Carolus Paulus Paruntu
Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Universitas Sam Ratulangi. Jl. Kampus Unsrat Bahu, Manado 95115, Sulawesi Utara, Indonesia

Published : 41 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

MANGROVE DAN PENGEMBANGAN SILVOFISHERY DI WILAYAH PESISIR DESA ARAKAN KECAMATAN TATAPAAN KABUPATEN MINAHASA SELATAN SEBAGAI IPTEK BAGI MASRAKAT Paruntu, Carolus P.; Windarto, Agung B.; Mamesah, Movrie
JURNAL LPPM BIDANG SAINS DAN TEKNOLOGI Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : JURNAL LPPM BIDANG SAINS DAN TEKNOLOGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan kegiatan pengabdian pada masyarakat di Desa Arakan Kecamatan Tatapaan Kabupaten Minahasa Selatan adalah untuk memberikan Iptek bagi Masyarakat (IbM) untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Silvofishery adalah sistem pertambakan teknologi tradisional yang menggabungkan antara usaha perikanan dengan penanaman mangrove, yang diikuti konsep pengenalan sistem pengelolaan dengan meminimalkan input dan mengurangi dampak terhadap lingkungan. Konstruksi tambak di Desa Arakan pada pengabdian pada masyarakat ini lebih memilih silvofishery model komplangan daripada model empang parit karena model komplangan lebih ramah lingkungan. Pemahaman mangrove yang diberikan dalam pembelajaran pada masyarakat meliputi definisi dan ruang lingkup mangrove, komponen mangrove, cara pengenalan mangrove dan jenis-jenis tanaman mangrove. Masyarakat nelayan dan pesisir Desa Arakan yang mengikuti kegiatan penanaman mangrove diberikan panduan mengacu pada Lampiran 1 Peraturan Menteri Kehutanan P.03/MENHUT.V/2004 tertanggal 22 Juli 2004 pada Bagian Keempat tentang Pedoman Pembuatan Rehabilitasi Hutan Mangrove, Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan.
FESES TERNAK SAPI SEBAGAI PENGHASIL BIOGAS (BEEF CATTLE FECES AS PRODUCING BIOGAS) Mirah, Arie Dp.; Soputan, Jeanette E.M.; Paruntu, Carolus P.
JURNAL LPPM BIDANG SAINS DAN TEKNOLOGI Vol 3, No 1 (2016)
Publisher : JURNAL LPPM BIDANG SAINS DAN TEKNOLOGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian adalah mengkaji pemanfaatan feses ternak sapi sebagai biogas. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif. Variabel penelitian yang diamati adalah volume gas dengan data pendukung pH. Hasil penelitian selama 35 hari menunjukkan bahwa total volume biogas yang diperoleh adalah 129.396,26 ml dan nilai rata-rata pH berkisar antara 6,0-7,0. Gas yang dihasilkan dalam penelitian ini selanjutnya dilakukan pengujian. Hasil yang diperoleh bahwa gas dapat menyala dengan konstan dan berwarna biru terang. Selanjutnya biogas diaplikasikan untuk memasak selama 18 menit. Dari hasil pengujian untuk mendidihkan air sebanyak 2 liter, membutuhkan waktu 15 menit dan gas yang dipakai sebanyak 95.066,64 ml. Selanjutnya, untuk memasak satu butir telur membutuhkan waktu memasak selama 3 menit dan gas yang dipakai sebanyak 17.164,81 ml. Kesimpulan pada penelitian ini bahwa pemanfaataan feses ternak sapi dapat menghasilkan biogas sebanyak 129396,26 ml, untuk memasak yang terpakai 112.231,45 ml dengan waktu memasak 18 menit dan dapat menggantikan sumber energi konvensional seperti minyak tanah dan kayu bakar.
Variasi Intraspesifik dalam Kecepatan Tumbuh di antara Tiga Populasi Gastropoda Intertidal, Nerita japonica (Dunker) Paulus Paruntu , Carolus
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 16, No 2 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.296 KB) | DOI: 10.24002/biota.v16i2.114

Abstract

Untuk mengetahui kecepatan tumbuh Nerita japonica, maka diadakan penelitian pada populasi- populasi yang hidup pada tiga macam habitat yang berbeda di Pulau Shimoshima Amakusa, Kyushu bagian barat, Jepang. Parameter yang diamati adalah kecepatan tumbuh rata-rata, pola kecepatan tumbuh rata-rata musiman, dan hubungan antara kecepatan tumbuh dan ukuran tubuh diantara tiga populasi. Pengamatan dilakukan dalam waktu dua bulan selama satu tahun sehingga dapat diketahui variasi menurut musim. Ketiga populasi memperlihatkan kecepatan tumbuh yang berbeda. Populasi pantai rocky tumbuh paling pesat dan populasi pantai stony bagian atas paling lambat. Pola kecepatan tumbuh ketiga populasi, bervariasi menurut musim. Populasi pantai rocky memiliki kecepatan tumbuh maksimal pada periode pertumbuhan MeiJuli, sedangkan dua populasi pantai stony pada JuliSeptember. Pada bulan November−Maret tahun berikutnya ketiga populasi tumbuh sangat lambat. Kecepatan tumbuh ketiga populasi berkurang secara signifikan seiring bertambahnya ukuran tubuh, kecuali pada November−Maret tahun berikutnya, satu dari tiga populasi tidak memperlihatkan hubungan antara kecepatan tumbuh dan ukuran tubuh. Dapat disimpulkan terdapat variasi intraspesifik pada N. japonica dalam hal kecepatan tumbuh menurut musim dan habitat walaupun dengan jarak geografi yang pendek.
Budidaya Ikan Kerapu (Epinephelus tauvina Forsskal, 1775) dan Ikan Beronang (Siganus canaliculatus Park, 1797) dalam Karamba Jaring Apung dengan Sistim Polikultur Paruntu, Carolus Paulus
e-Journal BUDIDAYA PERAIRAN Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/bdp.3.1.2015.6924

Abstract

The aim of the present research was to evaluate the daily growth ratio, food conversion ratio and mortality of grouper (Epinephelus tauvina) and rabbit fish (Siganus canaliculatus) in floating net with polyculture system.  This experiment was done at the coastal area of Tomini Bay in the North Sulawesi Province.  The observations were done every two weeks for three months from August - November 2014.  Twenty five groupers (62.41 grams in ABWo) and twenty five rabbit fish (52.2 grams in ABWo) were used for polyculture experiment, while fifty groupers (56.71 grams in ABWo) for monoculture.  The results indicated that the daily individual growth of Epinephelus tauvina on polyculture was 1.29%, with food conversion ratio 6.1, while it on monoculture was 1,18%, with food conversion ratio 6.4.  The daily individual growth of Siganus canaliculatus on polyculture was 0,8%, with food conversion ratio 3.8.  Mortality for all species studied were 0%.  The present research showed that the polyculture system was better than monoculture system.  The future studies suggest that the polyculture system in the floating net may be developed and applied as a mariculture model in the North Sulawesi Province for prosperous life of fisherman. Keywords: Epinephelus tauvina,  Siganus canaliculatus, polyculture system, floating net, prosperous life,  fisherman.
Komunitas ikan karang di Pantai Malalayang dan Pantai Meras Teluk Manado Sumual, Sarah S.; Kusen, Janny D.; Warouw, Veibe; Paruntu, Carolus P.; Roeroe, Kakaskasen A.; Boneka, Farnis B.
e-Journal BUDIDAYA PERAIRAN Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/bdp.6.2.2018.20633

Abstract

The study aimed to identify species of reef fishes, to obtain indexes of diversity  and dominance, eveness and to analyze the comparison of communities between the two study sites by Sorensen similarity index. Data was gathered in-situ with underwater recordings at a depth of 6 meters assisted by diving apparatus, and using fish visual census method. Subsequent data were identified using  fish identifikaction guide and WoRMS (Word Register of Marine Science) online identification applications. The number of species and specimens of reef fishes from each study site after bein identified were then analyzed  the diversity, dominance and similarity of the community between the two study sites. The coral reef fishes identification results that obtained from each study site  were:  20 families, 86 spesies and 362 specimen at  Malalayang beach, and 15 families, 55 spesies and 217 specimen at Meras beach. The value of the calculated index o community structure obtained by H’ 3.42 (Malalayang) and 2.91 (meras) has been shown the ecological condition of coral reef ecosystem which is still stable even though diversity is moderate, but inversely with low dominance value (D=0.08). The coral reef fishes in both study sites were very diverse and there was no dominant species. Eveness of community between two study sites high.The result of community similarity analysis using Sorensen Index was 49 % (<50 %) indicates that there was no community similarity of coral reef fishes between Malalayang Beach and Meras Beach which was allegedly caused by natural factors and or anthropogenic one in both research sites.Keywords : coral reef fishes community, diversity, dominance, community similarity
SURVIVAL AND GROWTH RATES OF TRANSPLANTED SCLERACTINIAN CORALS ON THE REEF FLAT AT KALASEI WATERS, MINAHASA REGENCY, NORTH SULAWESI Tioho, Hanny; Paruntu, Carolus P; Patrich, Hendra
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Vol 1, No 2 (2013): Oktober
Publisher : Graduate Program of Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.1.2.2013.7272

Abstract

In order to know survival and growth rates of some scleractinian coral species, 538 colonies from 46 species were collected from the reef which was affected by reclamation activity and transferred to the adjacent reef about 300 meters from the former location.  All of the transplanted colonies were observed during 12 months (April 2011 ? March 2012).   We found that 47 (8.74%) dead coral colonies dominated by branching corals and 491 (91.26%) were dominated by live coral colonies of the growth forms encrusting, folioseandmassive.  The highest coral growth (10.59 to 11.32cm/year) was showed by branching Acropora, while the lowest (0.35 to 0.71 cm/year ) was showed by the group of massive-submassive growth form.  This study concluded that corals with encrusting, folioseandmassive growth formhad a high survival rate, but they have slow growth ratescompared withbranching growth form. Untuk mengetahui tingkat ketahanan hidup dan pertumbuhan karang Scleractinia,  46 jenis karang Scleractinia yang terdiri dari 538 koloni dikoleksi dari areal terumbu karang yang sementara direklamasi dan ditransplantasi ke area rataan terumbu yang berjarak sekitar 300 meter dari area aktivitas reklamasi di pantai Kalasey dan pengamatan dilakukan selama satu tahun (April 2011 - Maret 2012).  Ditemukan 47 (8,74 %) koloni karang yang mati dan didominasi oleh karang bercabang, dan 491 (91,26 %) koloni yang hidup didominasi oleh karang dengan bentuk pertumbuhan encrusting, foliose dan massive. Pertumbuhan karang tertinggi adalah karang bercabang dari kelompok Acropora yaitu 10,59 - 11,32 cm/Tahun, sedangkan terendah adalah kelompok dengan bentuk pertumbuhan massive-submassive yaitu 0,35 - 0,71 cm/Tahun. Penelitian ini memperlihatkan bahwa karang dengan bentuk pertumbuhan encrusting, foliose dan massive memiliki tingkat ketahanan hidup yang lebih tinggi, tetapi memiliki pertumbuhan yang lebih lambat dibandingkan dengan karang bercabang.
Struktur Komunitas Karang dan Biota Asosiasi pada Kawasan Terumbu Karang di Perairan Desa Minanga Kecamatan Malalayang II dan Desa Mokupa Kecamatan Tombariri Tuhumena, Jeremias R.; Kusen, Janny D.; Paruntu, Carolus P.
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 1, No 3 (2013): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.1.3.2013.2842

Abstract

Tujuan studi yaitu untuk mengetahui struktur komunitas biota karang dan biota asosiasi di kawasan terumbu karang. Data tutupan karang diperoleh dengan menggunakan metode LIT (Line Intercept Transect) sedangkan untuk biota asosiasi diperoleh dengan menggunakan kuadran. Penelitian dilakukan  pada dua lokasi yaitu di Desa Minanga Kecamatan Malalayang II dan Desa Mokupa Kecamatan Tombariri Provinsi Sulawesi Utara.  Hasil yang diperoleh pada dua lokasi menunjukkan persentase tutupan karang yang sangat rendah.  Biota pada Desa Minanga dan Desa Mokupa memiliki keanekaragaman sedang.  Untuk kesamaan komunitas Ascidian dan Alga ditemukan sama, sedangkan Spons, Ekinodermata, Moluska serta Ikan berbeda pada kedua lokasi.  Nilai Frekuensi biota pada Desa Minanga memiliki nilai tertinggi yaitu Ascidian yang terendah yaitu Krustasea dan Alga sedangkan nilai frekuensi pada Desa Mokupa memiliki nilai tertinggi yaitu Ascidian dan yang terendah yaitu Polikaeta dan Alga.  Kepadatan Ascidian, Spons dan Moluska memiliki nilai tertinggi, sedangkan nilai terendah yaitu Ekinodermata, Krustasea dan Alga di Desa Minanga, sedangkan kepadatan Moluska memiliki nilai tertinggi sedangkan Ascidian, Spons, Alga dan Polikaeta memiliki nilai terendah di Desa Mokupa.
Deskripsi SWOT, KAFI dan KAFE terhadap Hasil Penelitian di Program Studi Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNSRAT Bahagia, Yuses; Paruntu, Carolus; Darwisito, Suria
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 4, No 2 (2016): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.4.2.2016.12977

Abstract

Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman  (SWOT), serta kesimpulan analisis faktor internal (KAFI) dan kesimpulan analisis faktor eksternal (KAFE) terhadaphasil penelitian di Program Studi Ilmu Kelautan FPIK Unsrat periode tahun 2012-2014. Metode penelitian adalahsurvey dan deskriptif.  Data diperoleh melalui: A. Pengkajian hasil-hasil penelitian dari Paruntu dan Kumaat (2015a,b); B.Wawancara dengan para keterwakilan dari peneliti dan mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan serta pimpinan FPIK; C. Studi pustaka dan penelusuran dokumen kebijakan pada Program Studi Ilmu Kelautan. Penelitian ini menggunakan analisis SWOT.Hasil deskripsi SWOT melalui KAFI dan KAFE diperoleh: A.Dua kekuatan utama, yaitu adanya 10 profesor dan 33 doktor yang relatif masih panjang dalam usia kerja dan adanya visi, misi, tujuan dan sasaran yang terukur tentang penelitian; B.Dua kelemahan utama, yaitu jumlah luaran penelitian di bidang kelautan masih kurang dan kurangnya mahasiswa dilibatkan dalam penelitian dosen; C.Dua peluang utama, yaitu banyaknya skema penelitian yang ditawarkan oleh pemerintah pusat untuk perguruan tinggi dan adanya visi Pemerintah RI Jokowi-JK menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia memberi peluang untuk melaksanakan banyaknya penelitian; D.Dua ancaman utama, yaitu tingkat persaingan di bidang penelitian yang semakin meningkat dan adanya dosen di luar Program Studi Ilmu Kelautan yang memenangkan kompetisi penelitian nasional atau perguruan tinggi di bidang kelautan.  Rekomendasi untuk penelitian lanjutan adalah FPIK Unsrat perlu menetapkan strategi penelitian di bidang ilmu kelautan menggunakan analisis SWOT.
Nematosit Karang Scleractinia, Pocillopora eydouxi Rifai, Husen; Paruntu, Carolus P.; Kusen, Janny D.
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 1, No 3 (2013): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.1.3.2013.2586

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tipe, komposisi, dan dimensi nematosit dari Karang Scleractinia, Pocillopora eydouxi. Pocillopora eydouxi yang digunakan dalam studi ini berasal dari Pantai Malalayang, Manado.  Dua tipe nematosit utama ditemukan pada Pocillopora eydouxi, yaitu holotrichous isorhizas (HI) dan microbasic p-mastigophore (MpM).  Komposisi nematosit memperlihatkan bahwa HI lebih berlimpah dari MpM.  Tipe HI memiliki panjang kapsul 63,38 ± 11,36 µm (mean ± SD) dan lebar kapsul 19,25 ± 4,60 µm (mean ± SD), sedangkan MpM memiliki panjang kapsul 27,05 ± 3,68 µm (mean ± SD), lebar kapsul 7,05 ± 1,88 µm (mean ± SD) dan panjang tangkai 19,59 ± 4,67 µm (mean ± SD).  Hasil studi menyimpulkan bahwa Pocillopora eydouxi memiliki dua tipe nematosit utama, yaitu HI dan MpM, dan mengusulkan untuk diteliti lebih lanjut peranan dari ke dua tipe nematosit tersebut.
Struktur Komunitas Meiofauna Pada Hutan Mangrove Di Pesisir Dusun Kuala Batu Kecamatan Likupang Timur Kabupaten Minahasa Utara Wowor, Nicky M.; Kaligis, Fontje G.; Paruntu, Carolus
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 4, No 1 (2016): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.4.1.2016.11329

Abstract

Meiofauna adalah hewan avertebrata perairan berukuran kecil (63–1000 μm) yang hidup pada habitat hutan mangrove. Belum ada infomasi tentang jenis-jenis, distribusi dan keanekaragaman spesis meiofauna pada hutan mangrove di pesisir Dusun Kuala Batu. Penelitian ini bertujuan untuk; Mengetahui jenis-jenis, distribusi dan keanekaragaman spesies meiofauna pada hutan mangrove  Dusun Kuala Batu. Lokasi penelitian ini berada di wilayah pesisir Dusun Kuala Batu Desa Serawet Kecamatan Likupang Timur Kabupaten Minahasa Utara. Metode yang digunakan adalah metode survey jelajah dan metode line transek kuadran. Analisis data dengan menggunakan rumus indeks Morisita. Hasil penelitian diperoleh 7 jenis meiofauna, yaitu: Ligia vitiensis, Famili ligiidae Sacculina, Famili sacculinidae Eunice fucata, Famili eunicidae unidedentified species, Famili Thalestridae, Ocypode Cordimana, Famili ocypodidae, Perisesarma guttatum, Famili sesafunidae dan Harpacticoida, Famili Porcelidiidae. Indeks keanekaragaman spesis tertinggi didapati pada Eunice fucata, Famili Eunicidae sedangkan yang terendah didapat pada Harpacticoida, Famili Porcelidiidae. Meiofauna yang ditemukan antar stasiun cenderung sama sedangkan meiofauna yang ditemukan pada stasiun pertama lebih banyak dari pada stasiun lainnya. Secara ilmiah, hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya ekologi meiofauna.
Co-Authors Agung B. Windarto, Agung B. Agung Windarto Angmalisang, Ping Astony Antonius Rumengan Ari B. Rondonuwu Arie Dp. Mirah Arnol R. Rau Baring, Vira Billy Theodorus Wagey Calvyn F. A. Sondak, Calvyn F. A. Darus S. Paransa Defny S. Wewengkang, Defny S. Deiske Adeliene Sumilat, Deiske Adeliene Deyne Rondonuwu Edwin D Ngangi Ellen J. Kumaat Farnis B. Boneka Fernando Gultom, Fernando Fitje Losung Fontje G. Kaligis Ginting, Elvy Like Hanny Tioho Hendra Patrich Hengky J. Sinjal, Hengky J. Henki Rotinsulu, Henki Husen Rifai Indri Manembu Inneke F. M Rumengan J. E. M. Soputan Janny D Kusen Janny D. Kusen Jeremias R. Tuhumena Johan Tumiwa Johnny Budiman Joice R.T.S.L Rimper Joshian N.W. Schaduw Kamuntuan, Reffando Alfaro Fabio Fabien Kaparang Erens Lenak, Maria Magdalena Lintang, Rosita Anggreiny J Losung, Agung Luturkey, Maureen Fenesya Mahmud, Maudy Rusmini Mamesah, Movrie Mangindaan, Remy Medy Ompi Mokoginta, Junio Marzuki Pratama Natalie D Rumampuk Nicky M. Wowor, Nicky M. Nofrita Souw, Nofrita Ockstan J. Kalesaran Oli, Aris Putra Paransa, Darus Sa'adah Johanis Paulus Kindangen Pemmy Tumewu Podung, Thania Theresia Rizald Max Rompas, Rizald Max Robert A. Bara Roeroe, Kakaskasen Andreas Rondonuwu, Arie B. Roring, Jordan Iglesias Royke M. Rampengan Rumampuk, Natalie Detty C. Rumengan, Antonius Petrus Ruru, Ricky Andreas Sambali, Hariyani Sammy N. J. Longdong Sandra Tilaar Stenly Wullur Stephanus V Mandagi Sumilat, Deiske Adeleine Sumual, Sarah S. Suria Darwisito, Suria Tambunan, Rose Agustin Tommy D. Sondakh Veibe Warouw Yogo Pamungkas, Yogo Yuses Bahagia, Yuses