Claim Missing Document
Check
Articles

Penyusunan Dokumen Masterplan Pengembangan Ekowisata Desa Datar Ajab Kabupaten Hulu Sungai Tengah Abdan, Indra Suci; Hamid, Ismar; Nadiba, Shaffa; Hamdi, Resyda Syaibatul; Lisdawanti; Azzahra, Shamiyah Noor; Ramadhan, Ahmad; Ramadhan, Akhmad David; Thiansyah, Adhera Nur; Yahya, Nur Azima; Putri, Maziatul; Rahmawati; Hariadi
Hayak Bamara: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2025)
Publisher : Prodi Sosiologi FISIP ULM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/hb.v3i1.446

Abstract

Karang Taruna plays a crucial role in enhancing the social life of the community, particularly in Hinas Kanan Village, Hantakan District. The region has seen a decline in youth engagement in improving the quality of the younger generation, especially in terms of creativity and critical thinking skills. This served as the motivation for the service team to reactivate the Karang Taruna organization to develop and enrich the youth's understanding of their contributions to sustainable development. The younger generation has the potential to maximize the role of Karang Taruna in empowering the community's social welfare. The program aims to create a beneficial atmosphere through various social activities such as organizing Focus Group Discussions on village potential, commemorating the Republic of Indonesia's anniversary with the youth, conducting joint clean-up actions, and exploring tourist attractions with the village youth. The staff team has conducted workshops to strengthen the vision of Karang Taruna with the members and village officials, fostering solidarity and social responsibility among the youth of Hinas Kanan village. This aims to encourage a more active role in community development and greater sensitivity to social issues in their environment. The research emphasizes the importance of the active role of youth in sustainable development and their involvement in decision-making for the future of the village. It can serve as a reference for youth empowerment programs in other villages facing similar challenges and aid in designing more effective and sustainable strategies.
Ekopopulisme pada Pengelolaan Hutan Adat di Desa Haruyan Dayak Kabupaten Hulu Sungai Tengah Fatahilah, Muhammad Ibnu; Hamid, Ismar
Huma: Jurnal Sosiologi Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Prodi Sosiologi FISIP ULM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/h-js.v4i3.565

Abstract

Forests play a vital role in sustaining the lives of Indigenous communities, as seen in Haruyan Dayak Village, South Kalimantan. This study aims to examine the contestation of knowledge in the management of customary forests in the village. Using a qualitative method with a phenomenological approach, data were collected through observation, semi-structured interviews, and documentation, and analyzed using the Manual Data Analysis Procedure (MDAP). The findings reveal that the people of Haruyan Dayak Village have a profound and enduring relationship with customary forests, which have long been an integral part of their lives. Their intensive interaction with nature has fostered deep spiritual and cultural attachments, reflected in traditions, cultural practices, and local beliefs that uphold forest preservation. The management of forests by the Indigenous community reflects an eco-populist paradigm, where forests are utilized as a source of livelihood while ensuring sustainability through local values and practices. This demonstrates that Indigenous communities not only depend on forests economically but are also deeply committed to their preservation. Thus, forest management rooted in local wisdom and Indigenous beliefs can serve as a sustainable model for natural resource conservation. This study contributes academically to the development of environmental sociology and political ecology, while also providing practical insights for strengthening the role of Indigenous communities in the sustainable management of customary forests and addressing related challenges. Further research is recommended to explore the sustainability of local values and Indigenous beliefs in forest management, particularly under the pressures of social, cultural, and policy changes.
Masyarakat Terasing: Alienasi Masyarakat Lokal pada Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) Hasanah, Nur; Hamid, Ismar
Huma: Jurnal Sosiologi Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Prodi Sosiologi FISIP ULM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/h-js.v4i3.573

Abstract

The development of Indonesia’s new capital city (IKN) in East Kalimantan is often promoted as a symbol of progress and equality; however, in reality, it generates significant marginalization. This project not only neglects the voices of local communities but also shifts their role from being subjects of development to mere objects of it. This research aims to critically explore the forms of social alienation experienced by local communities as a result of exploitative development policies. Using a qualitative approach with a phenomenological method, data were collected through participatory observation, in-depth interviews, and field documentation. The findings reveal that the Paser Balik community experiences four dimensions of alienation as described by Karl Marx: alienation from the product of labor (loss of control over land and resources), alienation from the labor process (displacement of traditional economic practices), alienation from the self (disconnection from identity and spiritual ties to ancestral land), and alienation from the social environment. The analysis demonstrates that IKN development is non-inclusive, marginalizing communities from their land, work, identity, and social environment. This study offers a novel critical understanding of how IKN development generates processes of alienation for local communities, and its implications for their identity, roles, and empowerment within the context of social change and modernization. Further research could explore more deeply the role of the state and development institutions in either reinforcing or weakening the position of local communities in strategic projects, as well as examine alternative development models grounded in participation and social justice.
Deteritorialisasi Lingkungan dan Bentuk-Bentuk Alih Fungsi Lahan Basah di Kabupaten Banjar (Studi di Kecamatan Kertak Hanyar dan Kecamatan Gambut) Syahrin, M Najeri Al; Hamid, Ismar
Jurnal Ilmiah Muqoddimah: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hummaniora Vol 8, No 2 (2024): Mei 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jim.v8i2.2024.827-835

Abstract

Deteritorialisasi lingkungan yang dilakukan dengan penggunaan dalih industrialisasi dan pembangunan akhirnya menciptakan krisis ekologi dan membentuk permasalahan secara konstan terhadap perubahan lanskap lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana deteritorialisasi lingkungan dan bentuk-bentuk alih fungsi lahan di Kabupaten Banjar secara khusus yang dilakukan di area studi yakni Kecamatan Kertak Hanyar dan Kecamatan Gambut. Selain itu, penelitian ini juga dimunculkan untuk merespons dinamika ekspansi pengalihfungsian lahan baik yang dilakukan korporasi (industri), pemerintah maupun oleh masyarakat. Penelitian ini dikembangkan dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan instrumen observasi live in, FGD dan in depth interview, yang dikolaborasikan dengan studi literatur untuk menelaah dan memahami bagaimana deteritorialisasi lingkungan lahan basah dan bentuk-bentuk alih fungsi lahan yang dilakukan. Hasil penelitian mendeskripsikan bahwa di Kabupaten Banjar kepentingan perluasan kota menjadi aspek paling dominan dalam menyebabkan masifnyaalih fungsi lahan basah. Dimana pembangunan perumahan di Kecamatan Kertak Hanyar dan gudang industri di Kecamatan Gambut merupakan bentuk alih fungsi lahan basah yang paling dominan. Adapun bagian-bagian dari ekosistem yang paling banyak dialihfungsikan adalah lahan-lahan yang sebelumnya digunakan untuk lahan pertanian, wilayah rawa-rawa yang sebelumnya menjadi penyedia kebutuhan ikan bagi masyarakat, serta sungai-sungai kecil dan sedang yang sebelumnya berfungsi sebagai jalur air untuk lahan pertanian dan sarana transportasi bagi masyarakat. Deteritorialisasi dan alih fungsi lahan ini tentu memberikan beberapa implikasi serius tidak hanya bagi lingkungan lahan basah secara fisik saja namun juga turut memberikan dampak terhadap perubahan sosio-kultural masyarakat.
Ecofeminism and Gender Equality: Peran Perempuan Dayak Meratus Dalam Mempertahankan Keberlanjutan Ekologi Nabawi, Ahmad; Rahima, Annisa; Suhasti, Indri; Hamid, Ismar; Sari, Nur Mila; Sabila, Sahla Ghina
Jurnal Ilmiah Muqoddimah: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hummaniora Vol 9, No 2 (2025): Mei 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jim.v9i2.2025.833-847

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai ekofeminisme, wujud kesetaraan gender, wujud inklusi sosial dan mempromosikan model pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam berbasis ekofeminisme, kesetaraan gender dan inklusi sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan jenis penelitian fenomenologi. Lokasi penelitian di Desa Datar Ajab Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi partisipan, wawancara mendalam, focus group discussion (FGD), dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekofeminisme tercermin dari berbagai proses pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya alam. Penerapan ladang berpindah pada aktivitas produksi yang berdampak pada terjaganya sifat alamiah tanah, pengelolaan hutan yang tidak eksploitatif dan pemanfaatan sungai yang tidak menggunakan bahan kimia. Perempuan Dayak Meratus berperan penting dalam menjaga kelestarian dan keberlanjutan ekologi. Sumber daya alam yang dimanfaatkan mengutamakan nilai-nilai femininitas dalam pengelolaannya. Dominasi femininitas muncul akibat utuhnya kesetaraan gender dan terwujudnya inklusi sosial. Perempuan Desa Datar Ajab memiliki keterlekatan yang sangat kuat dengan alam, yang tercermin dari waktu yang mereka habiskan untuk berinteraksi dengan alam
Penguatan Jejaring Sosial dan Tata Kelola Desa Wisata Pesisir Menuju Pembangunan Berkelanjutan dan Terintegrasi di Kabupaten Kotabaru Hidayat, Rachmat; Baharuddin, Baharuddin; Hamid, Ismar; Agusliani, Erma; Meilinda, Salsa Rizkia
Jurnal Ilmiah Muqoddimah: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hummaniora Vol 9, No 3 (2025): Agustus 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jim.v9i3.2025.1724-1739

Abstract

Pengembangan desa wisata pesisir di Indonesia menghadapi tantangan ganda: menjaga keberlanjutan ekologi dan budaya lokal, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Artikel ini mengkaji dua studi kasus di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, yaitu Desa Wisata Sarang Tiung yang dekat dengan ibu kota kabupaten dan Pantai Teluk Tamiang yang jauh dari pusat kabupaten. Tujuan penelitian adalah untuk membandingkan struktur jejaring aktor, dinamika tata kelola, serta posisi nelayan dalam pengembangan pariwisata berbasis komunitas. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi lapangan, serta studi dokumen. Analisis dilakukan menggunakan Social Network Analysis (SNA) untuk memetakan aktor kunci dan pola relasi, serta Causal Loop Diagram (CLD) untuk mengidentifikasi mekanisme penguatan dan penyeimbang dalam sistem pariwisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa destinasi yang dekat dengan pusat kabupaten memiliki jejaring sosial yang lebih terintegrasi, dengan dukungan pemerintah dan sektor swasta yang kuat, sedangkan destinasi yang jauh cenderung bergantung pada kohesi sosial internal dengan keterhubungan eksternal yang lemah. Pokdarwis dan pemerintah desa berperan sebagai simpul inti dengan nilai centrality tinggi, namun nelayan justru termarginalkan dan hanya berfungsi sebagai pelengkap atraksi wisata. Kondisi ini mengindikasikan hilangnya peluang integrasi fisheries-based tourism yang dapat memperkuat resiliensi ekonomi dan identitas maritim.
Fasilitasi Penanganan Resiko Sosial Pada Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan Jembatan Batulicin–Pulau Laut Kabupaten Kotabaru Hamid, Ismar; Nur, Rahmat; Irsan, Irsan; Zulaikha, Siti; Widaty, Cucu; Alex, Alex; Yusril, Yusril; Rifani, Muhammad; Pratama, Muhammad Daffa; Saragih, Defica A.; Azumardi, Andri Noor; Mustakimah , Wafiq
Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 2 (2025): Pengabdian Masyarakat (DIMASY)
Publisher : Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/

Abstract

Pembangunan infrastruktur merupakan salah satu agenda strategis pemerintah dalam meningkatkan konektivitas wilayah, mempercepat pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satu proyek prioritas di Kabupaten Kotabaru adalah pembangunan Jembatan Batulicin–Pulau Laut, yang diharapkan dapat memperkuat akses transportasi darat antara wilayah Batulicin dan Pulau Laut. Namun, pembangunan ini memerlukan pengadaan tanah dalam skala besar yang berpotensi menimbulkan berbagai resiko sosial, seperti sengketa kepemilikan lahan, ketidaksesuaian nilai ganti rugi, hilangnya mata pencaharian, hingga potensi konflik sosial di masyarakat. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian masyarakat ini difokuskan pada fasilitasi penanganan resiko sosial dalam rangka mendukung kelancaran proses pengadaan tanah. Metode pelaksanaan yang digunakan meliputi: (1) identifikasi dan pemetaan sosial untuk memetakan profil masyarakat terdampak; (2) pendekatan partisipatif melalui musyawarah dan forum diskusi kelompok; (3) sosialisasi dan edukasi terkait regulasi pengadaan tanah dan hak-hak masyarakat; (4) fasilitasi mediasi untuk menyelesaikan sengketa lahan; serta (5) pendampingan masyarakat baik secara administratif maupun sosial ekonomi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman masyarakat mengenai prosedur pengadaan tanah, tersusunnya data sosial terdampak yang akurat, terbentuknya forum komunikasi antara pemerintah dan masyarakat, serta penyelesaian sejumlah sengketa awal terkait batas kepemilikan tanah. Selain itu, kegiatan ini juga berhasil meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan memperkuat kohesi sosial di tingkat lokal. Dengan demikian, fasilitasi penanganan resiko sosial terbukti menjadi strategi penting untuk mendukung keberhasilan pembangunan infrastruktur yang inklusif, adil, dan berkelanjutan.
Penerimaan Masyarakat Terhadap Modernisasi Pembangunan Stadion Sepak Bola di Kabupaten Kotabaru Hamid, Ismar; Irsan, Irsan; Hidayat, Rahmat; Yusril, Yusril; Nugroho, Arif Rahman; Fauzan, Lazuardy Akbar; Pratama, Muhammad Daffa
Journal of Education, Humaniora and Social Sciences (JEHSS) Vol 8, No 2 (2025): Journal of Education, Humaniora and Social Sciences (JEHSS), November
Publisher : Mahesa Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34007/jehss.v8i2.2887

Abstract

Modernization of development has become the development goal of the Kotabaru district government through the construction of a modern football stadium. This article aims to explore and analyze the potential social, economic, and public acceptance impacts of constructing a football stadium in Kotabaru Regency. To address this problem, a literature analysis and field data were employed. The data were collected through observation and in-depth interviews and analyzed qualitatively. This study concludes that the presence of a football stadium in the new city district has a social impact as a public space. The economic impact is the creation of formal and informal sector jobs, driving economic growth and local revenue. The construction of a football stadium has the potential to generate conflict, particularly regarding land acquisition, unequal distribution of economic benefits, and conflict between football fans. Active community participation as a form of positive acceptance in both the planning and management processes can reduce the potential for conflict, strengthen transparency, and increase social legitimacy for the construction of a football stadium.
Manifestasi Antroposentrisme pada Pengelolaan Sumber Daya Alam di Desa Satui Barat Kabupaten Tanah Bumbu Rahmawati, Neli; Hamid, Ismar
Huma: Jurnal Sosiologi Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Prodi Sosiologi FISIP ULM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/h-js.v4i1.354

Abstract

The phenomenon of environmental degradation in Satui Barat Village is closely linked to the exploitation of natural resources that prioritizes greater profits without considering ecological sustainability. This study aims to examine the manifestation of anthropocentrism in the management of natural resources in Satui Barat Village. The research employs a qualitative approach with a case study methodology. Data collection techniques include observation, interviews, and documentation. The findings indicate that the mindset of the Satui Barat community regarding natural resource management has been influenced by five characteristics of anthropocentrism. Anthropocentrism is a perspective that places humans at the center of everything, prioritizing human interests over environmental concerns. In the context of Satui Barat Village, economic activities, urbanization, and climate change also contribute to the well-being of the local community. Ideally, efforts to sustain human life should be balanced with sustainable environmental management, taking into account the long-term interests of both humans and nature. Anthropocentrism represents an ethical stance that neglects ecological balance and the sustainability of natural resources. In Satui Barat Village, mining activities have caused detrimental social impacts, such as forced evictions, land conflicts, and a decline in the quality of life for the local population. The current situation calls for changes in the governance of natural resources, placing greater emphasis on ecological sustainability to ensure a better and more sustainable quality of life. Coordinated efforts between the government, the mining industry, and local communities are essential to developing sustainable solutions that address the needs of all stakeholders, including environmental conservation. All sustainability efforts must be supported by a paradigm shift as a foundation, prioritizing environmental ethics that uphold quality and fairness for the entire ecosystem network.
Paradoks Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin sebagai Pejuang Lingkungan Aulia, Hilyatun; Hamid, Ismar
Huma: Jurnal Sosiologi Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Prodi Sosiologi FISIP ULM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/h-js.v4i1.371

Abstract

The environmental sustainability of Banjarmasin City as a whole is a responsibility that requires essential action by the Banjarmasin City Environmental Agency (DLH) through its programs. This research aims to: (1) Knowing the programs run by the Banjarmasin City Environmental Agency in environmental management. (2) Analyzing ecological thinking in environmental management programs by the Banjarmasin City Environmental Agency. This research uses a qualitative approach with a case study research type. Data collection techniques were carried out by direct observation, semi-structured interviews and documentation. This research shows that the programs of DLH Banjarmasin City actually do not have ecological thinking that includes the harmony of three important aspects in achieving appropriate development goals, namely ecological, economic, and social dimensions. The programs implemented do not substantially reflect holistic and sustainable ecological principles. The conclusion of the research is that the programs initiated by DLH Banjarmasin City tend to erode the values of natural science and sustainable development. In practice, the actions taken focus on aspects of economic development and short-term practical needs without considering the components of a sustainable ecosystem. As a result, despite efforts to improve the quality of the environment, the manifestation of solutions to environmental problems actually creates new environmental problems, such as the problem of traffic order in the surung sintak program due to the accumulation of garbage in TPS located on the edge of major roads, depriving part of the road to cause congestion, accidents, and disruption of community social activities. DLH can initiate training and continuing education programs for DLH Banjarmasin functionaries on ecology, conservation, and environmental sustainability concepts.
Co-Authors Abdan, Indra Suci Ahmad Jainuddin Ahmad Ramadhan Ahmad Riduan Ahmad Rusadi Ahmad Yunani Aldi Ansara Alex Alex Alhadi, Syarifah Soraya Anggi Yus Susilowati Anisa Amalia Anshari, Ahmad Ardani, Rafi Ariani, Siti Noor Arif Rahman Nugroho aulia, hilyatun Azumardi, Andri Noor Azzahra, Shamiyah Noor Baharuddin Baharuddin Bahjah, Noor Cherry Rabiullan Sari Dani, Muhammad Anwaruddin Devi Permata Putri Dewi Astaria Purwasih Dewi Dewi Dewi Nuraini Dila, Ratna Dimas Asto Aji An’Amta Dwi Mariatul Syadiah Erlina Erlina Erma Agusliani Evanrio Seanjaya Fadiya, Nurul Khairin Faizi, Muhammad Noor Fasyah, Adistya Karamina Fatahilah, Muhammad Ibnu fauzan, lazuardy akbar Febrianty, Nur'Aulia Fitria, Qolbiatul Gabriella Genny Pranawa Hairida, Gusti Hamdi, Resyda Syaibatul Hariadi . Hauzan, Muhammad Rafly Fariz Helmiyah, Fauzatul Hidayah, Sri Humairo, Faridah Ida Yanti Indrawan Indrawan Irsan Irsan Jumiati Jumiati Kamilazzahra, Ahyati Khairussalam, Khairussalam Larasati, Aaqilah Latifah Latifah Liani, Sava'ah Intan Lisdawanti Lisnina M. Zakiyuddin Munziri Mahtia Safitri Mahyuni Mahyuni Mahyuni Marlina Meilinda, Salsa Rizkia Miftahul Janah, Miftahul Milda Rahmawati Mona Warah Mona Warah Muhammad Abdilah Muhammad Agrianto Suwandi Muhammad Hatni Muhammad Huda Inayaturrahman Muhammad Irfan Muhammad Luthfi Fahrizan Muhammad Luthfi Farizan Muhammad Rifani, Muhammad Muhammad Tifriji Mustakimah , Wafiq Muzaki, Rizky Ircham Nabawi, Ahmad Nadiba, Shaffa Noor Syafitri Nor Aziziah Norafifah Nur Hasanah Nur Mila Sari Nur, Rahmat Nurul Khairin Fadiya Perdana, Tiara Selvia Pratama, Muhammad Daffa Priatna, Myra Pionera Prhameswari Puspita, Della Putra, Ezza Akhnan Maulana Putri, Maziatul RACHMAT HIDAYAT Rahima, Annisa Rahmadani, Ariska Rahmadianty, Pritha Rahmat Hidayat Rahmat Nur Rahmawati Rahmawati, Neli Rajidin Ramadhan, Akhmad David Ribka Aprilia Rifanny, Muhammad Rizky Rijal, Muhammad Syaipul Risnawati Roji, Fkah Sabila, Sahla Ghina Safira, Adira Safitri, Mahtia Salam, Ismail Abdi Salsa Rizkia Meilinda Salsabila, Putri Saragih, Defica A. Sari, Dini Puspita Sava’ah Intan Liani Setia Budhi Shinta Ardini Prasasti Ungawaru Siti Aulia Siti Karlina SITI MARYAM Siti Noor Ariani Siti Zulaikha Solly Aryza Sri Hidayah Suhasti, Indri Syahputri, Arya Vernanda Syarifah Soraya Al Hadi Thiansyah, Adhera Nur Utari, Siti Plavia Widaty, Cucu Widya Wati Rohmatul Jannah Yahya, Nur Azima Yuni Yemima Yusril Yusril Zulhidan, Muhammad Royyan