Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

COMPOSITION OF RESULTS AND CATCH RATE OF SURFACE GILLNETS AT COASTAL FISHERY PORT CAROCOK TARUSAN Andhini, Jessyca; Nurhayati; Ramdhani, Farhan; Nelwida; Rahayu, Dyah Muji; Gelis, Ester Restiana Endang
Jurnal Penelitian Perikanan Laut (Albacore) Vol 9 No 2 (2025): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.9.2.279-288

Abstract

The catch is influenced by the ability of the fishing gear to obtain organisms in a certain period of time called the catch rate. Until now it is not known how effective the performance of the surface gill net fishing gear is. This study aims to determine the composition of the catch, catch rate, frequency of occurrence of fish species and factors that affect the catch in the surface gill net. The method used is the survey method with data collection using purposive sampling. The results of the study showed that the total catch was 2.207 fish weighing 644,706 kg, which was divided into two, namely the main catch (HTU) with a weight percentage of 74,73% and bycatch (HTS) with a percentage of 25,27%. The percentage of catch in units of fish, in HTU of 89,76% and HTS of 10,24%. It was concluded that the composition of the surface gill net catch has 13 species, the highest catch rate and frequency of occurrence is mackerel (Rastrelliger sp.) as much as 2,61 kg/hour with 86,67% frequency of occurrence. The factor that significantly influences the catch with an increasing trendline is the duration of operation with a P-value of 0,0007. Key words: catch rate, frequency of occurrence, rastrelliger, surface gill net, yield composition
Pola Pertumbuhan Ikan Parang-Parang (Chirocentrus dorab) Yang Didaratkan Di Kampung Nelayan Kabupaten Tanjung Jabung Barat Sukmawati, Mifta; Gelis, Ester Restiana Endang; Yunita, Lauura Hermala; Nurhayati, Nurhayati; Nelwida, Nelwida; Hasanah, Hasanah
Jurnal Laot Ilmu Kelautan Vol 7, No 2 (2025): Jurnal Laot Ilmu Kelautan
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jlik.v7i2.12648

Abstract

Ikan parang-parang yaitu salah satu potensi sumberdaya perikanan yang mempunyai potensi besar dan nilai ekonomi. Ikan parang-parang (Chirocentrus dorab) mempunyai bentuk badan memanjang dan tipis, dengan gigi bagian rahang seperti taring, bagian sirip punggung berada di belakang titik tengah tubuh, perut tanpa sisik yang tebal, sirip bagian dada pendek, dan sisi hijau kebiruan tua. Tujuan studi ini yakni menjelaskan tipe pertumbuhan ikan parang-parang yang ditangkap di Kampung Nelayan Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Pengumpulan sampel ikan pada studi ini yakni metode simpel random sampling. Jumlah ikan yang diteliti yaitu 130 sampel. Hasil studi ini menjelaskan bahwa ukuran panjang ikan parang-parang di Perairan Kampung Nelayan yaitu 210 – 553 mm dengan berat 35-572. Hasil interpretasi, menunjukkan hubungan antara panjang serta berat ikan parang-parang ditemukan W = 0,00001L2,799. Kesimpulan dari penelitian ini pola pertumbuhan ikan parang-parang yang ditangkap di Perairan Kampung Nelayan Kabupaten Tanjung Jabung Barat berada dalam kategori allometrik negatif, yang mana pertumbuhan panjang lebih cepat dari pertumbuhan berat.
POLA PERTUMBUHAN IKAN PETEK (Leiognathus equulus) YANG DIDARATKAN DI PELABUHAN IKAN MUARA ANGKE, JAKARTA Yunita, Lauura Hermala; Gelis, Ester Restiana Endang; Wulanda, Yoppie; Heltria, Septy; Magwa, Rizky Janatul; Ramdhani, Farhan
Grouper Vol. 14 No. 2 (2023): Grouper: Jurnal Ilmiah Perikanan
Publisher : Universitas Islam Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30736/grouper.v14i2.205

Abstract

Ikan petek (Leiognathus equulus) merupakan ikan hasil tangkapan sampingan oleh nelayan di Pelabuhan Muara Angke, Jakarta , ikan ini merupakan salah satu aset terpenting pada ekosistem perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan panjang bobot ikan petek yang didaratkan di Pelabuhan Muara Angke Jakarta. Penelitian berlangsung pada bulan April Tahun 2021 dilakukan di Pelabuhan Muara Angke Jakarta. Persamaan hubungan untuk panjang bobot adalah W = aLb. sampel ikan yang didapat yaitu berjumlah 30 ekor dengan ukuran antara 125 – 164 mm dan berat berkisar antara 33 – 67 gr. Ukuran mendominasi pada ukuran 133 – 140 mm yaitu sebanyak 11 ekor sementara pada ukuran 157 – 164 mm hanya terdapat 1 ekor. Hasil analisis menunjukan bahwa nilai b yaitu 2.7412 hal ini menunjukkan bahwa pola pertumbuhan allometrik negatif dimana pertumbuhan panjang ikan lebih cepat daripada pertumbuhan beratnya dan memiliki nilai r yaitu 1 artinya pertumbuhan panjang sangat mempengaruhi pertumbuhan berat pada ikan.Kata Kunci : Allometrik Negatif, Leiognathus equulus, Muara Angke, Panjang-Bobot 
Study on The Distribution of Longtail Tuna (Thunnus Tonggol) Catch Based on Chlorophyll-A Using Aqua Modis Imagery in West Sumatera Muhammad Farhan Al Iqromi; Afriani Harahap; Heltria, Septy; Farhan Ramdhani; Ester Restiana Endang Gelis; Hutwan Syarifuddin
Grouper Vol. 16 No. 1 (2025): Grouper : Jurnal Ilmiah Perikanan
Publisher : Universitas Islam Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30736/grouper.v16i1.292

Abstract

The longtail tuna (Thunnus tonggol) is one of the highest-producing fishery commodities in the waters of West Sumatra. Its abundance is influenced by oceanographic conditions, particularly indicated by chlorophyll-a concentration as a marker of water productivity. This study aims to examine the distribution of chlorophyll-a in relation to the catch of longtail tuna (Thunnus tonggol) using Aqua MODIS imagery in the waters of West Sumatra. The method used in this research is observational, involving data collection on chlorophyll-a distribution and logbook records. Chlorophyll-a data was obtained from the Ocean Color website, and logbook data for 2018–2022 was sourced from the Bungus Oceanic Fisheries Port (PPS). The results show that chlorophyll-a distribution in the waters of West Sumatra fluctuated between 2018 and 2022, with an average range of 0.15 mg/m³ to 0.33 mg/m³. A simple linear regression analysis showed a significant F-value of 0.0045, which is smaller than α (0.05), indicating that the regression equation is valid. This suggests that the distribution of chlorophyll-a has a significant effect on the longtail tuna catch in the waters of West Sumatra. The average annual CPUE (Catch Per Unit Effort) of longtail tuna was 0.44 tons/trip, with an average catch over the 2018–2022 period of 18.38 tons and an average of 41 trips per year.
STUDI MORFOMETRIK IKAN JULUNG-JULUNG (Hyporhamphus dussumieri) DI PERAIRAN MUARA ANGKE, JAKARTA UTARA Gelis, Ester Restiana Endang; Wulanda, Yoppie; Ramdhani, Farhan; Fatchiyyah, Sayyiddah; Hadi, Sutanto; Maddupa, Hawis
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 11 No 2 (2023): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29406/jr.v11i2.5324

Abstract

Ikan julung-julung (Hyporhamphus dussumieri) termasuk salah satu ikan yang kerap ditemui dalam kegiatan penangkapan ikan di perairan sekitar Muaro Angke, hal ini menunjukan bahwa potensi ikan julung-julung masih sangat tinggi. Untuk mengetahui hubungan panjang berat ikan tersebut maka dilakukan penelitian pada bulan April 2018. Sebanyak 30 ikan yang tertangkap dengan jumlah ikan betina 9 ekor dan ikan jantan 29 ekor. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode survey studi kasus. Hasil analisis hubungan panjang berat ikan julung-julung yang didapat dari perairan Muara Angke menunjukan koefisien korelasi (r) yaitu 0.9305. Ini mengartikan bahwa pertumbuhan ikan julung-julung menunjukan sifat isometrik. Adanya hasil korelasi yang erat memiliki arti bahwa semakin bertambah panjang baku (PB) pada ikan julung-julung maka morfometrik pembandingnya juga bertambah. Hasil korelasi tersebut diduga dipengaruhi oleh ketersediaan makanan. Faktor ketersediaan makanan saat berperan dalam proses pertumbuhan. Dari hasil korelasi ini menunjukan bahwa ketersediaan makanan di perairan Muara Angke masih mendukung kehidupan ikan julung-julung.
ANALISIS HASIL TANGKAPAN IKAN TERI (Stolephorus sp.) BERDASARKAN KEDALAMAN PERENDAMAN BAGAN PERAHU DI PERAIRAN CAROCOK TARUSAN PROVINSI SUMATERA BARAT Armarenti, Armarenti; Lisna, Lisna; Ramdhani, Farhan; Nurhayati, Nurhayati; Ramadan, Fauzan; Gelis, Ester Restiana Endang
Mantis Journal of Fisheries Vol. 1 No. 01 (2024): Agustus 2024
Publisher : Department of Fisheries, Animal Science Faculty, Universitas Jambi.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/mjf.v1i01.34365

Abstract

Ikan teri (Stolephorus sp) adalah ikan pelagis kecil yang hidup di permukaan laut, Ikan ini memiliki hidup berkoloni dengan membentuk kelompok yang berjumlah ratusan hingga ribuan ekor. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah hasil tangkapan ikan teri pada kedalaman yang berada di perairan carocok tarusan menggunakan bagan perahu. Alat tangkap bagan perahu ini digunakan oleh nelayan di perairan carocok tarusan dalam usaha penangkapan ikan teri, alat tangkap ini menggunakan lampu sebagai daya tarik utama mengumpulkan gerombolan ikan teri yang bersifat senang terhadap cahaya (phototaxis). Metode yang digunakan selama penelitian ini yaitu metode survei, dengan pengamatan langsung kelapangan 24 trip dengan total 65 setting hauling.  Jenis ikan yang tertangkap menggunakan alat tangkap bagan perahu yaitu ikan teri (hasil tangkapan utama). IIkan peperek, ikan lemuru, ikan sarden, dan ikan kembung (hasil tangkapan sampingan). Adapun hasil tangkapan buangan yaitu ubur-ubur, ikan buntal, dan ular laut. Hasil dari penelitian ini adalah jumlah hasil tangkapan ikan teri (Stolephorus sp) terbanyak sebesar 2,313 kg dengan persentase 47,50% dan jumlah hasil tangkapan terkecil yaitu ikan kembung (Restrelliger sp) sebesar 470 kg dengan persentase 9,65%. Selang kelas kedalaman pada hasil tangkapan terdapat hasil tangkapan ikan teri terbanyak pada kedalaman 22-26,00 m sebanyak 908 kg dan hasil tangkapan terkecil yaitu pada kedalaman 34-38,3 m sebanyak 94 kg. Kata Kunci: ikan teri (Stolephorus sp), kedalaman perendaman, carocok tarusan
KEANEKARAGAMAN HASIL TANGKAPAN BUBU TEMBILAR DI DANAU TELUK KENALI KOTA JAMBI Pakpahan, Roberyo; Depison, Depison; Gelis, Ester Restiana Endang; Nelwida, Nelwida; Lisna, Lisna; Ramadan, Fauzan
Mantis Journal of Fisheries Vol. 1 No. 02 (2024): Desember 2024
Publisher : Department of Fisheries, Animal Science Faculty, Universitas Jambi.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/mjf.v1i02.35174

Abstract

Danau Teluk Kenali merupakan danau yang terletak di Kelurahan Teluk Kenali, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi. Danau Teluk Kenali memiliki luas sekitar 30 Ha. Masyarakat setempat melakukan kegiatan penangkapan ikan umumnya menggunakan alat tangkap seperti tangkul, jaring, jala, tajur, dan beberapa jenis bubu seperti bubu gerugu dan bubu tembilar. Tujuan penelitan ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman hasil tangkapan pada alat tangkap bubu tembilar di Danau Teluk Kenali Kota Jambi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen. Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi partisipasi mengamati langsung objek penelitian. Data yang dihimpun yaitu: jumlah ikan, berat ikan, jenis hasil tangkapan dan faktor lingkungan. Jumlah alat tangkap bubu tembilar yang digunakan sebanyak 8 buah dioperasikan sebanyak 10 kali ulangan. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah komposisi hasil tangkapan, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman serta indeks dominansi. Dari hasil penelitian total ikan yang tertangkap selama penelitian sebanyak 509 ekor dengan berat total keseluruhan 42.992 g terdiri dari 8 spesies yaitu: ikan nila (Oreochromis niloticus), ikan keperas (Cyclochellichthys apogon), ikan beterung (Pristolepis grooti), ikan palau (Osteochilus kappenii), ikan gabus (Channa striata), ikan betutu (Oxyeleotris marmorata), ikan sepat siam (Trichogaster pectoralis), dan ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus). Nilai indeks keanekaragaman 1,89, indeks keseragaman 0,91 dan indeks dominansi 0,16. Kesimpulan dari penelitian ini adalah keanekaragaman hasil tangkapan bubu tembilar termasuk dalam kategori sedang, sedangkan tingkat keseragaman termasuk dalam kategori tinggi dan tingkat dominansi tergolong rendah.
Morphometrics and Meristics of Senangin (Eleutheronema Tetradactylum) Results of Gillnet Catch in Mendahara Ilir of East Tanjung Jabung District Haryani, Nova; Lisna, Lisna; Magwa, Rizky Janatul; Nelwida, Nelwida; Gelis, Ester Restiana Endang; Farizal, Farizal
Journal of Fish Health Vol. 5 No. 1 (2025): Journal of Fish Health
Publisher : Aquaculture Department, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jfh.v5i1.6045

Abstract

Mendahara Ilir is an area located on the coast with the majority of the community working as fishermen. Fishermen in this area catch fish using Gillnet fishing gear. Overfishing is a form of excessive fishing, the fish population is decreasing over time so that it can cause extinction and will cause degradation of fish resources leading to the extinction of the Senangin species. The purpose of this study was to determine the morphometric and meristic measurements of Senangin (Eleutheronema tetradactylum) in the waters of Mendahara Ilir which can be used as a consideration in making fisheries resource management policies. The method used in this study was the survey method. Data collection was carried out on 30 Senangin samples. Morphometric measurements used 11 characters and meristic calculations used 7 characters. The results of this study showed that the longest Senangin was 65.8 cm and the shortest was 19.0 cm. The average length of the Senangin obtained was 34.7 cm. The determination coefficient R2 of senangin from morphometric characters to total length (TL) ranges from 0.94 to 0.99 where the value shows a very close relationship. The correlation results are influenced by food availability. Meristics of senangin are D.II; D17-19, A.II: A15-70, P.II: 10-76, C.II: 31-182, scales on the tail stem with a total of 136 and a minimum number of 40, lateral line scales with a total of 170 and a minimum number of 62. The conclusion is that Senangin in the Mendahara Ilir waters are still well maintained habitat in Mendahara Ilir.
Fish Diversity in Lubuk Larangan Indigenous Conservation Area in Nagari Pelangai Kaciak, South Pesisir Regency Anggreini, Ratu Putri; Lisna; Gelis, Ester Restiana Endang; Alwi, Yun; Afriana, Bs Monica; Magwa, Rizky Janatul
Journal of Fish Health Vol. 5 No. 2 (2025): Journal of Fish Health
Publisher : Aquaculture Department, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jfh.v5i2.6800

Abstract

Lubuk Larangan is a form of customary conservation area as a form of fish conservation and breeding ground for fish. Diversity in the Lubuk Larangan area can be used as a form of river ecosystem conservation and help identify endangered species and the sustainability of the conservation area. This study aims to determine the level of diversity, uniformity, abundance and dominance of fish in the traditional conservation area of Lubuk Larangan in Nagari Pelangai Kaciak, South Pesisir Regency. This research was conducted in October 2024 using the survey method. The results showed that the fish obtained were 7 species with the highest composition of crisp fish (Tor tambroides) 47%. Diversity index (H') with a value of 1.37 medium category. The uniformity index (E) with a value of 0.7 is included in the high category. The dominance index (C) with a value of 0.32 is included in the low category. From the results obtained, it can be concluded that the indigenous conservation area of Lubuk Larangan in Nagari Pelangai Kaciak has fish diversity in the medium category, which means that the waters are in a stable and supportive condition to be used as a conservation area.