Claim Missing Document
Check
Articles

KUALITAS TEACHER-STUDENT RELATIONSHIP SEBAGAI PREDIKTOR KOMUNIKASI INTERPERSONAL (STUDI PESERTA PELATIHAN PRAMUNIAGA RITEL): (Studi Peserta Pelatihan Pramuniaga Ritel) Taruman, Evangel Chloe; Y. S. Suyasa, P. Tommy
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v8i2.27919.2024

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran kualitas Teacher-Student Relationship (TSR) dalam memprediksi kompetensi komunikasi interpersonal. Kualitas TSR adalah kedekatan hubungan antara pengajar (tenaga pelatih) dan pelajar (peserta pelatihan) yang diindikasikan oleh receptiveness, trust, responsiveness, respect, appreciation, commitment, dan closeness. Sedangkan kompetensi komunikasi interpersonal adalah persepsi individu terhadap kemampuannya dalam mengelola hubungan interpersonal atau dalam berkomunikasi. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 86 orang yang merupakan para pramuniaga ritel yang telah menyelesaikan pelatihan berbasis kompetensi (PBK). Partisipan terdiri dari 31 laki-laki dan 55 perempuan, dengan rentang usia 19 s.d 38 tahun. Pramuniaga ritel merupakan karyawan yang bekerja di sebuah perusahaan atau toko ritel dengan tugas melayani konsumen. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teacher-Student Quality Relationship Questionnaire (TSRQ-Q) dan International Association of Business Communicators - Communication Skill Assessment Tool (IABC-CSAT). Berdasarkan analisis Spearman Correlation dinyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara kualitas TSR (Md = 6.11; Mo = 6.58) dan kompetensi komunikasi interpersonal (Md = 6.14; Mo = 6.00), rs (84) = 0.764, p < 0.01. Semakin tinggi kualitas TSR (kualitas hubungan antara peserta pelatihan dengan para tenaga pelatih), maka semakin tinggi ICC (tingkat kemampuan/keterampilan dalam komunikasi dengan orang lain). Hasil penelitian ini bermanfaat bagi para pengelola, para tenaga pelatih, dan para peserta pelatihan untuk memperhatikan pentingnya kualitas-hubungan baik antara tenaga pelatih dengan pramuniaga ritel (peserta pelatihan), dalam usaha peningkatan komunikasi interpersonal.
SELF-EFFICACY SEBAGAI PREDIKTOR KINERJA: DIMENSI APA YANG PALING DIPREDIKSI? Y. S. Suyasa, P. Tommy; Agung, Nicolette Kevin Rose
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v8i2.28012.2024

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendukung usaha peningkatan kinerja yang baik (decent work) sehingga dapat berdampak pada pertumbuhan ekonomi (economic growth). Peneliti menguji peran efikasi diri terhadap peningkatan kinerja karyawan. Efikasi diri adalah keyakinan seorang individu terhadap kapasitasnya untuk bertindak atau melakukan tugas tertentu. Sedangkan, kinerja adalah pola perilaku terkait tugas-tugas yang wajib diselesaikan (task performance), pola perilaku yang mendukung suasana kerja positif (contextual performance), dan minimalisasi perilaku negatif karyawan dalam bekerja (counterproductive work behavior). Penelitian melibatkan 104 partisipan yang terdiri dari 54 laki-laki dan 50 perempuan, yang bekerja di perusahaan konstruksi/pembangunan sarana/prasarana, dengan masa kerja minimal satu tahun. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah General Self-Efficacy Scale dan Individual Work Performance Questionnaire. Berdasarkan pengujian dengan metode Spearman Correlation, didapatkan hasil bahwa efikasi diri memiliki hubungan positif dengan variabel kinerja karyawan, rs(104) = 0.362, p < 0.05. Peran efikasi diri dalam menjelaskan kinerja karyawan adalah sebesar 13,11%. Semakin tinggi tingkat efikasi diri, semakin tinggi tingkat kinerja karyawan. Walaupun diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menguji apakah efikasi diri lebih berperan sebagai penyebab atau berperan sebagai akibat dari kinerja karyawan; namun penelitian ini bermanfaat sebagai dasar bagi manajemen dan bagi karyawan untuk memperhatikan pentingnya efikasi diri terkait dengan kinerja yang optimal.
Psychosocial Experiences of Indonesian Performing Musicians In Building a Sustainable Career Aurelia S. Djuanto; P. Tommy Y. S. Suyasa
Asian Journal of Social and Humanities Vol. 2 No. 4 (2023): Asian Journal of Social and Humanities
Publisher : Pelopor Publikasi Akademika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59888/ajosh.v2i4.224

Abstract

This study explores the challenges and strategies of Indonesian musicians in establishing sustainable careers from psychosocial experiences. The study utilizes Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) on six professional musicians with over ten years of experience. The findings reveal the importance of adaptation, personal growth, maintaining passion, and creativity. The study concludes that happiness, health, and productivity are crucial for career sustainability, emphasizing the interrelation of personal identity, social support, and career dynamics in the music industry. The research highlights the need for musicians to navigate psychosocial challenges effectively to build long-term, fulfilling careers.
Hubungan antara Self - Esteem dengan Dimensi Subjective Well Being (Studi Pada Mahasiswa di Jakarta) Harsoyo, Tania Talitha; Suyasa, P. Tommy Y. S.
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 6 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i6.16690

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara self-esteem dan dimensi subjective well-being (SWB) pada 576 mahasiswa di Jakarta menggunakan metode kuantitatif. SWB mencakup kepuasan hidup, afek positif, dan afek negatif, diukur dengan Satisfaction with Life Scale (SWLS) dan Positive and Negative Affect Schedule (PANAS). Self-esteem diukur menggunakan Rosenberg’s Self-Esteem Scale (RSES). Hasil menunjukkan bahwa self-esteem memiliki hubungan positif signifikan dengan kepuasan hidup (r = 0,382, p < 0,01) dan afek positif (r = 0,263, p < 0,01), serta hubungan negatif signifikan dengan afek negatif (r = -0,123, p < 0,01). Tidak ditemukan perbedaan signifikan pada self-esteem dan SWB berdasarkan jenis kelamin, usia, atau tingkat semester. Temuan ini menekankan pentingnya self-esteem dalam mendukung kesejahteraan mahasiswa, memberikan dasar untuk pengembangan program peningkatan self-esteem guna menghadapi tekanan akademik dan sosial.
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI DUKUNGAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN SUBJEKTIF (Studi Pada Mahasiswa Di Jakarta) Hayfatunisa, Gea; Suyasa, P. Tommy Y. S.
Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 7 No. 3 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.3287/liberosis.v7i3.7164

Abstract

Mahasiswa berada dalam fase kehidupan yang penuh dengan tantangan dan kesulitan. Pada masa ini, mereka dihadapkan pada berbagai tuntutan untuk menentukan sikap, membuat pilihan hidup, serta mengembangkan kemampuan beradaptasi. Adanya bukti dari penelitian-penelitian sebelumnya bahwa mahasiswa yang mengalami kesejahteraan yang buruk disebabkan oleh kurangnya dukungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti lebih dalam mengenai hubungan antara persepsi dukungan sosial dengan kesejahteraan subjektif pada mahasiswa di Jakarta yang berada dalam fase transisi menuju kedewasaan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, dengan melibatkan partisipan berusia 18 - 25 tahun yang dikategorikan sebagai dewasa awal. Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik non-probability sampling dengan metode convenience sampling. Sebanyak 576 partisipan disurvei dengan menggunakan kuesioner yang telah disebarluaskan. Alat ukur yang digunakan terdiri dari Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS), Satisfaction with Life Scale (SWLS), dan Positive Affect and Negative Affect Schedule (PANAS). Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan positif antara persepsi dukungan sosial kesejahteraan subjektif dimensi kepuasan hidup, r(574) = 0.443, p < 0.01; dan afek positif, r(574) = 0.335, p < 0.01. Artinya semakin positif persepsi partisipan terhadap dukungan sosial, semakin baik kesejahteraan subjektif yang dimilikinya. Pada dimensi lain (afek negatif) terdapat hubungan negatif yang signifikan antara persepsi dukungan sosial dan afek negatif, dengan koefisien korelasi sebesar r(574) = -0.236, p < 0.01. Artinya semakin positif persepsi partisipan terhadap dukungan sosial, semakin sedikit emosi negatif yang dirasakan oleh individu. Analisis tambahan dalam penelitian ini juga menemukan bahwa tidak ada perbedaan persepsi dukungan sosial maupun kesejahteraan subjektif berdasarkan jenis kelamin, usia, atau semester studi. Kata Kunci: Dukungan Sosial, Kesejahteraan Subjektif, Mahasiswa
Studi Reliabilitas dan Validitas Alat Ukur Self-Acceptance Scale (SAS) pada Remaja Penyandang Disabilitas Fisik (PDF) di Indonesia Sagunda Nur F, Valentin; Luthfiyah, Sahla Ikhlasul; Ariyanti, Tita Aulia; Rasai Tumcala, Gabi Manuru; Suyasa, P. Tommy Y. S.
JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN DAN ILMU SOSIAL Vol. 6 No. 1 (2024): Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial (Desember 2024 - Januari 2025)
Publisher : Dinasti Review

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jmpis.v6i1.3361

Abstract

Self-acceptance adalah kondisi saat individu bersedia mengakui dan menerima dengan baik kelebihan dan keterbatasan yang dimilikinya. Self-acceptance menjadi salah satu aspek psikologis yang penting bagi individu, khususnya bagi remaja yang berada dalam kondisi disabilitas fisik. Untuk mengidentifikasi self-acceptance dibutuhkan suatu alat ukur. Riset ini bertujuan untuk mendapatkan informasi psikometris alat ukur SAS-PDF (Self-Acceptance Scale pada Remaja Penyandang Disabilitas Fisik). Partisipan riset berjumlah 120, dengan 64 partisipan laki-laki dan 54 partisipan perempuan. Partisipan berusia rata-rata 12-21 tahun (SD = 2.293). Berdasarkan hasil riset, dapat dinyatakan bahwa SAS-PDF memiliki lima informasi psikometris: (a) content validity; (b) internal consistency reliability; (c) norma pengukuran SAS-PDF; (d) criterion validity terhadap rasa belas kasih kepada diri (self-compassion); dan (e) construct validity convergent evidence berdasarkan penghargaan terhadap kondisi tubuh (body appreciation); dan construct validity discriminant evidence berdasarkan ketekunan (grit). Kelima informasi psikometris dapat menjadi dasar SAS-PDF layak digunakan untuk membantu para psikolog dan praktisi tunadaksa dalam melakukan asesmen dan dasar untuk melakukan program peningkatan penerimaan diri remaja yang mengalami disabilitas fisik.
Peran Resiliensi Sebagai Mediator Pada Hubungan Afek Negatif Dan Keterikatan Kerja Angelina, Stephanie; Y.S. Suyasa, P. Tommy
GEMA EKONOMI Vol 12 No 2 (2023): GEMA EKONOMI
Publisher : Fakultas Ekonomi Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55129/https://doi.org/10.55129/.v12i4.2927

Abstract

This research was conducted to see the role of resilience as a mediating variable in negative affect and work engagement. This research used quantitative research method such as non-probability sampling technique with convenience sampling on 110 employees in store division at PT X, which is a retail company. Participants characteristics in this research are having at least one year of service and minimum education of SMA/SMK. The questionnaire was filled out by the research participants by online and contained of three measuring instruments, namely the Utrecht Work Engagement Scale (UWES-9) by Schaufeli et al. (2006) to measure work engagement, the Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC) ) developed by Connor & Davidson (2003) to measure resilience, and 10 negative items from the Positive and Negative Affect Schedule (PANAS) developed by Watson & Clark (1988) to measure negative affect. Data processing was carried out using SPSS version 27.0 and additional program named PROCESS Macro by Hayes (2018) to test the role of mediation. The results showed that negative affect and work engagement had a significant negative relationship (p<0.01). The results of subsequent tests found that resilience acts as a partial mediation in the negative affect relationship and engagement with a significant mediating role with a total effect of -0.377. Thus employee resilience can be a factor affecting work engagement and resilience can also be influenced by employee negative affect
Development of Verbal Creativity Test Based on Creative Industry Sectors Suyasa, P. Tommy Y. S.; Setyawan, Ignatius Roni; Rahaditya, R.; Jessyca, Jessyca; Rae, Olivia Beatrix; Fahditia, Amala
STI Policy and Management Journal Vol 10, No 1 (2025): STI Policy and Management
Publisher : National Research and Innovation Agency, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/STIPM.2025.413

Abstract

TThis study aims to assess the validity and reliability of the verbal creativity test developed in order to identify the creative potential of prospective public relations practitioners who will be tasked with developing and promoting Indonesia’s creative industries. The test developed was named VCT - ICI, which is an abbreviation for Verbal Creativity Test - Indonesian Creative Industries (Tes Kreativitas Verbal - Industri Kreatif Indonesia). This test was structured based on 16 subsectors of Indonesia’s creative industries, which were used as a stimulus in designing test items. The respondents in this study were 201 students majoring in public relations of the faculty of communication sciences from three Indonesia’s universities. Data analysis was carried out to assess the validity and reliability of the verbal creativity test developed. Further analysis produces norms (standard scores) for interpreting the verbal creativity measurement results.
Rediscovering Love: Mengatasi Konflik Pernikahan dengan Memahami Inner Child Mona Lahdji; Riana Sahrani; P. Tommy Y. S. Suyasa
El-Mujtama: Jurnal Pengabdian Masyarakat  Vol. 5 No. 4 (2025): El-Mujtama: Jurnal Pengabdian Masyarakat 
Publisher : Intitut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/elmujtama.v5i4.8674

Abstract

Unresolved marital conflicts often lead to divorce, with childhood trauma or the "inner child" being one of the main underlying causes. The webinar "Rediscovering Love: Overcoming Marital Conflict by Realizing The Inner Child" aimed to provide psychological education to couples to help them recognize and heal their inner child in order to effectively manage marital conflicts. This program integrated three key steps: (1) healing the inner child, (2) managing emotions and negative thought patterns, and (3) developing positive communication skills. Based on pre-test and post-test results, participants showed a significant increase in understanding the impact of childhood trauma on marital conflict, as well as their readiness to apply new communication and emotional management skills. This webinar proved effective in strengthening participants' understanding and skills in addressing marital challenges, while paving the way for healthier and more harmonious relationships.
Work-Life Balance, Job Demands, and Burnout Maghfira, Naya Astri; Suyasa, P. Tommy Y. S.; Budiana, I Made
Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 4 No. 8 (2025): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/locus.v4i8.4195

Abstract

Work-life balance refers to the equilibrium between work and personal life, characterized by company support in resolving family issues, opportunities to pursue hobbies outside of work, and availability of time for family. Job demand is an individual's perception of work-related demands, such as heavy workloads, tight deadlines, and requirements to display specific emotional states (calm, friendly, etc.). Burnout is a condition of stress marked by feelings of emotional exhaustion (easily irritated/angry), depersonalization (indifference toward others' conditions), and a sense of incompetence in completing tasks/work. High job demand tends to increase the likelihood of burnout. This study aims to test the work-life balance model as a resource that can anticipate and prevent job demands from leading to burnout. The participants in this study consisted of 114 employees. The instruments used in the research include the Maslach Burnout Inventory, the Job Demands-Resources Questionnaire, and the Quality of Work-Life Scale. Based on the analysis using Spearman Correlation, the results indicate that work-life balance can predict lower perceptions of job demands. Lower perceptions of job demands can, in turn, predict lower levels of burnout. The findings of this study provide a theoretical model that explains work-life balance as an antecedent that should be promoted to prevent stress, whether in the form of stimulus-based stress (job demand) or response-based stress (burnout).
Co-Authors Agung, Nicolette Kevin Rose Albertha Haga Ciptaningtyas Alexander Abraham Daeng Kuma Amadeus, Felix Amala Fahditia Angelina Alvina Ayuprilani Appulembang, Yeni Anna Ariyanti, Tita Aulia Aurelia S. Djuanto Bonar Hutapea Cecilia Tiara Putri Debora Basaria Dewi, Fransisca I. R. Dian Ardianti Dinah Kartana Djuanto, Aurelia S. Fahditia, Amala Fakkar, Elisabeth Juliarti Felita Oktaviani Felita Oktaviani Felycia Klaviera Mulyana Florencia Irena Florensia Louhenapessy Fransisca I. R. Dewi Fransisca Iriani Dewi Goodman, Wayne K. Hanna Christina Uranus Harsoyo, Tania Talitha Hartanto, Steffi Hayfatunisa, Gea I Made Budiana Ignatius Roni Setyawan Indarji, M Kharis Agung Irkas, Adhwa Umniyyah Danur Ismoro Reza Prima Putra Jap Tji Beng Jaya, Edo S. Jessica Jessica Jessica Jessica Jessyca Jessyca Jessyca, Jessyca Joyce Natalia Setiawan Kevin Djasa Lahdji, Mona Lie, Daniel Lie, Daniel Lilies Nuraini Linda Wati Lukas Juliano Luthfiyah, Sahla Ikhlasul Maghfira, Naya Astri Mar'at, Samsunuwijati Masita, Danny Mirda Sari Ningtyas Dara Pertiwi Mona Lahdji Mulyatri, Lydia Mutiara, Raden Naomi Margaretha Hutahaean* Naomi Soetikno Nurbani, Anna Nurcintame, Nydia Putri Nurul Husna Oktaviani, Felita Puspa Putri Sajuthi Putri, Angiza Ananda Rae, Olivia Beatrix Rahaditya, R. Raja O. Tumanggor Rasai Tumcala, Gabi Manuru Riana Sahrani Riska Umami Lia Sari Rita Markus Idulfilastri Rizki Dwi Prasetya Sagunda Nur F, Valentin Sari, Meylisa Permata Sartika Zumria Sebastiaan Rothmann Sihotang, Fitriana Nursinta Siti Djauharoh Stephanie Angelina Stephanus Arbi Setyastoro Storch, Eric A. Suci Fadhla Hasanah Sugiarto, Winoto Tardy, Giovanni Christine Taruman, Evangel Chloe Theresia Meirosa Purba Ticoalu, Christiana L. Tumanggor, Raja O. Tumanggor, Raja Oloan Vallerie Meijer Venesia, Venesia Wibisono Ghany Fitriadi Wijaya, Erik Yenike Margaret Isak Yuliana Yuliana Yunita Christiana Zamralita Zamralita