Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan Tingkat Kecerdasan Emosional dengan Refusal Skills pada Remaja Sa'adah, Ismi Siti; Nuryani, Reni; Lindasari, Sri Wulan
Jurnal Vokasi Keperawatan (JVK) Vol. 8 No. 2 (2025): DESEMBER
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/jvk.v8i2.45958

Abstract

Pendahuluan: Masa remaja merupakan fase krusial yang rentan terhadap tekanan sosial dan perilaku berisiko. Pada tahap ini, remaja menghadapi berbagai tantangan emosional dan sosial sehingga kemampuan mengelola emosi dan mengontrol diri menjadi penting untuk mencegah tindakan berisiko. Kecerdasan emosional membantu remaja mengatur emosi dan menghadapi tekanan, sementara kemampuan menolak (refusal skills) diperlukan untuk bersikap tegas terhadap ajakan negatif. Emosi memengaruhi pengambilan keputusan, sehingga pengaturan emosi yang baik berkontribusi pada keputusan yang lebih sehat. Penelitian sebelumnya menunjukkan banyak remaja masih kesulitan mengelola emosi, yang berdampak pada rendahnya kemampuan mereka dalam menolak ajakan negatif. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara kecerdasan emosional dan refusal skills. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional serta pendekatan cross-sectional. Sebanyak 268 siswa dipilih secara menggunakan Stratified Random Sampling. Data dikumpulkan menggunakan Skala SSEIT untuk mengukur kecerdasan emosional dan Skala STLA-MP untuk mengukur refusal skills. Analisis korelasi menggunakan uji korelasi Spearment’s Rank Correlation Coefficient karena data tidak berdistribusi normal. Penelitian ini juga mematuhi prinsip etika seperti persetujuan sukarela dan kerahasiaan data. Hasil: Analisis uji korelasi menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan namun lemah antara kecerdasan emosional dan refusal skills (r=0,258, p<0,001). Kesimpulan: Terdapat hubungan positif yang signifikan antara kecerdasan emosional dan refusal skills pada remaja, meskipun kekuatan hubungannya tergolong lemah. Temuan ini menekankan pentingnya pengembangan kecerdasan emosional untuk memperkuat kemampuan remaja dalam menolak perilaku berisiko.
PERAN EDUKASI PENCEGAHAN KEKERASAN SEKSUAL TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN ORANG TUA ANAK TUNARUNGU Listi, Riza Ratna; Nuryani, Reni; Lindasari, Sri Wulan
Jambura Journal of Health Sciences and Research Vol 8, No 1 (2026): JANUARI: JAMBURA JOURNAL OF HEALTH SCIENCES AND RESEARCH
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35971/jjhsr.v8i1.35689

Abstract

Kekerasan seksual merupakan pelanggaran hak asasi manusia yang berdampak serius terhadap kesehatan fisik, psikologis, sosial, dan akademik anak. Anak tunarungu memiliki kerentanan lebih tinggi akibat hambatan komunikasi, keterbatasan literasi seksual, serta kesulitan dalam mengungkapkan dan melaporkan tindakan berbahaya, sehingga peran orang tua menjadi kunci utama dalam upaya pencegahan. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan dan pemanfaatan media poster yang dirancang secara khusus sesuai karakteristik keluarga anak tunarungu, dengan pendekatan komunikasi visual untuk meningkatkan literasi seksual, pemahaman tanda bahaya, dan strategi pencegahan oleh orang tua, berbeda dari penelitian sebelumnya yang umumnya menggunakan media visual secara umum tanpa penyesuaian kebutuhan khusus. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh edukasi kekerasan seksual berbasis media poster terhadap peningkatan pengetahuan orang tua anak tunarungu. Metode yang digunakan adalah quasi experimental dengan desain One Group Pretest–Posttest Design pada 46 orang tua siswa tunarungu di SLB B Tunas Harapan Karawang. Pengukuran dilakukan menggunakan kuesioner 20 item pada pretest dan posttest, dengan analisis data menggunakan Uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan, ditandai dengan kenaikan median dari 10,00 menjadi 20,00 dan p-value 0,000 (p 0,05). Edukasi berbasis poster efektif meningkatkan pemahaman orang tua mengenai definisi, bentuk kekerasan seksual, tanda bahaya, bagian tubuh pribadi anak, dan langkah pencegahan. Temuan ini menegaskan pentingnya edukasi visual yang kontekstual dan berkelanjutan bagi orang tua sebagai fondasi perlindungan anak tunarungu dari kekerasan seksual.
Psychological well being of families of people living with HIV/AIDS (PLWHA) Anugrah, Mita Majdina; Nuryani, Reni; Lindasari, Sri Wulan
JNKI (Jurnal Ners dan Kebidanan Indonesia) (Indonesian Journal of Nursing and Midwifery) Vol. 13 No. 4 (2025)
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/jnki.2025.13(4).471-484

Abstract

Background: HIV/AIDS is a terminal disease that remains the leading cause of death worldwide, including in Indonesia. This disease has a wide impact, not only for sufferers but also for their social environment. Caregivers of people living with HIV/AIDS (PLWHA) often experience psychological distress, especially when they are not prepared to care for sick family members. Their ability to fulfill the five family duties in health is greatly influenced by their psychological well being. Objectives: This study aims to describe the psychological well-being of caregivers of people living with HIV/AIDS (PLWHA) in Sumedang regency.Methods: The method used in this research is descriptive quantitative. The sample in this study amounted to 196 respondents selected by simple random sampling technique. The instrument used was the Ryff Psychological Well-Being Scale, which has a validity range of 0.279 to 0.660 and a reliability score (Cronbach's Alpha) of 0.885.Results: The results of the study showed that most caregivers (52.1%) were in the moderate psychological well-being category, while 47.9% were in the high category. Among the six dimensions of psychological well-being that were studied in this study,  only purpose in life and personal growth were predominantly in the high category (50-60%). The demographic analysis revealed that most respondents were aged 20–55 years (M = 36.3, SD = 10.9), the majority were female (56.1%), and most worked as housewives (44.8%). The duration of caregiving was predominantly 1–5 years (61.7%; M = 2.7, SD = 2.5).Conclusions: It can be concluded that most caregivers of People Living with HIV/AIDS (PLWHA) exhibit moderate levels of psychological well-being. This indicates that caregivers can generally accept their strengths and weaknesses, build positive relationships, adapt to their environment, set clear life goals, demonstrate independence, and engage in personal growth. Therefore, it is necessary to enhance family counseling programs within supportive care and treatment services, as well as strengthen family psychoeducation initiatives in nursing and healthcare institutions