Claim Missing Document
Check
Articles

STUDI PEMISAHAN BITUMEN DARI ASBUTON MENGGUNAKAN MEDIA AIR PANAS DENGAN PENAMBAHAN SURFAKTAN SODIUM DODECYL SULFATE (SDS) DAN SODIUM CARBONATE (Na2CO3) Afri Dwijatmiko; Aditya Akhmad Sony; Susianto Susianto; Ali Altway
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.987 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.24334

Abstract

Asbuton adalah aspal alam yang terkandung dalam deposit batuan yang terdapat di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Asbuton dapat dimanfaatkan sebagai bahan alternatif pengganti aspal minyak setelah bitumen dipisahkan dari mineralnya. Penelitian proses pemisahan bitumen dari asbuton menggunakan hot water process telah dilakukan, tetapi bitumen yang terambil kurang maksimal. Interfacial tension merupakan parameter penting dalam proses pemisahan bitumen menggunakan hot water process disamping viskositas bitumen. Untuk meningkatkan perolehan bitumen, maka perlu dilakukan modifikasi sifat permukaan bitumen. Modifikasi sifat permukaan bitumen dilakukan dengan penambahan surfaktan. Pada penelitian ini, jenis surfaktan yang digunakan adalah surfaktan Sodium Dodecyl Sulfate (SDS) yang berfungsi sebagai wetting agent untuk menurunkan tegangan permukaan antara bitumen dengan mineral. Fokus dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh penambahan wetting agent terhadap jumlah larutan total, konsentrasi surfaktan dan pengaruh temperatur terhadap persen (%) recovery bitumen. Proses pemisahan bitumen dari asbuton dalam metode ini dilakukan melalui dua proses utama, yakni proses mixing dan digesting. Kedua proses ini dilakukan pada sebuah tangki berpengaduk disc turbine dan empat buah  baffle. Proses mixing preheating dilakukan dengan cara mengaduk asbuton dengan solar yang memiliki perbandingan 40 : 60 terhadap massa total 1000 gram pada 1100 rpm dengan suhu 60, 70, 80, dan 90oC selama 30 menit. Selanjutnya dilakukan proses digesting dengan mengaduk campuran solar-asbuton dengan wetting agent, yang berupa larutan surfaktan Sodium Dodecyl Sulfate (SDS)-Na2CO3 sebesar 25% terhadap massa total campuran sebesar 1000 gram pada 1700 rpm dengan suhu 60, 70, 80, dan 90oC selama 30 menit. Konsentrasi larutan surfaktan Sodium Dodecyl Sulfate (SDS) yang akan digunakan sebesar 0.125%, 0.25% , 0.375% dan 0.5% (% massa) dan konsentrasi Na2CO3 sebesar 0.25%, 0.5%, 0.75% dan 1% (% massa). Produk proses digesting kemudian dipisahkan secara gravitasi dalam beaker glass dengan menambahkan air sehingga terbentuk tiga lapisan. Lapisan teratas yang merupakan larutan bitumen-solar, ditimbang berat dan diukur densitasnya untuk mengetahui persen (%) recovery yang diperoleh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa % recovery bitumen mengalami kenaikan seiring dengan meningkatnya temperatur dan meningkatnya konsentrasi Na2CO3. Sedangkan % recovery bitumen mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya konsentrasi surfaktan SDS hingga konsentrasi 0.375%, lalu mengalami penurunan pada konsentrasi SDS 0.5%. Hasil akhir yang diperoleh adalah % recovery bitumen yang tertinggi diperoleh sebesar 91.92% pada suhu 90oC dengan konsentrasi Na2CO3 1% dan konsentrasi surfaktan SDS 0.375%.
Pemanfaatan Gas Alam sebagai LPG (Liquified Petroleum Gas) Samuel Sembiring; Ruben Leonardo Panjaitan; Susianto Susianto; Ali Altway
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.005 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.47079

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara dengan sumber daya alam yang sangat melimpah. Salah satunya adalah gas alam. Berdasarkan data Direktorat Jendral Minyak dan Gas Alam Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per tanggal 1 Januari 2017 cadangan gas alam mencapai 142,72 TCF. Gas alam merupakan salah satu sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai produk, salah satunya diolah menjadi Liquefied Petroleum Gas (LPG). Oleh karena itu akan didirikan pabrik LPG pada tahun 2021 di Bontang, Kalimantan Timur dipilih dikarenakan besarnya potensi gas alam yang tersedia, sumber energi, iklim dan beberapa aspek lain yang sangat mendukung untuk didirikannya pabrik LPG di Bontang, Kalimantan Timur. Pabrik LPG dari gas alam ini direncanakan terdiri dari 4 unit utama, yaitu Acid Gas Removal  Unit, Dehidration Unit, Refrigration Propane Unit, dan Fractination Unit. Pabrik direncanakan beroperasi secara kontinyu 24 jam selama 330 hari pertahun dengan kapasitas produksi sebesar 98.712 ton LPG/tahun. Jumlah gas alam yang dibutuhkan sebagai bahan baku sebesar 1,6 juta ton per tahun. Total modal investasi sebesar Rp 2.586.262.350.491. Hasil penjualan per tahun sebesar Rp 1.988.889.225.300. Sehingga diperoleh Internal Rate of Return 29,88%, Pay Out Time selama 5,6 tahun dan Break Even Point 29,76%.
Pra Desain Pabrik Triacetin (Triacetyl Glycerol) dari Produk Samping Produksi Biodiesel (Crude Glycerol) Dwi Arimbi Wardaningrum; Muhammad Iqbal Fauzie; Susianto Susianto; Ali Altway
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i2.56094

Abstract

Salah satu produk turunan gliserol yakni triacetin. Kegunaan triacetin sendiri cukup banyak di kalangan industri, baik industri makanan maupun non makanan. Kegunaan triacetin banyak digunakan sebagai penambah aroma, platisizer, pelarut, bahan aditif bahan bakar untuk mengurangi knocking pada mesin (menaikkan nilai oktan), serta dapat digunakan sebagai zat aditif untuk biodiesel. Di Indonesia masih belum ada pabrik triacetin sehingga nilai produksi dan ekspor triacetin kosong atau tidak ada dan nilai impor sebesar 46.000 ton/tahun. Pabrik direncanakan mulai beroperasi pada tahun 2023 dengan kapasitas sebesar 46.000 ton/tahun dengan tujuan mensubstitusi nilai impor yang ada. Lokasi pendirian pabrik berada di Dumai, Riau. Produksi triacetin dari gliserol dilakukan melalui tiga tahap, yaitu pre-treatment, esterifikasi, dan purifikasi. Di bagian pre-treatment, crude glycerol memasuki flash tower, lalu dilanjutkan  memasuki kolom distilasi untuk dimurnikan hingga 99,99% gliserol. Di bagian esterifikasi, gliserol dan asam asetat dialirkan menuju reaktor esterifikasi R-210. Reaksi yang terjadi dalam reaktor adalah reaksi esterifikasi antara gliserol dengan asam asetat berlebih membentuk monoacetin, diacetin, dan triacetin dengan menggunakan katalis Amberlyst-15. Jenis reaktor yang digunakan adalah Batch. Setelah 4 jam reaksi, dihasilkan konversi 100% dengan menghasilkan 2% monoacetin, 54% diacetin, dan 44% triacetin. Kemudian, hasil reaksi esterifikasi diumpankan menuju proses selanjutnya yaitu decanter dan dua kolom distilasi untuk dilakukan pemurnian dengan pemisahan menjadi produk utama triacetin dan produk samping diacetin. Dengan estimasi umur pabrik 20 tahun, dapat diketahui internal rate of return (IRR) sebesar 18,36%, pay out time (POT) 6,5 tahun dan break even point (BEP) sebesar 29,57 %.
PENGARUH MODEL ALIRAN TERHADAP RECOVERY CO2 PADA ABSORPSI GAS CO2 OLEH LARUTAN K2CO3 DIDALAM PACKED COLUMN DENGAN KONDISI NON-ISOTHERMAL Kusnarjo Kusnarjo; Kuswandi Kuswandi; Susianto Susianto; Ali Altway
Reaktor Volume 12, Nomor 3, Juni 2009
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.996 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.12.3.154 – 160

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh model aliran terhadap recovery gas pada absorpsi gas CO2 menggunakan larutan K2CO3 yang di kontakkan secara berlawanan arah (counter current) didalam packed column menggunakan packing jenis raschig ring. Penelitian dilakukan menggunakan kolom kaca berdiameter 10 cm dan tinggi 150 cm. Packing dibuat dari logam aluminium berdiameter 1,0 cm dan tinggi 2,0 cm yang mengisi bagian kolom setinggi 100 cm. Variabel penelitian ini adalah konsentrasi CO2  20% volume, dengan laju alir 10  sampai 35 l/menit dan konsentrasi  K2CO3,1M  dan 1,5M dengan laju alir 3 sampai 7,5 l/menit. Dari hasil penelitian absorpsi gas CO2 20% volume menggunakan larutan Benfield dengan model aliran non-ideal besar % recovery gas CO2 dengan larutan K2CO3 1,5M, jumlahnya lebih besar dibandingkan dengan larutan K2CO3 1M, sedangkan absorpsi CO2 dengan campuran udara 80% volume dengan model aliran non-ideal (D/uL=0,1), jumlah % recovery gas CO2 lebih kecil dibandingkan dengan aliran ideal (D/uL=0,2). Validasi antara simulasi dengan eksperimen dengan cara membandingkan kesalahan hasil penelitian menunjukkan bahwa besar % recovery CO2 secara ekperimen lebih rendah dibandingkan dengan cara simulasi. Hasil perhitungan % recovery gas CO2 menggunakan jenis aliran tidak ideal mendekati data eksperimen dengan error 6,52%.
MODEL KINETIKA REAKSI PEMBENTUKAN POLYOL BERBASIS MINYAK SAWIT La Ifa; Sumarno Sumarno; Susianto Susianto; Mahfud Mahfud
Reaktor Volume 14, Nomor 1, April 2012
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.839 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.14.1.1-8

Abstract

REACTION KINETIC MODEL OF RBD PALM OIL BASED-POLYOL PRODUCTION. Polyol, a raw material of polyurethane, has successfully been produced from a renewable resource namely RBD palm oil. This polyol was made by firstly adding a peroxyacetic acid formed in situ from H2O2 and CH3COOH with H2SO4 as cataliyst into RBD palm oil to form epoxidized RBD palm oil. The epoxidized palm oil then was added to a mixture of methanol (MeOH), isopropanol (IPA), and H2SO4 for 2 hours at 60oC so that palm oil-based polyol was formed. The main equipment used in this research was a 500 mL three necked flask, equipped with a reflux condeser, thermometer, water bath and magnetic stirrer. The product was analysed using a titration method and Infra Red (IR) Spectroscopy. It was obtained that the produced palm oil-based polyol has a value of hydroxyl number of 150-209 mg KOH/g sample and a viscosity of 740.777 cP. These results are in accordance with other polyol products from other sources. The kinetic of palm oil-based kinetic was studied and the best model of the reaction rate equation was where k’ = 3.399 e-2391.,6/RT.  The unit of  k is L2 mol-2 menit-1 . The average error of the equation is 4,549%.  Polyol, bahan baku polyuretan, telah berhasil dibuat dari bahan baku terbarukan yakni polyol berbasis RBD palm olein. Polyol ini mula-mula dibuat dengan menambahkan asam peroksi asetat yang dibentuk secara in situ dari H2O2 dan CH3COOH dengan katalis H2SO4 kedalam RBD palm olein untuk membentuk RBD palm olein terepoksidasi. RBD palm oil terepoksidasi ditambahkan kedalam campuran metanol (MeOH), isopropanol (IPA) dan sejumlah katalis H2SO4 selama 2 jam pada suhu 60 oC sehingga terbentuk polyol berbasis RBD palm oil. Peralatan utama yang digunakan dalam percobaan pembuatan polyol adalah labu leher tiga 500 mL dilengakapi dengan kondesor reflux, termometer, water bath dan magnetic stirrer. Polyol produk dianalisa bilangan hidroksil dengan cara titrasi dan dianalisis dengan Infra Red (IR) Spectroscopy. Polyol berbasis RBD palm oil yang dihasilkan memiliki bilangan hidroksil 150-209 mg KOH/g sampel dan viskositas 740,777 cP. hasil ini sebanding dengan polyol yang dihasilkan dari sumber minyak yang lain. Kinetika reaksi polyol berbasis RBD palm oil telah dipelajari dan hasil terbaik didekati dengan persamaan laju reaksi yang diperoleh pada penelitian adalah dimana k’ = 3,399 e-23913,6/RT dalam satuan L2 mol-2 menit-1. Kesalahan estimasi rata-rata adalah 4,549%. Kata kunci: model kinetika; RBD palm oil; polyol
Tin Extraction from Slags Used Hydrochloric Acid Nonot Soewarno; Ali Altway; Susianto Susianto; Fadlilatul Taufany; Siti Nurkamidah
IPTEK The Journal of Engineering Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23378557.v1i1.a438

Abstract

Slag is a mixture of mineral in tin sand or by product in the smelting process. By using separation process, tin can be separated from other minerals in slag. Extraction process with a solvent is usually used to separate tin from other minerals. Furthermore, solution that still contains many dissolved compounds is adsorbed by activated carbon and desorption back with NaOH solution. This study only focuses on the extraction process to obtain a stannate chloride solution with extraction temperature, solvent concentration, extraction time, and liquid/solid ratio as variables. Hydrochloric acid (HCl) has been used as solvent in this study. The concentration of tin in the extracts of each variable was analyzed to determine the percentage of recovery of tin and the optimum operating conditions in the recovery process of tin from waste slag. Experiment results show that the percentage of recovery increases with the increasing of extraction temperature and solvent concentration The highest recovery is 61.5% which is obtained when the extraction temperature is 80 ºC, concentration of HCl is 10 wt%, with a HCl solution and slag ratio is 7: 1 and extraction time is about 30 minutes.
Proses Katalitik Pirolisis Untuk Cracking Bitumen Dari Asbuton dengan Katalis Zeolit Alam Susianto Susianto; Yosita Dyah Anindita; Azka Afuza; Eldira Nindri Wena; Ali Altway
IPTEK Journal of Proceedings Series No 2 (2018): The 2nd Conference on Innovation and Industrial Applications (CINIA 2016)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370 KB) | DOI: 10.12962/j23546026.y2018i1.3426

Abstract

Asbuton adalah aspal alam yang terkandung dalam deposit batuan terdapat di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Asbuton berpotensi menjadi bahan bakar alternatif. Penelitian tentang pirolisis bitumen menjadi hidrokarbon (heavy oil) sudah mulai dikembangkan, namun belum banyak dilakukan. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh temperatur pirolisis terhadap % yield masing – masing produk, mempelajari pengaruh penambahan katalis pada masing-masing temperatur pirolisis terhadap % yield masing – masing produk, mempelajari pengaruh temparatur pirolisis terhadap % yield produk cair dengan dan tanpa katalis. Pirolisis bitumen yang terkandung dalam asbuton dilakukan secara semi-continue dalam reaktor pirolisis pada kondisi vakum dengan variable temperatur pirolisis sebesar 300oC, 350oC, 400oC, 450oC, dan 500oC. sedangkan zeolit klipnotilolit sebagai katalis divariasi sebesar 5%, 7%, dan 9% dari berat feed asbuton. Feed asbuton sebanyak 228 gram dicampur dengan katalis sesuai perbandingan kemudian dimasukan ke dalam reaktor pirolisis. Heater dioperasikan sesuai temperatur yang diinginkan kemudian di vakum dengan menggunakan pompa vakum. Gas yang terbentuk akan dialirkan melalui kondensor yang dijaga temperaturnya pada 25oC. Gas yang terkondensasi (produk cair) akan tertampung dalam erlenmeyer, sedangkan gas yang tidak terkondensasi (produk gas) akan ditampung dalam kantong gas. Kemudian %yield produk masing-masing dianalisa. Hasil penelitian menunjukan bahwa metode pirolisis dapat digunakan untuk cracking bitumen yang terkandung dalam asbuton dengan kondisi terbaik untuk mendapatkan yield produk cair tertinggi sebesar 61.531% diperoleh dalam kondisi temperatur pirolisis 350oC dengan penambahan 9% katalis.
Studi Pemisahan Bitumen dari Asbuton Menggunakan Media Air Panas dengan Penambahan Surfaktan Anionik dan NaOH Susianto Susianto; Yosita Dyah Anindita; Gissa Navira Sevie; Fadlilatul Taufany; Ali Altway
IPTEK Journal of Proceedings Series No 2 (2018): The 2nd Conference on Innovation and Industrial Applications (CINIA 2016)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.656 KB) | DOI: 10.12962/j23546026.y2018i1.3423

Abstract

Asbuton adalah aspal alam yang terkandung dalam deposit batuan terdapat di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Asbuton dimanfaatkan sebagai bahan alternatif pengganti aspal minyak setelah bitumen dipisahkan dari mineralnya. Penelitian proses pemisahan bitumen dari asbuton menggunakan hot water process sebelumnya telah dilakukan, tetapi bitumen yang terambil kurang maksimal. Oleh karena itu, pada penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan %recovery bitumen dengan modifikasi hot water process melalui penambahan surfaktan anionik dan NaOH. Proses pemisahan bitumen dari asbuton dilakukan melalui dua proses utama, yakni premixing-preheating dan digesting. Premixing-preheating dilakukan dengan mengaduk 250 rpm asbuton dan solar pada suhu 60,70,80, dan 90oC selama 30 menit. Proses digesting mengaduk 1500 rpm campuran solar-asbuton dengan penambahan wetting agent (Rwa), berupa larutan surfaktan LAS-NaOH sebesar 25%,30%,35% dan 40% terhadap massa campuran total. Konsentrasi larutan surfaktan LAS sebesar 0,5%,1%,1,5% dan 2%. Produk proses digesting dipisahkan secara gravitasi dengan menambahkan air garam konsentrasi 3.5% sehingga terbentuk tiga lapisan. Lapisan teratas merupakan larutan bitumen-solar, ditimbang berat dan diukur densitasnya untuk mengetahui persen (%) recovery yang diperoleh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa % recovery bitumen tertinggi diperoleh sebesar 97,74% pada suhu 90oC dengan wetting agent 25% dan konsentrasi surfaktan 1.5%
Performance Test Membrane Contactor for CO2 Desorption from DEA Yeni Rahmawati; Salasa Ariq Sungkono; Zulfahmi Hawali; Fadlilatul Taufany; Susianto Susianto; Siti Nurkhamidah; Ali Altway
IPTEK The Journal of Engineering Vol 9, No 1 (2023)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23378557.v9i1.a16642

Abstract

Membrane-based desorption of carbon dioxide (CO2) using a membrane contactor is considered a novel process for separating CO2 from solvents. It can be carried out using temperature regeneration, sweep gas, and vacuum method. In this work, the vacuum regeneration method is applied in the CO2 desorption process from 30% wt of diethanolamine (DEA) solution. This study investigates the effect of operating parameters such as liquid flowrate, vacuum pressure, and CO2 loading on the mass transfer rate and desorption efficiency of CO2. The highest mass transfer rate of 2.2013 × 10-7 mol/m2s is achieved at a liquid flowrate of 500 mL/min, CO2 loading of 0.27 mol CO2/mol DEA, and vacuum pressure of 50 cmHg while the maximum desorption efficiency of 71.45% is achieved at lower liquid flowrate of 100 mL/min, CO2 loading of 0.27 mol CO2/mol DEA, and vacuum pressure of 50 cmHg. The result demonstrates that membrane contactor is a promising method for the CO2 desorption process which requires further investigation. 
Pengaruh Gliserol sebagai Plasticizer terhadap Karakterisasi Edible Film dari Kappa Karaginan Larasati, Wahyu Adinda; Rahmawati, Yeni; Taufany, Fadlilatul; Susianto, Susianto; Altway, Ali; Nurkhamidah, Siti
Eksergi Vol 21, No 3 (2024)
Publisher : Prodi Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri, UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/e.v21i3.12451

Abstract

Perkembangan industri pengemasan makanan di era mendatang akan beralih ke bahan alami dan ramah lingkungan yang bisa diproduksi dari biopolimer seperti pati dan hidrokoloid lainnya untuk mengurangi paparan polusi dari polimer sintetis. Kappa karaginan memiliki sifat yang rapuh, sehingga dibutuhkan plasticizer untuk menghasilkan edible film yang lebih elastis. Jenis plasticizer yang digunakan adalah gliserol. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi gliserol terhadap karakterisasi edible film dari kappa karaginan. Kappa karaginan dengan konsentrasi 1% (b/v) dilarutkan dengan akuades kemudian ditambahkan gliserol dengan variasi konsentrasi 0,5; 1; 1,5, dan 2% (b/v). Edible film kemudian di karakterisasi berdasarkan sifat mekanik, gugus fungsional, ketebalan, kadar air, kuat tarik, elongasi, warna dan opacity. Hasil analisa menunjukkan bahwa penambahan gliserol sebesar 1% dapat meningkatkan sifat mekaniknya, dan film mempunyai 0,146 mm, kadar air 17,90%, kuat tarik dan elongasi 2,53 MPa dan 14,09% dan sifat optik warna dan opacity masing-masing sebesar 96,96% dan 1,32. 
Co-Authors Aditya Akhmad Sony Afan Hamzah, Afan Afri Dwijatmiko Agung Budi Laksono, Agung Budi Ali Altway Altway, Saidah ASNAWI Assegaf, Hapidz Hilal Atlway, Ali Azka Afuza Carolina, Citra Yunita Dwi Arimbi Wardaningrum Dwi Nastiti Iswarawanti Dwiningrum, Wiki Eldira Nindri Wena Endah Prasetyo Rini Esty Febriani Evi Sonjati Fadlilatul Taufany Fadlilatul Taufany Falah, M. Fajrul Faradisa Ayu Rahmatika Ferdiansyah, Dita Ahmeta Firsta Hardiyanto Gissa Navira Sevie Handoko, Erwin Harianto II Hasanah Hasanah Hastuti, Anita Widi Hendi Riesta Mulya Hermansyah, Asep Nandang Husna, Faisal K Kusnaryo K Kuswandi Khaerudin, Muhamad Wildan Kusnarjo Kusnarjo Kuswandi Kuswandi Kuswandi Kuswandi La Ifa Larasati, Wahyu Adinda Lili Tanti, Lili Luwis, Kevin Mahendra, Dimas Mahfud Mahfud Mamlukah , Mamlukah Mamlukah, Mamlukah Margono Margono Masriti, Masriti Medya Ayunda Fitri Muhammad Iqbal Muhammad Noer Fadlan Muhammad Rifa'i Muhammad Yusuf Napitupulu, Safrida Nonot Soewarno Nora Amelia Novitrie Novitrie, Nora Amelia Nugraha, Agah Nur Aini Nadhifah Nur Ihda Farihatin Nisa Nurani Nurani Nurkhamidah, Siti Pamungkas, Raditya Pradana, Richo Surya Prasetyo, Ivan Pratama, Riski Indra Bayu Raditya Feda Rifandhana, Raditya Feda Ratih Permatasari Riski Febria Nurita, Riski Febria Ropii, Ahmad Rossi Suparman Ruben Leonardo Panjaitan Sabariah Sabariah Safrizal Safrizal Salasa Ariq Sungkono Samuel Sembiring Sanoesi, Vindelin Siregar, Asrul Siti Nurkamidah Siti Nurkhamidah Sofyan Sofyan Suandy, Suandy Suhadi Suhadi Suhadi Sulthon Miladiyanto, Sulthon Sumarno Sumarno Sunarjo Sunarjo Suprapto Suprapto Supratman, Rossi Supriyadi Supriyadi Susi Susanti Toto Iswanto Utamy, Sri Nur Wahyuniar, Lely Yeni Rahmawati, Yeni Yosita Dyah Anindita Yulian Naufal Ariq Zulfahmi Hawali