis with a focus on the position of subjects-objects and viewers through three main points: scenes, characters, and dialogues. The researcher interviewed one South Korean citizen, one Indonesian citizen living in South Korea, a watcher of the drama Mask Girl, and two female experts. The result of this research is that female beauty is still standardized and constructed by society. Women are called beautiful if they have a small face, double eyelids, a sharp nose, white skin, red/pink lips, and attractive breast size. As a result of the standardized beauty and construction by society, there is appearance discrimination and injustice in society. Drama Korea merupakan salah satu hasil dari Korean wave yang semakin populer di seluruh dunia. Salah satu drama Korea yang menjadi topik perbincangan di kalangan masyarakat adalah drama Mask Girl. Drama ini menceritakan mengenai seorang perempuan berbakat bernama Kim Mo Mi yang sejak kecil menerima perlakuan buruk oleh lingkungan sekitar karena penampilan fisiknya yang dianggap tidak sesuai dengan standar kecantikan Korea Selatan. Penelitian ini ingin mengetahui dan menujukkan bagaimana kecantikan seorang perempuan distandarisasi dan dikonstruksikan oleh masyarakat Korea. Dengan pendekatan kualitatif metode fenomenologi, analisis wacana kritis Sara Mills digunakan sebagai teknik analisis data dengan fokus pada posisi subjek-objek dan penonton melalui tiga poin utama yaitu adegan, karakter dan dialog. Penulis mewawancarai satu warga Korea Selatan, satu warga Indonesia yang tinggal di Korea Selatan, penonton drama Mask Girl dan dua ahli kajian media kritis. Hasil dari penelitian ini adalah kecantikan perempuan sampai saat ini masih terstandarisasi dan dikonstruksi oleh masyarakat. Perempuan dianggap cantik jika memiliki wajah yang mungil, kelopak mata ganda, hidung mancung, kulit putih, bibir berwarna merah atau merah muda dan tubuh yang langsing dengan ukuran payudara yang menarik. Akibat kecantikan yang terstandarisasi oleh masyarakat tersebut, terjadilah diskriminasi penampilan dan ketidakadilan yang dialami oleh perempuan yang tidak memenuhi standar kecantikan dalam kehidupan bermasyarakat.
Komunikasi Lintas Budaya di Gereja Katolik Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran Yogyakarta Prameswari, Darlyss Charolina Eva; Azeharie, Suzy
Koneksi Vol. 8 No. 2 (2024): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v8i2.27626

Abstract

Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran Catholic Church (HKTY Ganjuran Church) is a Catholic church located in Ganjuran Hamlet, Sumbermulyo Village, Bambanglipuro Sub-district, Bantul, Yogyakarta, which is part of the Archdiocese of Semarang. The church is designated as a cultural heritage site due to its strong connection to Javanese culture and historical value. This research aims to explore the acculturation that occurs between Javanese culture and the Catholic Church through cross-cultural communication at the HKTY Ganjuran Church and to identify the forms of Javanese cultural acculturation that take place at the HKTY Ganjuran Church. The theoretical frameworks employed in this study are integrative communication theory and cultural acculturation theory. The research adopts a qualitative descriptive approach with an ethnographic method. Data is collected through interviews, observations, documentation, literature reviews, and online data searches. The conclusion of this research is that Javanese cultural acculturation at the HKTY Ganjuran Church occurs through cross-cultural communication and cultural adaptation processes facilitated by integrative communication influenced by personal communication factors, host social communication, and the environment. The acculturation model in the HKTY Ganjuran Church involves integration with various forms of acculturation between Javanese culture and the Catholic Church, encompassing language, arts, customs, as well as the church's architecture and ornaments. Gereja Katolik Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran (Gereja HKTY Ganjuran) merupakan gereja Katolik yang berlokasi di Dusun Ganjuran, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Bantul, Yogyakarta yang merupakan bagian dari Keuskupan Agung Semarang. Gereja tersebut dijadikan sebagai salah satu cagar budaya karena lekat akan kebudayaan Jawa serta memiliki nilai historis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui akulturasi yang terjadi pada budaya Jawa dengan Gereja Katolik karena komunikasi lintas budaya yang terjadi di Gereja HKTY Ganjuran dan untuk mengetahui bentuk-bentuk akulturasi budaya Jawa yang terjadi pada Gereja HKTY Ganjuran. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Integrative Communication Theory dan Teori Akulturasi Budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode etnografi. Data penelitian diperoleh melalui wawancara, observasi, dokumentasi, studi pustaka dan penelusuran data online. Kesimpulan dari penelitian ini adalah akulturasi budaya Jawa di Gereja HKTY Ganjuran dapat terjadi karena terjalinnya komunikasi lintas budaya melalui proses adaptasi budaya melalui integrative communication yang dipengaruhi oleh faktor personal communication, host social communication dan environment. Model akulturasi yang terjadi di Gereja HKTY Ganjuran adalah integrasi dengan bentuk-bentuk akulturasi antara budaya Jawa dan gereja Katolik yang meliputi bahasa, kesenian, adat istiadat serta bangunan dan ornamen gereja.
Analisis Semiotika Roland Barthes dalam Komunikasi Koersid Ibu pada Anak dalam Drama Korea The Good Bad Mother Viona, Viona; Azeharie, Suzy
Koneksi Vol. 8 No. 2 (2024): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v8i2.27644

Abstract

Korean dramas are television dramas produced in South Korea in short series film format that tell stories of human life. Korean dramas can be accessed via paid online streaming platforms, one of which is Netflix, which makes it easy for users to watch television shows and films from various corners of the world. Netflix presents a Korean drama entitled The Good Bad Mother which tells the story of the relationship between mother and child as the main theme. In the drama there is a single mother who takes care of and raises her child alone. A mother who has a harsh educational style is different from other parents and chooses to be a bad mother to her child. Thanks to discipline, the child finally succeeded in becoming a prosecutor who was respected by many people because he had an indifferent and cold personality. This study aims to know and describe the representation of coercive communication that occurs between mother and child in the Korean drama The Good Bad Mother supported by coercive communication theory and descriptive qualitative research approach using Roland Barthes' semiotic analysis method which consists of three components, namely denotation, connotation and myth. This study produced findings in the form of signs and meanings depicted through coercive communication scenes in the Korean drama The Good Bad Mother. Drama Korea merupakan drama televisi yang di produksi Korea Selatan dalam format film seri pendek yang mengangkat kisah-kisah kehidupan manusia. Drama Korea dapat diakses melalui platfrom streaming online berbayar salah satunya yaitu Netflix, yang memudahkan penggunanya menonton acara televisi dan film dari berbagai penjuru dunia. Netflix menghadirkan salah satu drama korea yang berjudul The Good Bad Mother yang menceritakan tentang hubungan ibu dan anak sebagai tema utamanya. Dalam drama tersebut ada seorang ibu tunggal yang merawat dan membesarkan anaknya seorang diri. Seorang ibu yang memiliki gaya mendidik yang keras berbeda dengan orang tua lainnya dan memilih menjadi ibu yang buruk kepada anaknya. Berkat dari didikan disiplin, akhirnya anak sukses menjadi seorang jaksa yang disegani banyak orang karena memiliki kepribadian yang cuek dan dingin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan representasi komunikasi koersif yang terjadi antara ibu dan anak dalam drama korea The Good Bad Mother didukung dengan Teori Komunikasi Koersif dan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif menggunakan metode analisis semiotika Roland Barthes yang terdiri dari tiga komponen yaitu denotasi, konotasi dan mitos. Penelitian ini menghasilkan temuan berupa tanda dan makna yang digambarkan melalui adegan-adegan komunikasi koersif dalam drama korea The Good Bad Mother.
Studi Semiotika Kelas Sosial Masyarakat Korea Utara dalam Serial Crash Landing On You Nathania, Metta; Azeharie, Suzy
Koneksi Vol. 8 No. 1 (2024): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v8i1.27646

Abstract

This research was motivated by the popularity of Korean dramas in Indonesia. This research aimed to determine: 1) the representation of social class in North Korea in the Crash Landing on You series; 2) the elements of signs, objects, and interpretants about social class in the Crash Landing on You series. This research uses a qualitative approach and discourse analysis methods. The research subject is the Crash Landing on You series, and the research object is the social class representation. This research used Karl Marx's social class theory. The data collection method used primary and secondary data. Researchers interviewed two South Korean citizens, one Indonesian citizen living in South Korea, and a sociologist as a triangulator. The data analysis technique used Charles Sanders Peirce's semiotic and Miles and Huberman’s data analysis stages. The results showed that the representation of social class is shown through employment, income, and education indicators. The upper social class has better access to various fields, while the lower social class has limited access to government facilities, work, and education. The analysis results of the sign, object, and interpretant elements show contrasting differences between the upper and lower social classes in the Crash Landing on You series.   Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kepopuleran drama Korea di Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengetahui: 1) representasi kelas sosial pada masyarakat Korea Utara dalam serial Crash Landing on You; 2) elemen sign, object dan interpretant tentang kelas sosial dalam serial Crash Landing on You. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode analisis wacana. Subjek penelitian yaitu serial Crash Landing on You dan objek penelitian yaitu representasi kelas sosial. Kelas sosial dalam penelitian ini dianalisis menggunakan teori kelas sosial Karl Marx. Metode pengumpulan data menggunakan data primer dan data sekunder. Peneliti mewawancarai dua warga Korea Selatan, satu warga Indonesia yang tinggal di Korea Selatan, dan sosiolog sebagai triangulator. Teknik analisis data menggunakan kajian semiotika Charles Sanders Peirce yang memuat sign, object dan interpretant serta tahapan analisis data Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi kelas sosial pada masyarakat Korea Utara dalam serial Crash Landing on You ditampilkan melalui indikator pekerjaan, pendapatan dan pendidikan. Kelas sosial atas memiliki akses yang lebih baik dalam berbagai bidang, sedangkan kelas sosial bawah memiliki keterbatasan akses terhadap fasilitas pemerintah, pekerjaan, dan pendidikan. Analisis pada elemen sign, object, dan interpretant menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang kontras antara kelas sosial atas dan bawah dalam serial Crash Landing on You.
Konstruksi Realitas Feminisme dalam Film Barbie (Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce) Wiryana, Febiola; Azeharie, Suzy
Koneksi Vol. 8 No. 2 (2024): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v8i2.27664

Abstract

This study aims to determine the process of communication accommodation by students in establishing friendship relationships. This research is motivated by the difficulty that Barbie is the first live-action film resulting from the adaptation of the legendary doll character of the Mattel company produced by Warner Bros and directed by Greta Gerwig. The movie tells the life story of Barbie and her adventures in the real world. Barbie is more than just a doll. It represents fashion trends and female beauty. Barbie symbolizes strength, diversity, and breaking stereotypes. The Barbie movie inserts several social ideologies, such as feminism and patriarchy. This research aims to describe the meaning and construction of the reality of feminism in the Barbie movie through the concepts of mass communication, reality construction, and feminism. This research uses Charles Sanders Peirce's semiotic analysis method, which is based on three main components: sign, object, and interpretant. The research found that there is a form of feminism that is built, gender discrimination against women depicted through scenes in the Barbie movie. The issue of feminism constructed in this movie does not disappear if the patriarchal system still dominates women. Feminism is an issue that continues to be fought for by feminist groups in developed and developing countries such as Indonesia. Barbie merupakan film aksi langsung pertama hasil dari adaptasi karakter boneka legendaris perusahaan Mattel yang diproduksi oleh Warner Bros dan disutradarai oleh Greta Gerwig. Film ini menceritakan kisah hidup para Barbie dan petualangannya di dunia nyata. Barbie lebih dari sekadar sebuah boneka yang merepresentasikan tren mode dan kecantikan perempuan. Barbie melambangkan kekuatan, keberagaman, dan mematahkan stereotip. Film Barbie menyisipkan ideologi sosial seperti feminisme dan patriarki. Penelitian ini menggambarkan makna dan konstruksi realitas feminisme dalam film Barbie melalui konsep komunikasi massa, konstruksi realitas, feminisme. Metode analisis semiotika Charles Sanders Peirce digunakan dengan tiga komponen utama yaitu tanda, objek, dan interpretan. Penelitian menemukan bentuk-bentuk feminisme yang dibangun, diskriminasi gender terhadap perempuan yang digambarkan melalui adegan-adegan dalam film Barbie. Isu feminisme yang dikonstruksi dalam film ini tidak hilang apabila sistem patriarki masih mendominasi perempuan. Feminisme menjadi isu yang terus diperjuangkan oleh kelompok feminis di negara maju maupun negara berkembang seperti Indonesia.
Penyingkapan Diri Ibas Yudhoyono Dalam Instagram Dan Reaksi Ani Yudhoyono Terhadap Postingan Instagram Ibas Suzy Azeharie; Wulan Purnama Sari
Jurnal Komunikasi Vol. 7 No. 1 (2015): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v7i1.11

Abstract

AbstrackEdy Baskoro Yudhoyono’s or well known as Ibas is the youngest son of the former President SBY and currently active as a politician for Democratic Party and member of Parliament. Thus it is important for Ibas as a political actor to do self-disclosure and convey political messages through his social media accounts. The main object of this paper is Ibas’s post in his Instagram account as a media for unveiling himself. This paper will also discuss about Mrs. Ani Yudhoyono or Ibas’s mother, the former first lady, in given response and reaction on the Ibas’s post. Methodology used for data collection in this paper is content analysis. The results of the content analysis show that Ibas was frequently post pictures of his family than his political activities. Moreover Ibas himself never respond to all incoming comments from his followers. Eventhough it was positive comments. Surprisingly, reaction and response was given by Mrs. Ani Yudhoyono. In many of Ibas’s post, Mrs. Ani Yudhoyono was sharp and yet keen on responding to the comments coming from Ibas’s followers. Mrs. Ani Yudhoyono response was often received disapproval and negative comments from other followers, because to their concern Mrs. Ani Yudhoyono was not using the right grammar of English and this eventually led to a hot debate between fellow follower's comments. The final conclusion that can be obtained is Ibas did not make his Instagram account as a media unveiling herself but only using his account as a medium for sharing photos. Which appear to be more active in doing communication and self-disclosure is Mrs. Ani Yudhoyono herself.AbstrakEdy Baskoro Yudhoyono atau lebih dikenal dengan nama Ibas merupakan putra bungsu dari mantan presiden SBY dan saat ini aktif sebagai politikus Partai Demokrat dan juga anggota DPR RI. fokus utama dalam penelitian ini adalah postingan Ibas dalam akun instagramnya yang merupakan sarana untuk penyingkapan dirinya, serta bagaimana reaksi Ibu Ani Yudhoyono mengenai postingan-postingan Ibas tersebut. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis isi. Berdasarkan hasil analisis isi yang dilakukan diperoleh hasil bahwa Ibas lebih sering melakukan posting tentang keluarganya daripada mengenai kegiatan politiknya. Selain itu Ibas tidak pernah sekalipun merespon semua komentar yang masuk dari para follower-nya, baik itu komentar baik ataupun mencela. Respon aktif justru diberikan oleh Ibu Ani. Ibu Ani memberikan komentar dalam bahasa inggris untuk merespon komentar-komentar yang masuk kedalam postingan Ibas. Respon Ibu Ani ini seringkali mendapat celaan dari para follower lainnya, karena dianggap tidak sesuai dengan tata bahasa inggris dan pada akhirnya berujung pada perang komentar antar sesama follower. Kesimpulan akhir yang dapat diperoleh adalah Ibas tidak menjadikan akun instagram sebagai media penyingkapan dirinya, instragram hanya digunakan Ibas sebagai media untuk berbagi foto, dan yang tampak aktif melakukan komunikasi dan penyingkapan diri adalah Ibu Ani. 
Pola Komunikasi Antara Pedagang dan Pembeli di Desa Pare, Kampung Inggris Kediri Suzy Azeharie
Jurnal Komunikasi Vol. 7 No. 2 (2015): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v7i2.19

Abstract

AbstractThis study will examine the patterns of communication used between merchants with shoppers, teachers and students, as well as in rural communities or village English Pare Kediri regency in East Java. Methodology used is a qualitative methodology with data collection through interviews, direct observation Pare village, and through the study of literature. The theories used are the theory of verbal and nonverbal communication, interpersonal communication, the theory of acculturation and assimilation of culture. The conclusion from this study is the communication patterns merchants with shoppers, teachers and students, as well as in rural communities Pare take place in the primary, which means face to face and in English. Basic English Course in operation since 1976 turned out to be a big impact in the lives of people in the village, such changes include the shift of the livelihoods of residents who are traditionally farmers have become the owner of an English language course, rent boarding houses, kiosks drinks and food, open rental bike, copy, etc.AbstrakPenelitian ini akan mengupas mengenai pola komunikasi yang digunakan antara pedagang dengan pembeli, guru dengan siswa, serta komunitas masyarakat di desa Pare atau kampung Inggris Kabupaten Kediri Jawa Timur. Metodelogi yang digunakan adalah metodologi kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi langsung ke desa Pare, dan melalui studi literatur. Teori-teori yang digunakan adalah teori komunikasi verbal dan non verbal, komunikasi interpersonal, teori akulturasi dan asimilasi budaya. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pola komunikasi pedagang dengan pembeli, guru dengan siswa, serta komunitas masyarakat di desa Pare berlangsung secara primer, artinya bertatap muka dan menggunakan bahasa Inggris. Basic English Course yang beroperasi sejak tahun 1976 ternyata membawa pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat di desa tersebut, perubahan tersebut antara lain beralihnya mata pencaharian penduduk yang secara tradisional adalah petani menjadi pemilik kursus bahasa Inggris, menyewakan rumah kos, membuka warung minuman dan makanan, membuka rental sepeda, fotocopy, dll. 
Analisis Penggunaan Twitter Sebagai Media Komunikasi Selebritis Di Jakarta Suzy Azeharie
Jurnal Komunikasi Vol. 6 No. 2 (2014): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v6i2.35

Abstract

Abstract: This study discusses the use of twitter as a medium of communication that do celebrities in Jakarta, Indra Aziz, Pongki Barata and kerispatih. The support of the fans means a lot to all three top celebrities in order to continue working in the entertainment industry. Communication is the key to self-publish to the public in order to gain support for their new works. Twitter is one of the medium used to communicate with fans. Therefore the aim of this study was to determine the reason and purpose of twitter as a communication media celebrities. This research uses descriptive qualitative research method, using mass communication theory, uses and gratification models, new media, social media celebrities and theories of Public Relations on the Internet. The results of the analysis showed that the reason Indra Aziz, Pongki Barata and Kerispatih chose twitter as penggunaannnya easier when compared to other social media. The use of twitter is considered very effective because the celebrities can convey all the information they want to convey to the people, especially their fans, in a wide range of deployment messages with easy and fast.Abstrak: Penelitian ini membahas penggunaan twitter sebagai media komunikasi yang dilakukan selebritis di Jakarta yaitu Indra Aziz, Pongki Barata dan kerispatih. Dukungan dari penggemar amat berarti bagi ketiga selebritis di atas agar dapat terus berkarya di industri hiburan. Komunikasi menjadi kunci untuk mempublikasikan diri kepada masyarakat guna meraih dukungan terhadap karya karya mereka. Twitter merupakan salah satu media yang digunakan untuk berkomunikasi dengan penggemar. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui alasan serta kegunaan twitter sebagai media komunikasi selebritis. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif, dengan menggunakan teori komunikasi massa, uses and gratification model, new media, media sosial selebritis dan teori Public Relations on Internet. Hasil analisis menunjukan bahwa alasan Indra Aziz, Pongki Barata dan Kerispatih memilih twitter karena penggunaannnya lebih mudah jika dibandingkan dengan media sosial lainnya. Penggunaan twitter dinilai sangat efektif karena para selebritis dapat menyampaikan segala informasi yang ingin mereka sampaikan kepada masyarakat, khususnya penggemar mereka, dalam jangkauan penyebaran pesan yang luas dengan mudah dan cepat. 
Co-Authors Adinda, Sheren Aldo Aldo Alma Syafiera Anastasia Cahyadi Anastasia Putri Yuniarti Anastasya, Nikita Andilia, Marcella Andy Andy Antony Antony Audrey Andrea Hastan Aulia, Shabila Aureliya Ramadhanti Bernica Irnadianis Ifada Calvin Calvin Chang, Keith Prasethio Chaterine Setiawan Chintia Oktavia Christa, Vanessa Christina Derio, Calvin Dhea Marianti Elvina Marcella Wijaya Enjelly, Enjelly Eric Eric Erlina Sebastian Fatinah Ghiyats Femisyah, Jazzy Tiara Fenika Fenika Fernando, Luis Fitria Ferliana Suryadi Garry Rykiel Helena Helena, Helena Hutama, Victor Huwae, Marchantia Putri Nesya Ian Handani Indrawan, Sanrio Intan Puspitasari Irena, Lydia Irvan Andress Anthony Jeceline Jeceline Jessica Gunawan Jessica Halim Juandi Rusdianto Kambey, Alannys Zefanya Karn Bell Kezia Natalia Sjofjan Leonardo Leonardo Mailinda Mailinda Marcella, Shellie Margareth, Hanna Marlene Sandra Mckanzie, Yoel Mela Cristanty Melina Melina Michael Stefanus Micheal Micheal Mikael Rainer Anggiprana Monica Veronica Muhammad Adi Pribadi Muljono, Andreas Putra Nathania, Metta Nelly Nelly Nigar Pandrianto Nissi, Keizah Noho, Nabir I.B. Novalia Novalia Nurkholis Majid Nurul Khotimah Olivia Junifer Cendana Paramita, Sinta Prameswari, Darlyss Charolina Eva Ratna Sari Puspa Rendy Reynaldo Rezasyah, Teuku Rini Oktaviani Rizki Tanto Wijaya Rizkiana, Talenta Rocki Prasetya Suharso Sandinatha, Alvina Oeyta Shani Dwi Putri Sheren Millennia Wijaya Solagracia, Andreas Stella Sonia Stella Stella Sthevani, Kezia Sukendro, Gregorius Genep Susanto, Veren Tania Tania Theonaldy, Kriston Thommy Thorina, Jenifer Vanessa Junaidi Vanny Novella Vicktor Fadi Vimala Yanthi, Valencia Viona viona, Viona Wensi Wensi Wicaksono, Raihan Zahran Willen Tifvany Wilson Wilson Winardi Aldrian Winoto, Jessica Vallery Wiryana, Febiola Wulan Purnama Sari Yoedtadi, Muhammad Gafar Yola Nahria Mufida Yuliana Yuliana Zeny Zeny