Claim Missing Document
Check
Articles

Asal Mula Bahasa Menurut Perspektif Dialektika Hegel: Pendekatan Filsafat Sejarah Chaer, Hasanuddin; Sirulhaq, Ahmad; Sukri, Sukri; Jafar, Syamsinas; Aswandikari, Aswandikari; Efendi, Mahmudi; Ashriany, Ratna Yulida; Khairussibyan, Muh.
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan Vol 7 No 2 (2023): Desember
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/fhs.v7i2.21991

Abstract

This article outlines a view of the origins of language according to Hegel's dialectical perspective. This stems from the author's understanding of Hegel's concept which states that the substance of the mind originates from the spirit. This article explains that history originates from a spirit that introduces itself through thought and intuition. In this context, the activity of speaking has higher value than the written word; and listening activities have higher meaning than reading activities. Therefore, intelligence-linguistics crosses historical and cultural periods, developing from the free movement and power of the mind. Researchers use four stages of the historical method, namely heuristics, verification, interpretation and historiography. This article uses Hegel's dialectical theory with a historical philosophy approach. This research aims to interpret Hegel's dialectical logic and philosophical ideas in understanding the emergence of language, as a linguistic interaction. The results of this research show that, by utilizing dialectical and intuitive logic, one can hear the intuitive phenomenon of the existence of language features such as utterances, words and abstract phonemes. On that basis, someone is able to explain and express verbal or linguistic expressions flexibly in a concrete discourse event. On this basis, someone is able to think epistemologically and linguistically.Artikel ini menguraikan pandangan tentang asal mula munculnya bahasa menurut perspektif dialektika Hegel. Hal ini bermula dari pemahaman penulis tentang konsep Hegel yang menyatakan bahwa substansi pikiran bersumber dari roh. Artikel ini menjelaskan bahwa sejarah bersumber dari roh yang mengenalkan dirinya melalui pikiran dan intuisi. Dalam konteks ini, aktivitas berbicara lebih tinggi nilainya daripada kata-kata yang tertulis; dan aktivitas mendengar lebih tinggi maknanya daripada aktivitas membaca. Oleh karena itu, inteligensi-linguistik melintasi periode sejarah dan budaya, yang berkembang dari gerakan dan kekuatan pikiran yang bebas. Peneliti menggunakan empat tahapan metode sejarah (historical method), yaitu heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Penelitian ini bertujuan menginterpretasikan logika dialektis Hegel dan ide-ide filosofisnya dalam memahami munculnya bahasa, sebagai suatu interaksi linguistik. Artikel ini menggunakan teori dialektika Hegel dengan pendekatan filsafat sejarah. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa, dengan memanfaatkan logika dialektis dan intuitif, seseorang dapat mendengarkan fenomena intuitif keberadaan fitur-fitur bahasa seperti ucapan, kata, dan fonem abstrak. Atas dasar itu, seseorang mampu menjelaskan dan mengekspresikan ungkapan verbal atau kebahasan secara fleksibel dalam suatu peristiwa wacana yang konkret. Atas dasar itu pula seseorang mampu berpikir secara epistemologis dan linguistik.
Analisis Wacana Al-Qur’an Suroh Al-A’raf Ayat 25 Sebuah Fenomena Kematian Chaer, Hasanuddin; Sirulhaq, Ahmad; Rasyad, Abdul
Lingua Franca:Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 4 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/lf.v4i2.4239

Abstract

Reinkarnasi adalah salah satu fenomena yang selalu menghasilkan kontroversi besar. Sementara beberapa orang berdasarkan pengalaman pribadi yakin akan kemungkinannya, beberapa yang lain langsung mengkritisi hal itu. Artikel ini menggunakan metode analisis deskriptif, informasi data dari struktur wacana ayat-ayat al-Qur’an yang terkait dengan objek kajian, data tersebut dianalisis, ditafsirkan dan kemudian kami simpulkan. Tujuan artikel ini untuk mengkontekstualisasikan fenomena kematian didalam wacana al-Qur’an suroh al-A’raf ayat 25 dalam kerangka Islam ortodok dan merekonsiliasi antara dua pandangan yang berbeda Hindu dan Islam tentang reinkarnasi.
RETORIKA ALQURAN SEBAGAI PEMBELAJARAN BAHASA Chaer, Hasanuddin; Rasyad, Abdul; Sirulhaq, Ahmad
Lingua Franca:Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 8 No 1 (2024): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Retorika adalah seni berbahasa atau ilmu meyakinkan orang lain dengan menggunakan kata-kata secara efektif dalam berbicara atau menulis. Artikel ini membahas ayat-ayat al-Qur’an yang menggunakan gaya bahasa retoris. Retorika ayat-ayat ini mempengaruhi pikiran dan hati para pendengar dan pembaca al-Qur’an. Tujuan artikel ini adalah membahas aspek-aspek retorika ayat Al-Qur’an dan menganalisis kualitas makna yang dimilikinya. Artikel ini menggunakan metode kajian kepustakaan (Library Research) dengan pendekatan analisis induktif yang berfokus pada makna ayat yang memberikan tambahan makna retorika yang tak dapat ditiru. Hasil penelitian menjelaskan bahwa retorika al-Qur’an memiliki peran yang sangat vital dalam mengkaji dan mencermati makna ayat dalam al-Qur’an. Hal ini dimaksudkan untuk menyingkap kualitas makna kognitif retorika al-Qur’an yang merupakan sumber wacana kebahasaan. Melalui pemahaman retorika al-Qur’an, pembaca tidak hanya menggunakan sebagai seni memahami makna ayat al-Qur’an atau meyakinkan orang lain tetapi lebih dari itu sebagai ilmu logika bahasa, filsafat, hukum dan juga agama serta argumentasi ilmiah dalam berkomunikasi. 
Kategori Definisi Lema: Ke Arah Penyempurnaan Kamus Besar Bahasa Indonesia Burhanuddin; Mahsun; Sukri; Sirulhaq, Ahmad; Syarifuddin
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 7 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v7i1.7599

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang kateogri definisi lema yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (Edisi IV) Tahun 2008. Kategori definsi lema yang dimaksud apakah berdefinisi nomina, realis, atau praktis. Data penelitian ini dikumpulan dari KBBI dengan metode dokumentasi atau kepustakaan, sedangkan analisis data menggunakan metode padan ekstralingual karena membandingkan antara sifat makna dengan sifat sesuatu yang diacu oleh makna atau kata tersebut (referen) yang terdpat diluar bahasa. Hasil penelitian menunjukkan jika terdapat sejumlah perbedaan kategori definisi lema dalam KBBI, yaitu ada yang berdefinisi nomina, realis, dan praktis. Kata yang berdefinisi nominalis contohnya: abadi, abah, abakus, abur, badong, badut, dan sebagainya. Kata yang berdefinisi realis di antaranya: abaksial, abangan, abdas, abdikasi, aberasi, abisopelagik, dan sebagainya, (3) Adapun kata yang berdefinisi praktis di antaranya analgesic, amiloglukasidase, ammeter, dan sebagainya. Selain itu, ditemukan kata yang berdefinisi praktis-nominalis, realis-nominalis, dan realis-nominalis. Selain itu, ditemukan beberapa lema yang memiliki definisi yang kurang baik sehingga perlu direvisi
Exploration of Scientific Literacy in Indonesian Language Textbooks for Elementary and Secondary School Mahyudi, Johan; Mahsun, Mahsun; Sukri, Sukri; Sirulhaq, Ahmad; Musaddat, Syaiful; Hijriah, B. Siti
Jurnal Kependidikan : Jurnal Hasil Penelitian dan Kajian Kepustakaan di Bidang Pendidikan, Pengajaran, dan Pembelajaran Vol. 9 No. 2 (2023): June
Publisher : LPPM Universitas Pendidikan Mandalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jk.v9i2.7758

Abstract

This study aims to explore scientific literacy in Indonesian language textbooks at the elementary and secondary school levels. The explorative qualitative method was applied in this study. The data was collected through explanation materials, procedural writings, scientific papers, exposition texts, and review texts from Indonesian language textbooks for elementary and middle school students. This study's data analysis technique was content analysis. The data was analyzed to confirm its suitability with the type of text represented and then validated for its role in supporting scientific literacy. The results of the research showed that (1) not all sample texts met the basic criteria as appropriate teaching materials; (2) if the text met the criteria as an example text of teaching materials, the text did not contain aspects of scientific literacy; and (3) of all the texts examined, only explanatory texts for elementary level students contained scientific literacy content in addition to meeting the criteria as sample texts of teaching materials. Based on these findings, Indonesian language textbook compilers should be more cautious in selecting samples of texts that will be discussed collaboratively by teachers and students.
Toponimi Nama Tempat Wisata Di Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur, NTB: Kajian Linguistik Antropologi Rini Idayanti; Mahsun; Burhanudin; Saharudin; Sirulhaq
Jurnal Pendidikan, Sains, Geologi, dan Geofisika (GeoScienceEd Journal) Vol. 6 No. 4 (2025): November
Publisher : Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkap asal-usul dan makna penamaan tempat wisata di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, serta menganalisis aspek budaya, sosial, dan fisik yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berdasarkan teori linguistik antropologis (Mahsun) dan toponimi, diperkaya dengan perspektif Sapir-Whorf mengenai hubungan antara bahasa dan persepsi manusia. Data penelitian diperoleh dari sumber lisan berupa informasi masyarakat lokal (tokoh adat, sesepuh, aparat desa, dan pengelola wisata), serta sumber tertulis berupa dokumen desa, arsip, peta wilayah, dan literatur sejarah lokal. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi dengan teknik simak, sadap, dan rekam. Analisis data dilakukan dengan metode padan intralingual menggunakan teknik hubung banding menyamakan (HBS) dan hubung banding membedakan (HBB), kemudian dipaparkan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 35 nama objek wisata di Kecamatan Sembalun terdapat variasi aspek toponimi yang mencerminkan budaya, masyarakat, dan manifestasi lingkungan. Dari jumlah tersebut, 8 nama objek wisata memuat aspek budaya, 9 nama objek wisata memuat aspek sosial, dan 18 nama objek wisata merupakan bentuk manifestasi lingkungan.
Effectiveness of the Collaborative Learning Model in Writing Biographical Texts for Students Muhtasar Ayudi; Burhanudin Burhanudin; Ahmad Sirulhaq; Saharudin Saharudin
Jurnal Inovasi Pendidikan dan Sains Vol 6 No 2 (2025): August
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Nahdlatul Wathan Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51673/jips.v6i2.2509

Abstract

This study aims to determine the effectiveness of the collaborative learning model in improving the ability to write biographical texts among tenth-grade students at MA NW Dasan Lian. The background of this research stems from the students’ low interest and poor quality in writing biographical texts, which are often unstructured and lack creativity. The collaborative learning model was chosen because it is believed to enhance active student engagement through teamwork, discussion, and mutual feedback during the learning process. This research employs a quantitative approach with a quasi-experimental design. The instruments used were pre-test and post-test writing assignments. The results show a significant improvement in students’ biographical writing after the implementation of the collaborative learning model, as evidenced by the difference between pre-test and post-test scores analyzed using a t-test. Therefore, the collaborative learning model is proven effective in enhancing students’ biographical writing skills. The study recommends the use of collaborative learning as an alternative strategy in teaching writing at the secondary education level
Pemberdayaan Remaja melalui Edukasi Anti-Bullying Berbasis Nilai Islami sebagai Strategi Penguatan Karakter Regina, Putri Rasta; Sirulhaq, Sirulhaq; Asep; Qoyyimah, Ai; Kodariah, Eris; Trilailani, Siti Filda; Anipah, Ani
Paradigma Mandiri : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2025): Paradigma Mndiri
Publisher : STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37949/pm32255

Abstract

Bullying among junior high school students is a significant issue that disrupts psychosocial development and the learning process. This community engagement initiative focuses on empowering students at SMPN 1 Cikembar, Sukabumi Regency, through anti-bullying education grounded in Islamic values to prevent aggressive behavior and foster a harmonious school environment. The objective is to enhance the awareness of ninth-grade students regarding the adverse impacts of bullying and to instill values such as rahmah (compassion) and ukhuwah (brotherhood) as the foundation for social behavior. Employing a qualitative approach with a case study design, this initiative involved 350 students in a one-hour socialization session facilitated by students of Islamic Education (PAI). Interactive methods, including group discussions, role-plays, and in-depth interviews, were utilized for data collection, which were subsequently analyzed using the Miles and Huberman model. The results indicate a significant increase in students’ understanding of bullying, from 20% to 75%, with 65% of students actively participating in discussions. A 30% reduction in verbal conflicts was observed within one week post-session. The Islamic values-based approach proved effective in enhancing empathy, although time constraints limited long-term behavioral internalization. This engagement lays the foundation for sustainable anti-bullying programs, with recommendations for follow-up sessions and the integration of religious values into the school curriculum. The initiative contributes to fostering inclusive character development among adolescents and creating a safe school environment in rural settings.
Character Education Values in the Novel Sanggarguri for High School Literature Learning: Nilai Pendidikan Karakter dalam Novel Sanggarguri untuk Pembelajaran Sastra di SMA Fazlina, Sri Ayu; Saharudin; Aswandikari; Sirulhaq, Ahmad; Burhanudin; Mahyudi, Johan
Indonesian Journal of Innovation Studies Vol. 27 No. 1 (2026): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21070/ijins.v27i1.1854

Abstract

Background: Character education is a fundamental component of formal education, particularly in addressing moral and social challenges among students in contemporary society. Specific background: Literary texts grounded in local culture provide concrete representations of character values through narratives, traditions, and social interactions, as reflected in the novel Sanggarguri by Lalu Agus Fathurrahman. Knowledge gap: Previous studies on Sanggarguri have largely emphasized cultural and symbolic dimensions, while systematic analysis of character education values in relation to high school literature learning remains limited. Aims: This study aims to identify character education values embedded in the novel Sanggarguri and to describe their use within high school literature learning. Results: The analysis reveals five dominant values: respect, responsibility, tolerance, cooperation, and courage, manifested through characters’ attitudes, cultural rituals, and moral decision-making. Novelty: This study positions Sanggarguri as a local literary text that integrates Sasak cultural wisdom with character education values. Implications: The findings support the use of local novels as contextual teaching materials for high school literature learning, particularly in developing moral awareness, empathy, and cultural understanding in line with curriculum objectives. Highlights Identification of five core character education values in Sanggarguri. Representation of Sasak local wisdom through literary narratives and traditions. Suitability of the novel for high school literature learning contexts. Keywords Character Education, Novel Sanggarguri, Sasak Culture, High School Literature Learning, Local Wisdom
MAKNA PERIBAHASA BIMA PADA MASYARAKAT DESA WADUKOPA KECAMATAN SOROMANDI KABUPATEN BIMA Nurwidayanti Nurwidayanti; Mahsun Mahsun; Ahmad Sirulhaq
El-Tsaqafah : Jurnal Jurusan PBA Vol. 24 No. 1 (2025): April 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/tsaqafah.v24i1.13087

Abstract

This research aims to describe the form and meaning of Bima proverbs in the Wadukopa Village community, Soromandi District, Bima Regency. The typa of research is descriptive qualitative research. The data source for this study is informants or the Wadukopa community. The data collection methode used in the study was through observation, interviews, and documentation. Observation data in the form of notes related to the behavior and interactions of informants, the interview data in the from information about proverb obtained through a question and answer process between the interviewer and the informant. While the documentation data in the form of written materials that have passed related to Bima proverbs. The data analysis method uses intralingual and extralingual equivalents. Intralingual iquivalents are used analyze the linguistic meaning in proverbs, while extralingual is used to understand how the culture context influence proverbs. Based on the result of the data analysis, it was found that the form of Bima proverbs in the Wadukopa community consists of proverbs in the form of proverbs, parable proverbs, and proverbs of proverbs/sayings. Meanwhile, the meaning of proverbs found in the Wadukopa village community is the denotative and connotative meanings as well as the cultures views of the community which are used to advise, motivative, provide support, remind and make the community aware, especially the younger generation who still lack knowledge. Proverbs can also be used to shape the character of the younger generation. By using proverbs in speaking, it is considered to prioritize politeness in language without saying it directly.