p-Index From 2021 - 2026
4.735
P-Index
This Author published in this journals
All Journal MAKNA: Jurnal Kajian Komunikasi, Bahasa dan Budaya Parole: Journal of Linguistics and Education Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) KOMUNITAS: INTERNATIONAL JOURNAL OF INDONESIAN SOCIETY AND CULTURE Harmonia: Journal of Research and Education Dharmakarya : Jurnal Aplikasi Ipteks Untuk Masyarakat Jurnal Arbitrer IDEAS: Journal on English Language Teaching and Learning, Linguistics and Literature Panggung Jurnal Ilmiah Peuradeun Ranah: Jurnal Kajian Bahasa TOTOBUANG Lire journal (journal of linguistics and literature Berumpun: international journal of social, politics and humanities Research and Innovation in Language Learning PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Humaniora Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Journal Sampurasun : Interdisciplinary Studies for Cultural Heritage JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA Suar Betang Metahumaniora Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Journal of Social Research Makara Human Behavior Studies in Asia Jurnal Kata : Penelitian tentang ilmu bahasa dan sastra Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Studies in English Language and Education Midang Riksa Bahasa: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya Lire Journal (Journal of Linguistics and Literature) Panggung Majalah Ilmiah Bahasa dan Sastra Journey: Journal of English Language and Pedagogy
Claim Missing Document
Check
Articles

Pola Nama pada Masyarakat Baduy Cece Sobarna; Asri Soraya Afsari
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 9, No 2 (2020): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v9i2.2939

Abstract

The giving of people's names is a universal phenomenon. However, every society has its own convention. The Baduy community as Sundanese indigenous people are unique in terms of giving names. The life of the Baduy community has recently begun to open up. This condition of course affects the joints of socio-cultural life, including the naming of names. The Baduy millennials, especially the Outer Baduy, for example, are more proud to have a name they consider modern so that some of them have nicknames that are far different from their real names. Of course this is a concern if left unchecked. This study examines the pattern of naming the Baduy community that has been going on for a long time. The aim is to describe the convention of naming patterns as the identity of the Baduy community. The data studied came from ten Outer Baduy villages by using the Family Card (KK) data in the Kenekes Village Office archive. Furthermore, the list of names contained in the KK was processed using the Microsoft Excel program through gender classification, age range, and name standard patterns. The results showed that the naming pattern of the Baduy community was that the names of girls took part, especially the initial syllable, from the father's name, while the names of boys took part of the mother's name. This is related to the philosophical values that protect each other between children and parents. AbstrakPemberian nama orang merupakan gejala yang universal. Namun, setiap masyarakat memiliki konvensinya masing-masing. Masyarakat Baduy sebagai indigenous people Sunda memiliki keunikan dalam hal pemberian nama. Kehidupan masyarakat Baduy akhir-akhir ini mulai terbuka. Kondisi ini tentu saja memengaruhi sendi-sendi kehidupan sosial-budayanya, tidak terkecuali dengan pemberian nama. Kaum milineal Baduy, terutama Baduy Luar, misalnya, lebih bangga memiliki nama yang dianggapnya modern sehingga sebagian dari mereka memiliki nama panggilan yang jauh berbeda dari nama aslinya. Tentu hal ini menjadi sebuah kekhawatiran apabila dibiarkan. Penelitian ini mengkaji pola pemberian nama masyarakat Baduy yang sudah berlangsung sejak lama. Tujuannya adalah mendeskripsikan konvensi pola-pola penamaan sebagai identitas masyarakat Baduy. Data yang dikaji berasal dari sepuluh kampung Baduy Luar dengan memanfaatkan data Kartu Keluarga (KK) yang ada di arsip Kantor Desa Kenekes. Selanjutnya, daftar nama yang terdapat pada KK diolah dengan menggunakan program Microsoft Excel melalui klasifikasi jenis kelamin, rentang usia, dan pola kakonis nama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola penamaan masyarakat Baduy adalah nama anak perempuan mengambil sebagian, terutama suku kata awal, dari nama ayah, sedangkan nama anak laki-laki mengambil sebagian dari nama ibu. Hal ini berkaitan dengan nilai filosofis yang saling melindungi antara anak dan orang tua.
Examining Word List and Processes in Law of The Republic of Indonesia Number 6 Year 2011 Eva Tuckyta Sari Sujatna; Cece Sobarna
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 1 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i1.1544

Abstract

This research tries to figure out the word list and the types of processes in Law of the Republic of Indonesia No 6 of Year 2011 concerning immigration. The research method applied in this research is descriptive method to describe the word list and the process in each data. Based on the result of the data analysis, firstly, it was found that the word “yang” is the highest frequency gramatically, while “pasal” is the highest frequency lexically. Secondly, it was reported there are four different processes; they are material process, mental process, relational process, and verbal process. Among the processes, the dominant process applied in Law of the Republic of Indonesia No 6 Year 2011 concerning Immigration is the verb “dipidana” as material processes, “menolak” as mental processes, “melarang” as verbal processes, and “adalah” as relational processes. AbstrakTujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan kosakata dan jenis-jenis proses dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif untuk mendeskripsikan kosakata dan proses dalam setiap data. Berdasarkan hasil analisis data, pertama ditemukan bahwa kata “yang” secara gramatikal memiliki frekuensi tertinggi, sedangkan secara leksikal kata “pasal” memiliki frekuensi tertinggi. Kedua, ditemukan empat proses yang berbeda, yaitu proses material, proses mental, proses relasional, dan proses verbal. Di antara proses-proses tersebut, proses yang dominan diterapkan dalam UUD RI No 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian adalah verba “dipidana” sebagai proses material, “menolak” sebagai proses mental, “melarang” sebagai proses verbal, dan “adalah” sebagai proses relasional.
Toponim dalam Upaya Pemertahanan Bahasa Sunda di Wilayah Jawa Tengah: Kasus di Kecamatan Dayeuhluhur, Kabupaten Cilacaplam Upaya Pemertahanan Bahasa Sunda di Wilayah Jawa Tengah: Kasus di Kecamatan Dayeuhluhur, Kabupaten Cilacap Cece Sobarna; Gugun Gunardi; Asri Soraya Afsari
Makna: Jurnal Kajian Komunikasi, Bahasa, dan Budaya Vol 4 No 1 (2019): MAKNA : Jurnal Kajian Komunikasi, Bahasa dan Budaya
Publisher : Fakultas Komunikasi, Sastra, dan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33558/makna.v4i1.1678

Abstract

Bahasa Sunda tidak hanya digunakan oleh masyarakat Sunda di Provinsi Jawa Barat danBanten, tetapi juga digunakan oleh sebagian orang di sebagian wilayah barat ProvinsiJawa Tengah, lebih tepatnya Kecamatan Dayeuhluhur. Hal ini menarik karena wilayahbarat Provinsi Jawa Tengah merupakan daerah dimana mayoritas masyarakatnyaberbahasa Jawa. Menilik fenomena tersebut, penelitian ini bertujuan meneliti mengapaBahasa Sunda bisa bertahan di wilayah yang mayoritas penuturnya tidak hanyaberbicara Bahasa Sunda. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untukmendapatkan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberlangsungan BahasaSunda di Kecamatan Dayeuhluhur dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktoreksternal mencakup letak geografis, historis, sosial-budaya, keluarga, aktivitaskeagamaan, dan pendidikan formal. Faktor internal berkaitan dengan sebagianmasyarakat yang mengidentifikasikan diri mereka sebagai orang Sunda. Jati diri inidikuatkan oleh nama tempat (toponim) di Kecamatan Dayeuhluhur yang pada umumnyamenggunakan Bahasa Sunda.
FENOMENA UNGKAPAN TRADISIONAL BAHASA SUNDA DI KOTA BANDUNG: KAJIAN SOSIOLINGUISTIK [The Phenomenon of Sundanese Language Traditional Expression in Bandung City: Sociolinguistics Analysis] Asri Soraya Afsari; Cece Sobarna; Yuyu Yohana Risagarniwa
TOTOBUANG Vol. 8 No. 1 (2020): TOTOBUANG, EDISI JUNI 2020
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/ttbng.v8i1.217

Abstract

The purpose of this study is  describing the existence and utilization of Sundanese language traditional expressions in Bandung speech community today. The method  was  descriptive. Data collection techniques was done by direct interviews with informants in the field using Sundanese and in natural situation communication. The main informant was a culture-supporting community who  really known-well the traditional expressions. The informant was assumed,  at least, to understand it as a form of culture. Moreover, notes techniques was used too. The analytical method  used distributional. The results showed that: there are 206 data traditional expressions which is still known by the people in Bandung. The sub-district that is still familiar with traditional expressions is Ujungberung with a percentage of 100%. The sub-district that is unknow-well of traditional expressions is Sumur Bandung with a percentage of 15%. In terms of usage, Sundanese language traditional expressions are still used in the domain of: family, intimate, neighborliness, education, government, employment, and religion. The function of using expessions is to remind, to advise, to admonish, to calm, to affirm, to appeal, and to express  the feelings. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan eksistensi dan penggunaan ungkapan tradisional bahasa Sunda yang ada di lingkungan masyarakat tutur Kota Bandung dewasa ini. Metode yang digunakan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara langsung kepada informan di lapangan dengan menggunakan bahasa Sunda dan dalam situasi yang asli (natural situation communication). Informan utama yang dipilih adalah masyarakat pendukung budaya yang memahami ungkapan tradisional. Informan tersebut diasumsikan paling tidak mengetahui ungkapan tradisional sebagai sebuah bentuk kebudayaan. Di samping itu, digunakan pula teknik catat. Metode analisis yang digunakan adalah distribusional. Hasil analisis menunjukkan bahwa: ungkapan tradisional yang masih dikenal oleh masyarakat tutur di Kota Bandung berjumlah 206 data. Kecamatan yang masih mengenal ungkapan tradisional dengan baik adalah Ujungberung dengan jumlah persentase 100%. Kecamatan yang sudah tidak lagi mengenal ungkapan tradisional dengan baik adalah Sumur Bandung dengan jumlah persentase 15%. Dari segi penggunaan, ungkapan tradisional bahasa Sunda masih digunakan dalam ranah: keluarga, kekariban, ketetanggan, pendidikan, pemerintahan, kerja, dan agama. Fungsi penggunaan ungkapan untuk mengingatkan, menasihati, menegur, menenangkan, mengiaskan, mengimbau, dan mengungkapkan perasaan.
Semantic Shift of English Internet Slangs Used in Social Media: Morphosemantic Analysis Oon Suzana Rahman; Cece Sobarna; Eva Tuckyta Sari Sujatna; Lia Maulia Indriyani
Research And Innovation In Language Learning (RILL) Vol 5, No 1 (2022)
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas Swadaya Gunung Djati Cirebon, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/rill.v5i1.6387

Abstract

The aim this research are to identify the most common morphological process through word formation  found in the lexical of English Internet slang, and to identify the most common type of shift of meaning used by netizen on social media.The research Methodology applied in this research is descriptive qualitative-textual analysis (Bhawna & Gobind (2015) and Smith (2017). The data sources are taken from facebook, twitter and teenage English Slang that are selectively chosen on the basis of criteria.The Theory of English Internet Slang taken from Crystal (2003, 2005,  2011, 2013), Gua and Dai (2019). The research findings are:No Morphological process 72% , derivation  consisted of  16%, Compounding 4%, Coinned 4%, Clipping 4%. Whereas  the type of semantic changes, mostly  narrowing consists of 78%, The words that do not change the meanings are 28%. It is recommended for further reseach which is still open for semantic field, especially under the discussion on figurative meaning Tujuan peneltian ini adalah untuk mengidentifikasi proses morfologi yang paling banyak ditemukan di dalam pembentukan kata internet slang berbahasa Inggris,  dan untuk mengidentifikasi jenis pergeseran makna yang paling banyak digunakan dalam kata  internet slang berbahasa Inggris. Metodologi penelitian yang digunakan yaitu descriptive qualitative –textual analysis dari (Bhawna & Gobind (2015) and Smith (2017). Teori Internet Slang Berbahasa Inggris yang digunakan dalam penelitian berasal dari Crystal (2003, 2011, 2013), Gua dan Dai (2019).Temuan penelitian ini yaitu: tidak terjadi proses morfologis 72%, derivation  consisted of  16%, Compounding 4%, Coinned 4%, Compounding 4%. Sedangkan jenis perubahan semantik, yaitu: narrowing yang terdiri dari 72%, Makna kata yang tidak mengalamii pergeseran, yaitu 28 %. Peneliti merekomendasikan untuk penelitian selanjunya  yang  masih terbuka terutama di bidang semaantik dalam pembahasan makna figurative
ANALISIS FONOLOGIS KOSAKATA ISOLEK SUNDA DI KECAMATAN CILAMAYA KULON KABUPATEN KARAWANG (PHONOLOGICAL ANALYSIS OF SUNDA ISOLEK VOCABULARY IN CILAMAYA KULON DISTRICT OF KARAWANG REGENCY) Zakia Nurfitri Aulia; Cece Sobarna; Wahya Wahya
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 20, No 1 (2022): METALINGUA EDISI JUNI 2022
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/metalingua.v20i1.941

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perubahan bunyi yang terjadi dalam peristiwa tutur masyarakat Cilamaya Kulon. Objek penelitian ini adalah kosakata yang mengalami perubahan bunyi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif kualitatif yang terdiri dari tiga tahap, yakni, (1) tahap penyediaan data menggunakan metode simak; (2) tahap analisis data menggunakan metode padan; dan (3) tahap penyajian hasil analisis data menggunakan metode formal dan informal. Berdasarkan penelitian ini ditemukan 48 kosakata yang mengalami perubahan bunyi yang diklasifikasikan berdasarkan teori Crowley (2010), yakni (1) penguatan bunyi vokal [ɛ] à [i] dan [ə] à [ɛ]; (2) pelemahan bunyi yang meliputi perubahan bunyi vokal dan konsonan. Pelemahan bunyi vokal di antaranya adalah perubahan vokal [a] à [ə], [ö] à [ə], [ɔ] à [ə], dan [ɛ] à [ə].  Pelemahan bunyi fonem konsonan di antaranya [b] à [p] dan  [w] à [h] ; (3) aferesis pada konsonan fonem /h/; (4) sinkope pada konsonan fonem /a/, /l/, dan /d/; (5) apokope pada konsonan (h); (6) protesis pada fonem konsonan vokal /ɔ/ dan /ö/; (7) epentesis pada fonem konsonan /n/dan /m/ yang merupakan fonem konsonan apiko dental  nasal dan bilabial; (8) paragog pada fonem konsonan /h/.
THE MODE OF ‘MUST’ IN THE MODALITY OF NECESSITY IN ENGLISH AND ITS EQUIVALENTS IN INDONESIAN Deden Novan Setiawan Nugraha; Cece Sobarna; Sutiono Mahdi; Nani Darmayanti
SAMPURASUN Vol 4 No 2 (2018): Sampurasun Vol. 4 No. 2 - 2018
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (660.636 KB) | DOI: 10.23969/sampurasun.v4i02.856

Abstract

The analysis of this research basically concern issue of the cultural in the context of the mode of ‘must’ in the modality of necessity in English and its equivalents in Indonesia. The method used in this research is descriptive research method. The data taken in the form of written language manner with consideration that written manner shows more consistent characteristics in usage of the sentence structure and word choice as well. The data is taken from novels in English and also in the form of its translation in Indonesian. Syntactically, the result of the analysis shows thatthe mode of ‘must’ is actualized in modal forms (modals/modal auxiliaries) refers to ‘the rules for modal verbs’. Modal patterns, in general, used M + Vinf, where modals are always followed by infinitives or main verbs. Semantically, the mode of must is the expression of logical necessity and belongs to an epistemic modality that has a subjective meaning of certainty. The disclosure of epistemic modalities is indicated by the arising of the speaker's certainty involving his knowledge or his beliefs. The equivalent mode must in Indonesian becomes 'harus' .
Modifikasi Wayang Topeng Malangan di Padepokan Asmoro Bangun, Kedungmonggo Pakisaji, Malang Arining Wibowo; Aquarini Priyatna; Cece Sobarna
PANGGUNG Vol 29, No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2360.299 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v29i3.1009

Abstract

ABSTRACT            This article focuses on the modification of Malangese Mask Puppet, a traditional art that has been developed in Malang, East Java, for long time. This research aims to finds out changes in Malangese Mask Puppet in order to maintain the existence of the art in this era, by which popular culture dominated. The article is written to answer questions, first, how do modifications of Malangese Mask Puppet were done both in performance and crafting aspects, and second, how do the modifications influence the fuction of Malangese Mask Wayang. The research uses a qualitative method with interview, observation, and document analysis as data collection technique. The data analysis is conducted through triangulation technique. The results are that modification is conducted by simplifying and beautifying the form of some elements such as clothes, accessories, and the material of mask crafting. Meanwhile, the modification of ideas are implemented through the changing of some traditional patterns, such as shortening the duration of performance, creating the new rule to involve women and kids as an active artist of Malangese Mask Wayang. The modification of Malangese Mask Wayang influences the function and role of the art as a commodity or product.   Keywords: Modification, Malangese Mask Wayang, Asmoro Bangun Art Center ABSTRAK            Artikel ini membahas perubahan atau modifikasi pada kesenian tradisional Wayang Topeng Malangan yang telah lama berkembang di kota Malang, Jawa Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada Wayang Topeng Malangan yang dilakukan oleh seniman dalam mempertahankan kesenian tersebut pada masa sekarang, yang cenderung didominasi oleh budaya pop. Artikel ini ditulis untuk menjawab beberapa rumusan masalah, yaitu pertama, bagaimana modifikasi Wayang Topeng Malangan dilakukan pada unsur pertunjukan dan kerajinan topeng, dan kedua adalah bagaimana modifikasi tersebut memengaruhi peran dan fungsi kesenian Wayang Topeng Malangan saat ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan wawancara, observasi dan studi dokumen sebagai teknik pengumpulan data. Data dianalisis menggunakan teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modifikasi bentuk pertunjukan dan kerajinan topeng dilakukan dengan menyederhanakan dan mempercantik bentuk busana dan ragam hiasan, mengubah material dan proses pembuatan topeng. Sedangkan modifikasi gagasan terimplementasikan pada perubahan pakem (aturan tradisi), seperti mempersingkat waktu pergelaran dan memberikan aturan baru keterlibatan perempuan dalam kesenian Wayang Topeng Malangan.  Modifikasi bentuk pertunjukan dan kerajinan topeng serta gagasan berkaitan dengan Wayang Topeng Malangan memengaruhi peran dan fungsi Wayang Topeng Malangan, yang tidak sekedar sebagai seni, namun juga sebuah komoditas (produk). Kata Kunci: Modifikasi, Wayang Topeng Malangan, Padepokan Asmoro Bangun
Bahasa Sunda Sudah di Ambang Pintu Kematiankah? Sobarna, Cece
Makara Human Behavior Studies in Asia Vol. 11, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The death of a language becomes very popular issue recently all over the world and it is included Sundanese language. This has something to do with the phenomenon which was happened in West Java, especially Bandung, where most of the people, especially young generation are assumed becoming reluctant to use Sundanese language in their daily conversation. This tendency is interesting to be analyzed from the language death point of view. Because of that reason, we need comphrehensive strategic efforts to maintain Sundanese language from extinction.
Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan bagi Siswa Berkebutuhan Khusus Cece Sobarna
Metahumaniora Vol 8, No 2 (2018): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v8i2.20697

Abstract

AbstrakPemerintah Republik Indonesia menjamin hak seluruh warga negera Indonesiamendapat pendidikan. Komitmen ini dengan jelas tertuang pada pasal 31 ayat (1)UUD 1945 yang berbunyi bahwa “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.”Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa warga negara yang dimaksud didalam Undang-Undang Dasar 1945 itu mencakup seluruh rakyat Indonesia dengankondisi apapun tidak terkecuali, termasuk anak berkebutuhan khusus. Mekanismepelaksanaan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus kemudian diatur dalamperaturan-peraturan pemerintah. Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwapemerintah bersungguh-sungguh dalam memberikan hak pendidikan bagi warganegaranya yang dianggap kurang beruntung karena kondisi fisik dan atau mentalmereka. Materi pendidikan apa yang diperlukan bagi anak berkebutuhan khususmenjadi tantangan berikutnya yang harus ditanggulangi bersama. Dengan tujuan akhirmeluluskan siswa berkebutuhan khusus yang mandiri dalam berkehidupan sosialdi masyarakat, sekolah-sekolah khusus seperti SLB (Sekolah Luar Biasa) melakukanberbagai upaya dan salah satunya adalah melalui pendidikan keterampilan dan senibudaya. Bagaimana pendidikan ini diberikan di SLB bagi siswa berkebutuhan khususmenjadi hal yang ingin diungkap melalui tulisan ini. Selama kurang lebih 8 bulanturut terjun langsung berbagi pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan diperolehhasil bahwa pendidikan keterampilan dan seni budaya seperti prakarya, tata boga,dan seni budaya mampu mendorong siswa berkebutuhan khusus menjadi terampildan diharapkan keterampilan yang telah mereka miliki tersebut mampu membuatpara siswa tersebut kelak mandiri terjun ke masyarakat.Kata kunci: siswa berkebutuhan khusus, pendidikan keterampilan dan seni budaya,Sekolah Luar Biasa, UUD 1945AbstractThe government of The Republic of Indonesia guarantees that every Indonesian citizenhas a right to get an education. This commitment is strongly stated in The Constitution of theRepublic of Indonesia of 1945 Article 31 (1) that “Each citizen has the right to an education.”The content of The Constituion indicates that the citizen mentioned in the constitution refersto all Indonesian citizens in any condition without any exception including children of specialneeds. How the mechanism of the education for children of special needs is implemented is thenregulated in the Government Regulation. These efforts show that Indonesian government takesthis matter seriously in order that its citizens who are considered to be not fortunate due to theirphysical and or mental condition get their right in education. What kind of education needed forthem becomes the next challenge that has to be managed together with all authorities. In orderto achieve the standard objective for the graduated students of special needs that they have to be self-seficient, independent in their social life among societies, Special Needs Schools ‘SLB’implement some efforts and one of them is by givingthe education of Skill, Art and Culture intheir curriculum. How this education is given in Special Needs Schools for students of specialneeds becomes the main issue that is described in this paper. By taking part in giving thiseducation in these schools for about 8 months, it can be identified that through the education ofSkill, Art and Culture, the skills like culinary training and the art projects are able to stimulatethe students of special needs to be skillful and by obtaining these skills, it is expected that thestudents of special needs can be independent, self-sufficient in their social life in societies.Keywords: students of special needs, the education of Skill, Art and Culture, SpecialNeeds Schools, The Constitution of the Republic of Indonesia of 194