Claim Missing Document
Check
Articles

Antropomorfisme Yahudi Dalam Al-Qur’an (Kajian Tafsir Klasik dan Modern) Ramadani, Bayu Rindy; Muttaqein, Ahmad; Masruchin, Masruchin
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 16 No 2 (2022)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v16i2.13898

Abstract

AbstractThis research seeks to interpret the verses that show the attitude anthropomorphism towards God. Because Jews are the most fiercely opposed to Islam and have a great hostility toward Islam, this study tries to understand the verses that reflect the attitude of Jewish anthropomorphism towards God. The library research method was combined with the Maudhu'i methodology in this study. Researcher employs content-analysis techniques to get a valid conclusion based on the object of study. As a result of this research, Jews believe Allah is a God who is stingy and parsimonious since Allah's hands are bound, so that can conclude from this study that when we come across verses like this, not not interpret them the way Jews do. But must communicate its latent meaning through diverse interpretation methods so its explicit meaning does not stick to usKeywords: Anthropomorphism; Attitude; Yahudi. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk meinterpretasikan ayat-ayat yang menunjukkan sikap antropomorfisme Yahudi terhadap Allah. Sebab Yahudi adalah yang paling keras menentang Islam dan kental permusuhannya dengan Islam. Penelitian ini menggunakan metode library research dengan pendekatan maudhu’i. Peneliti menggunakan teknik content-analys untuk dapat menarik suatu kesimpulan yang valid berdasarkan objek kajian. Hasil dari penelitian ini ialah kalangan Yahudi berasumsi bahwa Allah adalah Tuhan yang kikir, pelit, sebab tangan Allah telah terbelenggu, sehingga dapat disimpulkan bahwa tatkala bertemu dengan ayat-ayat seperti ini, jangan memahaminya sebagaimana kalangan Yahudi memahami. Akan tetapi harus mengungkapkan makna implisitnya dengan berbagai metode tafsir, sehingga kita tidak terjebak kedalam makna eksplisitnya. Kata Kunci: Antropomorfisme; Sikap; Yahudi.
Kepahitan Hidup Maryam dalam Kisah Al-Qur’an Masykuroh, Siti; Yana, Rina; Isnaeni, Ahmad; Masruchin, Masruchin
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 17 No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v17i1.16772

Abstract

AbstractMaryam Binti Imran is a revered female who Allah selected as the only female sanctified by Him and the best female. Allah tried Maryam during the period of her life that is chronicled in the Qur'anic narrative because it is so bitter. The study aims to shed light on Maryam's life stages throughout her lifetime. This study is descriptive and analytical through pure literature, focusing on discussing bitter moments in Maryam's life as described in the Qur'an. According to the study's findings, Maryam's long period of bitterness was an effort on Allah's part to get her ready to share in His Majesty. The first step in the preparation was accepting her mother's vow and selecting Zakaria as her best caregiver, who taught her about taqwa and preserving her purity. Allah's extensive preparations for the birth of the extraordinary figure known as Isa was aimed at Maryam's pregnancy and her extraordinary labor.Keywords: Maryam; Quranic story; Tribulation. AbstrakMaryam Binti Imran adalah sosok seorang perempuan langit yang dipilih Allah sebagai perempuan terbaik dan menjadi satu satunya perempuan yang disucikan oleh Allah. Bentangan kehidupan Maryam sebagaimana digambarkan dalam kisah al-Qur’an begitu sarat dengan kepahitan, Allah mengujinya dengan kepahitan hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap fase-fase kehidupan Maryam semasa hidupnya. Kajian ini bersifat deskriptif analitis melalui kepustakaan murni, yang menfokuskan bahasan pada episode-episode kepahitan dalam bentangan kehidupan Maryam sebagaimana dikisahkan dalam al-Qur’an. Temuan penelitian ini menyimpulkan bahwa bentangan kepahitan yang dihadapi Maryam adalah cara Allah mempersiapkan Maryam untuk menjadi sebagian dari tanda kebesaran-Nya. Persiapan dimulai sejak diterima-Nya nadzar sang ibunda dan dipilihnya pengasuh terbaik-Zakaria- yang mengajarkannya tentang taqwa dan terjaganya kesucian pribadinya. Kehamilan Maryam dan persalinan yang luarbiasa adalah tujuan dari semua persiapan panjang yang Allah bentangkan untuk lahirnya sosok luar biasa yaitu Isa.Kata Kunci: Kepahitan Hidup; Kisah Al-Qur’an; Maryam.
Mohammed Arkoun's Islamology: Applications of Humanities and Social Sciences in Islamic Studies Pratama, Aunillah Reza; Masruchin, Masruchin
Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ijitp.v6i2.23972

Abstract

Abstract;This study focuses on Arkoun's thoughts on the idea of Applied Islamology. Arkoun has anxiety about the treasures of Islamic turats (heritage of tradition, culture, knowledge) which tend to be passive towards advanced civilization in thought. Such stagnation, according to Arkoun, is caused by the hegemony of dogmatic orthodoxy that shackles knowledge into the old episteme. Arkoun's Applied Islamology is a scientific practice in an epistemology of thought. By using the literature method, this study found that the reading of QS. At-Taubah: 5 there is a fairly strong normative foundation about jihad and today's problems regarding it. The results of the reading with several perspectives, namely: from the semiotic side, all vocabulary in Surah At-Taubah is related to the meaning of taubah, including prayer, zakat, faith and disbelief.Keywords:Applied Islamology; Arkoun; Episteme; Socio-Humanities Applications. Abstrak;Kajian ini berfokus pada pemikiran Arkoun tentang gagasan Islamologi Terapan. Arkoun memiliki kegelisahan terhadap khazanah turats Islam (warisan tradisi, kebudayaan, pengetahuan) yang cenderung pasif untuk menuju peradaban maju dalam pemikiran. Kejumudan demikian menurut Arkoun disebabkan oleh hegemoni ortodoksi-dogmatis yang membelenggu pengetahuan ke dalam episteme lama. Islamologi Terapan yang dicetus oleh Arkoun merupakan suatu praktik ilmiah dalam suatu epistemologi pemikiran. Dengan menggunakan metode pustaka, penelitian ini menghasilkan bahwa pembacaan terhadap QS. At-Taubah terdapat landasan normative yang cukup kuat tentang jihad dan problem dewasa ini mengenai hal tersebut. Dalam kasus at-Taubah ini, ayat payung ini adalah ayat saif atau pedang. Ayat pedang yang dimaksud adalah QS. At-Taubah: 5. Hasil pembacaannya dengan beberapa perspektif yaitu: dari sisi semiotik, semua kosa kata dalam surat at-Taubah berkaitan dengan makna taubah, termasuk salat, zakat, iman, kafir.Kata Kunci:   Aplikasi Ilmu Sosial-Humaniora; Arkoun; Episteme; Islamologi Terapan.
Manuskrip Kuno dan Perdebatan Autentisitas Teks Al-Qur’an: Tinjauan Filologis Kritis Terhadap Manuskrip Birmingham, Sana’a, dan Topkapi Masruchin, Masruchin; Rahmat, Maulana Bagus
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 15 No. 1 (2025): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v15i1.1100

Abstract

Penelitian ini bertujuan menguji autentisitas teks Al-Qur’an melalui pendekatan filologis-kritis terhadap tiga manuskrip kuno: manuskrip Birmingham, Sana’a, dan Topkapi, yang kemudian dibandingkan dengan mushaf Uthmani standar. Latar belakang penelitian ini didorong oleh dominasi wacana akademik Barat yang kerap meragukan keaslian teks Al-Qur’an, serta keterbatasan keterlibatan akademisi Muslim dalam kajian tekstual kritis. Studi ini menggunakan metode kualitatif berbasis pustaka (library research) dengan teknik analisis deskriptif-komparatif terhadap aspek ortografi (rasm), tanda baca (dhabt), dan struktur teks. Hasil penelitian menunjukkan adanya varian minor yang bersifat ortografis dan tidak berdampak pada perubahan makna substansial, dengan tingkat perbedaan di bawah 0,01%. Temuan ini menguatkan narasi tentang terjaganya teks Al-Qur’an sejak masa kodifikasi Utsmani, sekaligus menunjukkan validitas sejarah wahyu dalam perspektif keilmuan. Studi ini merekomendasikan pendekatan integratif antara filologi, sejarah kodifikasi, dan teologi sebagai kontribusi konstruktif dalam studi Al-Qur’an kontemporer.
Javanese Cultural Locality as Perceived by KH. Bisri Musthofa: an Analysis of Tafsir QS. Luqman: 21 Alamsah, Johan; Masruchin, Masruchin; Hendro, Beko; Hadri, Tamir Saad Ibrahim
QOF Vol. 8 No. 1 (2024)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Keiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/qof.v8i1.1392

Abstract

This research focuses on the Javanese locality in interpreting Surah Luqman: 21 in the book of tafsir al-Ibriz.. The objective is to determine the locality of Javanese culture that K.H. Bisri Musthofa incorporated into his interpretation. K.H Bisri Musthofa's reality in society is rich in cultural practices. The researchers then employed a qualitative method to collect data via library research, followed by content analysis to conclude that K.H. Bisri Mushtofa asserts that he dialogues the Qur'an with local culture to ensure the validity of his interpretation. He utilized Javanese pegon (modified Javanese script) for interpretation and incorporated instances of Javanese traditional practices, including sajen (offering), sowing porridge, and mitoni (the traditional ceremony to celebrate the seventh month of pregnancy). Then, he divided the culture that existed in Javanese society into two types.  First, some cultures should not be preserved, such as offering offerings and sprinkling porridge. This is because it is contrary to Islamic teachings.  Second, culture can be preserved because it is in accordance with Islamic teachings, the basic principle of which is almsgiving, for example mitoni.
Kontroversi dan Kritik: Pandangan Orientalis tentang Autentisitas Al-Qur’an Masruchin, Masruchin; Sultan Dzaki; Rahmat Gani
Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies Vol. 3 No. 2 (2025): Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/alshamela.v3i2.1043

Abstract

Studi ini membahas berbagai kontroversi dan kritik yang dilontarkan oleh orientalis terkait autentisitas al-Qur’an. Penelitian ini menelaah pemikiran sejumlah orientalis klasik dan modern, antara lain Theodor Nöldeke, John Wansbrough, Ignaz Goldziher, Joseph Schacht, dan Patricia Crone, serta mengeksplorasi bagaimana para sarjana Muslim kontemporer di Indonesia merespons dan menanggapi pandangan-pandangan tersebut. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan metode analisis-kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak kritik orientalis terhadap autentisitas al-Qur’an bersandar pada metodologi yang problematis, asumsi yang lemah, serta kurangnya pemahaman mendalam terhadap tradisi intelektual Islam. Sebagai respons, para sarjana Muslim Indonesia telah memberikan kritik dan tanggapan substantif, dengan memanfaatkan perspektif keilmuan Islam dan kajian ilmiah modern untuk membantah atau memperjelas asumsi-asumsi orientalis. Penelitian ini berkontribusi pada pengayaan diskursus akademik tentang studi al-Qur’an, khususnya dalam konteks intelektual kontemporer di Indonesia, dengan menyoroti pentingnya dialog kritis antara pendekatan tradisional Islam dan studi modern.
Penafsiran Imam Asy-Syaukani Tentang Mukāʾan Wa Tasdiyah (Analisis Semantik Toshihiko Izutsu) Syawalia, Zahiyah Tika; Hakiki, Kiki Muhamad; Masruchin, Masruchin
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 8 No 2 (2025): Juni
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v8i2.1249

Abstract

This study examines the meaning of "mukāʾan wa tasdiyah" in the tafsir of Fathul Qadir by Imam Asy-Syaukani using Toshihiko Izutsu's semantic approach. he problem raised in this study is to explain in more depth the meaning of the word "mukāʾan wa tasdiyah" in the context of Asy-Syaukani's interpretation and to look at it from Toshihiko Izutsu's semantic analysis. The word "mukāʾan wa tasdiyah" in QS. Al-Anfal verse 35 describes the custom of polytheists who perform rituals around the Kaaba with whistling and clapping as a form of mockery of worship. The Qur'an clearly criticizes the practice as a worship that has no value of submission to Allah and is only a form of play without spiritual meaning. The method used in this study is a qualitative method (library research) and uses Toshihiko Izutsu's semantic analysis. The results of the study, through Izutsu's semantic analysis, it was found that the meaning of "mukāʾan wa tasdiyah" has shifted from neutral to negative nuances in the Qur'anic value system. The word "mukāʾan" means whistling, while "tasdiyah" means clapping hands, which in this context is used by polytheists to disrupt worship. Imam Asy-Syaukani in his commentary explained that this action not only shows an insult to Islamic worship, but also as a real effort to prevent Muslims from worshiping solemnly. Thus, this study highlights how Imam Asy-Syaukani interprets worship behavior carried out without submission to Allah and is strengthened by Toshihiko Izutsu's semantic analysis to obtain a deeper explanation and meaning.
REINTERPRETATION OF POLYGAMY VERSES IN HERMENEUTIC PERSPECTIVE OF HANS GEORGE GADAMER Masruchin, Masruchin; Abdul Malik Ghozali; Rani Larasati
Jurnal At-Tibyan: Jurnal Ilmu Alqur'an dan Tafsir Vol 8 No 1 (2023): Volume 8 No. 1 June 2023
Publisher : The Department of the Qur'anic Studies, Faculty of Ushuluddin, Adab, and Da'wah, State Institute of Islamic Studies (IAIN) Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/at-tibyan.v8i1.5064

Abstract

Polygamy is an issue discussed and constantly studied, especially by understanding the Surah An-Nisa verse 3, where the textual meaning of polygamy opens up a wide opportunity for acts of violence to be experienced by wives, both psychologically and non-psychological. Therefore, this study aimed to examine the contextual meaning of polygamy by using Hans George Gadamer's hermeneutical approach, which is rich in contextual studies. The author employed a library research method with descriptions and interpretations to produce a consistent and comprehensive understanding. Through Gadamer's hermeneutical approach, the authors found that women in polygamous marriages do not mean that they are weak and deserve harsh treatment. Instead, they need to be protected and raised their dignity so that polygamy only applies to widows and orphans who cannot afford it.
Hijab and Mantilla in the Qur'an and the Bible: Comparative Study Nur Alif, Muhamad; Masruchin, Masruchin; Hendro, Beko
Mimbar Kampus: Jurnal Pendidikan dan Agama Islam Vol. 24 No. 1 (2025): Mimbar Kampus: Jurnal Pendidikan dan Agama Islam
Publisher : Intitut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/mk.v24i1.5457

Abstract

Hijab (veil) was seen by the general public as a product of Islam and Arab culture, but looking back at history, as recorded in the book of bilarama (3000), hijab (veil) was a product of human civilization it can be seen that it is a cultural product. The role of religion in the process of the journey (veil) of hijab is acculturation, establishing different kinds of rules to create perfection in hijab itself. The focus of this study is to analyze the two holy books of god's religion (Al-Qur'an and the Bible) through their teachings and historical aspects to clear up misconceptions about prejudice among the common people, and to get to know the people, that's it and through our commonalities and differences, we become more tolerant. This study is based on the qualitative foundations of library research style, and the research focus is on comparative research. The important point in this text is that hijab is not a product of religion, but the result of culture and religion setting rules. The Bible and Qur'an require secrecy, Muslim women wear hijab during daily activities, but Catholic women are not required by canon law to wear mantillas during religious events or prayers, the mantilla is not compulsory under canonic law, and the hijab is compulsory under Islamic law.
Pesan Poligami dalam Kisah Nabi Ibrahim: Kajian Historis Komparatif Al-Quran dan Alkitab Masruchin, Masruchin; Muttaqin, Ahmad; Rohana, Selti
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 1 (2024): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v14i1.588

Abstract

Poligami merupakan hal yang lumrah di kalangan para nabi pada berbagai masa, salah satu Nabi yang melakukan poligami ialah Nabi Ibrahim, poligami yang dilakukannya terdapat permasalahan yang kontroversial dalam ranah agama dan budaya. Adapun fokus pada penelitian ini terdapat pada dua kitab suci yaitu Al-Qur’an dan Alkitab, dimana keduanya memiliki pandangan yang berbeda dalam menceritakan poligami Nabi Ibrahim lalu alasan apa yang menyebabkan Nabi Ibrahim berpoligami. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis library research yang bertitik tolak memahami nilai komparatif historis yang mendasari poligami Nabi Ibrahim dalam pemaparan lintas agama. Berdasarkan hasil penelitian dari pesan poligami Nabi Ibrahim dalam Al-Qur’an dan Alkitab dapat disimpulkan bahwa poligami boleh dilakukan jika dalam keadaan darurat dengan mengikuti peraturan yang berlaku, Poligami sah karena seorang istri tidak dapat melahirkan anak sendirian, tetapi poligami yang dilakukan harus dengan izin seorang istri atau istri yang meminta suaminya untuk berpoligami. Dengan demikian Al-Qur’an dan Alkitab mengajarkan bahwa perkawinan yang ideal ialah perkawinan monogami, sebab poligami bukanlah suatu keharusan dan tidak boleh dilakukan sesuka hati tetapi dapat menjadi pilihan bagi mereka yang membutuhkannya, karena poligami menuntut pengabdian dan tanggung jawab yang utuh jika tidak akan menimbulkan konflik ketidakharmonisan didalam rumah tangganya.