Claim Missing Document
Check
Articles

Studi Eksplorasi Pembelajaran Menulis Faktual sebagai Upaya Menyiapkan Generasi Cendekiawan Ary Kristiyani; Wiyatmi Wiyatmi; Maman Suryaman
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 1 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i1.7937

Abstract

Factual writing research has been widely conducted. However, factual writing that develops critical thinking skills as an effort to prepare a generation of scholars still needs to be studied. This study aims to describe factual writing learning in higher education. This study uses a descriptive qualitative research design. Data collection techniques use document studies and questionnaires. The research instrument uses analysis guidelines and questionnaires. The data analysis technique uses descriptive qualitative with the stages of data reduction, data presentation, and drawing conclusions or verification. The results of the study show that the dominant one-way learning model has not developed high-level thinking skills, discovery, critical, logical, and analytical thinking. The teaching materials are still limited to books that have not been integrated with relevant research results. Learning evaluations do not include indicators, scores, and assessment rubrics in detail so that authentic assessments have not been achieved. The perceptions of lecturers and students are in line that factual texts of the exposition, explanation, and argumentation types are able to develop critical, analytical, creative, and innovative thinking. Thus, the results of this exploratory study can be used to improve factual writing learning to prepare a generation of scholars. Abstrak Penelitian menulis faktual telah banyak dilakukan. Akan tetapi, menulis faktual yang mengembangkan keterampilan berpikir kritis sebagai upaya menyiapkan generasi cendekiawan masih perlu dilakukan kajian. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembelajaran menulis faktual di perguruan tinggi. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan studi dokumen dan angket. Instrumen penelitian menggunakan pedoman analisis dan angket. Teknik analisis data menggunakan kualitatif deskriptif dengan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan model pembelajaran dominan satu arah, belum mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, penemuan, berpikir kritis, logis, dan analitis. Adapun bahan ajar masih terbatas pada buku yang belum terintegrasi dengan hasil penelitian yang relevan. Evaluasi pembelajaran belum memuat indikator, skor, dan rubrik penilaian secara rinci sehingga penilaian autentik belum tercapai. Persepsi dosen dan mahasiswa selaras bahwa teks faktual jenis eksposisi, eksplanasi, dan argumentasi mampu mengembangkan berpikir kritis, analitis, kreatif, dan inovatif. Dengan demikian, hasil studi eksplorasi ini dapat digunakan sebagai perbaikan pembelajaran menulis faktual untuk menyiapkan generasi cendekiawan.
Eksplorasi Hutan dalam Novel Anak Penyamun dalam Rimba Karya Mocthar Lubis: Kajian Ekokritik Tri Santoso; Sri Harti Widyastuti; Wiyatmi Wiyatmi; Hari Kusmanto
GHANCARAN: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 7 No. 2 (2026)
Publisher : Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/ghancaran.v7i2.18807

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi hutan dalam novel Anak Penyamun dalam Rimba karya Mochtar Lubis dengan pendekatan ekokritik. Metode penelitian adalah deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini berupa kutipan-kutipan teks yang mengandung deskripsi hutan, interaksi manusia dengan alam, dan elemen-elemen ekokritik. Pengumpulan data dilakukan melalui analisis dokumen terhadap keseluruhan isi novel dengan cara membaca dan menelaah teks secara mendalam. Pembacaan dilakukan secara berulang untuk mengidentifikasi secara cermat bentuk-bentuk hubungan manusia dengan alam, deskripsi lingkungan, dan nilai-nilai ekologis dalam cerita. Seluruh kutipan yang relevan diberikan kode sehingga membentuk kategori awal analisis. Analisis data mengikuti model interaktif yang meliputi tahap pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian ini menemukan 1) konsep hutan rimba yang dibagi menjadi tiga, yakni a) hutan rimba yang lebat dan susah terjangkau oleh manusia, b) hutan sebagai tempat yang penuh keanekaragaman flora dan fauna yang memberikan nilai estetika kepada manusia, dan c) hutan sebagai tempat yang penuh dengan kesejukan dan keindahan untuk merenung, bermeditasi, dan mencari makna hidup, 2) Penelitian ini menemukan pergeseran makna perhutanan sosial, yakni a) hutan sebagai sarang penyamun yang menunjukkan persepsi manusia terhadap hutan dapat berubah seiring dengan waktu dan konteks sosial, dan b) hutan sebagai tempat penambangan ilegal yang menunjukkan manusia dapat merusak lingkungan demi kepentingan pribadi.
Negotiating Identity and the Politics of Chinese Ethnic Assimilation in Clara Ng's Novel "Dimsum Terakhir" Zhou Yin Lin; Wiyatmi Wiyatmi; Deng Yao
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 15, No 1 (2026): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v15i1.8591

Abstract

This study aims to analyze the representation of Chinese identity in Clara Ng's novel Dimsum Terakhir. The study uses a qualitative approach with a text analysis design based on Stuart Hall's cultural identity theory and a sociological perspective of literature to uncover the construction of ethnic identity through narratives, characters, and social contexts in literary works. Data collection techniques were carried out through literature studies using the reading and note-taking method. The researcher conducted intensive and repeated readings of the text (close reading) to identify relevant data, then grouped them based on thematic categories. Data analysis refers to the stages of qualitative analysis according to Creswell (2015), including organizing data, coding, interpreting themes, and drawing interpretive conclusions by considering the social, historical, and ideological contexts of the text. The results of the study indicate that Chinese identity in the novel Dimsum Terakhir is not singular and static but rather a dynamic and continuously negotiated social construction. The representation of identity is evident through identity politics, such as changes in name, religion, and citizenship status, which reflect structural pressures and assimilation practices. In addition, discrimination and stereotypes that emerge in social interactions indicate the existence of unequal power relations. Culturally, traditions such as Chinese New Year celebrations and the consumption of dim sum are maintained despite restrictions placed on private spaces. This research confirms that the novel "Dimsum Terakhir" represents Chinese identity as a space for social, political, and psychological negotiation, while also providing implications for strengthening multiculturalism and respecting cultural diversity in Indonesia. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi identitas Tionghoa dalam novel “Dimsum Terakhir” karya Clara Ng. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain analisis teks yang didasarkan pada teori identitas budaya Stuart Hall dan perspektif sosiologi sastra untuk mengungkap konstruksi identitas etnis melalui narasi, tokoh, dan konteks sosial dalam karya sastra. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka dengan metode baca dan catat. Peneliti melakukan pembacaan teks secara intensif dan berulang (close reading) untuk mengidentifikasi data yang relevan, kemudian mengelompokkannya berdasarkan kategori tematik. Analisis data mengacu pada tahapan analisis kualitatif menurut Creswell (2015), meliputi pengorganisasian data, pengodean, interpretasi tema, dan penarikan simpulan secara interpretatif dengan mempertimbangkan konteks sosial, historis, dan ideologis teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas Tionghoa dalam novel “Dimsum Terakhir” tidak bersifat tunggal dan statis, melainkan merupakan konstruksi sosial yang dinamis dan terus dinegosiasikan. Representasi identitas tampak melalui politik identitas, seperti perubahan nama, agama, dan status kewarganegaraan, yang mencerminkan tekanan struktural serta praktik asimilasi. Selain itu, diskriminasi dan stereotip yang muncul dalam interaksi sosial menunjukkan adanya relasi kuasa yang tidak setara. Dalam aspek budaya, tradisi seperti perayaan Imlek dan konsumsi dimsum tetap dipertahankan meskipun mengalami pembatasan dalam ruang privat. Penelitian ini menegaskan bahwa novel “Dimsum Terakhir” merepresentasikan identitas Tionghoa sebagai ruang negosiasi sosial, politik, dan psikologis sekaligus memberikan implikasi bagi penguatan multikulturalisme dan penghargaan terhadap keberagaman budaya di Indonesia.
Fulfilling The Hierarchy of Needs on Female Characters in the Novel Lebih Senyap dari Bisikan by Andina Dwifatma Putu Debby Yolanda; Wiyatmi Wiyatmi; Ary Kristiyani
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 2 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i2.8438

Abstract

This study aims to describe the fulfillment of the hierarchy of needs in female characters in the novel Lebih Senyap dari Bisikan (Quieter than a Whisper) through the perspective of Jean B. Miller’s feminist psychology and Abraham Maslow’s hierarchy of needs theory. This research employs a descriptive qualitative method. The research instrument used is a human instrument, in which the researcher develops indicators based on Maslow’s concept of the hierarchy of needs. Data were collected through reading, note-taking, and literature review. Then, it was analyzed in stages: data collection, data condensation, data presentation, and conclusion drawing. The validity of the data was ensured through data triangulation, while the consistency of the findings was strengthened using intra-rater techniques. The study focuses on how the female characters fulfill their hierarchy of needs as women, from physiological needs to self-actualization. The findings show that the female characters successfully fulfill these needs: 1) Mami can meet the physiological and safety needs by providing adequate housing and necessities for herself as a single parent and for her daughter; 2) Amara fulfills the need for a sense of belonging and affection from Mami, even though it comes from a single parent; 3) Macan meets her esteem needs through independence and the freedom to determine her life philosophy; 4) Meanwhile, Amara ultimately achieves self-actualization through self-acceptance after experiencing marital conflicts. Overall, the narrative illustrates the efforts of the female characters to meet their basic needs and ultimately achieve self-actualization. Abstrak Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pemenuhan hierarki kebutuhan pada diri tokoh-tokoh perempuan dalam novel Lebih Senyap dari Bisikan dengan menggunakan perspektif psikologi feminis Jean B. Miller dan teori pemenuhan hierarki kebutuhan Abraham Maslow. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Instrumen penelitian yang digunakan adalah human instrument, yakni peneliti yang menyusun indikator berdasarkan konsep hierarki kebutuhan Maslow. Data dikumpulkan melalui teknik baca, catat, dan studi pustaka. Kemudian, data dianalisis melalui tahapan pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi data, sedangkan konsistensi temuan diperkuat dengan teknik intra-rater. Fokus kajian terletak pada bagaimana tokoh perempuan memenuhi hierarki kebutuhan sebagai perempuan, mulai dari kebutuhan fisiologis hingga aktualisasi diri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh-tokoh perempuan berhasil memenuhi hierarki kebutuhan tersebut: 1) Mami mampu memenuhi kebutuhan fisiologis dan keamanan, dengan menyediakan tempat tinggal layak dan kebutuhan dasar bagi dirinya sebagai orang tua tunggal serta untuk anaknya, Amara; 2) Amara memenuhi kebutuhan akan rasa memiliki dan kasih sayang dari Mami, meskipun kasih sayang tersebut berasal dari seorang single parent; 3) Macan memenuhi kebutuhan harga diri dengan kemandirian dan kebebasannya menentukan pandangan hidup; 4) sementara Amara pada akhirnya mencapai aktualisasi diri melalui penerimaan diri setelah konflik rumah tangga yang dialami. Secara keseluruhan, cerita memperlihatkan berbagai usaha tokoh perempuan dalam upaya pemenuhan kebutuhan dasar mereka hingga mencapai aktualisasi diri.
Pelatihan Penulisan Modul Ajar bagi Guru Bahasa Indonesia sebagai Upaya Peningkatan Profesionalisme Guru Wiyatmi Wiyatmi; Nurhidayah Nurhidayah; Sudiati Sudiati
Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat Vol. 9 No. 1 (2026): Februari
Publisher : FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppm.v9i1.10728

Abstract

Salah satu kompetensi yang sangat urgen_ dan berhubungan langsung dengan para siswa sebagai generasi calon agen perubahan_ adalah kompetensi pedagogik khususnya dalam hal bagaimana menyelenggarakan pembelajaran yang efektif. Hal ini dimulai dengan penguasaan kemampuan menyiapkan rencana pembelajaran yang baik. Hal ini menjadi persoalan para guru yaitu baagaimana menyiapkan modul ajar yang sesuai dengan isu pendidikan terkini beserta kondisi peserta didik yang mereka hadapi. MGMP Bahasa Indonesia Madrasah Tsanawiyah Kabupaten Kebumen bersama tim pengabdian berperan dalam mengatasi permasalahan tersebut dengan mengadakan pelatihan penulisan modul ajar bagi para guru Bahasa Indonesia. Program ini terbagi dalam beberapa kegiatan yaitu (1) penyampaian materi dan diskusi yang dilaksanaan secara daring pada 11 s.d. 13 Juli 2025, (2) Praktik Mandiri; (3) pendampingan dilaksanakan secara daring yaitu pada 25 Jul1 2025 dan 1 Agustus 2025; dan (4) Refleksi. Indikator kebehasilan kegiatan ini dapat dilihat secara proses yaitu kegiatan terlaksananya sesuai dengan rencana dan secara hasil yaitu tersusunnya modul ajar yang baik dari para guru. Secara umum kegiatan berlangsung dengan lancar sesuai dengan jadwal yang disepakati. Adapun hambatan terjadi pada saat daring yaitu faktor sinyal yang menyebabkan keikutsertaan peserta kurang maksimal.
Perlawanan Perempuan dalam Kultur Masyarakat Madura pada Kumpulan Cerpen Kembang Selir Karya Muna Masyari Safitri Anasari; Else Liliani; Wiyatmi Wiyatmi
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 1 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Enam (6) Negara: Indonesia, Malaysia, Chin
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v12i1.7647

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mendeskripsikan perlawanan tokoh perempuan dalam budaya patriarki masyarakat Madura. Pendekatan dalam penelitian ini ialah penelitian kualitatif dengan desain kualitatif deskriptif. Data dalam penelitian ini adalah teks tertulis berupa kalimat, ungkapan, dialog maupun perilaku dan perbuatan tokoh serta apa yang dialami perempuan yang terdapat dalam kumpulan cerpen yang berjudul ‘Kembang Selir’. Sumber data dalam penelitian ini adalah kumpulan cerpen ‘Kembang Selir’ karya Muna Masyari, yang diterbitkan oleh DIVA Press dengan tebal 130 halaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para tokoh perempuan dalam cerpen menyuarakan hak martabat diri dengan menentang budaya patriarki di Madura sehingga terjadilah perlawanan perempuan. Melalui analisis mendalam terhadap kumpulan cerpen Kembang Selir, penelitian ini menemukan bahwa perlawanan perempuan dalam kumpulan cerpen tersebut berbentuk perlawanan verbal dan perlawanan nonverbal.  
Relasi subjek-objek dalam narasi trauma: Analisis tokoh pada novel Mei Merah 1998: Kala arwah berkisah dan wajah sebuah vagina karya Naning Pranoto Nazilah Hanna Sajidah; Wiyatmi Wiyatmi; Anwar Efendi
Jurnal Genre (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya) Vol. 8 No. 2 (2026): JURNAL GENRE: (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya) in Progress
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26555/jg.v8i2.16426

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dialektika hubungan antara subjek dan objek dalam narasi trauma melalui analisis karakter pada dua novel karya Naning Pranoto, yaitu Mei Merah 1998: Kala Arwah Berkisah dan Wajah Sebuah Vagina. Fokus kajian diarahkan pada transformasi posisi ontologis tokoh utama, Humaira dan Mira, yang mengalami pergeseran dari subjek yang berdaulat menjadi objek penindasan, serta upaya naratif untuk merebut kembali subjektivitas mereka. Dengan menggunakan kerangka teoretis eksistensialisme Simone de Beauvoir mengenai konsep "Sang Liyan" (The Other) dan teori trauma Dominick LaCapra tentang acting out dan working through, penelitian ini membedah bagaimana trauma fisik dan psikis akibat kekerasan seksual, rasisme, dan ketidakadilan gender mengonfigurasi ulang identitas tokoh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam Mei Merah 1998, penggunaan narator arwah merupakan strategi subversif untuk memberikan agensi kepada korban yang secara fisik telah dibungkam. Sementara itu, dalam Wajah Sebuah Vagina, perlawanan terhadap objektifikasi tubuh dilakukan melalui penyadaran intelektual dan solidaritas sosial. Analisis ini menyimpulkan bahwa narasi trauma Naning Pranoto tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi penderitaan, tetapi juga sebagai media kritik sosiopolitik yang menuntut pengakuan atas kemanusiaan perempuan dalam struktur masyarakat yang patriarkis dan represif.
Krisis Ekologi dan Etika Ekologis dalam Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar Karya Tere Liye Wahyudin, Syabrina; Wiyatmi, Wiyatmi; Efendi, Anwar
GERAM Vol. 14 No. 2 (2026): GERAM (Gerakan Aktif Menulis)
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Islam Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/geram.2026.28258

Abstract

The escalation of the ecological crisis caused by massive extractive industrial activities necessitates the strengthening of environmental literacy through cultural media. This study aims to explore the representation of the ecological crisis and the dynamics of ecological ethics in Tere Liye’s novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar using Greg Garrard’s ecocritical perspective. The research method employed is descriptive qualitative with content analysis techniques. The results indicate that the novel reconstructs the ecological crisis based on the three primary pillars of Greg Garrard's ecocriticism, namely: pollution as structural violence, dwelling as landscape alienation, and local apocalypse as a consequence of reclamation failure. These findings reveal a dialectic in the community's ecological ethics, shifting from a passive stance to a reactive collective advocacy movement in response to environmental repression. The novelty of this research lies in its focus on contemporary popular literature that deconstructs the conflicts of the modern mining industry, while affirming the role of popular novels as effective instruments for socio-ecological critique in Indonesia.
Social and historical transposition in the Hikayat Patani: Julia Kristeva's intertextual analysis Islahuddin Islahuddin; Wiyatmi Wiyatmi; Suminto A. Sayuti
BAHASTRA Vol. 46 No. 1 (2026): BAHASTRA
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hikayat Patani is a literary work born from the Patani community that describes its social and historical conditions. This qualitative study examines social and historical transposition in the Hikayat Patani using Julia Kristeva's intertextual approach. The research data source is Hikayat Patani, with data collected through text reading and mapping, systematic recording, and contextual analysis. Data analysis includes suprasegmental and intertextual techniques. The study reveals the following social transpositions: 1) Patani port center; 2) Patani trade center; 3) Patani community is prosperous and prosperous; 4) development of Sungai Tambangan; and 5) treasurer in the government. Historical transpositions include: 1) Patani kingdom of the Islamic sultanate; 2) names of the sultans of Patani; 3) Patani led by a female king; 4) female monarch names; and 5) Patani kingdom maritime kingdom. The research reinforces Kristeva's intertextual theory in Malay literature analysis and underscores the role of Hikayat Patani as a source of history, culture, and Islamization. These findings support the development of local culture-based teaching materials and the strengthening of Patani Malay identity.
Suminto A. Sayuti Menulis untuk Pulang: Creative process amid a departing literary field Muhammad Rasyid Ridlo; Wiyatmi Wiyatmi; Awla Akbar Ilma; Arif Rohman Hakim
BAHASTRA Vol. 46 No. 1 (2026): BAHASTRA
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study reveals that Suminto A. Sayuti’s rural habitus functions not merely as a biographical backdrop, but as a strategy of differentiation that actively transforms crafted experiences, oral literacy, and wayang traditions into symbolic authority within the post-digital literary landscape. An analysis of the poetry collection Ketika Diri adalah Kepulangan dan Keberangkatan (2023), in-depth interviews, and publisher statements indicates that the poet’s liminal position—neither fully at the center nor the periphery—is not a sign of marginality, but rather a space of agency that enables a productive resistance to the logic of virality, instant poetry, and algorithmic simulation. Aesthetic strategies emphasizing lengthy processes, rigorous curation, and claims of a “human touch” are validated by non-platform institutions as “counterbalances” amidst the acceleration of digital content production. Theoretically, this study expands the Bourdieusian framework of the sociology of literature by demonstrating that habitus is not structural determinism, but rather a space of reflective negotiation capable of functioning as an epistemological filter against data colonization. Furthermore, these findings affirm that artistic autonomy need not arise from frontal resistance but can be constructed through the inhabitation of an in-between space that is both ethical and meditative. The research findings provide a cultural map for the sustainability of literary practices in the algorithmic era, while also offering an epistemological alternative for interpreting the creative process that is not confined to digital metrics or heroic narratives of resistance.