Claim Missing Document
Check
Articles

Case Study: Combination of Ankle Pump Exercise and 30° Elevation in Foot Edema in Patients with Chronic Kidney Failure Gusty, Reni Prima; Rivaldi, Fahri; Harni, Siti Yuli
Media Karya Kesehatan Vol 8, No 2 (2025): Media Karya Kesehatan
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mkk.v8i2.66596

Abstract

Edema is a common complication in patients with chronic kidney disease (GGK) caused by fluid retention and electrolyte imbalance, leading to discomfort, limited mobility, and reduced quality of life. Non-pharmacological interventions such as a combination of ankle pump exercise and 30° leg elevation are known to reduce edema by improving venous and lymphatic return. This study aimed to determine the effectiveness of combining ankle pump exercise and 30° leg elevation in reducing the degree of edema in GGK patients. This case study employed an Evidence-Based Nursing (EBN) approach involving two GGK patients in the Male Internal Ward of RSUP Dr. M. Djamil Padang. The intervention patient received a combination of ankle pump exercise and 30° leg elevation along with pharmacological therapy (furosemide), while the control patient received only standard pharmacological therapy. The intervention was conducted for four consecutive days, three times daily, for 30 minutes per session. The degree of edema was assessed using the pitting edema method by Brodovicz before and after the intervention. The results showed a reduction in edema degree from degrees 3 to degrees 2 in the intervention patient, while the control patient experienced an increase from degrees 3 to degrees 4. This finding indicates that the combination of ankle pump exercise and 30° leg elevation effectively reduces edema through calf muscle contractions that promote venous return and gravitational effects that lower hydrostatic pressure in the lower limbs. This intervention is safe, inexpensive, easy to perform, and can be integrated into daily nursing practice. In conclusion, the combination of ankle pump exercise and 30° leg elevation is an effective, evidence-based, non-pharmacological nursing intervention to reduce the degree of edema in GGK patients and can serve as an alternative to improve patient comfort. Keywords: Chronic kidney disease, edema, ankle pumping exercise, 30° leg elevation.
OPTIMALISASI MOBILISASI DINI SEBAGAI PERCEPATAN PEMULIHAN PASIEN PASCA OPERASI: EDUKASI DI RUANG RAWAT INAP Reni Prima Gusty; Dewi Murni; Marsi Sekar Ningrum; Verra Oktavia
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 5 (2025): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i5.33721

Abstract

Abstrak: Mobilisasi dini merupakan intervensi bergerak sedini mungkin untuk mempercepat pemulihan dan mencegah komplikasi setelah paska operasi yang dimulai dari rumh sakit sampai ke rumah. Pengabdian masyarakat bertujuan memberikan pengetahuan, meningkatkan kemampuan pasien untuk melakukan mobilisasi sedini mungkin. Kegiatan ini melibatkan 10 orang pasien paska operasi dan keluarganya di Ruang Rawat Bedah di sebuah Rumah Sakit. Untuk menilai peningkatan keterampilan (skill) mitra, dapat digunakan kombinasi beberapa metode evaluasi yaitu pre-test dan post-test untuk menilai pengetahuan mitra sebelum dan sesudah diberikan edukasi, observasi langsung untuk menilai keterampilan mitra dalam mempraktikkan mobilisasi dini dan Checklist keterampilan digunakan sebagai instrumen standar untuk menilai langkah-langkah prosedur mobilisasi dini. Hasil didapatkan peningkatan pengetahuan baik dari 57 % menjadi 100% serta pasien mampu melakukan mobilisasi dini secara mandiri dengan sedikit bantuan. Hasil edukasi kesehatan terbukti meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mobilisasi dini pasien paska operasi. Melalui kegiatan ini penting untuk menyediakan modul yang bisa dijadikan panduan bagi pasien dan keluarga di rumah. keterlibatan keluarga menjadi poin penting untuk mempercepat pemulihan.Abstract: Early mobilization is an intervention that involves moving as early as possible to accelerate recovery and prevent post-operative complications, starting from the hospital and continuing at home. Community service aims to provide knowledge and improve patients' ability to mobilize as early as possible. This activity involves 10 post-operative patients and their families in the Surgical Ward of a hospital. The method used was to provide information through education, demonstrations, and redemonstrations of early mobilization actions for post-operative patients, targeting both 10 patients and their families. The results showed an increase in knowledge from 57% to 100%, and patients were able to perform early mobilization independently with minimal assistance. The outcomes of health education demonstrate a noteworthy influence on enhancing patients' understanding and proficiency concerning the need of prompt mobilisation following surgery. Through this activity, it is important to provide modules that can serve as a guide for patients and families at home. Family involvement is a crucial point for accelerating recovery.
PENGUATAN PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN ANGGOTA PALANG MERAH REMAJA DALAM TINDAKAN PEMBIDAIAN PADA P3K Gusty, Reni Prima; Fajria, Lili; Monica, Monica; Arlia, Nelfi
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 6 (2025): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i6.35724

Abstract

Abstrak: Pertolongan pertama merupakan keterampilan dasar penting bagi siswa, khususnya anggota Palang Merah Remaja (PMR), agar mampu memberikan bantuan awal saat terjadi kegawatdaruratan di sekolah. Di SMAN 16, keterampilan tersebut belum optimal akibat kurangnya kaderisasi dan minimnya pengulangan materi, terutama dalam teknik pembidaian. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa PMR melalui pelatihan pertolongan pertama berfokus pada pembidaian. Metode yang digunakan mencakup teori dan praktik melalui pre-test, pemberian materi, demonstrasi, simulasi keterampilan, serta post-test untuk evaluasi hasil belajar. Sebanyak 30 siswa PMR menjadi mitra kegiatan. Evaluasi dilakukan dengan tes tertulis dan observasi praktik. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada pengetahuan (rata-rata nilai naik dari 70 menjadi 96) dan keterampilan pembidaian yang lebih sistematis serta sesuai standar. Peserta juga menunjukkan peningkatan kepercayaan diri dan kesiapan menjadi kader kesehatan sebaya. Pelatihan ini efektif meningkatkan kapasitas siswa dan direkomendasikan untuk dilaksanakan secara berkelanjutan di sekolah.Abstract: First aid is an essential basic skill for students, especially members of the Indonesian Red Cross Youth (PMR), to be able to provide initial assistance in case of emergencies at school. At SMAN 16, these skills are not yet optimal due to a lack of training and minimal repetition of material, especially in splinting techniques. This service activity aims to improve the knowledge and skills of PMR students thru first aid training focused on splinting. The methods used include theory and practice thru pre-tests, material delivery, demonstrations, skills simulations, and post-tests to evaluate learning outcomes. A total of 30 PMR students partnered for the activity. Evaluation is conducted thru written tests and practical observation. The results showed a significant improvement in knowledge (average score increased from 70 to 96) and more systematic and standardized splinting skills. Participants also showed increased confidence and readiness to become peer health educators. This training is effective in increasing student capacity and is recommended for continuous implementation in schools.
PEMERIKSAAN KESEHATAN SEBAGAI UPAYA DETEKSI HIPERTENSI PADA REMAJA Lenggogeni, Devia Putri; Afriyanti, Esi; Gusty, Reni Prima; Oktarina, Elvi; Muliantino, Mulyanti Roberto; Simandalahi, Tiurmaida; Krisdianto, Bobby Febri; Rahman, Dally
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 1 (2025): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i1.27848

Abstract

Abstrak: Hipertensi semakin sering terjadi pada kalangan remaja dan berisiko meningkatkan kemungkinan penyakit kardiovaskular serta komplikasi kesehatan di kemudian hari. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mendeteksi tingkat risiko hipertensi pada remaja melalui pemeriksaan kesehatan di sekolah, serta memberikan informasi mengenai hipertensi pada siswa SMAN 9 melalui edukasi kesehatan. Kegiatan ini melibatkan 66 siswa di SMAN 9 Padang. Metode pelaksanaan meliputi pemeriksaan kesehatan dan edukasi kesehatan. Dari hasil pemeriksaan tekanan darah, ditemukan bahwa 50 siswa (76%) memiliki tekanan darah sistolik di bawah 120 mmHg, namun masih ada 5 siswa (7,3%) dengan tekanan sistolik di atas 129 mmHg. Untuk tekanan darah diastolik, 58 siswa (88%) berada di bawah 80 mmHg, sedangkan 4 siswa (5%) memiliki tekanan diastolik lebih dari 84 mmHg. Hasil edukasi kesehatan menunjukkan ada pengaruh yang signifikan terhadap pengetahuan siswa mengenai penyakit hipertensi dengan p – value < 0.005. Melalui kegiatan ini, pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin dapat ditekankan sebagai langkah deteksi dini hipertensi pada remaja, sekaligus meningkatkan kesadaran dan mendorong penerapan langkah-langkah pencegahan.Abstract: Hypertension is becoming more frequently seen among adolescents, potentially increasing the risk of cardiovascular disease and health complications later in life. This community outreach initiative aimed to assess the prevalence of hypertension risk among adolescents via health screenings in schools and to identify hypertension-related risk factors. The activity included 66 students from SMAN 9 Padang. Methods consisted of health assessments and educational sessions. Blood pressure results showed that 50 participants (76%) had systolic blood pressure below 120 mmHg, while 5 participants (7.3%) had systolic pressure exceeding 129 mmHg. For diastolic pressure, 58 participants (88%) had readings below 80 mmHg, with 4 participants (5%) showing diastolic pressure above 84 mmHg. The results of health education indicate a significant impact on students' knowledge about hypertension, with a p-value < 0.005. This initiative highlights the value of regular health screenings as an early detection measure for hypertension in adolescents, fostering awareness and encouraging preventive practices. 
Pengetahuan dan Keterampilan Manajemen Pernapasan Sebagai Prediktor Rawat Inap Ulang Dini pada Pasien PPOK Gusmutia Gusmutia; Reni Prima Gusty; Holiness Berti
Jurnal Ners Vol. 9 No. 4 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i4.50995

Abstract

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan masalah kesehatan global dengan angka eksaserbasi dan rawat inap ulang yang tinggi. Rawat inap ulang dini setelah perawatan rumah sakit sering kali mencerminkan kurangnya kemampuan manajemen diri, terutama dalam aspek pengetahuan dan teknik pernapasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pengetahuan tentang PPOK dan keterampilan manajemen pernapasan merupakan prediktor rawat inap ulang dini pada pasien PPOK. Desain penelitian analitik potong lintang dengan tindak lanjut prospektif selama 30 hari pasca discharge dilakukan pada 50 pasien PPOK. Data pengetahuan dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur, sedangkan keterampilan manajemen pernapasan (pursed-lip breathing dan pernapasan diafragma) dinilai dengan lembar observasi. Analisis regresi logistik digunakan untuk menentukan faktor prediktor. Rawat inap ulang dini terjadi pada 62 % pasien. Pasien dengan pengetahuan rendah memiliki risiko lebih tinggi mengalami rawat inap ulang (OR= 29,1; 95% CI: 5,37-158; p = 0,000). Pasien dengan keterampilan manajemen pernapasan buruk juga berisiko lebih besar mengalami rawat inap ulang (OR= 2,72; 95% CI: 0,41-18; p = 0,30). Kombinasi pengetahuan rendah dan keterampilan buruk menunjukkan efek prediktif paling kuat (OR=26,7 ; 95% CI: 5-141; p <0,001). Pengetahuan yang terbatas dan keterampilan manajemen pernapasan yang kurang memadai secara signifikan memprediksi rawat inap ulang dini pada pasien PPOK. Intervensi keperawatan perlu memprioritaskan edukasi pasien dan pelatihan teknik pernapasan untuk menekan angka eksaserbasi dan rawat inap ulang.
Peran Pengetahuan dan Keterampilan Keluarga Dalam Mengurangi Risiko Ulkus Dekubitus Pasien Pasca Stroke: Analisis Mediator Keterampilan Isra Surya Seprina; Reni Prima Gusty; Tiurmaida Simandalahi; Leni Merdawati
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53610

Abstract

Stroke dapat menyebabkan pasien berisiko tinggi mengalami ulkus dekubitus, yang memerlukan perhatian khusus dari keluarga dalam perawatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran pengetahuan dan keterampilan keluarga dalam mengurangi risiko ulkus dekubitus pada pasien pasca stroke, serta menguji apakah keterampilan keluarga memediasi hubungan antara pengetahuan dan risiko tersebut. Metode penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan subjek 60 keluarga yang merawat pasien stroke di rumah sakit sampai ke rumah. Data dikumpulkan menggunakan instrumen Pressure Ulcer Prevention Protocol Interventions untuk keterampilan keluarga, Beckman Development Knowledge Scale untuk pengetahuan, dan Braden Scale untuk mengukur risiko ulkus dekubitus. Analisis data dilakukan dengan regresi jalur untuk menguji hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan pengasuh memiliki pengaruh positif signifikan terhadap keterampilan pengasuhan keluarga (β = 0,256, p = 0,007), yang menjelaskan 12% varians dalam keterampilan (R² = 0,12). Keterampilan pengasuhan keluarga berpengaruh signifikan terhadap penurunan risiko ulkus dekubitus (β = 0,244, p = 0,019), yang menjelaskan 9,2% varians dalam risiko (R² = 0,092). Pengetahuan tidak memiliki pengaruh langsung terhadap risiko ulkus dekubitus (β = -0,076, p = 0,332), namun keterampilan keluarga memediasi hubungan antara pengetahuan dan risiko tersebut secara signifikan. Penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan keterampilan keluarga, yang dipengaruhi oleh pengetahuan, dapat mengurangi risiko ulkus dekubitus pada pasien stroke.
Hambatan Kemampuan Individu Dalam Menjalankan Manajemen Diri Pasca Stroke: Studi Kualitatif Rhiana Eviranita Sariani; Reni Prima Gusty; Fitri Mailani
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.55540

Abstract

Stroke merupakan penyakit kronis yang memerlukan manajemen diri berkelanjutan untuk mencegah kekambuhan dan komplikasi lanjutan. kini menjadi salah satu tantangan besar dalam dunia kesehatan. Secara global, terdapat 93,8 juta penyintas stroke dan 11,9 juta kasus baru, dengan 87% di antaranya adalah stroke iskemik (CDC, 2024). Namun, tidak semua pasien pasca stroke mampu menjalankan manajemen diri secara optimal di rumah. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi hambatan kemampuan pasien pasca stroke dalam menjalankan manajemen diri. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kualitatif dengan pendekatan wawancara mendalam semi-terstruktur pada enam pasien pasca stroke rawat jalan di Poli Saraf Rumah Sakit Universitas Andalas. Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik Braun & Clarke. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga tema utama, yaitu hambatan pemahaman manajemen diri, hambatan literasi kesehatan serta hambatan kemampuan fungsional Tubuh dalam melakukan aktifitas fisik. Ketiga hambatan ini memengaruhi kemampuan pasien dalam menjalankan pengobatan, rehabilitasi, modifikasi gaya hidup, dan pencegahan kekambuhan. Penelitian ini menegaskan pentingnya intervensi edukasi dan rehabilitasi berkelanjutan untuk meningkatkan kemampuan manajemen diri pasien pasca stroke di rumah.
WhatsApp-Based Audiovisual Education Improves Knowledge and Attitudes Toward Hypertension Prevention Among At-Risk Adolescents Putri Anisa Fazira; Reni Prima Gusty; Mulyanti Roberto Muliantino
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.57428

Abstract

Abstrak Hipertensi pada usia dewasa muda sering berawal dari perilaku tidak sehat yang terbentuk sejak remaja. Kondisi ini menegaskan pentingnya strategi pencegahan dini guna menurunkan risiko di masa mendatang. Perkembangan teknologi digital memberikan peluang baru dalam promosi kesehatan, salah satunya melalui pendidikan audiovisual berbasis WhatsApp. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas pendidikan audiovisual berbasis WhatsApp terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap pencegahan hipertensi pada remaja dengan riwayat keluarga hipertensi. Desain penelitian menggunakan quasi-eksperimental dengan rancangan pretest-posttest control group. Sebanyak 66 remaja berusia 15–18 tahun direkrut dan dibagi rata menjadi kelompok intervensi dan kontrol. Kelompok intervensi memperoleh pendidikan audiovisual dua kali seminggu selama dua minggu melalui WhatsApp, disertai panggilan tindak lanjut dan diskusi chat grup. Kelompok kontrol hanya menerima informasi konvensional.. Analisis data dilakukan dengan uji univariat dan bivariat uji-t berpasangan dan independen. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan pengetahuan (Δ mean=3,909; p<0,001) dan sikap (Δ mean=13,939; p<0,001) pada kelompok intervensi. Pada kelompok kontrol, tidak terdapat peningkatan bermakna pengetahuan (Δ mean=0,545;p=0,068>0,05), namun sikap meningkat signifikan (Δ mean=0.848;p=0,028<0,05) serta memiliki perbedaan yang signifikan pada kedua kelompok dengan p<0,001. Kesimpulannya, pendidikan audiovisual berbasis WhatsApp terbukti efektif meningkatkan pengetahuan dan sikap remaja berisiko hipertensi. Strategi ini direkomendasikan sebagai inovasi promosi kesehatan digital berbasis komunitas remaja. Kata Kunci: remaja,audiovisual,knowledge,hipertensi,edukasi Abstract Hypertension in young adults often originates from unhealthy behaviors developed during adolescence. This condition underscores the importance of early prevention strategies to reduce future risks. The development of digital technology provides new opportunities in health promotion, one of which is through WhatsApp-based audiovisual education. This study aims to evaluate the effectiveness of WhatsApp-based audiovisual education on improving knowledge and attitudes toward hypertension prevention in adolescents with a family history of hypertension. The research design uses a quasi-experimental approach with a pretest-posttest control group design. A total of 66 adolescents aged 15–18 were recruited and evenly divided into intervention and control groups. The intervention group received audiovisual education twice a week for two weeks via WhatsApp, accompanied by follow-up calls and group chat discussions. The control group only received conventional information. Data analysis was performed using univariate and bivariate tests, including paired and independent t-tests. The research results showed a significant increase in knowledge (Δ mean=3.909; p<0.001) and attitudes (Δ mean=13.939; p<0.001) in the intervention group. In the control group, there was no significant increase in knowledge (Δ mean=0.545; p=0.068>0.05), but attitudes increased significantly (Δ mean=0.848; p=0.028<0.05), and there were significant differences between the two groups with p<0.001. In conclusion, WhatsApp-based audiovisual education has proven effective in improving the knowledge and attitudes of adolescents at risk of hypertension. This strategy is recommended as an innovation in community-based digital health promotion for adolescents. Kata Kunci: Adolescent, audiovisual, knowledge, hypertension, education
Pengaruh Terapi Relaksasi Otot Progresif Terhadap Tekanan Darah Pada Remaja Hipertensi Aulia Asman; Reni Prima Gusty; Dally Rahman
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.57929

Abstract

Perubahan pola makan dan kebiasaan hidup modern telah menggeser pola kejadian hipertensi dari kelompok lansia ke remaja, akibat peningkatan konsumsi makanan tinggi garam, lemak, dan gula serta gaya hidup. Penatalaksanaan hipertensi tidak hanya mencakup terapi farmakologis, tetapi juga melibatkan terapi non farmakologis, termasuk terapi komplementer. Salah satu terapi komplementer yang tidak memiliki efek samping dan mudah dilakukan oleh siapa saja serta efisien. Terapi relaksasi otot progresif juga memiliki prinsip yaitu kontraksi dan relaksasi otot. Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi experimental pretest- posttest with kontrol group design, jumlah sampel adalah 20 orang dibagi menjadi kelompok kontrol (N=10) dan perlakuan (N=10). Hasil uji Mann Whitney menunjukkan tekanan sistolik pada sampel setalah diukur sistolik (p value = 0.031) dan sedangkan diastoliknya (p value =0.261). Terapi relaksasi otot progresif berpengaruh terhadap perubahan tekanan darah sistolik tetapi tidak berpengaruh pada perubahan tekanan darah diastolik pada remaja dengan hipertensi.