Claim Missing Document
Check
Articles

OPTIMALISASI PERAN PERAWAT PUSKESMAS DALAM PELAYANAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA PADA MASA PANDEMI COVID 19 MELALUI PROGRAM PELATIHAN COMMUNITY MENTAL HEALTH NURSING (CMHN) Reni Nuryani; Dewi Dolifah; Ayu Prameswari Kusuma Astuti; Popi Sopiah; Sri Wulan Lindasari
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 4 (2022): Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v5i4.1276-1285

Abstract

Pandemi COVID-19 berdampak terhadap kesehatan jiwa masyarakat seperti mengalami perubahan reaksi emosional berupa ketakutan akan penularan, perasaan stigmatisasi, kesepian, kebosanan, kemarahan, kegelisahan, kecemasan dan rasa ketidakpastian. Semakin seseorang merasa cemas yang berlebihan maka kekebalan tubuh  menurun dan bila tidak segera diatasi akan berdampak terjadinya masalah kesehatan jiwa yang lebih berat sehingga diperlukan upaya promosi, pencegahan, pengobatan dan rehabilitasi secara menyeluruh untuk mempertahankan kesehatan jiwa melalui pelayanan kesehatan jiwa masyarakat oleh perawat puskesmas sebagai pemberi pelayanan primer. Kualitas pengetahuan dan keterampilan perawat dalam menjalankan peran perawat pemegang program kesehatan jiwa dapat menentukan keberhasilan pelayanan kesehatan jiwa di masayrakat sehingga perlu dilakukan pelatihan tentang peran perawat dalam pelayanan keperawatan kesehatan jiwa yang berbasis masyarakat. Kegiatan pengabdian kepada msyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan perawat puskesmas dalam memberikan pelayanan keperawatan kesehatan jiwa berbasis komunitas yang meliputi: kemampuan manajemen pelayanan keperawatan kesehatan jiwa komunitas dan pemberian asuhan keperawatan kesehatan jiwa komunitas pada masa pandemik Covid 19. Metodelogi yang digunakan yaitu pelatihan dan pendampingan dengan pendekatan model Community Mental Health Nursing (CMHN), dilakukan dengan cara daring selama 2 hari dan 1 hari pendampingan praktek lapangan dengan luring kepada 36 perawat pemegang program kesehatan jiwa Se-Kabupaten Sumedang serta dilakukan 3 kali monitoring dan evaluasi. Hasil yang ditemukan dalam kegiatan ini terlaksananya kegiatan pelatihan dan pendampingan CMHN pada perawat puskesmas, adanya peningkatan pengetahuan dengan rata-rata skor 20 dan kemampuan perawat puskesmas dalam melakukan manajemen pelayanan kesehatan jiwa sebesar 25. Perawat dapat menerapkan program CMHN.
Strengthening Mental Health Literacy and Emotional Regulation among Elementary School Children through the SEHATI Program Sri Wulan Lindasari; Reni Nuryani; Nunung Siti Sukaesih; Ria Inriyana; Heri Ridwan; Putri Kamilah
Jurnal Medika: Medika in progres
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/7ks6rq34

Abstract

Mental health is a crucial aspect of a child’s development. It directly impacts academic progress, social relationships, and the ability to manage emotions in a healthy way throughout life. During elementary school, children begin to face academic demands, complex social interactions, and significant emotional changes. Low mental health literacy limits their ability to recognize, express, and manage emotions in an adaptive manner. Children tend to express stress through external behaviors (easily angered, withdrawing, difficulty concentrating) that are often not recognized as early indicators of mental health issues. Approximately 10–20% of school-aged children experience emotional problems that impact learning and social functioning, with higher prevalence among migrant and diaspora children. This community service initiative aims to improve mental health literacy and emotional regulation through the SEHATI (Sekolah Hati Sehat) program. The method used is a participatory educational approach with stages of needs analysis, program implementation, and evaluation. The study subjects consisted of 27 elementary school students and 6 teachers. The instruments used were pre-test and post-test questionnaires. The results showed an increase in the average mental health literacy score among students from 71.3 to 88.6, as well as an increase in the emotional regulation score from 67.6 to 78.4. This indicates that the SEHATI program is effective in improving mental health literacy and strengthening emotional regulation among elementary school students
Hubungan Trauma Masa Kecil dengan Perilaku Self-harm pada Remaja: The Link between Childhood Trauma and Self-harming Behaviors in Adolescents Vina Prihatini; Reni Nuryani; Sri Wulan Lindasari
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 5 (2026): EDISI MEI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i5.257

Abstract

Self-harm merupakan perilaku menyakiti diri sendiri yang sering terjadi pada remaja dan berkaitan dengan kesulitan regulasi emosi akibat pengalaman traumatis pada masa kanak-kanak. Trauma masa kecil dapat memengaruhi perkembangan psikologis individu sehingga meningkatkan kerentanan terhadap perilaku self-harm pada masa remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara traum Pendahuluan: Self-harm merupakan perilaku menyakiti diri sendiri yang sering terjadi pada remaja dan berkaitan dengan kesulitan regulasi emosi akibat pengalaman traumatis pada masa kanak-kanak. Trauma masa kecil dapat memengaruhi perkembangan psikologis individu sehingga meningkatkan kerentanan terhadap perilaku self-harm pada masa remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara trauma masa kecil dengan perilaku self-harm pada remaja. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Responden berjumlah 494 remaja usia 12–18 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan secara daring menggunakan instrumen Childhood Trauma Questionnaire-Short Form (CTQ-SF) dan Self-harm Inventory (SHI). Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman’s Rank Correlation Coeffient. Hasil: Analisis menunjukkan adanya hubungan antara trauma masa kecil dan perilaku self-harm (r = 0,570; p < 0,001).         Kesimpulan: Semakin tinggi tingkat trauma masa kecil yang dialami, semakin besar kecenderungan remaja untuk melakukan self-harm. Trauma masa kecil merupakan faktor yang berhubungan dengan perilaku self-harm pada remaja, sehingga deteksi dini pengalaman traumatis perlu mendapat perhatian sebagai upaya pencegahan.
The Influence Of Mental Health Literacy On The Stigma Of Mental Disorders Among Nursing Students Sri Wulan Lindasari; Reni Nuryani; Nunung Siti Sukaesih; Rizka Salsabila
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.60066

Abstract

The number of people with mental disorders in Indonesia continues to increase significantly from year to year. This is exacerbated by the high stigma against people with mental disorders in society, including among students. This negative stigma attached to people with mental disorders requires education by promoting mental health literacy. Therefore, this study aims to determine the effect of mental health literacy on the stigma of people with mental disorders among students in the Nursing Study Program at UPI Sumedang Campus. The method used in this study is descriptive correlation. The population in this study was all nursing students, totaling 512 people. The sampling technique used was total sampling. Data collection tools used were the Mental Health Literacy Scale (MHLS) questionnaire to measure mental health literacy and the CAMI (Community Attitudes towards Mental Illness) questionnaire to measure stigma against people with mental disorders. The results of the study found that almost the majority (80.9%) of mental health literacy levels in nursing students were in the high category, almost the majority (85.5%) of nursing students experienced non-stigmatic behavior towards people with mental disorders and there was a relationship between mental health literacy and the stigma of people with mental disorders in nursing students with a P value = 0.02 and a correlation value of 0.763. So it is very important to carry out health promotion to prevent stigmatization in people with mental disorders
HUBUNGAN ANTARA CYBERLOAFING DENGAN SCHOOL ENGAGEMENT PADA SISWA SMA “X” Nurrita Catharina Rosadi; Reni Nuryani; Sri Wulan Lindasari
Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat Cendekia Utama Vol 15, No 2 (2026): Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat Cendekia Utama
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jcu.v15i2.2932

Abstract

Perkembangan teknologi digital tidak hanya memberikan kemudahan akses informasi bagi siswa, tetapi juga memunculkan persoalan baru berupa meningkatnya kecenderungan siswa menggunakan perangkat digital untuk aktivitas non-akademik selama pembelajaran (cyberloafing). Pola penggunaan teknologi yang kurang terkontrol ini berpotensi mengganggu fokus belajar dan memengaruhi tingkat keterlibatan siswa di sekolah (school engagement), yang mencakup aspek perilaku, kognitif, dan emosional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara cyberloafing dengan school engagement pada siswa SMA “X”. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel berjumlah 307 siswa yang dipilih menggunakan teknik cluster random sampling. Instrumen yang digunakan meliputi Cyberloafing (9 item) dan School Engagement Measure (15 item). Analisis hubungan menggunakan uji Spearman Rank. Hasil uji korelasi menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara cyberloafing dan school engagement dengan nilai p < 0,001 dan koefisien korelasi r = –0,274. Hal ini berarti semakin tinggi perilaku cyberloafing yang dilakukan siswa selama pembelajaran, maka semakin rendah school engagement. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa cyberloafing berpengaruh terhadap penurunan school engagement siswa, sehingga diperlukan upaya pengelolaan penggunaan perangkat digital yang lebih adaptif selama kegiatan belajar.
PERBANDINGAN IDEASI BUNUH DIRI PADA MAHASISWA KEPERAWATAN DI WILAYAH PERKOTAAN DAN PERDESAAN Sarah Sarah; Reni Nuryani; Sri Wulan Lindasari
Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat Cendekia Utama Vol 15, No 2 (2026): Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat Cendekia Utama
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jcu.v15i2.2926

Abstract

Mahasiswa keperawatan merupakan kelompok yang berisiko mengalami berbagai gangguan psikologis karena tuntutan akademik yang tinggi, tekanan selama praktik klinik, serta faktor sosial dan emosional yang kompleks. Tekanan tersebut dapat memicu munculnya masalah kesehatan mental, salah satunya ideasi bunuh diri. Ideasi bunuh diri menjadi perhatian serius karena merupakan fase awal dari perilaku bunuh diri yang termasuk masalah kesehatan global dan berdampak fatal apabila tidak ditangani sejak dini. Berbagai faktor dapat memengaruhi munculnya ideasi bunuh diri, salah satunya adalah lingkungan tempat tinggal. Mahasiswa yang tinggal di wilayah perkotaan cenderung lebih rentan mengalami stres, persaingan tinggi, serta isolasi sosial, sementara mahasiswa di wilayah perdesaan menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan jiwa. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan ideasi bunuh diri pada mahasiswa keperawatan berdasarkan wilayah tempat tinggal. Metode yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif komparatif dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan 62 mahasiswa yang diambil melalui teknik disproportional stratified random sampling. Instrumen yang digunakan adalah Suicidal Ideation Scale, kemudian data dianalisis menggunakan uji statistik non  parametrik Mann Whitney U. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan signifikan (U = 346,5; p = 0,046) dengan mean rank mahasiswa perkotaan 35,82 lebih tinggi dibandingkan perdesaan 27,18 dengan ukuran efek 0,279 menunjukkan perbedaan berada dalam kategori sedang. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa latar wilayah tempat tinggal berkontribusi terhadap munculnya ideasi bunuh diri. Hasil penelitian ini mengharapkan bahwa  institusi pendidikan dapat meningkatkan program deteksi dini kesehatan mental yang dilakukan secara berkala dan dukungan kesehatan mental dengan menyediakan bimbingan konseling yang memperhatikan latar belakang wilayah tempat tinggal mahasiswa.
Stigma Afiliasi pada Orang Tua dengan Anak Down Syndrome Nadia Fadila Surya; Reni Nuryani; Sri Wulan Lindasari
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol. 7 No. 6 (2025): Desember 2025, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v7i6.1061

Abstract

Stigma afiliasi merupakan bentuk stigma tidak langsung yang dialami individu karena kedekatannya dengan seseorang yang menjadi target stigma, termasuk orang tua yang memiliki anak dengan Down syndrome. Stigma ini dapat memengaruhi aspek kognitif, afektif, dan perilaku orang tua, sehingga berpotensi mengganggu kesejahteraan psikologis dan kualitas pengasuhan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat stigma afiliasi pada orang tua dengan anak Down syndrome di Komunitas X berdasarkan ketiga dimensi tersebut. Penelitian menggunakan desain kuantitatif deskriptif dengan jumlah sampel sebanyak 65 responden yang dipilih menggunakan total sampling. Instrumen yang digunakan adalah Affiliate Stigma Scale (ASS) terdiri dari 22 item dengan skala Likert 4 poin, yang telah diuji validitas konstruk menggunakan Pearson’s Correlation dengan hasil p < 0,05 (0,001–0,017) dan diuji reliabilitas dengan nilai Cronbach’s Alpha: 0,791 (kognitif), 0,779 (afektif), dan 0,777 (perilaku). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 95.4% orang tua berada pada kategori stigma afiliasi rendah, 4.6% pada kategori sedang, dan tidak ditemukan stigma afiliasi tinggi. Stigma afiliasi berdasarkan dimensi kognitif dan afektif, 93.8% orang tua berada pada kategori rendah, sementara seluruh (100%) orang tua berada pada kategori rendah pada dimensi perilaku. Temuan ini menunjukkan bahwa stigma sosial masih dirasakan, namun sebagian besar orang tua mampu mengelola dampaknya melalui mekanisme adaptasi, dukungan sosial, dan keterlibatan komunitas.
Edukasi Kesehatan pada Siswa Sekolah Dasar “Katakan Tidak pada Bullying: Bersama Kita Bisa” Febby Anggraeni Rochmah; Ressa Julliyana; Veny Oktaviany; Reni Nuryani; Sri Wulan Lindasari
PaKMas: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6 No 1 (2026): Mei 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Penelitian Pengabdian Algero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54259/pakmas.v6i1.4165

Abstract

Bullying among elementary school students is a serious problem that significantly impacts various aspects of children’s lives, including mental health, emotional development, and academic achievement. This community service program, in the form of Health Education with the theme “Say No to Bullying: Together We Can!” and the development of the UKS Jiwa program as an extension of the existing UKS, aims to increase students’ knowledge and awareness about bullying and its prevention through a health education approach using a quantitative method with a pre-experimental one-group pretest-posttest design. The activity was conducted on November 29, 2024, at SDN Citepok, Paseh District, Sumedang Regency, involving 61 students from grades 4, 5, and 6 as the main participants, with teachers supporting the program’s sustainability. The educational materials were developed based on scientific sources and official handbooks from the Ministry of Education and Culture, covering the definition, types, impacts, and prevention strategies of bullying, and were delivered through lectures, animated videos, interactive discussions, simulations, and case analyses. The effectiveness of the intervention was measured using valid and reliable pre-test and post-test instruments. The results of the analysis showed a significant increase in students’ knowledge after the intervention, with all participants achieving a good level of knowledge in the post-test. This intervention not only improved students’ understanding of bullying but also fostered supportive attitudes and behaviors to create a safe and inclusive school environment. This health education program is recommended to be continuously integrated into the UKS program and the elementary school curriculum as an early effort to prevent bullying.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PEDESAAN: INTERVENSI BERBASIS KOMUNITAS UNTUK MENINGKATKAN LITERASI KESEHATAN JIWA Puspa Madya Nurhuda; Amelia Dameyanti; Neng Inggri Fitriya; Deayu Dwi Kania; Puspa Dewi Anggraini; Reni Nuryani; Sri Wulan Lindasari
Jurnal AbdiMas Nusa Mandiri Vol. 8 No. 1 (2026): Periode Januari 2026
Publisher : LPPM Universitas Nusa Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33480/abdimas.v8i1.6421

Abstract

Mental health has become an important aspect in the strategic efforts to develop public health in Indonesia, particularly in rural areas. The physical, socio-economic, cultural, and societal structural conditions contribute to the emergence of various psychological issues within the community. The main mental health problems may stem from a lack of public understanding about mental health issues, the presence of negative stigma surrounding mental disorders, and the unequal distribution of mental health services. This indicates the need for community knowledge-based programs to enhance public participation in mental health initiatives. Therefore, this activity aimed to improve the knowledge of the residents of Cijambe Village to foster a better understanding of mental health, as well as the prevention and management of mental health problems. The community service activity was conducted in the form of health education using a lecture method supported by PowerPoint media. The health education activity was attended by 37 residents of Cijambe Village, Paseh Sub-district, Sumedang Regency, West Java. The results of the knowledge level assessment showed an increase in participants’ average knowledge scores before and after the health education, from the "less" category (43%) to the "sufficient" category (57%), based on Arikunto’s knowledge level measurement scale. This health education activity achieved an outcome in the form of increased community knowledge regarding mental health as a result of the education provided. Thus, increasing public knowledge through mental health education can strengthen community participation in the prevention and handling of mental health issues at the community level.
Co-Authors Adiguna, Muhammad Raihan Ahmad Purnama Ahmad Purnama Akhmad Faozi AKHMAD FAOZI Alvia Maulida Firdaus Amanda Puspanditaning Sejati Amelia Dameyanti Anissa Ayuningsih Anita Setyawati Anita Setyawati Anugrah, Mita Majdina Anugrah, Mita Majdina Apriliany, Yeni Assyfa, Nurul Ayu Prameswari Ayu Prameswari Kusuma Astuti Bunga Nur Indah Dewi Damaiati, Winda Diktriadesta Deayu Dwi Kania Delli Yuliana Rahmat Dewi Fuji Fatmawati Dewi, Bunga Nur Indah Diding Kelana Setiadi Diding Kelana Setiadi Dolifah, Dewi Dwi Isneniah Emy Lindayani Febby Anggraeni Rochmah Firdaus, Alvia Maulida Fitri Dwi Triesnawati Halimatusyadiah Halimatusyadiah Hani Noviyanti Haryeti, Popon Hikmat Pramajati Indri Miani Irawan Danismaya Iyos Sutresna Kasmanah Lindasari, Sri Wulan Lindayani, Emi Lindayani, Emy Maula, Atifatul N Siti Sukaesih Nadia Fadila Surya Neneng Vinna Angelina Neng Inggri Fitriya ningrum, dedah - Nur Aidah, Dila Nurandini, Hesti Nurhuda, Puspa Madya Nurrita Catharina Rosadi Priyatno Harsasto Purnama, Ahmad Puspa Dewi Anggraini Puspa Madya Nurhuda Puspa Madya Nurhuda Puspa Madya Nurhuda Puspa Madya Nurhuda Putri Kamilah Putri, Anggi Egliana Putri, Eznelda Julia Rahmat, Delli Yuliana Ressa Julliyana Ria Inriyana Ridwan, Heri Rivany Azzahra Hidayat Rizka Salsabila Sa'adah, Ismi Siti Salsabila, Rizka Sarah Sarah Satria Rifqi Farhan Silvia Hermalasari Siti Sukaesih, Nunung Sopiah, Popi Sukaesih, N Siti Sukaesih, Nunung Siti Thaofik Fauzi Nugraha Titin Sutini Veny Oktaviany Viazensa Tiara Pratami Vina Prihatini Widya Utami Winda Diktriadesta Damaiati Wulan Lindasari, Sri Yeni Apriliany