Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Upacara Tradisi Patorani di Galesong Kabupaten Takalar, 1960-2019 Rezky, Dea Adela; Rifal, Rifal; Dewi Kabubu, Rusmala
Attoriolong Vol 23, No 1 (2025): Attoriolong Jurnal Pemikiran Kesejarahan dan Pendidikan Sejarah
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) Latar belakang munculnya Upacara Tradisi Patorani di Galesong Kabupaten Takalar. 2) Untuk mengetahui proses pelaksanaan Upacara Tradisi Patorani di Galesong Kabupaten Takalar. 3) Pengaruh Upacara Tradisi Patorani terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat Galesong. Penelitian ini menggunakan metode penelitian pendekatan kualitatif. Sedangkan teknik pengumpulan data dilakukan dengan Observasi, wawancara dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data dilakukan dengan mencari informasi, kemudian penyajian data dan terkahir penarikan kesimpulan.Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: 1)  Latar belakang pelaksanaan upacara Tradisi patorani di Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar. Sebelum Islam muncul, orang-orang memiliki kepercayaan mitologis. Orang-orang percaya pada kekuatan benda-benda tertentu dan percaya bahwa di lautan ada banyak roh. Masyarakat Galesong percaya bahwa laut adalah hasil ciptaan Tuhan sesuai dengan ajaran Islam yang secara resmi diyakini dan dianut. Namun, secara tradisional, orang-orang yang disebutkan juga percaya bahwa Tuhan, yang mereka sebut Karaeng Alla Taala, telah mempercayakan kontrol perairan kepada Nabi Hellerek. Masyarakat nelayan Galesong masih mengenal Nabi Hellerek sebagai sosok mitos yang menjadi penguasa lautan. 2) Ada pun proses pelaksanaan Upacara Patorani di Galesong Kabupaten Takalar yaitu Parenta pakkaja, appasili biseang, Accaru-caru  3)  Tradisi Patorani dilakukan untuk mendapatkan banyak ikan. Namun bukan karena upacaranya, melainkan karena kehendak Tuhan jumlah ikan yang ditangkap bukan menjadi faktor utama. Segi positif yakni Upacara tradisi patorani sebagai budaya yang bernuansa Islam sebagai salah satu kekayaan budaya Islam di Indonesia pada umumnya dan khususnya di Galesong, di mana upacara tradisi patorani ini termasuk suatu kelakuan religius yang menimbulkan akibat pada kenyataan yang dapat di nikmati secara empirik. Segi negatif Upacara tradisi patorani sebagai budaya yang bernuansa Islam sebagai salah satu kekayaan budaya Islam di Indonesia pada umumnya dan khususnya di Galesong, di mana upacara tradisi patorani ini termasuk suatu kelakuan religius yang menimbulkan akibat pada kenyataan yang dapat di nikmati secara empirik. 
SHARING SESSION: MEMPERTAHANKAN IDENTITAS DI ERA MODERN DALAM ARUS GLOBALISASI Sinaga, Andromeda Valentino; Sianipar, Rimma; Kabubu, Rusmala Dewi; Inggried Gorap, Stefanie; Purba, Arini Anestesia
Jurnal Gembira: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3 No 03 (2025): JUNI 2025
Publisher : Media Inovasi Pendidikan dan Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Globalisasi membawa perubahan sosial, budaya, dan spiritual yang signifikan, menantang individu dan komunitas untuk mempertahankan identitas moral serta nilai-nilai lokal. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengkaji konsep "Garam dan Terang Dunia" dalam konteks globalisasi serta mencari strategi dalam mempertahankan identitas di era modern. Kegiatan ini dilaksanakan melalui diskusi interaktif yang melibatkan akademisi, pemuka agama, dan masyarakat guna membahas tantangan serta peluang dalam menghadapi arus perubahan global. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa masyarakat menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan nilai-nilai moral dan spiritual di tengah derasnya arus modernisasi. Namun, dengan memperkuat pemahaman akan peran individu dalam lingkungan sosial, meningkatkan literasi budaya dan agama, serta mengadopsi strategi adaptif tanpa kehilangan jati diri, identitas dapat tetap dijaga. Diskusi ini memberikan wawasan mengenai pentingnya keseimbangan antara keterbukaan terhadap perubahan dan keteguhan pada nilai-nilai fundamental. Dengan demikian, individu dapat tetap menjadi "garam dan terang dunia" yang memberikan pengaruh positif bagi lingkungan sekitarnya. Kegiatan ini diharapkan menjadi awal dari gerakan yang lebih luas dalam mempertahankan identitas dan nilai-nilai moral di era globalisasi.
Pelatihan Platform Baamboozle untuk Evaluasi Hasil Belajar di SMAN 13 Makassar Amirullah, Amirullah; Patahuddin, Patahuddin; Wati, Fitra Widya; Kabubu, Rusmala Dewi; Sumardin, Oschar
Humanis Vol 24, No 1 (2025): Januari-Juni
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/humanis.v24i1.73183

Abstract

Abstrak: PKM ini bertujuan untuk menambah wawasan guru di SMAN 13 Makassar dalam memanfaatkan media pembelajaran berbasis teknologi dengan menggunakan media Baamboozle pada proses evaluasi belajar terhadap pesertadidik. Permasalahanyang dihadapi adalah : (1) Keterampilan digital guru di SMAN 13 tergolong masih rendah sehingga pelaksanaan evaluasi hasil pembelajaran lebih banyak dilakukan dengan pemberian tugas secara konvensionaldenganmenggunakankertas dan manual atauviawhatsapp.(2) GuruSMAN 13 belum menguasai penggunaan media Baamboozle dalam prosesevalusipembelajaran.Olehkarenaitu,dilakukanpengabdian kepada masyarakat berupa Pelatihan penggunaan media Baamboozle untuk evaluasi hasil belajar. Pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan metode ceramah, demonstrasi dan tanya jawab terhadap hasilworkshop.HasilnyamenunjukkanguruSMAN 13 Makassarmenguasai penggunaan Baamboozle dalam proses evaluasi pembelajaran  Abstract:ThisPKMaimstoaddinsighttoteachersofSMAN 13 Makassarinutilizingtechnology-basedlearning media byusingthe Quizizz application to the learning evaluation process for students. The problems faced are : (1) The digital skills of teachers at SMAN 13 Makassarl are still low, so that the evaluation of learning outcomes is mostlydonebygivingassignmentsconventionallyusingpaperorvia WhatsApp.(2)SMAN 13teachershavenotmasteredusingBaamboozle in the learning evaluation process. Therefore, community service is carriedoutintheformofworkshopsusingtheBaamboozleapplicationto evaluate learning outcomes. This community service is carried out using lecture methods, demonstrations and evaluation of the results of the workshop.Theresultsshowthat SMAN 13teachersmaster the use of Baamboozle in the learning evaluation process. 
Pelamonia: Sejarah Rumah Sakit Militer Peninggalan Kolonial di Jantung Kota Makassar (1986-2012) Kabubu, Rusmala Dewi; Malihu, La
Jambura History and Culture Journal Vol 7, No 2 (2025): Juli
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/jhcj.v7i2.33119

Abstract

The Dutch established a health facility in 1917 called the Militaire Hospital. After the Dutch government recognized Indonesia's sovereignty, the hospital was transferred to the Indonesian government and began operating under the direct management of the military. The hospital's name was changed multiple times due to changes in the military, particularly in the Army, until it was officially named Pelamonia Hospital. This paper examines the development of military health institutions and their dual role in interacting with civil society. This research uses the historical method to reconstruct, explain, and understand past events. The development of this hospital began in 1986 with the inauguration of a new four-story main building, which was the first physical development carried out by Pelamonia Hospital. From 1986 to 2012, the hospital underwent a series of construction projects to address the escalating demand for patient care, attributable to an increase in both military and civilian patients. This hospital plays a dual role in providing health services. In addition to its main task of providing health services for the military, it also opens health services to the general public. Pelamonia Hospital has a positive impact on both the military and the general public, which can be seen from various perspectives, including health, social, economic, and educational ones.
Edukasi Budaya kepada Mahasiswa melalui Pengenalan Nilai dan Kearifan Lokal Masyarakat Adat Kajang Ramadhany, A.Noer Chalifah; Kabubu, Rusmala Dewi; Malihu, La; Wati, Fitra Widya; Sumardin, Oschar
Humanis Vol 24, No 2 (2025): Juli-Desember
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/humanis.v24i2.73803

Abstract

Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan edukasi budaya kepada mahasiswa melalui pengenalan langsung terhadap nilai-nilai dan kearifan lokal masyarakat adat Kajang di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Mahasiswa diperkenalkan pada sistem nilai, pola hidup, struktur sosial, serta praktik pelestarian lingkungan dan spiritualitas yang menjadi ciri khas masyarakat adat tersebut. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif melalui observasi lapangan, wawancara, diskusi reflektif, dan dokumentasi kualitatif. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa mahasiswa memperoleh pemahaman mendalam tentang pentingnya sejarah lisan, pelestarian budaya lokal, serta keterkaitan budaya dan identitas bangsa. Selain itu, kegiatan ini menstimulasi mahasiswa untuk lebih peka terhadap isu-isu sosial dan budaya, serta memperkuat penghargaan mereka terhadap kekayaan budaya bangsa. Integrasi nilai-nilai lokal dan kearifan budaya dalam pendidikan sejarah memperkuat proses pembelajaran yang bermakna dan transformatif, sekaligus menumbuhkan kesadaran untuk melestarikan budaya. Salah satu keluaran dari kegiatan ini adalah dorongan untuk mengadopsi sejarah lokal dalam kurikulum perguruan tinggi dan membangun kemitraan yang kuat antara lembaga akademik dan masyarakat adat demi keberlangsungan.
Pahlawan dan penghianat dalam sejarah: Analisis peran individu dalam peristiwa sejarah Sumardin, Oschar; Kabubu, Rusmala Dewi
Jurnal Kajian Sosial dan Budaya: Tebar Science Vol 9 No 3 (2025): TEBAR SCIENCE: JURNAL KAJIAN SOSIAL DAN BUDAYA
Publisher : Rayhan Intermedia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36653/jksb.v9i3.222

Abstract

Historical events inevitably involve the involvement of many figures who play a role in supporting or opposing the occurrence of an important event. In this study, the analysis aims to reveal the role of individuals in historical events, namely regarding the role of heroes and traitors. This research method uses a descriptive qualitative approach with secondary data collection techniques through literature reviews. Data analysis was conducted by analyzing articles, journals, and books relevant to the research problem. The findings show that in historical records there are figures who are considered "heroes"—those with courage and support—or "traitors" by society for their roles. In the G30S/PKI incident, the figures who became heroes were Soeharto and his military forces of Army officers, while the traitors were PKI members and supporting mass organizations. In the Situjuh incident, Kamaluddin was labeled a traitor for leaking information about the meeting location to the Dutch, which triggered the Situjuh incident. Then, in the historical events of the struggle for independence, there were figures who were considered heroes, namely Prince Diponegoro and Soekarno. However, the historical narrative still needs to be criticized because there are various different perspectives in examining the role of heroes and traitors of the figures involved. There are many factors that can influence the moral assessment and role of historical figures. Thus, a more in-depth and comprehensive identification is expected in historiographical studies. Keywords: Heroes, Historical Events, Individual Roles, Traitors
Mengenal Warisan Leluhur Lewat Museum: Upaya Membangun Kesadaran Budaya Generasi Muda St Junaeda; Jannah, Diah Nadiatul; Andi Ima Kesuma; Fitra Widya Wati; Rusmala Dewi Kabubu; Nasihin
Paramacitra Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 01 (2025): Volume 03 Nomor 01 (November 2025)
Publisher : PT Ininnawa Paramacitra Edu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62330/pjpm.v3i01.395

Abstract

Kegiatan Museum Masuk Sekolah merupakan bentuk pengabdian masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan literasi budaya dan sejarah generasi muda serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pelestarian warisan leluhur melalui museum. Program ini dilaksanakan di SMA Negeri 5 Tinggimoncong Kabupaten Gowa oleh tim dosen Universitas Negeri Makassar bekerja sama dengan Museum La Galigo di bawah Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan. Metode pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan partisipatif dan kolaboratif melalui kegiatan edukatif interaktif, diskusi reflektif, serta penyajian materi bertema “Mengenal Warisan Leluhur Lewat Museum.” Siswa berperan aktif dalam menganalisis koleksi, menafsirkan nilai-nilai budaya, dan mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman siswa terhadap fungsi museum sebagai lembaga pelestarian budaya, serta tumbuhnya sikap bangga dan tanggung jawab terhadap warisan leluhur. Museum terbukti menjadi media efektif yang memadukan aspek edukatif dan rekreatif dalam proses pembelajaran berbasis pengalaman. Kegiatan ini juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara lembaga pendidikan, museum, dan pemerintah daerah dalam memperkuat pendidikan kebudayaan di sekolah. Program ini diharapkan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dengan inovasi pameran digital dan partisipasi komunitas budaya, sehingga museum benar-benar berfungsi sebagai pusat pembelajaran budaya yang dinamis dan relevan bagi generasi muda di era globalisasi.
Terorisme Dalam Perspektif Historis Tragedi Bom Bunuh Diri Gereja Katedral Makassar 2021 Gabriel Sipa; Hardianti; Rusmala Dewi Kabubu
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 1 No. 11 (2025): Menulis - November
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v1i11.734

Abstract

Peristiwa bom bunuh diri yang terjadi di Gereja Katedral Makassar pada 28 Maret 2021 menjadi tragedi besar yang mengguncang masyarakat Indonesia. Insiden ini menimbulkan dampak fisik, psikologis, sosial, dan kerusakan material yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kronologi kejadian, dampak yang ditimbulkan, serta respons yang diberikan oleh masyarakat dan pihak berwenang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah dengan teknik wawancara mendalam (in-depth interview) untuk menggali persepsi dan pengalaman para korban serta saksi mata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peristiwa ini menyebabkan setidaknya sepuluh orang terluka, sementara pelaku menjadi satu-satunya korban jiwa. Dampak psikologis yang dialami para korban dan saksi mata juga cukup besar, mengingat ketegangan yang muncul akibat aksi teror tersebut. Secara sosial, insiden ini meningkatkan rasa ketidakamanan di kalangan masyarakat, namun juga memunculkan solidaritas antar umat beragama. Pemerintah dan aparat keamanan merespons dengan memperketat pengamanan dan melakukan program deradikalisasi. Penelitian ini menyarankan agar upaya pencegahan terorisme terus digalakkan melalui peningkatan toleransi dan kerja sama antar lembaga serta masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang aman dan harmonis.
Kebijakan Kesehatan Pada Masa Orde Baru Dalam Perspektif Historis Sitti Nurhalisah; Nadia; Rusmala Dewi Kabubu
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 1 No. 12 (2025): Menulis - Desember
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v1i12.776

Abstract

Perkembangan kesehatan di Indonesia mengalami dinamika dari masa ke masa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan melalui empat tahapan, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Pada masa kolonial, kesehatan difokuskan pada pejabat kolonial saja. Setelah kemerdekaan, Indonesia mulai membangun sistem kesehatan nasional yang menekankan pada kesehatan masyarakat. Program kesehatan pada masa Orde Baru adalah Keluarga Berencana (KB) dan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL). Program KB berkontribusi pada peningkatan kesehatan masyarakat, khususnya bagi para ibu, serta meningkatkan taraf hidup masyarakat, sedangkan IDL memiliki peran penting dalam pengurangan jumlah kematian bayi dan balita yang berasal dari penyakit menular dengan seharusnya bisa ditangani dengan imunisasi yang diberikan. Program kesehatan harus dibarengi dengan pelayanan kesehatan dari pemerintah. Pada masa Orde Baru, pelayanan kesehatan dimaksimalkan dengan membangun Puskesmas dan Posyandu untuk memfasilitasi program yang dibentuk. Di lain sisi, pada masa Orde Baru pemerintah dihadapkan pada permasalahan kesehatan yang sangat kritis. Pada masa ini terjadi wabah Pes. Indonesia menghadapi sejumlah persoalan kesehatan, salah satunya adalah munculnya wabah pes di Boyolali pada tahun 1968.
Kesehatan Di Nusantara Pada Masa VOC Dan Hindia Belanda: Sebuah Tinjauan Historis Nabila Bintang Maharani; Andi Aildah Putri Fadhillah; Rusmala Dewi Kabubu; Muh. Rasyid Ridha; Fitra Widya Wati
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 1 No. 12 (2025): Menulis - Desember
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v1i12.788

Abstract

Fokus kesehatan pada masa kolonial hanya pada kalangan orang-orang Eropa saja. Masyarakat Nusantara tidak tersentuh oleh layanan kesehatan pada masa itu. Fokus pembahasan dalam tulisan ini adalah bagaimana perkembangan kesehatan di Nusantara, khususnya pada masa kolonial dan apa tantangan dan upaya yang dilakukan pemerintah kolonial dalam menghadapi problem kesehatan pada masa itu. Tulisan ini menggunakan metode penelitian sejarah, dengan berfokus pada empat tahapan, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Metode ini berhasil menjawab permasalahan utama dalam tulisan ini. Revolusi kesehatan ditandai dengan masuknya vaksin, penggunaan kina, dan berkembangnya ilmu kedokteran pada masa itu. Meskipun terjadi revolusi di bidang kesehatan, pada masa ini ada tantangan yang dihadapi Pemerintah Kolonial, khususnya dalam bidang kesehatan. Wabah penyakit seperti cacar mulai masuk ke wilayah Jawa pada tahun 1644. Langkah yang diambil Pemerintah Kolonial pada masa itu adalah dengan menggunakan metode variolasi. Pada masa pemerintahan VOC, para dokter Eropa menghadapi kesulitan besar dalam menangani berbagai penyakit tropis yang merebak di wilayah Nusantara. Ketidaktahuan mereka akan iklim tropis serta penyebab utama penyakit membuat tingkat kematian tetap tinggi hingga penghujung abad ke-18. Tenaga medis kolonial mulai memanfaatkan pengetahuan lokal dengan pendekatan tradisional.