Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

EDUKASI PEMBUATAN SNACK NUTRASETIKA DAUN KELOR SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KESEHATAN MASYARAKAT DI KELURAHAN SEGALAMIDER KOTA BANDAR LAMPUNG Mahdiyyah, Ade Abiyyatun; Arta, Alfa Frista; Megawati, Selvi; Thursina, Cut Syarifa; Nurkhalika, Rachmi; Feladita, Niken; Wulandari, Shinta
Jurnal Penamas Adi Buana Vol 9 No 02 (2026): Jurnal Penamas Adi Buana
Publisher : LPPM Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36456/penamas.vol9.no02.a10888

Abstract

  Daun kelor (Moringa oleifera L.) kaya metabolit sekunder seperti flavonoid, antosianin, tanin, alkaloid, dan saponin yang berperan sebagai antioksidan, imunomodulator, antikanker, dan antibakteri. Potensi ini menjadikan daun kelor sebagai bahan unggul untuk produk nutrasetika, termasuk inovasi snack sehat yang bergizi, aman, dan memiliki efek terapi. Mitra Mangga Dua, komunitas ibu rumah tangga di Kelurahan Segalamider, Kota Bandar Lampung, masih memiliki pengetahuan terbatas mengenai pemanfaatan daun kelor dan pengolahan pangan fungsional. Pengembangan snack sehat berbahan daun kelor dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pangan bergizi sekaligus mendukung tujuan SDGs ke-3 dan SDGs ke-8. Produk ini juga berpotensi dikembangkan secara berkelanjutan dan memberi nilai tambah ekonomi. Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini bertujuan memberikan edukasi pembuatan snack sehat daun kelor kepada komunitas Mangga Dua. Kegiatan ini diikuti oleh 18 peserta, mencakup penyuluhan, demonstrasi pembuatan produk, serta pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang sangat signifikan, dengan rata-rata nilai pre-test sebesar 30,00% yang meningkat menjadi 96,66% pada post-test. Analisis statistik menunjukkan nilai p = 0.004 (p < 0.05), menandakan adanya perbedaan bermakna sebelum dan sesudah edukasi. Temuan ini menegaskan bahwa edukasi dan demonstrasi efektif meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pemanfaatan daun kelor sebagai pangan fungsional bernilai gizi dan ekonomis
The Duration of Suffering from Diabetes Mellitus did not Correlate with the Occurrence of Cataract Fata, Ulfa Husnul; Wulandari, Shinta; Rahmawati, Anita; Wibisono, Wahyu
Journal of Ners and Midwifery Vol 12 No 1 (2025)
Publisher : STIKes Patria Husada Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26699/jnk.v12i1.ART.p090-097

Abstract

People with diabetes mellitus are five times more likely to develop cataracts. High blood sugar levels over a long period of time can be one of the complications of cataracts. This was a correlational study with the purpose to determine the correlation between the duration of diabetes mellitus and the occurrence of cataracts in patients with diabetes mellitus at the Internal Medicine Polyclinic of Medika Utama Hospital, Blitar. The population in this study was patients with diabetes mellitus who visited the Internal Medicine Polyclinic of Medika Utama Hospital, Blitar. The sample in this study was patients with diabetes mellitus who visited the Internal Medicine Polyclinic of Medika Utama Hospital within a period of 2 weeks, totaling 56 people. The sampling used an accidental sampling technique. The statistical test used was chi-square. The results of this study showed that the p-value was 0.449, which meant that there was no correlation between the duration of diabetes mellitus and the incidence of cataracts. Several actions that can be taken to prevent cataracts are controlling blood glucose levels by obediently taking medication and following a diet. In addition, routine eye checks are useful in preventing cataracts in people with diabetes mellitus.
HUBUNGAN TINGKAT EKONOMI KELUARGA DAN PENGETAHUAN IBU TENTANG STATUS GIZI BALITA DENGAN STATUS GIZI BALITA DI POSYANDU SUBUR KELURAHAN PULAI ANAK AIR WILAYAH KERJA PUSKESMAS NILAM SARI BUKITTINGGI TAHUN 2016 Susanti, Evi; Wulandari, Shinta
Jurnal Kesehatan - STIKes Prima Nusantara Vol 8 No 2 (2017): Jurnal Kesehatan Prima Nusantara Bukittinggi
Publisher : LPPM Universitas Prima Nusantara Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35730/jk.v8i2.336

Abstract

Puberty in our lives usually begins at the age of 8 to 10 years and ending approximately at the age of 15 to 16 years, the onset of puberty in women is characterized by rapid physical growth, menarche, psychological changes and the emergence of secondary sex characteristics. Many factors internal and external factors related to the occurrence of menarche. Internal factors such as the status of maternal menarche (genetic), and external factors such as social, economic, nutrition, exposure to mass media and lifestyle. Thus the purpose of this study was to determine the factors associated with age at menarche VIII grade student MTsN type 1 Bukitinggi 2016. This study used descriptive qualitative approach is too in-depth interviews with 5 participants (students of class VIII). This research was conducted on 2 September 2016. The results of interviews conducted in participants gained five themes in this study are 1) Knowledge of menarche symptoms, 2) Genetic Influence, 3) Nutritional Status, 4) Habits Everyday, 5). Watching Tv activity. Suggestions For the results of this study can be used as reference materials and reference for other researchers associated with the research and increase knowledge and information to the participants about menarche.
Perbandingan Sediaan Cream Body Scrub Serbuk Kopi (Coffea Sp) Dengan Serbuk Beras (Oryza sativa L.) Terhadap Karakteristik Fisik Dan Stabilitas Sediaan Feladita, Niken; Thursina, Cut Syarifa; Arta, Alfa Frista; Wulandari, Shinta; Megawati, Selvi; Nurkhalika, Rachmi
Jurnal Analis Farmasi Vol 11, No 1 (2026): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v11i1.25450

Abstract

Body scrub adalah produk kosmetik semi padat. Biasanya digunakan membantu mengangkat sel kulit mati. Caranya dengan eksfoliasi fisik. Bahan alami untuk eksfoliasi seperti serbuk kopi sering digunakan eksfoliator.  Bahan eksfoliator alami seperti serbuk kopi banyak digunakan dalam formulasi scrub karena memiliki sifat abrasif yang dapat membantu regenerasi sel kulit. Namun, ukuran partikel serbuk kopi yang tidak seragam dapat memengaruhi kehalusan dan kestabilan fisik krim. Serbuk beras Oryza sativa L. ukurannya lebih kecil dan rata. Jadi, bubuk beras bisa dapat pilihan lain untuk eksfoliator. Hal tersebut membuat krim lebih tahan lama. Penelitian ini ditujukan untuk membandingkan sifat fisik dan ketahanan krim body scrub. Krim ini menggunakan serbuk Coffea sp. dan serbuk beras Oryza sativa L. sebagai bahan pengelupas. Konsentrasinya sama yaitu 27,2%. Pengujian fisik yang dilakukan meliputi tampilan, kehalusan, pH, kekentalan, kemudahan menyebar, daya lekat, jenis emulsi, dan stabilitas. Stabilitas diuji menggunakan metode cycling test. Data dianalisis menggunakan uji independent sample t-test dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi yang mengandung serbuk beras memiliki homogenitas yang lebih baik, viskositas lebih tinggi, daya sebar yang lebih luas, serta daya lekat yang lebih lama dibandingkan dengan formulasi yang mengandung serbuk kopi. Kedua formulasi menunjukkan tipe emulsi minyak dalam air (M/A). Uji stabilitas menunjukkan bahwa formulasi dengan serbuk beras tetap stabil tanpa pemisahan fase setelah enam siklus pengujian, sedangkan formulasi dengan serbuk kopi menunjukkan adanya sedimentasi ringan. Analisis statistik menunjukkan perbedaan yang signifikan (p 0,05) pada seluruh parameter pengujian.
Perbandingan Sediaan Cream Body Scrub Serbuk Kopi (Coffea Sp) Dengan Serbuk Beras (Oryza sativa L.) Terhadap Karakteristik Fisik Dan Stabilitas Sediaan Feladita, Niken; Thursina, Cut Syarifa; Arta, Alfa Frista; Wulandari, Shinta; Megawati, Selvi; Nurkhalika, Rachmi
Jurnal Analis Farmasi Vol 11, No 1 (2026): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v11i1.25450

Abstract

Body scrub adalah produk kosmetik semi padat. Biasanya digunakan membantu mengangkat sel kulit mati. Caranya dengan eksfoliasi fisik. Bahan alami untuk eksfoliasi seperti serbuk kopi sering digunakan eksfoliator.  Bahan eksfoliator alami seperti serbuk kopi banyak digunakan dalam formulasi scrub karena memiliki sifat abrasif yang dapat membantu regenerasi sel kulit. Namun, ukuran partikel serbuk kopi yang tidak seragam dapat memengaruhi kehalusan dan kestabilan fisik krim. Serbuk beras Oryza sativa L. ukurannya lebih kecil dan rata. Jadi, bubuk beras bisa dapat pilihan lain untuk eksfoliator. Hal tersebut membuat krim lebih tahan lama. Penelitian ini ditujukan untuk membandingkan sifat fisik dan ketahanan krim body scrub. Krim ini menggunakan serbuk Coffea sp. dan serbuk beras Oryza sativa L. sebagai bahan pengelupas. Konsentrasinya sama yaitu 27,2%. Pengujian fisik yang dilakukan meliputi tampilan, kehalusan, pH, kekentalan, kemudahan menyebar, daya lekat, jenis emulsi, dan stabilitas. Stabilitas diuji menggunakan metode cycling test. Data dianalisis menggunakan uji independent sample t-test dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi yang mengandung serbuk beras memiliki homogenitas yang lebih baik, viskositas lebih tinggi, daya sebar yang lebih luas, serta daya lekat yang lebih lama dibandingkan dengan formulasi yang mengandung serbuk kopi. Kedua formulasi menunjukkan tipe emulsi minyak dalam air (M/A). Uji stabilitas menunjukkan bahwa formulasi dengan serbuk beras tetap stabil tanpa pemisahan fase setelah enam siklus pengujian, sedangkan formulasi dengan serbuk kopi menunjukkan adanya sedimentasi ringan. Analisis statistik menunjukkan perbedaan yang signifikan (p 0,05) pada seluruh parameter pengujian.