Articles
Penentuan Nilai Sun Protection Factor (SPF) dari Kulit Bawang Merah
agrippina wiraningtyas;
Ruslan Ruslan;
Sry Agustina;
Uswatun Hasanah
JURNAL REDOKS : JURNAL PENDIDIKAN KIMIA DAN ILMU KIMIA Vol 2 No 1 (2019): Jurnal Redoks : Jurnal Pendidikan Kimia dan Ilmu Kimia
Publisher : Program Studi Pendidikan Kimia STKIP Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (427.438 KB)
|
DOI: 10.33627/re.v2i01.140
Kulit bawang merah merupakan salah satu tanaman yang diduga memiliki aktifitas sebagai tabir surya sehingga dilakukan penelitian tentang penentuan nilai sun protection factor (SPF) dari ekstrak etanol kulit bawang merah. Tujuan penelitian ini adalah menentukan nilai SPF dari kulit bawang merah, menentukan konsentrasi optimum dari ekstrak kulit bawang merah dan memanfaatkan kulit bawang merah sebagai sunscreen. Ekstrak kulit bawang merah didapat dengan cara diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 50%, kemudian fitrat yang diperoleh dipanaskan sampai mendapatkan ekstrak kental. Ekstrak kental kulit bawang merah kemudian dibuat variasi konsentrasi 4 ppm, 8 ppm, 12 ppm, dan 16 ppm. Larutan tersebut selanjutnya diukur absorbansinya pada spektrofotometer UV-Vis dengan panjang gelombang 290 – 320 nm yaitu panjang gelombang untuk sinar UV B. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak etanol kulit bawang merah memiliki aktivitas sebagai tabir surya. Nilai SPF yang diperoleh dari variasi konsentrasi 4 ppm, 8 ppm, 12 ppm dan 16 ppm dengan nilai SPF berturut- turut yaitu 11,44; 20,12; 30,80 dan 34,83. Konsentrasi optimum pada kulit bawang merah terdapat pada konsentrasi 16 ppm dengan nilai SPF 34,83.
EKSTRAKSI ZAT WARNA DARI RUMPUT LAUT Sargassum sp MENGGUNAKAN PELARUT METHANOL
agrippina wiraningtyas
JURNAL REDOKS : JURNAL PENDIDIKAN KIMIA DAN ILMU KIMIA Vol 2 No 2 (2019): JURNAL REDOKS : JURNAL PENDIDIKAN KIMIA DAN ILMU KIMIA
Publisher : Program Studi Pendidikan Kimia STKIP Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (318.055 KB)
|
DOI: 10.33627/re.v2i2.228
Rumput laut Sargassum sp merupakan salah satu spesies rumput laut yang mengandung senyawa fukosantin, klorofil, dan karotenoid yang berperan sebagai zat warna. Pelarut yang digunakan dalam ekstraksi zat warna adalah pelarut methanol yang memiliki tingkat kepolaran yang tinggi dari pelarut etanol (Ruslan 2019). Tujuan penelitian adalah mengekstraksi zat warna dari rumput laut Sargassum sp menggunakan pelarut methanol. Metode pada penelitian kali ini untuk mendapatkan zat warna alami pada rumput laut Sargassum sp menggunakan metode maserasi dengan pelarut methanol. Untuk mengetahui efektifitas konsentrasi palarut dilakukan variasi konsentrasi methanol sebesar 60%, 70%, dan 80%. Hasil ekstraksi kemudian diukur dengan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 190-400 nm. Hasil penelitian ini adalah ekstraksi zat warna dari rumput laut Sargassum sp dapat diekstrak menggunakan pelarut methanol. Variasi konsentrasi pelarut methanol berpengaruh terhadap hasil ekstraksi zat warna dari rumput laut Sarggassum sp dengan metode maserasi. Ekstraksi menghasilkan warna kuning keemasan pada konsentrasi 60%, warna kuning kecokelatan dengan konsentrasi 70%, dan 80% menghasilkan warna kuning kecoklatan yang lebih pekat. Konsentrasi optimum pelarut methanol yang didapat adalah konsentrasi 80% dengan nilai absorbansi 2,383 dan warna yang dihasilkan adalah warna kuning kecoklatan yang lebih pekat.
UJI KESTABILAN PENYIMPANAN EKSTRAK ZAT WARNA ALAMI DARI RUMPUT LAUT Sargassum sp.
agrippina wiraningtyas;
Ruslan R;
Sry Agustina
JURNAL REDOKS : JURNAL PENDIDIKAN KIMIA DAN ILMU KIMIA Vol 3 No 1 (2020): Jurnal Redoks : Jurnal Pendidikan Kimia dan Ilmu Kimia
Publisher : Program Studi Pendidikan Kimia STKIP Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (461.439 KB)
|
DOI: 10.33627/re.v3i1.233
Warna merupakan salah satu aspek penting dalam hal penerimaan konsumen terhadap berbagai macam produk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu penyimpanan dan waktu optimum penyimpanan ekstrak dari rumput laut Sargassum sp. terhadap kestabilan warna yang dihasilkan. Sehingga diharapkan zat warna dari rumput laut Sargassum sp. bisa diaplikasikan dalam berbagai macam produk. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen jenis kuantitatif. Penelitian dimulai dengan preparasi bahan, kemudian sebanyak 20 gram bahan dimaserasi dengan menggunakan pelarut etanol 40% selama 48 jam dengan perbandingan pelarut dan zat terlarut 1:5. Hasil maserasi kemudian disaring menggunakan kertas saring dan corong, hasil yang didapat berupa ekstrak zat warna alami dari rumput laut Sargassum sp.. Selanjutnya ekstrak akan divariaskan dengan lama waktu penyimpanan yang berbeda yaitu 2,4,6,dan 8 hari. Sampel selanjutnya akan dianalisis secara kuantitatif menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Hasil dari penelitian ini adalah terjadi kenaikan nilai absorbasi dari penyimpanan hari ke 2 sampai hari ke 6 dengan nilai absorbansi 2,306 menjadi 2,589. Namun pada penyimpanan hari ke 8 nilai absorbansinya mengalami penurunan yaitu 2,389. Dari penelitian ini didapat waktu optimum penyimpanan ekstrak zat warna alami dari rumput laut Sargassum sp. adalah pada penyimpanan hari ke 6 dengan nilai absorbansi tertinggi 2,589.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PETANI GARAM MELALUI HOME INDUSTRY GARAM BERYODIUM DI DESA SANOLO
agrippina wiraningtyas;
ruslan r;
sry agustina
JURNAL REDOKS : JURNAL PENDIDIKAN KIMIA DAN ILMU KIMIA Vol 1 No 1 (2018): Jurnal Redoks : Jurnal Pendidikan Kimia dan Ilmu Kimia
Publisher : Program Studi Pendidikan Kimia STKIP Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (457.839 KB)
|
DOI: 10.33627/re.v1i1.235
Community empowerment program has been carried for salt farmers in the Sanolo village through iodized salt home industry. The goal of this programe to improve the quality of the salt harvest salt farmers in the Sanolo village Bima regency through the creation of iodized salt. To standarized food needs by improving the quality of local salt accordance with the Indonesian National Standard (SNI). Promoting and marketing of iodized salt. Establish a local institution in the salt farming community. The method used in this activity is done through several steps including socialization, training iodized salt production, management training and marketing and publication of products. This programe was produced several conclusions including the salt harvest of farmers in the village of Sanolo can improve the quality and resale value through the production of iodized salt. Iodized salt produced by home industry in the Sanolo village meet the Indonesian National Standard (SNI) as the salt consumption. Community organizations have formed for the management of iodized salt by organization is "Bina Karya Sanolo or (BKS)" equipped with the structure of organization. The group had agreed cooperation between Bina Karya Sanolo (BKS) with the government of Sanolo village in terms of the distribution and marketing of iodized salt.
PENGARUH KONSENTRASI EKSTRAK TONGKOL JAGUNG TERHADAP NILAI SUN PROTECTION FACTOR (SPF)
agrippina wiraningtyas;
ruslan r;
sry agustina
JURNAL REDOKS : JURNAL PENDIDIKAN KIMIA DAN ILMU KIMIA Vol 1 No 1 (2018): Jurnal Redoks : Jurnal Pendidikan Kimia dan Ilmu Kimia
Publisher : Program Studi Pendidikan Kimia STKIP Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (557.892 KB)
|
DOI: 10.33627/re.v1i1.236
Tongkol jagung merupakan salah satu tanaman yang diduga memiliki aktifitas sebagai tabir surya sehingga dilakukan penelitian tentang pengaruh konsentrasi ekstrak tongkol jagung terhadap nilai sun protection factor (SPF). Tujuan penelitian ini adalah memanfaatkan tongkol jagung sebagai sunscreen, menentukan nilai Sun Protection Factor (SPF) dari tongkol jagung dan menentukan konsentrasi optimum dari ekstrak tongkol jagung yang dapat digunakan sebagai sunscreen. Ekstrak tongkol jagung didapat dengan cara diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 50%, kemudian filtrat yang di dapat dipanaskan sampai mendapatkan ekstrak kental. ekstrak kental tongkol jagung kemudian dibuat variasi konsentrasi 4 ppm, 8 ppm, 12 ppm dan 16 ppm. larutan tersebut selanjutnya diukur absorbansinya dengan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 290-320 nm yaitu panjang gelombang untuk sinar UV B, untuk menentukan nilai SPF. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak etanol tongkol jagung memiliki aktivitas sebagai tabir surya. Nilai SPF yang diperoleh dari variasi konsentrasi 4 ppm, 8 ppm, 12 ppm dan 16 ppm dengan nilai SPF berturut-turut yaitu 8,36; 12,13; 18,55; 20,81. Sebagai konsentrasi optimum pada tongkol jagung terdapat pada konsentrasi 16 ppm dengan nilai SPF 20,81.
Pewarnaan Benang Menggunakan Ekstrak Daun Nila (Indogofera)
Agrippina Wiraningtyas;
R Ruslan;
Ahmad Sandi;
Muh. Nasir
JURNAL REDOKS : JURNAL PENDIDIKAN KIMIA DAN ILMU KIMIA Vol 3 No 1 (2020): Jurnal Redoks : Jurnal Pendidikan Kimia dan Ilmu Kimia
Publisher : Program Studi Pendidikan Kimia STKIP Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (488.798 KB)
|
DOI: 10.33627/re.v3i1.242
Telah dilakukan kegiatan pewarnaan benang tenun menggunakan zat warna alam dari daun nila (Indigofera). Metode yang digunakan dalam pengambilan ekstrak zat warna dari daun nila digunakan metode fermentasi. Sedangkan pada pewarnaan benang dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu mordanting, pewarnaan, fiksasi dan pengeringan benang. Hasil kegiatan pada proses fermentasi diperoleh ekstrak daun nila berwarna biru gelap dan memiliki aroma khas. Pada proses pewarnaan benang diperoleh benang hasil pencelupan dalam ekstrak daun nila memberikan warna abu-abu. Fiksasi dengan dengan tawas dan kapur menghasilkan benang berwarna biru keabuan sedangkan fiksasi dengan tunjung menghasilkan benang berwarna abu kecoklatan.
Perbandingan Metode Ekstraksi Zat Warna Dari Rumput Laut Sargassum sp
nurfidianty annafi;
Agrippina Wiraningtyas;
Ruslan R
JURNAL REDOKS : JURNAL PENDIDIKAN KIMIA DAN ILMU KIMIA Vol 3 No 1 (2020): Jurnal Redoks : Jurnal Pendidikan Kimia dan Ilmu Kimia
Publisher : Program Studi Pendidikan Kimia STKIP Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (394.423 KB)
|
DOI: 10.33627/re.v3i1.243
Rumput laut Sargassum sp merupakan salah satu spesies rumput laut yang mengandung senyawa fukosatin, klorofil, dan karotenoid yang berperan sebagai zat warna. Pelarut yang digunakan dalam ekstraksi adalah pelarut air yang memiliki tingkat kepolaran yang tinggi.sehingga pada penelitian kali ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode ekstraksi ekstrak rumput laut Sargassum sp terhadap zat warna alami. Metode pada penelitian kali ini untuk mendapatkan zat warna alami pada rumput laut sargassum sp yaitu dengan metode maserasi dan metode refluks menggunakan pelarut air. Hasil ekstraksi kemudian diukur dengan spektrofotometer UV-VIS pada panjang gelombang 190-400 nm, ekstraksi menghasilkan warna coklat muda pada metode maserasi, dan warna coklat pekat pada metode refluks. Kemudian dilakukan analisis data dengan membuat tabel dan diagram menggunakan aplikasi Microsoft excel. Hasil penelitian ini adalah metode maserasi merupakan metode yang efektif untuk mengekstraksi zat warna dari rumput laut sargassum sp dibandingkan dengan metode refluks, dimana metode maserasi menghasilkan warna coklat muda dengan panjang gelombang 203 nm dengan nilai absorbansi 3, 883. Sedangkan metode refluks menghasilkan warna coklat pekat dengan panjang gelombang 199 nm yang menghasilkan absorbansi 3,745.
SKRINING FITOKIMIA DARI Rumput Laut Turbinaria sp.
syahrimin imin;
agrippina wiraningtyas;
Ruslan R;
nurfidianty annafi
JURNAL REDOKS : JURNAL PENDIDIKAN KIMIA DAN ILMU KIMIA Vol 3 No 1 (2020): Jurnal Redoks : Jurnal Pendidikan Kimia dan Ilmu Kimia
Publisher : Program Studi Pendidikan Kimia STKIP Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (365.711 KB)
|
DOI: 10.33627/re.v3i1.244
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kandungan fitokimia pada rumput laut Turbinaria sp. agar dapat menjadi rujukan untuk pemanfaatan rumput laut Turbinaria sp. dan dapat menambah nilai ekonomis dari Turbinaria sp. Metode ekstraksi yang digunakan yaitu metode maserasi dan dilakukan uji secara kualitatif berupa uji flavonoid, alkaloid, steroid dan tanin. Berdasarkan hasil uji diperoleh bahwa ekstrak rumput laut Turbinaria sp. mengandung senyawa flavonoid yang ditandai dengan perubahan warna biru ungu. Uji positif pada senyawa alkaloid ditandai dengan terbentuknya warna merah jingga. Uji positif pada senyawa steroid dibuktikan dengan terbentuknya warna hijau dan senyawa tanin ditandai dengan terbentuknya warna hitam kebiruan.
Biosintesis Nanopartikel Fe dari Pasir Besi Menggunakan Ekstrak Kulit Bawang Merah
Susi dianti;
Ruslan R;
agrippina wiraningtyas;
Sry agustina
JURNAL REDOKS : JURNAL PENDIDIKAN KIMIA DAN ILMU KIMIA Vol 2 No 2 (2019): JURNAL REDOKS : JURNAL PENDIDIKAN KIMIA DAN ILMU KIMIA
Publisher : Program Studi Pendidikan Kimia STKIP Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (586.619 KB)
|
DOI: 10.33627/re.v2i2.301
Penelitian bertujuan untuk melakukan sintesis nanopartikel Fe (Besi) dari pasir besi menggunakan ekstrak kulit bawang merah. Kulit bawang merah segar dicuci dan dikeringkan, setelah itu kulit bawang merah yang sudah kering kemudian dihaluskan (diblender) terbentuk serbuk kulit bawang merah dan dimaserasi dengan menggunakan pelarut etanol 96% selama 1 jam, selanjutnya di saring dengan menggunakan kertas saring untuk mendapatkan ekstrak kulit bawang merah. sintesis besi Oksida dengan metode pelarutan bubuk pasir besi dalam larutan HCl pekat. Larutan yang dihasilkan selanjutnya dicampur dengan ekstrak kulit bawang merah sebagai bioreduktor disintesis selama 10, 20, 30, 40 menit kemudian diamati perubahan warnanya dan terbentuknya nanopartikel Fe jika terjadi perubahan warna. sampel dilakukan uji menggunakan alat spektrofotometer UV-Vis. Berdasarkan hasil penelitian Nanopartikel Fe dapat dibuat dari pasir besi menggunakan ekstrak kulit bawang merah, ditunjukan dengan adanya perubahan warna dari larutan tersebut dan adanya perbedaan nilai absorbansi. Waktu optimum biosintesis nanopartikel Fe dari pasir besi menggunakan ekstrak kulit bawang merah dengan spektrofotometer UV-Vis yaitu pada saat pengadukan 10 menit dengan nilai absorbansi tertinggi 4.532 pada panjang gelombang 215 nm.Penelitian bertujuan untuk melakukan sintesis nanopartikel Fe (Besi) dari pasir besi menggunakan ekstrak kulit bawang merah. Kulit bawang merah segar dicuci dan dikeringkan, setelah itu kulit bawang merah yang sudah kering kemudian dihaluskan (diblender) terbentuk serbuk kulit bawang merah dan dimaserasi dengan menggunakan pelarut etanol 96% selama 1 jam, selanjutnya di saring dengan menggunakan kertas saring untuk mendapatkan ekstrak kulit bawang merah. sintesis besi Oksida dengan metode pelarutan bubuk pasir besi dalam larutan HCl pekat. Larutan yang dihasilkan selanjutnya dicampur dengan ekstrak kulit bawang merah sebagai bioreduktor disintesis selama 10, 20, 30, 40 menit kemudian diamati perubahan warnanya dan terbentuknya nanopartikel Fe jika terjadi perubahan warna. sampel dilakukan uji menggunakan alat spektrofotometer UV-Vis. Berdasarkan hasil penelitian Nanopartikel Fe dapat dibuat dari pasir besi menggunakan ekstrak kulit bawang merah, ditunjukan dengan adanya perubahan warna dari larutan tersebut dan adanya perbedaan nilai absorbansi. Waktu optimum biosintesis nanopartikel Fe dari pasir besi menggunakan ekstrak kulit bawang merah dengan spektrofotometer UV-Vis yaitu pada saat pengadukan 10 menit dengan nilai absorbansi tertinggi 4.532 pada panjang gelombang 215 nm.
PEMANFAATAN ARANG AKTIF DARI TONGKOL JAGUNG (Zea Mays L.) SEBAGAI ADSORBEN ZAT WARNA SINTETIS UNGU
Eka Purnamawati;
Ruslan R;
agrippina wiraningtyas
JURNAL REDOKS : JURNAL PENDIDIKAN KIMIA DAN ILMU KIMIA Vol 2 No 2 (2019): JURNAL REDOKS : JURNAL PENDIDIKAN KIMIA DAN ILMU KIMIA
Publisher : Program Studi Pendidikan Kimia STKIP Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (674.645 KB)
|
DOI: 10.33627/re.v2i2.302
Pada penelitian ini akan dibuat arang aktif dari tongkol jagung dan diaktivasi secara fisika dan kimia dengan aktivator HCl. Proses karbonasi dilakukan pada suhu 360°C selama 1 jam dilanjutkan dengan proses aktivasi fisika pada suhu 150 oC selama 2 jam aktivasi kimia menggunakan HCl direndam selama 24 jam. Hasil penelitian ini menentukan daya adsorpsi dilakukan dengan penambahan serbuk arang dengan variasi massa adsorben mulai 0; 0,2; 0,4; 0,6; 0,8 dan 1,0 gram kedalam larutan zat warna sintestis ungu dan diukur dengan menggunakan spektrofotomer UV-Vis dengan rentang panjang gelombang 190 – 750. Pada variasi massa adsorben terbukti bahwa semakin banyak serbuk arang aktif yang digunakan maka daya serapnya semakin besar pada zat warna sintetis orange panjang gelombang maksimum λmaks 493 nm dengan nilai adsorbansi (A = 0,082).