Claim Missing Document
Check
Articles

THREE LEVELS OF NATURE IN THE EMBODIMENT OF JAWI TEMPLE Andini, Ni Putu Ayu Mesa; Paramadhyaksa, I Nyoman Widya; Titisari, Ema Yunita; Suryada, I Gusti Agung Bagus
Border: Jurnal Arsitektur Vol. 7 No. 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Architecture and Design, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/border.v7i2.1239

Abstract

Jawi Temple as a relic of the Singasari Kingdom is vertically composed of three levels of buildings, namely the base, body, and roof which are terraced, tall and slender, and towering, resulting in the idea to conduct a study related to the symbolic meaning in the form of the three segments. This article is a summary of the results of qualitative research on the interpretation of the symbolic meaning of the three segments of the Jawi Temple building. The results of the study obtained show that (a) the three levels of the Jawi Temple building are interpreted as the feet, body, and top of the mountain; (b) the three levels of the Jawi Temple building are interpreted as the feet, body, and head of humans; (c) Jawi Temple contains symbolic meaning as the natural levels of Bhūrloka, Bhuvarloka, and Svarloka in Hinduism and the natural levels of Kamaloka, Rupaloka, and Arupaloka in Buddhism; (d) Jawi Temple is a symbolization of Mount Meru which has a foot, body, and peak which in its top area is the location of the Kingdom of Heaven; and (e) the four similar faces of Jawi Temple are symbolic of Cosmogony in Hinduism and the embodiment of Lord Brahmā.
Hotspots Mapping for Preventing Bullying Through Design (Case Study: Public Junior High Schools in Malang City, Indonesia) Makarim, Muhammad Raja Rafi; Titisari, Ema Yunita; Wulandari, Lisa Dwi
Civil and Environmental Science Journal (CIVENSE) Vol. 8 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.civense.2025.008.02.3

Abstract

Bullying remains a critical issue in Indonesian schools, with spatial environments often influencing its occurrence. This study investigates the spatial distribution of bullying incidents across two public junior high schools in Malang City by using map-based surveys and spatial analysis. Data were collected through student questionnaires that identified bullying experiences and locations, followed by Kernel Density Estimation (KDE) using ArcGIS to identify bullying hotspots. The findings reveal that bullying is not randomly distributed but clusters in specific school areas such as classrooms, corridors, staircases, toilets, canteens, sports fields, and mosques. Physical bullying was more frequent in secluded, less supervised zones, while psychological bullying was concentrated in classrooms and semi-public social spaces. The study emphasizes the importance of spatial characteristics and supervision in shaping bullying patterns. It concludes that KDE is a valuable tool for informing design strategies and preventive interventions to create safer, more inclusive school-built environments.
Kajian pembangunan Perumahan permukiman terhadap kebijakan global dan program pembangunan di Indonesia Dhiah Agustina Qahar; Eko Nurin Daniyanto; M. Mukhdif Al-Afghoni; Ema Yunita Titisari; Annisa Nur Rahmadani
DEARSIP : Journal of Architecture and Civil Vol 1 No 1 (2021): Mei 2021
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Islam Darul Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52166/dearsip.v1i1.2523

Abstract

Perumahan dan pemukiman adalah elemen penting di daerah di daerah perkotaan maupun pedesaan. Penyelesaian perumahan Selain berfungsi sebagai tempat perumahan perumahan, ia juga berfungsi sebagai fungsi sosial-komunitas, seperti fungsi ekonomi dan fungsi lainnya (hubungan, Doxiadis dan Logan-Molotoch). Bahkan, pembangunan rumah tidak selalu mencapai kesuksesan. Ini terjadi secara khusus dalam perumahan diri sendiri, yaitu, perumahan yang dalam proses akuisisi dilakukan secara independen oleh masyarakat sebagai penduduk di mana pengembangan perumahan dianggap sebagai proses (perumahan per proses). Kegagalan pembangunan kontrol diri dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk keberadaan keterbatasan ekonomi masyarakat di rumah konstruksi, kondisi sumber daya alam yang tidak mendukung untuk mengatur perumahan atau bahkan keterbatasan kualitas dan jumlah manusia. Sumber daya di sekitar rumah. Misalnya, perbandingan, jika kita mengamati fisika dan tipologi perumahan di daerah perkotaan dan di daerah pinggiran kota / pedesaan, tidak diragukan lagi, akan sangat berbeda. Secara umum, perumahan di daerah perkotaan telah mencapai syarat untuk mencapai pengembangan yang lebih baik daripada di daerah pinggiran kota / pedesaan.
Konsep Ekologis pada Arsitektur di Desa Bendosari Titisari, Ema Yunita; S., Joko Triwinarto; Suryasari, Noviani
RUAS Vol. 10 No. 2 (2012)
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ruas.2012.010.02.3

Abstract

Desa Bendosari tengah berupaya mengembangkan potensi alamiahnya untuk kegiatan agraris dan wisata. Dikhawatirkan implikasi dari kegiatan wisata adalah pada kerusakan lingkungan. Untuk itu perlu dibuat serangkaian kebijakan terkait tata ruang kawasan agar nilai-nilai kearifan lokal. Penelitian ini berupaya untuk mengidentifikasi konsep ekologis masyarakat Desa Bendosari dengan mengangkat arsitektur sebagai obyek penelitian. Unsur-unsur arsitektural yang diamati antara lain adalah ruang, struktur dan konstruksi, bahan (material bangunan), dan unsur-unsur non fisik (sosial, budaya, ekonomi, agama/kepercayaan, adat-istiadat, dan sebagainya) sebagai faktor penentu perubahan. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Analisis didasarkan pada teori arsitektur ekologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arsitektut Desa Bendosari masih cukup ekologis meskipun dalam beberapa hal telah mulai meninggalkan konsep ekologis terutama terkait penggnaan bahan bangunan dan teknologi baru yang tidak diadaptasikan dengan kondisi lokal.Kata kunci: arsitektur, ekologis, desa
Penataan Lansekap Pada Program Kampung Agropreneur Di Tembalangan Malang Titisari, Ema Yunita; Asikin, Damayanti
RUAS Vol. 13 No. 2 (2015)
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ruas.2015.013.02.2

Abstract

Salah satu cara memecahkan permasalahan ruang terbuka hijau di kampung-kampung kota adalah melalui program pertanian kota. Selain dapat memperbaiki kualitas ekologi dan aspek visual lingkungan, urban farming berpotensi menjadi kegiatan ekonomi. Pada Kampung Tembalangan yang cukup padat, diperlukan perencanaan pola penataan lansekap dari kegiatan pertanian kota yang dilakukan. Penataan lansekap pada Kampung Tembalangan ini meliputi beberapa tahap yaitu: evaluasi kondisi eksisting, analisis potensi, dan alternatif solusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik-teknik urban farming yang dipraktekkan dapat sekaligus menjadi elemen-elemen estetis arsitektural dan menciptakan ruang untuk beberapa fungsi sesuai dengan yang dibutuhkan.Kata kunci: penataan, lansekap, agropreneur, kampung
Tinjauan Interdisipliner dalam Mengkaji Aspek Kosmologi dalam Arsitektur Titisari, Ema Yunita; Antariksa, Antariksa; Wulandari, Lisa Dwi; Surjono, Surjono
RUAS Vol. 15 No. 1 (2017)
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ruas.2017.015.01.6

Abstract

This paper is a review of the importance of interdisciplinary reviews in assessing the cosmological aspects of architecture. Architecture is a discipline that focuses on the study of the human environment. Environment and humans are very complex objects. Studies of people and architecture need to involve other disciplines. Involving other disciplines will help the understanding of people and architecture as a cultural product. Cosmology is the key to understanding architecture, especially the architecture of pre-modern society. By analysing the substance of some theories and architectural research on cosmology obtained the conclusion that in reviewing cosmological aspects in architecture is required interdisciplinary studies because architecture is an object that needs to be viewed from many perspectives. This is due to the complexity of human beings who create and create architecture as a place of residence.Keywords: interdisciplinary, architecture, cosmology
Membaca Intertekstualitas pada Hasil Renovasi Stasiun Jatinegara Jakarta Puspitasari, Mutiara Indah; Yusran, Yusfan Adeputera; Titisari, Ema Yunita
RUAS Vol. 20 No. 1 (2022)
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ruas.2022.020.01.12

Abstract

Jatinegara Station is considered as an A class station in Jakarta, which has been around for 111 years since it opened in 1909. This station has been redeveloped in terms of railway facilities and building infrastructure owing to the Double-doubled Track (DDT) project. This renovation attracts discourses in the topic of cultural heritage building’s sustainability, the functionality of the heritage building as an infrastructure building, and the compability of the new concourse building when being compared to the heritage building. Research based on intertextuality study is used to find reasons for development based on the historical and social aspects of today's society. The reasearch of intertextual relationship between the text of Jatinegara Station and the sociohistorical text can provide a further understanding on the renovation in the hope that the public could appreciate the renovations that has been carried out. The methodology used in this research is descriptive with a qualitative approach, the analysis will undergo through suprasegmental and intertextual technique provided by Julia Kristeva. The results is intertextuality reading of renovated Jatinegara Railway Station that is obtained through analyzing the sociohistoric text within.
Aspek Keberlanjutan Rumah Tradisional Suku Kajang di Desa Tana Towa Rofina Akwanul Hikmah; Ema Yunita Titisari
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 3 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Suku Kajang dinobatkan sebagai komunitas adat yang berhasil mempertahankan kelestarian hutan hujan terbaik di dunia oleh The Washington Post. Selain itu Suku Kajang sampai sekarang masih mempertahankan arsitektur rumah tradisionalnya tanpa ada perubahan dari generasi ke generasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis aspek keberlanjutan Iwamura pada rumah tradisional Suku Kajang di Desa Tana Towa, Kabupaten Bulukumba, sebagai referensi bagi arsitektur berkelanjutan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah rumah tradisional Suku Kajang memenuhi ketiga prinsip keberlanjutan Iwamura yaitu: 1) aspek low impact terpenuhi pada parameter hemat energi, efektif menggunakan sumber daya, dan usaha meminimalisir sampah, 2) aspek high contact terpenuhi pada parameter harmoni dengan budaya, adanya keragaman hayati dan tersedianya tempat berkumpul, dan 3) aspek health and amenity terpenuhi pada elemen rumah yang sehat dan nyaman bagi penghuninya. Kata Kunci : keberlanjutan, Iwamura, rumah, Suku Kajang
Cinema Center dengan Pendekatan Arsitektur Regionalisme Kritis Kawaldi, Rendy Shika; Titisari, Ema Yunita
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 3 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK   Tingginya angka bunuh diri di Surabaya menunjukkan urgensi kehadiran fasilitas hiburan publik seperti Cinema Center, yang dapat menjadi ruang rekreatif sekaligus intervensi sosial. Melalui pendekatan regionalisme kritis, desain Cinema Center memadukan teknologi modern dengan nilai-nilai lokal, menjadikannya bukan tempat hiburan dan sarana penguatan identitas budaya sehingga dapat menurunkan tingkat stress. Penerapan metode desain strukturalisme melalui analisis pola pada bangunan sekitar tapak dan fungsi sejenis menghasilkan tipologi arsitektur yang diterapkan pada aspek tapak, ruang, dan bangunan. kemudian dianalisis serta diintegrasikan, sehingga rancangan menjadi kontekstual dan selaras dengan identitas budaya setempat.  Hasil desain Cinema Center Surabaya menghadirkan ruang publik modern yang fungsional, estetis, dan bermakna, sekaligus memperkuat identitas budaya melalui perpaduan fasad dan interior bergaya kontemporer dengan nuansa lokal.   Kata kunci: Cinema Center, Regionalisme Kritis, Arsitektur Jawa   ABSTRACT   The high suicide rate in Surabaya highlights the urgency of establishing public entertainment facilities such as a Cinema Center, which can serve as both a recreational space and a form of social intervention. Through the application of critical regionalism, the Cinema Center’s design integrates modern technology with local cultural values, positioning it not merely as a venue for entertainment but also as a medium for reinforcing cultural identity and alleviating stress. The implementation of a structuralist design method, through pattern analysis of the surrounding built environment and similar functions, generates an architectural typology applied to the site, spatial organization, and building form. These elements are subsequently analyzed and integrated, resulting in a design that is contextual and aligned with the local cultural identity. The final design of the Surabaya Cinema Center presents a modern public space that is functional, aesthetic, and meaningful, while simultaneously strengthening cultural identity through the interplay of contemporary façade and interior elements infused with local nuances.   Keywords: Cinema Center, Critical Regionalism, Javanese Architecture
Pendopo Sebagai Ruang Multiplicity Dalam Narasi Branding Kota Banyuwangi yang Inklusif Azizah, Alya Lailatul; Kusdiwanggo, Susilo; Titisari, Ema Yunita
Hasta Wiyata Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Hasta Wiyata
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.hastawiyata.2025.008.02.08

Abstract

Pendopo Sabha Swagata Blambangan in Banyuwangi is an architectural space containing overlapping social, political, and cultural roles. These layers of meaning relate to Deleuze and Guattari’s concept of multiplicity, where the pendopo functions not only as the regent’s official residence but also as a public space, tourist destination, and medium for articulating the city’s identity. This study seeks to answer “how is multiplicity in the pendopo used in Banyuwangi’s city branding strategy in the context of culture and urban identity?”. This research applies a qualitative approach using inductive coding. Data were collected through in-depth interviews and field documentation, then analyzed using the theoretical framework of multiplicity. The findings show that the pendopo serves as an arena of becoming, containing layered meanings and multiple functions. It is not reduced to a single symbol but emerges as a network of political space, cultural-historical narratives, and an active public realm. Banyuwangi’s branding strategy through the pendopo is built not on fixed visual representation, but through the involvement of space that is inclusive and relational. In this context, multiplicity becomes a key framework for understanding how urban space is dynamically constructed as part of cultural practice and open identity representation.
Co-Authors - Antariksa Abdullah, Azli Abraham M. Ridjal Achadiah Rachmawati Achadiah, Rachmawati Agung Murti Nugroho Ahmad, A. Ghafar Aisyah Safitri Akbar Al Ghifari Al Ansi, Nashwan Ananda Weningtyas Handoyono Andini, Ni Putu Ayu Mesa Angela Upitya Paramitasari Annisa Nur Rahmadani Antariksa Antariksa Sudikno Ariani Mandala Arsita*, Ema Dwi Arsita, Ema Dwi Aubrey Giandima Azizah, Alya Lailatul Carissa Fadina Permata Cayarini, Filomina Dwi Cynthia E.V Wuisang Damayanti Asikin Damayanti Asikin Demayanti Asikin Dhiah Agustina Qahar Djunaidi, Muhammad Rafli Alfathan Dwi Ely Wardani Edi Subagijo Eko Nurin Daniyanto Ema Dwi Arsita Fadia Arinta Rahimasari Fahima, Tiza Fajri Nur Almaasah Fakhita Aulia Ramadhanty Gusti Ayu Suartika H. Djunaidi, Irfan Haru Agus Razziati Heptari Elita Dewi Herlindah Herlindah, Herlindah Herry Santosa Heru Sufianto Hyder, Afaq C. I Gusti Agung Bagus Suryada I Nyoman Widya Paramadhyaksa Imanda Amalia Damayanti Ir Antariksa Irfan H. Djunaidi Isna Johanda, Almira Firdania Ivan Wahyu Oktsandy Joko Triwinarto S. Joko Triwinarto S. Joko Triwinarto Santoso Kawaldi, Rendy Shika Lisa Dwi Wulandari M Rizki Hudiatma M. Mukhdif Al-Afghoni Makarim, Muhammad Raja Rafi Manalu, Citra Mentari Indriani, Ni Ketut Ayu Intan Putri Mimin Trianus Mimin Trianus Monica Sheira Mourad, Raghad Muhamad, Infaroyya Al Karimah. Muhammad Wildan Abrori Muhammad, Infaroyya Al Karimah Mutiara Indah Puspitasari Nabela, Siela Mara Ni Kadek, Ayu Lestari Noviani S. Noviani Suryasari nurjanah ratnaningrum Omar, Shida Irwana Puspitasari, Mutiara Indah Putri, Pipiet Arini Ratnaningrum, Nurjanah Respati Wikantiyoso Rofina Akwanul Hikmah Savitri, Diana Setiadi, Hafid Siela Mara Nabela Siela Mara Nabela Siti Azizah Siti Azizah Siti Hamidah Siti, Hamidah Sri Utami Sri Utami Sri Utami Surjono Surjono Suryada, I Gusti Agung Bagus Susilo Kusdiwanggo, Susilo Triandriani M. Veronica Stefani Melita, Veronica Stefani Melita Wahid, Julaihi Winda Astutiningsih Yusfan Adeputera Yusran Yusran Yusran, Yusfan Adeputera