Claim Missing Document
Check
Articles

Karakteristik Pasien dan Pengobatan Penderita Skizofrenia Di RSJD Atma Husada Mahakam Samarinda Aulia Nisa; Victoria Yulita Fitriani; Arsyik Ibrahim
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol. 2 No. 5 (2014): J. Trop. Pharm. Chem.
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117, Gedung Administrasi Fakultas Farmasi Jl. Penajam, Kampus UNMUL Gunung Kelua, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jtpc.v2i5.78

Abstract

Schizophrenia is a combination of psychotic symptoms with personality disorders typical distortion. The frequency of schizophrenia in Indonesia is 1-3 people per 1000 people , and in developed countries is 1 in every 100 people with schizophrenia. The research Patient Characteristics and Treatment of Patients with Schizophrenia in Mental Health Hospital Atma Husada Mahakam Samarinda was done by analyzing the data obtained from the medical records unit. Analysis method used is descriptive qualitative method. The results are 62,05% male patients and 37,95% female patients, 96,97% patients in productive age and 76,51% does not have job. The causes of schizophrenia are 19,28% genetic and 80,72% non genetic. The selection of medication given to patients consists of antipsychotics, hypnotics and sedatives, antiparkinson, antihistamines, antiepileptic, and antidepressants. Keyword: Schizophrenia, Patient Characteristics, Medication. Abstrak Skizofrenia merupakan serangkaian gejala psikotik dengan gangguan kepribadian distorsi khas pada proses pikir. Frekuensi skizofrenia di Indonesia adalah 1-3 orang setiap 1000 orang, dan pada negara maju terdapat 1 orang skizofrenia pada setiap 100 orang. Penelitian Karakteristik Pasien dan Pengobatan Penderita Skizofrenia di RSJD Atma Husada Mahakam Samarinda telah dilakukan dengan menganalisa data yang diperoleh dari unit rekam medik. Metode analisa yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Hasilnya adalah pasien pria 62,05% dan pasien wanita 37,95%, pasien rentang usia produktif 96,97% dan tidak memiliki pekerjaan 76,51%. Penyebab skizofrenia 19,28% genetik dan 80,72% non genetik. Pemilihan obat yang diberikan kepada pasien penderita skizofrenia terdiri dari antipsikotik, hipnotik dan sedatif, antiparkinson, antihistamin, antiepilepsi, dan antidepresan. Kata Kunci: Skizofrenia, Karakteristik Pasien, Pengobatan.
Metabolit Sekunder dan Aktivitas Fraksi Etil Asetat Kulit Buah Jengkol (Pithecellobium jiringa (Jack) Prain.) terhadap Bakteri Pseudomonas aeruginosa dan Bacillus subtilis Adam M. Ramadhan; Ririn Pangaribuan; Arsyik Ibrahim
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol. 3 No. 2 (2015): J. Trop. Pharm. Chem.
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117, Gedung Administrasi Fakultas Farmasi Jl. Penajam, Kampus UNMUL Gunung Kelua, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jtpc.v3i2.92

Abstract

This research aims to determine the identification of secondary metabolites and antibacterial activity of ethyl acetate fraction of Jengkol fruit peel (Pithecellobium jiringa (Jack) Prain.) against the bacteria Pseudomonas aeruginosa and Bacillus subtilis. Identification of secondary metabolites is done by testing be qualitative. Antibacterial activity assays performed by agar diffusion method with a test concentration are 0,5%, 1%, 5%, 10% and 15%. The results of identification of secondary metabolites are flavanoid, fenolic and tannin. Data has been analyzed with measuring the diameter of the kill zone of ethyl acetat fraction of Jengkol fruit peel against bacterial growth. The result of research showed that ethyl acetat fraction of Jengkol fruit peel produce radical zone. The effective concentration of ethyl acetate of Jengkol fruit peel was 15% against the bacteria Pseudomonas aeruginosa and Bacillus subtilis.Keywords: Secondary metabolites, antibacterial activity, Pithecellobium jiringa (Jack) Prain.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi golongan senyawa metabolit sekunder dan mengetahui aktivitas antibakteri fraksi etil asetat kulit buah jengkol (Pithecellobium jiringa (Jack) Prain.) terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa dan Bacillus subtilis. Identifikasi metabolit sekunder dilakukan dengan uji kualitatif. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi agar dengan konsentrasi uji 0,5%, 1%, 5%, 10% dan 15%. Hasil identifikasi golongan senyawa metabolit sekunder terdapat senyawa flavanoid, fenolik dan tanin. Data hasil penelitian aktivitas antibakteri dianalisis dengan mengukur diameter zona bunuh fraksi etil asetat kulit buah jengkol terhadap pertumbuhan bakteri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi etil asetat kulit buah jengkol memiliki aktivitas dalam membunuh pertumbuhan baktri uji. Konsentrasi efektif fraksi etil asetat kulit buah jengkol untuk membunuh bakteri Pseudomonas aeruginosa dan Bacillus subtilis yaitu pada konsentrasi 15%.Kata kunci: Metabolit sekunder, aktivitas antibakteri, Pithecellobium jiringa (Jack) Prain.
Aktivitas Antijamur dan Identifikasi Metabolit Sekunder Isolat Jamur Endofit dari Daun Yakon (Smallanthus sonchifolius) terhadap Beberapa Jamur Patogen Aditya Fridayanti; Arsyik Ibrahim; Fitriyani Fitriyani
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol. 3 No. 2 (2015): J. Trop. Pharm. Chem.
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117, Gedung Administrasi Fakultas Farmasi Jl. Penajam, Kampus UNMUL Gunung Kelua, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jtpc.v3i2.93

Abstract

Each plant is host to one or more endophytes contain bacteria and fungi. Endophytic fungi could potentially have an activity and produce secondary metabolites same as its host. Yacon leaf (Smallanthus sonchifolius) has been known to have antimicrobial activity that allow the endophytic fungi also has potential as antimicrobial. The purpose of this research was to isolated the endophytic fungi from Yacon leaf which has activity as antifungal and can produce secondary metabolites same as its host. The method that used to test the activity of endophytic fungi are using direct planting method, whereas the identification of secondary metabolites using Thin Layer Chromatography (TLC) and spray reagent. The results were obtained that the endophytic fungi has an activity as antifungal against Candida utilis, Candida albicans and Malassezia Purpur, along with the presence of secondary metabolites that same as its host.Key words: endophytic fungi, Smallanthus sonchifolius, antifungal, Thin Layer Chromatography (TLC)ABSTRAKSetiap tanaman mengandung satu atau lebih mikroba endofit yang terdiri dari bakteri dan jamur. Jamur endofit berpotensi memiliki aktivitas dan menghasilkan metabolit sekunder yang sama seperti inangnya. Daun Yakon (Smallanthus sonchifolius) telah diketahui memiliki aktivitas sebagai antimikroba sehingga memungkinkan adanya jamur endofit yang juga berpotensi sebagai antimikroba. Tujuan dari penelitian ini adalah didapatkan isolat jamur endofit dari daun Yakon yang memiliki aktivitas sebagai antijamur dan dapat menghasilkan metabolit sekunder yang sama seperti inangnya. Metode yang digunakan untuk menguji aktivitas isolat jamur endofit adalah menggunakan metode tanam langsung, sedangkan identifikasi metabolit sekunder menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan pereaksi semprot. Hasil penelitian yang diperoleh adalah adanya isolat jamur endofit yang memiliki aktivitas sebagai antijamur terhadap jamur Candida utilis, Candida albicans, dan Malassezia purpur, serta adanya metabolit sekunder yang sama seperti inangnya.Kata kunci: Jamur endofit, Smallanthus sonchifolius, antijamur, Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
Aktivitas Sediaan Gel Antiseptik Tangan Berbahan Aktif Ekstrak Fraksi Etanol Daun Sungkai (Peronema canencens Jack.) terhadap Beberapa Bakteri Patogen Arsyik Ibrahim; Indah Woro Utami; Risna Agustina
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol. 3 No. 2 (2015): J. Trop. Pharm. Chem.
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117, Gedung Administrasi Fakultas Farmasi Jl. Penajam, Kampus UNMUL Gunung Kelua, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jtpc.v3i2.94

Abstract

Penelitian Aktivitas Sediaan Gel Antiseptik Tangan Berbahan Aktif Ekstrak Fraksi Etanol Daun Sungkai (Peronema Canencens Jack.) telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antiseptik fraksi daun Sungkai (P. canescens. Jack) secara in vitro terhadap beberapa bakteri patogen dalam sediaan gel antiseptic tangan dan mengetahui konsentrasi terbaik fraksi etanol daun Sungkai (P. canencens Jack.) dalam sediaan gel antiseptik tangan terhadap masing-masing strain mikroba patogen. Bahan uji diperoleh dengan fraksinasi ekstrak fraksi etanol daun sungkai, selanjutnya formulasikan ke dalam basis gel antiseptic, diuji aktivitasnya terhadap beberapa bakteri pathogen dan menentukan konsentrasi terbaik fraksi etanol daun Sungkai (P. canencens Jack.) dalam sediaan gel antiseptik tangan terhadap bakteri Escherichia coli, Salmonella thyposa, Staphylococcus aureu, Bacillus subtilis. Metode pengujian antibakteri mengunakan uji difusi padat secara in vitro. Hasil penelitian menunjukan konsentrasi fraksi etanol dalam sediaan gel antiseptik aktif terhadap bakteri Escherichia coli, Salmonella thyposa, Staphylococcus aureus dan Bacillus subtillis. Konsentrasi terbaik ekstrak etanol dalam sediaan gel antiseptik adalah 4% efektif menghambat/membunuh ke tiga bakteri uji. Kata kunci : P. canencens Jack, Gel antiseptik, E. coli, S. thyposa, S. aureus, B. subtlisABSTRACTA research which antiseptic hand gel preparations containing the active leaf extract fraction ethanol Sungkai (Peronema canencens Jack.) has been done. This study aims to know is antiseptic activity Sungkai leaf fraction (P. canescens. Jack) in vitro against to several microbial pathogens in the preparation of antiseptic hand gel, and to know determine the best concentration of ethanol fraction Sungkai leaf in the preparation of antiseptic gel hands each strain of pathogenic bacteria. Test materials obtained by fractionation of the ethanol extract of the leaf fraction Sungkai, further formulated into a gel base antiseptic, tested its activity against several bacterial pathogens, and determine the best concentration of ethanol fraction Sungkai leaf in the preparation of antiseptic hand gel against Staphylococcus aureus, Salmonella thyposa, Escherichia coli and Bacillus subtilis bacteria. Antibacterial testing using method in vitro solid diffusion test. The results showed the concentration of ethanol fraction in gel dosage of active antiseptic against Staphylococcus aureus, Salmonella thyposa, Escherichia coli and Bacillus subtilis bacteria. The best concentration of ethanol extract in the preparation of antiseptic gel was 4% effective at inhibiting or kill the to three bacteria. Keywords: P. canencens Jack, antiseptic gel, E. coli, S. thyposa, dan S. aureu, B. subtllis
Formulasi dan Optimasi Basis Gel HPMC (Hidroxy Propyl Methyl Cellulose) dengan Berbagai Variasi Konsentrasi Mirhansyah Ardana; Vebry Aeyni; Arsyik Ibrahim
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol. 3 No. 2 (2015): J. Trop. Pharm. Chem.
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117, Gedung Administrasi Fakultas Farmasi Jl. Penajam, Kampus UNMUL Gunung Kelua, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jtpc.v3i2.95

Abstract

Ideal gel formulation can be obtained by formulating some kind of gelling material, but the most important thing to note is the selection of a gelling agent. HPMC (Hidroxy Propyl Methyl Cellulose) is a gelling agent that is commonly used in the production of cosmetics and drugs, because it can producea gel that is clear, easily soluble in water, and has a low toxicity. This study aimed to obtain the concentration of HPMC as a gelling agent that has the physical stability in accordance with the stipulated requirements. Gel formulations made with HPMC concentration variation of 3%, 5% and 7%, further evaluation of physical properties include organoleptic test, homogeneity, dispersive power, pH, and viscosity. Evaluation gel base done for 3 weeks. The results of stability tests show the base gel with a concentration of 7% HPMC has a good standard for viscosity, pH, dispersive power, homogeneity and organoleptic.Key words: Gel, HPMC (hidroxy propyl methyl cellulose), gelling agent.ABSTRAKSediaan gel yang baik dapat diperoleh dengan cara memformulasikan beberapa jenis bahan pembentuk gel, namun yang paling penting untuk diperhatikan adalah pemilihan gelling agent. HPMC (Hidroxy Propyl Methyl Cellulose) merupakan gelling agent yang sering digunakan dalam produksi kosmetik dan obat, karena dapat menghasilkan gel yang bening, mudah larut dalam air, dan mempunyai ketoksikan yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh konsentrasi HPMC sebagai gelling agent yang memiliki kestabilan fisika yang sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan. Formulasi gel dibuat dengan variasi konsentrasi HPMC 3%, 5% dan 7%, selanjutnya dilakukan evaluasi sifat fisika yang meliputiuji organoleptis, homogenitas, daya sebar, pH, dan viskositas. Evaluasi basis gel dilakukan selama 3 minggu. Hasil yang diperoleh dari uji stabilitas menunjukan basis gel dengan konsentrasi HPMC 7% memiliki standar yang baik untuk viskositas, pH, daya sebar, homogenitas dan organoleptis.Kata Kunci : Gel, HPMC (Hidroxy Propyl Methyl Cellulose), gelling agent.
Perubahan Profil Farmakokinetika Ibuprofen yang Diberikan dengan Kombinasi Vitamin C pada Tikus Putih (Rattus Norvegicus L.) Sattrio Desrianto Prabowo; Arsyik Ibrahim; Riski Sulistiarini
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol. 3 No. 3 (2016): J. Trop. Pharm. Chem.
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117, Gedung Administrasi Fakultas Farmasi Jl. Penajam, Kampus UNMUL Gunung Kelua, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jtpc.v3i3.103

Abstract

Ibuprofen is one of the NSAID (NonSteroid Anti Inflamation Drug) drugs that has been widely used as antipyretic agent, analgesic dan anti-inflamation. Vitamin C is an important nutrient for the body and has been widely used to maintain health. Earlier study indicate patterns of interaction between vitamin C and NSAID drugs. The aims of this research were to study the influence of vitamin C to the pharmacokinetics profile of ibuprofen. The study was conducted using 9 rats rats, divided into 3 groups (n=3 per group). Each group was treated the following treatment : control ibuprofen (ibuprofen 7.2 mg/200 gBW), dose 1 group (ibuprofen 7,2 mg/200 gBW, and vitamin C 4,5 mg/200 gBW), and dose 2 group (ibuprofen 7,2 mg/200 gBW and vitamin C 9 mg/200 gBW). Blood sampling is done from the vein of rat’s tail at minutes 15, 30, 45, 60, 75, 90, 120, 180, 240, 300 and 360. The quantitation of ibuprofen in plasma was determined by UV spectrophotometer at maximum wavelength. Result showed that vitamin C changed the absorption of ibuprofen by prolonged the maximum plasma concentration time, reduce maximum levels of ibuprofen and vitamin C also changed the elimination of ibuprofen by prolonged the elimination time. Keywords: Ibuprofen, Vitamin C, Pharmacokinetics ABSTRAK Ibuprofen merupakan salah satu obat golongan NSAID (Non Steroid Anti-Inflamation Drug) yang secara luas digunakan oleh masyarakat sebagai antipiretik, analgesik, dan anti-inflamasi. Vitamin C merupakan nutrisi penting bagi tubuh yang dikonsumsi secara luas oleh masyarakat untuk menjaga kesehatan. Penelitian awal menunjukkan bahwa terdapat pola akan kemungkinan teradinya interaksi antara vitamin C dengan obat golongan NSAID. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari pengaruh vitamin C terhadap profil farmakokinetika ibuprofen. Uji dilakukan dengan membagi 9 ekor tikus dalam 3 kelompok (tiap kelompok 3 ekor). Tiap kelompok diberi perlakuan sebagai berikut: kontrol ibuprofen (ibuprofen 7,2 mg/200 gBB), dosis 1 (ibuprofen 7,2 mg/200 gBB dan vitamin C 4,5 mg/200 gBB), dan dosis 2 (ibuprofen 7,2 mg/200 gBB dan vitamin C 9 mg/200 gBB). Pengambilan cuplikan darah dilakukan dari vena ekor tikus pada menit ke- 15, 30, 45, 60, 75, 90, 120, 180, 240, 300 dan 360. Kadar ibuprofen dalam plasma diukur menggunakan spektrofotometer UV - Vis pada panjang gelombang maksimum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa vitamin C dapat mempengaruhi absorpsi ibuprofen dengan memperpanjang waktu konsentrasi plasma mencapai maksimum, menurunkan kadar maksimum ibuprofen dalam darah, dan vitamin C juga mempengaruhi eliminasi ibuprofen dengan memperpanjang waktu eliminasi ibuprofen Kata Kunci: Ibuprofen, Vitamin C, Farmakokinetik
Isolasi dan Karakterisasi Fungi Endofit Tanaman Tapak Dara (Catharanthus Roseus) M. Arifuddin; Mahfuzun Bone; Iswahyudi Iswahyudi; Arsyik Ibrahim; Laode Rijai
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol. 4 No. 1 (2017): J. Trop. Pharm. Chem.
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117, Gedung Administrasi Fakultas Farmasi Jl. Penajam, Kampus UNMUL Gunung Kelua, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jtpc.v4i1.128

Abstract

This study aims to determine the diversity of endophytic fungi Tread Dara (Catharanthus roseus) as one of the potential plants that can produce medicinal efficacious compounds. This study includes the isolation and identification of endophytic fungi on Tapak Dara plant using PDA medium. Based on the results obtained 6 endophytic fungal isolates originating from roots and leaves Tread Dara.
Isolation and Characterization Endophytic Fungal Isolate from Peronema canescens Jack Leaf and Coptosapelta tomentosa Val. K. Heyne Root Arsyik Ibrahim; M. Arifuddin; Wisnu Cahyo P; Wahyu Widayat; Mahfuzun Bone
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol. 4 No. 5 (2019): J. Trop. Pharm. Chem.
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117, Gedung Administrasi Fakultas Farmasi Jl. Penajam, Kampus UNMUL Gunung Kelua, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jtpc.v4i5.169

Abstract

Has been done Isolation, Characterization and Secondary Metabolite Endophytic Fungal Isolate from Peronema canescens Jack Leave and Coptosapelta tomentosa Valeton K. Heyne Root. The aim of this research is to know the number of fungal isolates, chromatogram profile and secondary metabolite group of endophytic fungal isolates from P. canencens leaves and C. tomentosa root. Characterization of endophytic fungal isolates was done macroscopically and microscopically. Identification of secondary metabolites endophytic fungal isolates were performed by chemical reaction test and TLC (Thin Layer Chromatography) method with specific spray reagents. The data of this study were obtained based on the number of endophytic fungal that can be isolated, observing macroscopic and microscopic morphological profiles, chromatogram profile and secondary metabolites of each endophytic fungal isolated. The results showed that endophytic fungal that can be isolated from P. canencens leaves four isolates, and two isolates from C. tomentosa root. Morphological profile macroscopic endophytic fungal of the six isolates showed a greenish-colored colony, white gray, clear black. Microscopic profile of each fungal isolate having spores, sprangiosphora, sporangium, conidia, hyphae and stolon. The identified secondary metabolites are: alkaloids, terpenoids, and flavonoids, and polyphenols.
Efektivitas Antiinflamasi Fraksi Air Ekstrak Daun Sembukan (Paederia foetida L.) pada Tikus Putih (Rattus norvegicus) Rio Saddam Pratama; Aditya Fridayanti; Arsyik Ibrahim
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2015): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v1i1.12

Abstract

Telah dilakukan penelitian Aktivitas Antiinflamasi Ekstrak Daun Sembukan (Paederia foetida L.) Pada Tikus Putih (Rattus Norvegiens). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa dosis efektif dari fraksi ekstrak daun sembukan yang paling baik memberikan efek antiinflamasi terhadap edema buatan pada telapak kaki tikus putih. Penelitian menggunakan metode pembentukan edema buatan dan mengukur volume kaki tikus putih secara berkala dengan menggunakan alat pletismometer. Dosis yang digunakan untuk ekstrak adalah 25mg/200gBB, 50mg/200gBB, dan 100mg/200gBB. Data hasil penelitian selanjutnya diolah dengan menggunakan analisis varian (Anava) dua arah, pengujian lanjutan uji BNJD (Beda Nyata Jujur Duncan). Hasil penelitian yang menyatakan dosis efektif ekstrak daun sembukan yaitu dosis 50mg/200gBB yang memiliki aktivitas antiinflamasi paling baik.
Aktivitas Antimikroba Ekstrak Daun Bungur (Langerstroemia speciosa (L.) Pers) Nurhidayati Febriana; Fajar Prasetya; Arsyik Ibrahim
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2015): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v1i2.15

Abstract

Penelitian ini menggunakan mikroba Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Candida albicans dan Malassezia furfur. Pengujian aktivitas antimikroba dilakukan dengan menggunakan metode difusi agar, dengan konsentrasi 10%, 15%, 20%, 25% dan 30% untuk ekstrak metanol. Pada fraksi etil asetat dan n-butanol konsentrasi yang digunakan 10%, 20%, 30% dan 40% untuk kedua bakteri sedangkan konsentrasi 1%, 5%, 10%, 15% dan 20% untuk kedua jamur. Hasil penelitian aktivitas antimikroba yang memiliki daya bunuh terbesar pada ekstrak metanol pada konsentrasi 20% untuk Staphylococcus aureus, untuk Escherichia coli, Candida albicans dan Malassezia furfur pada konsentrasi 25%. Pada fraksi etil asetat untuk Staphylococcus aureus dan Escherichia coli pada konsentrasi 30%, untuk Candida albicans dan Malassezia furfur pada konsentrasi 15%. Pada fraksi n-butanol untuk Staphylococcus aureus pada konsentrasi 20%, untuk Escherichia coli pada konsentrasi 30%, untuk Candida albicans dan Malassezia furfur pada konsentrasi 20% dan 15%.
Co-Authors Adam M. Ramadhan Aditya Fridayanti Ahmad Efendi Aisyah Anasia Apriani Ali istiansyah Amila Rahmah Anak Agung Gede Prawira Yuda Angga Cipta Narsa Arna Ningsih Arwin Widi Astutik Aulia Nisa Ayi Indah Utami Ayu Ulfa Sari Barly Sugara Beria Kundharindi Bohari Yusuf Cakra Segara Jaya Christina Ade Febriana Delvia, Fila Dewi Rahmawati Dian Suasana Dwi Sri Handayani Eko Nur Setiawan Elly Kendali Larasati Ema Via Mawadah Eva Hairdiana Umar Fachry Abda El Rahman Fajar Prasetya Fajar Prasetya Fathiah Olpah Siara Fila Delvia Firzan Nainu Fitriyani Fitriyani Florensius Rinaldi F Hadi Kuncoro Hajrah Hajrah Hanggara Arifian Helen Natalia Yuluci Herman Herman Ika Ayu Mentari Ika Rahayu Ilham Firdaus Rizky Perkasa Indah Hairunisa Indah Woro Utami Islamudin Ahmad Iswahyudi Iswahyudi Jaka Fadraersada Jovi Sovia Mega Kurnia Rizki Ramadani Laode Rijai Laode Rijai Lisna Meylina Lisna Meylina Lizma Febrina M Arifuddin M. Arifuddin Mahfuzun Bone Marsanti Marsanti Merry Handayani Mirhansyah Ardana Neta Novalia Nilam Cahaya Nisa Naspiah Novalia Debora Nur Aida Febriana Nur Mita Nurhidayati Febriana Nurul Annisa Nurul Fauziah Ragil Dwi Atmojo Redemptus Patria Adeliriansyah Rere Maulidina Rio Saddam Pratama Ririn Pangaribuan Risa Yusnita Risna Agustina Rita Yuniati Rolan Rusli Rusli Rusli Sattrio Desrianto Prabowo Selvi Jumiatul Astati Septi Anggraini Septi Anggraini Siti Ulfah Hidayah Sulistiarini, Riski Utami Wahyu Hidayanti Vebry Aeyni VICTORIA YULITA FITRIANI Vita Olivia Siregar Wahyu Widayat Welinda Dyah Ayu Wisnu Cahyo P Wisnu Cahyo Prabowo Yuli Permatasari Yunita Setianingsih Yurika Sastyarina Yurika Sastyarina Yuriska Yudistia Ningrum