Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

ANALISIS KAIDAH TAFSIR AL-AM, AL-MUSYTARAK, DAN AL KHAS DALAM MEMAHAMI AL QUR’AN Auliya Yulanda; Fadlianor Rahman; Haikal Habibi; Akhmad Dasuki
Journal of Golden Generation Multidisciplinary Vol. 2 No. 3 (2026): In Progress 2026: Journal of Golden Generation Multidisciplinary
Publisher : PT. Lembaga Penerbit Penelitian Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jggm.v2i3.728

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kaidah tafsir Al-‘Ām, Al-Khāṣ, dan Al-Musytarak dalam Al-Qur’an. Ketiga kaidah tersebut merupakan bagian penting dalam ilmu tafsir yang berperan dalam memahami makna lafaz Al-Qur’an secara tepat. Al-‘Ām menunjukkan makna yang bersifat umum, Al-Khāṣ menunjukkan makna yang bersifat khusus, sedangkan Al-Musytarak merupakan lafaz yang memiliki lebih dari satu makna sehingga memerlukan konteks dalam penafsirannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, yaitu dengan mengkaji berbagai literatur yang berkaitan dengan kaidah tafsir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman terhadap kaidah Al-‘Ām, Al-Khāṣ, dan Al-Musytarak sangat penting untuk menghindari kesalahan dalam penafsiran Al-Qur’an. Selain itu, penerapan kaidah-kaidah tersebut membantu dalam menentukan makna yang sesuai dengan konteks ayat. 
KRITIK ULAMA TERHADAP TAFSIR SUFI DAN UPAYA REKONSTRUKSI BATAS-BATAS PENAFSIRANNYA Muhammad Amzad; Rasyid Hidayatullah; Muhammad Iqbal Jamalul Lael; Akhmad Dasuki
AT-TAKLIM: Jurnal Pendidikan Multidisiplin Vol. 3 No. 5 (2026): At-Taklim: Jurnal Pendidikan Multidisiplin (Mei 2026)
Publisher : PT. Hasba Edukasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71282/at-taklim.v3i5.1918

Abstract

This study aims to reconstruct a systematic and operational framework of dhawabith al-tafsir al-isyari (methodological boundaries of Sufi interpretation) by synthesizing scholarly debates surrounding the legitimacy of Sufi Qur'anic exegesis. The research employs a qualitative approach through library research, utilizing primary sources comprising classical Ulumul Qur'an texts, namely Al-Itqan fi 'Ulum al-Qur'an by al-Suyuti, Mabahis fi 'Ulum al-Qur'an by Manna' al-Qattan, and Manahil al-'Irfan fi 'Ulum al-Qur'an by al-Zarqani, supplemented by relevant secondary sources from contemporary academic journals. Data were analyzed using descriptive-analytical methods through comparative examination of scholarly views across different periods. The findings reveal that Sufi exegesis (tafsir isyari) developed in two main variants (nazari (speculative) and isyari (moderate)) and has been subject to a long-standing scholarly debate that is fundamentally methodological rather than substantive in nature. Both rejecting and accepting scholars share three common grounds: the primacy of the literal (zahir) meaning, the rejection of Bathiniyah interpretation, and the importance of the exegete's personal qualification. Building on this convergence, this study reconstructs six operational dhawabith: non-negation of the literal meaning, support from valid scriptural evidence, non-contradiction with Islamic law and reason, prohibition of exclusivist claims over inner meanings, semantic-thematic coherence with the Qur'anic text, and the exegete's scholarly and spiritual integrity. The novelty of this research lies in its shift from descriptive-polemical discourse to a normative-constructive evaluative framework, providing Islamic higher education institutions with a practical instrument for critically and proportionally assessing Sufi exegetical works.
MAZHAB TAFSIR FALSAFI: KELAHIRAN, PERKEMBANGAN, SUMBER, METODE, KARAKTERISTIK, TOKOH, DAN KARYANYA Fitri A; Muhammad Hafizh; Akhmad Dasuki
Journal of Golden Generation Multidisciplinary Vol. 2 No. 3 (2026): In Progress 2026: Journal of Golden Generation Multidisciplinary
Publisher : PT. Lembaga Penerbit Penelitian Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jggm.v2i3.730

Abstract

Mazhab tafsir falsafi adalah corak penafsiran Al-Qur'an yang memadukan filsafat dan rasionalitas. Ia lahir dan berkembang seiring menguatnya tradisi rasional dalam peradaban Islam, terutama setelah penerjemahan karya-karya Yunani. Pertanyaan utama dalam kajian ini meliputi: bagaimana kelahiran dan perkembangannya, sumber serta metode yang digunakan, serta karakteristik dan tokoh pentingnya. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan kualitatif deskriptif dengan menganalisis literatur primer dan sekunder. Hasilnya menunjukkan bahwa tafsir falsafi bersumber pada Al-Qur'an, hadis, serta argumentasi logis dan metafisis. Metode yang dipakai adalah filosofis-analitis yang menekankan harmonisasi wahyu dan akal. Karakteristik utamanya terlihat pada penalaran spekulatif, pendekatan konseptual, serta upaya membuktikan kesesuaian antara iman dan rasio. Tokoh-tokoh penting mazhab ini antara lain Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Ghazali (dalam beberapa karyanya), dan Ibnu Rusyd. Karya-karya mereka seperti Tahafut al-Falasifah, Fusus al-Hikam, dan tafsir-tafsir bercorak isyari-filosofis menjadi identitas mazhab. Simpulannya, tafsir falsafi berkontribusi signifikan dalam memperkaya khazanah tafsir Islam, meskipun kajian ini terbatas pada analisis literatur tanpa penelitian lapangan.
IJAZ AL-QASHR DALAM QS. AL-BAQARAH AYAT 179: KEINDAHAN MAKNA DALAM UNGKAPAN YANG SINGKAT Norsafwati; Iqlima Dhuha Anwar; Agna Azkia; Akhmad Dasuki
Journal of Golden Generation Multidisciplinary Vol. 2 No. 3 (2026): In Progress 2026: Journal of Golden Generation Multidisciplinary
Publisher : PT. Lembaga Penerbit Penelitian Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jggm.v2i3.751

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk ijaz al-qashr dalam QS. Al-Baqarah ayat 179 serta mengungkap keindahan makna yang terkandung dalam ungkapan yang singkat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis studi pustaka (library research), dengan sumber data berupa Al-Qur’an, kitab tafsir, serta literatur yang berkaitan dengan ilmu balaghah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayat tersebut mengandung bentuk ijaz al-qashr, yaitu penyampaian makna yang luas dalam lafaz yang singkat tanpa penghilangan unsur kalimat. Ungkapan “فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ” mencerminkan struktur bahasa yang ringkas namun sarat makna, yang mencakup pencegahan kejahatan, efek jera, serta perlindungan terhadap kehidupan manusia. Keindahan ayat ini tidak hanya terletak pada aspek kebahasaan, tetapi juga pada kandungan nilai sosial dan kemanusiaan yang mendalam.
Pendekatan Balāghah dalam Tafsir Al-Qur’an: Studi tentang Al-Isti‘arah dan Al-Tasybih Muhammad Fadhil Mubarok; Hidayat Azhar Al Ikhlash; Isma Suci; Akhmad Dasuki
Journal of Golden Generation Multidisciplinary Vol. 2 No. 3 (2026): In Progress 2026: Journal of Golden Generation Multidisciplinary
Publisher : PT. Lembaga Penerbit Penelitian Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jggm.v2i3.773

Abstract

Studi mengenai al-istiarah dan al-tasybih merupakan aspek penting dalam bidang balaghah yang memilikiperansignifikan dalam memahami keindahan dan kedalaman makna dari bahasa Al-Qur’an. Al-Isti‘arah dan Al-Tasybih menegaskan bahwa kedua bentuk bahasa ini lebih dari sekadar hiasan retoris, tetapi merupakan alat utama untuk menyampaikan pesan ilahi secara efisien, persuasif, dan menyentuh dimensi rasional maupun emosional pembaca. Al-tasybih sebagai perumpamaan yang jelas menghadirkan makna yang abstrak ke dalam bentuk yang konkret, sehingga mempermudah pemahamanmanusiaterhadap berbagai konsepakidah, etika,dan eskatologi. Sementaraitu,alisti‘arah bertindak sebagaimetafora yang implisit, memb erikankedalamanmaknamelaluipemadatan ungkapandankekuatanimajinatif, yang menghasilk an efek estetika dan teologis yang signifikan. Dengan menggunakan pendekatan analisis linguistik dan tafsir tematik, penelitian ini menunjukkan bahwa banyak ayat dalam Al-Qur’an mengaplikasikan kedua gaya bahasa tersebutuntuk menerangkan realita iman,kekufuran,petunjuk,kesesatan,serta interaksi manusia dengan Allah dan sesamanya. Pemahaman yang benar mengenai al-isti‘arah dan al-tasybih dapat menghindarkan dari kesalahan penafsiran literal terhadap ayat-ayat yang bersifat majazi. Dengan demikian, penguasaan konsep tersebut menjadi penting
Analisis Tafsir Ilmi terhadap Ayat Singa dalam QS. Al-Muddatsir ayat 51 serta Penafsiran dan Hikmahnya Muhamad Rulyawan Sihab; Joan Rifky Maulana; Akhmad Dasuki
Moral : Jurnal kajian Pendidikan Islam Vol. 3 No. 2 (2026): Juni: Moral : Jurnal kajian Pendidikan Islam
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/moral.v3i2.2056

Abstract

This study examines the interpretation of the Qur’anic verse mentioning the lion in QS. Al-Muddathir [74]: 51 through the approach of tafsir ilmi (scientific exegesis). The aim of this research is to analyze the theological meaning of the term qaswarah, explore the interpretations of classical and contemporary exegetes, and relate them to the perspective of animal science as well as the underlying wisdom. This study employs a qualitative method with a library research approach, using primary sources from Qur’anic verses and classical tafsir works, and secondary sources from books, journal articles, and relevant scientific literature. The results show that the term qaswarah in QS. Al-Muddathir [74]: 51 has various interpretations, such as lion, hunter, or something frightening. However, most exegetes tend to interpret it as a lion due to its relevance to the context of the parable in the verse. The parable illustrates people who turn away from the truth like wild donkeys fleeing in fear from a predator. From the perspective of tafsir ilmi, this depiction aligns with scientific facts that identify the lion as an apex predator capable of triggering a fight-or-flight response in prey animals. Furthermore, the mention of the lion in the Qur’an is not merely descriptive but also contains theological, ecological, moral, and psychological values. The lion serves as a symbol to describe irrational human behavior in rejecting the truth. Thus, tafsir ilmi demonstrates a harmonious relationship between revelation and science, where natural phenomena are used as a medium to convey profound moral and spiritual messages.
Co-Authors Abdul Azis Abdul Khair Abdurahman Abdurrahman Afifatul Aspia Agna Azkia Agung Agusti Sukma Wati Ahmad Al Amin Ahmad Faisal Kamil Mabarak Ahmad Fauzan Maulidan Amin, Sholihudin Annisa Azizah Aufa Sholeha Aulia Azizah Aulia Rahmawati, Aulia Auliya Yulanda Azkia Azkya Raudi Ardillah Badarulzaman, Muhammad Hafiz Baihaki Cecep Zakarias El Bilad Dedi Siswanto Edy Surianto Evi Aulia Fadlianor Rahman Felycia Ade Irawati Fitri A Haikal Habibi Hana, Rima Rayhana Hanief Monady Hapijah Helda Pauziah Helga Juliya Hidayat Azhar Al Ikhlash Hilmia Dwi Putri Intan Anggrini Iqbal Ilmi Iqlima Dhuha Anwar Isma Suci Joan Rifky Maulana Khairun Nada Krisna Mukti Ragil Pamungkas Laelatul Musdallifah Leni Maulida M. Rifky Juliansyah Mahda Marwa Mauizah Maulida Apriliatama Meiva Putri Evandra Monica Putri Muhamad Rulyawan Sihab Muhammad Amzad Muhammad Fadhil Mubarok Muhammad Hafizh Muhammad Iqbal Jamalul Lael Muhammad Jiddan Alamsyah Muhammad Ramdani Muhammad Samman Munirah Najwa Khoiriyah Noor Eliyen Nor Aisyah Norsafwati Nur Elma Nur Fathia Sari Nurul Hidayah Putri Mandarisma Rahmad Dzailani Al Thamim Raihannur, Muhammad Rasyid Hidayatullah Rian Hidayat Rian, Rian Hidayat Ridwan Noorwahid Mohtar Risko Ari Saputra Rizal Rizki Rahmadani Rusyda Assyifa Dewi Salma Ananda Nuraini Savita Eka Fitria Serlyana Yuriska Shafa Shilvana Anggun Zaskia Sholihudin Amin Sibawaihi Sibawaihi Siti Mudthiya Arpijayanti Siti Sa’adatul Rizkyah Sri Juwita Sugiro Abdillah Syaripah Talita Zahra Karima Taufik Warman Mahfuzh Tegar Pria Utama Tri Abna Br Meliala Yazied Mauvi Nazier Zahra Vica Amelia Zesar Rahmat Syafe’i