p-Index From 2021 - 2026
4.735
P-Index
This Author published in this journals
All Journal MAKNA: Jurnal Kajian Komunikasi, Bahasa dan Budaya Parole: Journal of Linguistics and Education Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) KOMUNITAS: INTERNATIONAL JOURNAL OF INDONESIAN SOCIETY AND CULTURE Harmonia: Journal of Research and Education Dharmakarya : Jurnal Aplikasi Ipteks Untuk Masyarakat Jurnal Arbitrer IDEAS: Journal on English Language Teaching and Learning, Linguistics and Literature Panggung Jurnal Ilmiah Peuradeun Ranah: Jurnal Kajian Bahasa TOTOBUANG Lire journal (journal of linguistics and literature Berumpun: international journal of social, politics and humanities Research and Innovation in Language Learning PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Humaniora Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Journal Sampurasun : Interdisciplinary Studies for Cultural Heritage JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA Suar Betang Metahumaniora Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Journal of Social Research Makara Human Behavior Studies in Asia Jurnal Kata : Penelitian tentang ilmu bahasa dan sastra Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Studies in English Language and Education Midang Riksa Bahasa: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya Lire Journal (Journal of Linguistics and Literature) Panggung Majalah Ilmiah Bahasa dan Sastra Journey: Journal of English Language and Pedagogy
Claim Missing Document
Check
Articles

Kajian Budaya Fotografi Potrait dalam Wacana Personalitas Andang Iskandar; Cece Sobarna; Deddy Mulyana; Yuyu Yohana Risagarniwa
PANGGUNG Vol 24 No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v24i3.127

Abstract

ABSTRACT Portrait Photography is a representation of similarity in the form of two-dimensional human fi- gure. Portrait photography gives a personal good indication of the owner’s portrait, portrait subjects and photographers. Personality photographic work representing one’s personal character. This study aims to explain the problems of cultural studies in the discourse on photography portrait personality. This research method using literature review of the literature both books, journal articles and research reports, especially portrait photography in cultural studies. The study provides an overview of cul- tural studies on four issues for portrait photography: first, photography as a representation. Portrait is where negotiations between the photographer with the subject of self-representation (model). Se- cond, diaspora photographers. Photographers Indonesian Chinese (Peranakan) as cultural brokers in the post-colonial period. The difference between the Peranakan culture and totok also distinguished in the profession of social groups in studio photography. Third, the identity of the portrait. Family’s photo album as a way structured ourselves, and cultural identities through ritual memory. Fourth, photography as a medium of cultural domination. Photography is a meaning synthesis of subject and object photos. Keywords: cultural studies, portrait photography, personality, discourse  ABSTRAK Fotografi potrait merupakan representasi kemiripan figur manusia dalam bentuk dwimatra. Fotografi potrait memberikan indikasi personal baik pada pemilik potrait, sub- jek potrait maupun fotografer. Personalitas karya fotografi yang mewakili pribadi bahkan karakter seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan permasalahan kajian buda- ya pada fotografi potrait dalam wacana personalitas. Metode penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka dari berbagai literatur baik buku, artikel jurnal dan laporan pene- litian fotografi khususnya potrait dalam kajian budaya. Hasil penelitian ini memberikan gambaran empat permasalahan kajian budaya pada fotografi potrait yaitu pertama, foto- grafi sebagai representasi. Potrait merupakan tempat negosiasi antara fotografer dengan representasi-diri subjek (model). Kedua, diaspora fotografer. Fotografer China Indonesia (peranakan) sebagai broker budaya di masa poskolonial. Perbedaan budaya antara per- anakan dan totok dibedakan juga dalam kelompok sosial profesi dalam studio fotografi. Ketiga, identitas dalam potrait. Album foto keluarga sebagai sebuah cara untuk menstruk- turisasi diri, identitas dan budaya melalui ritual ingatan. Keempat, fotografi sebagai me- dia dominasi budaya. Fotografi adalah sintesis pemaknaan dua subjek yang-memotret dan yang-memandang. Kata kunci: kajian budaya, fotografi potrait, personalitas, wacana
Toponimi Nama Tempat Berbahasa Sunda di Kabupaten Banyumas Cece Sobarna; Gugun Gunardi; Wahya Wahya
PANGGUNG Vol 28 No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v28i2.426

Abstract

ABSTRACTThe continuous changes of society have brought some impacts to the name of a place. Even though it is only a name, it actually deals with the cultural perspective of the surrounding communities. Currently, toponym becomes important for society as a part of identity formation processes including for the Sundanese. Beside spoken in West Java and Banten, Sundanese language is also spoken by Central Java communities who live in western areas such as Cilacap, Brebes, and Banyumas regencies. In Cilacap and Brebes regencies, Sundanese language is still an effective language for daily communication. However, in Banyumas regency, this language undergo changes. In fact, the Sundanese language in Banyumas is a quite unique since the archaic words such as pineuh  (sleeping) and teoh (below) are still found. This area still keeps its oral tradition such as the story about the history of the place names. By employing dialectology theory to the data collected from the field, this study of the place name is an effort to strengthen an identity as the place name can be understood as a symbol rooted on the history of the place in its local culture. This tradition contributes toward a sustainability of the place name along with their cultural values.Key words: place names, local wisdom, identity   ABSTRAKPerubahan masyarakat yang terus-menerus berpengaruh pada perubahan penamaaan tempat di suatu daerah.Tidak hanya sekadar nama, dalam penamaan sebuah tempat terkandung pandangan  masyarakat pemiliknya. Saat ini, toponimi menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia sebagai bagian dari proses pembentukan identitas. Selain di wilayah Jawa Barat dan Banten, bahasa Sunda digunakan pula oleh sebagian masyarakat Jawa Tengah yang berada di bagian barat, seperti Kabupaten Cilacap, Brebes, dan Banyumas. Di wilayah Kabupaten Cilacap dan Brebes bahasa Sunda sampai sekarang masih digunakan. Namun, di wilayah Kabupaten Banyumas, bahasa Sunda mengalami penyusutan. Padahal, bahasa Sunda di wilayah tersebut cukup menarik, yakni masih ditemukan kata-kata arkais, seperti pineuh ‘tidur’ dan teoh ‘bawah’. Wilayah ini juga masih menyimpan banyak tradisi lisan, di antaranya adalah ihwal cerita terjadinya nama tempat. Dengan menggunakan teori dialektologi terhadap data yaang dikumpulkan di lapangan, pengkajian nama tempat ini merupakan sebuah upaya yang strategis dalam rangka penguatan jati diri bangsa karena nama tempat dapat dipahami sebagai tanda yang mengacu pada cerita dan sejarah yang berakar pada budaya lokal. Tradisi ini berkontribusi terhadap kelanggengan nama berikut nilai-nilai budaya di dalamnya.Kata kunci: nama tempat, kearifan lokal, jati diri
Modifikasi Wayang Topeng Malangan di Padepokan Asmoro Bangun, Kedungmonggo Pakisaji, Malang Arining Wibowo; Aquarini Priyatna; Cece Sobarna
PANGGUNG Vol 29 No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v29i3.1009

Abstract

ABSTRACT            This article focuses on the modification of Malangese Mask Puppet, a traditional art that has been developed in Malang, East Java, for long time. This research aims to finds out changes in Malangese Mask Puppet in order to maintain the existence of the art in this era, by which popular culture dominated. The article is written to answer questions, first, how do modifications of Malangese Mask Puppet were done both in performance and crafting aspects, and second, how do the modifications influence the fuction of Malangese Mask Wayang. The research uses a qualitative method with interview, observation, and document analysis as data collection technique. The data analysis is conducted through triangulation technique. The results are that modification is conducted by simplifying and beautifying the form of some elements such as clothes, accessories, and the material of mask crafting. Meanwhile, the modification of ideas are implemented through the changing of some traditional patterns, such as shortening the duration of performance, creating the new rule to involve women and kids as an active artist of Malangese Mask Wayang. The modification of Malangese Mask Wayang influences the function and role of the art as a commodity or product.   Keywords: Modification, Malangese Mask Wayang, Asmoro Bangun Art Center ABSTRAK            Artikel ini membahas perubahan atau modifikasi pada kesenian tradisional Wayang Topeng Malangan yang telah lama berkembang di kota Malang, Jawa Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada Wayang Topeng Malangan yang dilakukan oleh seniman dalam mempertahankan kesenian tersebut pada masa sekarang, yang cenderung didominasi oleh budaya pop. Artikel ini ditulis untuk menjawab beberapa rumusan masalah, yaitu pertama, bagaimana modifikasi Wayang Topeng Malangan dilakukan pada unsur pertunjukan dan kerajinan topeng, dan kedua adalah bagaimana modifikasi tersebut memengaruhi peran dan fungsi kesenian Wayang Topeng Malangan saat ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan wawancara, observasi dan studi dokumen sebagai teknik pengumpulan data. Data dianalisis menggunakan teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modifikasi bentuk pertunjukan dan kerajinan topeng dilakukan dengan menyederhanakan dan mempercantik bentuk busana dan ragam hiasan, mengubah material dan proses pembuatan topeng. Sedangkan modifikasi gagasan terimplementasikan pada perubahan pakem (aturan tradisi), seperti mempersingkat waktu pergelaran dan memberikan aturan baru keterlibatan perempuan dalam kesenian Wayang Topeng Malangan.  Modifikasi bentuk pertunjukan dan kerajinan topeng serta gagasan berkaitan dengan Wayang Topeng Malangan memengaruhi peran dan fungsi Wayang Topeng Malangan, yang tidak sekedar sebagai seni, namun juga sebuah komoditas (produk). Kata Kunci: Modifikasi, Wayang Topeng Malangan, Padepokan Asmoro Bangun
CONCEPTUAL METONYMY WHOLE FOR PART AND PART FOR WHOLE IN THE KOREAN DRAMA “THE GLORY”: A COGNITIVE SEMANTIC STUDY: METONIMI KONSEPTUAL WHOLE FOR PART DAN PART FOR WHOLE DALAM DRAMA KOREA “THE GLORY”: KAJIAN SEMANTIK KOGNITIF Ni Gusti Ayu Dhyani Widyadari; Elvi Citraresmana; Cece Sobarna
Jurnal Kata Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Kata : Penelitian tentang Ilmu Bahasa dan Sastra
Publisher : LLDIKTI Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22216/kata.v7i2.2373

Abstract

The lack of research on metonymy and the number of Korean dramas raise issues that occur in South Korea make researchers want to study more deeply about how the conceptualization of metonymy is shown in an issue in Korea through drama. This study aims to identify and describe what conceptual metonymy is used and how to map the conceptual metonymy shown in the drama “The Glory” using cognitive semantic studies. This study used a descriptive qualitative approach with a data collection method of listening and note taking techniques as well as MIPVU (Metaphor Identification Procedure Vrije Universiteit) procedures developed for metonymy by Berri and Bregant (2015) as a data analysis method. The simak catat technique is used to see and record the use of conceptual metonymy contained in the drama “The Glory”. The method of presenting the data used is formal and informal methods because the data contained in this study is presented in the form of tables and descriptive analyses regarding conceptual metonymy. The findings obtained in this study were in the form of 23 data of conceptual metonymy found which included 12 data of WHOLE FOR PART metonymy and 11 data of PART FOR WHOLE metonymy. In the drama “The Glory” conceptual metonymy is used to name events that occur, mention the use of terms, mention the characteristics and circumstances of a person, and substitute the mention of objects or place.
CONCEPTUAL METAPHOR OF DEPRESSION IN KOREA ESSAY BOOKS 죽고 싶지만 떡볶이는 먹고 싶어 (JUKKKO SIPJJIMAN TTOKPPOKKINEUN MOKKO SIPO) ‘I WANT TO DIE BUT I WANT TO EAT TTEOKBOKKI’: COGNITIVE SEMANTIC STUDY: METAFORA KONSEPTUAL DEPRESI DALAM BUKU ESSAI KOREA 죽고 싶지만 떡볶이는 먹고 싶어 (JUKKKO SIPJJIMAN TTOKPPOKKINEUN MOKKO SIPO) ‘AKU INGIN MATI TAPI AKU INGIN MAKAN TTEOKBOKKI’: KAJIAN SEMANTIK KOGNITIF Ni Gusti Ayu Dhyana Widyadewi; Cece Sobarna; Elvi Citraresmana
Jurnal Kata Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Kata : Penelitian tentang Ilmu Bahasa dan Sastra
Publisher : LLDIKTI Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22216/kata.v7i2.2374

Abstract

The widespread use of metaphors in medical therapy dialogues and the heightened mental health issue in South Korea made researchers want to study further how the unique forms of metaphors are produced, one of which is depression. This study aims to find out what conceptualizations of depressive metaphors are produced in mental health therapy dialogs between the writer and his psychiatrist which are described in the Korean essay book 죽고 싶지만 떡볶이는 먹고 싶어 (Jukkko Sipjjiman Ttokppokkineun Mokko Sipo) 'I Want to Die But I Want to Eat Tteokbokki ' by Baek Se-Hee with a study of cognitive semantics. This study uses a descriptive qualitative approach with the method of collecting data using listening and note taking techniques. The data analysis method used in this study is Metaphor Identification Procedure Vrije Universiteit (MIPVU) procedure. Data presentation methods used are formal and informal methods. As a result, there are four conceptual metaphors of depression that are formed, namely DEPRESSION IS A PRISON, DEPRESSION IS A SPINNING WHEEL, DEPRESSION IS DARKNESS, and DEPRESSION IS WAR. These four conceptualizations are formed from various metaphorical expressions expressed by the author and his psychiatrist regarding the depression experienced by the writer.
CRITICAL DISCOURSE ANALYSIS OF POLICE OFFICER’S NEGATIVE REPRESENTATION TOWARD #PERCUMALAPORPOLISI ON TWITTER/X: ANALISIS WACANA KRITIS REPRESENTASI NEGATIF APARAT KEPOLISIAN MELALUI TAGAR #PERCUMALAPORPOLISI DI TWITTER/X Nisrina Dauty; Cece Sobarna; Nani Darmayanti
Jurnal Kata Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Kata : Penelitian tentang Ilmu Bahasa dan Sastra
Publisher : LLDIKTI Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22216/kata.v8i2.2884

Abstract

Social criticism of the phenomenon happened on social media with popularized hashtags like #percumalaporpolisi on Twitter. Police officer incompetence in a sexual assault case in Luwu Timur, South Sulawesi, triggers citizens to create this hashtag. This research aims to describe the negative representation of Police officers by Indonesian Twitter users through #percumalaporpolisi. The qualitative research method used in this research is Norman Fairclough’s critical discourse analysis theory. Indonesian Police officers explicitly and implicitly represented through words usage, and/or sentences in negative ways. On the other side, Indonesian netizens (Twitter users) have been known for their distrust towards police officers for a long time, tending to use harsh words, posting their disagreement towards something harshly, and becoming the most impolite netizens in southeast Asia. Lastly, Police officers have had several controversial histories, followed by the exposed scandal of sexual harassment in Luwu Timur, explained as a social practice dimension. The negative representations are exposed both explicitly and implicitly through words and sentences. The representations were affected by how netizens interacted on social media perceiving police officers and the behavior of the netizens. It was getting worse as scandals in the police institutions were also supported by police impunity.
PEMANFAATAN KEANEKARAGAMAN HAYATI LOKAL SEBAGAI SUMBER PENDAPATAN MASYARAKAT PESISIR PANGANDARAN Sobarna, Cece; Amien, Suseno; Afsari, Asri Soraya
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 3 (2024): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v7i3.45868

Abstract

The Dahon plant (Nypa Rruticans) is a multipurpose plant whose existence has begun to be threatened today along with the rapid development of tourist destinations in Pangandaran. The lack of development of dahon sugar craftsmen in Pangandaran considering that the process of making dahon sugar requires special skills and perseverance whereas community resources in Parapat Hamlet are quite potent. This community service program aims to provide skills to process dahon plants into sugar for prospective groups of dahon craftsmen regularly. Service activities are carried out through counseling techniques and direct practice. The counseling carried out was in the form of providing motivational materials and counseling on post-harvest cultivation and nipah processing, as well as the practice of making dahon sugar. After counseling and practice of making dahon sugar to the target partners of the Berkah Nipah Self-Help Group, it appears that there are positive and encouraging developments for the target partners, as follows: (1) the target partners get additional insight and knowledge about the functions and benefits of the nipah plant scientifically, ( 2) target partners get new experience in the practice of making dahon sugar, (3) target partners are optimistic and enthusiastic to continue making dahon sugar in Parapat Hamlet, Pangandaran, and (4) knowledge and abilities of Mr. Sarli as an instructor can finally be lowered to young people. Through the results of this service activity, it is hoped that new dahon craftsmen will emerge and the ongoing development of the younger generation an ongoing basis.ABSTRAK Tanaman Dahon (Nypa Rruticans) merupakan tanaman serba guna yang keberadaannya mulai terancam saat ini seiring dengan pesatnya perkembangan destinasi wisata di Pangandaran. Kurangnya pengembangan pengrajin gula dahon di Pangandaran mengingat proses pembuatan gula dahon memerlukan keterampilan dan ketekunan khusus padahal sumber daya masyarakat di Dusun Parapat cukup potensial. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan keterampilan mengolah tanaman dahon menjadi gula bagi calon kelompok pengrajin dahon secara rutin. Kegiatan pengabdian dilakukan melalui teknik penyuluhan dan praktek langsung. Penyuluhan yang dilakukan berupa pemberian materi motivasi dan penyuluhan budidaya pasca panen dan pengolahan nipah, serta praktik pembuatan gula dahon. Setelah dilakukan penyuluhan dan praktek pembuatan gula dahon kepada mitra binaan Kelompok Swadaya Berkah Nipah, terlihat adanya perkembangan yang positif dan menggembirakan bagi mitra binaan, sebagai berikut: (1) mitra binaan mendapatkan tambahan wawasan dan pengetahuan tentang fungsi dan manfaat tanaman nipah secara ilmiah, (2) mitra binaan mendapatkan pengalaman baru dalam praktek pembuatan gula dahon, (3) mitra binaan optimis dan antusias untuk terus membuat gula dahon di Dusun Parapat, Pangandaran, dan (4) ilmu dan kemampuan Pak Sarli sebagai instruktur akhirnya bisa diturunkan ke generasi muda. Melalui hasil kegiatan pengabdian ini diharapkan akan muncul pengrajin-pengrajin dahon baru dan pembinaan generasi muda secara berkesinambungan.
PERSIAPAN AWAL PENGEMBANGAN DESA RAMAH ANAK BERBASIS LITERASI DIGITAL DI DESA CITENGAH KABUPATEN SUMEDANG SELATAN Zulkifli Mahmud, Erlina; Sobarna, Cece; Soraya Afsari, Asri
Midang Vol 2, No 3 (2024): Midang: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, Oktober 2024
Publisher : Unpad Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/midang.v2i3.58527

Abstract

Artikel ini ditulis sebagai luaran kegiatan pelaksanaan program Pengabdian pada Masyarakat terkait Pengembangan Desa Ramah Anak Berbasis Literasi Digital pada tahap awal. Kegiatan Pengabdian pada Masyarakat dilakukan di Desa Citengah, Sumedang Selatan di bawah payung tema besar “Unpad Bermanfaat”. Pada tahap ini dilakukan inventarisasi kebutuhan di lapangan sebagai persiapan pengembangan Desa Ramah Anak berbasis literasi digital bekerjasama dengan mahasiswa KKNM. Hasil observasi menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Sunda sudah langka di Desa Citengah. Melalui metode penyuluhan, lalu dilakukan pemberian beberapa materi antara lain materi bahasa Sunda untuk mempertahankan budaya lokal dan pemberian materi bahasa Inggris untuk persiapan literasi digital. Metode yang dilakukan ada beberapa tahap yaitu observasi lapangan untuk mengidentifikasi kebutuhan dasar menuju pengembangan desa Ramah Anak berbasis literasi digital. Metode berikutnya terkait hasil observasi yaitu penyuluhan antara lain dalam bentuk pemberian materi bahasa Sunda dan bahasa Inggris. Metode terakhir yaitu pemberian materi pendidikan sehubungan dengan mitra PPM ini adalah guru-guru PAUD, guru-guru Taman Kanak-Kanak (TK), guru-guru Sekolah Dasar, dan para orang tua yang memiliki anak usia sekolah. Hasil kegiatan Pengabdian Pada Masyarakat pada tahap awal ini berupa pembekalan bahasa dipersiapkan untuk melakukan Pengabdian pada tahap berikutnya yaitu Pengembangan Desa Ramah Anak Berbasis Literasi Digital.
Patterns of Kinship Address Term Usage in the Malay Families of Marok Kecil Village: A Sociolinguistic Study Siti Nuraini Wahidatun Nisa; Cece Sobarna; Asri Soraya Afsar
IDEAS: Journal on English Language Teaching and Learning, Linguistics and Literature Vol. 13 No. 1 (2025): IDEAS: Journal on English Language Teaching and Learning, Linguistics and Lite
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24256/ideas.v13i1.6682

Abstract

This study investigates the patterns of kinship address term usage within the family interactions of the Malay community in Marok Kecil Village, Lingga Regency, Riau Islands. Using a descriptive qualitative method, the research examines how speakers choose address terms based on relational roles such as age, kinship status, and social hierarchy. Data were collected through observation, audio recordings, field notes, and structured interviews with 100 participants from 50 families, covering a range of age groups and kinship positions. The findings reveal three dominant usage patterns: nonreciprocal downward (older to younger), nonreciprocal upward (younger to older), and symmetrical reciprocal (among peers). The choice of address terms is shaped by factors such as generational differences, situational formality, and sociocultural norms. The study employs Ervin-Tripp’s (1972) alternation and co-occurrence rules to interpret how linguistic behavior reflects familial roles and traditional values in the Riau Malay context. These findings contribute to a deeper understanding of how language is used to encode social relationships and maintain cultural continuity within traditional family systems.
Alternasi Bunyi Vokal pada Kata Serapan dari Bahasa Indonesia dalam Bahasa Kaili Dialek Ledo: Kajian Fonologi Moh. Alfair Ramadhan; Cece Sobarna; Lia Maulia Indrayani
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 11 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v11i3.6455

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jenis-jenis alternasi bunyi vokal pada kata serapan dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Kaili dialek Ledo dan menggambarkan pola kaidah fonologis dari alternasi tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data penelitian bersumber dari Kamus Kaili Ledo-Indonesia-Inggris yang dikumpulkan menggunakan metode pustaka. Analisis data penelitian menggunakan metode distribusional dengan teknik bagi unsur terkecil (BUT) untuk menentukan jenis serta menemukan pola dari alternasi bunyi vokal berdasarkan fitur distingtifnya. Penelitian ini menemukan sebanyak 108 kata serapan dari bahasa Indonesia dalam bahasa Kaili dialek Ledo. Hasil dari analisis data menununjukkan bahwa terdapat sembilan jenis alternasi bunyi vokal yaitu anaptiksis paragog, anaptiksis epentesis, monoftongisasi, diftongisasi, pemanjangan, lenisi, fortisi, fronting, dan backing. Alternasi dengan frekuensi kemunculan tertinggi adalah lenisi sedangkan alternasi dengan frekuensi terendah adalah diftongisasi. Pola kaidah fonologis dari setiap alternasi menunjukkan bahwa struktur suku kata tidak mengalami perubahan yang signifikan. Beberapa kata serapan tidak mengikuti struktur KV bahasa Kaili dan mempertahankan struktur suku kata aslinya.