Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Widyaparwa

EKSPLORASI FOLKLOR KAMPUNG PITU NGLANGGERAN (KAJIAN SASTRA DENGAN PENDEKATAN PARIWISATA) Dyah Ayu Putri Utami; Ari Kusmiatun
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.804 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i2.794

Abstract

 This study includes a qualitative descriptive study that aims to explore the folklore of Kampung Pitu using a tourism literature approach. This approach focuses on the study of the phenomena of literary works, writers, literary festivals, and folklore that make a real contribution to the development of tourism. The data of this research are in the form of sentences in the folklore that developed in Pitu Village. Data collection techniques using interviews and documentation. Data analysis techniques, namely reduction, presentation, and dra-wing conclusions. The results showed that (1) the folklore in Kampung Pitu consists of the legend of the origin of Kampung Pitu, the myth of Telaga Guyangan, and the myth of Rasulan; (2) each story has an appeal in rules/laws, stories, and rituals; (3) developing folklore has the potential to become a tourist area branding. This branding needs to be supported by the metamorphosis of folklore into theatrical performances, ballet, short films, folklore books, or other narrative forms that can be used as promotions.Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mengeksplorasi cerita rakyat Kampung Pitu menggunakan pendekatan sastra pariwisata. Pendekatan ini memfokuskan kajian pada fenomena karya sastra, sastrawan, festival sastra, dan cerita rakyat yang memberikan sumbangan nyata dalam perkembangan kepariwisataan. Data penelitian ini berupa kalimat dalam cerita rakyat yang berkembang di Kampung Pitu. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data, yaitu reduksi, penyajian, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) cerita rakyat di Kampung Pitu terdiri atas Legenda asal-usul Kampung Pitu, mite Telaga Guyangan, dan mite Rasulan; (2) masing-masing cerita memiliki daya tarik dalam aturan/hukum, cerita, dan ritual; (3) cerita rakyat yang berkembang berpotensi untuk menjadi branding kawasan wisata. Branding ini perlu didukung oleh metamorfosis cerita rakyat menjadi pertunjukkan teater, sendratari, film pendek, buku cerita rakyat, atau bentuk narasi lain yang dapat digunakan sebagai promosi.
KONTRIBUSI PEMAHAMAN LINTAS BUDAYA INDONESIA–TIONGKOK DALAM PEMBELAJARAN BIPA BAGI PEMELAJAR TIONGKOK Kusmiatun, Ari
Widyaparwa Vol 52, No 1 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i1.1369

Abstract

In today’s era, the interest in learning the Indonesian language as a foreign language is increasing, especially among learners from China. This increase can be attributed to the economic, cultural, and tourism relations between Indonesia and China, which have driven the demand for Indonesian language proficiency. In this context, it is important for learners to have cross-cultural understanding to avoid cultural conflicts. Drawing on intercultural theory and second language learning, this study aimed to: (1) identify the similarities and differences between Indonesian and Chinese cultures, (2) describe the contributions of both Indonesian and Chinese cultures in BIPA learning for Chinese learners. This study employed a qualitative descriptive approach. Data of this study were words, phrases, or sentences related to Chinese cultural content. Data sources were obtained from five respondents from China who are continuing their studies at Yogyakarta State University. Data collection techniques were conducted through semi-structured interviews. Data analysis used thematic analysis. The results indicate that the cultural differences and similarities between Indonesia and China can contribute to multicultural teaching materials, cross-cultural classroom management, and cross-cultural teaching strategies in BIPA learning.Di era ini, minat untuk mempelajari bahasa Indonesia sebagai bahasa asing semakin meningkat, terutama pemelajar dari Tiongkok. Peningkatan tersebut dapat dikaitkan dengan hubungan ekonomi, budaya, dan pariwisata antara Indonesia dan Tiongkok yang telah mendorong permintaan akan kemampuan berbahasa Indonesia. Dalam konteks ini, penting bagi pemelajar untuk memiliki pemahaman lintas budaya guna menghindari konflik budaya. Dengan menggunakan teori intercultural dan pembelajaran bahasa kedua, penelitian ini bertujuan untuk (1) menemukan persamaan dan perbedaan budaya Indonesia dengan Tiongkok; (2) mendeskripsikan kontribusi kedua budaya Indonesia dengan Tiongkok sebagai Pembelajaran BIPA bagi pemelajar Tiongkok. Penelitian ini termasuk deskriptif kualitatif. Data berupa kata, frasa, atau kalimat terkait muatan budaya Tiongkok. Sumber data diperoleh dari lima responden dari Tiongkok yang sedang melanjutkan studi di Universitas Negeri Yogyakarta. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur. Analisis data menggunakan analisis tematik. Hasil menunjukkan bahwa perbedaan dan persamaan budaya Indonesia dan Tiongkok dapat memberikan kontribusi meliputi bahan ajar multikultural, pengelolaan pembelajaran kelas lintas budaya, dan strategi pengajaran lintas budaya dalam pembelajaran BIPA.