Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Pemanfaatan Magic School untuk Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Sekolah Dasar dalam Merancang Modul Ajar Kurikulum Merdeka berbasis Pendekatan Deep Learning Radeni Sukma Indra Dewi; Amaliya Islami Nurlaili; Kholidatul Khasanah; Fahrany Wahyu Andini; Navik Khusniah; Kaisra Alfikri Islami; Intan Sari Rufiana; Siti Faizah; Shirly Rizki Kusumaningrum; Megania Herawati
Jurnal ABDINUS : Jurnal Pengabdian Nusantara Vol 10 No 1 (2026): Volume 10 Nomor 1 Tahun 2026
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29407/ja.v10i1.27264

Abstract

Kurikulum Merdeka menuntut guru untuk mampu merancang pembelajaran yang inovatif, adaptif, dan berorientasi pada pengembangan kompetensi siswa abad ke-21. Namun, hasil analisis kebutuhan di KKG Gugus IV Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang menunjukkan bahwa sebagian besar guru masih mengalami kesulitan dalam menyusun Modul Ajar Kurikulum Merdeka berbasis pendekatan Deep Learning serta belum terbiasa memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) Magic School. Sebuah program pelatihan diselenggarakan untuk membantu para instruktur menjadi lebih mahir dalam menggunakan AI Magic School untuk menyusun rencana pembelajaran sebagai respons terhadap permasalahan ini. Langkah-langkah yang terlibat dalam penerapan program ini meliputi perencanaan, instruksi, praktik pengembangan modul, dan penilaian. Hasil menunjukkan bahwa pengetahuan dan kompetensi pendidik dalam menyusun rencana pembelajaran yang sesuai dengan prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka meningkat, dengan luaran berupa draft modul ajar dan dokumentasi kegiatan. Selain itu, pelatihan ini juga berdampak positif pada perubahan pola pikir guru yang semakin terbuka terhadap pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran. 
Curriculum learning organization (study at Madrasah Ibtidaiyah) Zulia Nurul Faizah; Oktaviani Adhi Suciptaningsih; Siti Faizah
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.75807

Abstract

The role of the curriculum for educational units is absolute. Therefore, curriculum development must be adjusted to the madrasah environment's identity and potential, including in organizing learning. The organization of learning is closely related to the learning process. This can also be one of the community's attractions to the madrasah. This study aims to examine the components of organizing intracurricular, co-curricular, and extracurricular learning at MI Miftahul Ulum Bukur. Researchers used interviews and documentation. The research findings state that intracurricular learning on national content is arranged and carried out according to the guidelines of the Ministry of Education, Culture, Research and Technology and the Decree of the Minister of Religion but also maintains the potential of teachers such as maintaining science and social studies subjects that apply in each semester for all levels of grades III-VI. The local content that is applied shows the madrasah's identity, such as Mabadi, 'Alala, and BTQ. Co-curricular learning is carried out through P5RA activities, and the selection of activities is based on the needs and availability of surrounding resources. Extracurricular learning as an effort of madrasah to achieve in non-academic fields offers scouting activities, drumband, qira'at, banjari, speech (English and Indonesian), calligraphy, and English. This research can be used as a reference for other madrasahs to observe, imitate, and modify the organization according to their educational units.   Abstrak Peran kurikulum bagi satuan pendidikan adalah hal yang mutlak. Oleh karenanya, pengembangan kurikulum harus disesuaikan dengan identitas dan potensi lingkungan madrasah termasuk dalam mengorganisasikan pembelajaran. Pengorganisasian pembelajaran memiliki keterkaitan yang erat dengan proses pembelajaran. Pula hal ini bisa menjadi salah satu daya tarik masyarakat terhadap madrasah. Penelitian ini bertujuan mengkaji komponen pengorganisasian pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler MI Miftahul Ulum Bukur. Peneliti menggunakan wawancara dan dokumentasi. Temuan penelitian menyatakan bahwa pembelajaran intrakurikuler pada muatan nasional disusun dan dilakukan sesuai pedoman Kemdikbudristek dan Keputusan Menteri Agama namun juga tetap mempertahankan potensi guru seperti mempertahankan mata pelajaran IPA dan IPS berlaku di tiap semester untuk semua jenjang kelas III-VI. Sedangkan muatan lokal yang terapkan benar-benar menunjukkan identitas madrasah seperti Mabadi, ‘Alala, dan BTQ. Pembelajaran kokurikuler dilaksanakan melalui kegiatan P5RA dan pemilihan kegiatannya berdasarkan kebutuhan dan ketersediaan sumber daya sekitar. Pembelajaran ekstrakurikuler sebagai upaya madrasah untuk berprestasi dibidang non akademik menawarkan kegiatan pramuka, drumband, qira’at, banjari, pidato (bahasa Inggris dan bahasa Indonesia), kaligrafi, serta bahasa Inggris. Penelitian ini bisa dijadikan referensi bagi madrasah lain untuk mengamati, meniru, dan memodifikasi pengorganisasian tersebut sesuai satuan pendidikannya. Kata Kunci: ekstrakurikuler; intrakurikuler; kokurikuler; kurikulum
The Role of Teachers in Building Access to Mathematics Learning for Deaf Students in Public Elementary Schools Syifa Zia Muharni; Siti Faizah; Riska Pristiani
SITTAH: Journal of Primary Education Vol. 7 No. 1 (2026): SITTAH: Journal of Primary Education
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/sittah.v7i1.8500

Abstract

Mathematics learning in inclusive elementary schools still faces challenges in providing deaf students with meaningful access to learning, primarily due to communication barriers, the complexity of abstract mathematical language, and limited learning resources. Therefore, classroom teachers play a strategic role in ensuring access to learning by implementing strategies, communicating, and using media appropriate to deaf students' learning needs. This study aims to examine the role of classroom teachers in building access to meaningful mathematics learning for deaf students in inclusive public elementary schools. This qualitative case study was conducted at SDN Junrejo 01. Data were collected through interviews with one second-grade teacher, two second-grade deaf students (P1 and P2), and the school's inclusion coordinator. The study found that teachers build access to mathematics learning by identifying students' initial abilities, independence, and individual characteristics; using pictures, concrete objects, simple language, verbatim explanations, repetitive instructions, and tailored communication strategies; and adapting materials, assignments, and assessments to gradually build foundational concepts. These findings suggest that access to mathematics for deaf students requires classroom strategies, parental support, and school support systems. This study contributes to inclusive mathematics education by highlighting the importance of integrated support from teachers, families, media, and schools. In practice, inclusive elementary schools need to strengthen coordination among class teachers, inclusion coordinators, parents, assistant teachers, and resource room services to ensure that concrete media, communication adjustments, and learning assistance are consistently provided.
Transformasi Peran Guru dan Kemandirian Belajar Siswa Sekolah Dasar melalui Buklet Digital Interaktif dalam Pembelajaran IPAS: Studi Kasus di Kelas IV Muhammad Farid Yuansyah Nur Abadi; Siti Faizah; Riska Pristiani
Wahana Matematika dan Sains: Jurnal Matematika, Sains, dan Pembelajarannya Vol. 20 No. 2 (2026): Agustus 2026 (In Press)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/wms.v20i2.114093

Abstract

Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) dalam Kurikulum Merdeka memerlukan sumber belajar yang mendukung akses siswa terhadap materi, fasilitasi guru, dan keterlibatan siswa selama pembelajaran. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penggunaan buklet digital interaktif pada materi budidaya sayuran hidroponik dengan fokus pada pola fasilitasi guru, indikasi perilaku belajar mandiri, dan interaksi antarsiswa. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus deskriptif. Partisipan yang diobservasi mencakup seluruh 11 siswa kelas IV SDN 1 Ariyojeding, sedangkan informan wawancara terdiri atas seorang guru dan empat siswa yang dipilih secara purposif. Data dikumpulkan melalui observasi nonpartisipatif selama tiga pertemuan dengan durasi keseluruhan 180 menit, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi. Analisis dilakukan melalui kondensasi data, pengodean, pengelompokan kategori, pembentukan tema, serta penarikan dan verifikasi simpulan. Kredibilitas data dijaga melalui triangulasi teknik dan sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memberikan arahan awal, kemudian lebih banyak memantau dan membantu kelompok sesuai kebutuhan. Sebagian siswa menggunakan kembali video ketika mengalami kesulitan, sedangkan kelompok yang diamati mendiskusikan pilihan jawaban selama kuis Wordwall. Perilaku tersebut menunjukkan indikasi perilaku belajar mandiri dan interaksi antarsiswa dalam situasi tertentu, bukan terbentuknya regulasi diri secara utuh. Temuan penelitian bersifat kontekstual dan tidak menunjukkan hubungan kausal antara penggunaan buklet dan perubahan perilaku siswa. Kata kunci: buklet digital interaktif, kemandirian belajar, Kurikulum Merdeka, pembelajaran IPAS, sekolah dasar