Claim Missing Document
Check
Articles

HUBUNGAN PROBLEM FOCUSED COPING DENGAN RESILIENSI PADA WARGA BINAAN REMAJA KASUS NARKOTIKA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN Adra, Kara Siwi; Soetikno, Naomi
PSIKOLOGI KONSELING Vol. 17 No. 2 (2024): Jurnal Psikologi Konseling
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/psikologikonseling.v17i2.69412

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara strategi koping berfokus pada masalah (problem focused coping) dan resiliensi pada warga binaan pemasyarakatan remaja yang terlibat kasus narkoba di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Tangerang. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan teknik purposive sampling, melibatkan 106 partisipan berusia 16-21 tahun. Data dikumpulkan menggunakan kuisioner Ways of Coping Questionnaire dan Resilience Quotient Test yang telah disesuaikan dengan skala Likert. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara problem focused coping dan resiliensi (p<0,001). Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi problem focused coping, semakin tinggi pula tingkat resiliensinya. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan tentang pentingnya problem focused coping dalam meningkatkan resiliensi pada remaja.
HUBUNGAN EFIKASI DIRI DENGAN LEARNED HELPLESSNESS PADA DEBITUR GAGAL BAYAR PINJAMAN ONLINE Byanca, Zayra Alana; Soetikno, Naomi
PSIKOLOGI KONSELING Vol. 17 No. 2 (2024): Jurnal Psikologi Konseling
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/psikologikonseling.v17i2.69425

Abstract

Salah satu bentuk kemudahan dari perkembangan teknologi digital yaitu, pinjaman online. Pinjaman online digunakan karena kemudahan syarat yang diberikan dan pencairan dana yang instan. Fenomena pinjaman online juga diiringi dengan kasus gagal bayar. Salah satu kondisi psikologis yang muncul dari gagal bayar pinjaman online yaitu, learned helplessness. Learned helplessness atau ketidakberdayaan yang dipelajari merupakan suatu kondisi di mana seseorang cenderung pasif dan merasa tidak mampu melakukan apa-apa. Faktor penting dalam mengelola pinjaman adalah debitur harus merasa percaya diri dan mampu mengendalikan keuangan pribadi mereka selama proses peminjaman dan pelunasan pinjaman. Rasa percaya diri dan kendali tersebut dapat diartikan sebagai efikasi diri. Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu hubungan antara efikasi diri dengan learned helplessness pada debitur gagal bayar pinjaman online. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan korelasional dan menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel dalam penelitian ini adalah General Self-Efficacy Scale (GSES) dan Learned Helplessness Scale (LHS). Kedua alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini telah diadaptasi ke bahasa Indonesia dan dimodifikasi sesuai konteks penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan negatif efikasi diri dengan learned helplessness pada debitur gagal bayar pinjaman online.
Peran Moral Disengagement dalam Meningkatkan Pengaruh Cognitive Distortion dan Displaced Aggression pada Dewasa Awal Korban Cyberbullying Rukmana, Andi Novianti; Soetikno, Naomi; Satyadi, Heryanti
GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling Vol 15, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/gdn.v15i1.9970

Abstract

Indonesia occupies the fourth position with the most internet users in the world (Prasasti, 2022), the MENKOMINFO further stated that internet users in Indonesia account for 73.7 percent of the total population. The increase in internet users in Indonesia is in line with the raising cases of cyberbullying, UNICEF (2022) states that 12 percent of victims of cyberbullying become perpetrators of cyberbullying. The aim of this research is to see the effect of cognitive distortion on displaced aggression and the moderating effect of moral disengagement. The research method used was quantitative with purposive sampling data collection techniques, and the data were analyzed using moderated regression analysis with the help of SPSS version 21. The study participants totaled 135 people, most of the participants were women (n = 78), and the average participant was at very high cognitive distortion (n=64), moderate moral disengagement (n=63), and very high displaced aggression (n=65). The results of the analysis show that cognitive distortion causes a person to experience displaced aggression (β=0.466; p0.05), but several dimensions of moral disengagement have a significant influence including moral justification (β=0.280; p<0.01). In conclusion, this study found that cognitive distortion affects displaced aggression behavior in victims of cyberbullying and moral disengagement in this research has an influence on displaced aggression as an independent variable but does not moderate the relationship between cognitive distortion and displaced aggression (predictor of moderation).
Teen Anger Management and Education: Anger Management for Adolescent Perpetrators of Violence in Special Child Development Institutions Class II Jakarta Audina, Yasmin; Syifanita, Sarah; Alfahis, Fadhilah Umaira; Soetikno, Naomi
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 11, No 3 (2023): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v11i3.11418

Abstract

Cases of violence committed by adolescents are quite high, indicating that violence behavior in adolescents often occurs. One of many causes of violent behavior is unmanaged anger. Acts of violence are considered as a crime, hence the perpetrators could be punished and put in a Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Class II Jakarta. This study aims to investigate the effectiveness of the Teen Anger Management and Education (TAME) intervention program to improve anger management on perpetrators in Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Class II Jakarta. The sampling technique used for this research is purposive sampling with the criteria of adolescents aged 17-19 years old who are the perpetrators of violence. The method used is a mixed method, an approach that combines quantitative and qualitative research methods. Data collected through a State-Trait Anger Expression Inventory - 2 (STAXI-2) questionnaire are analyzed by paired sample t-test using the SPSS program. The result is that the value of Sig. (2-tailed) is 0.170 > 0.05, which explains that the TAME intervention program given to perpetrators at LPKA Class II Jakarta is less significant in increasing anger management on participants. Meanwhile, the qualitative result shows changes in participant’s anger management through activeness and changes in behavior while participating in the program. Data kasus kekerasan yang dilakukan oleh remaja terbilang cukup tinggi, menandakan bahwa perilaku kekerasan pada remaja marak terjadi. Salah satu penyebab perilaku kekerasan adalah karena emosi marah yang tidak dikelola dengan baik. Tindakan kekerasan merupakan pelanggaran hukum sehingga pelakunya dapat dikenakan hukuman yang membuatnya berada di Lembaga Pembinaan Khusus Anak. Penelitian ini memiliki tujuan untuk melihat efektivitas program intervensi Teen Anger Management and Education (TAME) untuk meningkatkan anger management pada remaja pelaku kekerasan yang berada di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Jakarta. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan kriteria anak binaan yang menjalani masa pidananya karena kasus kekerasan dan berumur 17-19 tahun. Metode yang digunakan adalah mixed-method, yakni pendekatan yang menggabungkan antara metode penelitian kuantitatif dan kualitatif. Data yang tertampung melalui kuesioner alat ukur State-Trait Anger Expression Inventory - 2 (STAXI-2) dianalisis dengan uji paired sample t-test menggunakan program SPSS. Diperoleh hasil bahwa nilai Sig. (2-tailed) adalah sebesar 0.170 > 0.05 sehingga dapat dijelaskan bahwa program intervensi TAME yang diberikan kepada pelaku kekerasan di LPKA Kelas II Jakarta ku­rang signifikan dalam meningkatkan anger management partisipan. Sedangkan berdasarkan hasil metode kualitatif, menunjukkan bahwa anger management dari partisipan menunjukkan adanya perubahan melalui keaktifan dan perubahan perilaku selama mengikuti kegiatan. 
Pengaruh Konflik Bersaudara terhadap Machiavellianism pada Dewasa Awal Rizki, Dwi Nur; Soetikno, Naomi
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i1.12729

Abstract

Hubungan saudara diketahui menyediakan dukungan dan kenyamanan, namun tidak selalu mencerminkan sebuah hubungan harmonis dan hangat dikarenakan hubungan saudara merupakan sumber dari konflik dan persaingan. Pada dewasa awal, saudara yang lebih tua memegang peranan dominan dalam hubungan saudara seperti mendikte perilaku, membuat keputusan sepihak, dan memenangkan konflik yang terjadi di antara saudara. Peran dominan pada saudara diketahui berkaitan secara signifikan dengan machiavellianism (Hernandez-Pena et al., 2023). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh konflik bersaudara dan machiavellianism pada dewasa awal. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian non-experimental. Pengambilan data pada penelitian ini menggunakan metode non-probability sampling dengan teknik purposive sampling. Penelitian dilakukan kepada 313 dewasa awal usia 20 hingga 40 tahun. Penelitian menggunakan alat ukur Sibling Relationship Questionnaire dan Machiavellianism IV. Hasil penelitian diperoleh dengan menggunakan analisis regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara konflik bersaudara dengan machiavellianism dengan nilai r=.188. Penelitian menemukan bahwa konflik bersaudara memberikan pengaruh terhadap machiavellianism pada dewasa awal sebesar 3.5% sedangkan 96.5% dipengaruhi oleh variabel lainnya.
Hubungan Childhood Maltreatment dengan Machiavellianisme pada Dewasa Muda Theodora, Yemima; Soetikno, Naomi
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i1.12958

Abstract

Anak yang menjadi korban childhood maltreatment di Indonesia terus mengalami peningkatan. Childhood maltreatment dapat berupa kekerasan fisik, kekerasan emosional, kekerasan seksual, penelantaran fisik dan penelantaran emosional. Kebohongan pertama anak yang mengalami maltreatment bertujuan untuk menghindari hukuman (Stouthamer-Loeber, 1986). Kebohongan yang berhasil membuat anak terhindar dari human membuat anak menjadikan kebohongan sebagai kebiasaan, dan kebiasaan yang terus dilakukan berkembang menjadi kepribadian(Feist et al., 2018). Salah satu ciri utama machiavellianisme adalah menipu atau berbohong (Todd & Shackelford, 2020). Penelitian ini dilakukan untuk melihat ada atau tidaknya hubungan childhood maltreatment dengan machiavellianisme pada dewasa muda. Instrumen alat ukur yang digunakan pada penelitian ini adalah Childhood Trauma Questionnaire Short Form (CTQ-SF) untuk mengukur tingkat pengalaman childhood maltreatment partisipan dan MACH-IV untuk mengukur tingkat machiavellianisme partisipan. Melalui analisa data, didapatkan hasil yang menyatakan adanya hubungan positif (r = 0.77) yang signifikan antara childhood maltreatment dengan machiavellianisme pada dewasa muda.
Hubungan Stres dan Gaya Pengambilan Keputusan Mahasiswa yang Melakukan Judi Online Sharon, Michelle; Soetikno, Naomi
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Para pemain judi online di Indonesia kian meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) tahun 2024, tercatat pemain judi online di Indonesia mencapai 4 juta pemain. Dengan tingginya para pemain judi online membuat masalah ini mendesak untuk diteliti, khususnya dampak dari bermain judi online bagi mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara stres dan gaya pengambilan keputusan pada mahasiswa yang terlibat dalam judi online. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan jenis nonprobability sampling menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan dengan melakukan penyebaran kuesioner kepada mahasiswa yang aktif berjudi online. Selain itu penelitian ini juga melibatkan sebanyak 172 mahasiswa aktif strata – satu yang aktif bermain judi online sebagai partisipan. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara stres dengan gaya pengambilan keputusan intuitive dan spontaneous (p < 0.05). Sebaliknya, tidak ditemukan hubungan signifikan antara stres dengan gaya pengambilan keputusan rational, dependent, dan avoidant. Temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa yang mengalami stres tinggi cenderung menggunakan gaya pengambilan keputusan dengan cara menggunakan intuisi dan spontan, yang berpotensi meningkatkan risiko perilaku impulsif seperti judi online. Penelitian lebih lanjut disarankan untuk meneliti secara lebih mendalam mengenai jenis stres yang dialami mahasiswa dan mengembangkan alat ukur yang lebih spesifik untuk mengukur stres pada mahasiswa.
HUBUNGAN SELF-ESTEEM DAN MACHIAVELLIANISM PADA PENGGUNA PROFIL PALSU DI APLIKASI KENCAN Andini, Elishka Rossa; Soetikno, Naomi
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 7 No. 1 (2024): Volume 7 No 1 Tahun 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v7i1.24427

Abstract

Kemajuan teknologi dan akses internet menciptakan inovasi baru, yaitu aplikasi kencan. Aplikasi kencan menjadi suatu cara untuk mencari teman, serta memulai hubungan romantis. Pengguna aplikasi kencan memungkinkan dapat membuat identitas palsu untuk mendapatkan keuntungan pribadi dengan seseorang dari aplikasi kencan. Tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui uji hipotesis yang diajukan dalam penelitian. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional. Pada penelitian ini memperoleh nilai r = - 0.414, p = 0.000 < 0.5. Menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara self-esteem dan machiavellianism pada pengguna akun palsu di aplikasi kencan. Sebaliknya, semakin tinggi tingkat self-esteem maka semakin rendah pula tingkat Machiavellianism.
SOCIAL SUPPORT: KUNCI PENINGKATAKAN SELF-ACCEPTANCE PADA REMAJA PELAKU TINDAK KRIMINAL Audina, Yasmin; Soetikno, Naomi
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 7 No. 1 (2024): Volume 7 No 1 Tahun 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v7i1.24428

Abstract

Remaja pelaku tindak pidana kejahatan yang terbukti bersalah akan ditempatkan dalam Lembaga Pembimbingan Khusus Anak (LPKA). Sebagai anak binaan, individu cenderung tidak dapat menghindari perasaan menyesal, malu, dan rendah diri dari anak seusianya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh social support terhadap self-acceptance pada remaja pelaku tindak kriminal di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). Partisipan dalam penelitian ini adalah remaja pelaku tindak kriminal di LPKA berusia 14-18 tahun sebanyak 133 partisipan. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner berskala likert. Kuesioner terdiri dari 41 pertanyaan, yaitu dari 23 item Social Provisions Scale dan 18 item Unconditional Self-Acceptance Questionnaire. Pengujian hipotesis dilakukan mengggunakan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menemukan bahwa social support secara signifikan dan positif mempengaruhi self -acceptance sebesar 26,5% (p = 0.00 < 0.05).
PSIKOEDUKASI KEKERASAN DI MASA KANAK-KANAK, NONSUICIDAL SELF-INJURY, DAN FAKTOR RESILIENSI PADA SISWA SMP MARDI YUANA Ingelina, Budi; Yuditha, Salshabilla; Satiadarma, Monty; Soetikno, Naomi
Jurnal Serina Abdimas Vol 2 No 3 (2024): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v2i3.32081

Abstract

Violence against children is a significant issue occurring in Indonesia and globally. Violence towards children is often influenced by cultural and social norms that tolerate violence. The impact of childhood violence includes cognitive, emotional, and social disturbances, as well as an increased risk of maladaptive behaviors such as Non-Suicidal Self-Injury (NSSI) and depression. Unfortunately, during the middle school years, children may be exposed to violence, and may even engage in NSSI as an emotional response to their circumstances. Therefore, resilience is needed in these middle school students. Resilience is a critical factor in overcoming the negative effects of childhood violence, enabling individuals to process traumatic experiences and build meaning in life. In this Community Service activity, psychoeducation was conducted at Mardi Yuana Middle School in Cicurug, Sukabumi, West Java on April 20, 2024. This research is quantitative in nature, employing a one sample pre-test post-test method. The methods used included pre-tests, lectures, Q&A sessions, discussions, and post-tests. The pre-test results showed limited understanding among students about violence, its impacts, NSSI, and resilience. After psychoeducation, there was a significant increase in understanding about the impacts of violence (from 85.5% to 98.6%), knowledge about NSSI (from 4.1% to 36.5%), and resilience (from 70.3% to 100%). These findings indicate the effectiveness of psychoeducation in enhancing students' awareness and understanding of violence, NSSI, and resilience. This activity also revealed that a majority of participants witnessed violence at school (40.5%) and experienced violence in the family (47.3%). These results emphasize the importance of interventions to reduce violence and support the development of resilience in children and adolescents. ABSTRAK Kekerasan terhadap anak merupakan isu signifikan yang terjadi di Indonesia dan secara global. Kekerasan pada anak seringkali dipengaruhi oleh norma budaya dan sosial yang permisif terhadap kekerasan. Dampak kekerasan masa kanak-kanak mencakup gangguan kognitif, emosional, dan sosial, serta meningkatkan risiko perilaku maladaptif seperti Non-Suicidal Self-Injury (NSSI) dan depresi. Sayangnya, masa SMP, anak-anak dapat terpapar pada kekerasan, bahkan dapat melakukan NSSI sebagai respons emosional terhadap situasi yang ada. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya resiliensi pada para siswa SMP ini. Resiliensi merupakan faktor penting dalam mengatasi dampak negatif kekerasan masa kanak-kanak, memungkinkan individu mengolah pengalaman traumatis dan membangun makna hidup. Dalam kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini, dilakukan psikoedukasi di SMP Mardi Yuana Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat pada 20 April 2024. Peneltian ini merupakan penelitian kuantitatif, dengan jenis penelitian one sample pre-test post test method. Metode yang digunakan meliputi pre-test, ceramah, tanya jawab, diskusi, dan post-test. Hasil pre-test menunjukkan pemahaman terbatas siswa tentang kekerasan, dampaknya, NSSI, dan resiliensi. Setelah psikoedukasi, terdapat peningkatan signifikan dalam pemahaman tentang dampak kekerasan (85.5% menjadi 98.6%), pengetahuan NSSI (4.1% menjadi 36.5%), dan resiliensi (70.3% menjadi 100%). Temuan ini menunjukkan efektivitas psikoedukasi dalam meningkatkan kesadaran dan pemahaman siswa tentang kekerasan, NSSI, dan resiliensi. Kegiatan ini juga mengungkap bahwa sebagian besar peserta menyaksikan kekerasan di sekolah (40.5%) dan mengalami kekerasan di keluarga (47.3%). Hasil ini menekankan pentingnya intervensi untuk mengurangi kekerasan dan mendukung perkembangan resiliensi pada anak-anak dan remaja.