Claim Missing Document
Check
Articles

In Vitro Polyploidy Induction of Patchouli (Pogostemon Cablin Benth.) by Colchicine Afifah, Ulil Azmi Nurlaili; Wiendi, Ni Made Armini; Maharijaya, Awang
Journal of Tropical Crop Science Vol 7 No 01 (2020): Journal of Tropical Crop Science
Publisher : Department of Agronomy and Horticulture, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (515.055 KB) | DOI: 10.29244/jtcs.7.01.37-44

Abstract

Patchouli (Pogostemon cablin Benth.; 2n = 32) is an aromatic herbaceous plant commonly cultivated for use in the the fragrance industry. As patchouli is propagated by cuttings polyploidization induction by colchicine treatment was conducted to obtain a new genotype with high patchouli alcohol content. This research aimed to increase patchouli genetic diversity with colchicine treatment by the formation of a polyploid plant. Axillary buds from single node cutting of aseptic plantlets were used as the explants. The experiment was arranged using a factorial completely randomized design with two factors, namely the concentration of colchicine and the immersion duration. Genetic diversity of patchouli was successfully enhanced by adjusting the colchicine concentration and immersion treatment. lethal concentration (LC) of 50% in patchouli was 0.132% and the LC 50% for soaking time was 60.16 hours. The number of chloroplasts, stomatal length and chromosome number increased with increasing ploidy, whereas stomatal density and the number of trichomes decreased. The chromosome number of 16 patchouli mutants in generation 4 was still unstable, and a chimera was found with mixoploidy between 20-80. A hierarchical dendogram clustered 16 patchouli mutants into four different groups.
PLANT GROWTH OF EGGPLANT (Solanum melongena L.) IN VITRO IN DROUGHT STRESS POLYETHYLENE GLYCOL (PEG) Siaga, Erna; Maharijaya, Awang; Rahayu, Megayani Sri
BIOVALENTIA: Biological Research Journal Vol. 2 No. 1 (2016)
Publisher : Biology Department, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Sriwijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.344 KB) | DOI: 10.24233/BIOV.2.1.2016.29

Abstract

Drought stress is one of the important issues related to the global warming that demand for the development of drought tolerant crops. Eggplant is one of the agricultural commodities which can be developed in dry land so plant growth of eggplant need to be learned. The objectives of this study were to study the effect of several concentrations of polyethylene glycol (PEG) on the in vitro growth of eggplant, and to find the drought tolerant eggplant accessions in dry land. The experiment  was conducted at the Laboratory of Tissue Culture, Department of Agronomy and Horticulture, Bogor Agricultural University. The experiment was laid on a completely randomized design with one factor. The factor was eggplant accessions. The results showed that PEG in vitro media significantly affected the survival percentage, the percentage of callus, developed the bud and the number of leaves of eggplant. Callus in eggplant explants as a way of avoiding drought stress.
Keragaan Produksi Kentang G2 Genotipe IPB Asal Stek dan Umbi di Garut Jawa Barat Neng Neni; Awang Maharijaya; Muhamad Syukur
Buletin Agrohorti Vol. 6 No. 3 (2018): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.248 KB) | DOI: 10.29244/agrob.v6i3.21108

Abstract

Konsumsi kentang terus meningkat seiring meningkatnya penduduk, namun total produksinya mengalami penurunan pada tahun 2015, maka diperlukan usaha memperoleh varietas yang berproduktivitas tinggi. Institut Pertanian Bogor telah merakit genotipe kentang yaitu PKHT-2, PKHT-3, PKHT-4, PKHT-6, PKHT-9, PKHT-10, dan PKHT-12. Petani umumnya menggunakan benih dari hasil panen sebelumnya. Benih yang digunakan secara terus menerus dapat menyebabkan rendahnya produksi, maka perlu adanya alternatif teknik perbanyakan di lapang. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan genotipe IPB asal stek buku tunggal dengan keragaan produksi G2 tertinggi dan membandingkan hasil produksi kentang antara tanaman yang berasal dari bahan tanam stek buku tunggal dengan umbi di lapang. Penelitian dilaksanakan pada Februari-Juli 2017 di Desa Tambakbaya, Kecamatan Cisurupan dan Desa Margamulya, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut. Percobaan pertama menggunakan stek buku tunggal genotipe PKHT-2, PKHT-3, PKHT-4, PKHT-6, PKHT-9, PKHT-10, PKHT-12, Atlantik, Granola, Medians dan Intan. Percobaan kedua menggunakan bahan tanam stek buku tunggal dan umbi dari genotipe PKHT-4, Intan dan Medians. Hasil penelitian menunjukan keragaan  produksi  pada  bahan  tanam stek buku  tunggal  dipengaruhi  oleh  genotipe.  Genotipe  PKHT-6 menghasilkan keragaan produksi dan hasil tertinggi dibanding genotipe maupun varietas pembanding yaitu 18,32 ton ha-1. Ketiga genotipe pada percobaan kedua menggunakan bahan tanam umbi yaitu PKHT-4, Intan dan Medians menghasilkan potensi hasil lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman genotipe yang sama asal stek buku tunggal. Tanaman PKHT-4 asal umbi menghasilkan potensi hasil lebih tinggi dibandingkan varietas pembandingnya yaitu 17,00 ton ha-1.Konsumsi kentang terus meningkat seiring meningkatnya penduduk, namun total produksinya mengalami penurunan pada tahun 2015, maka diperlukan usaha memperoleh varietas yang berproduktivitas tinggi. Institut Pertanian Bogor telah merakit genotipe kentang yaitu PKHT-2, PKHT-3, PKHT-4, PKHT-6, PKHT-9, PKHT-10, dan PKHT-12. Petani umumnya menggunakan benih dari hasil panen sebelumnya. Benih yang digunakan secara terus menerus dapat menyebabkan rendahnya produksi, maka perlu adanya alternatif teknik perbanyakan di lapang. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan genotipe IPB asal stek buku tunggal dengan keragaan produksi G2 tertinggi dan membandingkan hasil produksi kentang antara tanaman yang berasal dari bahan tanam stek buku tunggal dengan umbi di lapang. Penelitian dilaksanakan pada Februari-Juli 2017 di Desa Tambakbaya, Kecamatan Cisurupan dan Desa Margamulya, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut. Percobaan pertama menggunakan stek buku tunggal genotipe PKHT-2, PKHT-3, PKHT-4, PKHT-6, PKHT-9, PKHT-10, PKHT-12, Atlantik, Granola, Medians dan Intan. Percobaan kedua menggunakan bahan tanam stek buku tunggal dan umbi dari genotipe PKHT-4, Intan dan Medians. Hasil penelitian menunjukan keragaan  produksi  pada  bahan  tanam stek buku  tunggal  dipengaruhi  oleh  genotipe.  Genotipe  PKHT-6 menghasilkan keragaan produksi dan hasil tertinggi dibanding genotipe maupun varietas pembanding yaitu 18,32 ton ha-1. Ketiga genotipe pada percobaan kedua menggunakan bahan tanam umbi yaitu PKHT-4, Intan dan Medians menghasilkan potensi hasil lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman genotipe yang sama asal stek buku tunggal. Tanaman PKHT-4 asal umbi menghasilkan potensi hasil lebih tinggi dibandingkan varietas pembandingnya yaitu 17,00 ton ha-1.
The In Vitro Screening of Drought Tolerant Potatoes (Solanum tuberosum L) of the Center for Tropical Horticulture Studies - IPB collections Jane Kathryne Jolanda Laisina; Awang Maharijaya; Sobir Sobir; Agus Purwito
Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Vol. 26 No. 2 (2021): Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18343/jipi.26.2.235

Abstract

In supporting the replacement of potato varieties with the varieties that are adaptive to drought, effective and fast methods are needed. One of which is through in vitro screening of drought-tolerant genotypes. The aims of this research were to determine the appropriate concentration of sorbitol as a critical limit in the in vitro screening process of drought-tolerant genotypes, as well as to determine vegetative characteristics that could be used as indicators of in vitro selection and also to obtain in vitro drought-tolerant genotypes. To achieve these objectives, we used single-nodal explants of seven genotypes cultured for six weeks on MS media added with four levels of sorbitol concentration. Of the four treatments, sorbitol level that could distinguish susceptible and tolerant plants was 0.2 M sorbitol and at this concentration, the characteristics that showed significant interactions were plant height and root length, so that both characteristics could be used as selection indicators for the analysis of tolerance tests for the seven genotypes. The results of tolerance test using the analysis of relative decline and stress-susceptibility index (SSI) showed that PKHT4 and PKHT6 were the genotypes that were tolerant in vitro. Keywords: drought tolerant, in vitro, Solanum tuberosum, sorbitol
Seleksi Toleransi Kekeringan In Vitro terhadap Enam Belas Aksesi Tanaman Terung (Solanum melongena L. ) dengan Polietilena Glikol (PEG) Erna Sinaga; Megayani Sri Rahayu; Awang Maharijaya
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 1 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.933 KB) | DOI: 10.29244/jhi.6.1.20-28

Abstract

ABSTRACTThe objectives of this study were to study the effect of several concentrations of polyethylene glycol (PEG) on the in vitro growth of eggplant, to find the appropriate PEG concentration for in vitro selection to drought  tolerance  of eggplant  and the drought tolerant eggplant accessions. The experiment  was conducted  at  the  Laboratory  of  Tissue  Culture,  Department  of  Agronomy and Horticulture,  Bogor  Agricultural  University.  The  experiment  was arranged  in  a  completely randomized design with two factor. The first factor was concentration of PEG (0, 5, 10,  and  15%) while the second factor was eggplant accessions (Kania F1, 001, 007, 013, 016, 030, 034, 035, 055, 057, 069,  071,  072,  078,  085,  and  090).  The  results  showed  that  the addition  of PEG  to  in  vitro media significantly affected the survival percentage, the percentage of callus, developed the bud and the number of leaves of eggplant. Addition of PEG 10 and 15% in media can be used as the drought tolerance selective agent of eggplant in vitro. Kania F1, 001, 007, 016, 034, 035, 055, 057, 069, 071, 072, 078, 085, and 090 were eggplant accessions which might be tolerant to drought.Keywords: in vitro selection, solanaceae, tissue culture, tolerant, drought ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk  mempelajari pengaruh beberapa konsentrasi polietilena glikol (PEG)  terhadap  pertumbuhan  tanaman  terung  in  vitro, mendapatkan  konsentrasi  PEG  yang  dapat digunakan  untuk seleksi tanaman terung secara in vitro  dan nomor terung toleran terhadap cekamankekeringan. Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Kultur Jaringan,  Departemen Agronomi dan Hortikultura,  Institut  Pertanian  Bogor.  Penelitian  ini  disusun dalam  rancangan  acak  lengkap  dua faktor. Faktor pertama adalah konsentrasi PEG  terdiri atas  0, 5, 10, dan 15%.  Faktor kedua adalah nomor terung terdiri atas enam belas nomor (Kania F1, 001, 007, 013, 016, 030, 034, 035, 055, 057, 069,  071,  072,  078,  085,  dan  090).  Hasil  penelitian menunjukkan  bahwa  penambahan  PEG  pada media  in  vitro  memberikan pengaruh  nyata  dan  sangat  nyata  terhadap  persentase  hidup eksplan, persentase  eksplan  berkalus,  pertambahan  tinggi  tunas,  dan jumlah  daun  tanaman  terung.  Media PEG 10 dan 15% merupakan media yang dapat digunakan untuk seleksi kekeringan tanaman terung in vitro. Nomor terung Kania F1, 001, 007, 016, 034, 035, 055, 057, 069, 071, 072, 078, 085, dan 090 merupakan nomor-nomor terung yang toleran terhadap cekaman kekeringan.Kata kunci: kultur jaringan, seleksi in vitro, solanaceae, toleran kekeringan
Keragaman Genetik Karakteristik Buah antar 17 Genotipe Melon (Cucucmis melo L.) Amalia Nurul Huda; Willy Bayuardi Suwarno; Awang Maharijaya
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 1 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.916 KB) | DOI: 10.29244/jhi.8.1.1-12

Abstract

ABSTRACTBreeding of melon requires the availability of genetic diversity and extensive evaluations of the genetic materials. Evaluations on fruit quality and yield potential are among the important steps in melon breeding. This research was aimed at studying the genetic diversity of 17 melon genotypes based on fruit traits and identifying the potential genotypes to be used as genetic materials in melon breeding programs. The research was conducted from August to October 2015 at the IPB Experimental Station Tajur II, South Bogor, 250 m above sea level. The experiment was arranged in a single factor of randomized complete block design with four replicates. Results of the research showed that genotype effects were significant for all observed traits except for days to hermaphrodite flowering. Traits having broad sense heritability estimates greater than 50% were days to male flowering, days to harvest, fruit length, fruit diameter, flesh thickness, fruit rind thickness, fruit weight, and sugar contant. P21 and P19 genotypes were potential for fruit weight and sugar content, while P2 was potential for fruit weight and P12 for sugar content only. Fruit weight showed significant positive correlations with fruit length, fruit diameter, flesh thickness, and fruit rind thickness. Clustering based on morphological traits generally separated reticulatus and inodorus genotypes into different groups.Key words: correlation, heritability, simultaneous selectionABSTRAKPemuliaan tanaman melon memerlukan ketersediaan keragaman genetik dan evaluasi yang ekstesif pada materi genetik yang digunakan. Evaluasi karakteristik, kualitas buah, dan potensi hasil merupakan tahapan penting dalam pemuliaan tanaman melon. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari keragaman genetik dari 17 genotipe melon berdasarkan karakteristik kualitas buah dan mengidentifikasi genotipe potensial untuk dijadikan materi genetik dalam program pemuliaan. Percobaan dilakukan pada bulan Agustus hingga Oktober 2015 di Kebun Percobaan IPB Tajur II, Bogor Selatan (250 mdpl) menggunakan 17 genotipe melon. Penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) faktor tunggal dengan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe berpengaruh nyata terhadap semua karakter yang diamati kecuali umur berbunga hermaprodit. Karakter yang memiliki nilai heritabilitas arti luas lebih besar dari 50% adalah umur berbunga jantan, umur panen, panjang buah, diameter buah, tebal daging, tebal kulit, bobot, dan kadar gula. Genotipe yang memiliki potensi untuk sifat bobot buah dan kadar gula tinggi adalah P21 dan P19, sedangkan P2 dan P12 masing-masing memiliki potensi yang baik untuk bobot buah dan kadar gula saja. Karakter bobot buah memiliki korelasi positif dan nyata dengan panjang buah, diameter buah, tebal daging buah, dan tebal kulit buah. Pengelompokan berdasarkan karakter morfologi secara umum dapat memisahkan genotipe-genotipe melon reticulatus dan inodorus ke dalam grup yang berbeda.Kata kunci: korelasi, heritabilitas, seleksi simultan
Pewarisan Sifat Ketahanan Cabai terhadap Infestasi Aphis gossypii Glover (Hemiptera: Aphididae) Ady Daryanto; Muhamad Syukur; Awang Maharijaya; Purnama Hidayat
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 1 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.536 KB) | DOI: 10.29244/jhi.8.1.39-47

Abstract

ABSTRACTAphis gossypii Glover is one of the major pests of chili pepper and can cause damage up to 65% when the population is not controlled. The objective of this research was to elucidate the genetic control of resistance inheritance character of chilli (Capsicum annuum L.) to A. gossypii. Set a population of six generations (P1, P2, F1, F2, BCP1, BCP2 was established from a cross between IPB C20 (resistant parent) with IPB C313 (susceptible parent). Choice test based experiments was applied with two aphids per leaf on a five-week-old seedlings. The results showed that based on number of individual aphids per plant, segregation of resistance and susceptibility characters in the F2 fitted to the normal distribution, indicated that resistance controlled by polygenic genes. Subsequently based of scaling test analysis, resistance characteristics based on the number of aphids per plant categorized overdominan against resistant parent and controlled by many genes. Genes effect for controlling resistance to A. gossypii infestation was recessive. Broad-sense heritability was relatively large for the infestation of aphids per plant, aphids per leaf, and winged aphids while the narrow sense heritability relatively very low on the infestation aphids per plant and per leaf, indicated by the dominant variance was greater than additive variance.Keywords: action genes, Capsicum annuum, dominant varience, heritabilityABSTRAKKutudaun Aphis gossypii Glover adalah salah satu hama pengganggu penting dalam produksi tanaman cabai. Saat populasi kutudaun tidak terkendali dapat menyebabkan kerusakan tanaman cabai hingga 65%. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari kendali genetik pewarisan sifat ketahanan cabai (Capsicum annuum L.) terhadap infestasi A. gossypii. Set populasi enam generasi (P1, P2, F1, F2, BCP1, BCP2) dibentuk dari persilangan tetua P1 (IPB C20) dengan nilai infestasi rendah dan tetua P2 (IPB C313) yang bernilai infestasi tinggi. Metode skrining yang digunakan adalah choice test. Jumlah kutudaun yang diinfestasikan adalah dua ekor per daun pada bibit berumur lima minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter ketahanan cabai terhadap infestasi kutudaun berdasarkan jumlah A. gossypii per tanaman ialah tetua rentan overdominan terhadap tetua tahan dan dikendalikan oleh banyak gen. Gen-gen pengendali ketahanan terhadap infestasi A. gossypii adalah resesif. Nilai heritabilitas arti luas tergolong besar untuk infestasi kutudaun per tanaman, kutudaun per daun, dan kutudaun bersayap, sedangkan heritabilitas arti sempit tergolong sangat rendah pada infestasi kutudaun per tanaman dan per daun yang ditunjukkan oleh proposi ragam dominan lebih besar dibandingkan ragam aditif.Kata kunci: aksi gen, Capsicum annuum, heritabilitas, ragam dominan
Genetic Diversity of Shallot (Allium cepa var. aggregatum) Based on Morphology and Molecular Markersetik Bawang Merah (Allium cepa var. aggregatum) Berdasarkan Marka Morfologi dan Molekuler Erviana Eka Pratiwi; Awang Maharijaya; Diny Dinarti
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 11 No. 1 (2020): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.11.1.51-60

Abstract

Bawang merah di Indonesia pada umumnya diperbanyak secara vegetatif, tetapi bawang merah yang tersebar tersebut beragam bentuknya sehingga diduga memiliki keragaman genetik yang tinggi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi keragaman morfologi menggunakan 21 karakter bawang merah serta keragaman molekuler menggunakan penanda RAPD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter morfologi membagi 40 genotipe bawang merah menjadi 2 kelompok utama pada koefisien ketidakmiripan 0.59 yaitu kelompok A (38 genotipe) dan B (2 genotipe), sedangkan analisis morfologi berdasarkan 14 karakter morfologi umbi menunjukkan adanya dua kelompok utama pada koefisien ketidakmiripan 0.50 yaitu kelompok A dan B, masing-masing terdiri atas 36 dan 4 genotipe. Analisis berdasarkan penanda molekuler menunjukkan dua kelompok utama pada koefisien ketidakmiripan 0.41 yaitu kelompok A (3 genotipe) dan B (37 genotipe). Marka RAPD menghasilkan 229 pita polimorfik DNA dengan total 100% dan primer informatif adalah SBN2, OPE11 dan SBN9. Pengelompokkan dari 40 genotipe dalam penelitian ini tidak berhubungan dengan asal geografis. Genotipe BM12, BM19, BM78 dan BM01 memiliki ukuran daun yang panjang, ukuran dan diameter umbi besar dan memiliki intensitas warna dasar kulit umbi kering yang gelap. BM63 dan BM24 memiliki perilaku daun yang tegak, panjang daun sedang, ukuran dan diameter umbi sedang. Genotipe potensial ini dapat dikembangkan untuk meningkatkan varietas bawang merah di Indonesia. Kata kunci: genotipe, koefisien ketidakmiripan, RAPD, primer informatif
Genetic Diversity and Fusarium Wilt Disease Resistance (Fusarium oxysporum f.sp cepae) of Indonesian Shallots (Allium cepa L. var aggregatum) Ita Aprilia; Awang Maharijaya; Suryo Wiyono
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 11 No. 1 (2020): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.11.1.32-40

Abstract

Keragaman genetik merupakan hal yang penting dalam kegiatan pemuliaan tanaman. Ketahanan terhadap penyakit layu fusarium merupakan salah satu karakter yang diharapkan dalam pengembangan varietas bawang merah. Penelitian bertujuan untuk memperoleh informasi keragaman genetik berdasarkan marka morfologi, marka molekuler ISSR, dan ketahanan terhadap penyakit layu fusarium dari 19 genotipe bawang merah Indonesia. Penelitian menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) dengan tiga ulangan dan satu faktor yaitu genotipe bawang merah. Isolat Fusarium oxysporum f.sp cepae yang digunakan sebagai bahan uji didapatkan dari tanaman yang terserang penyakit layu fusarium di Brebes, Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukkan terdapat keragaman genetik berdasarkan marka morfologi, molekuler ISSR, dan ketahanan terhadap penyakit layu fusarium pada genotipe bawang merah yang diamati. Genotipe Batu Ijo dan Rubaru merupakan genotipe dengan ketahanan terhadap penyakit layu fusarium terbaik dibandingkan genotipe lainnya berdasarkan parameter periode inkubasi penyakit, kejadian penyakit, dan laju infeksi penyakit. Kata kunci: moler, pemuliaan, penyakit cendawan, varietas tahan
GENETIC DIVERSITY OF INDONESIAN SHALLOTS BASED ON BULB-TUNIC PATTERNS AND MORPHOLOGICAL CHARACTERS Lina Herlina; Reflinur Reflinur; Sobir Sobir; Awang Maharijaya; Suryo Wiyono; Bonjok Istiaji
Indonesian Journal of Agricultural Science Vol 20, No 1 (2019): June 2019
Publisher : Indonesian Agency for Agricultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/ijas.v20n1.2019.p19-28

Abstract

Variation within bulb tunics has been used to determine the genetic diversity in Allium species, including shallots. However, no such study has been reported for shallots of Indonesia. The study aimed to analyze the genetic diversity of the Indonesian shallots based on the bulb-tunic patterns. Thirty-five shallot genotypes from main production centers in Indonesia were used. The ultrasculptures of the bulb tunics were examined by light microscopy, including the inner surface and cell shape patterns of the bulb tunics. The phenotypic data, i.e. quantitative and qualitative traits were subjected to the descriptive statistics, principal component, correlation, regression, and clustering analyses. The results showed that the bulb-tunic cell patterns were varied, which shared almost identical with 13 Allium species. Total bulb weight per genotype showed the greatest variation (cv = 89.10%) and significant correlation with bulb weight per plant (r = 0.773). The principle component analyses showed the cumulative proportion of 78% of the total morphological variation in all shallot genotypes. Based on clustering analysis, the genetic variation of Indonesian shallots are grouped into twelve clusters with 50% genetic similarity. The study indicates that Indonesian shallots are genetically varied and could be useful for further utilization in their genetic improvement program.
Co-Authors ,, Rosminah Abdul Hakim Ady Daryanto Afaf, Sausanil Agus Purwito Ahmad Fauzi Ridwan Alveno, Vitho Amalia Nurul Huda Amarilis, Shandra Amrullah, Rizki Abi Anas Dinurrohman Susila Arum Sholikhah Azhari, Andi Bagas Akmala Putra Bambang Sapta Purwoko Bonjok Istiaji Danu Kuncoro Dhiya Nabilla Ardhani Diny Dinarti Diyah Martanti, Diyah Dwinita Wikan Utami Eka Fatmawati Tihurua Endang Gunawan Eny Widajati Erna Siaga, Erna Erna Sinaga Erviana Eka Pratiwi Fazat Fairuzia Hariyadi Harti, Heri Hidayat, dan Purnama Ika Roostika Inayah Yasmin Kamila Iswari Saraswati Dewi Iswari Saraswati Dewi Ita Aprilia J. K. J. Laisina Juharni Kalsum Yulifar, Andi Sri Ummi Ketty Suketi Kristianto Nugroho Kunio Yamada Kusmana Kusuma Darma Kusuma Darma Lina Herlina Lina Herlina M A Chozin Marlin Masaki Ochiai Megayani Sri Rahayu Muhamad Syukur Muhammad Mahmud Muhammad Ridha Alfarabi Istiqlal Neng Neni Neni, Neng Ni Made Armini Wiendi Ni Made Armini Wiendi, Ni Made Niken Kendarini Nina Agusti Widaningsih Nursalma, Linda Prawestri, Apriliana Dyah Prima Muklisa PURNAMA HIDAYAT Purwoko, Bambang Sapta Purwoko Qadir, Abdul Rahmawati, Rika Sri Ramdhani, Cahyati Reflinur Reflinur Reflinur Reflinur Rerenstradika T. Terryana Ria Rif’atunidaudina Riti, Estriana Ritonga , Arya Widura Ritonga, Arya W Ritonga, Arya Widura Rizki Abi Amrullah Romdoni, Arif Rosminah, Rosminah Salma, Linda Nur Sani, Mutiyara Sari Mahyendra Sayekti, Tri Wahono Dyah Ayu Siti Yuliani, Titiek Sobir Sobir Sobir Sobir Sobir Sobir Sobir Sobir SRI HENDRASTUTI HIDAYAT Suhartanto , M. Rahmad Sukma, Dewi Sulassih, . Suryo Wiyono Suwarto Suwarto Syarifah Iis Aisyah Tamrin Khamidi Tamrin Khamidi Tengku Laila Kamaliah Tri Handayani Ulil Azmi Nurlaili Afifah Usep Jenudin Willy Bayuardi Suwarno Witjaksono Yudiwanti Wahyu E. Kusumo Yuliani, Titiek