Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Motivasi Akademik dalam Self-compassion untuk Meminimalisir Perilaku Bullying Hidajat, Helga Graciani; Pratiwi, Iqlima; Rahmi, Yaumul; Putri, Raissa Dwifandra
Flourishing Journal Vol. 2 No. 9 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v2i92022p605-615

Abstract

Abstract: Bullying behavior still occurs in various parts of the world, including in Indonesia, until now. This bullying behavior had a negative impact, namely emotional and behavioral disturbances for both bullies and victims of bullying. The purpose of this research was to explore the factors that influence bullying behavior; psychological dynamics of perpetrators and victims of bullying as well as psychological dynamics of academic motivation development interventions in self-compassion in minimizing bullying behavior. This research is a literature study. The research procedure included reading theories related to academic motivation, self-compassion, academic motivation in self-compassion, bullying behavior, predictors of bullying, psychological dynamics of academic motivation in compassion in minimizing bullying. The results of this study were the factors that cause bullying behavior is a lack of moral knowledge about bullying behavior and its effects; parenting style that is too authoritarian and permissive; justification for bullying in schools. There were many negative impacts on bullying behavior, starting from emotional and behavioral disturbances in bullying perpetrators, which were related to aggression and emotional and behavioral disturbances in bullying related to low self-esteem, stress, depression, difficulty adapting, and even attempted suicide in victims of bullying. One of the interventions to minimize bullying behavior was by developing academic motivation in self-compassion to minimize bullying. Abstrak: Perilaku bullying masih terjadi di berbagai belahan dunia termasuk di Indonesia, hingga saat ini. Perilaku bullying ini memberi dampak yang negatif yakni gangguan emosi dan perilaku baik pada pelaku bullying maupun korban bullying. Tujuan penulisan artikel ini adalah melakukan studi literature terkait dengan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku bullying; dinamika psikologis pelaku dan korban bullying serta dinamika psikologis intervensi pengembangan motivasi akademik dalam self-compassion dalam meminimalisir perilaku bullying. Penelian ini merupakan penelitian studi literature. Prosedur penelitian ini meliputi membaca teori berkaitan dengan motivasi akademik, self-compassion, motivasi akademik dalam self-compassion, perilaku bullying, prediktor bullying, dinamika psikologis motivasi akademik dalam compassion dalam meminimalisir bullying. Hasil penelitian ini adalah Faktor-faktor yang menyebabkan perilaku bullying adalah kurangnya pengetahuan moral tentang perilaku bullying dan dampaknya; pola asuh orang tua yang terlalu otoriter dan permisif; pembenaran bullying di sekolah. Banyak dampak negatif dalam perilaku bullying mulai dari gangguan emosi dan perilaku pada pelaku bullying yakni berkaitan dengan agresi dan gangguan emosi dan perilaku pada bullying terkait dengan rendah diri, stress, depresi, susah beradaptasi, bahkan percobaan bunuh diri pada korban bullying. Salah satu intervensi untuk meminimalisir perilaku bullying dengan mengembangkan motivasi akademik dalam self-compassion untuk meminimalisir bullying.
Am I A Cheater?: Pengaruh Priming dengan Subtle Linguistic in Ethical Reminder dalam mengurangi Perilaku tidak Etis Berdasarkan Jenis Kelamin Khairina, Nadia; Raissa Dwifandra Putri; Yaumul Rahmi
Flourishing Journal Vol. 2 No. 10 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v2i102022p640-649

Abstract

Previous studies of unethical behavior have shown that many people will engage when they have the opportunity. Several studies have shown contradictions with each other regarding fraudulent behavior between men and women. This study wanted to test whether the use of priming with subtle words could suppress the emergence of fraudulent behavior, especially when associated with gender. The study used a 2x2 experimental design ((PrimingxNonPriming)x(MalexFemale)) with 60  participants. The study used instruments in the form of mathematical problems that must be answered correctly for 60 seconds and participants can "claim" or write down the number of questions that can be answered correctly.  Participants in the priming group will get the phrase "Please don't be a cheater" before doing a  question consisting of 20 questions.   This research will be analyzed by quantitative descriptive analysis. The results in this study showed that female participants (M=7.13, SD=  2,774) showed a higher tendency of cheating compared to male participants (M=7.00, SD=2,236) even if given priming words. Meanwhile, in conditions that did not get priming words (non-priming), female participants (M=12.80, SD= 5,414) also showed a higher tendency of cheating than male participants (M=11.13, SD=7,376).  In addition, cheating can still occur and is not affected by gender, both male and female.  Abstrak Studi terdahulu terkait perilaku tidak etis (unethical behavior) memperlihatkan bahwa banyak orang terlibat dalam perilaku seperti itu ketika memiliki kesempatan. Beberapa penelitian memperlihatkan kontradiksi satu sama lain terkait perilaku curang antara laki-laki dan perempuan. Penelitian ini ingin menguji apakah penggunaan priming dengan kata-kata yang halus dapat menekan munculnya perilaku curang, terutama jiak dikaitkan dengan jenis kelamin. Penelitian menggunakan desain eksperimen 2x2 ((PrimingxNonPriming)x(Laki-lakixPerempuan)) dengan partisipan sebanyak 60 orang. Penelitian menggunakan instrument berupa soal matematika yang harus dijawab dengan tepat selama 60 detik dan partisipan dapat “mengklaim” atau menuliskan jumlah soal yang dapat dijawab dengan benar. Partisipan yang berada di kelompok Priming akan mendapatkan kalimat “Mohon jangan jadi orang yang curang” sebelum mengerjakan soal yang terdiri dari 20 soal. Penelitian ini akan dianalisis dengan analisis deksripstif kuantitatif. Hasil dalam penelitian ini memperlihatkan bahwa partisipan perempuan (M=7.13, SD=2.774) memperlihatkan tendensi kecurangan yang lebih tinggi dibandingkan dengan partisipan laki-laki (M=7.00, SD= 2.236) bahkan jika diberikan priming kata-kata. Sedangkan pada kondisi yang tidak mendapatkan priming kata-kata (non priming), partisipan perempuan (M=12.80, SD= 5.414) juga memperlihatkan tendensi kecurangan yang lebih tinggi dibandingkan partisipan laki-laki (M=11.13, SD= 7.376). Selain itu pula, kecurangan dapat tetap terjadi, dan tidak terpengaruh oleh jenis kelamin, baik laki-laki maupun perempuan.
Fenomena Seks Pranikah pada Masa Remaja Nila Shofy Nihayah; Sevina Dwi Yulingga; Raissa Dwifandra Putri
Flourishing Journal Vol. 2 No. 12 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v2i122022p741-750

Abstract

Premarital sex behavior in adolescents is driven by the condition of adolescents who still want to trymany new things. Other factors are also heavily involved in influencing this premarital sex behaviorsuch as peer influence, lack of parental supervision, easy access to pornographic content, etc. Thereare many negative impacts of this problem. As parents, educational institutions, and even theenvironment can have a positive influence on adolescents so they can avoid premarital sex behavior.This study aims to explore the phenomenon of premarital sex in adolescence. The approach taken isa literature study by systematically collecting data and reviewing several basic theories that arerelevant to the discussion. Until the results are obtained that premarital sexual behavior duringadolescence is still quite high so that more attention is needed to this problem. Many things can away to prevent teenagers from involving into this problem. A wise explanations from parents,education about premarital sex from educational institutions, high self-efficacy, and positive supportfrom the environment can be supporting factors for teenagers to avoid this behavior. AbstrakPerilaku seks pranikah pada remaja didorong oleh kondisi remaja yang masih ingin mencoba banyakhal baru. Faktor-faktor lain juga banyak terlibat dalam mempengaruhi perilaku seks pranikah iniseperti pengaruh teman sebaya, kurangnya pengawasan orang tua, mudahnya akses kontenpornografi, dll. Banyak dampak negatif dari permasalahan ini. Selayaknya orang tua, lembagapendidikan bahkan lingkungan bisa memberikan pengaruh positif pada remaja hingga bisa terhindardari perilaku seks pranikah. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi fenomena seks pranikahpada masa remaja. Pendekatan yang dilakukan adalah studi literatur dengan mengumpulkan datasecara sistematis dan mengkaji beberapa teori dasar yang relevan dengan pembahasan. Hinggadiperoleh hasil bahwasanya perilaku seks pranikah pada masa adolescence masih cukup tinggisehingga perlu adanya perhatian yang lebih lagi terhadap permasalahan ini. Banyak hal yang bisadilakukan guna menghindari remaja agar tidak terjerumus pada permasalahan ini. Penjelasan yangbaik dan bijak dari orang tua, edukasi tentang seks pranikah dari lembaga pendidikan, self efficacyyang tinggi, dan support positif dari lingkungan bisa menjadi faktor pendukung remaja terhindar dariperilaku tersebut.
Adaptasi dan Validasi Alat Ukur Kepuasan Kebutuhan Dasar Psikologis pada Guru Utomo, Hanggara Budi; Putri, Raissa Dwifandra
Flourishing Journal Vol. 5 No. 9 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v5i92025p472-482

Abstract

Teachers' interest and desire and motivation to teach will arise if there is an experience of basic psychological need satisfaction. This study aims to adapt and validate the Basic Psychological Need at Work developed by Ilardi, in order to obtain a valid and reliable measuring instrument to measure the satisfaction of the basic psychological needs of the Indonesian version of teachers in East Java. The adaptation process was carried out using guidelines from the International Test Commission in 2017. The validation process is carried out by testing content validity using content validity analysis and construct validity using confirmatory factor analysis. The respondents were 108 elementary school teachers in Kediri, Blitar, Nganjuk, and Tulungagung. Based on the results, it can be seen that the measurement model of the psychological basic needs satisfaction construct explains the existence of a good goodness of fit. In addition, the composite reliability value of the measuring instrument is between 0.74-0.93, and the average variance extracted value is in the range of 0.64-0.92. The results of this study indicate that the Basic Psychological Need at Work measuring instrument is a valid and reliable measuring instrument for measuring basic psychological need satisfaction in teachers in Indonesia, especially in East Java
Gambaran Perkembangan Bahasa pada Anak dengan ADHD: Tinjauan Literatur Hammam, Faiz Yunsar; Zaki, Salsabilah May; Putri, Raissa Dwifandra
Flourishing Journal Vol. 4 No. 12 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i122024p605-616

Abstract

Language ability is crucial and essential for individuals. Language is used for communication, allowing people to connect with others and build a good social environment. Language development is particularly important for early childhood as it is related to cognitive and social development. However, some children experience difficulties in understanding language, following instructions and comprehension concepts, as well as grammatical concepts, making their speech difficult to understand. This condition can be found in children with ADHD. The purpose of this article is to provide an overview of language development in children with ADHD, including the dynamics of their language development and appropriate interventions or strategies to address language development issues in children with ADHD. This article employs a literature review method. The results from the literature review analysis indicate that children with ADHD have difficulties with pragmatic language, tend to omit and alter phonemes, and exhibit minor issues in language structure. AbstrakKemampuan berbahasa merupakan hal yang krusial dan penting dimiliki pada individu. Bahasa digunakan untuk melakukan komunikasi, dapat saling berhubung dengan manusia lain sehingga dapat membentuk lingkungan sosial yang baik. Bagi anak usia dini, perkembangan kemampuan bahasa ini cukup penting karena berkaitan dengan perkembangan pada kemampuan kognitif dan juga sosialnya. Namun, terdapat kondisi dimana anak memiliki masalah dalam memahami bahasa, mengikuti petunjuk dan konsep pemahaman, dan juga konsep gramatikal yang membuat apa yang mereka tuturkan sulit untuk dipahami. Kondisi ini dapat ditemui pada anak dengan ADHD. Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui gambaran perkembangan bahasa anak dengan ADHD yang terdiri dari dinamika perkembangan bahasa anak dengan ADHD serta intervensi atau strategi yang tepat dalam mengatasi masalah perkembangan bahasa pada anak dengan dengan ADHD. Penulisan artikel ini menggunakan metode literature review. Hasil yang ditemukan berdasarkan analisis literature review menyebutkan bahwa anak dengan ADHD memiliki masalah pada bahasa pragmatis mereka, gemar menghilangkan dan merubah fonem, dan ditemukannya sedikit masalah pada struktur bahasanya.
Aku Mampu Bertahan: Peran Dukungan Sosial dan Spiritualitas Meningkatkan Resiliensi pada Dewasa Awal Alfin Lintang Eldzani; Raissa Dwifandra Putri
Jurnal Psikologi Perseptual Vol. 10 No. 2 (2025): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Fakultas of Psychology, Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/perseptual.v10i2.14532

Abstract

Resilience is one of the important qualities that individuals in early adulthood need to possess, especially when facing various challenges and uncertainties in life. This study aims to examine the role of spirituality and social support in enhancing resilience among early adults. Using a quantitative approach, involved 292 participants selected through convenience sampling. All participants were Indonesian citizens aged 18-30 years. Data were collected using questionnaires consisting of the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MPSS), the Attitudes Related to Spirituality Scale (ARES), and the Adult Resilience Measure-Revised (ARM-R). Data analysis was conducted using multiple linear regression. The results of the study indicate that spirituality and social support collectively contribute to increased resilience (p < 0.001), with a combined contribution of 75,5%. Furthermore, partial regression analysis shows that both spirituality and social support individually contribute to resilience, with social support contributing 39,9% and spirituality contributing 35,6%. This study confirms that individual resilience is influenced by a combination of internal and external factors, namely spirituality as an internal factor and social support as an external protective factor. This research enriches the study of resilience in early adulthood by highlighting the synergy between psychosocial factors and spirituality within the Indonesian cultural context. Resiliensi merupakan salah satu hal penting yang perlu dimiliki individu di dewasa awal yang tengah mengalami berbagai tantangan serta ketidakpastian dalam hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran spiritualitas dan dukungan sosial dalam meningkatkan resiliensi pada individu dewasa awal. Melalui pendekatan kuantitatif, penelitian ini melibatkan 282 partisipan yang dipilih melalui teknik convenience sampling. Seluruh partisipan merupakan Warga Negara Indonesia (WNI) dengan rentang usia 18-30 tahun. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang terdiri dari The Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MPSS), Attitudes Related to Spirituality Scale (ARES), dan Adult Resilience Measure-Revised (ARM-R). Analisis data dilakukan menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spiritualitas dan dukungan sosial berkontribusi secara bersama-sama terhadap peningkatan resiliensi (p < 0,001), dengan kontribusi sebesar 75,5%. Selain itu, analisis regresi secara parsial menunjukkan bahwa spiritualitas dan dukungan sosial juga berkontribusi dalam peningkatan resiliensi, dengan kontribusi sebesar 39,9% untuk dukungan sosial dan 35,6% untuk spiritualitas. Penelitian ini memberikan penegasan bahwa resiliensi individu dipengaruhi oleh kombinasi faktor internal dan eksternal, yaitu spiritualitas sebagai sumber daya psikologis internal dan dukungan sosial sebagai faktor protektif eksternal. Secara ilmiah, penelitian ini memperkaya kajian resiliensi pada dewasa awal dengan menyoroti sinergi antara faktor psikososial dan spiritualitas dalam budaya Indonesia.