Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

POMPA SPIRAL SEBAGAI ALAT ALTERNATIF IRIGASI PERSAWAHAN DI LEMBANG RANDANAN KABUPATEN TANA TORAJA Nitha Nitha; Nofrianto Pasae; Fikran Fikran; Suri Toding Lembang; Reni Oktaviani Taru; Harni Eirene Tarru; Yafet Bontong; Petrus Sampelawang
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2025): Volume 6 No. 1 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i1.42294

Abstract

Lembang Randanan, kecamatan Mengkendek, kabupaten Tana Toraja merupakan daerah dengan kondisi geografis yang dominan berbukit, yang mana lahan pertanian terutam sawah merupakan sawah tadah hujan. Hal ini berdampak pada produksi padi yang minim karean hanya dapat digarap pada musim penghujan. Sehingga hal ini menjadi latar belakang untuk membuat alat yang dapat membantu petani mengairi sawah dengan mensuplai air dari sumber air yang terletak lebih rendah dari sawah, dalam hal ini adalah pompa spiral. Tujuan pengabdian kepada masyarakat ini untuk meningkatkan ilmu, pengetahuan, dan teknologi embuatan pompa spiral yang sederhana dan efisien sebagai irigasi persawahan yang murah dan ramah lingkungan. Pembuatan pompa spiral untuk alat irigasi yang ramah lingkungan dan tanpa bahan bakar minyak sangat membantu para petani yang kekurangan air untuk lahan persawahan di lembang Randanan, kecamatan Mengkendek, kabupaten Tana Toraja. Materi tentang pembuatan dan penerapan diberikan yang disertai praktek langsung oleh TIM pelaksana PKM dan kemudian tanya-jawab antara pemateri dan masyarakat. Hasil diskusi dan tanya-jawab sebagai berikut: Para petani memberikan respon yang sangat positif mengenai pembuatan pompa spiral sebagai irigasi persawahan. Untuk itu perlu kesepakatan antara pihak Universitas Kristen Indonesia Toraja (Fakultas Teknik) dengan pihak pemerintahan desa menindak-lanjuti program bina desa dari UKI Toraja. Setelah selesai acara diskusi dan tanya-jawab dilanjutkan dengan praktek pemasangan pompa spiral dilakukan di salah satu pekarangan warga yang sebelumnya telah dibuat di Laboratorium Prodi Teknik Mesin UKI Toraja, yang kemudian akan diaplikasikan di dua lokasi yang berbeda di lembang Randanan. Dari kegiatan tersebut diperoleh bahwa pompa spiral dapat mensuplay air dari sumber air dalam hal ini sungai dengan ketinggian hingga 10 m. Hal ini dapat membantu masyarakat di sekitar aliran sungai untuk ketersediaan air.
EDUKASI INSTALASI PERPIPAAN PADA POMPA AIR DALAM RANGKA MENGHEMAT ENERGI LISTRIK DI DUSUN PELAMBIAN KABUPATEN TORAJA UTARA Nofrianto Pasae; Nitha Nitha; Fikran Fikran; Harni Eirene Tarru; Suri Toding Lembang
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2025): Volume 6 No. 1 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i1.42830

Abstract

Salah satu permasalahan yang dihadapi masyarakat didusun Pelambian desa salu sopai yaitu banyaknya pompa warga yang sering rusak serta umur pompa yang singkat akibat pemasangan instalasi pompa yang tidak sesuai dengan prosedur. Dalam kegiatan ini, dilakukan beberapa tahapan-tahapan sebagai berikut: 1. Pengenalan komponen-komponen pada instalasi perpipaan, serta peralatan yang perlu dipersiapkan dalam proses perakitan atau pemasangan perpipaan pada pompa. 2. Identifikasi spesifikasi pompa yang tepat sesuai kebutuhan berdasarkan ketinggian pemompaan yang akan direncanakan. 3. Memberikan penjelasan dan informasi terhadap rugi-rugi aliran dalam pipa akibat instalasi pipa pada pompa yang akan mengakibatkan pompa bekerja lebih keras sehingga terjadi pemborosan pada penggunaan energi listrik. 4. Memberikan alternatif solusi bagi masyarakat untuk meminimalisir penggunaan energi listrik melalui diskusi dan tanya jawab mengenai instalasi perpipaan yang sesuai dengan prosedur. Edukasi instalasi perpipaan guna menghemat aliran listrik. Edukasi ini diharapkan akan memberikan pemahaman bagi masyarakat bagaimana sebenarnya instalasi perpipaan yang baik dan efektif. Dari hasil survei, Masyarakat lembang Salu Sopai menggunakan aliran air dari pipa-pipa yang disambung dari rumah ke rumah dan beberapa menggunakan pompa sebagai sumber air sehari-hari Dengan melibatkan masyarakat secara langsung, program ini tidak hanya sekedar memberikan bantuan, tetapi juga memberdayakan masyarakat untuk mampu mengidentifikasi masalah penggunaaan listrik berlebih akibat spesifikasi pompa yg tidak tepat dan instalasi perpipaan yang tidak sesuai prosedur pemasangan pompa. Hasil pelaksanaan kegiatan ini mendapat dukungan dari pemerintah setempat serta antusiasme masyarakat di dusun Pelambian yang menunjukkan partisipasinya dengan banyaknya masyarakat yang hadir dalam pelaksanaan kegiatan ini. Hasil dari kegiatan ini membuat masyarakat memahami pentingnya memilih pompa yang tepat sesuai dengan kebutuhannya serta pemsangan komponen- komponen perpipaan yang sesuai dengan prosedur yang tepat. Dalam hal ini, untuk mengurangi penggunaan energi listrik akibat pemasangan pompa yang tidak sesuai standar operasional prosedur.
OPTIMALISASI PEMANFAATAN LIMBAH UNTUK PERTANIAN BERKELANJUTAN DI LEMBANG RANTE, KECAMATAN NANGGALA, KABUPATEN TORAJA UTARA Nitha Nitha; Fikran Fikran; Yafet Bontong; Petrus Sampelawang; Reni Oktaviani Tarru; Harni Eirene Tarru; Nofrianto Pasae; Jendri Banne; Heng Li Ling; Surianti Mutia; Dayu Octavian Issan; Angelin D. R. Manga; Wiwin Suriani Payung; Kejora Tandiallo; Olivia Sumule; Mince Kallang; Uci Tallega; Sulestri Tiku Limbong; Kelvin Pala’biran
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 4 (2025): Volume 6 No 4 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i4.49138

Abstract

Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan di Lembang Rante, Kecamatan Nanggala, Kabupaten Toraja Utara, dengan berorientasi pada pertanian organik salah satunya yakni pemanfaatan kotoran hewan dalam hal ini kotoran kerbau menjadi salah satu bahan dasar dari pembuatan pupuk organik yang nantinya akan menjadi sampel edukasi bagi masyarakat di daerah tersebut. Adapun kegiatan ini meliputi proses produksi pupuk organik, mulai dari pengumpulan bahan baku organik seperti kohe (kotoran hewan), sekam, dan dan berbagai jenis limbah organic yang ada disekitar. Hal ini memberi edukasi kepada masyarakat khususnya petani lokal untuk mempelajari teknik pencampuran yang benar dan prosedur pengolahan yang baik untuk menghasilkan serta memanfaatkan pupuk organik dan fermentasi. Hasil dari kegiatan ini adalah terciptanya pupuk organik yang dapat meningkatkan kesuburan tanah, mendukung pertumbuhan alami tanaman dan mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia. Selain manfaat tersebut, usaha produksi pupuk organik juga membantu mengurangi sampah organik yang dihasilkan, menjaga keseimbangan ekosistem pertanian serta mendorong kemajuan di bidang pertanian. Peningkatan produksi di bidang pertanian akan menunjang peningkatan sumber pendapatan dengan efesiensi biaya yang lebih besar (±30%) yang nantinya akan mendukung ketahanan pangan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan di terkhusus di Lembang Rante.
Penataan Objek Wisata Tondon Untuk Peningkatan Daya Tarik dan Keberlanjutan Pariwisata di Tana Toraja Prajman Evansi Pasambo; Frans Robert Bethony; Nitha Nitha
Intisari: Jurnal Inovasi Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026): Intisari: Jurnal Inovasi Pengabdian Masyarakat
Publisher : CV. Insight Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58227/intisari.v4i1.355

Abstract

Penataan kembali objek wisata merupakan salah satu strategi dalam meningkatkan daya tarik serta keberlanjutan sektor pariwisata di tingkat lokal. Kegiatan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Universitas Kristen Indonesia Toraja dilaksanakan di Kelurahan Bebo’, Kecamatan Sangalla’ Utara, Kabupaten Tana Toraja dengan fokus pada penataan kembali Objek Wisata Tondon. Permasalahan utama yang ditemukan adalah kurangnya fasilitas pendukung seperti gazebo dan tempat sampah yang memadai. Metode yang digunakan meliputi observasi lapangan, identifikasi masalah, perencanaan program, serta pelaksanaan kegiatan berbasis partisipasi masyarakat. Program utama berupa pembangunan gazebo dan penyediaan tempat sampah, serta program tambahan seperti gotong royong dan budidaya sayuran. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kenyamanan pengunjung, kebersihan lingkungan, serta keterlibatan aktif masyarakat dalam pengelolaan wisata. Penataan kembali Objek Wisata Tondon melalui program KKN-T memberikan dampak positif dalam meningkatkan kenyamanan, kebersihan, dan daya tarik wisata. Keterlibatan masyarakat menjadi kunci keberhasilan serta mendukung pengelolaan wisata yang berkelanjutan.
Analisa Korelasi Pengaruh Jenis Arang pada Proses Pack Carburizing Terhadap Keausan Baja ST 37 Nitha Nitha; Chendri Johan; Rivaldo Julio Barrung; Nofrianto Pasae; Rahab M Bako
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 2 (2026): April - Juni
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i2.624

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi jenis arang dalam proses pack carburizing terhadap laju keausan baja karbon rendah ST 37. Baja ST 37 dipilih karena karakteristiknya yang ulet namun memiliki kekerasan permukaan yang rendah, sehingga rentan terhadap keausan. Untuk meningkatkan ketahanan aus, dilakukan perlakuan panas melalui metode pack carburizing dengan menggunakan empat jenis arang berbeda: arang tempurung kelapa, arang kayu cemara, arang buah pinus, dan arang tulang kerbau. Setiap media arang dicampur dengan 10% NaCO₃ sebagai energizer, dipanaskan pada suhu 800°C selama 1 jam, lalu didinginkan dengan media air. Pengujian keausan dilakukan menggunakan metode abrasif. Hasil pengujian menunjukkan bahwa jenis arang sangat berpengaruh terhadap laju keausan. Spesimen tanpa perlakuan (raw material) memiliki laju keausan tertinggi sebesar 0,0076 gr/s, sementara spesimen dengan perlakuan menggunakan arang tulang kerbau menunjukkan laju keausan terendah sebesar 0,0038 gr/s. Analisa korelasi menghasilkan koefisien korelasi (r) sebesar -0,85, yang mengindikasikan hubungan negatif yang kuat antara jenis arang dengan laju keausan. Hal ini menunjukkan bahwa variasi jenis arang berpengaruh terhadap terhadap laju keausan sebesar sebesar 72,25%. Dan arang tulang kerbau merupakan media karbon terbaik untuk meningkatkan ketahanan aus baja ST 37 pada proses pack carburizing.
Analysis of Spindle Speed Influence on Surface Roughness and HSS-Co Tool Vibration in The Turning of ST 41 Steel Using the Taguchi Method Patengko, Armin Frayatno; Palung, Musa Bondaris; Nitha, Nitha
INTEK: Jurnal Penelitian Vol 13 No 1 (2026): April 2026
Publisher : Politeknik Negeri Ujung Pandang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31963/intek.v12i2.5923

Abstract

Surface roughness and tool vibration are critical parameters in machining, as they directly influence product quality and tool life. This study investigates the effect of spindle speed on surface roughness and the vibration velocity of an HSS-Co (5% cobalt) cutting tool during the turning of ST 41 steel. The Taguchi method was applied using an L8 orthogonal array and Signal-to-Noise (S/N) Ratio analysis to determine optimal cutting conditions, while Analysis of Variance (ANOVA) was used to identify the most influential factor. Turning experiments were conducted on a conventional lathe with spindle speeds varying from 100 to 700 rpm and a constant depth of cut of 0.5 mm. Surface roughness was measured using a surface roughness tester, and tool vibration was recorded with a vibrometer. The experimental results show that higher spindle speeds consistently reduce surface roughness, indicating improved machining quality. The lowest roughness value of 9.31–9.32 µm was achieved at a vibration velocity of 19.43 mm/s, whereas the highest roughness of 21.62 µm occurred at a vibration velocity of 5.81 mm/s. Taguchi analysis confirms that spindle speed is the dominant factor influencing both surface roughness and tool vibration stability, as reflected by significant variations in S/N Ratio across the tested levels. Overall, this study demonstrates the effectiveness of the Taguchi method for optimizing machining parameters in conventional turning. The findings provide practical insights into selecting spindle speeds that enhance surface quality while maintaining cutting tool stability during the turning of ST 41 steel with an HSS-Co tool.
Pengaruh Durasi Pengasapan Terhadap Sifat Tarik Serat Tunggal dan Morfologi Permukaan Serat Pelepah Aren (Arenga Pinnata) Lery Alfriany Salo; Musa Bondaris Palungan; Nitha
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i1.1572

Abstract

Pemanfaatan serat alam sebagai penguat komposit ramah lingkungan terus meningkat, namun keterbatasan sifat fisik, kimia, dan ikatan antarmuka masih menjadi tantangan utama dalam aplikasinya. Salah satu pendekatan modifikasi serat yang potensial dan relatif sederhana adalah perlakuan pengasapan, yang mampu memodifikasi struktur kimia dan morfologi permukaan serat. Penelitian ini menganalisis pengaruh durasi pengasapan suhu rendah terhadap komposisi kimia, sifat fisik, morfologi permukaan, dan kekuatan tarik serat tunggal pelepah aren bagian bawah. Pengasapan dilakukan menggunakan kotak pengasapan dengan sumber asap dari pembakaran tempurung kelapa, pada suhu terkontrol 45 °C, dengan variasi durasi 0, 5, 10, 15, dan 20 jam. Parameter yang diuji meliputi komposisi kimia, kekuatan tarik serat tunggal, serta karakterisasi permukaan menggunakan SEM. Hasil menunjukkan hemiselulosa menurun dari 23,70% menjadi 19,70% dan lignin dari 17,17% menjadi 10,34%. Kekuatan tarik meningkat dari 210,64 MPa menjadi maksimum 421,59 MPa pada durasi 15 jam, kemudian menurun pada 20 jam. Citra SEM mengonfirmasi peningkatan kekasaran permukaan hingga durasi optimum 15 jam, sedangkan pengasapan 20 jam menunjukkan indikasi microcrack dan delaminasi. Durasi pengasapan 15 jam direkomendasikan sebagai kondisi optimum.
Penanaman Katokkon Dan Sawi Menggunakan Limbah Pertanian Dan Mulsa Kebun Percontohan Di Kelurahan Leatung Kecamatan Sangalla Utara Fikran Fikran; Christof Geraldi Simon; Yafet Bontong; Nitha Nitha; Nofrianto Pasae
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 7 No. 2 (2026): Edisi Mei - Agustus
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v7i2.9017

Abstract

Pertanian berperan penting dalam mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat pedesaan. Namun, budidaya konvensional masih menghadapi berbagai kendala, seperti tingginya pertumbuhan gulma, rendahnya kelembapan tanah, dan belum optimalnya pemanfaatan limbah pertanian. Kegiatan ini dilaksanakan di Kelurahan Leatung, Kabupaten Tana Toraja, dengan tujuan meningkatkan produktivitas tanaman katokkon dan sawi melalui pemanfaatan limbah pertanian sebagai mulsa. Metode yang digunakan meliputi sosialisasi kepada masyarakat, persiapan lahan, penanaman, serta penerapan mulsa dari jerami dan sisa tanaman. Mulsa berfungsi menjaga kelembapan tanah, menekan pertumbuhan gulma, dan menambah bahan organik tanah. Kegiatan juga melibatkan masyarakat setempat untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam menerapkan teknik budidaya yang ramah lingkungan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa penggunaan limbah pertanian sebagai mulsa mampu mempertahankan kelembapan tanah, mengurangi pertumbuhan gulma, serta mendukung pertumbuhan tanaman katokkon dan sawi secara lebih optimal. Selain meningkatkan produktivitas tanaman, pemanfaatan limbah pertanian sebagai mulsa juga membantu mengurangi praktik pembakaran limbah yang dapat berdampak negatif terhadap lingkungan. Dengan demikian, penggunaan limbah pertanian sebagai mulsa merupakan teknologi sederhana, murah, dan mudah diterapkan yang dapat mendukung peningkatan produktivitas pertanian sekaligus mendorong penerapan sistem pertanian berkelanjutan di Kelurahan Leatung.
PENERAPAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA SISTEM FILTERISASI AIR TANAH BERTINGKAT UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS AIR BERSIH PADA RUMAH KONTRAKAN BINTOEN, KECAMATAN RANTEPAO Nitha Nitha; Nofrianto Pasae; Lantana Dion Rumpa; Suri Toding Lembang
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 4 (2026): Vol. 7 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v7i4.61231

Abstract

Ketersediaan air bersih merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh setiap rumah tangga, termasuk pada rumah kontrakan yang menjadi tempat tinggal sementara bagi penyewa. Mitra kegiatan pengabdian ini, yaitu Rumah Kontrakan Bintoen di Kelurahan Rantepao, Kecamatan Rantepao, menghadapi permasalahan air sumur/air tanah yang keruh, berbau, dan diduga mengandung mikroba sehingga tidak layak digunakan secara langsung untuk kebutuhan sehari-hari. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan menerapkan teknologi tepat guna berupa sistem filterisasi air tanah bertingkat sebagai solusi sederhana, murah, dan mudah dioperasikan oleh masyarakat. Metode pelaksanaan meliputi survei kondisi awal air, perancangan dan instalasi dua tabung filterisasi berisi media pasir silika, pasir zeolit, pasir manganese, dan karbon aktif, dilanjutkan dengan penyaringan bertingkat menggunakan cartridge filter berukuran 5 mikron dan 1 mikron, penampungan air pada tandon yang dilengkapi kaporit untuk membunuh kuman dan mikroba, serta tahap penyaringan akhir sebelum air digunakan oleh penghuni. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa setelah melalui seluruh tahapan filterisasi, air yang semula keruh dan berbau berubah menjadi jernih, tidak berbau, dan secara visual bebas dari kotoran serta endapan, sehingga layak digunakan untuk keperluan mandi, cuci, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi model penerapan teknologi tepat guna yang dapat direplikasi oleh masyarakat lain yang menghadapi permasalahan kualitas air tanah serupa.
DARI ALAM UNTUK ALAM: PUPUK BOKASHI RAMAH LINGKUNGAN BERBASIS BAHAN LOKAL UNTUK PERTANIAN BERKELANJUTAN LEMBANG PA’TENGKO Nofrianto Pasae; Nitha Nitha; Johana Tandirerung; Delianto Toban Pabida; Vaneysia Misha Pairunan
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 4 (2026): Vol. 7 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v7i4.62106

Abstract

Pengelolaan limbah organik menjadi pupuk bokashi merupakan salah satu solusi alternatif dalam mendukung pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan. Kegiatan ini dilaksanakan di Dasawisma Dahlia Satu, Lembang Pa’Tengko, dengan tujuan untuk meningkatkan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan bahan-bahan organik lokal seperti daun gamal, sekam bakar, dan limbah dapur menjadi pupuk bokashi melalui proses fermentasi menggunakan EM4. Metode yang digunakan meliputi sosialisasi, pelatihan teknis, dan praktik langsung secara partisipatif. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa masyarakat mampu memahami dan menerapkan teknik pembuatan bokashi secara mandiri, serta mulai menyadari pentingnya pengurangan ketergantungan terhadap pupuk kimia. Selain memberikan manfaat agronomis, kegiatan ini juga membentuk kesadaran kolektif terhadap pentingnya pengelolaan limbah rumah tangga dan peningkatan kemandirian dalam pengelolaan pertanian berbasis sumber daya lokal. Kegiatan ini diharapkan menjadi awal dari upaya jangka panjang menuju desa mandiri yang berdaya saing dan ramah lingkungan.