Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

POLEMIK HADIS TENTANG NIKAH MUT’AH Aisyah Arsyad
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 7 No 2 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1003.579 KB) | DOI: 10.24252/tahdis.v7i2.2782

Abstract

Menikah merupakan Sunnah Nabi yang memilki aturan dan tata pelaksanaan sesuai dengan tuntunan. Perkawinan mengikat dua manusia ataupun dua rumpun keluarga, lalu berkembang dan bertumbuh, berkembangbiak menciptakan generasi ke generasi. Metode pemahaman dan pengkajian hadis harus ebih mendalam, karena berimplikasi pada fiqh dan menimbulkan perbedaan-perbedaan yang cukup mendasar. Dengan adanya fakta seperti ini maka konsep maslahat dan mafsadat harus menjadi bahan pertimbangan. Oleh sebab itu perlu dikembangkan konsep maslahat dalam mengkaji hadis terutama untuk menentukan kualitas matan karena regulasi tentang kriteria kesahihan suatu matan hadis sangat berpeluang menimbulkan perbedaan pendapat dalam menginterpretasi suatu matan hadis.
INOVASI DALAM PERSPEKTIF HADIS Aisyah Aisyah
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 8 No 1 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.433 KB) | DOI: 10.24252/tahdis.v8i1.4009

Abstract

Inovasi itu memikirkan dan melakukan sesuatu yang baru untuk menambah atau menciptakan nilai-nilai yang bermanfaat, baik manfaat sosial maupun ekonomi. Untuk menghasilkan perilaku inovatif seseorang harus melihat inovasi secara mendasar sebagai proses yang dapat dikelola. Islam sangat mendukung adanya inovasi dalam hal apapun terkecuali dalam rana Aqidah yang merupakan fondasi mutlak dan mengharuskan mengikuti petunjuk Nabi saw. Inovasi merupakan hal yang sangat urgent dalam dunia bisnis, karena suatu usaha tidak dikatakan berhasil ketika hanya jalan di tempat, tanpa menghasilkan suatu perubahan. Inovasi itu sangat terorganisir, memilki proses, prinsip, tipe, sumber, tujuan, dan siklus agar mencapai hal yang lebih baik.
MENUJU FIKIH GENDER: ANALISIS HADIS TENTANG PERINTAH MENGUMUMKAN PERNIKAHAN Aisyah Arsyad
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 8 No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1134.72 KB) | DOI: 10.24252/tahdis.v8i2.7223

Abstract

Fenomena Nikah siri kembali mencuat diawali dengan gugatan Machica Mukhtar yang menuntut hak atas anaknya (Muh. Iqbal Ramadan yang merupakan hasil dari nikah sirinya dengan Moerdiono). Lalu pada awal tahun 2015 nikah siri online  marak dan menjadi sorotan publik, tokoh agama dan nasional. Respons yang begitu tinggi terhadap nikah siri online membuat model pernikahan ini langsung dapat diredam. Berbeda halnya dengan nikah siri yang selama ini telah lama dipraktekkan oleh masyarakat muslim di Indonesia dan tak kunjung mendapatkan solusi. Hal tersebut disebabkan oleh dualisme hukum perkawinan antara hukum negara dan hukum agama, di mana secara agama pernikahan tetap dianggap sah sekalipun tidak tercatat, di mana tindakan tersebut oleh hukum negara dianggap illegal. Hadis Nabi mengenai perintah mengumumkan pernikahan dalam pandangan penulis dapat dianalogikan sebagai kontrol sosial di masa Rasulullah saw. Karena perkawinan merupakan institusi sosial yang menjadi puncak ekspresi manusia dalam berkehidupan. Oleh sebab itu di masa sekarang ini yang dibatasi oleh hukum negara maka perintah mengumumkan pernikahan sebagai kontrol sosial di masa Rasulullah saw, dapat berubah menjadi kontrol politik dari negara sebagai pemilik kewenangan secara teritorial bagi setiap warganya. Implementasi dari analogi tersebut dapat dilihat dalam bentuk adanya kewajiban pencatatan bagi setiap peristiwa perkawinan. Status hukum pencatatan kemudian menjadi embrio munculnya nikah siri yang menimbulkan mudarat di kalangan masyarakat terutama bagi perempuan dan anak.
KONSEP PEMAHAMAN TAFSIR GENDER (STUDI INTERPRETASI SAHABAT DALAM TAFSIR IBNU KATSIR) Akbar Umar; Aisyah Arsyad
Risalah, Jurnal Pendidikan dan Studi Islam Vol. 8 No. 2 (2022): Pendidikan dan Studi Islam
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Wiralodra Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/jurnalrisalah.v8i2.298

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengakses dan menganalisa isu gender menurut sahabat nabi yang termuat dalam tafsir Ibnu Katsir. Rumusan masalahnya yakni bagaimana gender perspektif sahabat nabi dalam tafsir Ibnu Katsir. Penelitian ini merupakan kajian kepustakaan yang data primernya ialah tafsir Ibnu Katsir. Adapun temuan artikel ini ialah tafsir gender sahabat nabi tidak jauh berbeda dengan pendapat tafsir klasik seperti penciptaan Hawa dari Adam, bolehnya berpoligami atas dasar keadilan serta hak suami sebagai pemimpin rumah tangga. Pendapat lain mengatakan bahwa tokoh mufassir dari kalangan sahabat tidak terbatas jumlahnya pada sepuluh orang saja termasuk Anas bin Malik, Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdillah, Abdullah bin Amru bin al-Ash dan Aisyah ra, hanya saja riwayat yang diambil dari mereka sangat sedikit dan tidak semasyhur ulama yang sepuluh.
SIGNIFIKANSI TAFSIR MAUDHU’I DALAM PERKEMBANGAN PENAFSIRAN AL-QUR’AN aisyah aisyah
Jurnal Tafsere Vol 1 No 1 (2013)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.426 KB)

Abstract

Tafsir maudhu’i lahir  dari berbagai faktor antara lain sebagai bentuk pengembangan dari penafsiran yang ada sesuai dengan perkembangan zaman yang menuntut lahirnya metode-metode baru, dan tidak mentup kemungkinan akan muncul metode-metode lain pada masa yang akan datang sesuai dengan tuntutan zaman dan perkembangan ilmu pengetahuan dalam melihat fenomena yang muncul di masyarakat. Pembahasan pada tema tertentu dengan melihatnya dari berbagai perspektif keilmuan tentu sangat berguna terhadap penelitian yang bersifat ilmiah. Dan kesimpulan yang dihasilkan mudah dipahami, karena ia membawa pembaca kepada petunjuk al-Qur’an tanpa mengemukakan berbagai pembahasan secara terperinci dalam satu disiplin ilmu saja. Persoalan yang disentuh Al-Qur’an bukanlah bersifat teoritis semata, tetapi membawa pembaca untuk menjawab terhadap permasalahan yang dihadapi sehingga lebih memperjelas fungsi  Al-Qur’an sebagai kitab yang memberi petunjuk. Penafsiran ayat-ayat al-Qur’an dengan menggunakanan metode Tafsir Maud}u’i> ini, memungkinkan seseorang untuk menolak anggapan adanya ayat-ayat yang bertentangan antara satu dengan yang lain karena setiap persoalan dibahas secara komprehensif sehingga hal ini dapat menjadi bukti bahwa ayat-ayat al-Qur’an sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan permasalahan yang muncul di masyarakat.
YASINAN DAN IMPLIKASINYA: MOTIVASI DAN PEMAHAMAN ANGGOTA MAJELIS TAKLIM TERHADAP SURAH YASIN DI KOTA MAKASSAR aisyah Arsyad
Jurnal Tafsere Vol 4 No 1 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1014.98 KB)

Abstract

Surah Yasin telah lama menjadi salah satu surah yang paling banyak dibaca oleh masyarakat muslim di di Indonesia sehingga muncullah yang namanya Yasinan. Yasinan merupakan gejala sosial yang merupakan hasil dari dialog kreatif agama  sebagaimana dipikirkan pemeluknya dengan realitas obyektif sesuai pemikiran dan pemahaman masyarakat. Namun demikian lemahnya dalil agama yang menunjukkan tentang membaca Surah Yasin pada hari dan kegiatan tertentu menjadikannya berada pada posisi antara syariat dan tradisi. Olehsebab itu tulisan ini menyoroti dua hal yaitu motivasi yang mendorong masyarakat untuk senantiasa mengamalkan surah Yasin dan persepsi masyarakat itu sendiri tentang surah Yasin.
ISYARAT ADANYA GRAVITASI BUMI (SUATU KAJIAN TAHLILI TERHADAP QS. AL-BAQARAH/2: 74 sunardi sunardi; Muhammad Sadik Sabry; Aisyah Arsyad
Jurnal Tafsere Vol 7 No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1091.188 KB)

Abstract

Artikel ini merupakan penelitian terhadap teori gravitasi bumi yang dikemukakan oleh ilmuwan barat. Teori gravitasi dikenal sebagai teori yang dicetuskan oleh Newton (seorang ahli fisikawan). Namun, Jauh sebelum fisikawan mengemukakan pendapat mereka mengenai teori atau hipotesis tentang gravitasi, sekitar 14 abad yang lalu sejatinya ayat al-Qur’an telah turun dan memberi isyarat adanya gravitasi bumi. Salah satu ayat al-Qur’an yang memberi isyarat adanya gaya gravitasi bumi adalah QS al-Baqarah/2: 74. Pada ayat tersebut, ayat yang menunjukkan gaya gravitasi bumi adalah lafal wa inna minha lama yahbitu min khasyyatillah.
Mattamalahoja Sebagai Tradisi Pengabulan Hajat Masyarakat Allakuang Sidrap (Kajian Living Qur’an Terhadap Qs Al-Insyirah/94 Dan Qs Al-Ikhlas/112) Najwah Arsyad; Muhsin Mahfudz; Aisyah Arsyad
Jurnal Tafsere Vol 11 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jt.v11i1.40107

Abstract

Artikel ini membahas mengenai tradisi lokal masyarakat Bugis di Desa Allakuang, yaitu tradisi mattamalahoja yang dilakukan untuk mendoakan hajat orang lain agar dapat segera terpenuhi. Tradisi mattamalahoja dilakukan dengan membaca QS al-Insyirah/94 sebanyak 99 kali dan QS al-Ikhlas/112 sebanyak 1000 kali sebagai pengantar. Keunikan dari tradisi mattamalahoja adalah syarat-syarat dari pelaksanaannya yaitu dianjurkannya untuk memperbaharui wudu, dilakukan di tempat yang hening dan hanya orang-orang yang dianggap alim yang bisa melakukannya. Dalam artikel ini penulis menggunakan jenis penelitian kualitatif melalui penelitian lapangan dengan sistem analisis data yang digunakan adalah analisis konten. Sumber datanya mengombinasikan antara hasil wawancara dengan penjelasan dari QS al-Insyirah/94 dan QS al-Ikhlas/112. Pada akhirnya, penulis menyimpulkan bahwa dalam tradisi mattamalahoja melalui QS al-Ikhlas/112 dan QS al-Insyirah/94 dapat mempengaruhi praktik dan pemahaman keberagamaan masyarakat dengan membentuk sikap dan keyakinan yang utuh dalam menjalankan tradisi mattamalahoja. Masyarakat dapat memahami pentingnya sikap tawakkal, kelapangan atau rasa lega, serta keesaan Allah swt. dalam memenuhi hajat. Sehingga dengan itu, akan membantu untuk mereka mendoakan orang lain dengan hati yang ikhlas dan menaruh harapan hanya kepada Allah swt. tempat meminta pertolongan.
Fithrah: Kajian Personal Grooming Zikriadi; Aisyah Arsyad; Ghalib
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 1 No. 1 (2023): Januari
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/isihumor.v1i1.153

Abstract

This research discusses the nature of self-appearance or (personal grooming) which includes the obligation to maintain cleanliness, both physically and mentally. This nature is attached to the individual. This research is included in the literature review, the object of this study is the verses of the Koran and epistemology related to the nature of personal grooming, the approach used is the thematic interpretation related to nature in the perspective of a literature review related to nature and cleanliness. The results of the study reveal that self-appearance is part of aesthetics in Islam or enters into the context of adab or ethics, as part of human nature. For this reason, self-appearance (personal grooming) is also part of the form of self-cleaning, as a manifestation of good luck.
Pernikahan Beda Agama dan Pengaruhnya dalam Kehidupan Rumah Tangga (Sudut Pandang Al-Qur'an) Ramli, Ramli; Abubakar, Achmad; Arsyad, Aisyah
Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 18, No. 4 : Al Qalam (Juli 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/aq.v18i4.3624

Abstract

Pernikahan adalah aksi sosial yang bernuansa biologis tetap menjadi perhatian, bahkan merupakan salah satu Sunnah Rasulullah Saw. Hal ini dijelaskan dalam banyaknya ayat Al-Qur'an dan Hadis atau riwayat dari Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan tentang pernikahan. Rasulullah memberikan bimbingan dan contoh nyata tentang masalah masalah pernikahan, yang tentu saja sebagai contoh tata cara dan aturan yang harus diikuti oleh seluruh umat Islam. Tetapi beberapa masalah yang kemudian muncul, ketika dihadapkan dengan kasus pernikahan beda agama, dan hal ini telah menuai perdebatan panjang sejak awal penafsiran al-Quran oleh generasi pertama umat Islam. Bahkan terus berlanjut hingga sekarang dizaman modern. Pada periode awal penafsiran Al-qur’an, perdebatan muncul di kalangan ulama tentang kelayakan Muslim untuk menikahi wanita ahli al-kitab . Dengan in, mayoritas para sahabat termasuk Umar bin Khatthab ra, Utsman bin ‘Affan ra, Ali bin Abi Thalib ra, dan juga Ibn ‘Abbas memungkinkan pernikahan (antara laki-laki Muslim dan perempuan ahli al-kitab) meskipun ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Namun menurut ‘Abdullah bin ‘Umar pernikahan tidak boleh terjadi pernikahan beda agama, karena pelanggaran yang dilakukan oleh ahli al-kitab telah mencapai tahap syirik, menyekutukan Allah. Namun demikian, generasi berikutnya (Tabi’in), lebih condong untuk mengambil pendapat pertama (pendapat mayoritas), karena dianggap lebih cocok dengan praktek zhahir al-nash. Dengan demikian, secara konseptual, pernikahan beda agama antara laki-laki Muslim dengan wanita ahli al-kitab bisa dilakukan. Tetapi dalam prakteknya, pelaksanaannya tetap harus memperhatikan beberapa aspek-aspek penting, yang berhubungan dengan tujuan pernikahan, baik yuridis-normatif dan pandangan masyarakat. Di antara beberapa hal yang mendesak untuk menjadi perhatian adalah perihal masa depan agama anak-anak mereka, serta tanggung (pria Muslim) sebagai kepala keluarga, di akhirat. Dan jika pihak-pihak yang potensial melakukan pernikahan beda agama ini benar-benar mempertimbangkan beberapa hal, mereka pasti tidak akan mudah untuk melakukan pernikahan beda agama.