Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search
Journal : Bandung Conference Series : Medical Science

Grading Tumor Pasien Adenocarcinoma Colorectal di RS Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2015 Farah Faza Aulia; Meike Rachmawati; Amri Junus
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.955

Abstract

Abstract.Colorectal adenocarcinoma is the third most common malignancy case in the world after lung and breast cancer with an incidence of 10.2%. In Asia, the incidence of colorectal adenocarcinoma was 957,896 cases (50.8%) with a very high mortality rate at 461,422 cases (52,4%) in 2018. Colorectal adenocarcinoma ranked third for the most common cancer in Indonesia. The pathological prognostic factors of colorectal adenocarcinoma consist of site, size, degree of penetration, lymph node and distant metastasis, histopathological variants, tumor differentiation grading, and lymphovascular invasion. This study aimed to determine the tumor differentiation grading characteristics of colorectal adenocarcinoma patients at Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung. The method used in this study was a cross-sectional descriptive analysis using medical records of colorectal adenocarcinoma patients obtained from the Department of Pathology Anatomy of Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung. 64 cases that met the inclusion criteria were found. This study showed that the proportion of moderately differentiated tumor cases (54%) was slightly more significant than well-differentiated ones (46%) and there was no patient with poorly differentiated tumor. It may be caused by the most common molecular pathway of colorectal adenocarcinoma being chromosomal instability which tend to have better tumor grading than other pathways. This study has some similarities and differences with the previous studies. In conclusion, most colorectal adenocarcinoma patients have moderately differentiated tumor grading. Abstrak. Adenocarcinoma colorectal merupakan kasus keganasan ketiga terbanyak di dunia setelah kanker paru dan payudara dengan angka kejadian 10,2%. Di Asia, insidensi adenocarcinoma colorectal adalah 957.896 kasus (50,8%) dengan angka kematian yang sangat tinggi yaitu 461.422 kasus (52,4%) pada tahun 2018. Adenocarcinoma colorectal menempati urutan ketiga kanker terbanyak di Indonesia. Faktor prognostik patologis adenocarcinoma colorectal terdiri dari lokasi, ukuran, derajat penetrasi, metastasis kelenjar getah bening, metastasis jauh, varian histopatologi, grading diferensiasi tumor, dan invasi limfovaskular. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran grading diferensiasi tumor pasien adenocarcinoma colorectal di RS Dr. Hasan Sadikin Bandung. Metode penelitian ini adalah analisis deskriptif potong lintang menggunakan rekam medis pasien adenocarcinoma colorectal yang diperoleh dari Bagian Patologi Anatomi RS Dr. Hasan Sadikin Bandung. Pada penelitian ini ditemukan 64 kasus yang memenuhi kriteria inklusi. Studi ini menunjukkan proporsi kasus tumor berdiferensiasi sedang (54%) sedikit lebih besar dibandingkan kasus tumor berdiferensiasi baik (46%) dan tidak ditemukan kasus dengan tumor diferensiasi buruk. Hal ini dapat dipengaruhi oleh jalur molekuler yang sering terjadi pada adenocarcinoma colorectal merupakan ketidakstabilan kromosom (CIN) yang cenderung memiliki derajat diferensiasi tumor yang lebih baik dibanding dengan jalur molekuler lain. Hasil penelitian ini memiliki hasil yang serupa dan berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya. Kesimpulannya, sebagian besar pasien adenocarcinoma colorectal memiliki grading tumor berdiferensiasi sedang.
Scoping Review: Pengaruh Latihan Fisik terhadap Perbaikan Gejala Klinis Osteoarthritis Navira Salsabila Putri; Abdul Hadi Hassan; Meike Rachmawati
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.1438

Abstract

Abstract. Clinical symptoms of OA consist of pain, morning stiffness, joint tenderness, swelling, crepitus, restriction, joint displacement, and bone enlargement. These clinical symptoms affect the quality of life, function, and psychological parameters. OA management consists of pharmacological therapy and non-pharmacological therapy. Non-pharmacological interventions are an inseparable part of OA therapy planning. One of the non-pharmacological therapies is physical exercise. Physical exercise can build muscle strength and endurance, increase flexibility and joint movement, increase aerobic activity, and increase joint mobility in OA. The purpose of this study was to find out what physical exercise can affect the improvement of clinical symptoms of OA. The research was conducted using the Scoping Review method on scientific articles taken from 3 databases, namely PubMed, ScienceDirect, and springer link for analysis, identification, and evaluation. The initial search results consist of 2,910 articles, then the eligible results consist of nine articles. Of the nine articles, three articles provide strength training interventions. Two articles provide a walking exercise intervention. The other four articles provide physical exercise interventions in the form of aquatic exercises, biomechanics-based yoga exercises, internet-based exercises, and home-based non-weight bearing (NWB) quadriceps exercises. The conclusion of this study based on articles that have been reviewed shows that physical exercises that can be given as OA therapy consist of strength training, walking exercises, aquatic exercises, biomechanics-based yoga exercises, and internet-based physical exercises. All of these physical exercises play a role in improving clinical symptoms of knee OA. Abstrak. Gejala klinis OA terdiri dari nyeri, morning stiffness, tenderness pada sendi, swelling, krepitus, retriksi, perpindahan sendi dan pembesaran tulang. Gejala klinis tersebut memiliki efek pada kualitas hidup, fungsi dan parameter psikologi. Manajemen OA terdiri dari terapi farmakologis dan terapi non farmakologis. Intervensi non farmakologi merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam perencanaan terapi OA. Salah satu terapi non farmakologis adalah latihan fisik. Latihan fisik dapat membangun kekuatan dan daya tahan otot, meningkatkan kelenturan dan gerakan sendi, meningkatkan aktivitas aerobik, dan meningkatkan mobilitas sendi pada OA. Tujuan dari penilitian ini adalah untuk mengetahui latihan fisik apa saja yang dapat memengaruhi perbaikan gejala klinis OA. Penilitian dilakukan dengan metode Scoping Review pada artikel ilmiah yang diambil pada 3 database yaitu PubMed, ScienceDirect, dan springer link untuk dilakukan analasis, identifikasi, dan evaluasi. Hasil pencarian awal terdiri dari 2.910 artikel, kemudian hasil yang eligible terdiri dari sembilan artikel. Dari Sembilan artikel, terdapat tiga artikel yang memberikan intervensi latihan kekuatan. Dua artikel memberikan intervensi latihan berjalan. Empat artikel lainnya meberikan intervensi latihan fisik berupa latihan akuatik, latihan yoga berbasis biomekanik, latihan berbasis internet dan latihan home-based non-weigght bearing (NWB) quadriceps. Kesimpulan dari penelitian ini berdasarkan artikel yang telah dikaji menunjukkan bahwa latihan fisik yang dapat diberikan sebagai terapi OA terdiri dari latihan kekuatan, latihan berjalan, latihan akuatik, latihan yoga berbasis biomekanik, dan latih fisik berbasis internet. Semua latihan fisik tersebut berperan dalam perbaikan gejala klinis OA lutut.
Hubungan Frekuensi Sholat Tahajud dengan Penurunan Tekanan Darah Pasien Hipertensi di Pondok Pesantren Al-Islam Beber Cirebon Shofa Nabila Bilqist Komarudin; M. Nurhalim Shahib; Meike Rachmawati
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.1809

Abstract

Abstract. Hypertension is the number one cause of the number of deaths in the world with an incidence of 9.4 million people every year Efforts to overcome hypertension have been carried out, both pharmacological therapy and non-pharmacological therapy such as lifestyle modification, physical activity, and self-meditation activities to overcome stress response. The tahajjud prayer is thought to be one way to lower blood pressure. This study aims to determine the relationship between the frequency of tahajjud prayer with a decrease in blood pressure. This research method is chi square test using questionnaire data distributed to hypertensive patients with monthly employee health reports recorded at the Health Department of Al-Islam Beber Islamic Boarding School Cirebon. In this study, 38 cases were found that met the inclusion criteria. This study showed that the most changes in blood pressure of hypertensive patients who performed tahajjud prayer as an effort to accompany treatment experienced a decrease in blood pressure of 25 people (65.8%). The frequency of the tahajjud prayer which was mostly carried out in patients with the greatest decrease in blood pressure was often and always each as many as 10 people (26.3%). The results of this study have similar and different results to previous studies. The conclusion in this study, the frequency of tahajjud prayer there is a significant relationship with a decrease in blood pressure. Abstrak. Hipertensi merupakan penyebab nomor satu dari jumlah kematian yang ada di dunia dengan angka kejadian 9,4 juta orang tiap tahun Upaya dalam mengatasi hipertensi telah banyak dilakukan baik terapi farmakaolgis hingga terapi non farmakologis seperti modifikasi gaya hidup, aktifitas fisik, serta kegiatan meditasi diri guna mengatasi stress response. Sholat tahajud diduga dapat menjadi salah satu cara untuk menurunkan tekanan darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan frekuensi sholat tahajud dengan penurunan tekanan darah. Metode penelitian ini adalah uji chi square menggunakan data questioner yang disebarkan kepada pasien hipertensi dengan laporan kesehatan bulanan karyawan yang tercatat di Departemen Kesehatan Pondok Pesantren Al-Islam Beber Cirebon. Pada penelitian ini ditemukan 38 kasus yang memenuhi kriteria inklusi. Penelitian ini menunjukkan hasil terbanyak perubahan tekanan darah pasien hipertensi yang melaksanakan sholat tahajud sebagai ikhtiar pendamping pengobatan mengalami penurunan tekanan darah sebanyak 25 orang (65,8%). Frekuensi sholat tahajud yang paling banyak dilaksanakan pada pasien yang terjadi penurunan tekanan darah terbanyak adalah sering dan selalu masing-masing sebanyak 10 orang (26,3%). Hasil penelitian ini memiliki hasil yang serupa dan berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya. Kesimpulan pada penelitian kali ini, frekuensi sholat tahajud terdapat hubungan yang signifikan dengan penurunan tekanan darah.
Analisis Varian Histopatologis dan Lokasi Tumor pada Pasien Adenocarcinoma Colorectal di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2016 Dzikru Rahmah Robbika Az-Zahra; Meike Rachmawati; Tito Gunantara
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.1841

Abstract

Abstract. Colorectal Adenocarcinoma is the third most common type of cancer and the most frequently diagnosed after lung cancer and breast cancer. Colorectal Adenocarcinoma is a malignant tumor of the colon epithelium with genetic mutations. The number of colorectal adenocarcinoma cases in 2020 were 17,368 or around 4.4% of the total cancer cases in Indonesia. This study aims to determine the characteristics of Colorectal Adenocarcinoma patients based on histopathological variants at RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung period of January 1, 2016—December 31, 2016. This research is an analytical observational study with a cross sectional approach. The data used is secondary data in the form of medical record data. The sampling technique used is total sampling. From this study, it was found that Colorectal Adenocarcinoma patients had histopathological variants in the form of Adenocarcinoma NOS (ratio: 0.906, proportion: 90.6%, 95% CI: 0.835; 0.977), Mucinous Adenocarcinoma (ratio: 0.063, proportion: 6.3%, 95% CI: 0.003; 0.123), and Signet Ring Cell Carcinoma (ratio: 0.031, proportion: 3.1%, 95% CI: -0.011; 0.073). Colorectal adenocarcinoma patients in this study had tumors located in the right colon (ratio: 0.344, proportion: 34.4%, 95%CI: 0.288; 0.46) and tumors located in the left colon (ratio: 0.655, proportion: 65.5%, 95% CI 0.54; 0.772). The conclusion of this study is that colorectal adenocarcinoma patients tend to have histopathological variants in the form of adenocarcinoma NOS and have tumors located in the left colon. Abstrak. Adenocarcinoma Colorectal merupakan jenis kanker paling umum ketiga dan paling sering didiagnosis setelah kanker paru-paru dan kanker payudara. Adenocarcinoma Colorectal merupakan tumor epitel ganas usus besar yang mengalami serangkaian mutasi genetik. Jumlah kasus Adenocarcinoma Colorectal di tahun 2020 adalah sebesar 17.368 atau sekitar 4,4% dari total seluruh kasus kanker di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik penderita Adenocarcinoma Colorectal berdasarkan varian histopatologis dan lokasi tumor di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung periode 1 Januari 2016—31 Desember 2016. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan potong lintang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling. Dari penelitian ini diperoleh pasien Adenocarcinoma Colorectal memiliki varian histopatologis berupa Adenocarcinoma NOS (rasio: 0,906, proporsi: 90,6%, 95% CI: 0,835; 0,977), Mucinous Adenocarcinoma (rasio: 0,063, proporsi: 6,3%, 95% CI: 0,003; 0,123), dan Signet Ring Cell Carcinoma (rasio: 0,031, proporsi: 3,1%, 95% CI: -0,011; 0,073). Pasien Adenocarcinoma Colorectal pada penelitian ini memiliki tumor yang berlokasi di kolon kanan (rasio: 0,344, proporsi: 34,4%, 95%CI: 0,288; 0,46) dan tumor yang berlokasi pada kolon kiri (rasio : 0,655, proporsi : 65 ,5%, 95% CI 0,54; 0,772). Kesimpulan dari penelitian ini adalah pasien Adenocarcinoma Colorectal cenderung memiliki varian histopatologis berupa Adenocarcinoma NOS dan memiliki tumor yang berlokasi di kolon bagian kiri.
Karakteristik Klinis dan Histopatologi Pasien Benign Prostatic Hyperplasia di Rumah Sakit Angkatan Udara Dr. M. Salamun Kota Bandung Tahun 2020-2021 Hauradarry Aurella Permadi; Meike Rachmawati; Abdul Hadi Hassan
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6662

Abstract

Abstract. Globally there were 11.26 million cases of Benign Prostatic Hyperplasia in 2019. BPH mostly affects men over 60 years old in Indonesia. BPH is the second most common disease found in urology clinics in Indonesia. The quality of life of BPH patients is disrupted due to persistent irritative and obstructive symptoms. Histopathological picture of hyperplasia of prostate gland cells. The purpose of this study was to assess the clinical and histopathological features of BPH patients at RSAU dr. M. Bandung City. The sampling technique for this study used total sampling using 36 medical records of BPH patients at RSAU dr. M. Salamun Bandung City. This research uses descriptive method. The results of the study from 36 total samples, the clinical picture of 13 people (36.1%) patients experienced intermittent, 20 patients (55.6%) experienced weak flow, 30 people experienced hesitancy, 13 people (36.1%) experienced dysuria , 12 people (33.3%) had BAK that was not light and a further 13 people (36.1%) had nocturia. Histopathology showed that 19 patients (52.8%) had prostatic acini dilatation, 17 patients (47.2%) had prostatic acini hyperplasia, 16 patients (44.4%) had acini lumen containing corpora amylase, 21 patients ( 58.3%) had hyperplastic acini epithelial cells, then 32 people (88.9%) had nuclei within normal limits. The conclusion of this study is to get the most clinical picture of Benign Prostatic Hyperplasia is experiencing a weak bladder flow and hesitancy. The histopathological picture shows that most of the prostatic acini are dilated, the acini epithelial cells are hyperplastic, the nuclei are within normal limits. Abstrak. Secara global terdapat 11.26 juta kasus Benign Prostatic Hyperplasia di tahun 2019. BPH banyak diderita laki-laki lebih dari 60 tahun di Indonesia. BPH termasuk penyakit kedua terbanyak yang ditemukan dalam klinik urologi di Indonesia. Kualitas hidup pasien BPH terganggu akibat gejala iritatif dan obstruktif yang timbul secara terus menerus. Gambaran histopatologi berupa hiperplasia sel-sel kelenjar prostat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai gambaran klinis dan gambaran histopatologi pasien BPH di RSAU dr. M. Kota Bandung.Teknik pengambilan sampel penelitian ini menggunakan total sampling dengan menggunakan 36 data rekam medis pasien BPH di RSAU dr. M. Salamun Kota Bandung. Penelitian ini mengguanakan metode deskriptif . Hasil penelitian dari 36 total sampel, gambaran klinis sebanyak 13 orang (36,1%) pasien mengalami intermittency, 20 pasien (55,6%) mengalami aliran yang lemah, 30 orang mengalami hesistency, 13 orang (36,1%) mengalami disuria, 12 orang (33,3%) mengalami BAK yang tidak lampias dan kemudian 13 orang (36,1%) mengalami nokturia. Gambaran histopatologi menunjukan sebanyak 19 orang (52,8%) pasien mengalami dilatasi acini prostat, 17 pasien (47,2%) mengalami hiperplasia acini prostat, 16 orang (44,4%) terjadi lumen acini yang mengandung corpora amilase, 21 orang (58,3%) terjadi sel-sel epitel acini yang hiperplastis, kemudian 32 orang (88,9%) terjadi inti dalam batas normal. Kesimpulan penelitian ini didapatkan gambaran klinis terbanyak Benign Prostatic Hyperplasia adalah mengalami aliran kemih yang lemah dan hesistency. Gambaran histopatologi menunjukan sebagian besar terjadi dilatasi acini prostat, sel-sel epitel acini yang hyperplastis, inti dalam batas normal. Kata kunci: Benign prostatic hyperplasia, BPH, karakteristik BPH
Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Anggota Persit Paldam Jaya Mengenai Kanker Serviks terhadap Sikap dalam Melakukan Skrining Tes Pap Smear Sabrina Ayu Fitria; Meike Rachmawati; Yanti Daryanti
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6385

Abstract

Abstract. Cervical cancer is a type of malignancies that causes millions of deaths among women. One of the population that has high risk of having cervical cancer is Army Wives Union (PERSIT). The objective of this study is to describe the effects of PERSIT Paldam Jaya’s members’ knowledge level of cervical cancer as regards to their attitude towards pap smear test, knowing that cervical cancer is preventable with several actions of preventions, one of them is pap smear test. This study uses observational analytical approach in its research and cross-sectional as its method of research. There are 128 subjects who participated in this study. Subjects aged 36-45 dominate (48.4%) the data. Meanwhile, the knowledge level of cervical cancer of most of the groups is categorized as bad (67.9%) and the attitude towards pap smear test is positive (98.4%). Statistically, there are no correlation between PERSIT Paldam Jaya members’ knowledge level of cervical cancer towards their attitudes in the implementation of pap smear test p= 0.62 (p>0,05). The conclusion of this study is there is no correlation between PERSIT Paldam Jaya members’ knowledge level of cervical cancer and their attitudes in the implementation of pap smear test as cervical cancer screening. Abstrak. Kanker serviks adalah keganasan yang menyebabkan jutaan kematian di kalangan wanita. Salah satu bagian penduduk yang berisiko tinggi terkena kanker serviks adalah Persatuan Istri Tentara (PERSIT). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai hubungan tingkat pengetahuan anggota PERSIT Paldam Jaya terhadap kanker serviks dengan sikap mereka terhadap tes pap smear, mengetahui bahwa kanker serviks dapat dicegah dengan beberapa tindakan pencegahan, salah satunya adalah pap smear. Penelitian ini menggunakan pendekatan observasional analitik dan potong lintang sebagai metode penelitiannya. Ada 128 subjek yang berpartisipasi dalam penelitian ini. Subjek berusia 36-45 tahun mendominasi (48,4%) data. Sementara itu, tingkat pengetahuan kanker serviks sebagian besar kelompok dikategorikan buruk (67,9%) dan sikap terhadap tes pap smear positif (98,4%). Secara statistik, tidak ada hubungan tingkat pengetahuan anggota PERSIT Paldam Jaya tentang kanker serviks terhadap sikapnya dalam pelaksanaan tes pap smear p= 0,62 (p>0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak ada hubungan tingkat pengetahuan anggota PERSIT Paldam Jaya tentang kanker serviks terhadap sikap mereka dalam pelaksanaan pap smear sebagai skrining kanker serviks.
Karakteristik Kuantitas Konten Seluler Apus Mukosa Bukal Antara Perokok dan Non Perokok Azlia Salsabila Rahadian Putri; Kharisma, Yuktiana; Rachmawati, Meike
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10688

Abstract

Abstract. Cigarettes are a health problem that is the main focus in Indonesia, Indonesia is still in 3rd place with the highest number of smokers in the world. The habit of consuming cigarettes can cause serious problems such as stroke, cancer and coronary heart disease. Long-term exposure to dangerous compounds in cigarettes such as tar, nicotine, bensopyrene can cause dysplasia that occurs in the mucosal epithelium of the oral cavity. This study aims to see differences in the quantity of cellular content of buccal mucosal smears between smokers and non-smokers. This research uses an analytical observational method through an approachcross sectional which was carried out on 20 people in the work environment of Bandung Islamic University. Data were obtained from the results of buccal mucosal swabs stained with dyepap smear(Pap) and observed under a light microscope. Data were analyzed using univariate and bivariate tests and tests were carried outT Independent andmann whitney. This research found that the characteristics of non-smokers were an average age of 46 years, a bachelor's degree, married with a middle income. Characteristics of smokers, the average age is 38 years, high school education, married with low income, Ujit independent get no difference in cell numbers between smokers and non-smokers, testmann whitney shows that there is a difference in the number of lymphocyte cells between the two populations with a P value of 0.009 (<0.05). Smoking does not cause changes in the quantity of cellular content of the buccal mucosa, but smoking can cause chronic inflammation and lead to mutations and malignancy in buccal mucosal cells. Abstrak. Rokok merupakan masalah kesehatan yang menjadi fokus utama di Indonesia, Indonesia masih menempati posisi ke 3 dengan angka perokok tertinggi di dunia. Kebiasaan mengkonsumsi rokok dapat menyebabkan masalah serius seperti stroke, kanker, dan penyakit jantung koroner. Paparan jangka panjang terhadap senyawa berbahaya dalam rokok seperti tar, nikotin, bensopiren dapat menimbulkan displasia yang terjadi pada epitel mukosa rongga mulut. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan kuantitas konten selular apus mukosa bukal antara perokok dan non perokok. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik melalui pendekatan cross sectional yang dilakukan pada 20 orang di lingkungan kerja Universitas Islam Bandung. Data diperoleh dari hasil swab mukosa bukal yang diwarnai oleh pewarna papanicolaou (Pap) dan diamati dibawah mikroskop cahaya. Data dianalisis dengan uji univariat dan bivariat dan dilakukan uji T Independent dan mann whitney. Penelitian ini didapatkan karakteristik non perokok berusia rata rata 46 tahun, berpendidikan S1, sudah menikah dengan penghasilan menengah. Karakteristik perokok rata-rata berusia 38 tahun, berpendidikan SMA, sudah menikah dengan pendapatan rendah, Uji t independent mendapatkan tidak adanya perbedaan jumlah sel antara perokok dan non perokok, uji mann whitney menunjukan adanya perbedaan jumlah sel linfosit antara kedua populasi dengan nilai P sebesar 0.009 (<0.05). Merokok tidak menyebabkan perubahan kuantitas konten selular mukosa bukal, namun merokok dapat menyebabkan inflamasi kronis dan mengarah ke mutasi dan berujung keganasan pada sel mukosa bukal.
Perbandingan Efektivitas Antibakteri Ekstrak Air Kopi Arabika dengan Ekstrak Air Teh Hitam terhadap Kultur Bakteri Methicillin-Resistant Staphylococcus Aureus (MRSA) ATCC© 33591™ Secara Eksperimental in Vitro Rizky Alifian Ramadhan; Hendro Sudjono Yuwono; Meike Rachmawati
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10771

Abstract

Abstract. S. aureus infections often occur in a community or hospital environment and management is still difficult due to the emergence of strains that are resistant to many antibiotics such as Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA). Herbal medicine is an alternative treatment that is often used, including Arabica Coffee (Coffea Arabica) and black tea (Camelia Sinensis). Arabica coffee and black Tea contain polyphenols known as caffeine, chlorogenic acid and catechins. The catechins in black tea, namely epigallocatechin gallate (EGCG) and chlorogenic acid in coffee, have been proven to have antibacterial power against gram-positive bacteria. In gram-positive bacteria, EGCG and chlorogenic acid are able to inhibit the synthesis of the bacterial wall. This research used an experimental in vitro study with the method used by Kirby Bauer disc diffusion with 5 samples, Arabica coffee water extract and black tea water extract in two concentrations, 50% and 100% as treatment, and the antibiotic Vancomycin with a concentration of 100% as a positive control. The research results showed that Arabica coffee water extract had an average zone of inhibition, at a concentration of 100% (14.2 mm) and a concentration of 50% (9.7 mm) with a probability value (p-value) of 0.009 (p≤0, 01), while an inhibition zone was found in black tea water extract at a concentration of 100% (16.2 mm) and a concentration of 50% (11.5 mm) with a probability value (p-value) of 0.009 (p≤0.01) against Methicillin-resistant S. aureus. In conclusion, the inhibitory power of Black Tea water extract is stronger than that of Arabica coffee water extract against Methicillin-resistant Staphylococcus aureus bacteria. Abstrak. Infeksi S. aureus sering terjadi pada suatu komunitas atau lingkungan rumah sakit dan untuk pengelolaannya menjadi sulit karena munculnya strain yang resisten terhadap banyak obat antibiotik seperti Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA). Obat herbal merupakan salah satu pengobatan alternatif yang sering dipergunakan, diantaranya terdapat kopi Arabika (Coffea Arabika) dan teh hitam (Camelia Sinensis). Kopi arabika dan teh hitam memiliki kandungan polifenol yang dikenal sebagai kafein, asam klorogenat dan katekin. Katekin pada teh hitam yaitu epigallocatechin gallat (EGCG) dan asam klorogenat pada kopi terbukti memiliki daya antibakteri terhadap bakteri gram positif. Pada bakteri gram positif EGCG dan asam klorogenat mampu menghambat sintesis dari dinding bakteri. Penelitian ini menggunakan studi eksperimental in vitro dengan metode yang digunakan disc diffusion Kirby Bauer dengan 5 sampel, yakni ekstrak air kopi Arabika dan ekstrak air teh hitam dalam dua konsentrasi yaitu 50% dan 100% sebagai perlakuan, dan antibiotik Vancomycin degan konsentrasi 100% sebagai kontrol positif. Hasil penelitian didapatkan ekstrak air kopi Arabika memiliki rata-rata zona inhibisi yaitu pada konsentrasi 100%, (14,2 mm) dan konsentrasi 50% (9,7 mm) dengan nilai probabilitas (p-value) sebesar 0,009 (p≤0,01), sedangkan ditemukan zona inhibisi pada ekstrak air teh hitam pada konsentrasi 100%, (16,2 mm) dan konsentrasi 50% (11,5 mm) dengan nilai probabilitas (p-value) sebesar 0,009 (p≤0,01) terhadap Methicillin-resistant S. aureus. Kesimpulannya, bahwa daya hambat ekstrak air Teh Hitam lebih kuat dibandingkan dengan ekstrak air kopi Arabika terhadap bakteri Methicillin-resistant Staphylococcus aureus.
Scoping Review: Efektifitas Ekstrak Air Kopi terhadap Pembentukan Zona Hambat pada Kultur Propionibacterium Acnes Andre Akbar Mubarok; Hendro Sudjono Yuwono; Meike Rachmawati
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.12424

Abstract

Abstract. Acne vulgaris is an inflammatory disease that affects various age groups, especially teenagers. Based on the course of the disease, acne vulgaris is a primary inflammatory disease that affects the pilosebaceous unit and one of the causes is Cutibacterium acnes or previously known as Propionibacterium acnes. The prevalence of acne vulgaris in the world ranks 8th in terms of the total prevalence of skin diseases. In Indonesia, the prevalence of this disease is 80-85%, which occurs in adolescence with a peak at the age of 15-18 years. It is felt that the use of antibiotics as main line therapy has side effects that are considered to be detrimental to long-term health, namely resistance. The aim of this research is to analyze and compare the benefits of coffee as an alternative therapy for acne vulgaris. This research uses a Scoping review study to analyze, analyze and publish scientific papers through data sources, Pubmed, SpringerLink, Science Direct, ProQuest, and Garuda that meet the inclusion, exclusion and eligibility criteria using the JBI Critical Appraisal Checklist summarized in the PRISMA diagram. 17,508 articles were generated from 5 data sources, 487 articles met the inclusion criteria and 3 articles met the exclusion and eligibility criteria. The results of 3 articles stated that there were research results showing that the active substances in coffee, especially in the Coffea Canephora (robusta) variety, were effective in inhibiting the growth of Propionibacterium acnes bacteria which is the main etiology of acne vulgaris. The antibacterial ability of coffee has been proven to be quite good, with the level of effectiveness increasing with higher concentrations of coffee extract. These results give a positive impression of the potential use of coffee, especially Robusta, as an antibacterial agent to treat the problem of acne vulgaris. Abstrak. Acne vulgaris merupakan penyakit inflamasi yang dimiliki berbagai kelompok usia terutama remaja. Berdasarkan perjalanan penyakitnya acne Vulgaris merupakan penyakit inflamasi primer yang mempengaruhi unit pilosebaceous dengan salah satu pencetusnya adalah Cutibacterium acnes atau yang sebelumnya disebut sebagai Propionibacterium acnes. Prevalensi acne vulgaris di dunia menempati urutan ke-8 dari total prevalensi penyakit kulit. Di Indonesis prevalensi penyakit ini memiliki jumlah sebesar 80-85%, yang terjadi pada usia remaja dengan puncaknya pada usia 15-18 tahun. Penggunaan antibiotik sebagai terapi lini utama dirasa memiliki efek samping yang dinilai dapat merugikan utuk kesehatan jangka panjang yaitu resistensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis serta membandingkan manfaat kopi sebagai terapi alternatif akne vulgaris. Penelitian ini menggunakan studi Scoping reaview untuk mengidentifikasi, menganalisis dan mengevaluasi tulisan ilmiah melalui sumber data, Pubmed, SpringerLink, Science Direct, ProQuest, dan Garuda yang memenuhi kriteria inklusi, eklusi dan kelayakan menggunakan JBI Critical Appraisal Checklist dirangkum dalam diagram PRISMA. Dihasilkan 16.037 dari 5 sumber data, 479 artikel memenuhi kriteria inklusi dan 3 artikel memenuhi kriteria eklusi dan kelayakan. Hasil 3 artikel menyatakan terdapat hasil Penelitian menunjukkan bahwa zat aktif dalam kopi, terutama pada varietas Coffea Canephora (robusta), efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Propionibacterium acnes yang menjadi etiologi utama acne vulgaris. Kemampuan antibakteri kopi terbukti cukup baik, dengan tingkat efektivitas yang meningkat seiring dengan konsentrasi ekstrak kopi yang lebih tinggi. Hasil ini memberikan implikasi positif terhadap potensi penggunaan kopi, khususnya robusta, sebagai agen antibakteri untuk mengatasi masalah acne vulgaris.
Karakteristik Klinis pada Pasien Limfadenitis Granulomatus Non-Tuberkulosis di RS Muhammadiyah Bandung Fasyah Rizki Putri; Kharisma, Yuktiana; Rachmawati, Meike
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.12531

Abstract

Abstract. Tuberculosis disease caused by the bacterium Mycobacterium tuberculosis is a global health problem with more than 10 million cases reported by the World Health Organization (WHO) throughout the world. Indonesia also has a significant prevalence rate, especially pulmonary TB, which is ranked fourth highest globally. This study aims to gain a comprehensive understanding of the clinical characteristics of non-tuberculous granulomatous lymphadenitis patients at the Muhammadiyah Hospital in Bandung. This research uses a descriptive method, with research time from January-December 2022. The sample for this research is medical record data from patients with non-tuberculous granulomatous lymphadenitis at Muhammadiyah Hospital in Bandung who meet the inclusion criteria using total sampling. The results of this research were 46 people, but only 40 people met the inclusion criteria. This study discusses the clinical characteristics of patients with non-tuberculous granulomatous lymphadenitis. From this research, it can be concluded that the clinical characteristics based on age are 22-31 years, based on gender the majority are women, the most frequent location of the KGB is the right neck and the symptoms that often appear are pain in the lump, fever and shortness of breath. Abstrak. Penyakit tuberkulosis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis merupakan masalah kesehatan global dengan lebih dari 10 juta kasus dilaporkan oleh World Health Organization (WHO) di seluruh dunia. Indonesia juga memiliki tingkat prevalensi yang signifikan, terutama TBC paru yang menduduki peringkat global tertinggi keempat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pemahaman menyeluruh tentang karakteristik klinis pada pasien limfadenitis granulomatus non-tuberkulosis di Rumah Sakit Muhammadiyah Bandung. Penelitian ini menggunakan metode descriptive, dengan waktu penelitian dari Januari-Desember 2022. Sampel penelitian ini adalah data rekam medis pasien limfadenitis granulomatous non tuberkulosis di RS Muhammadiyah Bandung yang memenuhi kriteria inklusi dengan menggunakan total sampling. Hasil penelitian ini didapatkan 46 orang, namun hanya 40 orang yang sesuai dengan kriteria inklusi. Penelitian ini mendiskusikan tentang karakteristik klinis pada pasien limfadenitis granulomatus non-tuberkulosis. Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa karakteristik klinis berdasarkan usia adalah 22-31 tahun, berdasarkan jenis kelamin yang paling banyak yaitu perempuan, letak KGB yang paling sering adalah leher kanan dan gejala yang sering muncul yaitu nyeri pada benjolan, demam, dan sesak nafas.
Co-Authors Abdul Hadi Hassan Abdul Hadi Hassan Abdul Hadi Hassan Abdul Hadi Hassan Adhi Nugraha Afiati Afiati Akbari Ganie, Ratna Alaydrus, Syafika Amri Junus Andre Akbar Mubarok Andriane, Yuke Annisa Rahmah Furqaani Anugrah, Aninditya Putri Aryanti Aryanti Aulia, Yatasya Ayu Prasetia Azlia Salsabila Rahadian Putri Darmawan, Nabilah Yahdiani Darmayanti Dewi, Mira Dyani Dinariansyah, Faradilla Azzahra Dipayana, I Made Dzikru Rahmah Robbika Az-Zahra Dzikru Rahmah Robbika Az-Zahra Ermina Widiyastuti Fajar Awalia Yulianto Faqiekha Jauziyah Al-Faghiyah Farah Faza Aulia Fasyah Rizki Putri Firmansyah, Mochammad Agus Gunantara, Tito Harvi Puspa Wardani Hasanah, Afni Nur Hasrayati Agustina Hauradarry Aurella Permadi Hendro Sudjono Yuwono Herri S. Sastramihardja Ismawati Ismawati Ismawati Ismet Muchtar Nur Joni Tandi, Joni Julia Hartati Keumala Sari, Dina Khusnul Mulya Kautsar Laila, Nazmy Noor M. Nurhalim Shahib Magfira Mani, Suresh Mariyani Melati, Rina Meta Maulida Damayanti Meutia Sari, Liza Mia Kusmiati Mia Kusmiati Muhammad Alief Abdul ‘Aziiz Muhammad Ilham Halim Muhammad, Noorzaid Navira Salsabila Putri Niluh Puspita Dewi, Niluh Puspita Nur Azizah Nuzirwan Acang Raden Anita Indriyanti Raden Ganang Ibnusantosa Radina, Faqih Rahmat, Reyiena Kusumaryani Rahmi, Fadhilat Sabila Ratna Damailia Rizky Alifian Ramadhan Rizky Rizal Alfarysyi Rizky Suganda Prawiradilaga Robian, Rian Sabirin, Muhammad Syah Misuari Sabrina Ayu Fitria Santun Bhekti Rahimah Sari, Ajeng Kartika Shofa Nabila Bilqist Komarudin Siddiq, Tita Barriah Sri Suryanti Taufik Muhammad Fakih Titik Respati Uci Ari Lantika Wardani, Yunira Wida Purbaningsih Widiyastuti, Ermina Winni Maharani wirawan, Wayan Yani Triyani Yanti Daryanti Yuktiana Kharisma Yuliet Yuliet Yuniarti Yuniarti Zidan Zuhdi