Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

The effectiveness of SAPE: A technology-based interactive learning media for enhancing solfeggio ability of senior high school students Ronald Elisa; Yohanes Bahari; Dede Suratman; Martono Martono; Muhammad Basri
Jurnal Kependidikan: Penelitian Inovasi Pembelajaran Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : Directorate of Research and Community ServiceUniversitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jk.v10i1.95053

Abstract

This study addresses the challenge of deficient solfeggio proficiency amongst Year 11 students at SMAN 01 Jagoi Babang, a limitation that invariably leads to suboptimal musical performance, particularly for individuals with diminished pitch perception. The primary objective was to rigorously evaluate the efficacy of the SAPE (Senang Aktif Piano Efektif / Happy Active Piano Effective) interactive media in enhancing solfeggio capabilities within the music curriculum. Employing a quantitative approach, the research utilised a quasi-experimental, non-equivalent control-group design within a two-cycle Classroom Action Research framework. This methodology facilitated the precise measurement of proficiency trajectories through comparative analysis. The participant cohort comprised 36 students identified with pitch-perception difficulties via a diagnostic assessment, who were subsequently allocated to homogeneous experimental and control groups through purposive sampling. Data were systematically gathered via a pretest-posttest practical examination targeting sight-reading, ear training, and sight-singing, along with a Likert-scale questionnaire to capture affective responses. The findings demonstrate that the experimental group, utilising the SAPE intervention, achieved consistently superior improvements in solfeggio proficiency compared to the control group subjected to conventional pedagogical methods. Furthermore, SAPE functions as a highly efficacious multimodal instructional tool, fostering active engagement, augmenting self-confidence, and enabling independent, offline practice. Ultimately, this study substantiates that innovative interactive media, particularly when integrating local wisdom, serve as a critical determinant in the successful delivery of secondary school music education.
Ekranisasi Novel Jalan Tak Ada Ujung Karya Mochtar Lubis ke Film Perang Kota Karya Mouly Surya Hafizah Hafizah; Martono Martono; Agus Wastiningsih
Journal of Literature Review Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI-JUNI
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/bdg9fb94

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk-bentuk ekranisasi dari novel Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis ke film Perang Kota karya Mouly Surya serta pemanfaatannya dalam penyusunan modul ajar Bahasa Indonesia kelas XII. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Subjek penelitian berupa teks novel dan adegan-adegan film, sedangkan data penelitian berupa kutipan, dialog, dan potongan adegan yang menunjukkan penciutan, penambahan, dan perubahan bervariasi. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi terhadap novel dan film, kemudian dianalisis dengan langkah reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 31 data perubahan ekranisasi, meliputi 5 data penciutan, 17 data penambahan, dan 8 data perubahan bervariasi. Perubahan tersebut mencerminkan proses adaptasi yang menyesuaikan kebutuhan dramatik, estetika visual, dan karakteristik film sebagai medium audiovisual. Temuan penelitian selanjutnya diintegrasikan ke dalam modul ajar untuk membantu peserta didik menganalisis transformasi teks sastra ke film dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Penelitian ini memberikan kontribusi pada kajian ekranisasi serta menawarkan alternatif pembelajaran sastra yang kontekstual.
Indigenous Knowledge and Socio-Cultural Learning: The Educational Meaning of the Meruba Ritual among Dayak Krio Community Iwan Ramadhan; Figur Adhiyakam; Martono Martono; Muhammad Agus Hardiansyah; Yudhistira Oscar Olendo
Jurnal Mamangan Vol 14, No 1 (2025): Jurnal Ilmu Sosial Mamangan Accredited 2 (SK Dirjen Ristek Dikti No. 0173/C3/DT
Publisher : LPPM Universitas PGRI Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22202/mamangan.v14i1.9439

Abstract

This study explores the educational values embedded in the Meruba ritual of the Dayak Krio community, focusing on its role in supporting socio-cultural learning practices based on indigenous knowledge. The core issue addressed is how the Meruba ritual serves as a medium for transmitting religious, social, and moral values across generations, thereby strengthening social cohesion and cultural sustainability. The objective of this research is to analyze the procession and educational meanings of the Meruba ritual and emphasize its relevance within the context of multicultural education. Utilizing the theoretical framework of socio-cultural learning, which views social interaction as the foundation of the learning process, and the concept of indigenous knowledge, which explains how local knowledge systems are transmitted through cultural practices, this study positions the Meruba ritual as a vehicle for knowledge transfer encompassing spiritual, social, and moral dimensions. The research employs a qualitative approach, using participatory observation, in-depth interviews, and document analysis conducted on June 24–25, 2024. These methods aim to obtain a comprehensive understanding of the ritual's implementation and the educational values contained within it. The findings reveal that the Meruba ritual consists of three stages: the initial procession, the core procession, and the closing procession. Each stage incorporates specific educational dimensions, including religious values that reinforce spiritual beliefs and ancestral reverence, social values that foster solidarity and collective participation, and moral values that instill ethics and social responsibility in younger generations. The Meruba ritual is not merely a cultural practice but also serves as an effective medium for socio-cultural learning grounded in indigenous knowledge. The novelty of this study lies in its holistic approach to understanding Meruba as an educational praxis that bridges indigenous knowledge with multicultural education, offering significant contributions to the development of learning models based on local wisdom.
HUBUNGAN BUDAYA LITERASI DENGAN KETERAMPILAN MENULIS NARASI SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR Dian Asri Saputra; Martono Martono; Maha Lastasa Buju Basafpipana Habaridota
JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia) Vol 8, No 3 (2023): VOLUME 8 NUMBER 3 SEPTEMBER 2023
Publisher : STKIP Singkawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26737/jpdi.v8i3.4750

Abstract

Tujuan dalam penelitian ini yaitu : 1) menggambarkan tingkat budaya literasi dan keterampilan narasi siswa, 2) menganalisis perbedaan budaya literasi dan keterampilan menulis narasi berdasarkan gender dan kelas, 3) menganalisis hubungan antara budaya literasi dengan kemampuan menulis narasi siswa. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain survei. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV, V, dan VI yang berjumlah 193 siswa. Sampel dialmbil dari populasi dengan teknik simple random sampling sebanyak 130 siswa. Teknik pengumpul data yang digunakan yaitu pengukuran dengan instrumen skala dan tes. Teknik analisis data yang digunakan yaitu persentase, manova, dan korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) nilai rata-rata budaya literasi sebesar 86% dan nilai keterampilan menulis narasi sebesar 70,4%, 2) nilai perbedaan budaya literasi dan keterampilan menulis narasi berdasarkan jenis kelamin sebesar 13% (p > .05) dan berdasarkan kelas 77% (p < .05), 3) nilai korelasi antara budaya literasi dengan keterampilan menulis narasi sebesar .721 (p < .05). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa budaya literasi siswa berada pada kategori tinggi dan keterampilan menulis narasi berada pada kategori sedang. Kemudian budaya literasi dan keterampilan menulis narasi tidak berbeda berdasarkan gender, namun berbeda berdasarkan kelas. Terdapat hubungan yang signfikan antara budaya literasi dengan keterampilan menulis narasi.
The Effect of Play-Based Learning on Early Reading and Simple Sentence Writing Skills in First-Grade Students Sri Muriati; Martono Martono; Imam Ghozali; Antonius Totok Priyadi; Masriani Masriani
Jurnal Pendidikan Terapan Vol 4, No 3 July (2026)
Publisher : Sakura Digital Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61255/jupiter.v4i3.1430

Abstract

This study examines the effect of a play-based learning approach on beginning reading and simple sentence writing skills among first-grade elementary school students. A pre-experimental study employing a one-group pretest–posttest design was conducted with 25 first-grade students selected through total sampling. Data were collected through beginning reading and simple sentence writing tests administered before and after the implementation of the play-based learning approach and analyzed using descriptive statistics and a paired-samples t-test at a significance level of 0.05. The results showed that students’ literacy performance improved significantly after the intervention. The mean score increased from 65.00 in the pretest to 82.00 in the posttest, while the percentage of students achieving mastery learning rose from 32% to 84%. The paired-samples t-test confirmed a statistically significant difference between pretest and posttest scores (t = [insert t-value], p < 0.001), indicating that the play-based learning approach effectively enhanced students’ beginning reading and simple sentence writing skills. These findings suggest that integrating play-based learning into early-grade literacy instruction can create more active, meaningful, and developmentally appropriate learning experiences. This study contributes to the literature by providing empirical evidence on the simultaneous improvement of beginning reading and simple sentence writing skills through a play-based learning approach, offering a more comprehensive perspective on early literacy development in elementary education.
Penguatan Kompetensi Guru dalam Pendidikan Multikultural di Sekolah Multietnis di Wilayah Perbatasan Indonesia dan Malaysia: Strengthening Teacher Competencies for Multicultural Education in Multiethnic Schools along the Border of Indonesia and Malaysia Maria Ulfah; Aunurrahman Aunurrahman; Martono Martono; Sulistyarini Sulistyarini; Urai Salam; Iwan Ramadhan; Yusawinur Barella
JPPM (Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat) VOL. 10 NOMOR 2 JULI 2026 JPPM (Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/jppm.v10i2.30742

Abstract

Wilayah perbatasan memiliki kompleksitas sosial-budaya yang tinggi sehingga menuntut implementasi pendidikan multikultural yang adaptif dan inklusif. Namun, keterbatasan pemahaman dan kesiapan guru masih menjadi kendala dalam mengelola pembelajaran pada konteks sekolah multietnis. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman dan kesiapan guru dalam mengimplementasikan pendidikan multikultural melalui pelatihan berbasis konteks lokal di Entikong, Kabupaten Sanggau. Mitra kegiatan adalah 30 guru dari SMK Negeri 1 Entikong. Metode yang digunakan berupa pendekatan partisipatif melalui seminar interaktif yang mencakup penyampaian materi, diskusi reflektif, dan berbagi pengalaman dalam mengelola keberagaman di kelas. Evaluasi dilakukan menggunakan kuesioner berbasis skala Likert serta refleksi peserta untuk mengidentifikasi persepsi terhadap manfaat dan relevansi kegiatan. Hasil menunjukkan bahwa 90% peserta menilai kegiatan sangat bermanfaat, lebih dari 85% menyatakan materi relevan dengan kebutuhan pembelajaran, dan sekitar 80% memiliki motivasi untuk mengimplementasikan nilai-nilai multikultural dalam praktik pembelajaran. Temuan ini mengindikasikan bahwa kegiatan mampu meningkatkan pemahaman konseptual dan mendorong kesiapan awal guru dalam mengembangkan pembelajaran yang inklusif. Namun demikian, keterbatasan struktural seperti kurikulum dan fasilitas masih menjadi tantangan dalam implementasi berkelanjutan. Oleh karena itu, kegiatan ini berperan sebagai langkah awal dalam penguatan kapasitas guru serta menegaskan pentingnya program lanjutan yang lebih aplikatif dan sistemik untuk mendukung transformasi pedagogis di wilayah perbatasan.