Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Pengaruh Jenis Pengobatan terhadap Kadar Gula Darah 2 Jam Post Prandial pada Pasien Diabetes Melitus Tipe-2 Jasmine Chairunnisa; Agrijanti; Ari Khusuma; Pancawati Ariami
Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS) Vol. 4 No. 2 (2025): Journal of Indonesia Laboratory Students
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Latar Belakang: Diabetes Melitus Tipe 2 disebabkan oleh gangguan sekresi atau fungsi insulin yang menyebabkan akumulasi glukosa dalam darah, sehingga merusak organ seperti jantung, pembuluh darah, mata, ginjal, dan saraf. Prevalensi diabetes di Indonesia meningkat signifikan, dengan 19,5 juta penderita pada 2021 menurut IDF, termasuk 64.544 kasus di Nusa Tenggara Barat pada 2023. Pengukuran gula darah 2 jam post prandial penting untuk menilai efektivitas pengobatan dalam mengontrol glukosa pasca makan. Tujuan Penelitian: Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh pengobatan metformin, glibenklamid, dan kombinasi metformin-glibenklamid terhadap kadar gula darah 2 jam post prandial pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2. Selain itu, menganalisis mekanisme kerja obatobatan tersebut dalam menurunkan glukosa darah untuk meningkatkan pengendalian glikemik. Metode Penelitian: Penelitian analitik observasional potong lintang menggunakan data sekunder dari 96 rekam medis pasien DM Tipe 2 di RSUD Patut Patuh Patju periode JanuariDesember 2024, dengan sampel purposive (32 metformin, 32 glibenklamid, 32 kombinasi). Analisis dilakukan dengan uji nonparametrik Kruskal-Wallis setelah uji normalitas KolmogorovSmirnov. Hasil Penelitian: Rerata gula darah puasa dan 2 jam post prandial sebelum pengobatan: metformin (157 dan 151 mg/dL), glibenklamid (154 dan 150 mg/dL), kombinasi (189 dan 162 mg/dL), menunjukkan penurunan kadar gula darah pada ketiga kelompok. Uji Kruskal-Wallis menghasilkan p=0,081 (puasa) dan p=0,886 (2 jam post prandial), tidak ada perbedaan signifikan antar pengobatan (p>0,05). Kombinasi metformin-glibenklamid memberikan penurunan rerata terbaik (selisih 27 mg/dL). Kesimpulan: Ketiga jenis pengobatan menurunkan kadar gula darah 2 jam post prandial pada pasien DM Tipe 2, dengan kombinasi metformin-glibenklamid paling optimal meskipun tidak signifikan secara statistik. Pengendalian glikemik lebih baik pada terapi kombinasi, dipengaruhi faktor seperti pola makan dan kepatuhan pasien.
Analisis Hubungan Hasil Pemeriksaan IgG dan IgM Dengue, Leukosit dan Trombosit Dengan Keputusan Perawatan Pada Pasien Terduga Demam Berdarah di RSUD Kabupaten Lombok Utara Avirda Ariyati; Agrijanti; Lalu Srigede; Erna Kristinawati; Pancawati Ariami
Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS) Vol. 5 No. 1 (2026): Journal of Indonesia Laboratory Students
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jilts.v5i1.381

Abstract

Latar Belakang: Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi akibat virus dengue yang gejalanya bisa sangat beragam, mulai dari ringan hingga berat. Untuk membantu menentukan tingkat keparahan penyakit dan langkah perawatan yang tepat, pemeriksaan laboratorium seperti IgG dan IgM Dengue, jumlah leukosit, dan trombosit sangat dibutuhkan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah ada hubungan antara hasil pemeriksaan IgG dan IgM dengue, jumlah leukosit, serta trombosit, dengan keputusan dokter dalam merawat pasien DBD, apakah pasien dirawat inap atau cukup rawat jalan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan observasional analitik. Sebanyak 28 pasien yang dicurigai menderita DBD di RSUD Kabupaten Lombok Utara diikutkan sebagai sampel, yang dipilih secara kebetulan (accidental sampling) selama periode April sampai juni 2025. IgG dan IgM diperiksa menggunakan rapid test, sementara jumlah leukosit dan trombosit diperiksa menggunakan alat hematology analyzer otomatis. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil: Dari hasil analisis, ditemukan bahwa jumlah trombosit memiliki hubungan yang signifikan secara statistik dengan keputusan perawatan (r = -0,805; p = 0,000). Artinya, semakin rendah jumlah trombosit, semakin besar kemungkinan pasien dirawat inap. Sementara itu, IgG menunjukkan hubungan yang lemah dan tidak signifikan (r = 0,347; p = 0,083), sedangkan jumlah leukosit dan IgM tidak menunjukkan hubungan yang berarti dengan keputusan perawatan. Kesimpulan: Dari keempat parameter yang diteliti, jumlah trombosit menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap keputusan perawatan pasien DBD. Oleh karena itu, pemeriksaan trombosit sangat penting untuk membantu dokter dalam menentukan apakah pasien perlu dirawat inap atau bisa dirawat jalan.
THE EFFECT OF CHEMOTHERAPY ON BLOOD CELL COUNTS IN POST-MASTECTOMY BREAST CANCER PATIENTS Muhammad Haerunnizam; Pancawati Ariami; Thomas Tandi Manu; Lale Budi Kusuma Dewi
Meditory : The Journal of Medical Laboratory Vol. 13 No. 2 (2025): Meditory, Volume 13 No. 2 Tahun 2025
Publisher : Jurusan Teknologi Laboratorium Medis, Poltekkes Kemenkes Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33992/meditory.v13i2.4096

Abstract

Background: Post-mastectomy chemotherapy often causes myelosuppression, as do the numbers of erythrocytes, leukocytes, and platelets.Objective: To determine the effect of chemotherapy on the number of blood cells in post-mastectomy breast cancer patients.Methods: This study was a retrospective observational study. The population in the study was breast cancer patients who underwent chemotherapy  0 (Pre-chemotherapy) to 4 times after mastectomy at the NTB Provincial Hospital from January to December 2024. Sampling was done using non-probability sampling with a purposive sampling method, resulting in 68 samples.Results: In the study, the average number of erythrocytes from session 0 (Pre-chemotherapy) to session 4 was 4,23; 3,80; 3,67; 3,59, and 3,6 million cells/µL. Then, the average number of leukocytes from session 0 (Pre-chemotherapy) to session 4 was 7,208; 5,024; 4,739; 3,690, and 3,281 thousand cells/µL. Meanwhile, the average number of platelets from session 0 (Pre-chemotherapy) to session 4 was 386,251; 302,792; 275,760; 228,014, and 206,035 thousand cells/µL. Based on the Friedman test data analysis, the results showed a significance value of 0.001 < 0.05.Conclusions: There is an effect of chemotherapy on the number of blood cells in post-mastectomy breast cancer patients.