Claim Missing Document
Check
Articles

Efektivitas Proses Penuntutan Kasus Korupsi oleh Kejaksaan Bidang Intelijen Berdasarkan Perspektif Hukum Pidana Mare, Eli Deden Simare; Manullang, Herlina
AURELIA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol 4, No 1 (2025): January 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/aurelia.v4i1.5837

Abstract

Korupsi merupakan kejahatan yang berdampak luas terhadap pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Kejaksaan, sebagai lembaga penegak hukum, memiliki peran strategis dalam menuntut kasus korupsi, salah satunya melalui bidang intelijen yang bertugas mengumpulkan informasi dan bahan keterangan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan pendekatan konseptual (conceptual approach). Data diperoleh melalui studi kepustakaan dengan menganalisis peraturan perundang-undangan terkait, doktrin hukum, serta putusan pengadilan yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran intelijen kejaksaan dalam proses penuntutan kasus korupsi sangat penting, terutama dalam pengumpulan bukti dan deteksi dini tindak pidana korupsi. Namun, efektivitas penuntutan masih menghadapi kendala dalam aspek regulasi dan koordinasi antarlembaga. Oleh karena itu, diperlukan pembaruan kebijakan serta optimalisasi peran intelijen kejaksaan guna meningkatkan efektivitas pemberantasan korupsi di Indonesia.
Sosialisasi Penanaman Pohon Mangrove di Kawasan Tempat Wisata Pantai Cermin Samah, Eri; Misdawati, Misdawati; Esther, July; Manullang, Herlina; Rinanda, Teja; Ismayani, Ismayani
Journal Liaison Academia and Society Vol 2, No 1 (2022): Maret 2022
Publisher : Lembaga Komunikasi dan Informasi Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1205.598 KB) | DOI: 10.58939/j-las.v2i1.210

Abstract

Terletak sebagai kawasan pesisir di provinsi Sumatera Utara tepatnya di Kabupaten Serdang Bedagai, Pantai Cermin merupakan lokasi yang menarik untuk dijadikan kegiatan pengabdian masyarakat karena lokasi ini menyimpan segenap potensi. Masyarakat bisa mengembangkan potensi wilayahnya dengan melakukan konservasi , salah satunya konservasi mangrove . Hutan mangrove dapat dimanfaatkan sebagai budidaya, sebagai upaya mencegah banjir dan rob, dan juga sebagai tempat konservasi dan tempat wisata. Penanaman pohon mangrove sebagai rehabilitasi pantai dilakukan dengan langsung ditanam di tanah dengan melibatkan segenap pihak. Kolaborasi antara sektor wisata, pemerintah daerah dan masyarakat dalam konservasi mangrove harus diintegrasikan. Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan ekosistem mangrove disamping agar terjaga konservasi mangrove juga akan meningkatan kesejahteraan masyarakat. Kegiatan sosialisasi ini dikhususkan pada penguatan potensi wilayah, dengan sasaran warga di kawasan Pantai Cermin. Tempat kegiatan mengambil lokasi penyelenggaraan di Kawasan Mangrove Pantai Cermin.Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini terbagi dalam 3 kegiatan utama yaitu pemberian materi (workshop), pendampingan kelompok dan sharing antar kelompok.Kata Kunci: Mangrove, wisata, Pantai Cermin
Blockchain and Corporate Criminal Liability: Law Reform and the Technological Revolution in Corporate Accountability Manullang, Herlina; Fernando, Zico Junius; Nur, Asrul Ibrahim
Journal of Law and Legal Reform Vol. 6 No. 3 (2025): July, 2025
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jllr.v6i3.22472

Abstract

The rapid development of blockchain technology is reshaping various dimensions of governance, particularly in strengthening corporate accountability and addressing corporate criminal liability. This paper examines how blockchain, through its inherent features of decentralization, transparency, immutability, and smart contracts, can offer innovative tools to reform legal frameworks governing corporate behavior. These features enable more robust compliance monitoring, secure and tamper-proof evidence handling, and efficient fraud detection mechanisms. By integrating blockchain into corporate governance systems, companies can enhance regulatory compliance and reduce the risks of misconduct. Smart contracts, in particular, allow the automation of enforcement procedures, minimizing human error and corruption while increasing legal predictability. This paper further explores how blockchain facilitates proactive legal oversight and redefines how liability is tracked and enforced within corporate structures. Despite its potential, the adoption of blockchain within legal systems faces several challenges, including regulatory ambiguity, privacy issues, and the necessity for international legal harmonization. To illustrate the real-world application of blockchain in legal reforms, this study presents comparative case analyses from jurisdictions that are at the forefront of blockchain regulation and implementation in corporate governance. Ultimately, this paper argues that blockchain serves not merely as a technological tool but as a catalyst for transforming the philosophy and practice of corporate criminal liability. To realize its full potential, collaborative efforts among legislators, regulators, and private sector actors are essential. The paper concludes with strategic recommendations for incorporating blockchain into corporate criminal law, aiming to enhance transparency, ensure compliance, and strengthen governance frameworks in line with technological progress.
A Discourse on the Legal Implications of Digital Standard Contracts in the Context of Personal Data Protection Debora, Debora; Simamora, Janpatar; Manullang, Herlina; Tambunan, Mika Thensia
Jurnal Pembaharuan Hukum Vol 12, No 1 (2025): Jurnal Pembaharuan Hukum
Publisher : UNISSULA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26532/jph.v12i1.37528

Abstract

This paper examines the legal aspects of the use of standard digital contracts with respect to the protection of users' personal data and the control of their use. This research takes a normative approach. Standard terms are not prohibited, but the inclusion of exculpatory clauses is prohibited under Article 18 of the Consumer Protection Act. Digital practices recognize standard digital contracts related to personal data. Article 20 of the Personal Data Protection Law requires a valid legal basis for the processing of personal data. The legal basis is set out in a digital contract between the personal data controller and the personal data subject. The standard contract must contain all the things required by the Personal Data Protection Act. The personal data subject has the right to obtain information about the clarity of identity, the basis of legal interests, the purpose of requesting and using the personal data and the responsibility of the party requesting the personal data. Supervision of the use of digital standard agreements is carried out by the BPSK and the OJK after the digital standard agreements have been implemented by business entities. This form of supervision is less effective in maintaining the balance of the parties.
ANALISIS PUTUSAN HAKIM TERHADAP TINDAK PIDANA KORUPSI YANG DILAKUKAN DENGAN BERBARENGAN (Studi Putusan Nomor: 5/Pid.Sus-TPK/2021/PN.Mdn) Siahaan, Eko; Manullang, Herlina; July Esther
Nommensen Journal of Legal Opinion Vol. 5 No. 1 Januari 2024
Publisher : Magister Hukum Universitas HKBP Nommensen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51622/njlo.v5i1.878

Abstract

Corruptions is a part of an unreliable moral attitude even reproached. Corruptions in a broad sense is not just in the form of misappropriating public money or state wealth, including corruptions loyalty. Loyalty to his family, wife, children, department and people of his electorate. Corruption by the regional head, for example, means not only making losses to the country so enriching it self but also directly affecting the distrust of its electorate population. The necessity of checking permits for regional officials, especially the head of the area suspected of being involved in corruptions is in fact a bizarre subject for investigators, so it is an obstacle for the prosecution and the Corruption Eradication Commission (CEC). The existence of the permit was actually narrowed down to the prosecution’s motion and the CEC investigated corruptions allegations.
PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PELAKU MENGHIMPUN DANA DARI MASYARAKAT DALAM BENTUK SIMPANAN TANPA IZIN USAHA DARI PEMIMPIN BANK INDONESIA (Studi Putusan Nomor 2896/K/Pid.Sus/2022/PN Tng) Br.Ginting, Vini Keysa Florentina Br.Ginting; July Esther; Herlina Manullang
Nommensen Journal of Legal Opinion Vol. 5 No. 2 Juli 2024
Publisher : Magister Hukum Universitas HKBP Nommensen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51622/njlo.v5i2.2363

Abstract

The explanation of Article 16 of the Banking Law is that anyone who carries out activities to collect funds from the public is basically an activity that needs to be monitored. This is in line with the many establishments of banks or cooperatives that do not have official permits from Bank Indonesia. This is a criminal charge for the implementation of the scope of business licensing in Indonesia which in Article 46 paragraph (1) of the Banking Law has been explained. Such as the case of decision No. 2896/K/Pid.Sus/2022/PN Tng. This research uses normative juridical research methods. By qualitatively processing primary legal and secondary legal materials. The formulation of the problem that the author raises, namely What is the form of legal protection for victims that can be provided due to collecting funds in the form of deposits without permission according to positive law and What is the basis for judges' considerations in imposing criminal penalties against perpetrators who collect funds from the public in the form of deposits without a business license from the Chairman of Bank Indonesia. The results of the study concluded that the defendant's actions violated the provisions of positive law in Indonesia related to banking and business licensing in line with the judge's consideration to try and decide the defendant's sentence both in Juridical and Non-Juridical terms.
Kewenangan Kejaksaan dalam Penghentian Penuntutan Tindak Pidana Korupsi Berdasarkan Asas Oportunitas Laiya, Murni Hati; Manullang, Herlina
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji kewenangan kejaksaan dalam menghentikan perkara tindak pidana korupsi berdasarkan asas oportunitas. Yang dimana asas oportunitas itu memberi diskresi kepada jaksa agung untuk mengesampingkan perkara yang delik nya sudah terpenuhi dan diberhentikan dengan alasan demi kepentingan umum. Namun, pada penerapannya terhadap kasus korupsi menimbulkan perdebatan mengingat sifat extraordinary crime dari tindak pidana tersebut, yang mana di indonesia mengenal istilah zero tolerance terhadap tindak pidana korupsi yang berarti tidak ada toleransi atau kompromi sama sekali terhadap segala bentuk tindakan korupsi, tanpa memandang besar kecilnya pelanggaran atau siapa pelakunya. Melalui metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual, penelitian ini menganalisis dasar hukum, batasan, dan implikasi dari kewenangan tersebut. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun asas oportunitas diakui dalam sistem hukum indonesia terkhusus nya merujuk pada pasal 35 huruf c undang-undang nomor 16 tahun 2004 tentang kejaksaan, yang menjelaskan bahwa jaksa agung dapat menerapkan asas ini untuk memberhentikan penuntutan perkara tertentu, termasuk korupsi, dengan pertimbangan kepentingan umum. Namun penerapannya dalam kasus korupsi sangat jarang, karena korupsi dianggap sebagai extraordinary crime (kejahatan luar biasa) yang berdampak besar terhadap masyarakat dan negara. Selain itu, penghentian perkara korupsi menggunakan asas oportunitas sering kali dipandang negatif boleh masyarakat karena dikhawatirkan bisa membuka ruang bagi penyalahgunaan wewenang.
Peran Intelijen Kejaksaan dalam Menemukan Terpidana Korupsi yang Masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) Laia, Wilda Hilda Riska; Manullang, Herlina
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Korupsi adalah kejahatan serius yang merugikan negara dan mempengaruhi stabilitas sosial dan ekonomi. Kejaksaan, sebagai lembaga penegak hukum, memiliki peran penting dalam memberantas kejahatan ini, termasuk upaya pencarian dan penangkapan terpidana korupsi yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menganalisis peran intelijen kejaksaan dalam proses penelusuran dan penangkapan pelaku korupsi yang buron. Penelitian ini menyimpulkan bahwa efektivitas pelacakan dan penangkapan terpidana korupsi DPO sangat bergantung pada penerapan peraturan yang jelas dan koordinasi yang baik antar instansi. Oleh karena itu, optimalisasi peran intelijen Kejaksaan dan penguatan kerjasama lintas-lembaga sangat diperlukan. Namun, proses ini menghadapi berbagai tantangan, seperti kendala teknis, keterbatasan sumber daya, serta kebutuhan akan peningkatan koordinasi lintas lembaga. Rekomendasi penelitian ini meliputi peningkatan kapasitas intelijen kejaksaan melalui pelatihan, optimalisasi teknologi, serta penguatan kerja sama dengan lembaga penegak hukum lainnya dalam rangka meningkatkan efektivitas pelacakan dan penangkapan DPO korupsi.
Penerapan Prinsip Restorative Justice dalam Tindak Pidana Ringan Pada Tingkat Kejaksaan sebagai Upaya Mencapai Keadilan Gulo, Samuel; Manullang, Herlina
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penerapan prinsip Restorative Justice dalam tindak pidana ringan di tingkat kejaksaan sebagai upaya mencapai keadilan semakin relevan untuk menjawab tantangan sistem peradilan pidana yang bersifat retributif dan seringkali tidak memadai dalam menyelesaikan kasus-kasus ringan secara adil dan manusiawi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan prinsip Restorative Justice dalam tindak pidana ringan di tingkat kejaksaan dan sejauh mana pendekatan ini dapat menciptakan keadilan yang lebih efektif dan merata. Berdasarkan pendekatan yuridis normatif, hasil penelitian menunjukkan bahwa Kejaksaan Republik Indonesia telah mengimplementasikan Restorative Justice melalui Peraturan Kejaksaan Agung No. 15 Tahun 2020 yang memberikan wewenang kepada jaksa untuk menghentikan penuntutan dalam perkara tertentu dengan tujuan untuk mendamaikan pelaku dan korban.
Legal Analysis of Crimes Committed Through Shell Companies and The Role of Prosecutors in Combating Such Crimes Hutabarat, Dwi Natalia Martama; Manullang, Herlina
Golden Ratio of Data in Summary Vol. 5 No. 1 (2025): November - January
Publisher : Manunggal Halim Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52970/grdis.v5i1.824

Abstract

This paper aims to analyze the legal aspects related to crimes or violations committed by forming shell companies and the role of prosecutors in taking action against crimes committed through shell companies that have the potential to harm the State. Shell companies are often used as a tool to hide assets and commit various illegal acts such as tax evasion, money laundering and manipulation of financial statements. The existence of shell companies is a challenge for law enforcement agencies, especially for prosecutors, who play an important role in the investigation and prosecution process. Using the normative research method, this research analyzes the applicable laws and regulations, especially in Indonesia, and the steps taken by prosecutors in taking action against crimes or violations of the law committed through shell companies. The results of this study show that there is a legal vacuum in the supervision and prosecution of shell companies, which often operate across state jurisdictions, making investigation and prosecution difficult. The role of prosecutors is important to conduct in-depth investigations, collect evidence, and cooperate with other institutions to recover state losses. Therefore, stricter regulations and increased inter-agency coordination are needed to strengthen the role of prosecutors in combating shell company crime.
Co-Authors Abung, Anista Yasinta Adirman Adirman Aditya, Yudika andreas Parulian andreas simanjuntak Antoni Arapenta Sembiring Arismani August Silaen Aventif Harapan Hulu Ayu Lestari Tambunan Batubara, Falan Besty Habeahan Binsar Manogu Tua Br.Ginting, Vini Keysa Florentina Br.Ginting daniel sinurat Debora Debora Debora Debora, Debora Enriko, Yoseph Vitaliano Demelo Erita Wage Wati Sitohang Erita Wagewati Sitohang Erni Juniria Harefa Erwin Sinaga Esther, July Fajar sitorus Fernando, Zico Junius Gebi Vani Habeahan Gulo, Samuel Habeahan, Besty Harefa, Agusman Rudin Martin Harry Julius Pratama Manalu Hisar Siregar Hottua Pakpahan Hutabarat, Dwi Natalia Martama Idarniman Nduru Ismayani Ismayani Janpatar Simamora Janpatar Simamora Jekson Kipli Lumban Toruan Jinner Sidauruk Johan Silalahi junerlin manalu Jusnizar JUSNIZAR SINAGA Kartina Pakpahan Kasman Siburian Laia, Wilda Hilda Riska Laiya, Murni Hati Lusi, Maria Icinita magerbang silaban Mare, Eli Deden Simare Marthin Simangungsong Martono Anggusti Misdawati, Misdawati Misefa Harefa Nainggolan, Yedija Martua Nanang Nduru, Idarniman Nikolas F Sagala Nur, Asrul Ibrahim Ojak Nainggolan Olga Indah Suci Paidi Hidayat Panjaitan, Octasya Pondang Hasibuan Purba, Daniel Christopel Raja Luhut Gandamana Ranap Sitanggang raymon dart Pakpahan Roida Nababan Sagala, Hasiholan Sahat Benny Risman Girsang Samah, Eri Siagian, Nalom Siahaan, Eko Sibarani, Andrew Sihombing, Sherly Marlina Sihotang, Lesson Silalahi, Keisha Anakku Putri Simamora, Afric Simamora, Feri Sanro simanjuntak, Chintya Louisa Simanullang, Witriana Siringoringo, Ruhut Sitinjak, Tracy Abeliana Sumangat Salomo Sidauruk Sumangat Sidauruk Tambunan, Mika Thensia Teja Rinanda Tulus R.G Purba Willem Cahyadi Halawa yogi parsaoran sitompul