Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Empiricism Journal

Pemanfaatan Kayu Rajumas, Sengon dan Bambu Petung Sebagai Produk Papan Laminasi Wulandari, Febriana Tri; Lestari, Dini
Empiricism Journal Vol. 5 No. 1: June 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/ej.v5i1.1822

Abstract

Salah satu alternatif peningkatan nilai tambah kayu sengon dan rajumas dengan mengkombinasikan dengan bambu petung menjadi bentuk papan papan laminasi sebagai subtitusi material struktural. Bambu petung dapat dibuat papan laminasi karena memiliki dinding batang tebal (10 mm-30 mm), dinding batang yang tebal akan menghemat penggunaan perekat. Papan laminasi merupakan suatu produk yang dibentuk dari lamina-lamina kayu yang disatukan dengan perekat dengan proses pengempaan menjadi papan yang ukurannya bisa diatur sesuai keperluan. Kelebihan produk papan laminasi yaitu cacat kayu dapat dihilangkan, memiliki nilai estetika yang baik serta mudah dalam perawatannya. Persayaratan kayu untuk untuk penggunaan structural membutuhkan kekuatan yang tinggi dan memiliki dimensi yang besar.  Teknologi papan laminasi memungkinkan kayu dengan sifat inferior dikonversi menjadi produk structural.  Tujuan dari penelitian ini untuk melihat pengaruh berat labur, jenis kombinasi kayu dan non kayu serta interaksinya terhadap sifat fisika dan mekanika papan laminas serta menentukan kelas kuat papan laminasi berdasarkan sifat fisika dan mekanikanya. Berdasarkan hasil pengujian sifat fisika (kerapatan, pengembangan tebal dan penyusutan tebal) papan laminasi tidak berpengaruh nyata terhadap berat labur, jenis kombinasi dan interaksinya kecuali pada pengujian kadar air berpengaruh nyata.  Pengujian sifat mekanika (MoE dan MoR) berpengaruh nyata terhadap berat labur, jenis kombinasi dan interaksinya.  Sifat fisika papan laminasi kombinasi kayu rajumas bambu petung dan sengon bambu petung sudah sesuai standar JAS 234-2007 namun pada pengujian sifat mekanika belum memenuhi standar.  Berdasarkan hasil pengujian sifat fisika dan mekanika maka masuk dalam kelas kuat III yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi ringan dengan pemakaian didalam ruangan. Utilization of Rajumas, Sengon and Petung Bamboo as Laminated Board Products Abstract One alternative to increase the added value of sengon and rajumas wood by combining with petung bamboo into a form of laminated board as a substitute for structural materials. Petung bamboo can be made into a laminated board because it has a thick stem wall (10 mm-30 mm), a thick stem wall will save the use of adhesive. Laminated board is a product formed from wood laminae that are joined together with adhesive by the process of forging into a board whose size can be adjusted as needed. The advantages of laminated board products are that wood defects can be eliminated, have good aesthetic value and are easy to maintain. Wood requirements for structural use require high strength and large dimensions.  Laminated board technology allows wood with inferior properties to be converted into structural products. The purpose of this research is to see the effect of labor weight, type of wood and non-wood combination and their interaction on the physical and mechanical properties of laminated boards and determine the strength class of laminated boards based on their physical and mechanical properties. Based on the results of testing the physical properties (density, thickness development and thickness shrinkage) of laminated boards have no significant effect on the weight of the lumber, the type of combination and its interaction except in testing the water content has a real effect. Testing of mechanical properties (MoE and MoR) has a significant effect on the weight of labur, the type of combination and its interaction. The physical characteristics of the laminated board combination of rajumas bamboo petung and sengon bamboo petung wood are in accordance with the JAS 234-2007 standard, but the mechanical properties test has not met the standard.  Based on the results of testing the physical and mechanical properties, it is included in strength class III which can be utilized as a lightweight construction material with indoor use.
Pengaruh Waktu Pembakaran Terhadap Karakteristik Asap Cair dari Serbuk Kayu Mahoni (Swietenia mahagoni Jacq) Surya Aditya, I Gusti Ngurah Agung; Febriana Tri Wulandari; Dini Lestari; Aditya, I Gusti Ngurah Agung Surya; Wulandari, Febriana Tri; Lestari, Dini
Empiricism Journal Vol. 6 No. 4: December 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/y6nsjf40

Abstract

Limbah serbuk kayu dari industri penggergajian merupakan sumber biomassa yang melimpah namun kurang dimanfaatkan secara optimal. Salah satu potensi pemanfaatannya adalah sebagai bahan baku pembuatan asap cair melalui proses pirolisis. Studi pirolisis untuk biomassa kayu telah banyak dilakukan, namun kajian waktu optimal pembakaran serbuk mahoni untuk memproduksi asap cair sesuai SNI 8985:2021 masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi waktu pembakaran terhadap rendemen, karakteristik, dan mutu asap cair dari serbuk kayu mahoni (Swietenia mahagoni Jacq). Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan desain Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial, melibatkan 3 perlakuan waktu (30, 60, dan 90 menit) dengan 3 kali ulangan. Karakteristik asap cair yang diuji antara lain rendemen, kadar asam asetat, dan kadar fenol. Cara pengujian asam asetat dan kadar fenol dilakukan sesuai dengan SNI 8985:202. Analisis data dilakukan menggunakan uji ANOVA satu arah untuk data parametrik dan uji Kruskal-Wallis untuk data non-parametrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi waktu pembakaran memberikan pengaruh yang signifikan terhadap rendemen dan kadar asam asetat, namun tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kadar fenol. Meskipun demikian, kadar fenol tertinggi tercatat pada perlakuan waktu 90 menit sebesar 3,36%. Kadar asam asetat cenderung meningkat seiring bertambahnya durasi pembakaran, namun masih berada dalam batas mutu 2 yang ditetapkan oleh SNI 8985:2021. Dengan demikian, waktu pirolisis selama 90 menit pada suhu 300°C dinilai sebagai perlakuan paling optimal dalam menghasilkan asap cair berkualitas dari serbuk kayu mahoni. Asap cair mutu 2 dapat dimanfaatkan sebagai pengawet dan desinfektan, sedangkan asap cair yang tidak memenuhi SNI 8985:2021 tetap berpotensi digunakan sebagai pengawet alami kayu. The Effect of Combustion Time on the Characteristics of Liquid Smoke from Mahogany Wood Powder (Swietenia mahagoni Jacq)   Abstract Wood sawdust waste from the sawmill industry is an abundant source of biomass that is underutilized. One potential use is as a raw material for producing liquid smoke through pyrolysis. Pyrolysis studies on wood biomass have been conducted extensively, but research on the optimal combustion time for mahogany sawdust to produce liquid smoke in accordance with SNI 8985:2021 is still limited.This study aims to determine the effect of combustion time variation on the yield, characteristics, and quality of liquid smoke from mahogany sawdust (Swietenia mahagoni Jacq). The study used an experimental method with a non-factorial Complete Randomized Design (CRD), involving 3 combustion time treatments (30, 60, and 90 minutes) with 3 replicates. The characteristics of liquid smoke tested included yield, acetic acid content, and phenolic content. The testing of acetic acid and phenolic content was carried out in accordance with SNI 8985:202. Data analysis was performed using a one-way ANOVA test for parametric data and a Kruskal-Wallis test for non-parametric data. The results showed that variations in combustion time had a significant effect on yield and acetic acid content, but did not significantly affect phenolic content. However, the highest phenolic content was recorded in the 90 minutes treatment at 3.36%. Acetic acid levels tend to increase with longer combustion times, but remain within the quality limits 2 set by SNI 8985:2021. Thus, pyrolysis for 90 minutes at 300°C is considered the most optimal treatment for producing high-quality liquid smoke from mahogany wood powder. Grade 2 liquid smoke can be used as a preservative and disinfectant, while liquid smoke that does not meet SNI 8985:2021standards can still be used as a natural wood preservative.
Co-Authors Aditya, I Gusti Ngurah Agung Surya Agus Wartingsih, Agus Aidil Akbar Alawiyah, Nur Anita Fibonacci Anshori, Yoyo Zakaria Ashari, Runi Asprina Br Surbakti, Asprina Br Asri Lestari Astuti, Ima Puji Astutiningtyas, Dewi Nur Laksmi Augustina, Sarah Bangun, Zuriah Rezky Br Chaerani, Nurul Depy Muhamad Pauzy Dewi Anggita, Nadya Dewi Ratnawati Dini Lestari Dwi Sukma Rini Fadilah, Tasya Fanreza, Robie Fauzan Fahrussiam Fauzi, Muhammad Resty Firmansyah, Harits FITRIA, HENI H. Dukalang, Hendra Halimah, Baiq Elok Salsabila Hasrian Rudi Setiawan Hidayati, Maulia Hsb, Mhd. Aziz Alfarisi Huda, Laelatul Istiani, Ratna Ayu Kartina, Ari Lestari, Andi Tri Lestari, Suci Putri Lubis, Muhammad Adly Rahandi Maulana, Muhammad Iqbal Maulana, Sena Miranda, Miranda Muhammad Irham musdi, musdi Nasution, Askur Hamid Nasution, Vikram Taufik Ngasbun Egar Ngatini Ngatini, Ngatini Niechi Valentino Nur , Lutfiyah Nurul Jannah Prasetyo, Andrie Ridzki Prasetyo, Wicaksana Dwi Radjali Amin Raehanayati Raehnayati, Raehnayati Rambe, Jelita Handayani Rattanapun, Supot Rianjanu, Aditya Rima Vera Ningsih Ritonga, Meilinda Rivanka, Weny Rosdiana Rosdiana Rudiyanto, Sigit Saragih, Arif Kusnedi Satria Afigiatan, Arbina Sembiring, David JM Shabrina, Hasyyati Suci Afria Sasty Siregar Sudarso Kaderi Wiryono Sugiyono Sugiyono Sukamto . Sulistiaji, Yudi SUPRIYONO Surya Aditya, I Gusti Ngurah Agung Suwanda, Astri Aulia Syahbana, Ardi Syakhilah, Ade Fahdiya Sylviana Maya Damayanti Tarmizi Taher Urip Tisngati Wahyu Hidayat Wulandari, Febriana Wulandari, Febriana Tri Yovitha Yuliejantiningsih, Yovitha Ziad, Muhammad Thoriq