Usamah Hanafie
Program Studi Agribisnis/Jurusan SEP, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat

Published : 54 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Tingkat Kesejahteraan Keluarga Petani Karet di Desa 7 Wonorejo, Kecamatan Kusan Hulu, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan Wahyu Suprianoor; Usamah Hanafie; Masyhudah Rosni
Frontier Agribisnis Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v5i1.6020

Abstract

Keluarga sejahtera adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan material yang layak, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki hubungan yang selaras, serasi  dan seimbang antara anggota dan antar keluarga dengan masyarakat dan lingkungan.  Indikator yang digunakan untuk mengukur kesejahteraan rumah tangga disesuaikan oleh informasi tentang kependudukan, kesehatan dan gizi, pendidikan, ketenagakerjaan, pola konsumsi atau pengeluaran rumah tangga, perumahan dan lingkungan dan sosial lainnya. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahuitingkat kesejahteraan keluarga petani karet di Desa 7 Wonorejo Kecamatan Kusan Hulu Kabupaten Tanah Bumbu Provinsi Kalimantan Selatan berdasarkan pengukuran dari BKKBN dan BPS. Pengambilan sampel dilakukan secara sengaja sebanyak 43 orang. Analisis data yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif dengan tabel silang dan analisis persentase untuk menjelaskan tingkat kesejahteraan keluarga petani di Desa 7 Wonorejo. Hasil dari penelitian ini berdasarkan indikator BKKBN tingkat kesejahteraan petani karet di Desa 7 Wonorejo berada pada kesejahteraan keluarga tahap III sebanyak 36 orang (83.72%) dan 7 orang (26.28%) berada pada tahap kesejahteraan III+. Berdasarkan  indikator BPS tingkat kesejahteraan petani karet di Desa 7 Wonorejo termasuk kedalam kategori kesejahteraan kriteria tinggi dengan jumlah petani 40 orang dengan persentase 93.02% dan pada kriteria sedang berjumlah 3 orang petani dengan presentase 6.98%
INDEKS KEPUASAN MASYARAKAT TERHADAP ASPEK KUALITAS PELAYANAN PADA PROGRAM PEMBERDAYAAN BIDANG EKONOMI (STUDI KASUS PT JORONG BARUTAMA GRESTON KECAMATAN JORONG KABUPATEN TANAH LAUT) Syahrudi Hermawan; Usamah Hanafie; Abdurrahman Abdurrahman
Frontier Agribisnis Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v2i2.638

Abstract

Tujuan penelitian ini: Untuk mengetahui Indeks Kepuasan Masyarakat yang mencakup Analisis kesenjangan/kesesuaian, dan analisis kuadran terhadap aspek kualitas pelayanan program pemberdayaan ekonomi CSR PT Jorong Barutama Greston. Serta untuk mengetahui kebutuhan/harapan masyarakat terhadap program pemberdayaan ekonomi CSR PT Jorong Barutama Greston. Penelitian dilaksankan di Kecamatan Jorong Kabupaten Tanah Laut. Dimulai bulan Mei sampai Desember 2017. Menggunakan metode survei dengan populasinya masyarakat penerima bantuan CSR yaitu program pengolahan ikan, pupuk bokashi, budidaya perikanan, perkebunan pisang,dan peternakan ayam yang diambil masing-masing bidang diambil dengan teknik penarikan contoh acak berkelompok yaitu mengambil secara acak proporsional berdasarkan kelompok pada setiap program, sehingga jumlah keseluruhan masyarakat yang menjadi sampel adalah 30 orang. Hasil penelitian menunjukan masyarakat menilai tingkat kepuasan terhadap kinerja 24 atribut, skor rata-ratanya sebesar 3,14 (Kategori cukup puas: 2,60-3,39). Sedangkan skor rata-rata tingkat kepentingannya, sebesar 4,20 (Kategori sangat penting: 4,20-5,00). Serta skor indeks kepuasan masyarakat (IKM) adalah 0,63 dengan kriteria “cukup puas” (kriteria cukup puas: 0,51-0,65). Harapan masyarakat pada program ini adalah pada program pengolahan hasil perikanan yaitu masyarakat berharap dibantu alat simpan Frezer yang cukup besar agar mampu menampung ikan lebih banyak saat musim ikan. Pada peternakan ayam, kesamaan perlakuan mendapatkan bantuan seperti peralatan sarana produksi kepada seluruh anggota kelompok. Budidaya perikanan, manfaat berupa meningkatnya pendapatan petani dirasa masih belum sesuai harapan, karena terkendala pemasaran hasil perikanan terutama di Desa Karang Rejo. Masyarakat berharap perusahaan membantu pemasaran maupun menyerap sendiri hasil perikanan. Perkebunan pisang, manfaat berupa meningkatnya pendapatan petani dirasa masih belum sesuai harapan karena masih minimnya pendapatan dari perkebuanan pisang. Pisang baru menghasilkan apabila usianya telah 1 tahun lebih. Untuk mengatasi kendala itu masyarakat menyarankan tumpang sari. Pembuatan pupuk bokashi, masyarakat ingin bisa mengetahui anggaran pembinaan. Dengan diketahuinya anggaran, masyarakat dapat melakukan perencanaan dan pengembangan yang lebih baik dangan mempertimbangkan alokasi anggaran.Kata kunci: indeks kepuasan masyarakat, CSR pemberdayaan, analisis tingkat kinerja kepentingan, analisis tingkat kesesuaian, analisis kuadran.
Peran Kredit Usaha Rakyat (KUR) terhadap Pendapatan Petani Padi di Kecamatan Aluh-Aluh Kabupaten Banjar Siti Hafsah; Usamah Hanafie; Kamiliah Wilda
Frontier Agribisnis Vol 3, No 4 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v3i4.2118

Abstract

Abstrak. Pengembangan sektor pertanian tentu tidaklah mudah, berbagai hambatan dan rintangan harus dihadapi, diantaranya yaitu kurangnya permodalan, kurangnya kemampuan manajerial dan terbatasnya pemasaran. Permodalan merupakan permasalahan paling mendasar yang dihadapi oleh petani, untuk melakukan usahataninya untuk membuat kualitas dan kuantitas hasil lebih maksimal. Dalam mengatasi hal ini, pemerintah menyediakan fasilitas program Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk permodalan sektor pertanian. Penelitian bertujuan untuk menganalisis sistem peminjaman dan pengembalian KUR (Kredit Usaha Rakyat) oleh petani dan menganalisis peran KUR (Kredit Usaha Rakyat) terhadap pendapatan petani padi di Kecamatan Aluh-aluh. Sumber data terbagi menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder. Metode penarikan contoh dilakukan yaitu dengan dua tahap (Two stages). Tahap pertama yaitu menentukan wilayah penelitian dengan metode penarikan contoh secara sengaja (purposive sampling) yakni memilih Desa Tanipah. Selanjutnya penentuan sampel petani dengan metode acak sederhana (simple random sampling) dengan keseluruhan jumlah petani yang menjadi sampel adalah sebanyak 60 orang. Bagi yang mengikuti program KUR terlebih dahulu melakukan pengajuan peminjaman dengan melengkapi administrasi. Pencairan dana dilakukan selama dua tahap. Pengembalian KUR (Kredit Usaha Rakyat) pertanian disesuaikan antara kesepakatan pihak bank dengan penerima KUR dengan memperhatikan keadaan si penerima KUR. Pengembalian secara sekaligus. Biaya total petani padi penerima KUR sebesar Rp 20.159.138,9/usahatani atau Rp 11.621.332,70/ha, sedangkan non penerima KUR sebesar Rp 17.603.899,90/usahatani atau Rp 10.931.826/ha. Penerimaan petani padi penerima KUR sebesar Rp 24.027.000/usahatani atau Rp 13.851.076,1/ha, sedangkan non penerima KUR sebesar Rp 17.470.000/usahatani atau Rp 10.848.685,57/ha. Pendapatan petani padi penerima KUR sebesar Rp 12.141.522,8/usahatani atau Rp 6.999.340,55/ha, sedangkan non penerima KUR sebesar Rp 8.679.403,02/usahatani atau Rp 5.389.817,62/ha. Serta rata-rata pendapatan petani penerima KUR lebih kecil atau sama dengan petani non penerima KUR, dengan kata lain bahwa Kredit Usaha Rakyat (KUR) tidak berperan terhadap pendapatan petani padi karena petani tidak sepenuhnya menggunakan KUR untuk usahatani.Kata kunci: petani padi, pendapatan, peran KUR 
Tingkat Partisipasi Anggota Kelompok Tani dalam Upaya Program Peningkatan Produksi Padi, Jagung dan Kedelai di Kecamatan Mantewe Kabupaten Tanah Bumbu Rudi Handoko; Taufik Hidayat; Usamah Hanafie
Frontier Agribisnis Vol 3, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v3i3.1310

Abstract

Abstrak. Partisipasi merupakan keikutsertaan seseorang didalam suatu kelompok sosial untuk mengambil bagian dari kegiatan masyarakat, diluar kegiatan atau profesinya sendiri. Kegiatani upaya peningkatan produksi padi, jagungi dan kedelai dalam pencapaian swasembada pangan berkelanjutan padi, jagungandan kedelai terdiri dari pengembangan jaringan irigasi dan optimalisasi lahan pertanian pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat partisipasi anggota kelompok tani dalam  programerupayaionpeningkatani produksih padi, jagunga dan kedelai, untuk mengetahui motivasi anggota kelompok tani dalami mengikuti programe upaya khususi peningkatan produksi padi, jagung dan kedelai. Untuk mengetahui kendala yang dialami oleh anggota kelompok tani dalamii mengikuti pelaksanaan programeerupaya khususi peningkatan produksi, padi, jagung dan kedelai di Kecamatan Mantewe Kabupaten Tanah Bumbu. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dengan mengkategorikan (tinggi, sedang, rendah) untuk mengetahui tingkat partisipasipankelompok tani dalam upaya programerepeningkatan produksi padi, jagung dan kedelai di Kecamatan Mantewe Kabupaten Tanah Bumbu. Untuk mengetahui tujuan kedua dan ketiga untuk mengetahui motivasi dan kendala dilakukan wawancara secara terbuka kepada responden dengan mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan tujuan penelitian secara deskriptif. Hasil penelitian diperoleh bahwa tingkat partisipasi anggota kelompok tani dalam  programerupaya  peningkatan produksi padi, jagung dan kedelai di Kecamatan Mantewe Kabupaten Tanah Bumbu tergolong dalam kategori tinggi (90,23%). Dari hasil wawancara yang telah dilakukan bahwa ada beberapa motivasi anggota kelompok tani dalam berpartisipasi yaitu adanya dorongan dengan keinginan untuk meningkatkan hasil produksi lebih baik dan terdapat beberapa kendala yang disampaikan oleh responden diantaranya tidak adanya lahan untuk bercocok tanam dan adanya keterlambatan bantuan yang disalurkan kepada petani seperti benih, pupuk dan alsintan.Kata kunci: tingkat partisipasi, program pajale, motivasi
Sistem Tataniaga Karet Rakyat di Desa Sebamban Baru Kecamatan Kintap Kabupaten Tanah Laut I Putu Pajeng Sutra Negara; Hairi Firmansyah; Usamah Hanafie
Frontier Agribisnis Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v5i2.5973

Abstract

Sektor perkebunan adalah salah satu sektor perkebunan terbesar di Indonesia. Perkebunan karet merupakan perkebunan yang dijadikan sebagai sumber pendapatan utama bagi masyarakat. Tujuan dari penelitian ini ialah: (1) untuk mengetahui tingkat kesejahteraan petani karet yang terdapat di desa Sebamban Baru; (2) untuk mengidentifikasi sistem tataniaga yang terdapat di Desa Sebamban Baru; (3) untuk menghitung margin, farmer share, tingkat profitabilitas terhadap biaya serta tingkat efisiensi tataniaga; (4) untuk mengetahui masalah yang dihadapi oleh lembaga-lembaga tataniaga karet. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sebamban Baru Kecamatan Kintap Kabupaten Tanah Laut. Metode yang digunakan adalah Metode stratified random sampling dan metode snowball sampling. Berdasarkan hasil penelitian terdapat 2 keluarga petani prasejahtera, KS l terdapat 6 keluarga petani, KS II terdapat 3 keluarga petani, KS lll terdapat 10 keluarga petani dan KS III+ terdapat 3 keluarga petani. Diketahui terdapat dua sistem tataniaga, Saluran I: petani-pengumpul besar-pabrik dan Saluran II: petani-pengumpul kecil-pengumpul besar-pabrik. Pada Saluran I harga beli dipetani Rp 10.400/kg, harga jual kepabrik Rp 11.600/kg, margin sebesar Rp 1.200/kg, biaya pemasaran Rp 820/kg, keuntungan Rp 380/kg, dan farmer share 92,2%. Saluran II harga beli di petani Rp 10.400/kg, harga beli di pengumpul kecil Rp 10.700/kg, harga jual ke pabrik Rp 11.700/kg, total margin Rp 1.300/kg, total biaya pemasaran Rp 770/kg, keuntungan pengumpul kecil Rp 200/kg dan keuntungan pengumpul besar Rp 330/kg dan farmer share 91,4%. Tingkat profitabilitas terhadap biaya dalam Saluran l yakni 46%. Saluran II pada pengumpul kecil sebesar 200% dan pengumpul besar 49,2%. Efisiensi pemasaran dalam Saluran I yaitu 7,06% dan Saluran II yaitu 6,58%, jadi saluran yang lebih efisien adalah Saluran II. Kendala yang dihadapi yaitu kualitas karet masih kurang baik atau tidak sesuai standar pabrik dan resiko penyusutan berat karet tinggi.
Analisis Kepuasan Konsumen terhadap Produk Mi Goreng Merek Mie Sedaap (Studi Kasus Mahasiswa S1 Universitas Lambung Mangkurat) Nur Afia; Luki Anjardiani; Usamah Hanafie
Frontier Agribisnis Vol 6, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v6i3.7811

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku konsumen dalam proses keputusan pembelian dan tingkat kepuasan konsumen terhadap produk mi goreng merek Mie Sedaap. Penelitian ini dilakukan di Universitas Lambung Mangkurat pada bulan Februari sampai dengan bulan Maret 2022. Metode penarikan contoh yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode convenience sampling. Adapun alat analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif yang digunakan untuk menganalisis perilaku konsumen dalam proses keputusan pembelian dan analisis IPA (Importance Performance Analysis) serta CSI (Customer Satisfaction Index) yang digunakan untuk menganalisis tingkat kepuasan konsumen mi goreng merek Mie Sedaap. Hasil penelitian tentang perilaku konsumen menunjukkan bagaimana sikap konsumen dalam 5 (lima) tahap keputusan pembelian, yaitu tahap pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian, dan perilaku pasca pembelian. Sedangkan untuk hasil penelitian tentang kepuasan konsumen menunjukkan bahwa terdapat 6 (enam) atribut di kuadran B dan 7 (tujuh) atribut di kuadran C serta nilai Customer Satisfaction Index adalah sebesar 84% yang termasuk ke dalam kategori “sangat puas”.
Dampak Keberadaan Pabrik Karet PTNB (PT Nusantara Batulicin) terhadap Sosial Ekonomi Masyarakat di Desa Karang Bintang Kecamatan Karang Bintang Kabupaten Tanah Bumbu Provinsi Kalimantan Selatan Nova Vilayati; Usamah Hanafie; Muhammad Fauzi
Frontier Agribisnis Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v5i1.6031

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat di Desa Karang Bintang Kecamatan Karang Bintang Kabupaten Tanah Bumbu provinsi Kalimantan Selatan, sebelum dan sesudah adanya pabrik pengolahan karet PT Nusantara Batulicin . Dalam penelitian ini, data yang dikumpulkan yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari narasumber yang dipilih secara sengaja (purposive sampling), yakni masyarakat Desa Karang Bintang, sedangkan data sekunder diperoleh dari berbagai sumber, baik cetak ataupun elektronik. Hasil penelitian menunjukan bahwa masuknya pabrik pengolahan karet PT Nusantara Batulicin memberikan perubahan terhadap kehidupan masyarakat, baik secara sosial maupun secara ekonomi. Perubahan yang terjadi pada kondisi sosial di Desa ini setelah masuknya PT Nusantara Batulicin yaitu, tingkat pendidikan masyarakat semakin meningkat dari sebelumnya, sarana dan prasarana yang tersedia di Desa ini lebih memadai, baik sarana dan prasarana Desa (jalan, pembangunan pada sekolah, pasar dan juga tempat ibadah). Pada Bidang kesehatan juga terjadi perubahan atau kemajuan, yang awalnya di Desa Karang Bintang ini belum ada puskesmas dan puskesdes,sekarang sudah ada, bahkan dilengkapi dengan ruang UGD dan juga tersedianya ambulance yang tentunya sangat membantu masyarakat. Perubahan juga terjadi pada lembaga sosial, yang awalnya belum memiliki tempat atau ruangan khusus untuk kegiatan ibu – ibu IKK, sekarang sudah ada, dan juga tentunya dengan adanya PT Nusantara Batulicin di Desa ini dapat memberikan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat. Sedangkan pada kondisi ekonomi perubahan yang terjadi yaitu, pendapatan yang diperoleh masyarakat semakin meningkat, sehingga kebutuhan mereka dapat terpenuhi dan juga semakin banyak masyarakat sekitar yang memiliki usaha mikro atau usaha kecil.
Tingkat Kepuasan Petani Terhadap Kinerja Pelayanan Penyuluh Pertanian di Desa Binjai Pirua Kecamatan Labuan Amas Utara Kabupaten Hulu Sungai Tengah Muhammad Rifani; Usamah Hanafie; Nina Budiwati
Frontier Agribisnis Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v3i1.672

Abstract

Tersedianya penyuluh di sebuah pedesaan tidak akan menjamin mendapatkan yang dihasilkan baik sama dikarenakan bergantung kepada penyuluh bisa menyampaikan hal yang terbaik kepada petani dengan kinerja yang dihasilkan. Kepuasan adalah salah satu kesenangan yang keluar sesudah melakukan perbandingan dengan pelayanan dan dipikirkan terhadap hasil diimpikan. penelitian ini dilakukan untuk menganalisis tingkat kepuasan petani dikinerja atribut pelayanan petugas penyuluh pertanian di Desa Binjai Pirua Kecamatan Labuan Amas Utara, serta untuk anjuran usaha yang baik untuk meningkatkan hasil dari pelayanan pelaksana penyuluh pertanian yang berusaha memberi yang terbaik kepada petani di masa yang akan datang. Penelitian dilaksanakan di Desa Binjai Pirua Kecamatan Labuan Amas Utara Kabupaten HST. Sampel petani diambil dipenelitian ini sebanyak 30 responden dan urutan analisis dijalankan dengan tahap metode Performance Analysis and Importance.Hasil penelitian menunjukkan tingkat kepuasan petani rendah pada penyuluh terhadap atribut, antara lain yang pertama penyuluh melakuakan kerjasama antara kelompok tani dan pihak lain,yang kedua penyuluh melakukan pembalajaran melakukan bimbingan juga penerapannya dan berbagai keterampilan usahatani ,yang ketiga para penyu;uh mendapat pertanyaan harus secepatnya mampu menjawab hingga jelas pertanyaan petani,yang keempat penyuluh menyiapkan makanan ,minuman dan bahan bacaan selama melakukan penyuluhan, yang kelima skil penyuluh didalam meningkatkan produktivitas, kuantitas dan kualitas komoditi usahatani, yang keenam kelengkapan dan kesiapan alat peraga penyuluhan.Rekomendasi dan diberikan untuk peningkatan kinerja penyuluh dimasa yang akan datang penyuluh perlu meningkatkan hubungan kerjasama dengan pihak lain, mempelajarkan bermacam-macam keterampilan usahatani dan melakukan pembimbingan, dan penyuluh juga bisa memberikan pelatihan atau kursus teknologi terhadap petani dengan lebih intensif dan penyuluh harus tetap mempertahankan atribut-atribut yang terdapat dikuadran dua, karena atribut ini dianggap penting dan kinerjanya sudah baik untuk kuadran tiga, penyuluh tidak perlu terlalu memperhatikan atribut ini, karena tingkat kepentingannya rendah, serta kinerjanya juga rendah sedangkan atribut yang ada dikuadran empat, penyuluh sebaiknya mengurangi perhatian terhadap atribut-atribut ini, untuk lebih memprioritaskan pada atribut yang ada pada kuadran satu ataupun dua. Kata kunci: kepuasan, kinerja, penyuluh, pelayanan.
Analisis Kepuasan Petani terhadap Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) di Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar Heldayanti Heldayanti; Usamah Hanafie; Masyhudah Rosni
Frontier Agribisnis Vol 6, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v6i3.7791

Abstract

Petani tidak megikuti asuransi pertanian disebabkan karena petani merasa berhasil atau tidak butuh AUTP, sikap negatif dan ketidakpuasan petani terhadap atribut AUTP. Hal ini yang membuat petani tidak ikut kembali asuransi pertanian pada tahun selanjutnya. Penelitian ini bertujuan menganalisis kepuasan petani terhadap atribut AUTP di Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan Customer Satisfaction Index atau indek kepuasan konsumen. Berdasarkan hasil penelitian, indeks kepuasan petani terhadap atribut Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) di Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar sebesar 67,11%, termasuk kategori puas. Didukung dengan penilaian terhadap tingkat kepentingan dan kinerja atribut AUTP yang dikelompokkan yaitu produk, harga, tempat, promosi, proses, lingkungan fisik dan stakeholder. Skor rata-rata nilai tingkat kepentingan atribut AUTP sebesar 4,26 yang termasuk kategori sangat penting, sedangkan tingkat kinerja atribut AUTP adalah 3,34 yang termasuk kategori baik.
Analisis Usaha Pengolahan Produk Makanan Kerupuk Basah (Studi Kasus Usaha Pengolahan Kerupuk Basah Asli Sukamara Merk Mahdalina di Kelurahan padang, Kecamatan Sukamara, Kabupaten Sukamara, Provinsi Kalimantan Tengah) Nor Haidah; Usamah Hanafie; Umi Salawati
Frontier Agribisnis Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v5i2.6010

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keadaan usaha pengolahan kerupuk basah, menganalisis biaya produksi, penerimaan dan keuntungan pada usaha kerupuk basah, menganalisis titik impas (break even point) dan mengetahui permasalahan yang ada pada usaha kerupuk basah asli Sukamara Mahdalina. Penelitian ini dilakukan pada 20 September sampai 20 Oktober 2020. Data yang dikumpulkan didapat melalui pengisian kuisioner, wawancara dan berupa studi kasus dengan pemilik usaha. Hasil penelitian menunjukkan usaha kerupuk basah Ibu Mahdalina dilakukan di Jalan Cakra Adiwijaya RT 8 RW 3 Kelurahan Padang, Kecamatan Sukamara, Kabupaten Sukamara, Provinsi Kalimantan Tengah. Proses dimulai dari tahap awal yaitu menyiapkan bahan selanjutnya membersihkan ikan gabus, menghaluskan ikan gabus dan bumbu-bumbu mencampurkan semua bahan, pembentukkan, perebusan, pewarnaan dan pengemasan. Besar biaya tetap adalah sebesar Rp. 125.098/bulan dan biaya variabel sebesar Rp. 6.738.400. Penerimaan yang diperoleh dari usaha kerupuk basah Ibu Mahdalina adalah sebesar Rp. 10.800.000/bulan dan keuntungan yang diterima oleh usaha kerupuk basah ibu Mahdalina adalah sebesar Rp 3.936.502. Dari penelitian diperoleh nilai Titik Impas (Break Even Point) dalam unit adalah sebesar 33,3 buntang dan dalam rupiah sebesar Rp. 329.205,26