Claim Missing Document
Check
Articles

Peningkatan Pengetahuan Status Gizi pada Remaja Putri dalam Mencegah Kejadian Anemia di SMPN 1 Conggeang: Increase Knowledge of Nutrition Status on Women Adolesence to Prevent Anemia Cases at SMPN 1 Conggeang Emi Lindayani; Dedah Ningrum; Diding Kelana Setiadi; Reni Nuryani; Amanda Puspanditaning Sejati; Nunung Siti Sukaesih
PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 8 No. 5 (2023): PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/pengabdianmu.v8i5.4880

Abstract

The cases of anemia in adolescent women in Indonesia are still relatively high. There was an increase in the prevalence of anemia from 2013 to 2018 among the 15-24 year age group, from 18.4% to 32% or 14.7 million people. Anemia or low Hb levels caused by a lack of nutrients is characterized by a disturbance in hemoglobin synthesis due to a lack of nutrients that play a role in the formation of hemoglobin either due to lack of iron consumption or impaired absorption. The data on the children's health report from the Sumedang Health Office shows that adolescent women in Conggeang Junior High School are the second largest out of 29 sub-districts in the Sumedang area who are at risk of anemia, which is 58 people. The purpose of this community service is to increase the knowledge and understanding of students of Conggeang 1 Junior High School about anemia so that it can prevent anemia and, ultimately, the growth and development of children. The method used is to provide health education about anemia, iron-containing nutrition, and about blood-added tablets. The result of this community service is an increase in knowledge of the pre-test scores of participants in the implementation of health education by 48%, while the post-test scores of as much as 90.28%.
Dampak Skoliosis terhadap Psikologis Remaja Reni Nuryani; Anissa Ayuningsih; Sri Wulan Lindasari; Dewi Dolifah; Popi Sopiah
Jurnal Keperawatan Vol 16 No 1 (2024): Jurnal Keperawatan: Maret 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32583/keperawatan.v16i1.1416

Abstract

Skoliosis adalah kelainan bentuk fisik yang dapat menyebabkan masalah psikologis. Selain itu, dampak skoliosis adalah munculnya masalah fisik pada jantung dan paru akibat kelengkungan >90º, serta masalah psikologis terutama pada remaja. Di sisi lain, perkembangan psikologis remaja seringkali mengalami perubahan emosi yang meluap-luap karena adanya konflik dan perubahan suasana hati yang tidak menentu. Selain itu, keterbatasan fisik penderita skoliosis dapat menimbulkan masalah psikologis seperti kecemasan, stres, dan depresi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui masalah psikologis yang terjadi pada remaja dengan skoliosis. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan desain survei. Responden dalam penelitian ini adalah remaja penderita skoliosis di Komunitas Skoliosis Indonesia yang berjumlah 348 responden, dengan menggunakan teknik total sampling. Sedangkan analisis data menggunakan SPSS versi 26 dengan univariat, dan instrumen yang digunakan adalah DASS 42. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir separuh responden tidak mengalami depresi atau berada dalam rentang normal, dengan jumlah 101 responden (29% ). Selanjutnya hampir separuh responden mengalami kecemasan sedang, berjumlah 117 (33,7%). Selain itu, hampir separuh responden mengalami stres ringan dengan jumlah 129 responden (37,1%). Selain itu, terdapat masalah depresi yang berada pada rentang sangat ekstrim dengan jumlah 39 responden (11,2%). Penelitian ini menunjukkan bahwa masalah psikologis yang sering terjadi adalah stres dan kecemasan terkait dengan lamanya sakit yang dialami remaja penderita skoliosis.
Self diagnose dan tingkat kecemasan pada mahasiswa keperawatan: Studi korelasional Satria Rifqi Farhan; Reni Nuryani; Sri Wulan Lindasari
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 3 (2024): Volume 18 Nomor 3
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i3.179

Abstract

Background: In pursuing education, it is not uncommon for students to engage in the habit of self-diagnosing or what is usually called self-diagnosis. This behavior can occur because of the large amount of information about health that students learn during lectures and the high level of curiosity about the symptoms of the disease they are experiencing without any follow-up to visit medical personnel. Often nursing students who engage in this habit experience anxiety. Causes of anxiety include worry about contracting a dangerous disease that could spread to people closest to you. Purpose: To determine the relationship between self-diagnosis behavior and anxiety levels. Method: Quantitative descriptive research with a correlational approach. The variables used in this research are self-diagnosis behavior and anxiety level. This was carried out on all nursing students who were indicated to have carried out self-diagnosis with a sample of 204 students using a sampling technique in the form of proportional stratified random sampling. Data analysis used the correlation test with the Chi-square test. Results: Obtained a value of p= <0.001, which means p<α (0.05) of the relationship between self-diagnosing behavior and anxiety levels. There were 161 respondents with a strong self-diagnosis category, 112 respondents (69.6%) experienced mild anxiety and 3 respondents (1.9%). Meanwhile, 46 respondents (28.5%) did not experience anxiety or were in the normal category. Conclusion: There is a significant relationship between self-diagnosing behavior and anxiety levels. Suggestion: For students who experience anxiety due to self-diagnosis, it is best to immediately contact health services for a more in-depth examination and other supporting examinations so that they can identify the disease they are experiencing and receive treatment quickly and accurately.   Keywords: Anxiety; Mental Health; Nursing Students; Self Diagnose.   Pendahuluan: Dalam menempuh pendidikan keperawatan tidak jarang mahasiswa melakukan kebiasaan mendiagnosa diri sendiri atau biasa disebut self-diagnose. Perilaku tersebut bisa terjadi karena banyaknya informasi tentang kesehatan yang dipelajari mahasiswa selama perkuliahan dan rasa penasaran yang tinggi terkait gejala penyakit yang sedang dialami tanpa adanya tindak lanjut untuk mengunjungi tenaga medis. Seringkali mahasiswa keperawatan yang melakukan kebiasaan tersebut mengalami kecemasan. Penyebab kecemasan antara lain, khawatir terkena penyakit yang berbahaya dan dapat menular kepada orang terdekatnya. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara perilaku self-diagnose dengan tingkat kecemasan. Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah perilaku self diagnose dan tingkat kecemasan. Dilakukan kepada seluruh mahasiswa keperawatan yang terindikasi melakukan self diagnose dengan sampel berjumlah 204 mahasiswa menggunakan teknik pengambilan sampel berupa proportionate stratified random sampling. Analisis data menggunakan uji korelasi dengan uji Chi-square. Hasil: Didapatkan nilai p= <0.001 yang artinya p<α (0.05) hubungan antara perilaku self-diagnose dengan tingkat kecemasan. Responden dengan kategori self diagnose kuat sebanyak 161 responden, sebanyak 112 responden (69.6%) mengalami kecemasan ringan dan sebanyak 3 responden (1.9%). Sedangkan sebanyak 46 responden (28.5%) tidak mengalami kecemasan atau berada pada kategori normal. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku self-diagnose dengan tingkat kecemasan. Saran: Bagi mahasiswa yang mengalami kecemasan akibat melakukan self diagnose, sebaiknya langsung menghubungi pelayanan kesehatan untuk dilakukan pemeriksaan lebih mendalam dan pemeriksaan penunjang lainnya agar dapat diketahui penyakit yang sedang dialami dan mendapat penanganan secara cepat dan akurat.   Kata Kunci: Kecemasan; Kesehatan Mental; Mahasiswa Keperawatan; Self Diagnose.
Correlational study: Self-esteem and fear of missing out (FoMO) in emerging adulthood Dwi Isneniah; Reni Nuryani; Sri Wulan Lindasari
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 2 (2024): Volume 18 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i2.264

Abstract

Background: Emerging adulthood is a period of self-exploration or identity. In this era, individuals build relationships to connect with other people through social media. Dependence on social media has negative impacts, one of which is anxiety. The anxiety disorder that appears is called fear of missing out (FoMO). Symptoms can be seen from dependence on cell phones, tension when not accessing social media, and obsession with what other individuals upload. The impact is a feeling of inferiority. Low self-satisfaction in an individual's life encourages high levels of FoMO and has negative impacts such as decreased academic achievement, difficulty communicating with other people and disrupting developmental stages in the emerging adulthood phase. Purpose: To determine the relationship between self-esteem and fear of missing out (FoMO) in emerging adulthood. Method: Quantitative descriptive with a correlational approach. The sample in this study amounted to 343 respondents with a sampling technique using proportional stratified random sampling. The research instrument used was a standard self-esteem questionnaire, namely the Rosernberg Self-esteem Scale (RSES) with a validity result of r ≤ 0.30 and a reliability level of 0.889 Cronbach's Alpha, in addition the fear of missing out scale (FoMOS) questionnaire was used with a validity result of r ≤ 0.30 and The reliability level is 0.661 Cronbach's Alpha. Results: The majority of self-esteem levels in emerging adulthood are in the medium category. Obtained p-value <0.001, which means p<α (0.05) indicates a significant relationship between self-esteem and FoMO that occurs in emerging adulthood. Conclusion: There is a significant influence between high self-esteem and low levels of fear of missing out (FoMO) in emerging adulthood. Suggestion: Emerging adulthood who experience high FoMO with low self-esteem can make self-improvement by reducing excessive use of social media to minimize the occurrence of prolonged feelings of low self-esteem.   Keyword: Emerging Adulthood; Fear of Missing Out (FoMO); Self-Esteem.   Pendahuluan: Manusia dewasa awal merupakan masa eksplorasi jati diri atau identitas. Pada masa ini, individu membangun relasi untuk terhubung dengan orang lain melalui media sosial. Ketergantungan terhadap media sosial memberikan dampak negatif, salah satunya adalah kecemasan. Gangguan kecemasan yang muncul disebut fear of missing out (FoMO). Gejalanya dapat terlihat dari ketergantungan akan ponsel, ketegangan saat tidak mengakses media sosial, dan obsesi dengan apa yang diunggah oleh individu lain. Dampak yang ditimbulkan adalah perasaan rendah diri. Rendahnya kepuasan diri dalam hidup individu mendorong tingkat FoMO yang tinggi dan memberikan dampak negatif seperti, prestasi akademik menurun, kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang lain dan mengganggu tahap perkembangan pada fase dewasa awal. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan harga diri dengan fear of missing out (FoMO) pada emerging adulthood. Metode: Deskriptif kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 343 responden dengan teknik pengambilan sampel menggunakan proportionate stratified random sampling. Instrumen penelitian yang digunakan berupa kuesioner baku harga diri yaitu Rosenberg Self-esteem Scale (RSES) dengan hasil validitas r ≤ 0.30 dan tingkat reabilitas 0.889 Alpha Cronbach’s, selain itu digunakan kuesioner fear of missing out scale (FoMOS) dengan hasil validitas r ≤ 0.30 dan tingkat reabilitas 0.661 Alpha Cronbach’s. Hasil: Tingkat harga diri pada emerging adulthood mayoritas berada pada kategori sedang. Didapatkan p-value <0.001 yang artinya p<α (0.05) menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara harga diri dengan FoMO yang terjadi pada emerging adulthood. Simpulan: Terdapat pengaruh yang signifikan antara tingginya nilai harga diri menjadikan rendahnya tingkat fear of missing out (FoMO) pada emerging adulthood. Saran: Emerging adulthood yang mengalami FoMO tinggi dengan harga diri rendah dapat melakukan perbaikan diri dengan mengurangi penggunaan media sosial yang berlebihan guna meminimalisir terjadinya perasaan rendah diri yang berkepanjangan.   Kata Kunci: Dewasa Awal; Fear of Missing Out (FoMO); Harga Diri.
Hubungan pemenuhan social needs dengan perilaku pacaran berisiko pada remaja Widya Utami; Dedah Ningrum; Reni Nuryani
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 3 (2024): Volume 18 Nomor 3
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i3.303

Abstract

Background: The dating style of today's adolescents shows risky behavior that is not appropriate for their age, such as behavior that leads to premarital sex. The process of sexual interaction in adolescents is described in five phases which include touching, courtship without kissing, kissing, touching sensitive body parts (such as breasts and genitals), and sexual intercourse. Basic social needs are a very important variable in motivating behavior. Purpose: To determine the relationship between fulfilling social needs and risky dating behavior in adolescents. Method: The study used a quantitative descriptive method with a total sampling of 107 respondents. The measuring instrument in this study used a social needs questionnaire and a premarital sexual behavior questionnaire. This study uses a descriptive statistical analysis test and the correlational coefficient Spearman's rho (Sig = <0.05). Results: On average, adolescent’s social needs are met at 69.2% and adolescents dating behavior is at a low risk level at 69.2%. This research shows that there is a significant relationship between the two variables with a significance value of 0.001 (<0.05) and a correlation coefficient of -0.323, meaning that the level of strength of the relationship between the two variables reflects a fairly strong relationship in a negative direction (not in the same direction), which means that if If the value of fulfilling social needs decreases, the value of risky dating behavior will increase. Conclusion: There is a fairly strong negative relationship between fulfilling social needs and risky dating behavior in adolescents. Suggestion: Collaboration between nursing students, schools, parents, health workers and the community to conduct research or sexual health education programs that focus on building healthy interpersonal relationships and managing the risks of premarital sexual behavior in adolescents is important to prevent the emergence of disease from risky dating behavior.   Keywords: Adolescents; Risky Dating Behavior; Social Needs.   Pendahuluan: Gaya berpacaran pada remaja saat ini menunjukan perilaku berisiko yang tidak sesuai dengan usianya seperti perilaku yang mengarah kepada hubungan seks pra-nikah. Proses interaksi seksual pada remaja diuraikan menjadi lima fase yang meliputi, menyentuh, berpacaran tanpa kegiatan berciuman, melakukan ciuman, melakukan sentuhan pada bagian tubuh sensitif (seperti payudara hingga kelamin), dan berhubungan intim seksual. Kebutuhan dasar social needs merupakan variabel yang sangat penting dalam memotivasi perilaku. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara pemenuhan social needs dengan perilaku pacaran berisiko pada remaja. Metode: Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan total sampling sebanyak 107 responden. Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan kuesioner social needs dan kuesioner perilaku seksual pra-nikah. Penelitian ini menggunakan uji analisis statistic deskriptif dan Correlational Coefficient Spearman’s rho (Sig = <0.05). Hasil: Rata-rata kebutuhan social needs remaja cukup terpenuhi sebanyak 69.2% dan perilaku pacaran remaja rata-rata pada tingkat risiko rendah sebanyak 69.2%. Penelitian ini menunjukan terdapat hubungan yang signifikan antara kedua variabel dengan nilai signifikansi sebesar 0.001 (<0.05) dan koefisien korelasi -0.323, berarti tingkat kekuatan keterkaitan antara kedua variabel tersebut mencerminkan relasi yang cukup kuat dengan arah hubungan negatif (tidak searah) yang artinya, jika nilai pemenuhan social needs menurun maka nilai perilaku pacaran berisiko akan semakin meningkat. Simpulan: Terdapat hubungan negatif yang cukup kuat antara pemenuhan social needs dengan perilaku pacaran berisiko pada remaja. Saran: Kerjasama antara mahasiswa keperawatan, sekolah, orang tua, tenaga kesehatan, dan masyarakat untuk melakukan penelitian atau program pendidikan kesehatan seksual yang berfokus pada pembangunan hubungan interpersonal yang sehat dan pengelolaan risiko perilaku seksual pra-nikah pada remaja penting untuk mencegah timbulnya perilaku pacaran berisiko.   Kata Kunci: Remaja; Perilaku Pacaran Berisiko; Social Needs.
The Hubungan Penerimaan Diri dengan Identitas Diri pada Wanita yang Mengalami Perceraian Winda Diktriadesta Damaiati; Reni Nuryani; Sri Wulan Lindasari
Jurnal Keperawatan Florence Nightingale Vol 7 No 1 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Stella Maris Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52774/jkfn.v7i1.134

Abstract

Divorce is a life event that triggers psychological changes in the self-acceptance of someone who experiences it, especially women. These negative impacts can affect all aspects of life and can disrupt one's identity. This research aims to determine the relationship between self-acceptance and self-identity in women who have experienced divorce. This type of research is quantitative, with a cross-sectional approach using a correlational design. Sampling used a total sampling technique, totaling 55 respondents. Data were collected using the self-acceptance scale questionnaire and the self-identity questionnaire. The data analysis method used is Spearman's rho correlation statistical test using JASP software. The research results obtained a data value of r = 0.728 with a p-value = 0.001, because the significant value is 0.001 < 0.05, it shows a significant positive relationship between self-acceptance and self-identity. Therefore, the importance of providing psychological and social support shown to increase self-acceptance can have a positive impact on reshaping the self-identity of women who experience divorce.
Hubungan Resiliensi dengan Dukungan Keluarga Pada Remaja dengan Leukemia yang Menjalani Kemoterapi Alvia Maulida Firdaus; Reni Nuryani; Sri Wulan Lindasari
Jurnal Keperawatan Florence Nightingale Vol 7 No 1 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Stella Maris Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52774/jkfn.v7i1.156

Abstract

Adolescents with leukemia who undergo chemotherapy have psychological problems caused by the side effects of treatment. Side effects that arise in adolescents with cancer include anxiety, body image disturbances, depression, decreased socialization, and even fear of death. These psychological problems can affect resilience to maintain a resilient attitude in undergoing treatment. One of the protective factors in building resilience is family support. The purpose of this study was to determine the relationship between resilience and family support. This type of research is quantitative with a correlational design. The sample used was leukemia adolescents aged 12-18 years who underwent chemotherapy using accidental sampling technique for 1 month, consisting of 37 respondents. The research instrument was the CYRM (child youth resilience measure) questionnaire which amounted to 17 questions and the family support questionnaire amounted to 12 questions. Data were analyzed with the spearman rank test. The results showed a high level of resilience and good family support. The level of strength between variables is low (0.396) with a positive direction, and significant (p value = 0.015). Conclusion: there is a strong, positive, and significant relationship between resilience and family support in leukemia adolescents who are undergoing chemotherapy.
Hubungan Dukungan Sosial Dengan Burnout Akademik Pada Siswa Sekolah Menengah Atas Bunga Nur Indah Dewi; Reni Nuryani; Sri Wulan Lindasari
Jurnal Keperawatan Florence Nightingale Vol 7 No 1 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Stella Maris Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52774/jkfn.v7i1.191

Abstract

The adolescent stage in secondary education in Indonesia is a crucial stage in adolescent development, with curricula more complex than the elementary education stage. High academic challenges and developmental demands can lead to physical and emotional burnout in students. Academic burnout is caused by the length of school hours, too much activity, and too much work. Another factor causing academic burnout is a lack of social support. Social support plays an important role in creating a comfortable, motivated learning environment, providing support and assistance that can ultimately help reduce burnout. The study aims to find out the relationship between social support and academic burnout in high school students. The research method used is quantitative correlational research. Research samples of students of classes X and XI with a total of 258 students were taken using stratified random sampling. The instruments used include social support questionnaires that are structured based on House's aspects to measure the level of social support and a Maslach Burnout Inventory-Student Survey (MBI-SS) questionnary to measures the burnout rate. Data analysis is done univariately and bivariately using a chi-square test. The results show that there is a significant link between social support and academic burnout in students, which shows that social support plays a role in reducing academic Burnout and improving academic performance.
Spiritualitas dan Kesehatan Mental pada Penyintas COVID-19 Lindasari, Sri Wulan; Nuryani, Reni; Lindayani, Emi; Sukaesih, Nunung Siti; Sopiah, Popi
Faletehan Health Journal Vol 11 No 01 (2024): Faletehan Health Journal, Maret 2024
Publisher : Universitas Faletehan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33746/fhj.v11i01.559

Abstract

The COVID-19 pandemic can affect not only the physical but also mental health of the survivors. Particularly, mental health problems may influence their emotional, cognitive, physical, and social aspects. Meanwhile, one of the factors that closely relate to the problems is spirituality. This study aimed to determine the relationship between spirituality and mental health in COVID-19 survivors. The type of the research was descriptive correlation. The research respondents totaled 100 COVID-19 survivors. The sampling technique used simple random sampling. To collect the data, The Daily Spiritual Experience Scale (DSES) was utilized to measure spirituality and The Mental Health Continuum-Short Form (MHC-SF) to measure mental health. The results showed that the majority of respondents had a high level of spirituality (52%) and a good mental health (64%). The chi-square test results obtained a P value of 0.003, which means there was a significant relationship between spirituality and mental health in COVID-19 survivors. This research showed that the higher the spirituality, the better the mental health of COVID-19 survivors.
Pembentukan Supportif Group Keluarga Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dalam Program Rehabilitasi di Puskesmas Sukagalih Nuryani, Reni; Dolifah, Dewi; Sopiah, Popi; Faozi, Akhmad; Purnama, Ahmad
Jurnal Peduli Masyarakat Vol 5 No 4 (2023): Jurnal Peduli Masyarakat: Desember 2023
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jpm.v5i4.2325

Abstract

Gangguan jiwa dapat menimbulkan masalah pada individu dan hambatan dalam melakukan fungsi fisik, pekerjaan dan peran sosial, serta menjadi beban yang berat secara mental dan materil bagi keluarga karena perawatan sepanjang masa maka diperlukan upaya perawatan dan program rehabilitasi yang maksimal pada orang dengan gangguan jiwa oleh keluarga sebagai sumber pendukung utama sehingga proses pemulihan lebih cepat dan optimal, mencegah kekambuhan, mandiri, dan produktif kembali. Program rehabilitasi dapat mempercepat proses kesembuhan dan hidup bermakna serta berpartisfasi secara penuh dalam komunitasnya. Terdapat tiga kunci utama dalam program rehabilitasi untuk pemulihan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yaitu keluarga harus memberikan kasih sayang, dukungan materi dan dukungan emosional, keluarga harus memiliki pengetahuan yang optimal tentang cara merawat ODGJ dan mencegah kekambuhan serta keluarga harus mampu menjadi motivator, oleh karena itu maka diperlukan pembentukan kelompok dukungan dan pemberian supportif therapy pada keluarga orang dengan ganguan jiwa (ODGJ). Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keluarga dalam merawat anggota keluarga dengan ganggguan jiwa, terbentuknya kelompok pendukung pada keluarga klien gangguan jiwa (kelompok suportif), dan meningkatkan keterampilan keluarga dalam memberikan dukungan bagi klien gangguan jiwa. Metode yang digunakan adalah kaji tindak dengan pembentukan Kelompok Suportif (peer supportif group/dukungan kelompok) pada keluarga ODGJ dan dilanjutkan dengan pendampingan dalam pemberian terapi Supportif. Hasil kegiatan pengabdian ini terbentuknya empat kelompok suportif keluarga ODGJ, dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan keluarga dalam merawat anggota keluarga dengan ganggguan jiwa, serta keterampilan dalam menggunakan sumber pendukung internal dan eksternal.
Co-Authors Adiguna, Muhammad Raihan Ahmad Purnama Ahmad Purnama Akhmad Faozi AKHMAD FAOZI Alvia Maulida Firdaus Amanda Puspanditaning Sejati Anggraini, Puspa Dewi Anissa Ayuningsih Anita Setyawati Anita Setyawati Anugrah, Mita Majdina Anugrah, Mita Majdina Apriliany, Yeni Assyfa, Nurul Ayu Prameswari Ayu Prameswari Kusuma Astuti Bunga Nur Indah Dewi Damaiati, Winda Diktriadesta Dameyanti, Amelia Delli Yuliana Rahmat Dewi Fuji Fatmawati Dewi, Bunga Nur Indah Diding Kelana Setiadi Diding Kelana Setiadi Dolifah, Dewi Dwi Isneniah Emy Lindayani Firdaus, Alvia Maulida Fitri Dwi Triesnawati Fitriya, Neng Inggri Halimatusyadiah Halimatusyadiah Halimatusyadiah, Halimatusyadiah Hani Noviyanti Haryeti, Popon Hikmat Pramajati Indri Miani Irawan Danismaya Iyos Sutresna Kania, Deayu Dwi Kasmanah Lindasari, Sri Wulan Lindayani, Emi Lindayani, Emy Listi, Riza Ratna Maula, Atifatul N Siti Sukaesih Neneng Vinna Angelina ningrum, dedah - Nur Aidah, Dila Nurandini, Hesti Nurhuda, Puspa Madya Prameswari Kusuma Astuti, Ayu Priyatno Harsasto Purnama, Ahmad Puspa Madya Nurhuda Puspa Madya Nurhuda Puspa Madya Nurhuda Putri, Anggi Egliana Putri, Eznelda Julia Rahmat, Delli Yuliana Ridwan, Heri Rivany Azzahra Hidayat Sa'adah, Ismi Siti Salsabila, Rizka Satria Rifqi Farhan Silvia Hermalasari Siti Sukaesih, Nunung Sopiah, Popi Sukaesih, N Siti Sukaesih, Nunung Siti Thaofik Fauzi Nugraha Titin Sutini Topik, Muhamad Agung Abdul Viazensa Tiara Pratami Widya Utami Winda Diktriadesta Damaiati Wulan Lindasari, Sri Yeni Apriliany