Claim Missing Document
Check
Articles

Pelatihan stimulasi ASI dengan media video pemijatan punggung untuk melancarkan produksi ASI Herawati, Vitri Dyah; Indriyati; Sutrisno; Putra, Fajar Alam
Bhakti Sabha Nusantara Vol. 1 No. 2 (2022): Bhakti Sabha Nusantara
Publisher : Sahabat Publikasi Kuu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58439/bsn.v1i2.38

Abstract

Produksi ASI sangat ditentukan oleh ibu dan bayinya, dimana banyak ibu post partum yang mengeluhkan susahnya meningkatkan produksi ASI, dan akhirnya ibu post partum langsung memberikan bayinya susu formula. Pijat punggung ini dilakukan untuk merangsang reflek oksitosin atau let down reflex. Selain untuk merangsang let down reflex manfaat pijat oksitosin adalah memberikan kenyamanan pada ibu, mengurangi bengkak (engorgement), mengurangi sumbatan ASI, merangsang pelepasan hormon oksitosin, mempertahankan produksi ASI ketika ibu dan bayi sakit. Di masa covid 19 ini, ibu post partum juga membutuhkan pelayanan keperawatan seperti pijat punggung untuk memperlancar produksi ASI, namun karena ketakutan para ibu untuk mendatangi fasilitas kesehatan, sehingga kami ingin membuat video pijat punggung untuk memperlancar produksi ASI ibu post partum.
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN ORANG TUA TENTANG PENCEGAHAN CEDERA PADA ANAK USIA TODDLER DI POSYANDU MELATI I KELURAHAN KARANGASEM KOTA SURAKARTA fitriyyah, lu'luul; Herawati, Vitri Dyah; Putra, Fajar Alam
Jurnal Ilmu Keperawatan Indonesia (JIKI) Vol. 17 No. 2 (2024): Jurnal Ilmu Keperawatan Vol 17 No 2 Oktober 2024
Publisher : Universitas Sahid Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cedera sering dijumpai pada anak-anak, biasanya berawal dari rasa keingintahuan anak untuk menelusuri sesuatu dan bereksperimen yang tidak seimbang dengan kemampuan dalam memahami sesuatu atau bereaksi terhadap bahaya. Melihat karakteristik perkembangannya, anak usia toddler lebih beresiko mengalami cedera. Salah satu untuk mencegah terjadinya cedera pada anak adalah memberikan pendidikan kesehatan tentang pencegahan cedera sehingga dapat meningkatkan pengetahuan pada orang tua. Tujuan Untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan orang tua tentang pencegahan cedera pada anak usia toddler di Posyandu Balita Melati I Kelurahan Karangasem Kota Surakarta. Metode Penelitian ini menggunakan quasy eksperiment design dengan rancangan one group pretest posttet design. Sampel penelitian ini adalah orang tua yang memiliki anak usia toddler sebanyak 27 orang. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara total sampling. Analisa data dilakukan dengan uji normalitas data menggunakan shapiro-wilk yang dilanjutkan analisis dengan menggunakan uji statistik parametric dengan paired sample t-test. Hasil rata-rata pengetahuan orang tua sebelum dilakukan pendidikan kesehatan yaitu 12,81 dan rata-rata pengetahuan orang tua sesudah diberikan pendidikan kesehatan yaitu 15,55. Terdapat pengaruh pendidikan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan tentang pencegahan cedera pada anak toddler (p value= 0,000<0,05). Kesimpulan Ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan orang tua tentang pencegahan cedera pada anak usia toddler di Posyandu Balita Melati I Kelurahan Karangasem Kota Surakarta.
HUBUNGAN KUALITAS PELAYANAN KEPERAWATAN DENGAN KEPUASAN KELUARGA PASIEN DI INTALASI GAWAT DARURAT DI RUMAH SAKIT TK III 04.06.04 SLAMET RIYADI SURAKARTA Aldi Setia Fanus_2020, Aldi Setia Fanus_2020; Aryani, Atik; Putra, Fajar Alam
Jurnal Ilmu Keperawatan Indonesia (JIKI) Vol. 18 No. 1 (2025): Vol. 18 No. 1 (2025): Jurnal Ilmu Keperawatan Vol 18 No 1 April 2025
Publisher : Universitas Sahid Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang : Intalasi Gawat Darurat merupakan salah satu pintu utama jalan masuknya pasien, untuk kemudian dilakukan triage dan diberi tindakan pertama. Kualitas pelayanan merupakan tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan yang memuaskan pelanggan diberikan sesuai dengan standar dan etika profesi. Kepuasan pelanggan merupakan aspek yang dipengaruhi oleh kualitas pelayanan saranan kesehatan yang dinilai dalam pelayanan kesehatan. Kepuasan pasien digunakan untuk mengevaluasi mutu palayanan di rumah sakit. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan kepuasan dengan kualitas pelayanan pada keluarga pasien di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit TK III 04.06.04 Slamet Riyadi Surakarta. Metode: Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kolerasi dengan menggunkan desain cross sectional study Pengambilan sampel dilakukan di IGD RS TK III Slamet Riyadi Surakarta dengan jumlah responden 50 responden dengan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan Uji kendall tau alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi dan kuesioner. Hasil: Sebagian besar kualitas pelayanan keperawatan dalam kategori sangat baik memperoleh 30 responden (60%), kepuasan keluarga pasien di dalam kategori sangat puas memperoleh 40 responden (80%). Hasil anlisis bivariat diperoleh nilai P value 0,001<0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan terhadap kualitas pelayanan keperawatan dengan kepuasan keluarga pasien di IGD RS TK III 04.06.04 Slamet Riyadi Surakarta. Simpulan: Terdapat hubungan kualitas pelayanan keperawatan dengan kepuasan keluarga pasien di ruang IGD RS TK III 04.06.04 Slamet Riyadi Surakarta.
Hubungan Frekuensi Konsumsi Kopi Dengan Gejala Gastritis Pada Mahasiswa Sutrisno; Murti, Rizal Indera Permana Bayu; Putra, Fajar Alam
JOURNAL OF Medical Surgical Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): June Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Himpunan Perawat Medikal Bedah Indonesia (HIPMEBI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/msc.v5i1.1297

Abstract

Background: Gastritis is a disorder of the human digestive system. It is a lifelong, serious disease that many people experience. Coffee drinking is a contributing factor to gastritis due to its caffeine content, which can affect stomach acid. Common symptoms of gastritis include abdominal discomfort, bloating, nausea, headaches that interfere with daily activities, vomiting, and burning or stinging pain. Purpose: To determine the relationship between coffee consumption frequency and gastritis symptoms in students at the Faculty of Science, Technology, and Health, Sahid University, Surakarta. Method: This is a descriptive analytical study with a cross-sectional design, with a population of 93 students. A sample size of 56 was used, with a non-probability sampling method. The instruments used were a gastritis symptom questionnaire and a coffee consumption frequency questionnaire. The statistical test used was the Kendall-tau test. Results: The Kendall-tau correlation test showed a relationship between the frequency of coffee consumption and gastritis symptoms. The p-value was 0.002, lower than 0.05, and the r-value was 0.401. Conclusion: There is a correlation between the frequency of coffee consumption in college students and their gastritis symptoms, with a moderate correlation. Keywords: College Students; Frequency of Coffee Consumption; Gastritis Symptoms.   Pendahuluan: Gastritis merupakan salah satu gangguan yang terjadi pada sistem pencernaan manusia. Gastristis menjadi salah satu penyakit sepanjang umur hidup, penyakit cukup serius yang banyak dialami seseorang. Kebiasaan minum kopi menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya gastritis karena kandungan kafein didalamnya yang dapat mempengaruhi asam lambung. Gejala umum yang terjadi pada penderita gastritis adalah rasa tidak nyaman pada perut, perut kembung, mual dan sakit kepala yang menggangu aktivitas sehari – hari, muntah, perih atau sakit seperti terbakar pada perut. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara frekuensi konsumsi minum kopi dengan gejala gastritis pada mahasiswa Fakultas Sains , Teknologi dan Kesehatan  Universitas Sahid Surakarta. Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan  desain studi potong lintang, dengan jumlah populasi 93 mahasiswa. Sampel yang digunakan 56, dengan metode pengambilan sampel menggunakan non-probability sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesiner gejala gastritis dan kuesioner frekuensi konsumsi kopi. Uji ststistik yang digunakan dengan uji Kendall tau Hasil: Hasil uji korelasi kendall tau menunjukan hubungan frekuensi konsumsi kopi dan gejala gastritis didapatkan nilai p sebesar 0.002, lebih rendah dari 0.05, dan nilai r sebesar 0.401. Simpulan: Terdapat korelasi antara frekuensi konsumsi kopi pada  mahasiswa dengan gejala gastritis yang dialami, hubungan pada tingkat sedang. Kata Kunci: Frekuensi Konsumsi Kopi; Gejala Gastritis; Mahasiswa.
Pengaruh edukasi dengan video animasi getar “gempa tanggap dan responsif” terhadap pengetahuan kesiapsiagaan gempa bumi pada siswa Nurfalahi, Salma Cinta; Sutrisno; Putra, Fajar Alam
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i5.1192

Abstract

Background: Indonesia is a country with a high risk of natural disasters, particularly earthquakes and volcanic eruptions, due to its location at the confluence of three active tectonic plates: the Indo-Australian, Eurasian, and Pacific. Earthquakes are among the most destructive disasters in the world. Lack of public knowledge about disaster preparedness, including in schools, is a factor that increases disaster risk. One way to increase students' knowledge about disaster preparedness is through engaging learning media such as animated videos. Purpose: To increase students' knowledge of earthquake preparedness through educational media using animated videos. Method: This activity was conducted on April 17, 2025, at Gentungan 1 State Elementary School (SDN), Mojogedang, Karanganyar Regency. A quantitative approach was used with a pre-experimental research method. The population in this study were 105 students in grades 3, 4, 5, and 6 of SDN 1 Gentungan, Karanganyar. The sample size was 52 respondents. The variable of knowledge of earthquake disaster preparedness. The intervention activity is education on knowledge of earthquake preparedness using animated video media. Results: The average age of respondents was 10.67 years with a standard deviation of 1.08 years, with the majority of respondents aged 9-12 years (15 (28.9%) being under 12 years old. The majority were female (32 (61.5%), and the majority were sixth-grade students (16 (30.7%). The pre-test knowledge level was in the very good category (4 (7.7%), and the post-test knowledge level was in the very good category (22 (42.3%). Conclusion: Educational activities on earthquake disaster preparedness through visual and audio-based learning significantly improved student understanding. Animated video media not only provided information but also presented it in an engaging, simple, and easy-to-understand manner. Keywords: Animated video; Disaster preparedness; Elementary school students; Knowledge Pendahuluan: Indonesia adalah negara dengan risiko bencana alam yang tingggi, terutama gempa bumi dan letusan gunung berapi, keran lokasinya dipertemuan tiga lempeng tektonik aktif yaitu indo-australia, Eurasia. Dan pasifik, Gempa bumi termasuk bencana paling merusak di dunia. Kurangnya pengetahuan kesiapsiagaan masyarakat, termasuk di lingkungan sekolah, dalam menghadapi bencana alam menjadi salah satu faktor yang memperbesar risiko bencana. Salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan siswa tentang kesiapsiagaan bencana adalah melalui media pembelajaran menarik seperti video animasi. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan siswa dalam kesiapsiagaaan terhadap gempa bumi berupa edukasi dengan media video animasi. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 17 April 2025 di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Gentungan 1 Mojogedang Kabupaten Karanganyar. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian pre-ekspremental. Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas 3, 4, 5, dan 6 SDN 1 Gentungan Karanganyar yang berjumlah sebanyak 105 siswa. Sampel yang digunakan 52 responden. Variabel pengetahuan kesiapsiagaan bencana gempa bumi.Kegiatan intervensinya adalah edukasi pengetahuan kesiapsiagaan gempa bumi dengan media video animasi. Hasil: Mendapatkan rata-rata usia responden adalah 10.67 tahun dengan standar deviasi 1.08 tahun dalam rentang usia 9-12 tahun dan sebagian besar usia responden adalah 12 tahun sebanyak 15 (28.9%), Mayoritas jenis kelamin perempuan sebanyak 32 (61.5% dan sebagian besar siswa kelas 6 sebanyak 16 (30.7%). Sedangkan tingkat pengetahuan (pre-test) kategori sangat baik sebanyak 4 (7.7%) dan tingkat pengetahuan (post-test) kategori sangat baik sebanyak 22 (42.3%) Simpulan: Kegiatan edukasi pengetahuan kesiapsiagaan bencana gempa bumi melalui pembelajaraan berbasis visual dan audio mampu meningkatkan pemahaman peserta didik secara signifikan, media video animasi tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga menyajikannya dengan cara yang menarik, sederhana dan mudah untuk diterima.
PENINGKATAN PENGETAHUAN MENGENAI P3K TERHADAP SISWA SD KELAS 5 - 6 DENGAN MEDIA E-BOOKCERITA BERGAMBAR Putra, Fajar Alam; Sutrisno, Sutrisno; Sumarni, Rantiningsih; Prasmagiri, Bintang; Alya, Feriska Dwi
Jurnal Abdi Insani Vol 12 No 8 (2025): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v12i8.2402

Abstract

Clean and healthy living behavior should be instilled from an early age and can begin within the family and school environment. Health education for school-aged children can be facilitated through the School Health Program (UKS). One of the key factors for the success of the UKS program is the presence of First Aid Officers and health-related activities in schools. To establish a proper UKS room and provide trained First Aid Officers who are capable of serving as the first response team for health issues at SD N 01 Bugel. This community service activity was carried out by providing training on basic materials for First Aid Officers to enhance knowledge and skills related to clean and healthy living behaviors, as well as first aid for common health problems among students. The training for First Aid Officers contributed to promoting healthy living behaviors. The trained officers understood the correct procedures for handwashing, appropriate timing, and the importance of using clean running water. Student First Aid Officers were able to comprehend and practice first aid for health problems occurring at school. Providing training to First Aid Officers proved effective in delivering education that led to improved knowledge and a positive change in behavior.
Application of the PRICE Method in Handling Acute Injuries and Trauma Among Karangpandan Volunteers Sutrisno; Vitri Dyah Herawati; Fajar Alam Putra
Dimas: Jurnal Pemikiran Agama untuk Pemberdayaan Vol. 24 No. 2 (2024)
Publisher : LP2M of Institute for Research and Community Services - UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/dms.v24i2.23187

Abstract

Acute injuries or acute trauma often occur as a result of accidents on the road or due to other activities such as exercising or working. Acute injuries require immediate attention to avoid complications and increase the victim's comfort. One method of acute trauma relief is PRICE (protection, rest, ice, compression, elevation). Karangpandan volunteers are a self-dedicated group working independently on their own initiative to help the community. Knowledge and skills in handling injuries are important things that they must master. The implementation method is in the form of training activities on PRICE, demonstrating skills in using the PRICE method in everyday injury management. This activity involved 24 volunteers from Karangpandan Volunteers. The method of assessing knowledge and skills uses a questionnaire and checklist sheet, each containing 10 question/observation items. The results of the activity show an increase in knowledge and skills regarding the use of the PRICE method by volunteers.
Pengaruh teknik proning terhadap dyspnea pada pasien penyakit paru obstruksi kronis (PPOK) Wijaya, Dis Latif; Putra, Fajar Alam; Sutrisno
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i7.1402

Abstract

Background: Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) is a progressive respiratory disorder characterized by persistent airflow limitation and chronic inflammation due to exposure to irritants such as cigarette smoke, air pollution, and industrial substances. As one of the four major non-communicable diseases, the global burden of COPD reached 213.39 million cases in 2021. In Indonesia, the prevalence was 3.7% (≈9.2 million people), with Central Java accounting for 2.1%, or 31,817 patients. Dyspnea is a key symptom requiring intensive monitoring and management. A combination of pharmacological and non-pharmacological therapies, particularly the proning technique, has been shown to effectively improve pulmonary oxygenation and ventilation. At Dr. Soehadi Prijonegoro Regional Hospital in Sragen in January 2025, all 32 COPD patients in the Sakura and Aster lung wards experienced dyspnea, with five experiencing decreased oxygen saturation despite receiving oxygenation, nebulizers, and oral and injectable medications. Purpose: To analyze the effect of the proning technique on dyspnea intensity in COPD patients. Method: A one-group pre-test and post-test pre-experimental method was used on 32 COPD patients at Soehadi Prijonegoro Hospital for one month. Dyspnea was measured using the Borg Scale and respiratory rate observations before and after non-pharmacological intervention. Analysis was performed using the Wilcoxon test. Results: The average age of respondents was 57.66 years with a standard deviation of 12.05 years, ranging from 19 to 68 years. The majority of respondents were aged ≥ 60 years (21 respondents) (65.6%), gender was predominantly male (22 respondents) (68.8%), and the majority of respondents had a junior high school education (16 respondents) (50%). The majority of respondents were farmers (15 respondents) (46.9%), family support was mostly from younger siblings (18 respondents) (56.3%), and the duration of the disease was mostly more than 1 year (20 respondents) (62.5%). While the highest level of dyspnea before the proning technique intervention was in the moderate dyspnea category, namely 21 (65.6%), while after the proning intervention the highest proportion was in the mild dyspnea category, namely 17 (53.1%). The median dyspnea score before the proning technique intervention was 4 and the median dyspnea score after the proning technique intervention was 2. Based on the Wilcoxon test, the p value was <0.001. Conclusion: The application of the prone positioning technique significantly reduced the degree of dyspnea, with a decrease in the proportion of moderate dyspnea from 65.6% to 12.5%, with a p-value <0.001. These findings demonstrate the effectiveness of prone positioning as a non-pharmacological intervention in COPD management. Suggestion: Prone positioning should be routinely integrated into COPD management protocols in primary and referral healthcare facilities. Health education interventions should focus on the elderly, farmers, and patients with low education levels to improve understanding and adherence to self-care. Healthcare providers should involve families as active participants in treatment planning and long-term monitoring. Furthermore, further research with larger sample sizes is recommended to evaluate long-term effects and patient quality of life. Keywords: Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD); Dyspnea;  Proning Technique Pendahuluan: Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) adalah gangguan pernapasan progresif yang ditandai oleh hambatan aliran udara persisten dan inflamasi kronis akibat paparan iritan seperti asap rokok, polusi udara, dan zat industri. Sebagai salah satu dari empat penyakit tidak menular utama, beban global PPOK mencapai 213.39 juta kasus pada 2021, sedangkan di Indonesia prevalensinya 3.7% (≈9.2 juta orang), dengan Jawa Tengah mencatat 2.1% atau 31,817 penderita. Dyspnea merupakan gejala kunci yang memerlukan pemantauan dan pengelolaan intensif, di mana kombinasi terapi farmakologis dan nonfarmakologis khususnya teknik proning, terbukti efektif meningkatkan oksigenasi dan ventilasi paru. Di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen pada Januari 2025, seluruh 32 pasien PPOK di ruang paru Sakura dan Aster mengalami dyspnea, dengan lima di antaranya mengalami penurunan saturasi oksigen meski telah menerima oksigenasi, nebulizer, serta obat oral dan injeksi. Tujuan: Menganalisis pengaruh teknik proning terhadap intensitas dyspnea pada pasien PPOK. Metode: Metode pre-eksperimental one-group pre-test dan post-test digunakan pada 32 pasien PPOK di RS Soehadi Prijonegoro selama satu bulan. Dyspnea diukur dengan Skala Borg dan observasi respiratory rate sebelum dan sesudah intervensi nonfarmakologis. Analisis dilakukan menggunakan uji Wilcoxon. Hasil: Mendapatkan rata-rata usia responden adalah 57.66 tahun dengan standar deviasi 12.05 tahun dalam rentang usia 19-68 tahun dan mayoritas responden berusia ≥ 60 tahun sebanyak 21 responden (65.6%), jenis kelamin responden mayoritas adalah laki-laki sebanyak 22 responden (68.8%), dan tingkat pendidikan mayoritas adalah SMP sebanyak 16 responden (50%), sebagian besar status pekerjaan responden adalah petani sebanyak 15 responden (46.9%), dukungan keluarga paling banyak adik/ kakak sebanyak 18 responden (56.3%), durasi penyakit paling banyak lebih dari 1 tahun sebanyak 20 responden (62.5%). Sedangkan tingkat dyspnea terbanyak sebelum intervensi teknik proning adalah kategori dyspnea sedang yaitu sebanyak 21 (65.6%), sedangkan setelah intervensi proning proporsi terbanyak pada kategori dyspnea ringan yaitu sebanyak 17 (53.1%). Median skor dyspnea sebelum intervensi teknik proning adalah  4 dan median skor dyspnea setelah intervensi teknik proning adalah  2 . Berdasarkan uji Wilcoxon mendapatkan nilai  p < 0.001.  Simpulan: Penerapan teknik prone positioning secara signifikan menurunkan derajat dyspnea, dengan penurunan proporsi dyspnea sedang dari 65.6% menjadi 12.5%, dan p Value < 0.001. Temuan ini menunjukkan efektivitas proning sebagai intervensi nonfarmakologis dalam manajemen PPOK. Saran: Sebaiknya teknik prone positioning diintegrasikan secara rutin dalam protokol penanganan PPOK di fasilitas kesehatan primer dan rujukan. Intervensi edukasi kesehatan perlu difokuskan pada lansia, petani, dan pasien berpendidikan rendah untuk meningkatkan pemahaman dan ketaatan pada perawatan diri. Penyedia layanan kesehatan harus melibatkan keluarga sebagai bagian aktif dalam rencana pengobatan dan pemantauan jangka panjang. Selain itu, penelitian lanjutan dengan sampel lebih besar dianjurkan untuk mengevaluasi efek jangka panjang dan kualitas hidup pasien.  
LEVELS OF PAIN AND INDEPENDENCE OF DAILY ACTIVITIES (ADL) ON OSTEOARTHRITIS PATIENTS Putra, Fajar Alam; widiyono, Widiyono; Aryani, Atik; Setyawan, Agung
INTERNATIONAL JOURNAL OF NURSING AND MIDWIFERY SCIENCE (IJNMS) Vol. 8 No. 2 (2024): VOLUME 8 ISSUE 2 AUGUST 2024
Publisher : Departement Research and Community Engagement Bina Sehat PPNI Institute of Health Science, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29082/IJNMS/2024/Vol8/Iss2/585

Abstract

Patients with osteoarthritis will experience pain and limitation of motion which has an impact on difficulty in performing activities of daily living (ADL). Patients with these conditions also require recovery after total knee replacement surgery to restore normal physical, psychological, social, habitual and daily life activities. This study aims to determine the description of pain levels and independence of activity daily living (ADL). This study uses a descriptive design. The population of this study were all total knee replacement patients, 37 samples were selected using purposive sampling. The results showed that a total of 49.7% experienced severe pain and 84.6% of respondents had activity daily living (ADL) activities that were not independent. Nurses are needed to help improve the health status of ostheoarthritis patients so that the patient's quality of life can be maintained optimally. Avoid diseases that can aggravate and can fulfill daily needs independently. Health agencies need to further improve health promotion regarding the maintenance of independence and efforts to overcome pain levels in ostheoarthritis patients
The Effect of Combined Slow Deep Breathing and Zikr on Family Anxiety in the ICCU of Dr. Soehadi Prijonegoro Regional Hospital, Sragen Animah, Fitri Rat; indriyati; Putra, Fajar Alam
Omni Nursing Journal Vol. 2 No. 3 (2025): August
Publisher : Bantayang Omni Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65277/onj.v2i3.142

Abstract

Background: Based on data from the Medical Records of patients in the ICCU (Intensive Cardiology Care Unit) of dr. Soehadi Prijonegoro Hospital, Sragen, the number of new patients increased from 388 in 2023 to 537 in 2024 (38.4%). The death rate in the ICCU Room from January to December 2024 was 102 people (18.9%). A preliminary survey showed that 7 out of 10 patient families (70%) experienced anxiety symptoms. To date, slow deep breathing and dhikr have not been applied by patient families to reduce anxiety. The combination of dhikr and slow deep breathing is a therapy that can relieve anxiety. Objective: This study aimed to determine the effect of the combination of slow deep breathing and dhikr on anxiety levels in families of patients in the ICCU Room of dr. Soehadi Prijonegoro Hospital, Sragen. Methods: This study used a quantitative approach with a pre-experimental design (one-group pretest–posttest). The sample consisted of 41 families of ICCU patients, selected using a purposive sampling technique. The instrument used was the HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale) questionnaire. Data were analyzed using the Wilcoxon test. Results: The statistical test results showed a significant effect of the combination of slow deep breathing and dhikr on family anxiety levels in the ICCU Room of dr. Soehadi Prijonegoro The combination of slow deep breathing and dhikr effectively reduced anxiety among patient families in the ICCU Room of dr. Soehadi Prijonegoro Hospital, Sragen, and may be considered as a complementary approach in anxiety management.