Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Menelusuri Jati Diri dalam Cermin Digital: Studi Kualitatif Terhadap Pengalaman dan Tantangan Pembentukan Identitas Dewasa Awal Albarkah, Mutiara Shofia; Naila, Ainaya Zalfa; Rahmadina, Meisya; Wibawa, Rikhamelia Adi; Putri, Raissa Dwifandra
Flourishing Journal Vol. 5 No. 12 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v5i122025p669-686

Abstract

This study aims to explore the subjective experiences and challenges of identity formation among emerging adults within the dominance of digital culture. In an era marked by an overwhelming stream of information and the portrayal of seemingly flawless lives on social media, many emerging adults find themselves disoriented in their search for self-identity. The disconnect between their genuine selves and the pressure to maintain a polished digital persona often leads to existential struggles. Using a qualitative approach and thematic analysis, this research involved in-depth interviews with eight participants aged 19 to 22. The findings reveal real-life accounts of identity uncertainty, the feeling of falling behind, and the social pressures embedded in today's digital environment. Upward social comparisons and the Fear of Missing Out (FoMO) surfaced as central contributors to feelings of inadequacy and lack of direction. Nevertheless, participants demonstrated resilience through various coping approaches, ranging from personal reflection to the reaffirmation of core values. These findings highlight the importance of emotional literacy and the courage to stay authentic in a world that constantly demands perfection. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman subjektif dan tantangan pembentukan identitas pada individu dewasa awal di tengah dominasi budaya digital. Di tengah gelombang informasi yang terus mengalir dan gambaran hidup yang tampak ideal di media sosial, banyak individu pada fase dewasa awal merasa kehilangan arah dalam pencarian identitas diri. Ketidaksesuaian antara jati diri yang otentik dan tuntutan untuk menampilkan citra diri secara digital kerap memicu krisis eksistensial. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan teknik analisis tematik, penelitian ini melibatkan wawancara mendalam dengan delapan partisipan berusia 19–22 tahun. Hasil penelitian menggambarkan pengalaman nyata terkait kebingungan identitas, perasaan tertinggal, serta tekanan sosial dalam budaya digital. Perbandingan sosial ke atas dan fenomena Fear of Missing Out (FoMO) muncul sebagai pemicu dominan dari rasa tidak cukup dan disorientasi arah hidup. Meski demikian, partisipan menunjukkan ketahanan melalui strategi koping seperti refleksi pribadi dan penguatan nilai-nilai diri. Temuan ini menegaskan pentingnya literasi emosional dan keberanian untuk tetap autentik di tengah tuntutan kesempurnaan digital.
Dampak Ketiadaan Figur Ayah pada Gender Role Development Seorang Anak Putri, Raissa Dwifandra; Rahmi, Yaumul; Armalid, Ikhwanul Ihsan
Flourishing Journal Vol. 2 No. 6 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v2i62022p447-456

Abstract

Abstract: The absence of a father figure is a factor for a child to be involved in social problems, which is like juvenile delinquency. The father plays an important role in the family, namely as a breadwinner, protector, friend, role model, moral guide, teacher, and as an important agent for gender role development of a child. This study aims to examine the impact of the father absence on a child's gender-role development. Research method that used by conducting literature studies related to the research topic, namely the absence of a father figure and the gender role development of a child. Based on the results of a literature review, several impacts were found from the absence of a father figure on a child's gender role development. Nevertheless, other studies also show that there is no difference in the a child's gender role development between children who have a father figure or not. Because most of children who do not have a father figure are found to look for other male figures outside the home as their role models or found their mother as a complete figure for them. Therefore, it is important for parents to be a good role model for their child because this can affect the development of their child, especially in the role of gender role development. Keywords: father absence; gender role; children Abstrak: Ketiadaan figur Ayah menjadi salah satu faktor bagi seorang anak terlibat dalam masalah sosial, salah satunya seperti kenalakan remaja. Ayah memberikan peran penting dalam keluarga, yaitu sebagai pencari nafkah, pelindung, teman, model, penuntun moral, guru, serta merupakan agen penting dalam gender role development seorang anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak ketiadaan figur Ayah pada gender-role development seorang anak. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini dengan melakukan studi literatur yang berkaitan dengan topik penelitian, yaitu ketiadaan figur ayah dan gender role development seorang anak. Berdasarkan hasil kajian pustaka, didapatkan beberapa dampak dari ketiadaan figur ayah pada gender role development seorang anak. Meskipun demikian, studi – studi lain juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan perkembangan gender role anak antara anak yang memiliki figur ayah maupun tidak. Sebab anak – anak yang tidak memiliki figur ayah ditemukan bahwa dapat mencari figur laki – laki lain di luar rumah sebagai role modelnya atau melihat ibunya sebagai sosok role model yang diperlukan. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk dapat menjadi role model bagi seorang anak karena hal ini dapat mempengaruhi perkembangan seorang anak, khususnya dalam perananan gender role developmentnya. Kata kunci: ketiadaan figur ayah; gender role; anak
Gambaran Dukungan Sosial Pada Ibu yang Memiliki Anak Down syndrome Rahmi, Yaumul; Putri, Raissa Dwifandra; Asfari, Nur Amin Barokah
Flourishing Journal Vol. 2 No. 8 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v2i82022p540-552

Abstract

Abstrak: Down syndrome merupakan suatu kondisi yang berhubungan dengan keterbatasan dalam perkembangan intelektual dan terlihat secara fisik. Anak down syndrome memiliki berbagai keterbatasan baik secara kognitif maupun sosial. Keterbatasan ini menuntut orang tua terutama Ibu harus memberikan perhatian ekstra dalam merawatnya. Besarnya tuntutan yang dihadapi dalam merawat anak down syndrome tidak hanya memberikan dampak negatif pada kesehatan fisik ibu namun juga dapat meningkatkan stres pada ibu. Berbagai permasalahan tersebut mengindikasikan bahwa ibu dengan anak down syndrome membutuhkan dukungan sosial untuk membantu mengatasi masalah anak mereka dan kesehatan mental mereka sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap permasalahan yang dihadapi oleh ibu dalam merawat anak down syndrome dan dukungan sosial yang diterima dan yang dibutuhkan dari lingkungannya. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan fenomenologi. Subjek penelitian terdiri dari 3 orang ibu (Y, M, N) yang memiliki anak down syndrome. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu dihadapkan pada permasalahan dalam mengasuh dan merawatnya anaknya, perasaan khawatir tentang kesehatan dan masa depan anaknya, stigma negatif dari masyarakat, serta biaya perawatan anaknya. Dukungan sosial yang diterima ibu berupa dukungan emosional, instrumental, informasi, dan dukungan pertemanan, namun 2 diantara 3 subjek penelitian merasa dukungan sosial yang diterimanya belum memadai dalam memperbaiki keadaan anak mereka. Abstract: Down syndrome is a condition associated with limitations in intellectual development and physical appearance. Down syndrome children have various limitations both cognitively and socially. This limitation requires parents, especially mothers, to pay extra attention to caring for them. The high demands faced in caring for children with down syndrome have an impact on the mother's physical health and also increase stress on the mother. These problems indicate that mothers of children with down syndrome need social support to help them cope with their children's problems and their mental health. This study aims to explore the problems faced by mothers in caring for their children with down syndrome, and how social support is needed and received from their environment. This research method is qualitative using a phenomenological approach. The research subjects consisted of 3 mothers (Y, M, N) who have children with down syndrome. The results showed that mothers are faced with problems in caring for their children, feeling worried about their children's health and future, negative stigma from society, and the cost of caring for their children. The social support received by mothers included emotional, instrumental, informational, and friendship support, however, 2 of the 3 research subjects felt that the social support they received was inadequate to improve their child's condition.
Motivasi Akademik dalam Self-compassion untuk Meminimalisir Perilaku Bullying Hidajat, Helga Graciani; Pratiwi, Iqlima; Rahmi, Yaumul; Putri, Raissa Dwifandra
Flourishing Journal Vol. 2 No. 9 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v2i92022p605-615

Abstract

Abstract: Bullying behavior still occurs in various parts of the world, including in Indonesia, until now. This bullying behavior had a negative impact, namely emotional and behavioral disturbances for both bullies and victims of bullying. The purpose of this research was to explore the factors that influence bullying behavior; psychological dynamics of perpetrators and victims of bullying as well as psychological dynamics of academic motivation development interventions in self-compassion in minimizing bullying behavior. This research is a literature study. The research procedure included reading theories related to academic motivation, self-compassion, academic motivation in self-compassion, bullying behavior, predictors of bullying, psychological dynamics of academic motivation in compassion in minimizing bullying. The results of this study were the factors that cause bullying behavior is a lack of moral knowledge about bullying behavior and its effects; parenting style that is too authoritarian and permissive; justification for bullying in schools. There were many negative impacts on bullying behavior, starting from emotional and behavioral disturbances in bullying perpetrators, which were related to aggression and emotional and behavioral disturbances in bullying related to low self-esteem, stress, depression, difficulty adapting, and even attempted suicide in victims of bullying. One of the interventions to minimize bullying behavior was by developing academic motivation in self-compassion to minimize bullying. Abstrak: Perilaku bullying masih terjadi di berbagai belahan dunia termasuk di Indonesia, hingga saat ini. Perilaku bullying ini memberi dampak yang negatif yakni gangguan emosi dan perilaku baik pada pelaku bullying maupun korban bullying. Tujuan penulisan artikel ini adalah melakukan studi literature terkait dengan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku bullying; dinamika psikologis pelaku dan korban bullying serta dinamika psikologis intervensi pengembangan motivasi akademik dalam self-compassion dalam meminimalisir perilaku bullying. Penelian ini merupakan penelitian studi literature. Prosedur penelitian ini meliputi membaca teori berkaitan dengan motivasi akademik, self-compassion, motivasi akademik dalam self-compassion, perilaku bullying, prediktor bullying, dinamika psikologis motivasi akademik dalam compassion dalam meminimalisir bullying. Hasil penelitian ini adalah Faktor-faktor yang menyebabkan perilaku bullying adalah kurangnya pengetahuan moral tentang perilaku bullying dan dampaknya; pola asuh orang tua yang terlalu otoriter dan permisif; pembenaran bullying di sekolah. Banyak dampak negatif dalam perilaku bullying mulai dari gangguan emosi dan perilaku pada pelaku bullying yakni berkaitan dengan agresi dan gangguan emosi dan perilaku pada bullying terkait dengan rendah diri, stress, depresi, susah beradaptasi, bahkan percobaan bunuh diri pada korban bullying. Salah satu intervensi untuk meminimalisir perilaku bullying dengan mengembangkan motivasi akademik dalam self-compassion untuk meminimalisir bullying.
Am I A Cheater?: Pengaruh Priming dengan Subtle Linguistic in Ethical Reminder dalam mengurangi Perilaku tidak Etis Berdasarkan Jenis Kelamin Khairina, Nadia; Raissa Dwifandra Putri; Yaumul Rahmi
Flourishing Journal Vol. 2 No. 10 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v2i102022p640-649

Abstract

Previous studies of unethical behavior have shown that many people will engage when they have the opportunity. Several studies have shown contradictions with each other regarding fraudulent behavior between men and women. This study wanted to test whether the use of priming with subtle words could suppress the emergence of fraudulent behavior, especially when associated with gender. The study used a 2x2 experimental design ((PrimingxNonPriming)x(MalexFemale)) with 60  participants. The study used instruments in the form of mathematical problems that must be answered correctly for 60 seconds and participants can "claim" or write down the number of questions that can be answered correctly.  Participants in the priming group will get the phrase "Please don't be a cheater" before doing a  question consisting of 20 questions.   This research will be analyzed by quantitative descriptive analysis. The results in this study showed that female participants (M=7.13, SD=  2,774) showed a higher tendency of cheating compared to male participants (M=7.00, SD=2,236) even if given priming words. Meanwhile, in conditions that did not get priming words (non-priming), female participants (M=12.80, SD= 5,414) also showed a higher tendency of cheating than male participants (M=11.13, SD=7,376).  In addition, cheating can still occur and is not affected by gender, both male and female.  Abstrak Studi terdahulu terkait perilaku tidak etis (unethical behavior) memperlihatkan bahwa banyak orang terlibat dalam perilaku seperti itu ketika memiliki kesempatan. Beberapa penelitian memperlihatkan kontradiksi satu sama lain terkait perilaku curang antara laki-laki dan perempuan. Penelitian ini ingin menguji apakah penggunaan priming dengan kata-kata yang halus dapat menekan munculnya perilaku curang, terutama jiak dikaitkan dengan jenis kelamin. Penelitian menggunakan desain eksperimen 2x2 ((PrimingxNonPriming)x(Laki-lakixPerempuan)) dengan partisipan sebanyak 60 orang. Penelitian menggunakan instrument berupa soal matematika yang harus dijawab dengan tepat selama 60 detik dan partisipan dapat “mengklaim” atau menuliskan jumlah soal yang dapat dijawab dengan benar. Partisipan yang berada di kelompok Priming akan mendapatkan kalimat “Mohon jangan jadi orang yang curang” sebelum mengerjakan soal yang terdiri dari 20 soal. Penelitian ini akan dianalisis dengan analisis deksripstif kuantitatif. Hasil dalam penelitian ini memperlihatkan bahwa partisipan perempuan (M=7.13, SD=2.774) memperlihatkan tendensi kecurangan yang lebih tinggi dibandingkan dengan partisipan laki-laki (M=7.00, SD= 2.236) bahkan jika diberikan priming kata-kata. Sedangkan pada kondisi yang tidak mendapatkan priming kata-kata (non priming), partisipan perempuan (M=12.80, SD= 5.414) juga memperlihatkan tendensi kecurangan yang lebih tinggi dibandingkan partisipan laki-laki (M=11.13, SD= 7.376). Selain itu pula, kecurangan dapat tetap terjadi, dan tidak terpengaruh oleh jenis kelamin, baik laki-laki maupun perempuan.
Fenomena Seks Pranikah pada Masa Remaja Nila Shofy Nihayah; Sevina Dwi Yulingga; Raissa Dwifandra Putri
Flourishing Journal Vol. 2 No. 12 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v2i122022p741-750

Abstract

Premarital sex behavior in adolescents is driven by the condition of adolescents who still want to trymany new things. Other factors are also heavily involved in influencing this premarital sex behaviorsuch as peer influence, lack of parental supervision, easy access to pornographic content, etc. Thereare many negative impacts of this problem. As parents, educational institutions, and even theenvironment can have a positive influence on adolescents so they can avoid premarital sex behavior.This study aims to explore the phenomenon of premarital sex in adolescence. The approach taken isa literature study by systematically collecting data and reviewing several basic theories that arerelevant to the discussion. Until the results are obtained that premarital sexual behavior duringadolescence is still quite high so that more attention is needed to this problem. Many things can away to prevent teenagers from involving into this problem. A wise explanations from parents,education about premarital sex from educational institutions, high self-efficacy, and positive supportfrom the environment can be supporting factors for teenagers to avoid this behavior. AbstrakPerilaku seks pranikah pada remaja didorong oleh kondisi remaja yang masih ingin mencoba banyakhal baru. Faktor-faktor lain juga banyak terlibat dalam mempengaruhi perilaku seks pranikah iniseperti pengaruh teman sebaya, kurangnya pengawasan orang tua, mudahnya akses kontenpornografi, dll. Banyak dampak negatif dari permasalahan ini. Selayaknya orang tua, lembagapendidikan bahkan lingkungan bisa memberikan pengaruh positif pada remaja hingga bisa terhindardari perilaku seks pranikah. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi fenomena seks pranikahpada masa remaja. Pendekatan yang dilakukan adalah studi literatur dengan mengumpulkan datasecara sistematis dan mengkaji beberapa teori dasar yang relevan dengan pembahasan. Hinggadiperoleh hasil bahwasanya perilaku seks pranikah pada masa adolescence masih cukup tinggisehingga perlu adanya perhatian yang lebih lagi terhadap permasalahan ini. Banyak hal yang bisadilakukan guna menghindari remaja agar tidak terjerumus pada permasalahan ini. Penjelasan yangbaik dan bijak dari orang tua, edukasi tentang seks pranikah dari lembaga pendidikan, self efficacyyang tinggi, dan support positif dari lingkungan bisa menjadi faktor pendukung remaja terhindar dariperilaku tersebut.
Adaptasi dan Validasi Alat Ukur Kepuasan Kebutuhan Dasar Psikologis pada Guru Utomo, Hanggara Budi; Putri, Raissa Dwifandra
Flourishing Journal Vol. 5 No. 9 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v5i92025p472-482

Abstract

Teachers' interest and desire and motivation to teach will arise if there is an experience of basic psychological need satisfaction. This study aims to adapt and validate the Basic Psychological Need at Work developed by Ilardi, in order to obtain a valid and reliable measuring instrument to measure the satisfaction of the basic psychological needs of the Indonesian version of teachers in East Java. The adaptation process was carried out using guidelines from the International Test Commission in 2017. The validation process is carried out by testing content validity using content validity analysis and construct validity using confirmatory factor analysis. The respondents were 108 elementary school teachers in Kediri, Blitar, Nganjuk, and Tulungagung. Based on the results, it can be seen that the measurement model of the psychological basic needs satisfaction construct explains the existence of a good goodness of fit. In addition, the composite reliability value of the measuring instrument is between 0.74-0.93, and the average variance extracted value is in the range of 0.64-0.92. The results of this study indicate that the Basic Psychological Need at Work measuring instrument is a valid and reliable measuring instrument for measuring basic psychological need satisfaction in teachers in Indonesia, especially in East Java
Gambaran Perkembangan Bahasa pada Anak dengan ADHD: Tinjauan Literatur Hammam, Faiz Yunsar; Zaki, Salsabilah May; Putri, Raissa Dwifandra
Flourishing Journal Vol. 4 No. 12 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i122024p605-616

Abstract

Language ability is crucial and essential for individuals. Language is used for communication, allowing people to connect with others and build a good social environment. Language development is particularly important for early childhood as it is related to cognitive and social development. However, some children experience difficulties in understanding language, following instructions and comprehension concepts, as well as grammatical concepts, making their speech difficult to understand. This condition can be found in children with ADHD. The purpose of this article is to provide an overview of language development in children with ADHD, including the dynamics of their language development and appropriate interventions or strategies to address language development issues in children with ADHD. This article employs a literature review method. The results from the literature review analysis indicate that children with ADHD have difficulties with pragmatic language, tend to omit and alter phonemes, and exhibit minor issues in language structure. AbstrakKemampuan berbahasa merupakan hal yang krusial dan penting dimiliki pada individu. Bahasa digunakan untuk melakukan komunikasi, dapat saling berhubung dengan manusia lain sehingga dapat membentuk lingkungan sosial yang baik. Bagi anak usia dini, perkembangan kemampuan bahasa ini cukup penting karena berkaitan dengan perkembangan pada kemampuan kognitif dan juga sosialnya. Namun, terdapat kondisi dimana anak memiliki masalah dalam memahami bahasa, mengikuti petunjuk dan konsep pemahaman, dan juga konsep gramatikal yang membuat apa yang mereka tuturkan sulit untuk dipahami. Kondisi ini dapat ditemui pada anak dengan ADHD. Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui gambaran perkembangan bahasa anak dengan ADHD yang terdiri dari dinamika perkembangan bahasa anak dengan ADHD serta intervensi atau strategi yang tepat dalam mengatasi masalah perkembangan bahasa pada anak dengan dengan ADHD. Penulisan artikel ini menggunakan metode literature review. Hasil yang ditemukan berdasarkan analisis literature review menyebutkan bahwa anak dengan ADHD memiliki masalah pada bahasa pragmatis mereka, gemar menghilangkan dan merubah fonem, dan ditemukannya sedikit masalah pada struktur bahasanya.