Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Sadar Gizi Sejak Dini: Sosialisasi Gizi Seimbang dan Jajanan Sehat pada Anak Usia Sekolah Delita Septia Rosdiana; Ahdiyatul Fauza; Hana Maulidianti; Farras Jihan Nabilah; Nabila Hakim Az-Zahra
Jurnal Medika: Medika in progres
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/2eqe7f55

Abstract

Anak-anak dalam usia sekolah membutuhkan asupan gizi yang seimbang karena mereka berada dalam tahap perkembangan yang sangat penting. Namun, masalah yang harus ditangani segera adalah kurangnya pengetahuan tentang gizi yang sehat dan banyaknya konsumsi makanan tidak sehat di sekolah. Tujuan dari program pengabdian masyarakat ini, yaitu untuk memberi edukasi orang tua, guru, dan siswa SDN Ciburial 03 di Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, tentang pentingnya menjaga gizi seimbang dan bagaimana memilih makanan sehat untuk anak-anak mereka. Aktivitas ini dilakukan pada 10 februari 2026 dan dihadiri oleh siswa, orang tua, dan guru. Teknik yang diterapkan adalah sosialisasi dan presentasi yang dibagi menjadi dua sesi. Sesi Pertama membahas tentang Pedoman Isi Piringku mengenai gizi seimbang dan standar untuk memilih camilan sehat. Sesi kedua membahas bahaya camilan yang mengandung banyak bahan aditif. Hasil menunjukkan bahwa semua peserta berpartisipasi dengan semangat dalam kegiatan ini, seperti yang ditunjukkan oleh tingkat keterlibatan aktif peserta dalam sesi tanya jawab. Siswa berpartisipasi secara aktif dan memberikan jawaban yang tepat. Program ini diharapkan menjadi langkah pertama dalam meningkatkan kesadaran akan gizi yang berkelanjutan baik di rumah maupun disekolah
Ultra-Processed Food Consumption and Its Impact on Nutritional Status of Preschool Children in Urban Areas Wulan, Anisa Nur; Rosdiana, Delita Septia; Fauza, Ahdiyatul; Santanu, Ayu Mutiara
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol. 13 No. 1 (2026)
Publisher : Department of Nutrition, Faculty of Health Sciences, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ijhn.2026.013.01.8

Abstract

Due to imbalanced dietary intake during a critical period of growth, preschool children are vulnerable to nutritional issues. This study aimed to examine the relationship between ultra-processed food (UPF) consumption and the nutritional status of preschool children in urban areas. A cross-sectional study design was carried out with 60 kindergarten children in the working area of the Pasirkaliki Health Center. Nutritional status was assessed using anthropometric measurements, and dietary intake and UPF consumption were evaluated using SQ-FFQ and two 24-hour food recalls. Data were analyzed using univariate and bivariate methods with SPSS version 27.0. According to the findings, 79.3% of children had normal nutritional status, whereas 10.3% were classified as overweight and 5.2% as obese. A total of 41.7% of children were categorized as having a high frequency of UPF consumption. Statistical analysis indicated significant relationships between energy intake (p=0.008), protein intake (p=0.010), and fat intake (p=0.001) and nutritional status. A significant relationship was found between the frequency of UPF consumption and nutritional status (p=0.010). In short, frequent consumption of UPF contributes to a high risk of overnutrition, and parental awareness and nutrition literacy are needed in shaping healthy eating patterns to prevent long-term health impacts.
Correlation of energy intake and availability with aerobic endurance performance Farrah Lula Klarissa Hendroyono; Muchamad Rizky Sentani; Isti Kumalasari; Delita Septia Rosdiana
Multilateral : Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga Vol 25, No 1 (2026): February
Publisher : Lambung Mangkurat University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/multilateral.v25i1.24131

Abstract

Futsal is a high-intensity intermittent sport demanding optimal aerobic endurance and adequate nutritional support, particularly for adolescent athletes during growth. This study aimed to determine the relationship between nutrient intake, energy availability (EA), and aerobic endurance among futsal athletes in Bandung. A total of 47 male athletes aged 13-21 years from Futsal 15 Bandung participated in this cross-sectional study. Data collection included three 24-hour food recalls for dietary intake, anthropometric measurements, and the Multistage Fitness Test (Beep Test) for estimating VO2 max. Energy availability was calculated by subtracting exercise energy expenditure (EEE) from energy intake, normalized per fat-free mass (FFM). The results showed significant positive correlations between aerobic endurance, VO2 max, and intake levels of energy (p = 0.003, r = 0.427), carbohydrates (p = 0.003, r = 0.427), protein (p = 0.000, r = 0.514), and fluids (p = 0.002, r = 0.446). However, no significant correlation was found between EA (p = 0.700) or fat intake (p = 0.465) and VO2 max. Most athletes had low EA values (< 30 kcal/kg FFM/day), indicating potential nutritional risks. These findings highlight the importance of adequate macronutrient and fluid intake to support aerobic performance and professional nutritional intervention in athlete development programs.
Hubungan Norma Subjektif dan Intensi Aktivitas Fisik dengan Aktivitas Fisik serta Status Gizi Remaja Awal di Kota Bandung: Relationship of Subjective Norms and Intentions of Physical Activity with Physical Activity and Nutritional Status of Early Adolescents in Bandung City Nida Nabilah; Sentani, Muchamad Rizki; Santanu, Ayu Mutiara; Rosdiana, Delita Septia
Jurnal Ilmu Gizi dan Dietetik Vol 5 No 1 (2026)
Publisher : Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB dan PERGIZI PANGAN Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25182/jigd.2026.5.1.431-441

Abstract

Remaja termasuk kelompok usia yang memiliki kerentanan tinggi terhadap gangguan gizi, yang dipengaruhi oleh dinamika sosial dan kebiasaan hidup yang tidak menunjang kesehatan. Di Kota Bandung, kasus obesitas remaja tercatat cukup tinggi. Salah satu aspek yang dapat memengaruhi perilaku aktivitas fisik dan kondisi gizi adalah norma subjektif serta keinginan untuk melakukan aktivitas fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keterkaitan antara norma subjektif dan intensi dalam beraktivitas fisik terhadap aktivitas fisik aktual serta status gizi pada remaja awal. Studi ini menggunakan rancangan kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 64 remaja awal di wilayah Pasundan dipilih sebagai responden menggunakan rumus Lemeshow. Uji bivariat dengan metode Fisher’s Exact test menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara norma subjektif dan intensi untuk beraktivitas fisik (p=0,001). Namun, hubungan antara intensi dengan aktivitas fisik (p=0,187), norma subjektif dengan aktivitas fisik (p=0,385), intensi dengan status gizi (p=0,908), serta norma subjektif dengan status gizi (p=0,535). Temuan ini menunjukkan bahwa norma subjektif memiliki hubungan terhadap pembentukan intensi, namun belum cukup mampu mendorong terjadinya perubahan perilaku nyata pada remaja.
Keterkaitan Karakteristik Personal, Sistem Kerja, dan Gaya Hidup terhadap Kejadian Sindrom Metabolik Anggota Polisi Husna Dwimulya; Fajria Saliha Puspita Prameswari; Delita Septia Rosdiana; Asti Dewi Rahayu Fitrianingsih
Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 1 (2025): Volume 4, Nomor 1, Tahun 2025
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jiik.v4i1.51738

Abstract

Sindrom metabolik (SM) merupakan kumpulan gangguan metabolisme yang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes melitus tipe 2. Anggota kepolisian, dengan beban kerja berat dan durasi kerja yang panjang, rentan terhadap SM. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan karakteristik personal, sistem kerja, dan gaya hidup terhadap kejadian SM pada anggota polisi di Polsek Bandung Wetan. Penelitian ini menggunakan desain survei analitik cross-sectional dengan populasi 55 anggota polisi. Sampel berjumlah 39 responden. Data dikumpulkan melalui wawancara dan pemeriksaan fisik (lingkar pinggang, tekanan darah, glukosa darah puasa, kolesterol total). Analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan continuity correction. Hasil menunjukkan 41% responden mengalami sindrom metabolik, dengan obesitas sentral (76,9%), hiperglikemia (71,8%), dan hipertensi (53,8%) sebagai komponen dominan. Faktor personal (usia, riwayat penyakit keluarga), pendidikan terakhir, dan penghasilan tidak menunjukkan hubungan signifikan. Demikian pula, durasi kerja, tempat kerja, dan kebiasaan merokok tidak berhubungan signifikan. Namun, stres kerja, durasi tidur tidak sesuai), aktivitas fisik tidak aktif, serta pola makan (kurang konsumsi sayur & buah dan sering konsumsi makanan berisiko) berhubungan signifikan dengan SM (p<0,05). Kesimpulannya, sindrom metabolik merupakan masalah kesehatan yang signifikan pada anggota polisi, dipengaruhi kuat oleh stres kerja dan gaya hidup. Intervensi komprehensif yang berfokus pada manajemen stres dan perbaikan gaya hidup sangat diperlukan.
Determinants of Chronic Energy Deficiency: Nutrient Adequacy and Household Food Availability Hana Nurul Sabila; Asti Dewi Rahayu Fitrianingsih; Fajria Saliha Puspita Prameswari; Delita Septia Rosdiana
PROMOTOR Vol. 9 No. 1 (2026): FEBRUARI
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/pro.v9i1.1857

Abstract

Chronic Energy Deficiency (CED) negatively impacts maternal and fetal health, causing risks such as low birth weight and impaired fetal growth. Key contributors include inadequate nutrient intake and limited household food availability. To assess the relationship between nutrient adequacy and household food availability with CED risk in pregnant women at Pataruman Health Center. A cross-sectional study involved 60 pregnant women from Citapen Village selected by simple random sampling. Independent variables were nutrient adequacy (energy, protein, carbohydrate intake) and household food availability, with CED incidence as the dependent variable. Data were collected via questionnaires and anthropometric measurements and analyzed using multiple logistic regression. Normal pre-pregnancy BMI significantly reduced CED risk (OR = 0.14; 95% CI: 0.03–0.77; p = 0.020). Adequate energy intake lowered CED risk by 93% (OR = 0.07; 95% CI: 0.01–0.53; p = 0.005), and sufficient protein intake also provided protection (OR = 0.26; 95% CI: 0.08–0.84; p = 0.005). Food-secure households showed lower CED risk (OR = 0.08; 95% CI: 0.02–0.40; p = 0.001). Carbohydrate adequacy was not significantly associated with CED (OR = 2.6; 95% CI: 0.4–11.7; p = 0.230) but acted as a confounder. No significant interaction effects were found among variables. Adequate pre-pregnancy BMI, energy and protein intake, and household food security protect against CED. Carbohydrate intake should be accounted for as a confounding factor. These findings support integrated nutrition and food security interventions to enhance maternal health.
Perbedaan kecukupan protein dan durasi menstruasi antara remaja putri anemia dan tidak anemia di wilayah kerja Puskesmas Sukapakir, Bandung Shadiqa Bilqisthi Aulia Nurrahman; Ahdiyatul Fauza; Delita Septia Rosdiana; Syifa F. Syihab
Jurnal SAGO Gizi dan Kesehatan Vol 7, No 2 (2026): Agustus
Publisher : Poltekkes Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30867/gikes.v7i2.2629

Abstract

Background: Anemia remains a public health problem among adolescent girls. Inadequate protein intake may impair hemoglobin synthesis and iron transport, whereas prolonged menstruation may increase blood and iron loss. Evidence comparing these factors between anemic and non-anemic adolescent girls remains limited.Objectives: To compare protein adequacy and menstrual duration between anemic and non-anemic adolescent girls in the Sukapakir Health Center working area, Bandung.Methods: This analytical cross-sectional study was conducted in January–February 2025. Sixty-four female students aged 15–19 years were selected using purposive sampling and divided into anemic (n = 32) and non-anemic (n = 32) groups. Anemia was defined as a hemoglobin level <12 g/dL. Protein intake was assessed using two nonconsecutive 24-hour dietary recalls, and menstrual duration was obtained using a questionnaire. Differences between groups were analyzed using the Mann–Whitney U test at α = 0.05.Results: Protein adequacy was lower in the anemic group (74.4 ± 29.6%; mean rank 27.88) than in the non-anemic group (87.8 ± 23.9%; mean rank 37.13; p = 0.047; r = 0.248). Menstrual duration was longer in the anemic group (5.97 ± 1.28 days; mean rank 37.09) than in the non-anemic group (5.34 ± 1.06 days; mean rank 27.91; p = 0.040; r = 0.257). Both effect sizes were small.Conclusions: Adolescent girls with anemia had lower protein adequacy and longer menstrual duration than those without anemia. Nutrition education to support adequate protein intake and targeted hemoglobin monitoring may contribute to anemia prevention.