Claim Missing Document
Check
Articles

The Role of Social Support and Mindfulness on The Posttraumatic Growth of Young Adults Surviving Childhood Maltreatment Ettah, Nurul Aini Adinda; Soetikno, Naomi; Dewi, Fransisca Iriani Roesmala
GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling Vol 13, No 4 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/gdn.v13i4.8497

Abstract

Recent research has found that negative experiences due to childhood maltreatment do not always persist; survivors can experience positive growth, which is called posttraumatic growth (PTG). Two of the protective factors that encourage PTG are social support and mindfulness. Social support through empathy, giving new perspectives, and appreciation can help survivors deal effectively with traumatic events and lead to the PTG process. In addition, survivors who have mindfulness can also practice direct involvement with their thoughts and feelings, not judge traumatic events, and help survivors rebuild the meaning of the world. This correlational and quantitative study examined the role of social support and mindfulness in posttraumatic growth (PTG) among 114 young adult survivors of childhood maltreatment aged 20–40 years (M = 24.84, SD = 4.55). The measuring tools used in this study were the Posttraumatic Growth Inventory—Short Form (PTG-SF), the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS), the Tarumanagara Five-Facet Mindfulness Questionnaire (TFFMQ), and the Childhood Trauma Questionnaire—Short Form (CTQ-SF). Using multiple regression analysis, results showed that social support (β = 0.350 p < 0.01) and mindfulness (β = 0.336 p < 0.01) had a positive effect on PTG in young adults who survived childhood maltreatment, with the higher support and mindfulness felt by the survivors, the higher the PTG they experienced. This research shows the importance of social support and mindfulness in shaping positive changes in the lives of young adults who have survived childhood maltreatment.
Systematic Review: Faktor-Faktor Resiliensi Individual pada Dewasa Awal yang Mengalami Childhood Abuse Ingelina, Budi; Satiadarma, Monty P.; Soetikno, Naomi
Psyche 165 Journal Vol. 17 (2024) No. 3
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35134/jpsy165.v17i3.366

Abstract

Child abuse or violence against children is not a new phenomenon that occurs in societies around the world. This phenomenon has also been happening in Indonesia for a long time. Some people still consider physical violence against children by parents or caregivers to be normal as a way to educate and discipline children. However, the negative impact on children who experience violence during childhood may only become apparent later when the child enters early adulthood. Resilience is found to tend to be negatively related to the experience of adversities in childhood. Resilience factors can contribute to reducing the damaging effects of childhood abuse, as well as helping young adults to be able to process the adversities they experienced in childhood. For this reason, researchers wanted to investigate resilience factors in early adults who experienced childhood abuse by integrating the findings of studies on childhood abuse and resilience published from 2013 to 2022. This research uses the systematic review method by searching research data on four sources: APA Psycnet, PubMed, ScienceDirect, and Wiley Online. Based on the results of data searches, researchers found more than 6000 articles and after going through strict filtering, 5 articles remained that were closely related to this research. Individual resilience factors were researched more frequently than family and community factors in those 5 articles. This study concluded that individual resilience factors have different characteristics, and some can influence others.
Regulasi Emosi Sebagai Moderator Hubungan Ruminasi dan Simtom Psikomatik pada Lansia Panigoro, Asyifa Prasasti; Roswiyani; Soetikno, Naomi
Psyche 165 Journal Vol. 17 (2024) No. 3
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35134/jpsy165.v17i3.416

Abstract

Indonesia sedang mengalami penuaan populasi, ditandai dengan meningkatnya proporsi penduduk berusia 60 tahun ke atas yang meningkat dua kali lipat antara tahun 1971 dan 2019. Peningkatan demografi penduduk lansia menimbulkan kekhawatiran karena penduduk lansia tidak termasuk ke dalam populasi usia kerja, sehingga berdampak pada lesunya pertumbuhan ekonomi negara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis regulasi emosi sebagai moderator hubungan antara ruminasi dan simtom psikosomatik pada lansia. Penelitian ini menggunakan metode eksplanatif kuantitatif, dengan metode pengumpulan data berupa survei yang disebar kepada 136 lansia yang dikategorikan mandiri dan berlokasi di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian antara lain yaitu uji normalitas, uji heteroskedastisitas, uji multikolinearitas dan uji regresi. Pengukuran dilakukan menggunakan skala simtom psikosomatik untuk mengukur gejala somatis dan psikologis yang diturunkan dari alat pengukuran DSM-5 dan terdiri dari empat dimensi, yaitu gangguan fisik, gangguan kecemasan, gangguan depresi dan gangguan kecemasan dan depresi. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat pengaruh signifikan antara ruminasi dengan simtom psikosomatik pada lansia sebesar 27,4%. Hasil analisis juga menunjukan bahwa regulasi emosi memoderasi secara negatif hubungan antara ruminasi dengan simtom psikosomatik pada lansia sebesar 29,9%. Dengan demikian, penelitian ini menemukan bahwa semakin sering lansia melakukan ruminasi, maka hal tersebut akan berpengaruh pada seberapa sering pengalaman simtom psikosomatik yang dirasakan oleh lansia. Hal ini dapat di moderasi dengan regulasi emosi, dimana apabila semakin tinggi regulasi emosi seorang lansia, maka akan semakin rendah simtom psikosomatik pada lansiayang disebabkan oleh ruminasi.
SELF-ESTEEM KORBAN BULLYING : STUDI LITERATUR Saragih, Billy Prapanca; Soetikno, Naomi
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 3 No. 1 (2023): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v3i1.27087

Abstract

Bullying merupakan segala bentuk intimidasi atau perilaku kekerasan yang dilakukan dengan sengaja oleh satu atau sekelompok orang yang lebih kuat atau berkuasa terhadap orang lain, yang bertujuan untuk menyakiti dan dilakukan secara terus menerus. Bullying memiliki dampak yang sangat buruk terhadap korban, terutama pada remaja. Contohnya seperti mudah mengalami rasa takut, kecemasan dan dapat menimbulkan depresi. Perilaku bullying tersebut dapat berpengaruh pada perkembangan self-esteem, sehingga membuat rendahnya self-esteem pada remaja. Hal tersebut menimbulkan pemikiran ketidak berhargaan akan diri sendiri dan membuat sulit untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Self-esteem adalah dasar penilaian seseorang terhadap dirinya baik secara positif dan negatif secara keseluruhan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan literature review. Berbagai sumber yang relevan terhadap topik penelitian dikumpulkan kemudian dilakukan analisis. Sehingga pada hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meningkatkan self-esteem remaja efektif untuk meminimalisir remaja korban bullying. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa ditemukan adanya self esteem memiliki keterkaitan dengan bullying.
Resiliensi dan Kesepian pada Remaja Berstatus Anak Tunggal yang Mengalami Fatherless Akibat Perceraian Cristy, Carmelita; Soetikno, Naomi
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 7 No. 3 (2023): Desember 2023
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v7i3.12108

Abstract

Perceraian orang tua menjadi faktor penyebab remaja mengalami ketiadaan ayah. Ketiadaan ayah ini biasa dikenal dengan istilah fatherless. Fatherless dapat memberikan dampak bagi remaja akan cenderung merasa kesepian. Penelitian sebelumnya mengatakan, tidak semua individu akan mengalami kesepian jika mereka memiliki faktor pelindung, yakni resiliensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh resiliensi terhadap kesepian pada remaja berstatus anak tunggal yang mengalami fatherless akibat perceraian. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan non eksperimental. Partisipan merupakan remaja fatherless dengan rentang usia 16-18 tahun, menjalani keseharian sebagai anak tunggal tanpa adanya peran seorang ayah, hanya dengan seorang ibu yang bekerja secara penuh, dan belum ataupun tidak menikah kembali. Skala yang digunakan adalah Resilience Connor-Davidson (CD-RISC) dan UCLA Loneliness Scale Version 3 yang sudah diadaptasi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh resiliensi terhadap kesepian pada remaja berstatus Anak Tunggal yang mengalami fatherless akibat perceraian sebesar 0.176 dengan nilai p = 0.000 < 0.05.
HUBUNGAN ANTARA REGULASI DIRI DAN FEAR OF MISSING OUT PADA REMAJA PENGGUNA YOUTUBE Soetikno, Naomi; Andreane, Clarita
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 3 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v6i3.19451.2022

Abstract

Saat ini semakin mudahnya pengaksesan internet dan cepatnya laju media sosial membuat setiap individu di dunia ingin segera mengetahui perkembangan informasi. Fear of missing out (FOMO) atau perasaan takut tertinggal berisiko dialami remaja yang tergolong belum cukup mampu untuk meregulasi diri mereka. FOMO yang mungkin dialami para remaja berisiko membuat remaja  lalai terhadap tanggung jawab, bersikap konsumtif, terpapar oleh konten kejahatan atau pelecehan seksual hingga menurunnya kesehatan mental dan fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara regulasi diri dengan FOMO pada remaja usia 12 -18 tahun. Metode kuantitatif non-eksperimental dilakukan dengan menyebarkan kuesioner penelitian yaitu Short Self Regulation Questionnaire dan Fear of Missing Out Scale dengan teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling. Didapatkan data penelitian dari 386 partisipan dan diolah menggunakan teknik Spearman Correlation untuk mengetahui hubungan regulasi diri dan fear of missing out para remaja.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa hipotesis penelitian diterima, yaitu terdapat hubungan negatif yang signifikan antara regulasi diri dan fear of missing out (r = -0.176 dan nilai p = 0.001 < 0.05) pada remaja. Data tambahan juga menganalisis mengenai perbedaan regulasi diri berdasarkan keaktifan remaja berinteraksi dengan orang tua dan berdasarkan jenis kelamin. Hasil analisis tambahan menunjukkan remaja yang aktif berinteraksi dengan orang tua memiliki regulasi diri yang lebih tinggi dibandingkan remaja yang kurang aktif berinteraksi dengan orang tua dan regulasi diri remaja perempuan lebih baik dibandingkan regulasi diri remaja laki-laki.
HUBUNGAN BYSTANDER BULLYING DENGAN SELF-ESTEEM SISWA-SISWI SMA Chiu, Ferdinand; Soetikno, Naomi; Uranus, Hanna Christina
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v8i2.27411.2024

Abstract

Bullying merupakan salah satu fenomena yang masih sering terjadi dalam ruang lingkup sekolah. Bullying adalah tindakan agresif atau intimidasi yang dilakukan oleh pihak yang lebih kuat terhadap pihak yang lebih lemah dengan beragam macam bentuk. Tindakan bullying dapat didorong oleh beberapa hal dan salah satunya adalah tingkat harga diri individu. Pada umumnya, penelitian terhadap kasus bullying ini selalu memfokuskan pada dua pihak saja yaitu pelaku tindakan bullying dan korban tindakan bullying. Tetapi ada pihak ketiga yang memiliki peranan cukup besar dalam kasus bullying yang dinamakan sebagai Bystander dan dapat dikategorikan kedalam tiga macam yaitu Reinforcing, Defending, dan Passive. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Bystander Bullying dengan Self – Esteem pada siswa dan siswi SMA. Partisipan dalam penelitian ini didapat sebanyak 298 siswa. Alat ukur yang dipakai untuk mengukur self-esteem adalah Rosenberg Self-Esteem Scale dan alat ukur yan digunakan untuk mengukur bystander adalah Bystander Scale. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif korelasional dengan teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling. Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif dan signifikan antara passive bystander dan self-esteem. hal ini menunjukkan jika self-esteem individu rendah maka besar kemungkinan individu menjadi passive bystander dan sebaliknya.
Peran Parents’ Restrictive Feeding Practice terhadap Adolescent Binge Eating: Negative Self-Evaluation sebagai Mediator Jashar, Athirah Azzahrah; Soetikno, Naomi
Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 18, No. 2 : Al Qalam (Maret 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/aq.v18i2.3063

Abstract

Obesitas, atau kegemukan, merupakan salah satu masalah yang cukup merisaukan di kalangan anak dan remaja. Banyak dampak negatif yang akan terjadi apabila anak dan remaja mengalami obesitas, meliputi penyakit fisik, psikologis, maupun penurunan kualitas hidup secara keseluruhan. Berkaitan dengan hal itu, salah satu upaya yang dilakukan orang tua untuk mencegah terjadinya obesitas adalah dengan melakukan pembatasan dalam pemberian makan (restrictive feeding). Namun, kendati dimaksudkan untuk menghindari anak dan remaja dari kemungkinan obesitas, restrictive feeding secara kontraproduktif justru memberikan efek yang sebaliknya. Anak-anak yang menerima pola restrictive feeding dari orang tuanya justru memiliki peluang untuk terlibat perilaku overeating yang lebih tinggi dibandingkan anak-anak yang tidak menerima pola restrictive feeding dari orang tuanya. Penelitian ini bertujuan mengkaji lebih lanjut korelasi antara variabel parents' restrictive feeding practice dan adolescent binge eating dengan mempertimbangkan peran mediasi negative self-evaluation pada remaja. Ketiga variabel diukur menggunakan Kids' Child Feeding Questionnaire-Restriction, Self-Criticism Scale, dan Binge Eating Scale. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 60 remaja berusia 12-18 tahun, berjenis kelamin perempuan dan laki-laki, masih tinggal bersama orangtua, serta memiliki body mass index (BMI) dalam kategori overweight atau obesitas. Analisis data dilakukan dengan Hayes PROCESS untuk melihat peran negative self-evaluation sebagai mediator. Hasil uji mediasi menunjukkan bahwa negative self-evaluation memediasi hubungan parents’ restrictive feeding dengan adolescent binge eating (indirect effect = 1.48, p<0.05) yakni semakin tinggi level parents’ restrictive feeding maka negative self-evaluation juga meningkat, dan sebagai dampak lanjutan, tingginya negative self-evaluation berpotensi memunculkan perilaku binge eating pada remaja. Dalam hal implikasi klinis, temuan ini dapat bermanfaat bagi para praktisi untuk fokus pada pengembangan atau penargetan intervensi mengatasi gangguan makan pada remaja, juga dalam pemberian psikoedukasi lebih lanjut pada orangtua dan remaja berkaitan dengan pola pemberian makan yang baik.
Gambaran Nonsuicidal Self-Injury pada Remaja Korban Kekerasan Keluarga Yuditha, Salshabilla; Soetikno, Naomi
Journal of Psychological Science and Profession Vol 8, No 1 (2024): Jurnal Psikologi Sains dan Profesi (Journal of Psychological Science and Profess
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jpsp.v8i1.53009

Abstract

Kekerasan terhadap anak dapat dilakukan oleh bebagai pihak, termasuk keluarga. Sebagai bentuk kegagalan bertindak oleh orang tua, kekerasan terhadap anak dapat mengakibatkan hal-hal berisiko seperti perilaku maladaptif yaitu nonsuicidal self-injury (NSSI). Tujuan dari penelitian ini adalah melihat gambaran NSSI pada remaja korban kekerasan keluarga. Teknik sampling yang digunakan adalah non-random dengan jenis purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner menggunakan alat ukur Childhood Trauma Questionnaire-Short Form (CTQ-SF) dan The Inventory of Statement About Self-Injury (ISAS). Analisis yang dilakukan adalah analisis uji rerata dan uji-t menggunakan SPSS. Hasil penelitian menemukan bahwa jenis tindakan NSSI yang paling banyak dilakukan oleh partisipan adalah membenturkan/memukul diri, mencubit dengan keras, dan menggaruk dengan keras. Laki-laki dan perempuan melakukan jenis NSSI yang berbeda pada perilaku mencubit dengan keras. Kekerasan emosional adalah jenis kekerasan yang paling umum dialami di antara jenis kekerasan lain pada remaja yang melakukan tindakan NSSI. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran terhadap pengembangan kesehatan mental pada remaja melalui psikoedukasi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara langsung.
Analisis Keterkaitan Antara Aktualisasi Diri dan Kecemasan pada Perempuan Dewasa Awal Korban KDRT di Masa Kecil Alfahis, Fadhilah Umaira; Soetikno, Naomi
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak Vol 5, No 2 (2023)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/equalita.v5i2.17265

Abstract

Domestic violence (DV) is one of the most prevalent forms of violence. It not only affects adults but also puts children at risk of becoming victims of DV. Experiencing or witnessing DV in childhood can cause short-term and long-term psychological impacts. One of the long-term effects is the development of an anxious personality in adulthood. As individuals grow, they need to fulfill specific needs to achieve self-actualization, including safety needs. If an individual easily experiences anxiety in adulthood, it is likely that their sense of security is threatened. Thus, anxiety is predicted to be related to self-actualization. This quantitative research aims to investigate the relationship between self-actualization and anxiety levels in early adult women who were victims of DV in childhood. The findings indicate a negative correlation between self-actualization and anxiety in early adult women who experienced DV in childhood.