Claim Missing Document
Check
Articles

CRITICAL DISCOURSE ANALYSIS OF POLICE OFFICER’S NEGATIVE REPRESENTATION TOWARD #PERCUMALAPORPOLISI ON TWITTER/X: ANALISIS WACANA KRITIS REPRESENTASI NEGATIF APARAT KEPOLISIAN MELALUI TAGAR #PERCUMALAPORPOLISI DI TWITTER/X Nisrina Dauty; Cece Sobarna; Nani Darmayanti
Jurnal Kata Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Kata : Penelitian tentang Ilmu Bahasa dan Sastra
Publisher : LLDIKTI Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22216/kata.v8i2.2884

Abstract

Social criticism of the phenomenon happened on social media with popularized hashtags like #percumalaporpolisi on Twitter. Police officer incompetence in a sexual assault case in Luwu Timur, South Sulawesi, triggers citizens to create this hashtag. This research aims to describe the negative representation of Police officers by Indonesian Twitter users through #percumalaporpolisi. The qualitative research method used in this research is Norman Fairclough’s critical discourse analysis theory. Indonesian Police officers explicitly and implicitly represented through words usage, and/or sentences in negative ways. On the other side, Indonesian netizens (Twitter users) have been known for their distrust towards police officers for a long time, tending to use harsh words, posting their disagreement towards something harshly, and becoming the most impolite netizens in southeast Asia. Lastly, Police officers have had several controversial histories, followed by the exposed scandal of sexual harassment in Luwu Timur, explained as a social practice dimension. The negative representations are exposed both explicitly and implicitly through words and sentences. The representations were affected by how netizens interacted on social media perceiving police officers and the behavior of the netizens. It was getting worse as scandals in the police institutions were also supported by police impunity.
PEMANFAATAN KEANEKARAGAMAN HAYATI LOKAL SEBAGAI SUMBER PENDAPATAN MASYARAKAT PESISIR PANGANDARAN Sobarna, Cece; Amien, Suseno; Afsari, Asri Soraya
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 3 (2024): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v7i3.45868

Abstract

The Dahon plant (Nypa Rruticans) is a multipurpose plant whose existence has begun to be threatened today along with the rapid development of tourist destinations in Pangandaran. The lack of development of dahon sugar craftsmen in Pangandaran considering that the process of making dahon sugar requires special skills and perseverance whereas community resources in Parapat Hamlet are quite potent. This community service program aims to provide skills to process dahon plants into sugar for prospective groups of dahon craftsmen regularly. Service activities are carried out through counseling techniques and direct practice. The counseling carried out was in the form of providing motivational materials and counseling on post-harvest cultivation and nipah processing, as well as the practice of making dahon sugar. After counseling and practice of making dahon sugar to the target partners of the Berkah Nipah Self-Help Group, it appears that there are positive and encouraging developments for the target partners, as follows: (1) the target partners get additional insight and knowledge about the functions and benefits of the nipah plant scientifically, ( 2) target partners get new experience in the practice of making dahon sugar, (3) target partners are optimistic and enthusiastic to continue making dahon sugar in Parapat Hamlet, Pangandaran, and (4) knowledge and abilities of Mr. Sarli as an instructor can finally be lowered to young people. Through the results of this service activity, it is hoped that new dahon craftsmen will emerge and the ongoing development of the younger generation an ongoing basis.ABSTRAK Tanaman Dahon (Nypa Rruticans) merupakan tanaman serba guna yang keberadaannya mulai terancam saat ini seiring dengan pesatnya perkembangan destinasi wisata di Pangandaran. Kurangnya pengembangan pengrajin gula dahon di Pangandaran mengingat proses pembuatan gula dahon memerlukan keterampilan dan ketekunan khusus padahal sumber daya masyarakat di Dusun Parapat cukup potensial. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan keterampilan mengolah tanaman dahon menjadi gula bagi calon kelompok pengrajin dahon secara rutin. Kegiatan pengabdian dilakukan melalui teknik penyuluhan dan praktek langsung. Penyuluhan yang dilakukan berupa pemberian materi motivasi dan penyuluhan budidaya pasca panen dan pengolahan nipah, serta praktik pembuatan gula dahon. Setelah dilakukan penyuluhan dan praktek pembuatan gula dahon kepada mitra binaan Kelompok Swadaya Berkah Nipah, terlihat adanya perkembangan yang positif dan menggembirakan bagi mitra binaan, sebagai berikut: (1) mitra binaan mendapatkan tambahan wawasan dan pengetahuan tentang fungsi dan manfaat tanaman nipah secara ilmiah, (2) mitra binaan mendapatkan pengalaman baru dalam praktek pembuatan gula dahon, (3) mitra binaan optimis dan antusias untuk terus membuat gula dahon di Dusun Parapat, Pangandaran, dan (4) ilmu dan kemampuan Pak Sarli sebagai instruktur akhirnya bisa diturunkan ke generasi muda. Melalui hasil kegiatan pengabdian ini diharapkan akan muncul pengrajin-pengrajin dahon baru dan pembinaan generasi muda secara berkesinambungan.
PERSIAPAN AWAL PENGEMBANGAN DESA RAMAH ANAK BERBASIS LITERASI DIGITAL DI DESA CITENGAH KABUPATEN SUMEDANG SELATAN Zulkifli Mahmud, Erlina; Sobarna, Cece; Soraya Afsari, Asri
Midang Vol 2, No 3 (2024): Midang: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, Oktober 2024
Publisher : Unpad Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/midang.v2i3.58527

Abstract

Artikel ini ditulis sebagai luaran kegiatan pelaksanaan program Pengabdian pada Masyarakat terkait Pengembangan Desa Ramah Anak Berbasis Literasi Digital pada tahap awal. Kegiatan Pengabdian pada Masyarakat dilakukan di Desa Citengah, Sumedang Selatan di bawah payung tema besar “Unpad Bermanfaat”. Pada tahap ini dilakukan inventarisasi kebutuhan di lapangan sebagai persiapan pengembangan Desa Ramah Anak berbasis literasi digital bekerjasama dengan mahasiswa KKNM. Hasil observasi menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Sunda sudah langka di Desa Citengah. Melalui metode penyuluhan, lalu dilakukan pemberian beberapa materi antara lain materi bahasa Sunda untuk mempertahankan budaya lokal dan pemberian materi bahasa Inggris untuk persiapan literasi digital. Metode yang dilakukan ada beberapa tahap yaitu observasi lapangan untuk mengidentifikasi kebutuhan dasar menuju pengembangan desa Ramah Anak berbasis literasi digital. Metode berikutnya terkait hasil observasi yaitu penyuluhan antara lain dalam bentuk pemberian materi bahasa Sunda dan bahasa Inggris. Metode terakhir yaitu pemberian materi pendidikan sehubungan dengan mitra PPM ini adalah guru-guru PAUD, guru-guru Taman Kanak-Kanak (TK), guru-guru Sekolah Dasar, dan para orang tua yang memiliki anak usia sekolah. Hasil kegiatan Pengabdian Pada Masyarakat pada tahap awal ini berupa pembekalan bahasa dipersiapkan untuk melakukan Pengabdian pada tahap berikutnya yaitu Pengembangan Desa Ramah Anak Berbasis Literasi Digital.
Patterns of Kinship Address Term Usage in the Malay Families of Marok Kecil Village: A Sociolinguistic Study Siti Nuraini Wahidatun Nisa; Cece Sobarna; Asri Soraya Afsar
IDEAS: Journal on English Language Teaching and Learning, Linguistics and Literature Vol. 13 No. 1 (2025): IDEAS: Journal on English Language Teaching and Learning, Linguistics and Lite
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24256/ideas.v13i1.6682

Abstract

This study investigates the patterns of kinship address term usage within the family interactions of the Malay community in Marok Kecil Village, Lingga Regency, Riau Islands. Using a descriptive qualitative method, the research examines how speakers choose address terms based on relational roles such as age, kinship status, and social hierarchy. Data were collected through observation, audio recordings, field notes, and structured interviews with 100 participants from 50 families, covering a range of age groups and kinship positions. The findings reveal three dominant usage patterns: nonreciprocal downward (older to younger), nonreciprocal upward (younger to older), and symmetrical reciprocal (among peers). The choice of address terms is shaped by factors such as generational differences, situational formality, and sociocultural norms. The study employs Ervin-Tripp’s (1972) alternation and co-occurrence rules to interpret how linguistic behavior reflects familial roles and traditional values in the Riau Malay context. These findings contribute to a deeper understanding of how language is used to encode social relationships and maintain cultural continuity within traditional family systems.
Alternasi Bunyi Vokal pada Kata Serapan dari Bahasa Indonesia dalam Bahasa Kaili Dialek Ledo: Kajian Fonologi Moh. Alfair Ramadhan; Cece Sobarna; Lia Maulia Indrayani
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 11 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v11i3.6455

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jenis-jenis alternasi bunyi vokal pada kata serapan dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Kaili dialek Ledo dan menggambarkan pola kaidah fonologis dari alternasi tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data penelitian bersumber dari Kamus Kaili Ledo-Indonesia-Inggris yang dikumpulkan menggunakan metode pustaka. Analisis data penelitian menggunakan metode distribusional dengan teknik bagi unsur terkecil (BUT) untuk menentukan jenis serta menemukan pola dari alternasi bunyi vokal berdasarkan fitur distingtifnya. Penelitian ini menemukan sebanyak 108 kata serapan dari bahasa Indonesia dalam bahasa Kaili dialek Ledo. Hasil dari analisis data menununjukkan bahwa terdapat sembilan jenis alternasi bunyi vokal yaitu anaptiksis paragog, anaptiksis epentesis, monoftongisasi, diftongisasi, pemanjangan, lenisi, fortisi, fronting, dan backing. Alternasi dengan frekuensi kemunculan tertinggi adalah lenisi sedangkan alternasi dengan frekuensi terendah adalah diftongisasi. Pola kaidah fonologis dari setiap alternasi menunjukkan bahwa struktur suku kata tidak mengalami perubahan yang signifikan. Beberapa kata serapan tidak mengikuti struktur KV bahasa Kaili dan mempertahankan struktur suku kata aslinya.
Kategori Fatis Pada Video Animasi Berbahasa Sunda di Akun Tiktok @Rifirdus Wahyudin, Muhamad Rusliana; Sobarna, Cece; Afsari, Asri Soraya
Salingka Vol 21, No 1 (2024): SALINGKA, Edisi Juli 2024
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/salingka.v21i1.1071

Abstract

Nowadays, the use of phatic categories has spread to social media TikTok. Users flock to include phatic categories, both in Indonesian and regional languages, for example Sundanese, in their uploads. In line with this, this research focuses on the Sundanese language phatic category on TikTok social media. The research aims to examine the form, function, and distribution of phatic categories in Sundanese animated videos on the TikTok account @rifirdus. The theory used is the theory put forward by Kridalaksana (2007). The method used is descriptive qualitative. The results of the research show that based on its form, the phatic category in this study is divided into 7 particle forms and 2 word forms. Based on its function, it is divided into 11 types of functions, namely emphasizing comparisons, emphasizing proof, emphasizing annoyance, emphasizing reasons, emphasizing commands, emphasizing uncertainty, emphasizing rebuttal, emphasizing giving salt, emphasizing questions, asking for agreement, and simply emphasizing. Based on distribution, the phatic category can be at the beginning, in the middle, and at the end of a sentence. AbstrakDewasa ini, penggunaan kategori fatis telah merambah hingga media sosial TikTok. Para penggunanya beramai-ramai menyertakan kategori fatis, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa daerah, misalnya bahasa Sunda dalam unggahannya. Sejalan dengan hal tersebut, penelitian ini berfokus pada kategori fatis bahasa Sunda di media sosial TikTok. Penelitian bertujuan untuk mengkaji bentuk, fungsi, dan distribusi kategori fatis pada video animasi berbahasa Sunda di akun TikTok @rifirdus. Teori yang digunakan adalah teori yang dikemukakan oleh Kridalaksana (2007). Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan bentuknya, kategori fatis dalam penelitian ini dibagi menjadi bentuk partikel yang berjumlah 7 dan bentuk kata yang berjumlah 2. Berdasarkan fungsinya, dibagi menjadi 11 macam fungsi, yaitu menekankan perbandingan, menekankan pembuktian, menekankan kekesalan, menekankan alasan, menekankan perintah, menekankan ketidakpastian, menekankan bantahan, menekankan pemberian garam, menekankan pertanyaan, meminta persetujuan, dan sekadar penekanan. Berdasarkan distribusi, kategori fatis dapat berada di awal, di tengah, dan di akhir kalimat.
Peningkatan Literasi Budaya Pada Pengembangan Desa Ramah Anak Berbasis Literasi Digital Di Desa Citengah, Sumedang Selatan Zulkifli Mahmud, Erlina; Sobarna, Cece; Afsari, Asri Soraya
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 6 No. 3 (2025): Edisi Juli - September
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v6i3.6204

Abstract

Kegiatan Pengabdian pada Masyarakat integratif dengan kegiatan KKN yang diusung oleh Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran di bawah payung “Hibah Bermanfaat” telah memasuki tahun ke tiga. Pada tahap ini kegiatan dengan tema utama “Pengembangan Desa Ramah Anak Berbasis Literasi Digital di Desa Citengah, Kabupaten Sumedang Selatan” difokuskan pada peningkatan literasi budaya. Literasi budaya dipilih sebagai upaya mengembangkan Desa Ramah Anak berbasis literasi digital karena masih minimnya pengetahuan budaya masyarakat desa Citengah khususnya anak-anak terkait kekayaan budaya yang ada di desa tersebut. Sesuai dengan karakter anak yang dapat berkembang dengan pesat melalui permainan atau bermain, maka kegiatan literasi budaya dilakukan dalam bentuk edukasi berupa sosialisasi permainan-permainan tradisional seperti Engklek, Oray-orayan pada anak-anak PAUD Kober Lestari dengan menggunakan kekuatan teknologi antara lain menggunakan video pembelajaran dan video interaktif. Sementara literasi budaya berupa penguatan materi kesenian tradisional yaitu Songah (Songsong Citengah), Calung, dan Sisingaan diberikan pada selain anak-anak SDN Citengah dan kalangan remaja, juga masyarakat umumnya melalui pembuatan akun media sosial, dokumentasi kesenian, dan pemasangan pigura di Kantor Desa. Hasil kegiatan Pengabdian pada Masyarakat terkait literasi budaya ini menunjukkan bahwa adanya peningkatan pengetahuan anak-anak PAUD pada permainan-permainan tradisional yang dibuktikan dari antusiasme anak-anak terhadap permainan-permanian tradisional yang diajarkan, dan hasil terkait kegiatan penguatan kesadaran diri pada kesenian tradisional untuk sementara dapat dikatakan cukup memadai karena untuk acara-acara di lingkungan Desa Citengah pertunjukan kesenian tradisional seperti Songah dan Calung mulai digalakkan.  Penting untuk ditindaklanjuti bahwa upaya-upaya tersebut harus terus dilakukan untuk mencapai tahapan masyarakat yang memiliki literasi budaya berbasis literasi digital terkait pengembangan Desa Ramah Anak.
Patterns of Kinship Address Term Usage in the Malay Families of Marok Kecil Village: A Sociolinguistic Study Siti Nuraini Wahidatun Nisa; Cece Sobarna; Asri Soraya Afsar
IDEAS: Journal on English Language Teaching and Learning, Linguistics and Literature Vol. 13 No. 1 (2025): IDEAS: Journal on English Language Teaching and Learning, Linguistics and Lite
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24256/ideas.v13i1.6682

Abstract

This study investigates the patterns of kinship address term usage within the family interactions of the Malay community in Marok Kecil Village, Lingga Regency, Riau Islands. Using a descriptive qualitative method, the research examines how speakers choose address terms based on relational roles such as age, kinship status, and social hierarchy. Data were collected through observation, audio recordings, field notes, and structured interviews with 100 participants from 50 families, covering a range of age groups and kinship positions. The findings reveal three dominant usage patterns: nonreciprocal downward (older to younger), nonreciprocal upward (younger to older), and symmetrical reciprocal (among peers). The choice of address terms is shaped by factors such as generational differences, situational formality, and sociocultural norms. The study employs Ervin-Tripp’s (1972) alternation and co-occurrence rules to interpret how linguistic behavior reflects familial roles and traditional values in the Riau Malay context. These findings contribute to a deeper understanding of how language is used to encode social relationships and maintain cultural continuity within traditional family systems.
Modifikasi Wayang Topeng Malangan di Padepokan Asmoro Bangun, Kedungmonggo Pakisaji, Malang Wibowo, Arining; Priyatna, Aquarini; Sobarna, Cece
PANGGUNG Vol 29 No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v29i3.1009

Abstract

ABSTRACT            This article focuses on the modification of Malangese Mask Puppet, a traditional art that has been developed in Malang, East Java, for long time. This research aims to finds out changes in Malangese Mask Puppet in order to maintain the existence of the art in this era, by which popular culture dominated. The article is written to answer questions, first, how do modifications of Malangese Mask Puppet were done both in performance and crafting aspects, and second, how do the modifications influence the fuction of Malangese Mask Wayang. The research uses a qualitative method with interview, observation, and document analysis as data collection technique. The data analysis is conducted through triangulation technique. The results are that modification is conducted by simplifying and beautifying the form of some elements such as clothes, accessories, and the material of mask crafting. Meanwhile, the modification of ideas are implemented through the changing of some traditional patterns, such as shortening the duration of performance, creating the new rule to involve women and kids as an active artist of Malangese Mask Wayang. The modification of Malangese Mask Wayang influences the function and role of the art as a commodity or product.   Keywords: Modification, Malangese Mask Wayang, Asmoro Bangun Art Center ABSTRAK            Artikel ini membahas perubahan atau modifikasi pada kesenian tradisional Wayang Topeng Malangan yang telah lama berkembang di kota Malang, Jawa Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada Wayang Topeng Malangan yang dilakukan oleh seniman dalam mempertahankan kesenian tersebut pada masa sekarang, yang cenderung didominasi oleh budaya pop. Artikel ini ditulis untuk menjawab beberapa rumusan masalah, yaitu pertama, bagaimana modifikasi Wayang Topeng Malangan dilakukan pada unsur pertunjukan dan kerajinan topeng, dan kedua adalah bagaimana modifikasi tersebut memengaruhi peran dan fungsi kesenian Wayang Topeng Malangan saat ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan wawancara, observasi dan studi dokumen sebagai teknik pengumpulan data. Data dianalisis menggunakan teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modifikasi bentuk pertunjukan dan kerajinan topeng dilakukan dengan menyederhanakan dan mempercantik bentuk busana dan ragam hiasan, mengubah material dan proses pembuatan topeng. Sedangkan modifikasi gagasan terimplementasikan pada perubahan pakem (aturan tradisi), seperti mempersingkat waktu pergelaran dan memberikan aturan baru keterlibatan perempuan dalam kesenian Wayang Topeng Malangan.  Modifikasi bentuk pertunjukan dan kerajinan topeng serta gagasan berkaitan dengan Wayang Topeng Malangan memengaruhi peran dan fungsi Wayang Topeng Malangan, yang tidak sekedar sebagai seni, namun juga sebuah komoditas (produk). Kata Kunci: Modifikasi, Wayang Topeng Malangan, Padepokan Asmoro Bangun
EXPLICITATION STRATEGY IN TRANSLATING AN INDONESIAN NOVEL INTO ENGLISH Mahmud, Erlina Zulkifli; Sobarna, Cece
Lire Journal (Journal of Linguistics and Literature) Vol. 7 No. 1 (2023): Lire Journal (Journal of Linguistics and Literature)
Publisher : Elite Laboratory Jurusan Sastra Inggris Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33019/lire.v7i1.165

Abstract

TThis research article is about the use of translation strategy namely explicitation in the translation of a novel from Indonesian into English. The data source is an Indonesian novel entitled Lelaki Harimau written by Eka Kurniawan and its English translation, Man Tiger. The novel creates commands and critics regarding its content as well as its language use. This makes the novel unique. The uniqueness in the source language text needs extra works to do in delivering the closest natural equivalent in the target language text. Untranslatability is no longer issue as there are strategies of translation that can be applied, one of them is explicitation. The explicitation strategy used is the one proposed by Klaudy. Using descriptive qualitative method, this research is aimed at revealing the kind of information being explicitated, the forms of explicitation used, and the semantic information of the words explicitated. The results show that the kind of information is both cultural and non-cultural, and the forms of explicitation identified are all five of them and semantically all the words being explicitated become clearer, specific, and more informative.