Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : ikra-ith abdimas

POTENSI BIOMASSA DAN SERAPAN CO₂ PADA TEGAKAN HUTAN DI BLOK PEMANFAATAN TAMAN WISATA ALAM CAMPLONG Rahel Sarina Kartika Robo Tadu; Lusia Sulo Marimpan; Roni Haposan Sipayung; Nixon Rammang
IKRA-ITH ABDIMAS Vol. 10 No. 2 (2026): IKRAITH-ABDIMAS Vol 10 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hutan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan melalui kemampuannyamenyerap karbon dioksida (CO₂) dan menyimpan karbon dalam bentuk biomassa. Informasimengenai potensi biomassa, simpanan karbon, dan serapan CO₂ pada kawasan konservasidiperlukan sebagai dasar pengelolaan hutan yang berkelanjutan serta mendukung upaya mitigasiperubahan iklim. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi biomassa, simpanan karbon,serapan CO₂, dan valuasi ekonomi karbon pada tegakan hutan di blok pemanfaatan TamanWisata Alam (TWA) Camplong, Kabupaten Kupang. Penelitian dilaksanakan pada Januari–Februari 2026 menggunakan metode non destructive dengan teknik line plot sampling pada 57plot pengamatan. Perhitungan biomassa dilakukan menggunakan persamaan allometrik.Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi biomassa tegakan hutan sebesar 256,82 ton/hadengan simpanan karbon sebesar 120,75 ton/ha. Potensi serapan CO₂ pada blok pemanfaatanTWA Camplong sebesar 443,14 ton/ha dengan total serapan mencapai 10.068,41 ton CO₂.Berdasarkan nilai tersebut, diperoleh valuasi ekonomi karbon 38.360,68 US Dollar atau setaradengan Rp 592.023.046.. Tingginya potensi biomassa, karbon, dan serapan CO₂ menunjukkanbahwa tegakan hutan di TWA Camplong masih berperan penting sebagai penyerap karbon(carbon sink) yang mendukung upaya mitigasi perubahan iklim. Oleh karena itu, pengelolaandan perlindungan kawasan perlu ditingkatkan untuk menjaga fungsi ekologis dan nilai ekonomikarbon yang dimiliki kawasan tersebutKata Kunci : Biomassa, Karbon, Serapan CO2, Valuasi Ekonomi Karbon, TWA Camplong.
VALUASI EKONOMI KARBON PADA NEKROMASSA DAN SERASAH DI HUTAN LINDUNG BANSAN DESA OENENU SELATAN KECAMATAN BIKOMI TENGAH KABUPATEN TIMOR TENGAH UTARA Gudelia Greisti Jehadu; Lusia S. Marimpan; Roni H. Sipayung; Fadlan Pramatana
IKRA-ITH ABDIMAS Vol. 10 No. 2 (2026): IKRAITH-ABDIMAS Vol 10 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

sasaran utama karena digunakan sebagai sarana pendaur ulang karbon di atmosfer.Selain vegetasi hidup, komponen hutan berupa biomassa mati (nekromassa danserasah) memiliki potensi yang signifikan dalam menyimpan karbon namun seringkali kurang diperhatikan dalam kajian karbon hutan. Penelitian ini bertujuan untukmenganalisis potensi biomassa, simpanan karbon, serapan CO2 serta valuasiekonomi karbon pada nekromassa dan serasah di Hutan Lindung Bansan, DesaOenenu Selatan, Kecamatan Bikomi Tengah, Kabupaten Timor Tengah Utara.Penelitian ini dilakukan pada tutupan lahan seluas 51,07 ha dengan jumlah plotsebanyak 64 plot ukur serta ukuran plot untuk nekromassa 20 m x 20 m sedangkanserasah 2 m x 2 m.Pendugaan biomassa pohon mati menggunakan 2 persamaan allometrik untukjenis yang memiliki persamaan serta 1 persamaan allometrik untuk jenis yang tidakmemiliki persamaan. Pendugaan biomassa kayu mati menggunakan rumus yangditetapkan dalam (SNI 7724, 2011), sedangkan pendugaan biomassa serasahmenggunakan rumus yang dikembangkan oleh Elvina et al., (2018). Kadar karbondalam biomassa menggunakan nilai 47% dan nilai serapan CO2 dihitungmenggunakan faktor konversi 3,67 serta valuasi ekonomi karbon dihitungberdasarkan harga karbon domestik pada Bursa Efek Indonesia.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hutan Lindung Bansan menghasilkanpotensi biomassa 24,48 ton/ha dan karbon sebesar 11,49 ton/ha. Nilai serapan yangdihasilkan sebesar 42,17 ton/ha. Dengan nilai serapan CO2 tersebut dapatmenghasilkan keuntungan ekonomi sebesar $8.204,97 USD atau setara dengan Rp126.627.863.
VALUASI EKONOMI KARBON PADA TEGAKAN DAN TUMBUHAN BAWAH DI HUTAN LINDUNG BANSAN KECAMATAN BIKOMI TENGAH KABUPATEN TIMOR TENGAH UTARA Prisilla Afeanpah; Lusia S. Marimpan; Roni H. Sipayung; Fadlan Pramatana
IKRA-ITH ABDIMAS Vol. 10 No. 2 (2026): IKRAITH-ABDIMAS Vol 10 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hutan lindung memiliki peran yang besar dalam mitigasi perubahan iklim, yakni sebagai sumber penyerap gas rumah kaca seperti CO2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi biomassa, simpanan karbon, dan serapan CO2 serta valuasi ekonomi karbon tegakan dan tumbuhan bawah di Hutan Lindung Bansan. Penelitian ini dilakukan pada lahan seluas 51,07 Ha dengan metode non destructive untuk tegakan dan destructive untuk tumbuhan bawah. Penentuan titik plot secara purposive sampling berdasarkan kelas kerapatan vegetasi, pada 64 plot. Potensi biomassa tegakan menggunakan 5 persamaan allometrik yang spesifik pada jenisnya serta 1 persamaan allometrik untuk jenis yang belum memiliki persamaan allometrik. Potensi biomassa tumbuhan bawah menggunakan rumus yang dikembangkan oleh Iskandar et al., (2020). Nilai karbon diperoleh dengan mengalikan biomassa dengan faktor 0,47 sedangkanserapan CO2 dihitung dengan mengalikan nilai karbon dengan angka 3,67 yang merupakan konversi untuk C ke CO2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi biomassa, simpanan karbon, serta serapan CO2 di Hutan Lindung Bansan secara berturut-turut adalah 348,33 ton/ha, 161,18 ton/ha, 591,52 ton/ha, sedangkan valuasi ekonomi karbon pada tegakan dan tumbuhan bawah di Hutan Lindung Bansan senilai Rp397.047.588 atau setara dengan $25.727,06 US Dollar.Kata kunci: Biomassa, Karbon, CO2, Valuasi ekonomi, Hutan Lindung
PENILAIAN KESEHATAN HUTAN DI TAMAN WISATA ALAM BIPOLO, DESA BIPOLO, KECAMATAN SULAMU, KABUPATEN KUPANG Kristina Funan; Astin Elise Mau; Roni Haposan Sipayung; Frank Samelino Tita
IKRA-ITH ABDIMAS Vol. 10 No. 2 (2026): IKRAITH-ABDIMAS Vol 10 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Taman Wisata Alam (TWA) Bipolo merupakan kawasan konservasi yangmenghadapi tekanan berupa alih fungsi lahan, kebakaran hutan, pembalakan liar,serta kerusakan vegetasi yang berpotensi menurunkan kualitas ekosistem.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesehatan hutan di TWABipolo, Desa Bipolo, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang. Metode yangdigunakan adalah Forest Health Monitoring (FHM) dengan teknik purposivesampling pada 31 klaster plot dengan intensitas sampling 10%. Penilaiankesehatan hutan dilakukan berdasarkan empat indikator, yaitu vitalitas,produktivitas, biodiversitas, dan kualitas tapak. Hasil penelitian menunjukkanbahwa kondisi kesehatan hutan TWA Bipolo berada pada kategori sedangdengan nilai akhir 2,719. Indikator vitalitas menunjukkan kondisi kerusakanpohon tergolong sehat dengan nilai rata-rata 4,04 dan kondisi tajuk 3,17.Produktivitas memiliki nilai rata-rata luas bidang dasar 0,134 dan volume pohon1,449. Biodiversitas tergolong sedang dengan nilai 2,082, sedangkan kualitastapak menunjukkan pH tanah 6,13 (agak masam) dan kelembapan tanah 3,18(lembap).Kata Kunci : TWA Bipolo, Forest Health Monitorirng, Indikator
EKSTRAKSI DAN PENENTUAN KADAR SELULOSA DARI EMPULUR BATANG GEWANG (Corypha utan Lamk.) MELALUI METODE ALKALI DAN ACETOSOLV Imanuella Aprilya Eunike Blegur; Herianus J.D. Lalel; Nixon Rammang; Roni Haposan Sipayung
IKRA-ITH ABDIMAS Vol. 10 No. 2 (2026): IKRAITH-ABDIMAS Vol 10 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Empulur batang Gewang merupakan biomassa palma non-kayu yang melimpah diNusa Tenggara Timur, namun pemanfaatannya sebagai sumber selulosa strukturalbelum banyak dikaji. Penelitian ini bertujuan (1) menentukan kandungan selulosadan lignin residu empulur batang Gewang dengan metode serat deterjen ADF–ADL,(2) membandingkan efektivitas metode ekstraksi alkali soda– AQ dan acetosolvterhadap rendemen selulosa yang dihasilkan, (3) menganalisis pengaruh agenbleaching hidrogen peroksida (H₂O₂) dan natrium hipoklorit (NaOCl) terhadaprendemen dan kecerahan selulosa, serta (4) mengkarakterisasi panjang seratselulosa empulur batang Gewang. Analisis ADF–ADL menunjukkan bahwa empulurbatang Gewang memiliki selulosa residu sekitar 10,25% dan lignin residu 1,02%pada basis berat kering, menandakan fraksi selulosa struktural yang terbatas dandominasi karbohidrat non- struktural. Ekstraksi menggunakan metode alkali soda–AQ menghasilkan rendemen selulosa 12,7%, sedangkan metode acetosolv hanya3,2% dari berat kering bahan awal. Proses bleaching dengan kombinasi metodeekstraksi dan agen pemutih memberikan rendemen 54,7% (acetosolv–H₂O₂), 54,0%(alkali–H₂O₂), 49,6% (acetosolv–NaOCl), dan 38,3% (alkali–NaOCl), dengan nilaikecerahan L berturut-turut 64,87; 62,31; 71,40; dan 67,97. Analisis One-WayANOVA diikuti uji lanjut Bonferroni menunjukkan bahwa perbedaan kecerahanantar perlakuan bleaching bersifat nyata (p < 0,05). Pengukuran 300 seratmenghasilkan panjang serat rata-rata 0,53 mm dengan kisaran 0,15–1,20 mm,sehingga serat selulosa empulur batang Gewang tergolong serat pendek. Secarakeseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa empulur batang Gewangmemiliki potensi terbatas sebagai sumber selulosa struktural, dengan metode alkalisoda–AQ lebih efektif dibandingkan acetosolv dalam melepaskan selulosa. Ditinjau dari karakter panjang serat dan rendemen, selulosa empulur batang Gewang lebihberpotensi dimanfaatkan sebagai komponen campuran dalam sistem pulp non-kayu,bahan pengisi komposit, atau bahan baku awal produk selulosa bernilai tambah skalaterbatas, daripada sebagai sumber utama pulp kertas berkekuatan tinggi.Kata kunci: selulosa, empulur batang Gewang, alkali soda–AQ, acetosolv,bleaching, panjang serat
PENILAIAN KESEHATAN HUTAN DENGAN METODE FOREST HEALTH MONITORING DI KAWASAN HUTAN MANGROVE TANAH MERAH, DESA TANAH MERAH, KABUPATEN KUPANG Elisabeth Fore; Astin Elise Mau; Roni Haposan Sipayung; Fadlan Pramatana
IKRA-ITH ABDIMAS Vol. 10 No. 2 (2026): IKRAITH-ABDIMAS Vol 10 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan hutan mangrove tanah merah merupakan kawasan konservasi yang menghadapi berbagai bentuk ancaman dan kerusakan berupa kegiatan penebangan pohon, pengambilan kayu bakar, pelepasan ternak liar, serta pembuangan limbah sembarangan yang sangat berbahaya bagi ekosistem mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat kesehatan hutan mangrove di Kawasan Hutan Mangrove Tanah Merah, Desa Tanah Merah, Kabupaten Kupang, dengan menggunakan metode Forest Health Monitoring (FHM). Penilaiankesehatan hutan dievaluasi secara terperinci melalui empat indikator pengamatan utama, yaitu vitalitas, produktivitas, biodiversitas, dan kualitas tapak. Hasil penelitian pada indikator vitalitas menunjukkan bahwa kondisi hutan masuk dalamklasifikasi kelas sehat dengan nilai Cluster Plot Level Index (CLI) sebesar 2,25 (CLI < 5) dan rata-rata nilai Visual Crown Ratio (VCR) sebesar 2,37. Pada indikator produktivitas, nilai Luas Bidang Dasar (LBDS) berkisar antara 0,04 m² hingga 0,79 m², sedangkan volume pohon berkisar antara 0,34 m³ hingga 4,51 m³. Untuk indikator biodiversitas, diperoleh indeks kekayaan jenis berada pada kategori kelas rendah (0,40), indeks keanekaragaman jenis berada pada kelas rendah (0,78),namun indeks kemerataan jenis menunjukkan kategori kelas tinggi (0,77).Sementara itu, indikator kualitas tapak di ketiga zona pengamatan menunjukkan nilai pH tanah berkisar antara 7,66–8,35, salinitas air berkisar antara 2‰–40‰, dan nilai Kapasitas Tukar Kation (KTK) yang berkategori sangat tinggi berkisar antara 40,11 cmol(+)/kg hingga 43,20 cmol(+)/kg.Kata Kunci : Mangrove Tanah Merah, Forest Health Monitoring, Indikator
PENILAIAN KESEHATAN HUTAN MANGROVE DENGAN METODE FOREST HEALTH MONITORING DI WILAYAH PESISIR BORONG DESA NANGA LABANG, KECAMATAN BORONG, KABUPATEN MANGGARAI TIMUR Rikardus Agung; Astin Elise Mau; Norman P.L.B. Riwu Kaho; Roni Haposan Sipayung
IKRA-ITH ABDIMAS Vol. 10 No. 2 (2026): IKRAITH-ABDIMAS Vol 10 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hutan mangrove merupakan ekosistem pesisir yang memiliki peran penting secara ekologis, biologis, dan ekonomis. Namun, keberadaan hutan mangrove di beberapa wilayah mengalami tekanan akibat aktivitas manusia seperti penebangan, alih fungsi lahan, serta pembangunan di kawasan pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kondisi kesehatan hutan mangrove di wilayah pesisir Borong, Desa Nanga Labang, Kabupaten Manggarai Timur menggunakan metode Forest Health Monitoring (FHM). Penelitian ini menggunakan empat indikator utama, yaitu vitalitas, produktivitas, biodiversitas, dan kualitas tapak. Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan lapangan pada 24 klaster plot dengan mengukur parameter kerusakan pohon, kondisi tajuk, luas bidang dasar, volume pohon, keanekaragaman jenis, pH tanah, dan salinitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi kesehatan hutan mangrove di Desa Nanga Labang berada pada kategori sedang dengan nilai skor akhir 3,08. Secara rinci, indikator vitalitas memperoleh nilai skor 3,15 (baik), indikator produktivitas 2,56 (sedang), indikator biodiversitas 2,67 (sedang), dan indikator kualitas tapak 3,95 (baik). Nilai pH tanah berkisar antara 7,6–7,9 yang tergolong sedikit basa dan masih sesuai untuk pertumbuhan mangrove, sedangkan rata-rata salinitas air sekitar 15,67‰. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi hutan mangrove masih cukup baik, namun terdapat tekanan lingkungan akibat aktivitas manusia sehingga diperlukan upaya pengelolaan, perlindungan, dan rehabilitasi secara berkelanjutan untuk menjaga kelestarian ekosistem mangrove di wilayah tersebut
PEMANFAATAN ETNOBOTANI SEBAGAI OBAT TRADISIONAL, PANGAN, DAN PEWARNA ALAMI OLEH MASYARAKAT SEKITAR UPTD KPH ALOR (Studi Kasus : Desa Lawahing, Kecamatan Kabola, Kabupaten Alor) Yulike H. S. Penali; Nixon Rammang; Roni Haposan Sipayung; Lusia Sulo Marimpan
IKRA-ITH ABDIMAS Vol. 10 No. 2 (2026): IKRAITH-ABDIMAS Vol 10 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia merupakan negara megadiversitas yang memiliki potensi keanekaragamanhayati baik flora maupun fauna. Masyarakat Desa Lawahing tidak terlepas dengan tradisi dalammenjalankan kehidupan, dilihat dari cara mereka memanfaatkan tumbuhan untuk memenuhikebutuhan hidup dengan pengetahuan tradisional yang dimiliki. Pengetahuan mengenaipemanfaatan tumbuhan ini perlu diidentifikasi agar terus ada dan dapat dimanfaatkan olehmasyarakat umum yang membutuhkan. Pengambilan data dilakukan menggunakan data primerdan data sekunder. Pengumpulan data dilakukan melalui tahap observasi, wawancara,identifikasi tumbuhan, pengambilan titik koordinat, dan dokumentasi. Wawancara dilakukanmenggunakan metode snowball sampling, yang penentuan sampel paling pertama adalahdipilih responden pengunci. Data dianalisis menggunakan metode deskriptif kualitatif danmetode statistik deskriptif pada penelitian kualitatif. Teridentifikasi 71 spesies tumbuhan dari36 famili yang dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat tradisional, pangan dan pewarna alami.Spesies terbanyak yang dimanfaatkan dari famili Zingiberaceae yang beranggota 7 spesies.Bagian tumbuhan obat tradisional yang dominan adalah daun 44%, teknik pengolahan yangpaling sering digunakan yaitu direbus 20%. Bagian tumbuhan pangan yang dominan adalahbuah 55%, teknik pengolahan yang paling sering digunakan yaitu langsung dikonsumsi 33%,bagian tumbuhan pewarna alami yang dominan adalah daun 43%, teknik pengolahan yangpaling sering dilakukan yaitu dicampurkan lalu ditumbuk 57%. Berdasarkan status konservasiIUCN Red List diperoleh 4 kategori tumbuhan yang ditemukan yaitu LC 25 spesies, EN 1spesies, NE 35 spesies, dan DD 10 spesies, sedangkan status konservasi berdasarkan PermenLHK N0. 20 Tahun 2018, menyatakan semua spesies tumbuhan yang ditemukan di wilayahDesa Lawahing adalah tergolong tidak dilindungi.Kata kunci : Etnobotani, Tumbuhan obat tradisional, Tumbuhan pangan, Tumbuhan pewarna alami, Desa Lawahing