Claim Missing Document
Check
Articles

Kandungan Logam Berat Timbal (Pb) Pada Air, Sedimen, dan Jaringan Lunak Kerang Bambu (Solen sp.) Di Perairan Rembang Jawa Tengah Dan Gresik Jawa Timur Satrio Fahrul Ananda; Sri Redjeki; Ita Widowati
Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i2.29956

Abstract

Kerang merupakan organisme laut berjenis moluska yang terdiri dari jaringan lunak dan sepasang cangkang yang keras kerang bambu (Solen sp) jenis kerang konsumsi yang tumbuh dan berkembang biak di pesisir perairan yang berjenis substrat pasir hingga lumpur. Keberadaan kerang Bambu (solen sp) salah satu bioindikator pencemaran akibat logam berat di perairan keberadaan pencemaran lingkungan berakibat kegiatan manusia seperti industri, pertanian, akivitas nelayan, dan pariwisata yang diduga sumber logam berat timbal (Pb). Logam berat timbal memiliki sifat toxic. Tujuan dalam penelitian penelitian ini adalah mengetahui dan membandingkan kandungan logam berat timbal (Pb) pada air, sedimen dan jaringan lunak di perairan Kabupaten Rembang dan Kabupaten Gresik. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pengambilan sampel menggunakan purposive sampling method. Materi yang digunakan penelitian adalah sampel jaringan lunak kerang bambu (solen sp), sedimen, dan Air. Parameter penelitian yang digunakan adalah salinitas, DO, suhu, dan kadar keasaman (pH). Hasil penelitian ini ditemukan kadar logam berat timbal (Pb) di perairan Kabupaten Rembang pada air 0 - 0,176mg/l, sedimen 3.667 – 11.407 mg/kg, dan jaringan lunak 4.755 mg/l. Perairan Kabupaten Gresik didapatkan hasil jaringan lunak 2.034 mg/l, air 0 -  0.325 mg/l, dan sedimen 6.877 – 8.798 mg/kg. kemampuan organisme kerang bambu (solen sp) mengakumulasi logam berat Timbal (Pb) termasuk kategori rendah dengan nilai faktor biokonsentrasi rata – rata < 100.  Shellfish are mollusk-type marine organisms consisting of soft tissue and a pair of hard shells. Razor clams (Solen sp.) are types of consumption shells that grow and multiply on coastal waters that are of sand to mud substrate type. The existence of Razor clams (Solen sp.) is one of the bio-indicators of pollution due to heavy metals in the waters. The existence of environmental pollution results in human activities such as industry, agriculture, fishing activities, and tourism which are suspected sources of lea-heavy metals). Lead metal has toxic properties. The purpose of this research is to find out and compare the lead content of heavy metals timbale in water, sediment, and soft tissue in the waters of Rembang Regency and Gresik Regency. This research is descriptive in nature with sampling using a purposive sampling method. The material used in this research is a sample of soft tissue Razor clams (Solen sp.), sediments, and water. The research parameters used were salinity, DO, temperature, and acidity (pH). The results of this study found levels of heavy metal lead timbale in the waters of Rembang Regency in water 0 - 0.176mg / l, sediment 3.667 - 11407 mg /kg, and soft tissue 4.755 mg / l. The waters of Gresik Regency obtained 2,034 mg / l soft tissue results, 0 - 0,325 mg / l water, and 6,877 - 8,798 mg / kg sediments. Bamboo shellfish ability  to accumulate heavy metals from timbale is on low category with an average bio-concentration factor value <100.
Aspek Biologi Pari Kekeh (Rhynchobatus spp.) Studi Kasus di PPP Tasik Agung, Rembang Ayu Safitri; Sri Redjeki; Ita Widowati
Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i1.31271

Abstract

Pari kekeh merupakan jenis pari dalam kelompok ordo Rhinopristiformes yang termasuk dalam salah satu komoditas perikanan penting di Indonesia. Pari kekeh telah dikategorikan sebagai spesies ikan terancam punah menurut IUCN dan termasuk ke dalam daftar Appendiks II CITES. Laut Jawa sebagai Wilayah Pengelolaan Perikanan 712 merupakan salah satu daerah penangkapan utama untuk komoditas pari kekeh. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui komposisi jenis, hubungan panjang-berat, dan nisbah kelamin pari kekeh (Rhynchobatus spp.) yang didaratkan di PPP Tasik Agung, Rembang pada tanggal 7 September – 6 Oktober 2020. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Pengambilan data yang dilakukan berupa identifikasi jenis, pengukuran panjang total, panjang standar, berat, dan jenis kelamin ikan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tiga jenis ikan pari kekeh (Rhynchobatus spp.), yaitu Rhynchobatus australiae, Rhynchobatus springeri, dan Rhynchobatus laevis dengan komposisi secara berturut-turut sebanyak 49%, 34%, dan 17%. Hubungan panjang total dan berat masing-masing jenis pari kekeh (Rhynchobatus spp.) menunjukkan pola pertumbuhan bersifat allometrik negatif (b<3), yaitu pertumbuhan panjang ikan lebih cepat dari pertumbuhan berat. Nisbah kelamin ikan pari Rhynchobatus australiae sebesar 1:1,78, pari Rhynchobatus springeri sebesar 1:1,64, dan pari Rhynchobatus laevis sebesar 1:1,50. Hasil uji Chi-square (X2) dari masing-masing jenis pari Rhynchobatus spp. menunjukkan bahwa perbandingan individu jantan dan betina berbeda nyata atau dapat dikatakan tidak seimbang.Wedgefishes are a type of ray in the order Rhinopristiformes, which is one of the important fisheries commodities in Indonesia. Wedgefishes have been categorized as an endangered species according to the IUCN and is included in the CITES Appendix II list. Java Sea as Fishery Management Area 712 is one of the main fishing areas for wedgefishes commodities. The aim of this study was to determine the species composition, length-weight relationship, and sex ratio of wedgefishes (Rhynchobatus spp.) landed at PPP Tasik Agung Rembang on September 7 - October 6, 2020. This study used a descriptive method. Data were collected by identifying the species, measuring the total length, standard length, weight and sex of the fish. The results showed that there were three types of wedgefishes (Rhynchobatus spp.) found in PPP Tasik Agung, namely Rhynchobatus australiae, Rhynchobatus springeri, and Rhynchobatus laevis with compositions of 49%, 34%, and 17% respectively. The length-weight relationship of each type of wedgefishes (Rhynchobatus spp.) exhibited a negative allometric pattern of growth (b <3), that is, fish length growth is faster than weight growth. The sex ratio of Rhynchobatus australiae was 1: 1.78, Rhynchobatus springeri were 1: 1.64, and Rhynchobatus laevis were 1: 1.50. The results of the Chi-square test (X2) of each type of Rhynchobatus spp. indicates that the ratio of male and female individuals is significantly different or can be said to be imbalance.
Asosiasi Gastropoda dengan Lamun di Perairan Teluk Awur dan Pulau Panjang, Jepara Aldi Rivaldy Maulana; Widianingsih Widianingsih; Ita Widowati
Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i1.30801

Abstract

Gastropoda adalah salah satu biota yang dapat berasosiasi dengan lamun. Kondisi padang lamun pada kedua lokasi akan mempengaruhi tingkat kerapatan dan kelimpahan biota yang berada di perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kerapatan lamun yang berbeda dan kelimpahan gastropoda serta hubungan antara tingkat kerapatan lamun yang berbeda dengan kelimpahan gastropoda. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan pada bulan Mei dan Agustus 2020 di Perairan Teluk Awur dan Pulau Panjang, Jepara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus yang bersifat deskriptif berdasarkan 3 kerapatan yang berbeda, yaitu kerapatan jarang, sedang, dan padat. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 4 jenis lamun di Perairan Teluk Awur dan 5 jenis lamun di Perairan Pulau Panjang, yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hempricii, Cymodocea serrulata dan Cymodocea rotundata dan Halophila ovalis. Kelimpahan gastropoda di kerapatan lamun jarang, sedang, dan padat di Teluk Awur adalah 67,5 ind/m², 97 ind/m² dan 10,5 ind/m², sedangkan kelimpahan gastropoda di kerapatan lamun jarang, sedang, dan padat di Pulau Panjang adalah 96 ind/m², 97,5 ind/m² dan 336,5 ind/m². Berdasarkan hasil regeresi menunjukkan antara kelimpahan gastropoda dengan kerapatan lamun terdapat korelasi yang erat, sehingga semakin tinggi kerapatan lamun akan diikuti oleh tingginya kelimpahan gastropoda. Seagrass beds are one of the marine ecosystems located in coastal areas and have an important role in the waters. Gastropods are one of the biota associated with seagrass beds. The conditions of the seagrass beds in both locations will affect the density and abundance of biota in the waters. This study aims to determine the different levels of seagrass density and abundance of gastropods and the relationship between different seagrass density levels and the abundance of gastropods. This research was carried out in May and August 2020 in the waters of Teluk Awur and Panjang Island, Jepara. The method used in this research is a descriptive case study based on 3 different densities, namely rare, medium, and dense. The research steps taken were sampling, identification, data analysis and data evaluation. The results showed that there were 4 types of seagrass in Teluk Awur  waters and 5 types of seagrass in Panjang Island waters, namely Enhalus acoroides, Thalassia hempricii, Cymodocea serrulata and Cymodocea rotundata and Halophila ovalis. The abundance of gastropods in the rare, medium, and dense seagrass density in Awur 67,5 ind/m², 97 ind/m² dan 10,5 ind/m², while the abundance of gastropods in the rare, medium and dense seagrass density in Panjang Island was 96 ind/m², 97,5 ind/m² dan 336,5 ind/m². Based on the regression results, there is a strong correlation between gastropod abundance and seagrass density, so that the higher the seagrass density will be followed by the higher gastropod abundance. 
Aktivitas Antioksidan dan Identifikasi Golongan Senyawa Aktif Ekstrak Kasar Mikroalga Chlorella Vulgaris Yang Dikultivasi Berdasarkan Sumber Cahaya Yang Berbeda Teni Novianti; Muhammad Zainuri; Ita Widowati
Barakuda'45 Vol 1 No 2 (2019): Edisi November
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas 17 Agustus 1945 Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (841.881 KB) | DOI: 10.47685/barakuda45.v1i2.44

Abstract

Chlorella vulgaris termasuk salah satu jenis fitoplankton dalam kelas Chlorophyceae (alga hijau) yang dapat dimanfaatkan sebagai suplemen maupun sumber obat alami yang berpotensi sebagai antioksidan. Untuk memaksimalkan pertumbuhan dan senyawa bioaktif C.vulgaris yang dapat menghasilkan biomassa dan metabolit sekunder yang memiliki aktivitas antioksidan membutuhkan sumber cahaya buatan terbaik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan golongan senyawa aktif ekstrak kasar mikroalga C.vulgaris yang dikultivasi pada sumber cahaya yang berbeda. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental, sedangkan rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap Faktorial terdiri atas 6 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuannya adalah sumber cahaya neon (32 watt) yang ditambahkan dengan LED Merah, LED Hijau dan LED Biru masing-masing 16 watt dengan KAI C.vulgaris yang dikultivasi yaitu 10x104 sel/ml dan 100x104 sel/ml. Hasil penelitian menunjukan penggunaan sumber cahaya neon yang ditambahkan LED berwarna merah, hijau dan biru dengan kepadatan awal inokulum 100x104 sel/ml memperoleh hasil pertumbuhan C.vulgaris tertinggi pada sumber cahaya LED merah sebesar 2057,7x104sel/ml. Sedangkan sumber cahaya neon yang ditambahkan LED biru menghasilkan aktivitas antioksidan terbaik dengan nilai IC50 38,900 (antioksidan sangat kuat) dan memiliki komponen bioaktif alkaloid, steroid, saponin, flavonoid dan kuinon.
Konsentrasi Fe dan Batas Aman Konsumsi Kerang Hijau (Perna viridis) dari Perairan Tambak Lorok Liningga Adiningtyas; Endang Supriyantini; Ita Widowati; Mimie Saputri
Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 1 (2023): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v12i1.45754

Abstract

Di daerah Tambak Lorok terdapat banyak aktivitas manusia, baik di daratan maupun perairan yang dapat menyebabkan peningkatan konsentrasi logam berat, salah satunya logam Fe. Salah satu organisme yang hidup di Perairan Tambak Lorok dan mampu mengakumulasi logam Fe adalah kerang hijau (Perna viridis). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan konsentrasi logam berat Fe dalam air, sedimen, dan jaringan lunak daging kerang hijau (P. viridis) serta untuk mengetahui tingkat keamanan konsumsi kerang hijau (P. viridis) harian terhadap logam Fe dari Tambak Lorok, Semarang. Penelitian dilakukan pada bulan Maret dan April 2021 dengan menggunakan metode eksploratif kuantitatif. Kadar logam Fe dianalisis dengan AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer). Hasil analisis kandungan logam Fe dalam air berkisar antara 0,16-1,69 mg/L; sedimen 4,39-88,07 mg/kg; dan jaringan lunak kerang hijau (P. viridis) 0,19-2,76 mg/kg. Kandungan logam Fe dalam air menunjukkan peningkatan, sedangkan kandungan Fe dalam sedimen dan jaringan lunak kerang hijau (P. viridis) mengalami penurunan pada bulan April. Nilai BCF (Bioconcentration Factor) < 100 yang menunjukkan akumulasi kerang hijau (P. viridis) terhadap logam Fe rendah. Untuk mengetahui batas aman konsumsi daging kerang hijau per minggu dilakukan penghitungan MTI (Maximum Tolerable Intake). Batas aman konsumsi kerang hijau untuk wanita dengan berat badan 45 kg adalah 657,96 kg/minggu dan 877,28 kg/minggu bagi laki-laki dengan berat badan 60 kg.    Many human activities seen in Tambak Lorok, both on land and in waters, may cause an increase in the concentration of heavy metals, such as Fe. One of the organisms that live in Tambak Lorok Waters and are able to accumulate Fe is the green mussels (Perna viridis). This study aims to determine the concentration of Fe in water, sediment, and soft tissue of green mussel (P. viridis) and to determine the safety level of daily consumption of green mussels (P. viridis) against Fe from Tambak Lorok, Semarang. This study was conducted on March and April 2021 using quantitative exploratory methods. The metal content of Fe was analyzed by AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer). Fe content in water ranged from 0.16 to 1.69 mg/L; sediment 4.39-88.07 mg/kg; and soft tissue of green mussels (P. viridis) 0.19-2.76 mg/kg. Fe content in water showed an increase, while the Fe content in sediment and soft tissue of green mussels (P. viridis) decreased in April. The BCF (Bio Concentration Factor) value is < 100, which indicates accumulation of green mussels (P. viridis) against Fe metal is low. To determine the safety limit of green mussel consumption per week, MTI (Maximum Tolerable Intake) was calculated. The safety limit for green mussel consumption for women weighing 45 kg is 657,96 kg/week and 877.28 kg/week for men weighing 60 kg. 
Kandungan Logam (Pb) pada Air, Sedimen, dan Jaringan Lunak Kerang Darah (Anadara granosa) di Perairan Bandengan, Kabupaten Kendal Serta Batas Aman Konsumsi untuk Manusia Arya Fernandes; Adi Santoso; Ita Widowati
Journal of Marine Research Vol 12, No 1 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i1.35251

Abstract

Kegiatan pembangunan industri yang berkembang cukup pesat di kawasan industri Kabupaten Kendal diduga menjadi penyebab meningkatnya limbah buangan industri yang didalamnya terkandung logam berat timbal (Pb), sehingga limbah tersebut berkontribusi menurunkan kualitas perairan Bandengan, Kabupaten Kendal. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kadar logam (Pb) pada air, sedimen, dan kerang darah (A. granosa) serta batas maksimal konsumsi mingguan kerang darah (A. granosa) yang mengandung logam timbal (Pb) di Perairan Bandengan, Kabupaten Kendal. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret dan April 2022. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deksriptif sedangkan penentuan lokasi penelitian dengan metode purposive sampling. Analisis konsentrasi logam berat Pb dilakukan di Laboratorium Balai Besar Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri (BBTPPI) dengan metode AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry), sedangkan untuk analisis batas aman konsumsi mingguan dihitung dengan MTI (Maximum Tolerable Intake). Hasil penelitian ditemukan konsentrasi logam Pb di perairan Bandengan sebesar <0,003 mg/l, sedimen berkisar 15,32-24,21 mg/kg, dan kerang darah berkisar 0,209-0,731 mg/kg. Berat maksimal mengkonsumsi kerang darah (A. granosa) perminggu dari perairan Bandengan, Kabupaten Kendal individu dengan berat badan 60 kg sebesar 2,051-7,177 kg/minggu. Sedangkan, individu dengan berat 45 kg yaitu 1,538-5,382 kg/minggu. Industrial development activities have been developing quite rapidly in the Kendal Regency industrial area and are suspected to be the cause of the increase in the waste containing lead (Pb) heavy metal. It might contribute to reducing the quality of Bandengan waters. This study was to know the levels of metal (Pb) in water, sediment, and blood cockles (A. granosa) and the maximum weekly consumption of the cockles containing lead (Pb) in the waters. The study conducted in March and April 2022 used the descriptive method and purposive sampling to determine the locations. Analysis of Pb concentration was at the Laboratory of the Center for Industrial Pollution Prevention Technology (BBTPPI) using the AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry) method. The analysis of the safe limit for weekly consumption was using the formula of MTI (Maximum Tolerable Intake). The results showed that Pb concentrations in water, sediment, and tissue in Bandengan waters were <0.003 mg/l, 15.32 - 24.21 mg/kg, and 0.209 - 0.731 mg/kg, respectively. The maximum weight of consuming blood cockles (A. granosa) per week from Bandengan waters, Kendal Regency of 60 kg individuals weighing was 2,051 - 7,177 kg/week. Meanwhile, individuals weighing 45 kg were 1,538 - 5.382 kg/week.
Morphometry of Limulidae (Oscar E. Brown) in Leidong, Sei Berombang, and Tanjung Tiram, North Sumatera Zhulian Hikmah Hasibuan; Ita Widowati; Ervia Yudiati; Syukur Syukur
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 28, No 1 (2023): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ik.ijms.28.1.105-112

Abstract

Limulidae (Horseshoe crab), or Mimi in the local name, are known; there are four species, namely Limulus polyphemus in North America and Asia, namely Tachypleus tridentatus, T. gigas, and Carcinoscorpius rotundicauda. In Indonesia, these species are protected by the Decree of the Minister of Forestry Number 12/KPTS-II/1987; meanwhile, illegal fishing still occurs. This study aims to identify Limulidae species and analyze Mimi's morphometric characteristics and distribution in North Sumatra to conserve the species.  This research was conducted using a quantitative descriptive method in Leidong, Sei Berombang, Tanjung Tiram - North Sumatera, from September to December 2021. Biometric measurements were performed on 98 Mimi, and the data were statistically analyzed using the Kruskal Wallis test, Mann-Whitney test, and Multinomial logistics. The results showed that Mimi in the study area was identified as Tachypleus tridentatus, T. gigas, and Carcinoscorpius rotundicauda. The most commonly caught was T. tridentatus at the Tanjung Tiram. Based on the maximum width of the prosoma and body length, the largest to most petite sizes are T. tridentatus at Leidong (10.31 cm), T. gigas at Leidong, and Sei Berombang (10 cm) and C. rotundicauda at Sei Berombang (7.56 cm) respectively. The cluster analysis based on 27 morphometric characters showed that T. tridentatus had almost the same characteristics as T. gigas, while C. rotundicauda had its features. It can be concluded that the largest to most petite sizes of Mimi in the study area were T. tridentatus, T. gigas, and C. rotundicauda, respectively.
Akumulasi Logam Berat Timbal (Pb) pada Kerang Bulu (Anadara antiquata) di Perairan Bandengan Kendal serta Analisis Batas Aman Konsumsi Nadaa Salsabiila Nuri; Adi Santoso; Ita Widowati
Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i3.35276

Abstract

Perairan Bandenga Kendal termasuk dalam kawasan pantai utara di Laut Jawa. Perairan Bnadengan Kendal di kelilingi oleh berbagai industri, dan juga terdapat Pelabuhan Kendal, serta pemukiman warga. Hal ini dapat berpotensi adanya pencemaran laut. Perkembangan industri tersebut akan berdampak negatif bagi lingkungan laut termasuk organisme yang hidup di dalamnya seperti Kerang Bulu. Kerang Bulu menjadi komoditas penunjang ekonomi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan timbal yang terkandung dalam air, sedimen dan jaringan lunak kerang bulu. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret - April 2022 dan penelitian ini menggunakan analisis dengan metode AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer). Hasil analisis kandungan timbal dalam kerang bulu pada bulan Maret – April 2022 berkisar antara 0,840 – 4,093 mg/kg, dalam air berkisar 0,134 - 0,47 mg/l dan dalam sedimen berkisar 5,251 – 12,303 mg/kg. Berdasarkan baku mutu yang ditetapkan oleh PP No 22 tahun 2021 kandungan timbal dalam air yaitu 0,008 mg/l., kandungan logam berat timbal di air dari perairan Bandengan Kendal sudah melebihi baku mutu. Berdasarkan ANZECC/ARMCANZ baku mutu logam berat timbal dalam sedimen yaitu 50 mg/kg, kandungan logam berat timbal dalam sedimen di Perairan Bandengan Kendal, Kabupaten Kendal masih di bawah baku mutu. Sedangkan, baku mutu logam berat timbal dalam kerang bulu menurut SNI 7387:2009 yaitu 1,5 mg/kg. Kandungan logam berat timbal dalam kerang bulu sudah melebihi batas baku mutu. Faktor konsentrasi logam berat dari sedimen ke air berkisar 19,463 – 42,440. Faktor biokonsentrasi (BCF) dari kerang bulu ke air berkisar antara 5,021 – 11,932 dan BCF dari kerang bulu ke sedimen berkisar antara 0,159 – 0,404.Bandengan Kendal waters are in the northern coastal area of the Java Sea. Industries, Bandengan Kendal Port, and settlements surrounding the waters potentially polute with heavy metal such as the lead. The industry development may harm the marine environment, such as for the Antique Ark (Anadara antiquata). A. antiquata is one of the commodities which can support the community's economy. This study aimed to measure the lead contents in the water, sediment, and the soft tissue of A. antiquata. The research did from March - April 2022, and it used the AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer) analysis method. The results showed that the lead contents in water, sediment, and soft tissue were 0.134 - 0.470 mg/l, 5.251 - 12.303 mg/l, and 0.840 - 4.093 mg/kg, respectively. Based on the Quality Standards set by the Regulations of Government of Republic Indonesia no 22 in 2021 is 0.008 mg/l, the lead content in water from Bandengan Kendal waters had exceeded the quality standard. Based on ANZECC/ARMCANZ the standard quality of lead in sediments is 50 mg/kg, and the lead content in sediment in Bandengan Kendal waters was still below the quality standard. Meanwhile, the quality standard for lead in soft tissue according to SNI 7387:2009 is 1.5 mg/kg. The lead content in A. antiquata soft tissue had exceeded the quality standard limit. The concentration factor of heavy metals from sediment to water ranged from 19.463 – 42.440. The bioconcentration factor (BCF) from the clam to water ranged from 5.021 – 11.932, and BCF from the clam to sediment ranged from 0.159 – 0.404.
Karakterisasi Senyawa serta Uji Toksisitas Ekstrak Gonad dan Eksoskeleton Bulu Babi Echinometra oblonga dari Perairan Pantai Sepanjang, Gunung Kidul, Yogyakarta Kristi, Roselina Nadya; Trianto, Agus; Widowati, Ita
Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i4.35079

Abstract

Bulu babi tersebar hampir di seluruh perairan di dunia salah satunya adalah perairan selatan Jawa yaitus Pantai Sepanjang Gunung Kidul. Salah satu jenis bulu babi yang ditemukan di Pantai Sepanjang Gunung Kidul adalah Echinometra oblonga. Informasi menarik lainnya mengenai bulu babi adalah racun (toksin) yang merupakan senyawa bioaktif yang terdapat pada duri-durinya. Informasi mengenai toksin bulu babi di wilayah Pantai Sepanjang Gunung Kidul masih kurang hingga saat ini, dan sebagian besar penelitian yang ada tentang toksin bulu babi hanya terbatas pada duri dan cangkangnya saja, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai bagian lain dari bulu babi seperti gonadi. Penelitian mengenai toksin gonad bulu babi perlu dilakukan karena gonad bulu babi merupakan bagian bulu babi yang banyak digemari masyarakat untuk dikonsumsi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui golongan senyawa dan tingkat toksisitas senyawa yang terdapat bagian gonad dan eksoskeleton dari bulu babi E. oblonga dari Pantai Sepanjang, Gunung Kidul. Sampel diambil dari Pantai Sepanjang, dan dilanjutkan ekstraksi sampel dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Uji penentuan kandungan senyawa pada sampel dilakukan dengan uji fitokimia dan KLT (Kromatografi Lapis Tipis). Penentuan tingkat toksisitas sampel menggunakan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test) menggunakan hewan uji Artemia salina untuk mendapatkan data yang akan diolah dengan analisis probit untuk mengetahui LC50 (jumlah konsentrasi sampel yang dibutuhkan untuk membunuh 50% hewan uji) yang digunakan untuk penentuan tingkat toksisitas sampel. Hasil analisis kandungan senyawa dengan uji fitokimia diketahui bahwa ekstrak gonad E. oblonga mengandung saponin, flavanoid, dan triterpenoid, sedangkan pada ekstrak eksoskeleton mengandung alkaloid, saponin, flavanoid, dan triterpenoid. Hasil analisis kandungan senyawa menggunakan KLT diketahui bahwa ekstrak gonad dan esksokletenon E. oblonga mengandung steroid dengan nilai Rf masing-masing 0,89 dan 0,87. Hasil dari uji toksisitas dengan metode BSLT dan analisis probit diketahui bahwa nilai toksisitas lethal (LC50-24 jam) pada gonad dan eksoskeleton masing-masing adalah 6.224688.84 ppm dan 1420.83 ppm.  Sea urchin is one animal that is familiar among the general public as a nutritious seafood. Sea urchins are scattered in almost all waters in the world, one of which is the southern waters of Java, namely the Sepanjang Beach, Gunung Kidul, with one type of sea urchin found is Echinometra oblonga. Other interesting information about sea urchins is poison (toxin) which is a bioactive compound found in its spines. Information about sea urchin toxin in the  Sepanjang Beach, Gunung Kidul area is still lacking, so further research is needed. The purpose of this study was to determine the class of compound and the level of toxicity of the compounds contained in the gonads and exoskeleton of sea urchins E. oblonga from Sepanjang Beach, Gunung Kidul. Samples were taken from Panjang Beach, and continued with sample extraction by maceration method using 96% ethanol as solvent.The test to determine the compound content in the sample was carried out by phytochemical tests and TLC (Thin Layer Chromatography). Determination of the level of sample toxicity using the BSLT (Brine Shrimp Lethality Test) method, namely testing using test animals Artemia salina to obtain data that will be processed with probit analysis to determine the LC50 (the amount of sample concentration needed to kill 50% of test animals) which is used to determine the level of toxicity of the sample. The results of the analysis of compound content by  phytochemicals test and TLC showed that the gonad extract of E. oblonga contains Saponins, Flavonoids, Triterpenoids, and Steroids, while the exoskeleton extract contains alkaloids, saponins, flavonoids, triterpenoids, and steroids. The results of the toxicity test using the BSLT method and probit analysis showed that the lethal toxicity value (LC50-24 hours) in the ethanol extract of Sea Urchin gonad (E. oblonga) was more than 1000 ppm. 
Kandungan Pb pada Perna viridis di Muara Sungai Kendal serta Analisis MTI Terhadap Manusia Iqomatuddin, Muhammad; Widowati, Ita; Santoso, Adi
Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i3.35252

Abstract

Muara Sungai Kendal terletak di pesisir utara Pulau Jawa yang dikelilingi oleh kegiatan industri dan aktivitas masyarakat yang mengalami pertumbuhan penduduk. Hal tersebut diduga menjadi sumber logam berat Pb diperairan dan mengontaminasi kerang hijau sebagai komoditas setempat. Pengaruh negatif yang dihasilkan Pb pada lingkungan dapat merusak lingkungan dan kesehatan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan Pb dalam air dan sedimen, faktor konsentrasi dan biokonsentrasi, serta batas aman konsumsi per minggu pada kerang hijau bagi masyarakat. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret – April 2022. Metode penelitian adalah deskriptif analitik dengan pemilihan lokasi berdasarkan purposive sampling. Analisa kandungan Pb pada sampel menggunakan metode AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry) dan analisis data yang dilakukan meliputi faktor konsentrasi, faktor biokonsentrasi dan MTI (Maximum Tolerable Intake). Hasil kandungan Pb dalam air berkisar 0,372 –0,572 ppm, pada sedimen berkisar 5,291-16,399 ppm, dan jaringan lunak kerang hijau berkisar 1,31–4,036 ppm. Nilai Bio Concentration Factor (BCF) kerang hijau terhadap air berkisar 3,4–9,24 dan sedimen berkisar 0,14–0,62 dengan kategori kadar rendah, sedangkan Faktor Konsentrasi (FK) berkisar 9,25–39,9 kali. Batas aman konsumsi kerang hijau per minggu untuk rata-rata berat badan laki-laki 60 kg adalah 0,37–1,15 kg per minggu sedangkan rata-rata berat badan perempuan 45 kg adalah 0,28–0,86 kg per minggu setiap individu. The estuary of the Kendal River is located on the northern coast of Java Island, surrounded by industrial activities and community activities that are experiencing population growth. This is suspected to be a source of heavy metal Pb in the waters and contaminates green mussels as a local commodity. Pb's negative effect on the environment can damage the environment and human health. This study aims to determine the Pb content in water and sediment, concentration and bioconcentration factors, and the community's safe limit for weekly consumption of green mussels. The research was conducted in March – April 2022. The research method was descriptive-analytic, selecting locations based on purposive sampling. Analysis of the Pb content in the sample used the AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry) method, and the data analysis performed included concentration factors, bioconcentration factors, and MTI (Maximum Tolerable Intake). The results of Pb content in water ranged from 0.372 to 0.572 ppm; in sediments, it ranged from 5.291 to 16.399 ppm; and in green mussel meat, it ranged from 1.31 to 4.036 ppm. The Bio Concentration Factor (BCF) value of green mussels to water ranged from 3.4 to 9.24, sediment ranged from 0.14 to 0.62 in the lowgrade category, while the factor concentration (FK) ranged from 9.25 to 39.9 times. The safe limit of green mussel consumption per week for an average male body weight of 60 kg is 0.37–1.15 kg per week, while the average body weight of a female of 45 kg is 0.28–0.86 kg /week/individual
Co-Authors - Desrina, - A Suhaeli Fahmi Abdul Ghofar Adi Santoso Adi Santoso Agus Sabdono Agus Sarwono Agus Trianto Agus Trianto Aldi Rivaldy Maulana Ali Ridlo Ambariyanto Ambariyanto Ambariyanto Ambariyanto Andri Wijayanto Anicia Hurtado Anindya Wirasatriya Antonius Budi Susanto Arif Rahman Arya Fernandes Ayu Safitri Bachtiar, Muggi Bambang Cahyono Bayu Legowo Chrisna Adhi Suryono Christel Marty Diah Permata Wijayanti Dimas Judah Mozes Kalangie Dion Ragil Saputra Dion Ragil Saputra Djoko Suprapto Doresti, Livvy Dwi Lestari Widya Ningsih Eduard Meirenno Tielman Eduard Meirenno Tielman Eka Maya Kurniasih, Eka Maya Elsa Lusia Agus Endang Supriyantini Endang Supriyantini Erian Febri Satriawan Ervia Yudiati Ervia Yudiati Erwin Ivan Riyanto Erwin Ivan Riyanto Fabian Panji Ayodya Fadhel Muhammad Juharna Fitriyan, Jodhi Kusumayudha Ginzel, Fanny Iriany Ginzel, Fanny Iriyany Hadi Endrawati Hakim, Muhamad Fikri Hudi Nur Haviz Rachman Nursalim Haviz Rachman Nursalim Hendi Perdian Yunianto Hendi Perdian Yunianto Herlina Lestari Pakpahan Hermin Pancasakti Kusumaningrum Heru Kurniawan Alamsyah Husnan Azhar Husnan Azhar Ika Wulan Santi Ika Wulan Santi Imai Hideyuki Iqomatuddin, Muhammad Irwan Effendi Irwani Irwani Ita Riniatsih Johannes Hutabarat Jusup Suprijanto Jusup Suprijanto Jusup Suprijanto Jusup Supriyanto Kalangie, Dimas Judah Mozes Karina Dewiningsih Khairunnisa Khairunnisa Kholilah, Nenik Kolilah, Nenik Kristi, Roselina Nadya Liningga Adiningtyas Lisa F. Indriana Lisa F. Indriana Livvy Doresti Manullang, Corry Yanti Manullang, Corry Yanti Maya Puspita Michael Abbey Michael Abbey Mimie Saputri Mimie Saputri, Mimie Muhamad Fikri Hudi Nur Hakim Muhammad Zainuri Muhammad Zainuri Muhammad Zainuri Muji Wasis Indriyawan, Muji Wasis Muliawati Handayani Mustagfirin Mustagfirin Mustagpirin Mustagpirin Nadaa Salsabiila Nuri Nathalie Bourgougnon Nathalie Bourgougnon Novianti, Teni Nugroho, Suciadi Catur Nursalim, Nining Ocky Karna Radjasa Pakpahan, Herlina Lestari Pangga, R. M. Dio Dwi Panji Ayodya Petta, Constantein Ramadhani, Muhammad Rizqi Retno Hartati Rexie Magdugo Ria Azizah Tri Nuraini Riza, Subkhan Rohimat Rohimat Rohimat Rohimat Rohmaniyah, Lailatur Rudhi Pribadi Satriawan, Erian Febri Satrio Fahrul Ananda Setyati, Willis Ari Sri Redjeki Sutrisno Anggoro Sutrisno Anggoro Syukur Syukur Teni Novianti Teni Novianti Tielman, Eduard Meirenno Tjahjo Winanto Tri Winarni Agustini Triana Hanani Valerie Stiger-Pouvreau Wahyudi, Yudisthio Wibowo, Muhammad Reyhan Widianingsih Widianingsih Wijayati, Diah Permata Wilis Ari Setyati Willis Ari Setyati Wora, Umbu Domu Yann Hardivillier Yoki Ristadi Yuni Karnisa Zhulian Hikmah Hasibuan