Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Hubungan Personal Hygiene dan Riwayat Kontak dengan Kejadian Typhoid Fever pada Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit TK. IV Guntung Payung : Relationship Between Personal Hygiene and Contact History with Typhoid Fever in Home Inpatient Patients at Rumah Sakit TK. IV Guntung Payung Inda Chely Sagita; Norsita Agustina; M. Febriza Aquarista; Norfai; Meilya Farika Indah; Asrinawaty; Noorhidayah
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 6 No. 7 (2023)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i9.3366

Abstract

Latar belakang: Demam tifoid merupakan penyakit infeksi akut bersifat sistemik yang disebabkan oleh mikroorganisme Salmonella enterica serotipe typhi yang dikenal dengan Salmonella typhi. Data laporan 10 penyakit terbanyak rawat inap Rumah Sakit TK. IV Guntung Payung bulan Juli, Agustus dan September, penyakit typhoid fever adalah kasus terbanyak tiga bulan terakhir tahun 2022. Tujuan: Untuk mengetahui Hubungan Personal Hygiene dan Riwayat Kontak dengan Kejadian Typhoid Fever Pada Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Tk. IV Guntung Payung. Metode: Penelitian ini merupakan peneltian analitik dengan menggunakan metode survey analitik yang menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Tempat penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Tk. IV Guntung Payung di Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan. Populasi dalam penelitian ini adalah 943 pasien, dengan sampel 100 pasien. Hasil: Hasil penelitian responden yang menderita Typhoid Fever sebanyak 70 responden (70,0%), responden yang memiliki Personal Hygiene yang baik sebanyak 94 responden (94,0%), responden yang memiliki riwayat kontak dengan penderita Typhoid Fever sebanyak 77 responden (77,0%), analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square untuk mengetahui hubungan antara variabel Personal Hygiene dengan kejadian Typhoid Fever diperoleh nilai p = 0,462 > 0,05 yang dapat diartikan bahwa tidak terdapat hubungan antara Personal Hygiene dengan kejadian Typhoid Fever di Rumah Sakit Tk. IV Guntung Payung tahun 2022, analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square untuk mengetahui hubungan antara variabel kejadian Typhoid Fever dengan Riwayat Kontak diperoleh nilai nilai p = 0,008 < 0,05 yang dapat diartikan bahwa terdapat hubungan antara Riwayat Kontak dengan Kejadian Typhoid Fever di Rumah Sakit Tk. IV Guntung Payung tahun 2022. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara kejadian Typhoid Fever dengan Riwayat Kontak Langsung dengan Penderita namun tidak terdapat hubungan antara kejadian Typhoid Fever dengan Personal Hygiene.
PENGARUH ANSIETAS DAN GANGGUAN POLA TIDUR DENGAN SINDROM DISPEPSIA FUNGSIONAL Elsi Setiandari Lely Octaviana; Ari Widyarni; Noorhidayah Noorhidayah; Hilda Irianty; Mahmudah Mahmudah; Norfai Norfai
Jurnal Ilmu Kesehatan Insan Sehat Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Ilmu Kesehatan Insan Sehat
Publisher : STIKES Intan Martapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54004/jikis.v13i2.416

Abstract

Pendahuluan: Pengalaman menempuh pendidikan yang penuh dengan perjuangan, membuat siswa rentan mengalami gangguan cemas dan perubahan pada pola tidur. Salah satu masalah kesehatan fisik yang timbul dari efek kecemasan dan gangguan pola tidur yang dialami seseorang adalah masalah pada fungsi pencernaan yang menimbulkan sindrom dispepsia fungsional. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ansietas dan gangguan pola tidur terhadap sindrom dispepsia fungsional. Metode: Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif menggunakan teknik Stratified Random Sampling dengan besar sampel 55 responden. Instrumen yang digunakan  yaitu kuesioner ansietas dan pola tidur. Analisis data menggunakan uji t. Hasil: Hasil menunjukkan bahwa secara parsial ansietas berpengaruh terhadap sindrom dispepsia fungsional dimana t hitung 2,193 > t tabel 2,007. Gangguan pola tidur berpengaruh terhadap sindrom dispepsia fungsional dimana t hitung 2,168 > t tabel 2,007. Hasil uji F menunjukkan bahwa variabel ansietas dan gangguan pola tidur berpengaruh terhadap sindrom dispepsia fungsional dengan Fhitung 4,321 > Ftabel 3,17. Kesimpulan: Ansietas dan gangguan pola tidur yang dialami siswa berpengaruh terhadap sindrom dispepsia fungsional selama menjalani pendidikan. Saran: Kepada siswa agar dapat menghindari terjadinya ansietas dan menjaga pola tidur agar tidak menimbulkan sindrom dispepsia fungsional selama menjalani pendidikan.
Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Obesitas Mahasiswi FKM Uniska MAB Banjarmasin Husnul Khatimatun Inayah; Netty Netty; Ari Widyarni; Nurul Indah Qariati; M. Bahrul Ilmi; Noorhidayah Noorhidayah
Jurnal Akademika Baiturrahim Jambi Vol. 15 No. 1 (2026): Maret
Publisher : Universitas Baiturrahim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36565/jab.v15i1.1017

Abstract

Obesity is a growing global nutrition problem, including in productive age groups such as college students. Female students, especially in the Faculty of Public Health (FKM), have a higher susceptibility to obesity due to lifestyle, hormonal and dietary factors. This study aims to analyze factors related to the incidence of obesity in FKM students of the Islamic University of Kalimantan MAB Banjarmasin. This study uses an analytical survey method with a cross sectional design. The study population was 1,370 FKM students, with a sample of 94 respondents determined using the Slovin formula (90% confidence level) and accidental sampling techniques. The variables studied included knowledge, frequency of Fast Food  consumption, and genetik factors, with data collection through questionnaires and Body Mass Index (BMI) measurements. Data analysis was carried out using the Chi Square test. The results showed the prevalence of obesity at 48.9%. Most of the respondents had sufficient knowledge (43.6%), often consumed Fast Food  (58.5%), and had a genetik history of obesity (55.3%). Bivariate analysis showed a significant relationship between knowledge (p=0.032), frequency of Fast Food  consumption (p=0.027), and genetiks (p=0.000) and the incidence of obesity in female students. The discussion of this study emphasizes that obesity in female students is not only influenced by lifestyle such as Fast Food  consumption, but also nutritional knowledge factors and genetik predisposition. College students with low knowledge are more prone to choosing high-calorie foods, while frequent consumption of Fast Food  contributes to excess energy. Genetik factors further strengthen the risk of obesity if it is not balanced with a healthy lifestyle. It is recommended that female students limit Fast Food  consumption and increase nutritional knowledge through health counseling. Further research is expected to add other variables, such as physical activity and stress, to enrich the analysis of obesity risk factors
Exploration of Stunting Reduction Program Implementation at Rantau Badauh Community Health Center, Barito Kuala Khairul Anam; Muhammad Rizki Adisti; Elsi Setiandari Lely Octaviana; M. Febriza Aquarista; M. Bahrul Ilmi; Noorhidayah Noorhidayah
Media of Health Research Vol. 4 No. 3 (2026): Media of Health Research, August 2026
Publisher : Lembaga Publikasi Ilmiah Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70716/mohr.v4i3.639

Abstract

This study explored the implementation of the stunting reduction program at the Rantau Badauh Community Health Center, Barito Kuala District. A descriptive qualitative design was employed involving ten purposively selected participants, including health center managers, health workers, community health volunteers, mothers of children with stunting, and a district nutrition officer. Data were collected through in-depth interviews and participatory observation and were analyzed using thematic analysis. The findings showed that the program was implemented through structured nutrition interventions, regular monthly evaluations, and financial support from multiple funding sources. Communication and health education were delivered through formal coordination meetings and community-based activities, which improved public understanding of stunting prevention. However, cultural practices related to child feeding, caregivers' occupational demands, and geographical barriers reduced participation in community health activities and adherence to nutrition interventions. Limited nutrition personnel also constrained service delivery, although teamwork and adequate facilities supported program continuity. Cross-sector collaboration among health services, local government, and village authorities strengthened program implementation. Overall, organizational capacity, community behavior, and intersectoral coordination influenced the program's effectiveness. Strengthening human resources and culturally responsive community engagement was considered essential for improving program outcomes.