Claim Missing Document
Check
Articles

Edukasi Osteoarthritis Lutut Pada Komunitas Lansia di Posyandu Lansia Timuran Setabelan Surakarta Evita Sari; Isnaini Herawati; Yusuf Arianto
Cakrawala: Jurnal Pengabdian Masyarakat Global Vol. 3 No. 2 (2024): Cakrawala: Jurnal Pengabdian Masyarakat Global
Publisher : Universitas 45 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30640/cakrawala.v3i2.2261

Abstract

Osteoarthritis is one of the contributors to the state of living with musculoskeletal disability. Because osteoarthritis is more common in older people with a typical onset of the age of 40-60 years. Although there are some cases of adolescents or athletes experiencing osteoarthritis. Data at the physiotherapy poly at the Setabelan health center is obtained per month there are 28 cases and per year 246 cases come to the physiotherapy room. This is only a case recorded and reported at the same health center, while according to Osteoarthritis data in Indonesia reaches 65% of the entire number of elderly in Indonesia. This data shows that osteoarthritis sufferers are still high and even occupy the peak of conditions suffered by the elderly in Indonesia. Efforts to prevent and control osteoarthritis knee disorders must be intensified again among the elderly in the same area. Through counseling at every elderly posyandu in the setabelan area, Surakarta. In the community, especially the elderly, can find out activities that worsen complaints and activities that can reduce complaints of knee osteoarthritis
Management Fisioterapi Pada Post Ligament Anterior Cruciatum Recontruction (ACLR) Fase 1 Di RSD KRMT Wongsonegoro, Semarang: Case Report Raveena Wulan Octavia; Isnaini Herawati; Halim Mardianto
jurnal ABDIMAS Indonesia Vol. 2 No. 1 (2024): Maret : Jurnal ABDIMAS Indonesia
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/jurai.v2i1.1002

Abstract

Background: The ACL is a ligament in the knee joint which functions to stabilize the tibia when moving forward and in rotational movements of the knee joint. Treatment for Anterior Cruciate Ligament (ACL) injuries can be done with several procedures, namely reconstructive and conservative. ACL reconstruction is a surgical procedure that replaces the injured ACL with a tendon graft because the ACL does not heal after injury due to insufficient vascularization. Common conditions after undergoing ACL reconstruction surgery are complication problems such as experiencing knee stiffness which includes swelling, pain, limited Range of Motion (ROM), especially in extension, decreased muscle strength and decreased proprioception. Objective : To determine the effectiveness of providing exercise in handling post-operative cases of phase 1 ACL surgery. Method: This study used the Case Report method which was carried out at RSD KRMT Wongsonegoro, Semarang in January 2024. The patient was a 20 year old male, diagnosed with Post Op. ALCR phase 1. Results & Discussion: After being given physiotherapy intervention for 3 meetings. With each therapy, it appears that there continues to be improvement. Can increase joint range of motion, increase knee flexor muscle strength, reduce perceived pain, and change segment circumference. Results: Based on the research that has been carried out, the results showed that providing physiotherapy intervention can be effective in phase 1 ACLR cases.
Education and Prevention to Reduce the Risk of Stroke in Hypertension Sufferers at Upt Puskesmas Colomadu-1 Herawati, Isnaini; Rahayu, Annisa Dwi; Anam, Maulana Chairul; Nita, Siska Alfia; Cahyaningsih, Arum; Wardhana, Muhamad Fikry Abrar Yoga; Pristianto, Arif
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 18th University Research Colloquium 2023: Bidang Pengabdian Masyarakat
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengabdian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis kondisi dan permasalahan terkait risiko terjadinya stroke pada penderita hipertensi di UPT Puskesmas Colomadu 1. Pendekatan yang digunakan adalah melalui upaya edukasi yang mengaplikasikan konsep preventif yang dikemas dalam bentuk presentasi interaktif kepada penderita, sehingga diharapkan penderita hipertensi dapat lebih memahami materi yang telah disampaikan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pendekatan ini berhasil mencapai tujuan yang ditetapkan, dengan partisipasi peserta mencapai tingkat yang baik dari total 70 orang yang terlibat. Pengabdian ini memberikan wawasan yang lebih mendalam mengenai risiko terjadinya stroke pada penderita hipertensi dan memberikan solusi melalui pendekatan edukasi yang efektif dan berkelanjutan. Dengan demikian, pengabdian ini memiliki keterlibatan penting dalam bidang kesehatan, khususnya dalam upaya pencegahan dan penanganan risiko stroke pada penderita hipertensi di UPT Puskesmas Colomadu 1. Melalui metode edukasi yang terstruktur dan interaktif, penderita hipertensi dapat meningkatkan pemahaman tentang risiko stroke serta belajar cara mengurangi risiko yang mereka hadapi. Selain itu, pengabdian ini juga menekankan pentingnya mengembangkan program pendidikan kesehatan yang menyeluruh di UPT Puskesmas Colomadu 1 guna meningkatkan pemahaman dan pengetahuan penderita hipertensi mengenai kesehatan kardiovaskular. Dengan demikian, diharapkan penderita hipertensi dapat memiliki akses yang lebih baik terhadap informasi, sumber daya, dan dukungan yang diperlukan untuk menjaga kesehatan jantung mereka. Hasil dan pembahasan pengabdian ini diharapkan dapat mendorong implementasi kegiatan serupa di puskesmas lain dan berkontribusi dalam meningkatkan kualitas hidup penderita hipertensi.
Manajemen Fisioterapi pada Post Partum Sectio Caesarea: A Case Study Chafsoh, Zannuba Alifah; Herawati, Isnaini; Muflihah, Nurul
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2024: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Operasi Caesar adalah prosedur pembedahan yang dilakukan untuk memperlancar persalinan bayi melalui sayatan yang dibuat pada perut ibu yang direkomendasikan dalam situasi di mana persalinan normal dapat menimbulkan risiko bagi ibu, bayi, ataupun keduanya. Menurut WHO, pada tahun 2021 operasi Caesar meningkat secara global dan kini mencakup lebih dari 1 dari 5 (21%) seluruh kelahiran. Fisioterapi dapat berperan dalam meningkatkan status fungsional pada kondisi pasca SC dengan mobilisasi. Latihan gerakan dapat mengurangi nyeri, meningkatkan kekuatan otot, menyembuhkan luka, dan kegiatan fungsional yang mandiri Case Presentation: Seorang pasien berusia 26 tahun dengan G1P0A0 usia kandungan 39+1 minggu, pada hari Selasa 16 Januari 2024 pukul 00.00 WIB datang ke RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta setelah mendapat rujukan dari RS Queen Latifa karena sudah mengalami ketuban pecah sejak Senin sore namun belum terjadi pembukaan, mengalami preeklamsi, dan perut terasa kencang. Di RS Queen Latifa pasien di USG pinggulnya sempit. Kemudian di PKU dilakukan pacu tapi masih pembukaan 2. Setelah itu, dilakukan operasi sesar pada hari Rabu 17 Januari 2024 pukul 7 pagi. Setelah operasi pasien mengeluhkan nyeri di bagian perut dan nyeri semakin terasa saat bergerak. Saat ini pasien mengeluhkan belum mampu duduk karena masih merasakan nyeri Management and Outcome: subjek diberikan latihan breathing exercise setiap 2 jam dengan 8 kali repetisi untuk mengurangi nyeri, ankle pumping dilakukan sebanyak 8 repetisi setiap hari untuk menurunkan oedem pada kedua kaki pasien, pelvic floor exercise dilakukan sebanyak 8 repetisi tiap 2 jam yang bertujuan untuk mencegah terjadinya pelvic floor dysfunction, latihan mobilisasi yang diberikan setiap 3 jam sekali untuk meningkatkan kemampuan fungsional pasien. Setelah diberikan latihan, didapatkan hasil penurunan nyeri gerak dari skor 5 menjadi skor 4, adanya penurunan oedem dari 52 cm menjadi 50 cm pada ankle dextra dan dari 52 cm menjadi 49 cm pada ankle sinistra terdapat peningkatan kemampuan fungsional dari memerlukan bantuan sedang menjadi memerlukan bantuan minimal. Conclusion: pemberian intervensi Fisioterapi berupa breathing exercise, ankle pumping, pelvic floor exercise,dan latihan mobilisasi dapat mengurangi nyeri pasca operasi, mengurangi udem, dan meningkatkan kemampuan fungsional pasien.
Manajemen Fisioterapi pada Tuberculosis Paru disertai Efusi Pleura Organisasi: A Case Study Latifah, Alifia Putri; Herawati, Isnaini; Utami, Mulatsih Nita
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2024: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Tuberkulosis merupakan penyakit multiorgan yang biasanya terjadi di paru-paru dan disebabkan oleh infeksi Myobacterium tuberculosis (TBC). Tuberculosis paru dapat menyebabkan permasalahan pada pernapasan obstruktif kronis seperti mengi, batuk, produksi sputum, dispnea, dan penurunan fungsional paru. Obstruksi aliran udara disebabkan karena proses penyembuhan abnormal dan respon inflamasi jangka panjang seperti penebalan pleura. Penebalan pleura residual setelah efusi TBC menjadi komplikasi yang umum, namun dampaknya untuk fungsi paru-paru dan morbiditasnya tidak diketahui. Penebalan dan kalsifikasi pleura dapat berdampak serius pada fungsi pernapasan serta kualitas hidup. Terapi nebulizer dapat digunakan pada penderita penyakit pernapasan obstruksi kronis, reaksi alergi, dan infeksi paru. Breathing exercise merupakan metode fisioterapi pernapasan yang efektif terutama dalam rehabilitasi paru. Breathing control dan Pursed lip breathing merupakan bagian dari breathing exercise. Breathing control dapat membantu untuk rileksasi dan pursed lip breathing yakni latihan dengan teknik menghembuskan napas disertai mengerucutkan bibir, dapat meningkatkan saturasi oksigen dan menurunkan respiratory rate sehingga dapat mengurangi sesak. Case Presentation: Pasien berusia 78 tahun mengeluhkan demam, sesak, dan batuk berdahak berwarna kuning. Pasien memiliki riwayat TB paru aktif pada tahun 2021. Pada bulan November 2023 pasien didiagnosis TB paru lama aktif dengan efusi pleura kiri organisasi. Nilai sesak yang diukur dengan borg scale didapatkan skor 4, respiratory rate 26x/menit, saturasi oksigen 92%, mMRC dengan skor 4. Ekspansi thoraks pada axilla 2 cm, ICS 4 2 cm, processus xipoid 3 cm. Management and Outcome: Terapi nebulizer dan breathing exercise (breathing control dan pursed lip breathing) diberikan 3 kali sehari dan dilakukan evaluasi 3 kali dalam sehari. Breathing exercise dilakukan 8 repetisi, 2 set. Terdapat peningkatan saturasi oksigen dari 92% menjadi 95%, peningkatan ekspansi sangkar thoraks pada ICS 4 dari 2 cm menjadi 2.5 cm. Conclusion: Pemberian intervensi fisioterapi dengan nebulizer dan breathing exercise dapat meningkatkan ekspansi sangkar thoraks dan saturasi oksigen. Namun perkembangannya tergantung pada kondisi pasien. Sesi fisioterapi dan observasi perlu dilakukan lebih lama agar dapat dapat diketahui perkembangan dan pengaruh intervensi tersebut dalam jangka panjang.
Manajemen Disfungsi Otot Dasar Panggul pasca Persalinan Normal dengan Intervensi DNS: Case Study Almadani, Zahra; Herawati, Isnaini; Setiawan, Galih Adhi Isak
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2024: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Persalinan normal meningkatkan risiko disfungsi dasar panggul pada wanita. Lebih dari 46% wanita yang memiliki keluhan disfungsi dasar panggul memiliki riwayat persalinan normal. Wanita dengen riwayat persalinan normal memiliki angka kejadian 58% dibandingkan mereka yang melakukan persalinan dengan caesar (43%). Dalam upaya mengurangi keluhan terkait disfungsi dasar panggul pasca persalinan normal, DNS (Dynamic Neuromuscular Stabilization) menjadi salah satu metode fisioterapi yang baru-baru ini berkembang. Case Presentation: Subjek penelitian berusia 30 tahun dengan G3P2A0 yang melakukan persalinan secara normal (post-partum spontan) dengan usia kehamilan 39 lebih 4 minggu. Anak dilahirkan secara manual aid dengan kondisi presentasi bokong (presbo). Pasien memiliki riwayat persalinan caesar 4 tahun yang lalu. Saat ini pasien mengeluhkan ketidaktuntasan dalam buang air kecil dan frekuensi buang air kecil yang cukup sering. Management and Outcome: Subjek diberikan latihan DNS selama 2 hari. Hasilnya, latihan ini mampu memberikan peningkatan dalam mengurangi ketidaktuntasan dan frekuensi buang air kecil pada ibu pasca persalinan normal. Discussion: Hasil study ini menunjukan efektifitas dari latihan dengan pendekatan DNS dalam penurunan masalah disfungsi dasar panggul. Pada total skor PDFI-20 terdapat penurunan dari 168 menjadi 150, terutama pada aspek saluran kemih yang turun menjadi 75 dari 93. Meskipun tidak terdapatnya peningkatan kontraksi otot dasar panggul yang diukur menggunakan MOS Conclusion: Manajement fisioterapi pada kasus disfungsi dasar panggul dengan metode DNS mampu memberikan mengurangi ketidaktuntasan dan frekuensi buang air kecil pada ibu pasca persalinan normal.
Manajemen Fisioterapi pada Post PCI et Causa CAD 3VD: Studi Kasus Nurhayati, Kofifah Indri; Herawati, Isnaini; Pratama, I Putu Aditya
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2024: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penndahuluan : Coronary Artery Disease (CAD) merupakan suatu gangguan fungsi jantung yang disebabkan karena adanya penyempitan dan tersumbatnya pembuluh darah jantung. Akibatnya proses pembuluh darah arteri menyempit dan mengeras, sehingga jantung kekurangan pasokan darah yang kaya oksigen. Kondisi ini dapat mengakibatkan perubahan pada berbagai aspek, baik fisik, psikologis, maupun sosial yang berakibat pada penurunan kapasitas fungsional jantung dan kenyamanan. Presentasi Kasus: Pasien laki-laki usi 76 tahun dengan diagnosa Post PCI et causa CAD datang ke fisioterapi untuk melakukan rehabilitasi jantung fase 2 pasca operasi sekitar satu bulan yang lalu. Manajemen dan Hasil: Program rehabilitasi fese 2 diberikan kepada pasien dengan tujuan untuk meningkatkan kemandirian dan meningkatkan aktifitas fungsional pasien. Fisioterapis memberikan latihan aerobic berdasarkan Panduan Rehabilitasi Kardiovaskuler (PERKI). Latihan diawali dengan pemanasan selama 10 menit, dilanjutkan dengan latihan inti dengan treadmill. Pada pertemuan pertama kecepatan 3,8 km/jam dengan jarak 900 meter dan waktu selama 15 menit. Dilakukan selama 2 sesi, pertemuan kedua kecepatan 4,1 km/jam dengan jarak 1000 meter dan waktu selama 15 menit. Dilakukan selama 2 sesi, dan pertemuan ketiga kecepatan 4,4 km/jam dengan jarak 1100 meter dan waktu selama 15 menit. Dilakukan selama 2 sesi. Diakhiri dengan pendinginan 10 menit. Hasil yang diperoleh dalam kajian ini, terdapat peningkatan jarak 6MWT pasien mampu berjalan 479 meter dengan skor 5,2 METs dan HRWSI 1,03 setelah dilakukan program fisioteropi. Kesimpulan : Pada pasien program rehabilitasi kardiovaskuler fase 2 setelah diberikan latihan terjadi peningkatan kapasitas aerobic dari skor METs sebesar 3,56 menjadi 5,2.
PULMONARY REHABILITATION FOR CHRONIC OBSTRUCTIVE PULMONARY DISEASE: A CASE REPORT Ajitirtiono, Ramadanu; Herawati, Isnaini
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2021: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.642 KB)

Abstract

Introduction: Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD) defined chronic obstructive pulmonary disease (COPD) as a common, preventable, and treatable disease characterized by persistent respiratory symptoms and airflow limitation. In COPD, the respiratory muscles remain contracted for prolonged periods to meet the increased demand of ventilatory flow causing hyperinflation and increasing load on the respiratory muscle. Pulmonary rehabilitation (PR) is defined as a comprehensive individualized intervention provided by an interdisciplinary team that targeting COPD patients to achieve the maximal level of independence, functioning and, autonomy. PR is a key component of managing COPD because it has been shown to improve exercise capacity, dyspnea, and quality of life in patients with moderate to severe COPD. Physical therapy is a part of PR that can improve multiple aspects of physical function and the performance of functional activities in COPD Patients Case Presentation: A 56-year-old female patient with a longstanding history of asthma, was referred to Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Bandung due to shortness of breath. The shortness of breath worsened three days ago when performing activities and was not affected by changes in the body position. The shortness of breath limits the patient's ability to walk more than 50 m. The patient must stop and rest for a while before being able to walk again Management and Outcome: A pulmonary rehabilitation program twice a week in 3 weeks was given which consists of breathing exercise, respiratory muscle stretching, and aerobic training. After 6 sessions of physical therapy, there is improvement in chest expansion, 6MWT distance, mMRC score, and CAT score. Discussion: Patients with chronic obstructive pulmonary disease usually having shortness of breath, reduced functional capacity, and quality of life. Evidence suggests that PR is an effective intervention for patients with COPD. Expected benefits from physical therapy are reduced dyspnea level, improved exercise tolerance, and maximized patient’s health-related quality of life. Conclusion: A pulmonary rehabilitation program consisting of breathing exercise, respiratory muscle stretching, and aerobic training was able to improve chest expansion, improve 6MWT distance, reducing mMRC dyspnea scale, and reducing CAT score.
EXERCISE IN PATIENTS WITH POST OPERATIVE RECONSTRUCTION ACL: A CASE STUDY Mursyida, Luthfa; Herawati, Isnaini
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2021: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.347 KB)

Abstract

Introduction: The ACL is a break or tear in the ligaments in the knee joint. ACL injuries usually cause functional impairment and instability of the knee. The main problems after ACL injury are deficits or weakness of knee muscle strength, joint instability, and proprioception deficits. The annual incidence of ACL injuries increased by 43% (from 54.0 to 77.4 per 100,000 population), and 74% among those under 25 years of age (from 52.6 to 91.4 per 100,000 population). Injuries are more common in men than women. One of the interventions that can be given is exercise. Exercise is able to reduce the value of pain, activate the muscles in the injured leg, increase knee flexion, and improve the patient's functional ability. Case Presentation: A 20-year-old man came to the clinic complaining of pain, aches, and difficulty in bending his right knee in full ROM. sometimes felt in the morning. In addition, pain increases when walking long distances and going up and down stairs, complaints arise after suffering an injury while playing soccer. Then the patient underwent ACL reconstruction on February 3, 2021 and underwent physiotherapy on February 17, 2021. Management and Outcome: Exercise is one of the physiotherapy management that can be done on post-operative reconstruction ACL patients to reduce pain, activate the muscles in the injured leg, increase knee flexion, and improve the patient's functional ability. Discussion: Patients with postoperative reconstruction usually complain of pain, weakness of the injured leg muscles, difficulty in flexing the knee in full ROM, and others. This study states that exercises in the form of stretching, strengthening, and balance can reduce pain scores, activate the muscles in the injured leg, increase knee flexion, and improve the patient's functional ability. Conclusion: Exercises for postoperative ACL reconstruction patients in the form of stretching, strengthening, and balance can be used as a physiotherapy management for ACL postoperative reconstruction.
THE EFFECT OF NEUROMUSCULAR ELECTRICAL STIMULATION (NMES) AND PROPRIOCEPTIVE NEUROMUSCULAR FACILITATION (PNF) IN INCREASING EXTREMITY MUSCLE STRENGTH OF HEMIPARESIS DEXTRA PATIENT: A CASE STUDY Chodijah, Siti; Herawati, Isnaini
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2021: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.157 KB)

Abstract

Introduction: Stroke is the second leading cause of death and third disability in the world. Data from the World Stroke Organization shows that every year there are 13.7 million new cases of stroke and about 6.7 million deaths that occur due to stroke. Stroke causes paralysis that worsens, and creates limitations in contractile or non-contractile tissue, and reduces range of motion in joints. Case Presentation: A case study on a 68-year-old man who had his first stroke in August 2020 and found a decrease in muscle strength, pain at the end of movements of shoulder, elbow and knee flexion along with decreased functional ability in the right extremity. Management and outcome: The patient received a therapeutic approach with NMES and PNF for 4 times for 2 weeks. This programs could improve muscle strength and decreased the level of pain among men with Hemiparesis Dextra Discussion: The study states that NMES appears to be an effective physical rehabilitation treatment to initiate skeletal muscle anabolic processes that promote muscle growth and strengthening in hemiparetic and healthy older skeletal muscle. In addition, PNF technique to the non-affected side as well as the affected side, where both had abnormally increased muscle tone and stiffness due to a post-stroke upper motor neuron lesion, had positive effects. Furthermore, the PNF combined pattern is an effective treatment method for increasing the muscle activity. Conclusion: After physiotherapy treatment 4 times for 2 weeks there was an increase in muscle strength and a decrease in pain at the end of passive flexion of the shoulder, elbow and knee.
Co-Authors A.A. Ketut Agung Cahyawan W Abyori Daru Murtama Achmad Briliansyah Arieputra Adelin, Shafira Prajawati AGUS WIDODO Agustianti, Ega Fahla Ajeng Sabtorini Ajitirtiono, Ramadanu Alfi Salatina Alfi Salatina Almadani, Zahra Amalia Prasetyaningtyas Amalia Prasetyaningtyas Amar Busro Anam, Maulana Chairul Andhika Fatir Ath-Thariq Angger Perdana Wibowo Anggita Nurul Ikshanty Anis Dwi Charisa Annisa Amaliah Annisa Dwi Rahayu Annisa Rizky Amalia Annissa Mustika Ayu Aprilia Nurlita Dwi Putri Apriliyani, Intan Dwi Ardhiani, Miftah Rizky Ardhita Hilwa Zakia Ardiansyah, Faizin Arif Pristianto Arifin, Akhmad Zainal Arizona, Diara Atina Fauziyah Ayu Dwi Lestari Ayu Sulistiani Dianingtyas Ayu, Annissa Mustika Bakri As Syafiq Bhisma Murti Cafin Surya Putra Pratama Cahyaningsih, Arum Cartika Volta Pradanov Chafsoh, Zannuba Alifah Cindi Permata Sari Damayanti, Dyah Ayu Kusuma Dea Linia Romadhoni Dheonita Marsyanda Rofifah Dianingtyas, Ayu Sulistiani Dimas Budi Lestari Dini Afriani Khasanah Dita Hafsari Diva Anggraeni Yulia Maharani Dyah Ayu Kusuma Damayanti Dyah Ayu Salimah Dyah Kusuma Ayu Kinanti Endang Nur Widiyaningsih Ervianta, Widya Evita Sari Farah Hanifah Setiarahmawati Farid Rahman Fathya Rahma Kamilatunnuha Fauziyah, Atina Fazaumi Nuriya Sayekti Filmasari, Fitri Fitri Filmasari Fitri Kurniasari Galih Adhi Isak Setiawan Habiibatusy Syaahidah Hafiza Amalia Hanifa, Miftahul Fauziah Hapsari, Dela Oktavia Ihza Risqi Praditya Ika Purwaningsih Ika Yuli Ayuningrum Ilyas, Muhammad Taufik Indri Setyaningsih Intan Tri Agitha Khairina Zulfah Khanza, Namira Mutia Khasanah, Dini Afriani Kinanti, Dyah Kusuma Ayu Komalasari, Dwi Rosella Kurnia Lutfi Farizqi Lalu Surya Rizky Pratama Latifah, Alifia Putri Lesmana, Doan lestari, sulis Lisa Grafita Luluk Setya Arimbi Luthfiyah Putri M. Halim Meidania, Monalisa Miftah Rizky Ardhiani Muflihah, Nurul Muh Ridhuwan Muhammad Andhika Fajrin Noval Fajrin Muhammad Lukman Hakim Muhammad Taufik Ilyas Muhammad Zulfa Rangga Nuraminazkiya Mursyida, Luthfa Mutalazimah Mutalazimah Nafisa Destriana Saputri Nita, Siska Alfia Noor Laela Fitria Nuraminazkiya, Muhammad Zulfa Rangga Nurhayati, Kofifah Indri Nurul Zulaeka Oktaviani Fitriyah Okti Sri Purwanti Pramudya Putri, Anggun Prasetyo, Arya Tri Pratama, Cafin Surya Putra Pratama, I Putu Aditya Pratamasari, Nastiti Prihastomo, Teguh Prima Afifah Purbasasana, Purbasasana Purnomo Gani Putri, Asnatul Baida Putri, Fatati Nurainni Putri, Nuristiqomah Dwi Qomariyah Qomariyah Qomariyah Qomariyah Rahayu, Annisa Dwi Rahma Alfina Rahmawati, Aulia Fahriza Rahmi, Nurul Fikria Fauzia Raihani, Ferrarista Nadja Rakhma Nur Fitratun Nikmah Rania, Ratu Rasyidi, Arba’Atur Ratnasari, Eka Febri Ratu Rania Raveena Wulan Octavia Retno Andriani Ridhuwan, Muh Rizka Salsabila Putri Rizqillah, Indah Prima Rochmah, Yunita Nur Rosyad, Hanif Ar RR. Ella Evrita Hestiandari S Sakinah Sabrina Tristiana Abkhoir Salma Hira Ayu Setyara Salma Muazzaroh Salsabila, Mutia Saputri, Shinta Claudia Sari, Cindi Permata Sepfiana, Gerarda Setiarahmawati, Farah Hanifah Setiawan, Galih Adhi Isak Setiawan, Rizki Shafira Prajawati Adelin Siti Chodijah Siti Helmyati Sri Isnin Kadarti Sugianto, Rega Syafiq, Bakri As Tanjung Anitasari Indah Kusumaningrum Taufik Eko Susilo Tiara Fatmarizka Ulfa Munawaroh Diniyah Ulfah Zulfahmi Utami, Mulatsih Nita W Wahyuni Wachidah, Rahayu Noor Wahyu Tri Sudaryanto Wahyuni Wahyuni wahyuni wahyuni Wardhana, Muhamad Fikry Abrar Yoga Warih Sri Widodo Widya Ervianta Wisnu Sri Hertinjung Yoran, Yoseph Evan Yusuf Arianto Zulfah, Khairina