Claim Missing Document
Check
Articles

Perwujudan budaya masyarakat Sasak dalam novel-novel karya Salman Faris Hadi, Syamsul; Wiyatmi, Wiyatmi
LingTera Vol. 8 No. 2 (2021)
Publisher : Department of Applied Linguistics, FBSB, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lt.v8i2.11307

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perwujudan budaya masyarakat Sasak dalam novel-novel karya Salman Faris.Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode konten analisis atau analisis isi yang menemukan, mendeskripsikan, menganalisis, dan mendapatkan data secara empiris dalam novel-novel karya Salman Faris. Objek penelitian ini adalah novel Perempuan Rusuk Dua, Guru Onyeh dan Guru Dane. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan teknik dokumenter yaitu dengan cara melihat atau mengamati, melakukan pencatatan yang sistematis, dan mencari sumber atau referensi. Hasil penelitian ini sebagai berikut. Wujud budaya masyarakat Sasak dalam novel-novel karya Salman Faris terdiri dari delapan aspek, yaitu: 1) agama dan sistem kepercayaan masyarakat suku Sasak, 2) bahasa masyarakat suku Sasak, 3) sistem pengetahuan masyarakat suku Sasak, 4) sistem peralatan dan teknologi masyarakat suku Sasak, 5) sistem organisasi masyarakat suku Sasak, 6) sistem mata pencaharian hidup masyarakat suku Sasak, 7) tradisi/adat-istiadat masyarakat suku Sasak, dan 8) kesenian masyarakat suku Sasak. Realization cultural of Sasak people in Salman Faris' novels Abstract: This study aims to describe the cultural of Sasak people in Salman Faris' novels. This research is a qualitative study using content analysis that locates, describes, analyzes, and obtains empirical data in the novels by Salman Faris. The objects of  this study were novel Perempuan Rusuk Dua, Guru Onyeh, and Guru Dane. Data in this study were collected using documentation by seeing or observing, doing the systematic recording, and looking for a source or reference. The results of this study are as follows. The form of Sasak cultures in the to novels by Salman Faris consists of eight: (1) religion and belief system of Sasak society, (2) the language of Sasak society, (3) Sasak community knowledge systems, (4) systems of equipment and technology of Sasak community, (5) Sasak community organization systems, (6) livelihood systems of Sasak's life, (7) traditions/customs of Sasak society, and (8) Sasak community arts.
Eksistensi Perdamaian Diri Tokoh Utama dalam Novel Janji Untuk Ayah Karya Nurunala: Kajian Psikologi Eksistensial Aulia Angriani Waridin; Wiyatmi, Wiyatmi; Ary Kristiyani
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 11 No. 4 (2025): Penulis dari 3 negara (Indonesia, Jerman dan Turki)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v11i4.7232

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji eksistensi perdamaian diri tokoh utama dalam novel Janji Untuk Ayah karya Nurunala melalui pendekatan psikologi eksistensial Rollo May. Fokus penelitian ini terletak pada bentuk permasalahan batin, dinamika psikologi eksistensial, dan proses menuju perdamaian diri. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Sumber data primer berasal langsung dari novel berupa kutipan, kalimat, atau ungkapan yang terdapat dalam teks novel dengan 192 halaman, diterbitkan oleh Gramedia Widiasarana Indonesia tahun 2024. Sumber data sekunder berupa buku-buku referensi dan jurnal yang relevan dengan topik penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui kegiatan membaca dan mencatat, sedangkan teknik analisis data meliputi tahap kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh Elang merepresentasikan perjalanan eksistensial dalam menemukan makna hidup. Tokoh Elang mengalami keterasingan diri akibat rasa kehilangan dan penolakan terhadap diri maupun dengan lingkungannya, kekosongan sebagai bentuk keputusasaan terhadap nilai-nilai hidup, kecemasan eksistensi karena takut gagal, dilema, ragu dan kesepian eksistensi akibat perpisahan. Namun, tokoh Elang juga mendapatkan dorongan dalam bentuk cinta (agape) sebagai cinta persahabatan dan bentuk cinta (philia) sebagai cinta tanpa pamrih. Melalui keberanian menghadapi penderitaan dan rintangan hidup, tokoh Elang mulai memahami arti kebebasan, keberanian fisik dan emosional, tanggung jawab, serta penerimaan diri, hingga akhirnya mencapai perdamaian diri sebagai bentuk eksistensi. Temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis dalam pengembangan kajian psikologi eksistensial, serta membuka peluang untuk memahami bagaimana lingkungan dan nilai-nilai sosial memengaruhi cara individu mengatasi permasalahan hidup. Selain itu, penelitian ini memberikan manfaat bagi pembaca untuk memahami proses pencarian makna hidup melalui refleksi diri.
KONSTRUKSI FEMININITAS TOKOH KARTINI DALAM NOVEL ATHEIS KARYA ACHDIAT K. MIHARDJA Lovinea Mega Putri; Wiyatmi Wiyatmi
Aksara Vol 34, No 1 (2022): AKSARA, EDISI JUNI 2022
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v34i1.685.29-40

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan memahami karakter tokoh Kartini dan konstruksi femininitas tokoh Kartini dalam novel Atheis karya Achdiat K. Mihardja. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan sumber data primer Atheis karya Achdiat K. Mihardja. Analisis data dilakukan dengan kategorisasi, tabelisasi, dan interpretasi yang kemudian dideskripsikan. Keabsahan data diperoleh dari melalui pembacaan berulang-ulang hingga menemukan data yang valid. Validitas tersebut kemudian diuji dengan teknik analisis yang disesuaikan dengan teori yang digunakan. Hasil penelitian adalah (1) penggambaran karakter tokoh Kartini yang secara fisik cantik dan memiliki tubuh yang proporsional; secara psikologis cerdas, tegas, dan mudah tersinggung; secara sosiologis Kartini adalah seorang penganut Marxisme, kaya raya, sempat bersekolah di MULO, dan merupakan aktivis sosial dan politik, (2) wujud konstruksi femininitas tokoh Kartini dalam Atheis menujukkan bahwa kecantikan dan kecerdasan Kartini dikontruksi berdasarkan mitos perempuan Sunda; Kartini diidentifikasi sebagai seorang perempuan double burden; melalui aspek-aspek sosial, Kartini mampu mempengaruhi Hasan hingga menjadi atheis.
Analisis Ecofeminisme dalam Layar Lebar: Mengurai Ketidakadilan Gender dan Lingkungan Melalu Film Sexy Killers Latifah Latifah; Wiyatmi Wiyatmi
Aksara Vol 37, No 1 (2025): AKSARA, EDISI JUNI 2025
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v37i1.4786.169-184

Abstract

Inequality in access to information and the representation of women in the media further reinforces their marginalization in environmental issues. Visual representation in film can serve as a tool for social critique as well as an important medium for voicing the roles and struggles of women who have long been marginalized. This study aims to analyze the representation of gender injustice and environmental degradation in the documentary Sexy Killers through an ecofeminist approach. Using a qualitative content analysis method, the research explores the narrative visual, and symbolic elements in the film to identify the relationship between women, nature, and patriarchal-capitalist power. Sexy Killers was chosen as the object of study because it explicitly presents the impact of energy industry activities on local communities, particularly women living in areas affected by coal mining and power plant development. The results show that women are the most affected by the exploitation of natural resources, in forms such as the loss of access to clean water and land, increased domestic workload, vulnerability to environmental health impacts, and marginalization from participation and decision-making spaces. The film also illustrates that women are not only victims but also play vital roles as agents of change and resistance. They emerge as community leaders in protests and public education efforts, demonstrating political and ecological capacities often overlooked in development discourse. These findings affirm that the ecofeminist approach provides a relevant and critical analytical framework for understanding the link between the domination of nature and the oppression of women. Moreover, this study emphasizes the importance of recognizing women’s roles in environmental issues and encourages their active involvement in sustainable and just development processes. AbstrakKetimpangan akses informasi dan representasi perempuan dalam media turut memperkuat marginalisasi mereka dalam isu lingkungan. Representasi visual dalam film dapat menjadi alat kritik sosial sekaligus medium penting untuk menyuarakan peran dan perjuangan perempuan yang selama ini terpinggirkan.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi ketidakadilan gender dan kerusakan lingkungan dalam film dokumenter Sexy Killers melalui pendekatan ecofeminisme. Dengan menggunakan metode analisis isi kualitatif, penelitian ini mengeksplorasi elemen naratif, visual, dan simbolik dalam film guna mengidentifikasi relasi antara perempuan, alam, dan kekuasaan patriarkalkapitalistik. Film Sexy Killers dipilih sebagai objek kajian karena secara eksplisit menampilkan dampak aktivitas industri energi terhadap komunitas lokal, khususnya perempuan yang hidup di wilayah terdampak tambang batubara dan pembangunan PLTU. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan menjadi pihak yang paling terdampak dari eksploitasi sumber daya alam, baik dalam bentuk hilangnya akses terhadap air bersih dan lahan, meningkatnya beban kerja domestik, kerentanan terhadap dampak kesehatan lingkungan, hingga marginalisasi dalam ruang partisipasi dan pengambilan keputusan. Film ini juga memperlihatkan bahwa perempuan tidak hanya menjadi korban, tetapi juga memainkan peran penting sebagai agen perubahan dan resistensi. Mereka tampil sebagai pemimpin komunitas dalam aksi-aksi protes dan edukasi publik, menunjukkan kapasitas politik dan ekologis yang sering kali diabaikan dalam wacana pembangunan. Temuan ini menegaskan bahwa pendekatan ecofeminisme memberikan kerangka analisis yang relevan dan kritis untuk memahami keterkaitan antara dominasi terhadap alam dan perempuan. Lebih dari itu, penelitian ini menggarisbawahi pentingnya pengakuan atas peran perempuan dalam isu lingkungan, serta mendorong keterlibatan mereka secara aktif dalam proses pembangunan yang berkelanjutan dan berkeadilan.
The Shackles of Patriarchy in the Short Story Collection Sepotong Hati yang Baru by Tere Liye: A Feminist Literary Sudy Yunior, Az-Zahra Diva Rabbani; Hartono, Hartono; Wiyatmi, Wiyatmi
Journal of Language and Literature Studies Vol. 5 No. 4 (2025): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/v7cc7z13

Abstract

This study aims to reveal the reflection of the patriarchal system and the social criticism of women’s oppression in three short stories by Tere Liye Kisah Sie Sie, Mimpi-Mimpi Sampek-Engtay, and Buat Apa Disesali. Using a feminist literary criticism approach, the study finds that patriarchy places women in a subordinate position through male dominance, social norms, and economic as well as cultural pressures. The female characters are portrayed as losing control over their own lives, becoming objects of social transactions, and being forced to submit to male authority. The findings indicate that patriarchy is not only physical and structural but also forms a symbolic power that instills obedience and dependency in women. Through his works, Tere Liye presents a sharp critique of gender inequality and calls for the importance of equality, legal protection, and social reform so that women can become subjects of their own lives. In this research, data were collected through a literature review method by closely examining the forms of patriarchy depicted in Tere Liye’s short story collection Sepotong Hati yang Baru. Overall, Tere Liye delivers a strong criticism of the patriarchal system, illustrating how women are often disadvantaged and denied the space to become active subjects in their own existence.
The Functional Literacy Competence: How to Develop and Measure It for Junior High School Students Sari, Esti Swatika; Wiyatmi, Wiyatmi; Lestyarini, Beniati
Eralingua: Jurnal Pendidikan Bahasa Asing dan Sastra Vol 9, No 1 (2025): ERALINGUA
Publisher : Makassar State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/eralingua.v9i1.70217

Abstract

Abstract. This study aims to develop and empirically validate a functional literacy competency measurement tool specifically for junior high school students. This instrument can be used by educators and stakeholders to explore and in advanced improve student’s functional literacy skills. The research approach used is the Research & Development (R & D) model. The draft functional literacy competency measurement tool has been validated by teachers, experts and practitioners. This instrument has been discussed in FGDs with teachers from 5 (five) junior high schools in Yogyakarta, The FGD resulted in an agreement on the types of functional literacy consisting of 15 types, namely: literary, digital, document, numerical, environmental, health, tourism, transportation, road safety, language politeness, disaster mitigation, financial, cultural, visual, and social literacy. Product testing was needed as further product development to achieve empirical validity. The number of items was 60 items. The product trial in DIY involved a total of 246 students in grades VII and VIII. The results of the trial analysis with the QUEST program resulted in a probability value at the 0.50 level with an item-based reliability index of 0.98. Mean INFIT MNSQ showed a result of 1.00 with SD. 04, which means the item fits the Rasch model. Items that qualified for the appropriate threshold range (± 2) were 51 items or 85%. The items that were outside the ±2 range were 9 items, meaning that the eliminated items were 15%. Students' functional literacy skills in general mostly did not meet the minimum requirement of 75. Students who scored ≥ 75 were 94 students (38.2%). Meanwhile, 61.8% of students did not meet the standardKeywords: instrument, literacy, functional literacy
Dekonstruksi sistem patriarki dan pencarian identitas novelis perempuan Indonesia tahun 2000-an Wiyatmi, Wiyatmi
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya
Publisher : citeus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article is intended to understand the phenomenon of women writers in Indonesian literature in the 2000s. Their literary works emerged amid a literary field dominated by male writers. Viewed from a feminist perspective, these women writers strive to assert their position by attempting to deconstruct the patriarchal system. Through their works, they seek identity through literary production and literary criticism. Their existence in Indonesian literature in the 2000s became a pioneering form of women’s rebellious action against the patriarchal system in Indonesian literary history. Through works that received awards from Dewan Kesenian Jakarta and the Khatulistiwa Literary Award, their writing capabilities have been recognized. However, their skill in producing literary works does not necessarily receive positive responses from either society or literary critics. Many harsh criticisms attempt to marginalize their works.
Deforestation in Indonesian and Malaysian Novels: When Wild Forests are Destroyed by Anthropocentricism Wiyatmi Wiyatmi; Else Liliani; Esti Swatika Sari; Mawar Safei
k@ta: A Biannual Publication on the Study of Languange and Literature Vol. 24 No. 1 (2022): JUNE 2022
Publisher : The English Department, Faculty of Humanities & Creative Industries, Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.574 KB) | DOI: 10.9744/kata.24.1.29-39

Abstract

Anthropocentrism is one of the perspectives applied in figuring out human relations with the environment. The environmental crisis happening in most areas of the world lately is allegedly the impact of anthropocentrism, which views humans as the center of the universe, and only humans have the right to utilize and make use of nature for their interests and needs. One of the environmental crises which hit the world today is deforestation. The description of deforestation and its various consequences can be looked through not only from the news in mass media or research reports, but also from Indonesian and Malaysian novels. This study aims at examining the issue of deforestation described in Indonesian and Malaysian novels. The method applied is a comparative qualitative descriptive with an ecocritical perspective. As data sources, two Indonesian novels and two Malaysian novels were selected, namely Api Awan Asap (Rampan) and Tanah Tabu (Thayf) as the samples of Indonesian novels; Penunggu Rimba: Tombiruo (Mursid) and Anak Belantara (Abdullah) as the samples of Malaysian novels. From an eco-critical perspective, the results of the study show that in the four novels studied, it appears that there is an issue of deforestation in Indonesia and Malaysia which has resulted in various other environmental problems. The four analyzed novels reveal how local wisdom can prevent and fight deforestation which occurs in the forests of Kalimantan and Papua. Added to this, through the novels, Indonesian and Malaysian writers both present ecocentrism perspectives to fight anthropocentrism which causes deforestation. Some different views are expressed by Indonesian and Malaysian writers in dealing with deforestation.
Eksplorasi Hutan dalam Novel Anak Penyamun dalam Rimba Karya Mocthar Lubis: Kajian Ekokritik Tri Santoso; Widyastuti, Sri Harti; Wiyatmi, Wiyatmi; Kusmanto, Hari
GHANCARAN: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 7 No. 2 (2026)
Publisher : Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/ghancaran.v7i2.18807

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi hutan dalam novel Anak Penyamun dalam Rimba karya Mochtar Lubis dengan pendekatan ekokritik. Metode penelitian adalah deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini berupa kutipan-kutipan teks yang mengandung deskripsi hutan, interaksi manusia dengan alam, dan elemen-elemen ekokritik. Pengumpulan data dilakukan melalui analisis dokumen terhadap keseluruhan isi novel dengan cara membaca dan menelaah teks secara mendalam. Pembacaan dilakukan secara berulang untuk mengidentifikasi secara cermat bentuk-bentuk hubungan manusia dengan alam, deskripsi lingkungan, dan nilai-nilai ekologis dalam cerita. Seluruh kutipan yang relevan diberikan kode sehingga membentuk kategori awal analisis. Analisis data mengikuti model interaktif yang meliputi tahap pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian ini menemukan 1) konsep hutan rimba yang dibagi menjadi tiga, yakni a) hutan rimba yang lebat dan susah terjangkau oleh manusia, b) hutan sebagai tempat yang penuh keanekaragaman flora dan fauna yang memberikan nilai estetika kepada manusia, dan c) hutan sebagai tempat yang penuh dengan kesejukan dan keindahan untuk merenung, bermeditasi, dan mencari makna hidup, 2) Penelitian ini menemukan pergeseran makna perhutanan sosial, yakni a) hutan sebagai sarang penyamun yang menunjukkan persepsi manusia terhadap hutan dapat berubah seiring dengan waktu dan konteks sosial, dan b) hutan sebagai tempat penambangan ilegal yang menunjukkan manusia dapat merusak lingkungan demi kepentingan pribadi.
Workshop penelitian tindakan kelas bagi guru bahasa Indonesia Wiyatmi Wiyatmi; Nur Hidayah; Setyawan Pujiono
Jurnal Abmas Vol. 24 No. 2 (2024): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v24i2.74943

Abstract

The problem Indonesian language teachers face in general is the change in the implementation of PBM (Teaching and Learning Process) from the Kurikulum 2013 to the Kurikulum Merdeka, which requires teachers' skills to facilitate students in achieving learning goals. Mastery of these skills is very influential in terms of effectiveness in the implementation of PBM and in achieving results in accordance with the set goals. Therefore, the teachers hope to get help or guidance from the university related to class action research. This service, through workshops, aims to increase teachers' understanding in finding learning problems they face in their respective classes, finding steps to improve learning, both theoretically and practically, and designing learning improvements in the form of class action research proposals. The workshop was conducted online and offline by providing materials and training on classroom actions that can help improve the teaching and learning process. The results of the workshop showed that the teachers' understanding of classroom action research increased after attending the workshop, thus supporting the teaching and learning process effectively. It can be concluded that this workshop runs effectively because it can meet the target of the activity.   Abstrak Permasalahan yang dihadapi oleh para guru Bahasa indonesia secara umum adalah tentang perubahan pelaksanaan proses belajar mengajar dari penerapan Kurikulum 2013 menjadi Kurikulum Merdeka yang menuntut keterampilan guru dalam hal memfasilitasi peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran. Penguasaan keterampilan tersebut sangat berpengaruh baik dari segi keefektifan dalam pelaksanaan PBM maupun dalam hal pencapaian hasil sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Oleh karena itu, para guru berharap supaya mendapatkan bantuan atau bimbingan dari pihak perguruan tinggi terkait penelitian tindakan kelas. Pengabdian ini melalui workshop bertujuan untuk meningkatkan pemahaman para guru dalam menemukan permasalahan pembelajaran yang mereka hadapi di kelas masing-masing, menemukan langkah perbaikan pembelajaran, baik secara teoretis maupun praktis, serta merancang perbaikan pembelajaran dalam bentuk proposal penelitian tindakan kelas. Workshop dilaksanakan secara daring dan luring dengan memberikan materi serta pelatihan menganai tindakan kelas yang dapat membantu meningkatkan proses belajar mengajar. Hasil workshop menunjukkan bahwa pemahaman para guru mengenai penelitian tindakan kelas meningkat setelah mengikuti workshop sehingga mendukung kegiatan proses belajar mengajar secara efektif. Dapat disimpulkan, workshop ini berjalan secara efektif sebab dapat memenuhi target kegiatan. Kata Kunci: kompetensi; Kurikulum Merdeka; penelitian tindakan kelas; proses belajar mengajar